OPTIMALISASI PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH MELALUI GERAKAN LITERASI SEKOLAH UNTUK MENUMBUHKAN MINAT BACA SISWA DI SD NEGERI 3 KEDUNGWRINGIN UPK JATILAWANG

 

BIODATA

Nama                : Yuliani,S.Pd.

NIP                    : 19710702 199303 2 003

Pangkat / Gol. : Pembina / IV a

Jabatan            : Kepala Sekolah

Unit Kerja       : SD Negeri 3 Kedungwringin UPK Jatilawang Kab.Banyumas

E-Mail             : nurirsyad.yuliani@gmail.com

No.HP             : 085226809898 / 083862386007

 

ABSTRAK

Perpustakaan sekolah di SD Negeri 3 Kedungwringin pengelolaannya masih sangat memprihatinkan. Hal ini mengakibatkan rendahnya minat baca siswa. Permasalahan ini dapat dipecahkan dengan menerapkan metode Gerakan Literasi Sekolah yang bertujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan perpustakaan sekolah dan menumbuhkan minat baca siswa. Prosedur penerapan metode Gerakan Literasi Sekolah yang dilakukan meliputi tiga tahap seperti yang tercantum dalam Kurikulum Wajib Baca Gerakan Literasi Sekolah yaitu Tahap Pembiasaan, Tahap Pembelajaran, dan Tahap Pengembangan. Terdapat bukti nyata dari penerapan metode Gerakan Literasi Sekolah yaitu adanya peningkatan optimalisasi pengelolaan perpustakaan dan tumbuhnya minat baca siswa.. Jumlah kunjungan dan peminjam buku perpustakaan sekolah meningkat secara signifikan. Dengan demikian  maka dapat disimpulkan bahwa optimalisasi pengelolaan perpustakaan sekolah dan tumbuhnya minat baca siswa di SD Negeri 3 Kedungwringin dapat ditingkatkan melalui metode Gerakan Literasi Sekolah. Bagi kepala sekolah yang memiliki problema samadengan penulis dapat mencoba melakukan tindakan yang sama.

Kata kunci: pengelolaan perpustakaan, gerakan literasi sekolah, minat baca

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penulis ditugaskan sebagai kepala sekolah di SD Negeri 3 Kedungwringin UPK Jatilawang pada tanggal 6 April 2015 berdasarkan SK Bupati Banyumas Nomor 821.3/330/ Tahun 2015. Letak SD Negeri 3 Kedungwringin berada di tengah- tengah pemukiman penduduk yang padat yaitu di desa Kedungwringin Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas.Jarak lokasi SD Negeri 3 Kedungwringin dengan ibukota kecamatan tidak begitu jauh hanya 1,5 kilometer. Sebagai kepala sekolah baru maka penulis segera melakukan pengamatan terhadap kondisi sekolah dan mendata semua sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SD Negeri 3 Kedungwringin.Secara umum sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SD Negeri 3 Kedungwringin sudah cukup karena sudah memiliki ruang kelas yang lengkap,ruang guru,ruang perpustakaan,kamar mandi dan wc,tempat parkir sepeda,serta halaman sekolah yang tidak terlalu luas. Kondisi ruang kelas masih baik,begitu pula ruang guru dan ruang perpustakaan. Halaman sekolah juga sudah dipaving sehingga terlihat bersih dan rapi. Namun ada beberapa sarana yang tidak memenuhi kriteria Standar Pelayanan Minimal (SPM) SD seperti ruang perpustakaan,ruang UKS,gudang,dan halaman sekolah.

Berdasarkan hasil pengamatan dan pendataan yang dilakukan oleh penulis selaku kepala sekolah terhadap kondisi nyata di SD Negeri 3 Kedungwringin,maka diketahui bahwa ruang perpustakaan yang dimiliki belum digunakan sebagai ruang perpustakaan sebagaimana mestinya. Gedung perpustakaan yang telah berdiri kokoh tidak dimanfaatkan dan dikelola dengan baik bahkan ada kecenderungan ditelantarkan begitu saja. Hal ini dapat dilihat dari isi ruang perpustakaan yang kosong dan dijadikan sebagai gudang tempat penyimpanan barang-barang milik sekolah yang sudah tidak layak digunakan.Ruang perpustakaan sangat kotor dan berantakan,cat tembok pun sudah pudar serta terlihat kumuh. Koleksi buku perpustakaan sangat sedikit dan merupakan terbitan lama serta dibiarkan menumpuk di sudut ruang perpustakaan. Kondisi ini menggambarkan bahwa buku-buku perpustakaan tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik dalam proses pembelajaran. Ruang perpustakaan juga digunakan untuk menyimpanlemari laboratorium SDdan terlihat berantakan, kotor, sertatidak terurus.

Permasalahan lain yang penulis temukan adalah kurangnya dukungan dari pengambil kebijakan di sekolah. Kondisi ini dapat terlihat dari tidak dimasukkannya anggaran pengembangan dan pemeliharaan perpustakaan sekolah ke dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah. Di sisi lain kurikulum tingkat satuan pendidikan yang disusun dan dikembangkan sekolah juga belum mengintegrasikan dengan pentingnya keberadaan perpustakaan sekolah di dalamnya. Tidak adanya tenaga pustakawan yang tetap juga menjadi penghambat dalam pengelolaan perpustakaan sekolah. Pendek kata perpustakaan di SD Negeri 3 Kedungwringin belum dianggap sebagaielemen penting dalam proses pembelajaran di sekolah, sehingga pengelolaannya tidak optimal.

Pendidikan dasar merupakan elemen penting bagi pembentukan karakter dan keberhasilan generasi muda pembangun bangsa di masa yang akan datang. Pendidikan dan pembelajaran pada level ini akan sangat menentukan bagaimana karakter seseorang mampu untuk berperan dan mempunyai daya saing dalam pembangunan bangsa dan negara di masa depan nanti.Mengingat tanggung jawab yang besar dibebankan pada  pendidikan dasar, maka kondisi seperti di atas tentu tidak dapat dibiarkan berlarut –larut.

Perpustakaan sekolah diadakanbukan hanya sekedar melayani selera para siswa untuk membaca buku-buku dongeng saja. Perpustakaan itu harus dapat membantu para siswa mengasah otak, memperluas dan memperdalam pengetahuan, melahirkan ketrampilan, serta menumbuhkan kecintaan membaca. Perpustakaan itu harus dapat membantu anak-anak dalam aktivitas-aktivitas kurikuler dan ekstrakurikuler. Dengan kata lainperpustakaan sekolah merupakan satu kesatuan integral (terpadu)dengan alat-alat pendidikan yang lain.Sekolah Dasar adalah tempat di mana tanggung jawab penting ini disandarkan. Pihak sekolah harus mampu membuat strategi yang jitu dalam rangka menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan dan pembentukan karakter dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Masalah yang dihadapi

Berdasarkan kondisi yang diuraikan di atas, penulis yang ditugaskan sebagai Kepala Sekolah mencoba mulai membenahi keadaan tersebut. Dari identifikasi masalah yang diungkap di atas, penulis dapat merumuskan : “Bagaimana cara mengelola perpustakaan sekolah agar lebih optimal sesuai ketentuan yang berlaku dan dapat menumbuhkanminat bacasiswa di SD Negeri 3 Kedungwringin?”

Tujuan

Best Practice ini merupakan wahana untuk meningkatkan mutu pendidikan  dengan melakukan perbaikan, peningkatan serta perubahan pembelajaran.Untuk itu penulis mencoba merefleksikan tindakan berkenaan dengan pemecahan masalah tersebut dimulai dengan cara dan strategi optimalisasi pengelolaan perpustakaan di SD Negeri 3 Kedungwringin dengan menggunakan metode Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk menumbuhkan minat baca pada para siswa. Adapun rumusan  tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut :

1.Untuk mengembalikan fungsi perpustakaan sekolah sebagaimana mestinya.

2.Untuk mengembangkan pengelolaan perpustakaan sekolah secara efektif dan efisien.

3.Untuk menambah jumlah koleksi perpustakaan sekolah untuk memenuhi SPM sekolah.

4.Menjadikan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar yang menyenangkan bagi siswa dan guru.

5.Mengembangkan ketrampilan membaca bagi siswa.

6.Menumbuhkan minat baca bagi siswa dan guru.

7.Menanamkan pendidikan karakter bagi siswa.

KAJIAN TEORI

Perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar yang penting dalam proses pembelajaran. Menurut Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 disebutkan bahwa “Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para siswa sebagai pengguna perpustakaan”. Perpustakaan sekolah merupakan perpustakaan yang berada di lingkungan sekolah, bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan bertugas untuk melayani civitas akademika sekolah tersebut” (Surochman, 2007:2).

Tujuan didirikannya perpustakaan menurut Yusuf & Suhendar (2007:3) tidak terlepas dari tujuan diselenggarakannya pendidikan sekolah secara keseluruhan, yaitu memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa, serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan menengah. Sedangkan fungsi perpustakaan sekolah menurut Bafadal (2009:6) menyebutkan bahwa perpustakaan sekolah itu merupakan sumber belajar, karena kegiatan yang paling tampak pada setiap kunjungan siswa adalah belajar, baik belajar masalah – masalah yang berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas, maupun buku- buku lain yang tidak berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas. Apabila ditinjau dari sudut tujuan siswa mengunjungi perpustakaan sekolah, maka ada yang tujuannya untuk belajar, untuk berlatih menelusuri buku – buku perpustakaan sekolah, untuk memperoleh informasi, bahkan ada yang tujuannya hanya untuk mengisi waktu senggang atau sifatnya rekreatif.

Kegiatan pengelolaan perpustakaan sekolah bukan hanya sekedar menempatkan buku -buku di rak penyimpanan, akan tetapi lebih dari itu, sangat kompleks,berkesinambungan, dan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Surachman (2007) dalam makalahnya, memperlihatkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat ditemui dalam proses pengelolaan perpustakaan diantaranya adalah kebijakan dan prosedur, manajemen koleksi, pendanaan atau anggaran, manajemen fasilitas, sumber daya manusia, dan perencanaan.

METODE PEMECAHAN MASALAH

Metode yang penulis gunakan dalam pemecahan masalah ini adalah dengan menggunakan model penerapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Alasan penulis memilih metode ini adalah karena dianggap efektif dan efisien untuk menumbuhkan minat baca para siswa dan dapat mengoptimalkan pengelolaan dan fungsi perpustakaan di SD Negeri 3 Kedungwringin. Metode gerakan literasi sekolah sangat sederhana, efektif, dan efisien untuk dilaksanakan sesuai kondisi yang ada di SD Negeri 3 Kedungwringin. Metode ini terinpsirasi dari pelaksanaan Kurikulum Wajib Baca Gerakan Literasi Sekolah yang dicanangkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016. Dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah ini terdapat Kurikulum Wajib Baca yang disusun berdasarkan tahap-tahap literasi, yakni :

(1) Tahap Pembiasaan,

(2) Tahap Pengembangan,

(3) Tahap Pembelajaran.

Langkah-langkah Kegiatan

Langkah-langkah kegiatan penerapan metodegerakan literasi sekolahdi SD Negeri 3 Kedungwringin adalah sebagai berikut :

1.Tahap Pembiasaan

Membaca lima belas menit setiap hari pada jam ke-0 atau waktu lain berdasarkan kesepakatan sekolah. Kegiatan ini merupakan upaya membiasakan membaca pada siswa. Guru memotivasi dan memandu siswa untuk membaca selama lima belas menit. Selanjutnya guru dan siswa membaca selama lima belas menit. Tempat pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dalam kelas masing-masing.

Wajib Kunjung Perpustakaan Sekolah. Kegiatan ini bertujuan memanfaatkan perpustakaan untuk menumbuhkan kegemaran membaca. Pengelola perpustakaan memberikan jadwal kunjung perpustakaan kepada setiap guru kelas. Kemudian sesuai dengan jadwal , guru kelas membawa peserta didik satu kelas untuk berkunjung ke perpustakaan.

2.Tahap Pengembangan

Penghargaan Membaca. Penghargaan ini bertujuan meningkatkan motivasi siswa. Kegiatan penghargaan membaca yang dilakukan antara lain memilih pembaca buku terbanyak dalam tiga bulan dan memberikan penghargaan/hadiah kepada siswa pada waktu upacara sekolah.

3.Tahap Pembelajaran

Mading Kelas. Kegiatan ini membiasakan siswa untuk menulis, mempublikasikan, dan membaca karya secara berkala. Berikut ini adalah beberapa kegiatan dalam majalah dinding (mading) kelas yaitu membuat mading kelas, menulis cerita, mempublikasikan berita di mading.

PELAKSANAAN DAN HASIL – HASIL YANG DICAPAI

Pelaksanaan

Metode Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dilaksanakan di SD Negeri 3 Kedungwringin untuk mengoptimalisasi pengelolaan perpustakaan dimulai dari pembenahan pengelolaan perpustakaan. Pengelolaan perpustakaan di SD Negeri 3 Kedungwringin belum optimal sehingga tujuan dan fungsi perpustakaan juga belum dapat dicapai secara optimal. Penulis selaku kepala sekolah segera melakukan tindakan untuk mengawali perubahan ke arah yang lebih baik terhadap pengelolaan perpustakaan di SD Negeri 3 Kedungwringin.

Waktu pelaksanaan kegiatan ini dimulai pada semester 2 tahun pelajaran 2015 / 2016 dan dilanjutkan sampai tahun pelajaran 2016/2017. Kegiatan ini penulis laksanakan secara kontinyu dan berkesinambungan agar dapat mencapai hasil seperti yang diharapkan.

Instrumen yang penulis gunakan dalam best practise ini adalah buku rekap daftar kunjungan perpustakaan,buku rekap daftar peminjam perpustakaan, diagram kunjungan dan peminjam perpustakaan “Lentera Ilmu”, buku inventaris perpustakaan, dan lembar supervisi perpustakaan. Lihat lampiran 1.

Hasil yang dicapai

Pada awal Januari tahun 2016 penulis  mengadakan rapat koodinasi dengan para guru di SD Negeri 3 Kedungwringin.Rapat ini bertujuan untuk menentukan langkah-langkah  yang akan dilaksanakan. Agenda penting dalam rapat tersebut adalah sebagai berikut :

1.Segera mencari tenaga perpustakaan yang akan mengelola administrasi perpustakaan.

2.Menginventarisir bantuan DAK 2011 yang dianggarkan kembali pada tahun 2015 berupa buku-buku perpustakaan, dan mebelair.

3.Menganggarkan pembelian buku-buku perpustakaan, komputer, biaya pemeliharaan perpustakaan, dan mebelair pada RKAS.

4.Mengikut sertakan tenaga perpustakaan pada kegiatan pendidikan dan pelatihan pengelolaan perpustakaan.

5.Melakukan gerakan penghijauan pada halaman perpustakaan.

6.Menerapkan metode Gerakan Literasi Sekolah secara terencana, terprogram, dan berkesinambungan.

Selanjutnya pada bulan Maret tahun 2016 SD Negeri 3 Kedungwringin berhasil mendapat tenaga perpustakaan,walaupun secara kualifikasi akademik belum memenuhi syarat tetapi tetap penulis terima karena sekolah sangat membutuhkan. Menurut rencana personil tenaga perpustakaan tersebut akanmelanjutkan kuliah perpustakaan agar dapat memenuhi kualifikasi akademik yang dipersyaratkan. Langkah pertama yang penulis lakukan adalah mengundang tenaga perpustakaan dari SD lain yang sudah memenuhi kualifikasi akademik untuk menjadi tutor sebaya bagi tenaga perpustakaan di SD Negeri 3 Kedungwringin. Penulis berharap tutor sebaya tersebut dapat menularkan ilmu dasar-dasar pengelolaan perpustakaan kepada tenagperpustakaan di SD Negeri 3 Kedungwringin,sehingga tenaga perpustakaan yang baru dapat segera melaksanakan tugas dengan baik dalam mengelola perpustakaan.

Kegiatan penting selanjutnya yang harus segera dikerjakan adalah menginventarisir buku-buku perpustakaan bantuan DAK 2011 yang dianggarakan kembali pada tahun 2015. Tenaga perpustakan kemudian memberi label pada buku-buku perpustakaan tersebut agar tertib secara administrasi. Rincian buku-buku yang penulis terima terdiri dari buku pengayaan sebanyak 840 judul, buku referensi 10 judul,buku panduan pendidik 50 judul, sehingga total jumlah keseluruhan ada 900 judul buku atau 2700 eksemplar. Mebelair perpustakaan yang penulis terima terdiri 2 buah rak buku, 2 buah meja baca siswa, 1 buah meja setengah biro, 1 buah meja komputer, 1 buah meja pengolahan, 2 buah kursi kerja, dan 2 lembar karpet.

Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) SD Negeri 3 Kedungwringin tahun anggaran 2016 yang telah disusun bersama antara pihak sekolah dan komite juga menganggarkan pembelian buku-buku perpustakaan sebanyak 150 judul, biaya pemeliharaan gedung perpustakaan,pembelian perlengkapan administrasi perpustakaan, dan pemberian honor bagi tenaga perpustakaan. Diharapkan dengan dimasukkannya kebutuhan perpustakaan ke dalam RKAS maka akan dapat mengoptimalkan pengelolaan perpustakaan di SD Negeri 3 Kedungwringin.

Untuk lebih meningkatkan mutu dan kompetensi profesional tenaga perpustakaan di SD Negeri 3 Kedungwringin,maka pada bulan Maret tahun 2016 SD Negeri 3 Kedungwringin juga mengirimkan tenaga perpustakaan untuk mengikuti Bimbingan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Berbasis Multi Media di Gedung Gurinda Sarwa Mandala selama 2 hari yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Petugas Perpustakaan Sekolah (KKPPS) SD Kabupaten Banyumas.

Gedung perpustakaan SD Negeri 3 Kedungwringin bernama Perpustakaan “Lentera Ilmu”. Sesuai dengan namanya maka penulis selaku kepala sekolah beserta para guru bertekad untuk menjadikan perpustkaan SD Negeri 3 Kedungwringin sebagai perpustakaan yang mampu menerangi para siswa dan guru dalam mencari ilmu di sekolah. Oleh karena itu gedung perpustakaan harus dipelihara dengan baik, dan dibuat senyaman mungkin agar para siswa dan guru dapat memanfaatkan perpustakaan dengan optimal.  Pemeliharaan gedung perpustakaan diawali dari pengecatan dinding, memperbaiki tata ruang perpustakaan, melengkapi fasilitas pendukung perpustakaan seperti komputer dan kipas angin serta melakukan gerakan penghijauan di lingkungan gedung perpustkaan. Apabila gedung perpustakaan rapi, bersih,indah dan nyaman maka para siswa dan guru akan merasa betah di dalam perpustakaan.

Pelaksanaan kegiatan Gerakan Literasi Sekolah dimulai ketika sarana dan prasarana perpustakaan sekolah di SD Negeri 3 Kedungwringin sudah tertata cukup baik. Kepala sekolah berkoordinasi dengan para guru kelas dalam merealisasikan gerakan literasi sekolah. Kegiatan yang pertama dilaksanakan adalah tahap pembiasaan yang berupa kegiatan membaca lima belas menit setiap hari pada jam ke-0 atau lain waktu berdasarkan kesepakatan sekolah. Guru kelas bekerja sama dengan petugas perpustakaan dalam peminjaman buku-buku perpustakaan yang akan dibaca siswa. Jenis buku yang dibaca para siswa bisa fiksi dan non fiksi. Setiap siswa membaca buku selama lima belas menit dan apabila belum selesai maka dapat dilanjutkan keesokkan harinya. Para siswa wajib menandai halaman buku yang sudah dibaca dengan pembatas buku yang sudah dibuat sendiri, siswa dilarang melipat halaman buku yang sudah selesai dibaca karena dapat merusak buku tersebut. Apabila para siswa sudah selesai membaca satu buku maka siswa boleh mengembalikan buku tersebut untuk diganti dengan judul buku yang lain di perpustakaan. Kegiatan membaca lima belas menit sebelum pelajaran ini dipandu oleh guru kelas dan dilaksanakan di dalam ruang kelas masing-masing masing.

Rangkaian gerakan literasi sekolah ini diteruskan dengan program wajib kunjung perpustakaan sekolah. Petugas perpustakaan menyusun jadwal kunjungan ke perpustakaan kepada setiap guru kelas. Kemudian sesuai jadwal, setiap guru kelas membawa siswa satu kelas untuk berkunjung ke perpustakaan. Guru memberikan tugas untuk membaca buku yang berkaitan dengan materi pelajaran, membuat rangkuman, dan berdiskusi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada tahap pengembangan gerakan literasi sekolah ini dilaksanakan kegiatan pemberian penghargaan kepada para siswa yang terpilih menjadi pembaca buku perpustakaan terbanyak. Siswa tersebut dipilih berdasarkan daftar peminjam buku di perpustakaan. Penghargaan ini bertujuan untuk memotivasi para siswa agar gemar membaca. Hadiah yang diberikan dapat berupa buku, uang, dan piagam. Waktu pemberian penghargaan ini dilaksanakan pada tiap semester.

Tahap tertinggi dari gerakan literasi sekolah adalah tahap pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan  pada tahap ini adalah membimbing  para siswa untuk membuat mading (majalah dinding). Pembuatan mading ini bertujuan untuk melatih siswa menulis, mempublikasikan, dan membaca karya secara berkala. Para guru kelas membimbing siswa untuk membuat karya yang dihasilkan dari kegiatan membaca yang telah mereka lakukan seperti membuat cerita pendek, menulis puisi, melukis, membuat sinopsis buku, dan menulis berita. Majalah dinding ini diterbitkan setiap bulan bergiliran tiap kelas. Para siswa akan merasa senang dan bangga apabila karya mereka dipajang di mading.

Setelah rangkaian program gerakan literasi sekolah dilaksanakan dengan baik maka hasil yang diharapkan adalah dapat meningkatkan minat baca siswa  dan mengoptimalkan pengelolaan perpustakaan di SD Negeri 3 Kedungwringin. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya jumlah kunjungan dan peminjam buku di perpustakaan “Lentera Ilmu”. Di bawah ini adalah tabel jumlah kunjungan dan peminjam di perpustakaan “Lentera Ilmu” SD Negeri 3 Kedungwringin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari diagram di atas dapat dilihat kenaikan jumlah pengunjung dan peminjam buku di perpustakaan Lentera Ilmu. Pada  bulan September 2016 jumlah pengunjung terjadi kenaikan yang cukup banyak. Kenaikan jumlah peminjam buku juga mulai terlihat pada bulan Oktober 2016. Pada bulan-bulan berikutnya terlihat kenaikan jumlah pengunjung dan peminjam buku yang cukup stabil.

Dari pembahasan di atas, maka dapat dilaporkan bahwa metode penerapan Gerakan Literasi Sekolah dapat mengoptimalkan pengelolaan perpustakaan sekolah dan menumbuhkan minat baca siswa di SDNegeri 3 Kedungwringin UPK Jatilawang. Sebagi bukti fisik adanya pelaksanaan metode penerapan Gerakan Literasi Sekolah adalah hasil rekapitulasi daftar kunjungan dan peminjaman buku perpustakaan Lentera Ilmu SD Negeri 3 Kedungwringin yang mengalami kemajuan pada setiap bulannya. Jika melihat data hasil pengamatan maka dapat diketahui bahwa keberhasilan pemecahan masalah dengan menggunakan metode  Gerakan Literasi Sekolah jika dibandingkan dengan kondisi awal seperti yang telah diuraikan di atas, telah melebihi target.

PENUTUP

Simpulan

Perpustakaan di SDN 3 Kedungwringin UPK Jatilawang masih kurang optimal pengelolaannya. Pengelolaan perpustakaan yang kurang optimal berdampak pada rendahnya minat baca siswa. Masalah tersebut dapat dipecahkan dengan menggunakan metode Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Metode ini menerapkan Kurikulum Wajib Baca yang bersumber dari Manual Pendukung Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah.

Penerapan metode GLS ini dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2016/2017. Tindakan ini dinyatakan berhasil seperti tujuan yang telah ditetapkan.Hal tersebut dibuktikan dengan terjawabnya masalah dan tercapainya tujuan pada bab I yaitu:

1.Terdapat bukti peningkatan optimalisasi pengelolaan perpustakaan dan tumbuhnya minat baca siswasetelah ada tindakan penerapan Gerakan Literasi Sekolah.

2.Jumlah kunjungan dan peminjam buku perpustakaan sekolah meningkat secara signifikan.

Rekomendasi

Implikasi keberhasilan penerapan metode Gerakan Literasi Sekolahini, yaitu bahwa pemecahan masalah yang dihadapi oleh  SDN 3 Kedungwringin   cukup berhasil. Perpustakaan sekolah  dapat ditingkatkan pengelolaannya dan tumbuhnya minat baca siswa  seperti bertambahnya jumlah pengunjung dan peminjam buku perpustakaan sekolah, meningkatnya kemampuan siswa membuat mading, dll. Optimalisasi pengelolaan perpustakaan yang baik di berbagai bidang dapat mendukung peningkatan kemampuan siswa dan guru. Tumbuhnya minat baca siswa akan berpengaruh pada peningkatan prestasi baik akademik maupun non akademik.

Refleksi

Penerapan metode Gerakan Literasi Sekolah yang penulis laksanakan di SD Negeri 3 Kedungwringin tidak berjalan dengan lancar. Banyak kendala yang ditemui selama proses penerapan Gerakan Literasi Sekolah, seperti kurangnya dukungan dari guru kelas dalam memotivasi siswa untuk membaca buku perpustakaan, kurang disiplinnya siswa dalam membaca, kurang lengkapnya koleksi buku perpustakaan, dan kurangnya sarana perpustakaan. Kelemahan dan kekuatan yang penulis temukan selama penerapan metode Gerakan Literasi Sekolah segera ditindak lanjuti sehingga dapat dijadikan bahan evaluasi yang penting demi kelanjutan pelaksanaan metode ini di masa yang akan datang.Melalui penerapan Gerakan Literasi Sekolahyang intensif diharapkan sekolah dapat mengatasi kesulitan terkait pengelolaan perpustakaan dan menumbuhkan minat baca siswa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bafadal, Ibrahim.2011. Pengelolaan Perpustkaan Sekolah.Jakarta :Bumi Aksara

Undang-Undang Nomor 43 ,Tahun 2007Undang-Undang Perpustakaan

Kemdikbud.2016. Manual Pendukung Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *