PENGARUH MOTIVASI DAN KOMPETENSI PROFESIONAL TERHADAP KINERJA GURU SEKOLAH DASAR DIMODERASI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PADA SD NEGERI SE KECAMATAN ULUJAMI

 kasim

ABSTRAK

Penelitian mengenai pengaruh motivasi dan kompetensi profesional terhadap kinerja guru Sekolah Dasar dimoderasi kepemimpinan Kepala Sekolah pada SD se-Kecamatan Ulujami bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh motivasi terhadap kinerja guru, pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru, pengaruh kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap kinerja guru, kepemimpinan Kepala Sekolah memoderasi pengaruh motivasi dan kinerja guru, dan kepemimpinan Kepala Sekolah memoderasi pengaruh kompetensi profesional dan kinerja guru. Metode yang dilakukan peneliti yuridis empiris yang dilakukan terhadap beberapa institusi / lembaga pendidikan SD Negeri se-Kecamatan Ulujami, terutama SD di wilayah Sarwas IV dan Sarwas V di Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang. Dengan sistem populasi metode pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan kuesioner yang merupakan suatu pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden dengan harapan memberikan respon atas dasar pertanyaan tersebut. Pengolahan data diolah dengan menggunakan program SPSS 19. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap kinerja guru. Kompetensi Profesional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru. Kepemimpinan Kepala Sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru. Kepemimpinan Kepala Sekolah tidak memoderasi pengaruh motivasi terhadap kinerja guru. Kepemimpinan Kepala Sekolah tidak memoderasi pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru.

Kata kunci :    Motivasi, kompetensi profesional, kinerja guru, moderasi, dan kepemimpinan Kepala Sekolah.

PENDAHULUAN

 Guru merupakan komponen pendidikan yang sangat menentukan dalam membentuk wajah Pendidikan di Indonesia. Maka guru dikatakan sebagai ujung tombak dari semua kebijakan pemerintah. Untuk mendukung kebijakan pemerintah maka diperlukan kepemimpinan Kepala Sekolah yang handal. Sehingga tercipta kinerja guru yang optimal sesuai dengan tujuan negara Indonesia. Untuk itu antara guru dan Kepala Sekolah harus saling bersinergi untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Motivasi kerja guru sangat penting dalam rangka untuk menciptakan proses pembelajaran yang bermutu. Kompetensi guru merupakan hal yang wajib dkuasai oleh guru. Dengan adanya serifikasi guru ini diharapkan motivasi guru semakin meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Sofiah (2012) menunjukkan bahwa motivasi kerja menunjukkan kategori sangat tinggi dengan nilai sebesar 82,9% dan kinerja guru matematika menunjukkan kategori sangat tinggi dengan nilai sebesar 97,14%. Ini berarti ada pengaruh positif motivasi kerja terhadap kinerja guru. Selanjutnya guru juga harus memiliki kompetensi yang diharapkan yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial dan kpmpetensi kepribadian. Kepala Sekolah juga harus memiliki kompetensi, agar dalam memimpin organisasi sejalan dengan visi, misi, dan tujuan sekolah tersebut. Kepala sekolah bisa juga dapat memoderasi pengaruh motivasi terhadap  kinerja guru. Disamping itu kepemimpinan Kepala Sekolah dapat juga memoderasi pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru.

Berdasarkan uraian di atas maka dilakukan penelitian mengenai pengaruh motivasi dan kompetensi profesional terhadap kinerja guru Sekolah Dasar dimoderasi kepemiminan Kepala Sekolah pada SD Negeri se – Kecamatan Ulujami. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Apakah motivasi berpengaruh terhadap kinerja guru? (2) Apakah Kompetensi profesional berpengaruh terhadap kinerja guru? (3) Apakah kepemimpinan Kepala sekolah berpengaruh positif terhadap kinerja guru? (4) Apakah Kepemimpinan Kepala Sekolah  memoderasi pengaruh motivasi terhadap  kinerja guru? (5) Apakah Kepemimpinan Kepala Sekolah memoderasi pengaruh Kompetensi Profesional terhadap kinerja guru?

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui dan menganalisa pengaruh motivasi terhadap kinerja guru. (2) Pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru (3) Pengaruh kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap kinerja guru. (4) Kepemimpinan Kepala Sekolah memoderasi pengaruh motivasi terhadap kinerja guru? (5) Kepemimpinan Kepala Sekolah  memoderasi pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru.

TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Motivasi

Menurut Ngalim Purwanto,(1990) motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan, dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Motivasi memiliki tiga komponen yaitu : (1) Menggerakkan. Motivasi menimbulkan kekuatan dalam diri individu, membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. (2) Mengarahkan. Motivasi mengarahkan tingkah laku. Dengan demikian ia menyediakan sesuatu orientasi tujuan. (3) Menopang. Motivasi digunakan untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah dorongan – dorongan dan kekuatan individu.

Secara umum dikatakan bahwa tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Tujuan motivasi bagi seorang guru adalah untuk menggerakkan atau memacu para siswanya agar timbul keinginan atau kemauannya untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan ditetapkan didalam kurikulum sekolah. Dimensi motivasi terbagi menjadi dua yaitu instrinsik dan ekstrinsik. Kedua dimesi itu satu sama lain saling mempengaruhi. Sedangkan indikator motivasi seperti yaang diuraikan oleh Sartain dalam Ngalim Purwanto,(1990) yaitu adanya keinginan, tindakan, bakat, tujuan, dan kebutuhan.

Kompetensi Guru.

Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kaitan kompetensi dengan guru maka  Undang – Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen mengemanatkan bahwa profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan standar kompetensi sesuai bidang tugasnya dan pelaksanaan pengembangan keprofesian berkelanjutan sepanjang hayat.

Maka sesuai dengan Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang kualifikasi guru dan kompetensi guru wajib memiliki empat kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan profesi, yang meliputi (1) Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, (2) Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan seorang guru dalam memberikan contoh yang baik, (3) Kompetensi sosial adalah kemampuan yang harus dimiliki seorang guru untuk menyesuaikan dengan pekerjaan dan lingkungan, dan (4) Kompetensi profesional adalah kemampuan guru seperti 1) menguasai materi, struktur, konsep,dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. 2) menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu. 3) mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif. 4) mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. 5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengmbangkan diri.

Dimensi kompetensi yang perlu diketahui adalah perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Sedangkan indikator yang menjadi acuan yaitu guru harus bisa merancang, melaksanakan pembelajaran, melakukan penilaian, dan melaksanakan tindakan reflektif terhadap peserta didik.

Profesional

         Daryl Kohn mengatakan bahwa profesional adalah orang yang memberikan pelayanan kepada klien. Sementara indikator profesional seperti yang disampaikan oleh Mulyasa, (2007) ruang lingkup kompetensi profesioanal guru meliputi : (1) Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik filosofi, psikhologis, sosiologis, dan sebagainya. (2) Mengerti dan dapat mengembangkan teori belajar sesuai taraf perkembangan peserta didik. (3) Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang menjadi tanggungjawabnya. (4) Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi. Dimensi profesional yang perlu diketahui adalah pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Kinerja

       Kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Definisi kinerja menurut Surya, (2008) kinerja guru mempunyai kriteria tertentu. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetens guru, dijelaskan bahwa standar kompetensi guru dikembangkan  secara utuh dari empat kompetensi utama. Georgia Departemen of Education telah mengembangkan teacher performance assessment yang kemudian dimodifikasi oleh Depdiknas menjadi Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG).

            Alat penilaian kemampuan guru meliputi : (1) Rencana Pembelajaran (teaching plans and materials) atau disebut dengan RPP ( Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ). (2) Prosedur pembelajaran (classroom procedure). (3) Hubungan antar pribadi ( interpersonal skill). Maka dimensi kinerja antara lain adanya kinerja itu sendiri, adanya penilaian kinerja, hasil kinerja, dan pemetaan mutu sebagai upaya untuk menentukan arah pembinaan, pelatihan dan kebijakan pendidikan di masa yang akan datang. Adapun indiktor kinerja Brdasarkan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah menyatakan bahwa kinerja guru merupakan pemberian keteladanan, membangun kemauan, mengembangkan potensi, dan kreatifitas peserta didik pada proses pembelajaran.

Kepemimpinan Kepala Sekolah

            Kepemimpinan Kepala Sekolah dapat juga diartikan sebagai kepemimpinan pembelajaran. Hal ini dipertegas lagi oleh (Petterson, 1993) mendifiniskan kepemimpinan pembelajaran yang efektif sebagai berikut : (1) Kepala Sekolah mensosialisasikan  dan menanamkan isi dan makna visi sekolahnya dengan baik. (2) Kepala Sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah. (3) Kepala Sekolah memberikan dukungan terhadap pembelajaran. (4) Kepala Sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar sehingga memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung di sekolah. (5) Kepala Sekolah berfungsi sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut.

Perumusan Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran teoretis yang telah diuraikan diatas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu :

  1. H1 : Motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru
  2. H2 :  Kompetensi Profesional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru.
  3. H3 : Kepemimpinan Kepala Sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru
  4. H4: Kepemimpinan Kepala Sekolah memoderasi pengaruh motivasi terhadap   kinerja
  5. H5: Kepemimpinan Kepala Sekolah memoderasi pengaruh Kompetensi profesional terhadap kinerja guru.

METODE PENELITIAN

Populasi dan sampel penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek /subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya, (Sugiyono,2010). Jadi populasi pada penelitian ini adalah pendidik dan tenaga kependidikan SD di Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang 100 orang dari 10 SD. Terdiri dari 4 SD Sarwas 5 dan 6 SD Sarwas 4. Hal ini dilakukan untuk memudahkan penulis menindaklanjuti penelitian.

Tabel populasi pendidik dan tenaga kependidikan SD di Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang tidak hanya orang, tetapi juga objek dan benda – benda alam lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek itu (Sugiyono,2013).

Pengujian Instrumen

Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan yaitu valid dan reliabel (Arikunto, 1999). Oleh karena itu kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data dalam penelitian perlu dilakukan uji validitas dan realibilitasnya. Pengujian validitas menggambarkan tingkat kevalidan suatu isntrumen kuisioner yang digunakan dalam pengumpulan data. Uji validitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah item –item yang disajikan dalam kuisioner benar – benar mampu mengungkapkan dengan pasti apa yang di teliti. Uji validitas ini diharapkan dapat menggambarkan konsistensi internal.

Untuk menguji apakah item – item  pernyataan betul – betul merupakan indikator (faktor yang signifikan setiap variabelnya) maka menggunakan analisis faktor berikut ini : a) Analisis faktor Keiser Meyer Olkin (KMO), nilai KMO yang dikehendaki harus lebih dari 0,5 dimana kecukupan sampel terpenuhi dan analisis faktor dapat diteruskan. b) Loding Faktor ( Componen Matrix), jika angka – angka yang berada dikomponen matrix lebih besar dari 0,4 maka jumlah item / indikator pernyataan dalam kuisioner dinyatakan valid. Jika KMO kurang dari 0,5 dan loding faktor kurang dari 0,4 maka item yag bersangkutan adalah tidak valid, sehingga item tersebut harus digugurkan valid dan tidak dapat disertakan dalam pengujian berikutnya dan pengujian validitas terhadap variabel tersebut harus diulang kembali untuk mendapatkan pernyataan valid.

Pengujian realibilitas instrumen digunakan untuk mengetahui sejauh mana hasil instrumen tersebut konsisten dalam penggunaanya atau dengan kata lain alat ukur tersebut mempunyai hasil yang konsisten apabila digunakan berkali – kali pada waktu yang berbeda. Pengujian realibilitas data dilakukan dengan menggunakan Teknik Alpha Cronbach, dimana suatu instrumen dapat dikatakan  handal ( reliabel ) bila memiliki koefisien atau alpha sebesar ˃0,7. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1

Hasil Uji Instrumen Penelitian

No Variabel Jumlah pernyataan Jumlah Valid KMO Reliabel
1 Motivasi 11 11 0,798 0,874
2 Kompetensi Profesional 11 11 0,749 0,833
3 Kepemimpinan Kepala Sekolah 12 12 0,857 0,868
4 Kinerja guru 12 12 0,673 0,8

 

kasimm

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Uji Hipotesis I (H1)

Gb 2.1. Model Empiris

Pengaruh Motivasi dan kompetensi Profesional Terhadap kinerja guru dimoderasi Kepemimpinan Kepala Sekolah

Hasil Uji Hipotesis 1 (H1)

Pada hipotesis 1 dinyatakan bahwa motivasi berpengaruh terhadap kinerja guru. Hasil pengujian menunjukkan bahwa motivasi terbukti tidak berpengaruh terhadap kinerja guru (β = 0,087, sig = 0,249 > 0,05). Berdasarkan hasil pengujian tersebut, maka hipotesis 1 (H1) yang dirumuskan bahwa motivasi berpengaruh positif terhadap kinerja guru, ditolak.

Hasil Uji Hipotesis (H2)

Pada hipotesis 2 dinyatakan bahwa kompetensi profesional berpengaruh positif terhadap kinerja guru. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kompetensi profesional terbukti berpengaruh positif terhadap kinerja guru (β = 0,328, sig = 0,001 ≤ 0,005 ). Berdasarkanhasil pengujian tersebut, maka hipotesis 2 (H2) yang dirumuskan bahwa kompetensi profesional berpengaruh positif terhadap kinerja guru, diterima.

Hasil Uji Hipotesis 3 (H3)

Pada hipotesis3 dinyatakan bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah berpengaruh positif terhadap kinerja guru. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah terbukti berpengaruh terhadap kinerja guru (β = 0,417, sig = 0,000 ≤ 0,05). Berdasarkan hasil pengujian tersebut, maka hipotsis 3 (H3) yang dirumuskan bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah berpengaruh positif terhadap kinerja guru, diterima.

Hasil Uji Hipotesis 4 (H4)

Pada hipotesis 4 dinyatakan bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah memoderasi pengaruh motivasi terhadap kinerja guru. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah terbukti tidak memoderasi pengaruh motivasi terhadap kinerja guru (β = 0,083, sig = 0,279  > 0,05). Berdasarkan hasil pengujian tersebut, maka hipotesis 4 (H4) yang dirumuskan bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah memoderasi pengaruh motivasi terhadap kinerja guru, ditolak

Hasil Uji Hipotesis 5 (H5)

Pada hipotesis 5 dinyatakan bahwa kepemimpinan Kepla Sekolah memoderasi pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah terbukti tidak memoderasi pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru (β = 0,032, sig = 0,672 > 0,05). Berdasarkan pengujian tersebut, maka hipotesis 5 (H5) yang dirumuskan bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah memoderasi pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru, ditolak.

 

PENUTUP

 Kesimpulan

Berdasarkan hasil prngujian, penelitian ini menghasilkan temuan yang dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Motivasi tidak berpengaruh terhadap kinerja guru, karena guru sudah memiliki kesadaran yang tinggi untuk mengajar sesuai dengan keinginannya. Mengajar sudah dianggap sebagai kebutuhan dan sekaligus sebagai kewajiban yang sangat mulia.
  2. Kompetensi profesional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru. Pada umumnya guru yang ikut andil dalam penelitian ini sudah memiliki masa kerja yang lama, sehingga kompetensi profesionalnya sudah tidak diragukan lagi. Karena itu penelitian ini ditanggapi dengan secara positif dalam rangka untuk meningkatkan kompetensinya.
  3. Kepemimpinan Kepala Sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru. Hal ini sejalan peran Kepala Sekolah sebagai pemimpin pembelajaran yang sangat berperan dalam menentukan visi dan misi proses pembelajarannya. Proses pembelajaran akan berjalan dengan baik, karena guru merupakan aktor utama dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.
  4. Kepemimpinn Kepala Sekolah tidak memoderasi pengaruh motivasi terhadap kinerja guru. Kinerja guru lebih disebabkan oleh kesadaran guru itu sendiri atas tupoksinya. Kepala Sekolah lebih berperan sebagai administrator di sekolahnya yang dapat mempertahankan kinerja yang telah dicapainya.
  5. Kepemimpinan Kepala Sekolah tidak memoderasi pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru. Rata – rata guru di Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang sudah memiliki pengalaman yang banyak mengenai profesionalitasnya. Sehingga sudah tidak diragukan lagi. Ada atau tidak ada Kepala Sekolah menurut sebagian besar guru tetap bekerja dengan baik, sehingga pembelajaran di kelas tetap bisa berjalan dengan baik. Sehingga Kepemimpinan kepala Sekolah tidak terlalu berpengaruh dalam melemahkan atau menguatkan pengaruh kompetensi profesioanl terhadap kinerja guru.

Saran – saran

Sesuai dengan kesimpulan di atas, pada penelitian mendatang disarankan untuk menambah responden dengan harapan hasil uji R² akan lebih baik ( lebih dari 50% ) dan diupayakan agar tidak terjadi data outliers.

DAFTAR PUSTAKA.

Arikunto S., 1993. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Darma, Surya.(2008). Penilaian Kinerja Guru.Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional.

Mulyasa, E., 2007, Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung. Remaja Rosdakarya

Mulyasa,  E., 2009.Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, strategi, dan implementasi. PT Remaja Rosdakarya.Bandung

Permendiknas Nomor : 16 Tahun 2007. Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.http://afa-belajar.blogspot.co.id/2012/11/lampiran-permendiknas-no-16-tahun-2007.html

Permendiiknas RI Nomor : 41 Tahun 2007. Standar Proses untuk satuan pendidikan Dasar dan menengah. Jakarta. Biro Hukum dan Organisasi Depdiknas.

Purwanto Ngalim, 1999. Psikologi Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.

Sofiah. 2012. Pengaruh motiivasi kerja terhadap kinerja guru matematika pada sekolah menengah pertama(SMP) Negeri se-Kabupaten Cirebon. Skripsi. Perpustakaan IAIN Syekh Nurjati. Cirebon

Sugiyono. 2010. Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung. Alfabeta

Undang – Undang Republik Idonesia Nomor 14 tahun 2005. Tentang Guru dan Dosen. BP. Pustaka Karya. Jakarta

BIODATA

Nama                               : KASIM, S.Pd, M.Si

NIP.                                 : 19690403 199903 1 004

Pangkat, Gol/Ruang      : Penata Tk I, III/d

Jabatan                            : Kepala Sekolah

Unit Kerja                       : SD Negeri 04 Pamutih UPPK Ulujami, Pemalang.


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *