model Value Clarification Technique PKn kelas vi

Penelitian Tindakan Kelas SD Mapel PKn MODEL Value Clarification Technique (VCT)

MODEL Value Clarification Technique (VCT) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKN BAGI SISWA KELAS VI SEMESTER I SD NEGERI KARANGTENGAH 02 TAHUN PELAJARAN 2014/2015

 

Oleh: Slamet

Abstrak: Penelitian dilakukan di SD Negeri Karangtengah 02 Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap selama dua bulan. Subjek penelitian adalah siswa kelas VI semester I SD Negeri Karangtengah 02 tahun pelajaran 2014/2015 yang terdiri dari 23 orang siswa. Objek dalam penelitian ini adalah pembelajaran PKn Nilai Kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara melalui penerapan model VCT. Hasil penelitian ini adalah meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar dan tingkat ketuntasan belajar siswa pada pra siklus rerata 13,04%, pada siklus I meningkat menjadi 30,34% dan di siklus II meningkat signifikan menjadi 91,30%. Sedangkan aktivitas belajar pada pra siklus hanya 17,39%, pada siklus I menjadi 56,52%, dan pada siklus ke II meningkat aktivitas siswa menjadi 86,95%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model VCT dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn.

Kata Kunci: hasil belajar, aktivitas belajar, model VCT.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah.

Pada prakteknya, pembelajaran PKn masih menghadapi banyak kendala-kendala. Kendala-kendala yang dimaksud antara lain meliputi: Pertama, guru pengampu mata Pelajaran PKn masih mengalami kesulitan dalam mengaktifkan siswa untuk terlibat langsung dalam proses penggalian dan penelaahan bahan pelajaran. Kedua, sebagian siswa memandang mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang bersifat konseptual dan teoritis. Akibatnya siswa ketika mengikuti pembelajaran PKn merasa cukup mencatat dan menghafal konsep-konsep dan teori-teori yang diceramahkan oleh guru, tugas-tugas terstruktur yang diberikan dikerjakan secara tidak serius dan bila dikerjakan pun sekedar memenuhi formalitas.

. Seperti yang dialami penulis sendiri, setiap ulangan PKn nilai rata rata anak di bawah 75. Pada materi kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara. Nilai rata – rata formatif  hanya 6.Dari 23 siswa hanya 12 siswa 52 % yang memperoleh nilai 75 ke atas. Sedangkan 10 siswa yang lain 43 %  mendapat nilai dibawah 75.

Berangkat dari kondisi tersebut, guru perlu melakukan perbaikan pembelajaran dengan fokus mendorong siswa lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran.Upaya perbaikan yang dilakukan oleh guru adalah dengan menerapkan model  VCT.

Melalui penerapan model VCT dalam pembelajaran PKn, siswa diharapkan dapat memperoleh situasi belajar yang bervariatif sesuai karakteristik materi yang dikolaborasikan dengan metode-metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru..

Identifikasi Masalah

Pembelajaran PKN masih cenderung konvensional, dimana pembelajarannya masih didominasi dengan model pembelajaran ceramah. Di samping itu, siswa hanya dijadikan sebagai objek pembelajaran yang terkekang  Dalam hal ini, guru juga tidak menggunakan model pembelajaran pembelajaran yang variatif sehingga membuat siswa mudah bosan dalam menerima pelajaran.Siswa kurang memahami konsep pengambilan keputusan bersama.Siswa kurang aktif dalam berdiskusiSiswa kurang terampil dalam berkomunikasi dengan teman sebaya.

Pembatasan Masalah

Untuk membatasi meluasnya permasalahan dalam penelitian ini, perlu adanya pembatasan masalah pada penerapan model (VCT) yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn materi Kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara di kelas VI SD Negeri Karangtengah 02.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah tersebut di atas, diajukan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah proses pembelajaran Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT) dapat meningkatkan hasil belajar PKn materi kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara di kelas VI SD Negeri Karangtengah 02 tahun Pelajaran 2014/2015?
  2. Seberapa besar peningkatan hasil belajar PKn materi ”kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara” setelah menerapkan model Value Clarivication Technique (CVT) di kelas VI SD Negeri Karangtengah 02 tahun pelajaran 2014/2015?
  3. Bagaimanakah perubahan perilaku yang menyertai peningkatan hasil belajar PKn materi kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara setelah Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT) di kelasVI SD Negeri Karangtengah 02 tahun pelajaran 2014/2015?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Mendeskripsikan proses pembelajaran dengan penerapan model Value Clarivication Technique (CVT) dapat meningkatkan hasil belajar PKn materi kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara di kelasV SD Negeri Karangtengah 02 tahun Pelajaran 2014/2015.
  2. Mendeskripsikan hasil belajar PKn materi “kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara” setelah penerapan model Value Clarivication Technique (CVT) di kelas VI SD Negeri Karangtengah 02 tahun pelajaran 2014/2015.
  3. Mendeskripsikan perubahan perilaku yang menyertai peningkatan hasil belajar PKn materi kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara setelah penerapan model Value ClarivicationTechnique (CVT) di kelas VI SD Negeri Karangtengah 02 tahun pelajaran 2014/2015.

 Manfaat Hasil Penelitian.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun secara praktis. Manfaat tersebut adalah:

  1. Bagi Siswa

Perbaikan dengan menerapkan model VCT Percontohan akan membawa peserta didik ke situasi belajar yang bervariatif sesuai karakteristik materi yang dikolaborasikan dengan metode-metodpembelajaran yang diterapkan oleh guru.

  1. Bagi Guru

Perbaikan dimanfaatkan guru untuk memperbaiki proses pembelajaran yang dikelolanya sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran secara optimal.

  1. Bagi Sekolah

Pendidikan di sekolah akan meningkat secara kualitas maupun kuantitas seiring dengan kemampuan profesional para pendidiknya. Selain itu, penanggulangan berbagai masalah belajar, perbaikan terhadap konsep yang keliru, serta kesulitan mengajar yang dialami akan segera teratasi

Kajian Teori

Pembelajaran PKn

Aziz Wahab, dkk. (Cholisin, 2004: 10) mengemukakan bahwa, “Pendidikan Kewarganegaraan ialah media pengajaran yang akan meng- Indonesiakan para siswa secara sadar, cerdas dan penuh tanggung jawab”. Melalui mata pelajaran PKn diharapkan siswa memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan NKRI.

Ruang lingkup pembelajaran PKn meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

  1. Persatuan dan Kesatuan bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan, Cinta lingkungan, Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Partisipasi dalam pembelaan negara, Sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, Keterbukaan dan jaminan keadilan;
  2. Norma, hukum, dan peraturan, meliputi: Tertib dalam lingkungan keluarga Tata tertib di sekolah, Norma yang berlaku di masyarakat, Peraturan-peraturan daerah, Norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Sistem hukum dan peradilan nasional, Hukum dan peradilan internasional;
  3. Hak asasi manusia, meliputi: Hak dan kewajiban anak, Hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM;
  4. Kebutuhan warga negara, meliputi: Hidup gotong-royong, Harga diri sebagai warga masyarakat, Kebebasan berorganisasi, Kemerdekaan mengeluarkan pendapat, Menghargai keputusan bersama, Prestasi diri, Persamaan kedudukan warga negara;
  5. Konstitusi Negara, meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, Hubungan dasar negara dengan konstitusi;
  6. Kekuasaan dan politik, meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan, Pemerintahan daerah dan otonomi, Pemerintah pusat, Demokrasi dan sistem politik, Budaya politik, Budaya demokrasi menuju masyarakat madani, Sistem pemerintahan, Pers dalam masyarakat demokrasi;
  7. Pancasila, meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka.
  8. Globalisasi, meliputi: Globalisasi di lingkungannya, Politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, Dampak globlalisasi, Hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi.

Hakikat Hasil Belajar. 

Menurut Slameto (2008:7) Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu proses usaha setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan tes guna melihat kemajuan siswa”. Lebih lanjut Slameto (2008:8) mengemukakan bahwa ”hasil belajar diukur dengan rata-rata hasil tes yang diberikan dan tes hasil belajar itu sendiri adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan mengukur kemajuan belajar siswa. ”Tes hasil belajar bermaksud untuk mengukur sejauh mana para siswa telah menguasai atau mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan” (Mudjijo, 1995:29).

Berdasarkan pendapat tersebut, mengambarkan bahwa hasil belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan yang merupakan hasil dari aktivitas belajar yang ditunjukkan dalam bentuk angka-angka seperti yang dapat dilihat pada nilai rapor.

Aktivitas Belajar

Nasution (1986: 92), menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran setiap siswa terdapat ”prinsip aktif” yakni keinginan berbuat dan bekerja sendiri. Prinsip aktif mengendalikan tingkah lakunya.Pembelajaran perlu mengarahkan tingkah laku menuju ke tingkat perkembangan yang diharapkan.Potensi yang hidup perlu mendapat kesempatan berkembang ke arah tujuan tertentu.Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dalam pembelajaran perlu ditekankan adanya aktivitas siswa baik secara fisik, mental, intelektual, maupunemosional.

Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan untuk mengadakan perubahan dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, dan keterampilan. Sanjaya (2007: 130).

Pembelajaran Model  VCT

Model pembelajaran VCT adalah salah satu teknik pembelajaran yang dapat memenuhi tujuan pancapaian pendidikan nilai. VCT berfungsi untuk: a) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai; b) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik yang positif maupun yang negatif untuk kemudian dibina kearah peningkatan atau pembetulannya; c) menanamkan suatu nilai kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa sebagai milik pribadinya (Sanjaya, 2008: 283).

Menurut Taniredja, dkk., (Taniredja, dkk., 2012: 87-88) model VCT merupakan teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswaTujuan penggunaan dari model VCT dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui dan mengukur tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai, sehingga dapat dijadikan sebagai dasar pijak menentukan target nilai yang akan dicapai;
  2. Menanamkan kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimiliki baik tingkat maupun sifat yang positif maupun negatif untuk selanjutnya ditanamkan ke arah peningkatan dan pencapaian target nilai;
  3. Menanamkan nilai-nilai tertentu kepada siswa melaui cara yang rasional (logis) dan diterima siswa, sehingga pada akhirnya nilai tersebut akan menjadi milik siswa sebagai proses kesadaran moral bukan kewajiban moral; dan
  4. Melatih siswa dalam menerima/menilai dirinya dan posisi nilai orang lain, menerima serta mengambil keputusan terhadap sesuatu persoalan yang berhubungan dengan pergaulannya dan kehidupan sehari-hari
  5. Model pembelajaran VCT analisis nilai, penerapan langkah-langkah dalam kegiatan pembelajaran menurut Ariantha adalah sebagai berikut:
  6. a) Guru melontarkan stimulus dengan cara membaca cerita atau menampilkan gambar, foto, atau film;
  7. b) Memberi kesempatan beberapa saat kepada siswa untuk berpikir atau berdialog sesama teman sehubungan dengan stimulus tadi;
  8. c) Melaksanakan dialog terpimpin melalui pertanyaan guru, baik secara individual, kelompok, atau klasikal;
  9. d) Menentukan argumen dan klarifikasi pendirian (melalui pertanyaan guru dan bersifat individual, kelompok, dan klasikal);
  10. e) Pembahasan/pembuktian argumen. Pada fase ini sudah mulai ditanamkan target nilai dan konsep sesuai materi pelajaran; dan
  11. f) Penyimpulan (http://putra-ariantha.blogspot.com)

Kerangka Berfikir.

Dalam menyampaikan materi pelajaran khususnya mata pelajaran PKn guru kelas VI SD Negeri Karangtengah 02 masih menggunakan metode ceramah.Guru belum mengembangkan model pembelajaran yang lain. Mayoritas siswa terlihat kurang aktif dalam proses pembelajaran PKn, hasil belajar siswa juga masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan KKM > 75.00.

Hipotesis TIndakan:

  1. Penerapan model dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran PKn.
  2. Penerapan model dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn materi Nilai Kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara bagi siswa kelas VI semester I SD Negeri Karangtengah 02 tahun pelajaran 2014/2015.

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian.

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas

Prosedur PTK ini dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Merencanakan (planning)

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu guru membuat rencana perbaikan dan lembar observasi.

  1. Melakukan tindakan (acting)

Pada tahap ini yaitu melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan sesuai denganrencana pembelajaran yang telah dibuat.

  1. Mengamati (observing)

Kegiatan pada tahap ini adalah pelaksanaan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan untuk mencatat hasil observasi.

  1. Refleksi (reflecting)

Berdasarkan hasil observasi, guru dapat melakukan refleksi diri tentang kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dalam melaksanakan PTK..

Prasiklus

Perencanaan

Perencanaan pembelajaran awal dilakukan dengan cara pembelajaran yang biasa saja tanpa ada persiapan khusus, dan dengan Rencana Pembelajaran (RPRangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut.

  1. Guru menyusun rencana pembelajaran dengan materi kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara.
  2. Guru menyiapkan sumber bahan dan media pembelajaran.
  3. Menyusun lembar kerja.
  4. Memilih metode diskusi kelompok.
  5. Membuat lembar observasi aktifitas guru dan siswa beserta indikatornya.

Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan seperti langkah-langkah di bawah ini :

  1. Guru melakukan apersepsi melalui tanya jawab tentang tentang materi kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara.
  2. Guru menyampaikan motivasi dan tujuan pembelajaran.
  3. Guru menjelaskan pengertian kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara.
  4. Siswa mengerjakan lembar kerja siswa dari guru secara berkelompok.
  5. Perwakilan siswa maju membacakan hasil kerja kelompok
  6. Siswa menanggapi hasil kerja tiap kelompok dengan dipandu oleh guru.
  7. Siswa bersama guru menyimpulkan materi pelajaran.
  8. Siswa mengerjakan tes formatif.
  9. Guru mengoreksi hasil tes formatif.
  10. Guru memberikan tindak lanjut berupa soal perbaikan dan pengayaan dalam bentuk pekerjaan rumah.
  11. Guru menyampaikan pesan agar siswa lebih giat belajar kembali

 Pengamatan

Pengamatan dilakukan oleh observer, menggunakan lembar observasi yang berisi kegiatan guru, peserta didik, dan interaksi pembelajaran beserta indikator -indikatornya.

Refleksi

Karena dirasa masih banyak kekurangan dan hambatan yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah, maka guru mengadakan perbaikan pembelajaran ke siklus I.

Siklus I

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Secara lebih rinci diuraikan sebagai berikut.

Perencanaan

Perbaikan pembelajaran siklus I dilakukan berdasarkan hasil refleksi terhadap pembelajaran awal mata pelajaran PKn di kelas VI materi tentang kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara. Berdasarkan pengamatan, guru kecewa pada hasil evaluasi dari analisis nilai ditemukan bahwa dari 23 siswa hanya 12 siswa 52 % yang memperoleh nilai 75 ke atas. Sedangkan 11 siswa yang lain 48 %  mendapat nilai dibawah 75.

Pelaksanaan .

Pelaksanaan pembelajaran PKn dengan penerapan model  (VCT)dilaksanakan sebagai berikut:

  1. Guru memberikan apersepsi tentang materi yang akan dijelaskan dan menjelaskan materi konsep ”Nilai Kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara”
  2. Guru memberikan kesempatan siswa bertanya;
  3. Guru membagi siswa ke dalam 2 kelompok yang masing-masing terdiri dari 7 dan 6.
  4. Guru memberikan penugasan kelompok;
  5. Siswa mengerjakan tugas kelompok dan mendiskusikannya di dalam kelompok; dan
  6. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas.

            Pengamatan

                        Kegiatan pengamatan dalam pembelajaran PKn dengan penerapan model  (VCT) dilaksanakan sebagai berikut:1) Observer  melakukan pengamatan terhadap kinerja siswa dalam kelompok serta kinerja guru dalam pembelajaran; dan 2) Guru dan observer mempersiapkan instrumen berupa tes untuk penugasan secara individual.Pengamatan dilakukan oleh observer, menggunakan lembar observasi yang berisi kegiatan guru, peserta didik, dan interaksi pembelajaran beserta indikator -indikatornya..

Refleksi

Setelah melihat hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan pembelajaran siklus I,Ternyata hasil belajar siswa masih belum memuaskan walaupun sudah ada peningkatan sedikit dan dirasa masih ada kekurangan dan hambatan yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah maka guru mengadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II.

Siklus II.

Perencanaan

Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaannya adalah sebagai berikut.

  1. Guru menyiapkan sumber bahan dan media yang akan digunakan saat pelaksanaan perbaikan siklus II.
  2. Guru menyususn rencana perbaikan pembelajaran siklus II.
  3. Guru menyusun alat evaluasi berupa butir soal tes formatif.
  4. Guru menyusun lembar observasi kegiatan siswa, guru, dan interaksi pembelajaran beserta indikatornya.

Pelaksanaan

  1. Guru menyampaikan motivasi dan tujuan pembelajaran.
  2. Siswa membentuk kelompok untuk mengisi lembar kerja kelompok.
  3. Perwakilan siswa maju mendemonstrasikan hasil kerja kelompok.
  4. Siswa menanggapi hasil kerja tiap kelompok dengan dipandu oleh guru.
  5. Siswa bersama guru menyimpulkan materi pelajaran.
  6. Siswa mengerjakan tes formatif
  7. Guru mengoreksi hasil tes formatif
  8. Guru memberikan tindak lanjut berupa soal perbaikan dan pengayaan dalam bentuk pekerjaan rumah
  9. Guru menyampaikan pesan agar siswa lebih giat belajar kembali

Pengamatan

Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh guru yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Adakah peningkatan dibandingkan siklus II

Refleksi

 Ternyata hasil belajar siswa sudah cukup memuaskan yaitu ada 22 siswa 96% telah memperoleh nilai 75 atau lebih. Dengan  mempertimbangkan hal itu, maka perbaikan pembelajaran tidak memerlukan siklus III. Ini berarti PTK untuk pelajaran PKn telah selesai dilaksanakan.

Setting Penelitian.

 Waktu penelitian dilaksanakan selama 2 (dua) bulan, yaitu dari minggu ke I bulan September 2014 hingga minggu VI bulan Oktober 2014.

Subyek Penelitian

Subjek dalam penelitian tindakan ini adalah siswa kelas VI Semester 1 SD Negeri Karangtengah 02 Tahun Pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 23 orang siswa.

Sumber Data Penelitian.

Sumber Data

Jenis data yaitu berupa data kuantitatif dan kualitatif, yang berupa :

  1. Data kuantitatif, yaitu hasil yang berbentuk nilai hasil tes formatif hasil observasi, check list dan kuisioner.
  2. Data kualitatif, yaitu proses pembelajaran dan rekaman aktivitas siswa

Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian tindakan ini adalah teknik tes, observasi, dan dokumen.

  1. Tes
  2. Observasi
  3. Dokumen

Uji Validitas Data.

                        Agar diperoleh data yang obyektif, sahih dan handal, maka peneliti menggunakan teknik triangulasi  dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Triangulasi data yakni dengan membandingkan data antara hasil tes tertulis siklus ke satu dan ke dua.
  2. Melakukan pengolahan dan analisis ulang dari data yang terkumpul.

Teknik Analisis Data.

Teknik analisis data yang dipakai oleh peneliti adalah teknik análisisstatistik deskriptif, yaitu dalam menganalisis data melalui :

  1. Data prestasi belajar dengan memberikan tes belajar siswa.
  2. Data proses belajar mengajar pada saat dilaksanakan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
  3. Data tentang refleksi serta perubahan-perubahan yang terjadi di kelas.
  4. Data tentang keterkaitan anatara perencanaan dengan pelaksanaan yang didapat dan rencana pembelajaran dan lembar observasi.

Indikator Kinerja dan Kriteria Keberhasilan.

Kriteria untuk mengukur tingkat ketuntasan belajar siswa, melalui upaya perbaikan pembelajaran sebagai berikut :

  1. Siswa dianggap mencapai ketuntasan belajar apabila telah memperoleh nilai > 75.00.
  2. Siswa secara klasikal dianggap mencapai ketuntasan belajar apabila nilai rata-rata kelas > 75.00.
  3. Pembelajaran dianggap berhasil apabila tingkat ketuntasan belajar siswa secara klasiklai > 80.00%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.

Deskripsi per Siklus Hasil Penelitian

Data Hasil belajar

  1. Siswa yang sudah tuntas belajar :
  2. Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang tuntas belajar adalah 3 siswa dari 23 siswa atau 13,04%.
  3. Pada siklus pertama siswa yang tuntas belajar adalah 7 siswa dari 23 siswa atau 30,34%.
  4. Pada siklus kedua siswa yang tuntas belajar adalah 21siswa dari 23 siswa atau 91,30%.
  5. Siswa yang belum tuntas belajar :
  6. Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang belum tuntas belajar adalah 20 siswa dari 23 siswa atau 86,95%.
  7. Pada siklus pertama siswa yang belum tuntas belajar adalah 16 siswa dari 37 siswa atau 69,56%.
  8. Pada siklus kedua siswa yang belum tuntas belajar adalah 2 siswa dari 23 siswa atau 08,69%.

Tabel 4.2 Rekapitulasi ketuntasan hasil belajar Siswa Tiap Siklus

No Kegiatan Pembelajaran Siswa yang tuntas Siswa yang belum tuntas
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1. Pembelajaran Sebelumnya 3 13,04 20 86,95
2. Siklus I 7 30,34 16 69,56
3. Siklus II 21 91,30 2 08,69

Berdasarkan hasil persentase tes formatif dapat dilihat data kenaikan atau kemajuan dalam belajar sebagai berikut :

  1. Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang tuntas belajar adalah 3 siswa dari 23 siswa atau 13,04%.
  2. Pada siklus pertama siswa yang tuntas belajar adalah 7 siswa dari 23 siswa atau 30,34%.
  3. Pada siklus kedua siswa yang tuntas belajar adalah 21siswa dari 23 siswa atau 91,30%.

Data  Aktivitas belajar Siswa

Dari data aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran PKn yang diperoleh pada pembelajaran sebelumnya, siklus pertama dan siklus kedua dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut :

  1. Siswa yang tergolong minat dan sangat aktif dalam pembelajaran yaitu :
  2. Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang tergolong aktif dan sangat aktif adalah 4 siswa dari 23 siswa atau 17,39%.
  3. Pada siklus pertama siswa yang tergolong aktif dan sangat aktif adalah 13 siswa dari 23 siswa atau 56,52%.
  4. Pada siklus kedua siswa yang tergolong aktif dan sangat aktif adalah 20 siswa dari 23 siswa atau 86,95%.
  5. Siswa yang belum aktivitas belajar :
  6. Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang tergolong kurang aktif dan tidak aktif adalah 19 siswa dari 23 siswa atau 82,60%
  7. Pada siklus pertama siswa yang tergolong kurang aktif dan tidak aktif adalah 10 siswa dari 23 siswa atau 43,47%.
  8. Pada siklus kedua siswa yang tergolong kurang aktif dan tidakaktif adalah 3 siswa dari 23 siswa atau 13,04%.

Deskripsi per Siklus

Siklus Pertama

  1. Rencana Tindakan
  2. Penyamaan konsep penerapan VCT dengan observer.
  3. Penyusunan lembar observasi dilaksanakan berdasarkan materi pembelajaran yang sesuai.
  4. Penyusunan rencana perbaikan pembelajaran dilaksanakan bersamaan dengan pembuatan lembar kerja dan lembar evaluasi.
  5. Pelaksanaan Tindakan

Pada pelaksanaan tindakan melalui dua siklus perbaikan pembelajaran, peneliti melaksanakan tindakan perbaikan yang telah direncanakan baik pada pelaksanaan siklus pertama maupun siklus kedua. .hasil yang diperoleh pada siklus pertama, siswa yang tuntas belajar sebanyak 7 siswa dari 23siswa (30,34%).

  1. Observasi

Hasil observasi tentang kegiatan guru menunjukkan bahwa :

  1. Guru sudah menggunakan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT), namun masih kurang maksimal.
  2. Guru kurang membimbing siswa pada saat siswa bekerja dalam kelompok.

Hasil observasi tentang aktivitas belajar siswa menunjukkan bahwa :

  1. Pada saat guru menjelaskan materi, siswa sudah nampak siap dalam proses pembelajaran. Beberapa siswa sudah mulai mau menanyakan hal-hal yang belum jelas.
  2. Aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran sudah mulai meningkat, hal ini ditunjukkan dari meningkatnya persentase aktivitas belajar siswa dari 17,39% pada pembelajaran sebelumnya menjadi 56,52% pada siklus pertama.
  3. Hasil observasi aktivitas belajar siswa selama siklus pertama selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.
  4. Refleksi

Pada perbaikan pembelajaran siklus pertama terjadi peningkatan mutu siswa yang semula tuntas belajar siswa hanya 3 siswa atau 13%% menjadi 7 siswa atau 30,34%. Dengan rata-rata siklus sebelum pembelajaran 61 pada siklus I  menjadi 70,80.Selain itu siswa juga menunjukkan peningkatan aktivitas  selama pembelajaran berlangsung. Pada pembelajaran sebelumnya siswa yang termasuk kategori aktif dan sangat aktif hanya ada hanya 3 siswa atau 13,04%  ternyata pada siklus pertama mengalami kenaikan menjadi 7siswa atau 30,34%.

Siklus Kedua

  1. Rencana Tindakan:

Dengan kegiatan yang dilakukan melalui penggunaan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT), hasil yang diperoleh pada siklus kedua, siswa yang tuntas belajar sebanyak 21 siswa dari 23 siswa (91,30%).

Hasil observasi tentang kegiatan guru menunjukkan bahwa :

  1. Guru sudah menggunakan Penerapan model Value Clarivication Technique (CVT), dan sudah maksimal.
  2. Guru sudah membimbing siswa pada saat siswa bekerja dalam kelompok.

Hasil observasi tentang aktivitas belajar siswa menunjukkan bahwa :

  1. Pada saat guru menjelaskan materi, siswa sudah nampak siap dalam proses pembelajaran.
  2. Aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran sudah mulai meningkat, hal ini ditunjukkan dari meningkatnya persentaseaktivitas belajar siswa dari 56,62 pada siklus pertama menjadi 86,92% pada siklus kedua.
  3. Hasil observasi aktivitas belajar siswa selama siklus kedua.

Hasil evaluasi tentang prestasi belajar siswa menunjukkan bahwa dibanding kegiatan pembelajaran siswa pada siklus pertama, siklus kedua hasil belajar siswa sudah memuaskan karena sudah memenuhi standard nilai ketuntasan minimal.

  1. Refleksi

Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran pada siklus kedua mengalami peningkatan dari siklus yang pertama. Hal itu terlihat dari peningkatan siswa yang aktif dari 7 siswa menjadi 20 siswa. Artinya siswa yang memiliki aktivitas  dalam mengikuti pembelajaran sudah memenuhi indikator keberhasilan. Begitu pula tentang hasili belajar siswa juga mengalami peningkatan dari 7 siswa (30,34%) menjadi 21 siswa (91,30%). Dengan demikian, proses perbaikan pembelajaran melalui PTK pada mata pelajaran PKn materi proses perumusan teks proklamasi selesai pada siklus kedua.

Pembahasan dari Setiap Siklus     

  1. Siklus Pertama:
  2. Sebagian siswa sudah mau bertanya tentang materi yang belum jelas, ini menandakan bahwa keaktifan siswa sudah mulai muncul.
  3. Hasil belajar siswa pada kenyataannya sudah meningkat walaupun peningkatan hasil belajar siswa belum sesuai dengan harapan peneliti yaitu tercapainya KKM karena pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti menggunakan prosedur latihan yaitu dengan cara siswa dibuat kelompok.
  4. Model pembelajaran VCTmerupakan model pembelajaran yang sangat tepat dan bagus diterapkan dalam pembeajaran. Karena mendesain agar siswa aktif dan berusaha untuk mencari konsep secara mandiri sehingga daya ingat siswa terhadap materi menjadi tinggi.
  5. Siklus Kedua

 Pada siklus kedua, kegiatan perbaikan pembelajaran mengalami peningkatan aktivitas belajar dari kegiatan siklus pertama sampai siklus kedua sebesar 30.34%, dan peningkatan hasil belajar dari siklus pertama sampai siklus kedua sebesar 60,96%.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Dengan pembelajaran menggunakanmodel pembelajaran Cooperative learning dan metode bermain peran pada materi “ kebersamaan dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara”  dikelas VI SD Negeri Karangtengah 02, Kecamatan Kabupaten Sampang Cilacap tahun pelajaran 2014/2015,terjadi perubahan tingkah laku yang siknifikan, dibuktikan dengan persentase aktivitas dan hasil belajar yang meningkat disetiap siklusnya, yaitu dengan melihat data awal sisya yang aktif 17,39%, pada siklus I meningkat menjadi 56,52%  dan di siklus II keaktifan siswa meningkat menjadi 86,95%

Saran.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, peneliti memberikan beberapa saran yang seyogyanya dilaksanakan guru dalam meningkatkan keberhasilan belajar siswa pada khususnya dan meningkatkan kualitas pembelajaran pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Adisusilo, Sutarjo. 2013. Pembelajaran Nilai Karakter Konstruktivisme dan VCT. Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: Rajawali Press.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2001. Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Mudjidjo. 1995. Tes Hasil Belajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Sanjaya, Wina. 2012. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:

Sardiman. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Slameto. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Remaja Rosdakarya.

Biodata :

Nama                 :  Slamet, S.Pd

Jabatan             :  Kepala Sekolah SDN Karang Tengah 02  Sampang Cilacap

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *