Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Untuk Gambar Konstruksi Bangunan

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GAMBAR KONSTRUKSI BANGUNAN SISWA KELAS XII TGB SMK NEGERI 2 PURWOKERTO  TAHUN PELAJARAN 2016/2017

 

Karsukmia Nandja

SMK Negeri 2 Purwokerto, Jawa Tengah

 

ABSTRAK

 

       Penelitian yang berjudul “Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil  Belajar  Gambar Konstruksi Bangunan pada Siswa Kelas XII Program Keahlian TGB SMK Negeri 2 Purwokerto Tahun pelajaran 2016/2017”, mempunyai tujuan untuk meningkatkan  hasil  belajar pada mata diklat Gambar Konstruksi Bangunan siswa  kelas  XII  Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan di SMK Negeri 2 Purwokerto tahun pelajaran 2016/2017. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan  Kelas (PTK) dengan subyek penelitian siswa  kelas XII TGB SMK Negeri 2 Purwokerto tahun pelajaran 2016/2017 dengan jumlah 33 siswa. Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus. Data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan efektivitas pada aktivitas dan hasil belajar Gambar Konstruksi Bangunan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada setiap siklus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari kondisi awal dengan 68% (23 siswa) yang mendapat nilai ≥75, ke Siklus I mengalami peningkatan menjadi 72,73%, pada Siklus 2 meningkat menjadi 87,87%.

Kata kunci :  Tipe Jigsaw, hasil belajar

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

          Belajar adalah suatu proses yang ditandai adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan  sebagai  diri maupun proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuan, pemahaman sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan dan kemampuannya serta berubahnya aspek-aspek lain yang ada pada individu pembelajar. Seorang guru yang profesional dituntut untuk dapat menampilkan keahliannya sebagai guru di depan kelas. Komponen yang harus dikuasai adalah menggunakan bermacam-macam model pembelajaran yang bervariasi sehingga dapat menarik minat belajar siswa.

           Berkaitan dengan hal di atas, perlu diupayakan suatu bentuk pembelajaran yang tidak hanya mampu secara materi saja, tetapi juga mempunyai kemampuan yang bersifat formal. Penggunaan secara efektif  pembelajaran kooperatif menjadi semakin penting untuk mengembangkan sikap saling bekerja sama, mempunyai rasa tanggung jawab dan mampu bersaing secara sehat. Sifat dan sikap  demikian akan membentuk pribadi yang berhasil dalam menghadapi tantangan  pendidikan yang  lebih  tinggi  yang  berorientasi  pada kelompok. Oleh karena itu perlu adanya usaha untuk memperbaiki hasil belajar siswa dengan berbagai cara, antara lain: perbaikan model pembelajaran, penggunaan model pembelajaran  yang  bervariasi,  peningkatan sarana dan prasarana, memberi motivasi siswa supaya semangat belajar, mengingatkan orang tua siswa agar memberi motivasi belajar di rumah.

          Salah satu mata pelajaran yang diberikan pada siswa kelas XII  Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan di SMK Negeri 2 Purwokerto adalah mata pelajaran Gambar Konstruksi Bangunan. Mata pelajaran Gambar Konstruksi Bangunan berisikan konsep-konsep, penerapan metode, menyajikan hitungan dan melaksanakan pekerjaan gambar konstruksi bangunan. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, siswa kurang aktif  dalam  kegiatan belajar mengajar.  Siswa  cenderung  tidak  begitu  tertarik dengan pelajaran Gambar Konstruksi Bangunan karena selama ini pelajaran Gambar Konstruksi Bangunan dianggap sebagai pelajaran yang sulit dipahami karena pada penerapan konsep, gambar, maupun perhitungan dibutuhkan waktu dan pemahaman khusus sebelum merencanakan suatu Gambar Konstruksi Bangunan. Hal ini menyebabkan rendahnya hasil belajar Gambar Konstruksi Bangunan dan rendahnya tingkat pemahaman siswa di sekolah. Permasalahan tersebut juga terjadi pada siswa kelas XII Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2 Purwokerto. Berdasarkan dari  hasil Tes Formatif kelas XII TGB, Semester Ganjil tahun pelajaran 2015/2016 menunjukkan bahwa pada mata pelajaran Gambar Konstruksi Bangunan dengan Kompetensi Dasar mengaitkan data topografi dan prinsip fluida pada penentuan elevasi  bangunan air tersebut hanya ada 68% (23 siswa) yang mendapat nilai ≥75. Jumlah ini masih dibawah batas kriteria ketuntasan klasikal yaitu 85%.

  1. Rumusan Masalah

           Berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah ada peningkatan hasil belajar Gambar Konstruksi Bangunan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada siswa kelas XII TGB-1 SMK Negeri 2 Purwokerto Tahun Pelajaran 2016/2017?”

  1. Tujuan Penelitian

            Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil  belajar  Gambar Konstruksi Bangunan dengan menggunakan model pembelajaran ko.operatif tipe Jigsaw pada siswa kelas XII TGB-1 SMKN 2 Purwokerto Tahun pelajaran 2016/2017.

  1. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: (1) meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran Gambar Konstruksi Bangunan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw; (2) meningkatkan derajat kriteria ketuntasan minimal (KKM); (3) memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan lebih mendalam mengenai teori dan langkah-langkah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran Gambar Konstruksi Bangunan.

  1. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS
  2. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan  sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar  belajar kelompok  atau  kerja  kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok.

Model  pembelajaran  kooperatif  memungkinkan  semua  siswa  dapat menguasai  materi  pada  tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar. Hubungan  kerja  seperti  itu  memungkinkan  timbulnya  persepsi  yang  positif tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan andil dari anggota kelompok lain selama  belajar  bersama dalam  kelompok. Untuk mencapai hasil yang maksimal, maka harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong, yaitu: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, evaluasi proses kelompok.

Karakteristik pembelajaran kooperatif  diantaranya adalah: (1) siswa bekerja dalam kelompok kooperatif  untuk menguasai materi akademis; (2) anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari  siswa  yang berkemampuan  rendah,  sedang,  dan tinggi;  (3) jika  memungkinkan,  masing-masing  anggota  kelompok  kooperatif berbeda suku, budaya, dan jenis kelamin; (4) sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada individu. Terdapat empat tahapan keterampilan kooperatif yang harus ada dalam model pembelajaran kooperatif  yaitu: (1)  Forming, yaitu pembentukan kelompok sehingga terbentuk sikap yang sesuai dengan norma;  (2)  Functioning yaitu pengaturan mengatur  aktivitas  kelompok  dalam  menyelesaikan  tugas  dan  membina hubungan kerja sama diantara anggota kelompok; (3)  Formating yaitu perumusan materi yang diberikan dengan menekankan penguasaan serta pemahaman; (4)  Fermenting yaitu penyerapan materi pelajaran untuk merangsang  pemahaman  konsep  sebelum  pembelajaran.

  1. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif Jigsaw

                  Pembelajaran kooperatif jigsaw telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar siswa, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif jigsaw terdapat saling ketergantungan positif diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat pada siswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif siswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal. Model pembelajaran kooperatif jigsaw memungkinkan semua siswa  dapat  menguasai  materi  pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar.

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif  jigsaw yang dikemukakan adalah: (1) Belajar bersama dengan teman, (2) Selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman, (3) Saling mendengarkan pendapat diantara anggota kelompok, (4) Belajar dari teman yang berbeda kelompok, (5) Belajar dalam kelompok kecil, (6) Produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat, (7) Keputusan tergantung pada siswa sendiri, (8) Siswa aktif; ( Endy Kisworo, 2006)

  1. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 7 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.

Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie, A., 2005). Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu  satu sama lain tentang topik pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa kembali  pada tim/kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.

Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat “kelompok asal dan  kelompok ahli”. Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk  mempelajari dan mendalami topik tertentu dan  menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 1997):

Gambar 1.  Ilustrasi Kelompok Jigsaw

Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi  dan  membahas  materi  yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk  mempelajari topik mereka tersebut. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Jigsaw didesain selain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa secara mandiri juga dituntut saling ketergantungan yang positif (saling memberi tahu) terhadap teman sekelompoknya. Selanjutnya diakhir pembelajaran, siswa diberi kuis/tes secara individu yang mencakup topik materi yang telah dibahas. Kunci tipe jigsaw ini adalah interdependensi setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan kuis dengan baik.

Adapun rencana pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini diatur secara instruksional sebagai berikut (Slavin, 1995): (1) Membaca: siswa memperoleh topik-topik ahli dan membaca materi tersebut untuk mendapatkan informasi, (2) Diskusi kelompok ahli: siswa dengan topik-topik ahli yang sama bertemu untuk mendiskusikan topik tersebut, (3) Diskusi  kelompok  asal:  ahli  kembali  ke  kelompok  asalnya  untuk menjelaskan topik pada kelompoknya, (4) Kuis: siswa memperoleh kuis individu yang mencakup semua topik.

  1. Pembelajaran Gambar Konstruksi Bangunan

             Gambar Konstruksi Bangunan adalah suatu ilmu yang berisikan tentang materi pelajaran tentang mengaitkan data topografi dan prinsip fluida pada penentuan elevasi bangunan air, sehingga siswa diharapkan dapat membuat peta situasi konstruksi bangunan air sesuai spesifikasi teknis. Adapun rincian materi yang diberikan adalah: (1) Sistem jaringan irigasi; (2) Macam-macam bangunan irigasi; (3) Pengetahuan tentang peta topografi; (4) Pengetahuan tentang dasar perencanaan bangunan irigasi.

  1. KERANGKA BERPIKIR

Hakekat pembelajaran Gambar Konstruksi Bangunan adalah belajar konsep. Untuk belajar Gambar Konstruksi Bangunan diperlukan cara-cara khusus dalam belajar dan mengajarkannya. Hasil belajar merupakan puncak dari suatu proses pembelajaran. Dalam pembelajaran Gambar Konstruksi Bangunan di kelas XII Program Keahlian TGB-1, SMK Negeri 2 Purwokerto masih banyak ditemukan masalah-masalah antara lain: masih rendahnya prestasi belajar siswa, masih rendahnya tingkat partisipasi siswa, masih rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap konsep-konsep Gambar Konstruksi Bangunan.

Untuk mengatasi masalah diatas, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif jigsaw dalam pembelajaran Gambar Konstruksi Bangunan, karena model ini merupakan salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif tersebut terjadi saat interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu saja, sehingga diperlukan perubahan/modifikasi struktur kognitif untuk mencapai kesimbangan.

Perlu diterapkan model pembelajaran interaktif dimana guru lebih banyak memberikan peran  kepada siswa sebagai subjek belajar, guru mengutamakan proses daripada hasil. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara integratif dan komprehensif pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar. Dengan penerapan prosedur pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini maka akan  muncul keefektifitasan pembelajaran. Dalam keefektifitasan pembelajaran ini akan  muncul  pembelajaran  yang  berkualitas  sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

  1. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas maka diajukan hipotesis Penelitian Tindakan Kelas adalah: diduga model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan  hasil  belajar  Gambar Konstruksi Bangunan  pada siswa  kelas  XII TGB-1, SMK Negeri 2 Purwokerto Tahun pelajaran 2016/2017”.

III. METODOLOGI PENELITIAN

  1. Setting Penelitian

            Penelitian Tindakan Kelas dilakukan di SMK Negeri 2 Purwokerto yang beralamatkan Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 81, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas pada semester 5 tahun pelajaran 2016/2017. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan selama tiga bulan mulai bulan Juli minggu keempat sampai Oktober minggu kedua tahun 2016.

  1. Subjek Penelitian

            Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII TGB-1 SMK Negeri 2 Purwokerto pada semester 5 tahun pelajaran 2016/2017 sebanyak 33 siswa terdiri dari 26 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan.

  1. Sumber Data

            Dalam penelitian ini menggunakan sumber data antara lain: (1) data primer yaitu data yang berasal dari hasil belajar siswa yang berupa hasil tes; (2) data sekunder yaitu data yang berasal dari observasi yang dilakukan oleh teman sejawat ketika proses berlangsung.

  1. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

            Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh melalui teknik tes pada kompetensi dasar mengaitkan  data topografi dan prinsip fluida pada penentuan elevasi bangunan air pada mata pelajaran Gambar Konstruksi Bangunan dan teknik non tes melalui kegiatan  observasi dan wawancara. Data berupa produk siswa dijadikan sebagai data kuantitatif, sedangkan hasil observasi dan wawancara dijadikan data kualitatif. Instrumen soal berupa Lembar Kerja Siswa (LKS). Penilaian materi pada kompetensi dasar mengaitkan  data topografi dan prinsip fluida pada penentuan elevasi bangunan air didasarkan pada rubrik penilaian.

  1. Analisa Data

            Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif dalam bentuk nilai kualitatif. Analisis deskriptif  komparatif dilakukan dengan cara membandingkan nilai tes kompetensi dasar mengaitkan  data topografi dan prinsip fluida pada penentuan elevasi bangunan air pada Siklus I dan Siklus II serta membandingkan hasil observasi Siklus I dan Siklus II.

  1. Indikator Kinerja

            Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah siswa dikatakan tuntas belajar (KKM) pada materi kompetensi dasar mengaitkan data topografi dan prinsip fluida pada penentuan elevasi bangunan air apabila siswa mendapatkan nilai minimal 75 dengan ketuntasan belajar klasikal 85%.

  1. Prosedur Penelitian

            Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang direncanakan dengan dua siklus. Tiap siklus mempunyai empat tahapan yaitu: Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan, dan Refleksi.

  1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  2. Deskripsi Kondisi Awal / Pra Siklus

          Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas XII  TGB-1 SMK Negeri 2 Purwokerto sebelum adanya tindakan kelas, guru memberikan pre-test yang dilaksanakan sebelum penelitian. Berdasarkan  hasil  tes yang dilakukan  sebelum  tindakan  terhadap 33 siswa  kelas  XII   TGB-1  SMK  Negeri 2  Purwokerto diperoleh data antara lain: (1) Siswa yang tuntas belajar sebanyak 57,57%   (19 siswa); (2) Siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 42,43% (14 siswa).

  1. Deskripsi Siklus I
  2. Hasil Tes Siklus I

            Terjadi peningkatan hasil tes dari kondisi awal yaitu  19 siswa yang tuntas meningkat menjadi 24 siswa atau  72,73%, dengan nilai tertinggi 85, nilai terendah 56, dan nilai rata-rata  74,12. Perbaikan pembelajaran sudah tercapai karena diperoleh gain skor (perolehan nilai) rata-rata 71,27 dari kondisi awal ke siklus I. Namun hasil Siklus I belum mencapai tingkat ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan yaitu 85%. Pada siklus I ketuntasan klasikal baru mencapai 72,73%, sehingga untuk mencapai ketuntasan klasikal masih dibutuhkan 12,27%. Oleh karena itu perlu dilanjutkan dengan siklus II.

  1. Hasil Non Tes Siklus I

Pembahasan terhadap penelitian tindakan yaitu berdasarkan analisis data kualitatif   terhadap hasil penelitian yang diperoleh dari kerja sama antara peneliti dan guru  kolaborasi. Berdasarkan hasil refleksi tiap siklus ternyata  dapat memberikan motivasi  bagi guru dalam melakukan perbaikan pengajarannya dengan lebih banyak melibatkan siswa dalam  pembelajaran  sebagai  upaya meningkatkan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Pembahasan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat dilihat dalam enam aspek, antara lain: (1) Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat 70,67%; (2) Motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran 66,33%; (3) Interaksi siswa dalam kelompok 68,33%; (4) Hubungan siswa dengan guru 66,67%; (5) Partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran 69,67%; (6) Penguasaan materi pembelajaran 64,67%.

  1. Deskripsi Siklus II
  2. Hasil Tes Siklus II

                 Hasil Tes siklus II terjadi peningkatan yang signifikan yaitu dari 24 siswa yang tuntas meningkat menjadi 29 siswa atau 87,87%, dengan nilai tertinggi 93, nilai terendah 60. Dan nilai rata-rata 81,06. Perbaikan pembelajaran sudah tercapai karena diperoleh gain skor (perolehan nilai) rata-rata dari Siklus I ke Siklus II yaitu sebesar 6,86. Ketuntasan belajar dicapai secara klasikal sebesar 87,87%, dapat dikatakan bahwa pembelajaran pada kompetensi dasar mengaitkan  data topografi dan prinsip fluida pada penentuan elevasi bangunan air menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan  hasil  belajar  Gambar Konstruksi Bangunan  pada siswa  kelas  XII TGB-1 SMK Negeri 2 Purwokerto tahun pelajaran 2016/2017.

  1. Hasil Non Tes Siklus II

Hasil pengamatan yang dilakukan pada siklus II diperoleh data aktivitas siklus II yang mencakup: (1) Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat 82,33%; (2) Motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran 78,33%; (3) Interaksi siswa dalam kelompok 79,67%; (4) Hubungan siswa dengan guru 80,33%; (5) Partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran 83,67%; (6) Penguasaan materi pembelajaran 79,67%.

Dari sebelum tindakan dilakukan, kemudian siklus I sampai dengan siklus II nilai ketuntasan  belajar  siswa  cenderung  mengalami  peningkatan   yang  berarti. Peningkatan ini dapat dilihat dari peningkatan yang terjadi dalam tiap-tiap indikatornya. Proses peningkatan tersebut terjadi karena siswa yang kesulitan lebih diutamakan untuk dibantu oleh teman kelompoknya maupun dibimbing oleh guru, sehingga siswa bisa mendapatkan nilai yang memenuhi syarat ketuntasan nilai di sekolah.

  1. Pembahasan

                 Dari hasil analisis data pada tiap kondisi yaitu kondisi awal, kondisi Siklus I, dan kondisi Siklus II serta hasil pengamatan guru mitra diperoleh data sebagai berikut:

  1. Pada kondisi awal nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 71,27. Namun secara klasikal masih belum dapat dikatakan tuntas karena baru mencapai 57,57%. Pada siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat  yaitu 74,12. Namun secara klasikal juga dikatakan belum tuntas, karena baru mencapai 72,73 %. Sedangkan standar ketuntasan yang ditetapkan adalah 85%. Pada Siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa semakin meningkat  yaitu 81,06 dan pencapaian ketuntasan belajar 87,87%, maka secara klasikal dapat dikatakan tuntas.
  2. Dari pengamatan guru mitra diperoleh data bahwa aktivitas siswa dalam proses pembelajaran kompetensi dasar mengaitkan  data topografi dan prinsip fluida pada penentuan elevasi bangunan air dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw tiap siklus semakin meningkat dan tercipta situasi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Hal ini disebabkan tumbuhnya kerjasama yang baik antar siswa dengan siswa, dan antar siswa dengan guru menjadi semakin meningkat.

  1. PENUTUP

Simpulan

       Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat peneliti simpulkan sebagai berikut:

  1. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Gambar Konstruksi Bangunan siswa kelas XII TGB-1 SMK Negeri 2 Purwokerto pada semester gasal tahun pelajaran 2016/2017 dari kondisi awal ke siklus I sampai dengan siklus II terjadi peningkatan rata-rata nilai sebesar 9,79. Nilai rata-rata kondisi awal 71,27 meningkat menjadi 74,12 pada siklus I, dan pada siklus II terjadi peningkatan yang signifikan dengan nilai rata-rata 81,06, serta ketuntasan belajar klasikal mencapai 87,87%.
  2. Berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi diperoleh simpulan bahwa penerapan model pembelajaran tipe Jigsaw dapat tercipta situasi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan sehingga siswa lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.
  3. Saran

Berkaitan dengan hasil penelitian diatas, peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut:

  1. Guru agar lebih aktif dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi kompetensi yang diajarkan dalam proses belajar-mengajar, sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar siswa, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan yang akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
  2. Kepada para peneliti diharapkan dapat mengembangkan hasil penelitian ini lebih luas dan mendetail untuk mata pelajaran produktif lainnya.
  1. Rekomendasi

                Berdasarkan hasil penelitian diatas peneliti dapat merekomendasikan sebagai berikut:

  1. Guru dalam mengajar sebaiknya menggunakan berbagai model pembelajaran, sehingga materi pembelajaran mudah diterima siswa, lebih mudah mendapatkan gambaran dalam memahami materi, dan siswa lebih termotivasi dalam kegiatan belajar mengajar.
  2. Untuk meningkatkan prestasi belajar diharapkan guru melibatkan siswa untuk berperan secara aktif dalam proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Akhir, Muhammad. 2008. Penelitian Tindakan Kelas dan Prosedur Aplikasinya.
Makalah Workshop  Pengembangan Kompetensi  Guru:  FKIP  UNS,  27
Oktober 2008.

Arikunto, Suharsimi. 2002.  Prosedur  Penelitian  Suatu  Pendekatan  Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Arends, R. 1997. Classroom Instrunction and Management. Mc Grow-Hill Companies Inc. New York.

Buku Teks Bahan Ajar Siswa “Gambar Teknik” Jilid X, Kurikulum 2013. Direktorat Pembinaan SMK, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Endy Kisworo. 2006. Model-model Pembelajaran. Http//F: activities.htm diakses
tanggal 10 Juni 2016.

  1. Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Resdakarya.

Lie, Anita. 2005. Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang Kelas. Jakarta:
Gramedia.

Slavin, R. E. 1955. Cooperative Learning, Theory, Reserch and Practice. Boston: Allyn and Bacon

Sugiono. 2009.  Metode  Penelitian  Kuantitatif,  Kualitatif,  R&D.  Bandung: Alfabeta.

BIODATA

Nama                                 :  Dra. KARSUKMIA NANDJA, MM

NIP                                     : 19681105 199303 2 008

Jabatan                             : Guru Madya

Pangkat/Golongan          :  Pembina Tingkat I, IV/b

Unit Kerja                          :  SMK Negeri 2 Purwokerto

E-mail                                :  karsukmia.nandja@gmail.com

No. HP                               :  085227011589


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *