OPTIMALISASI PENGGUNAAN ALAT PERAGA REALIA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA KONDUKTOR DAN ISOLATOR PANAS BAGI SISWA KELAS VI SD NEGERI GANDENG PADA SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2015/2016

 

BIODATA

Nama                            :    UMI KHOMSATUN, S.Pd.SD

NIP                               :    19650816 198803 2 012

Pangkat/Golongan    :    Pembina, IV/a

Jabatan                          :    Guru Kelas

Unit Kerja                     :    SD Negeri Gandeng, UPK Tambak,

Dinas Pendidikan Kab. Banyumas

 

Abstrak

Penelitian tindakan kelas ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan hasil IPA  konduktor dan isolator panas siswa sekolah dasar. Sedangkan secara khusu bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA  konduktor dan isolator panas bagi siswa kelas VI SD Negeri Gandeng pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 bertempat di SD Negeri Gandeng Unit Pendidikan Kecamatan Tambak. Subjek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas VI SD Negeri Gandeng pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 8 siswa yang terdiri dari 6 siswa perempuan dan 2 siswa laki-laki. Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah teknik tes. Sesuai dengan materi pelajaran yaitu tentang IPA  konduktor dan isolator panas maka tes yang dilaksanakan adalah tes tertulis. Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui optimalisasi penggunaan dapat meningkatkat hasi belajar IPA konduktor dan isolator panas bagi siswa kelas VI SD Negeri Gandeng pada semester I tahun pelajaran 2015/2016.

 

Kata Kunci :   hasil belajar IPA,  konduktor dan isolator panas, dan alat peraga realia

 

PENDAHULUAN

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Guru mempunyai fungsi peran dan kedudukan yang sangat penting dalam mencapai Visi pendidikan yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Oleh karena itu, profesi guru harus dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat.

Hasil pengamatan awal yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa kemampuan mengidentifikasi, pemecahan masalah, dan menganalisa data guru masih kurang yang berakibat proporsi proses dan materi pembelajaran membedakan benda isolator dan konduktor menjadi rendah. Hal tersebut terlihat dari data sebagai berikut:

1.Kemampuan berpikir siswa dalam menganalisis data terutama dalam pembelajaran membedakan benda isolator dan konduktor panas yang masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan nilai ulangan harian mata pelajaran IPA pertama rata-rata 4,5; nilai ulangan kedua rata-rata 6,1; nilai ulangan ketiga rata-rata 6,3. Dari tiga kali mengerjakan tugas harian mata pelajara IPA, nilai rata-rata yang mereka peroleh hanya 5,6 (lima koma enam).

2.Pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan rendah, karena rata-rata prestasi belajar yang dicapai dari ketiga nilai ulangan harian tersebut hanya 5,6 sedangkan KKM yang ditetapkan 7,0.

Berdasarkan uraian latar belakang maslaah ada dua masalah yang teridentifikasi, yaitu kemampuan membedakan benda isolator dan konduktor panas yang masih rendah  serta hasil belajar rendah.

Atas dasar uraian latar belakang dan identifikasi masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini “Apakah penggunaan alat peraga realia dapat meningkatkan hasil belajar IPA konduktor dan isolator panas bagi siswa kelas VI SD Negeri Gandeng Unit pendidikan Kecamatan Tambak pada semester I tahun pelajaran 2015/2016?”.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Belajar

Apakah belajar itu? Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsiran tentang “belajar”. Dalam penelitian tindakan kelas ini penulis meyakinkan dua teori tentang belajar dari dua tokoh pendidikan, yaitu Hamalik dan Hudoyo.

Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan dan perubahan bahwa bentuk pertumbuhan dan perubahan dalam diri siswa yang nyata serta latihan yang kontinu, perubahan diri dari tidak tahu menjadi tahu. (Hamalik (1993 : 40).

Belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan. Learning is a cange in human disposition or capability that persist over a periode of time and is not simply ascribable to processes of growth (Gagne, 1985: hal 2).

Pengertian Hasil Belajar

Yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik dalam mata pelajaran setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam kurun waktu tertentu dan program tertentu. Kurun waktu yang digunakan untuk penelitian tindakan kelas ini adalah dua minggu sesuai dengan jumlah siklus yang dilaksanakan yang masing-masing siklus dilaksanakan satu minggu. Tindakan-tindakan dalam siklus tersebut dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Sedangkan program yang dilaksanakan adalah pembelajaran tentang konduktor dan isolator panas. Materi pelajaran dalam siklus I adalah tentang benda benda konduktor panas. Materi pelajaran siklus II adalah benda isolator panas.

Hasil belajar dapat disamakan pengertiannya dengan produk belajar. Yaitu merupakan suatu pola perbuatan, nilai, makna, apresiasi, kecakapan, ketrampilan, yang berguna bagi masyarakat. (Tim Pengembang MKDK IKIP Semarang, 1990 : 172). Ada tiga ranahhasil belajar, yaitu kognitif, affekti, dan psikomotorik. Ranag kognitif adalah hasil belajar yang berupa pengetahuan-pengetahuan tau kemampuan-kemampuan baru yang bersifat keilmuan. Ranag affektif adalah hasil belajar yang berupa perubahan-perubahan perilaku sebagai akibat telah dilakukannya proses belajar. Sedangkan ranag psikomotorik adalah hasil belajar berupa ketrampilan-ketrampilan praktis olah anggota badan seperti tangan, kaki, telinga, hidung, dan kulit. Untuk mata pelaajaran IPA, yang diperoleh peserta  didik lebih dominan pada ranag psikomotor.

Hasil Belajar IPA Konduktor dan Isolator Panas

Yang dimaksud dengan hasil belajar IPA adalaj hasil belajar yang dicapai peserta didik dalam mata pelajaran IPA setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam kurun waktu tertentu atau program tertentu. Hasil belajar tersebut berupa kemampuan-kemampuan baru yang meliputi pola perbuatan, nilai, makna, sikap, apresiasi, kecakapan, ketrampilan yang berguna untuk memecahkan problematika dalam mata pelajaran IPA khususnya dan problematika sosial pada umumnya.

Sebagai bukti telah dikuasainya kemampuan-kemampuan baru oleh peserta didik yang dinyatakan dengan nilai yang berupa angka-angka. Makin tinggi nilai yang diperoleh peserta didik berarti makin tinggi pula tingkat kemampuan-kemampuan baru yang dikuasainya. Penilaian kelas dapat dilaksanakan melalui teknik tes (tertulis, lisan, dan perbuatan) dan non tes berupa pemberian tugas, tes perbuatan,/ praktek, dan kumpulan hasil kerja siswa (portofolio). (Depdiknas, 2002:5). Adapun jenis penilaian kelas meliputi ulangan harian, pemberian tugas, dan ulangan umum.

Dalam penelitian tindakan kelas ini, hasil belajar IPA yang dimaksud adalah nilai mata pelajaran IPA konduktor dan isolator panas yang diperoleh siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Gandeng Unit Pendidikan Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas pada semester I Tahun Pelajaran 2015/2016. Konduktor dan Isolator Panas yang dimaksud adalah meliputi kompetensi dasar  5.1 Membandingkan sifat kemampuan menghantarkan panas dari berbagai benda. (Team KTSP SDN Gandeng, 2015/2016 :6)

Pengertian Alat Peraga Realia

Alat Peraga

Alat peraga adalah alat pengajaran yang hanya untuk satu jam pelajaran saja. Apakah gunanya alat pengajaran atau alat peraga tersebut? Faedah dari alat peraga adalah membantu cara guru memberikan pelajaran, agar murid dapat lebih jelas menerima keterangan-keterangan tersebut (Abu Ahmadi, 1978 : 95). Alat peraga juga disebut sebagai “alat bantu mengajar”, yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk memahamkan anak-anak mengenai pelajaran yang masih belum jelas, belum dimengerti maupun masih sulit. Alat bantu mengajar ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a.Alat peraga visual, yaitu segala sarana yang dapat mempengaruhi daya pikir anak lewat panca inderanya, dengan cara memperlihatkan benda aslinya, benda tiruan, gambar atau yang sejenisnya.

b.Alat peraga realia, yaitu segala sarana yang dapat mempengaruhi daya pikir anak dengan cara menerangkan, memperlihatkan contoh benda yang sesungguhnya, alat bantu mengajar yang digunakan dengan baik akan dapat menghilangkan penyakit yang paling berkecamuk di sekolah yaitu verbalisme. Lebih dari itu juga dapat mempertinggi hasil belajar dan mengajar.

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa alat peraga adalah benda yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dengan baik. Alat peraga dapat berupa benda sesungguhnya, model atau tiruan benda, gambar-gambar, alat-alat elektronika sebagai alat bantu yang dapat didengar, dilihat atau dilihat dan didengar.

Pengertian Realia

Realia atau yang disebut objek adalah benda yang sebenarnya dalam bentuk utuh. Misalnya: kawat, besi, paku, kayu, plastik, kertas, kain, dan lilin yang menyala (Sri Anitah, 2009 : 25). Kawat, besi, paku yaitu konduktor panas. Sedangkan kayu, plastik, kertas, kain yaitu isolator panas. Guru peneliti menyediakan meja untuk meletakan kawat, besi, paku, kayu, plastik, kertas, kain, dan lilin yang menyala untuk melakukan percobaan, pengamatan terhadap benda konduktor dan isolator panas.

Pengertian Alat Peraga Realia

Alat peraga realia adalah alat yang digunakan dalam pembelajaran untuk memperagakan membandingkan sifat kemampuan menghantarkan panas dari berbagai benda sebagai materi pelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi konduktor dan isolator panas. Dalam menyampaikan materi pembelajaran, guru peneliti menggunakan alat peraga relia yang berupa kawat, besi, paku, kayu, plastik, kertas, kain, dan lilin yang menyala. Kawat, besi, paku, kayu, plastik, kertas, kain,  dan lilin yang menyala, yaitu konduktor panas. Sedangakan, kayu, plastik, kertas, kain yaitu isolator panas.

KERANGKA BERPIKIR

Pada kondisi awal, guru belum melakukan optimalisasi penggunaan alat peraga realia. Sebagai akibatnya siswa banyak menemui kebingungan, mereka mengerjakan tugas penggunaan alat peraga realia dalam suasana penuh tanda tanya apa yang harus ditulis sebagai imbasnya hasil belajar siswanya rendah. Terdorong oleh rasa tanggung jawabnya, peneliti sebagai guru mata pelajaran IPA berupaya dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan nilai hasil belajar siswa dikelasnya. Peneliti melakukan optimalisasi alat peraga realia dalam menyelenggarakan pembelajaran konduktor isolator. Rangkaian kegiatan optimalisasi alat peraga realia dilakukan dalam dua siklus secara berturut-turut, yaitu pada siklus I dan siklus II. Kegiatan pada siklus II merupakan pengembangan daripada kegiatan pada silus II lebih optimal atau lebih baik jika dibandingkan dengan kegiatan siklus I.

Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka berpikir sebagai mana tertulis diatas maka diajukanlah hipotesis tindakan PTK ini sebagai berikut : “Melalui  optimalisasi penggunaan alat perga relaia untuk meningkatkan hasil belajar IPA konduktor dan isolator panas bagi siswa kelas VI SD Negeri Gandeng semester I tahun pelajaran 2015/2016.

METODOLOGI PENELITIAN

Subjek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Gandeng Unit Pendidikan Kecamatan Tambak pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Dalam tahun pelajaran 2015/2016 ini, siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Gandeng Unit Pendidikan Kecamatan Tambak berjumlah 8 siswa yang terdiri dari 6 siswa perempuan dan 2 siswa laki-laki.

Sesuai dengan objek penelitiannya yaitu benda konduktor dan isolator panas maka untuk kepentingan pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas ini digunakan teknik tes. Dari tiga teknik tes yang ada, yaitu tes lisan, tertulis dan perbuatan hanya dipilih satu diantaranya. Tidak semua bentuk tes digunakan untuk pengumpulan data. Sesuai dengan objek penelitian, dalam Penelitian Tindakan Kelas ini yaitu mata pelajaran IPA kelas VI konduktor dan isolator panas maka bentuk tes yang digunakan untuk pengumpulan data sesuai dengan objek penelitian dalam Penelitian Tindakan Kelas ini yaitu mata pelajaran IPA kelas VI konduktor dan isolator panas maka bentuk tes yang digunakan untuk tes pengumpulan data adalah tertulis karena dalam Penelitian Tindakan Kelas ini terdapat dua siklus maka tes tertulis juga dilakukan dua kali yaitu di akhir siklus I dan di akhir siklus II

Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah menggunakan analisis deskriptif komparatif, yaitu membandingkan secara tertulis nilai-nilai yang ada. Nilai-nilai yang diperbandingkan adalah nilai rata-rata kondisi awal, nilai rata-rata kondisi akhir siklus I dan nilai rata-rata kondisi akhir siklus II. Deskriptif komparatif tersebut meliputi :

1.Deskriptif komparatif kondisi awal dengan kondisi akhir siklus I. Nilai rata-rata pada kondisi awal diperbandingkan dengan nilai rata-rata tes akhir siklus I.

2.Deskriptif komparatif kondisi akhir siklus I dengan kondisi akhir siklus II. Nilai rata-rata tes akhir siklus I diperbandingkan dengan nilai rata-rata tes akhir siklus II.

3.Deskriptif komparatif kondisi awal dengan kondisi akhir (kondisi akhir siklus II seandainya dalam penelitian tersebut hanya ada dua siklus). Nilai rata-rata kondisi awal diperbandingkan dengan nilai rata-rata tes akhir siklus II/kondisi akhir.

Penelitian tindakan kelas dikatakan berhasil apabila nilai rata-rata subjek penelitian mengalami peningkatan. Nilai rata-rata pada kondisi awal mengalami peningkatan pada kondisi akhir. Atau dapat dikatakan pula bahwa penelitian tindakan kelas disebut berhasil apabila nilai rata-rata subjek penelitian pada kondisi akhir siklus II lebih tinggi dari pada nilai rata-rata pada kondisi awal.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Sebagaimana tertulis pada latar belakang masalah bahwa pada kondisi akhir awal penelitian tindakan kelas ini, nilai hasil belajar mata pelajaran IPA konduktor isolator panas siswa kelas VI SD Negeri Gandeng Unit Pendidikan Kecamatan Tambak tahun pelajaran 2015/2016 rata-ratanya masih rendah. Nilai rata-rata perolehan 5,60. Dari 8 siswa yang mengikuti ulangan harian konduktor dan isolator panas hanya 3 siswa (37,5%) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal  ada 5 siswa (62,5%). KKM mata pelajaran IPA kelas VI adalah 7,00.

Setelah peneliti melakukan tindakan di Siklus I, peneliti mengakhirinya dengan mengadakan tes akhir siklus I. Subjek penelitian diberi tugas mengerjakan soal konduktor dan isolator panas berdasarkan alat peraga realia sebanyak 10 nomor. Dari 8 siswa kelas VI SD Negeri Gandeng Unit Pendidikan Kecamatan Tambak yang mengikuti tes akhir siklus I, diperoleh nilai rata-rata 7,13. Nilai tertinggi 9,00 dan nilai terendah 6,00.

 

 

 

 

 

 

 

Dikaitkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 8 siswa yang mengikuti tes akhir siklus I konduktor dan isolator panas berdasarkan alat peraga realia terdapat 5 siswa (62,5%) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 3 siswa (37,5%). KKM mata pelajaran IPA kelas VI adalah 7,00.

Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus II, peneliti mengakhirinya dengan mengadakan tes akhir siklus II. Subjek penelitian diberi tugas mengerjakan lembar kerja berdasarkan alat peraga realia secara individu. Alat peraga realia tersebut menggunakan benda alat-alat rumah tangga yang dapat ditemui di lingkungan subjek penelitian. Hal ini tentu saja subjek penelitian (siswa kelas VI) akrab sekali dengan alat rumah tangga tersebut yang biasa terlihat dalam lingkungannya. Berdasarkan hasil pengamatan pada Siklus II dapat diperoleh data rentang nilai sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

Dikaitkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dari 8 siswa yang mengikuti tes akhir siklus II konduktor dan isolator panas berdasarkan alat peraga realia terdapat 7 siswa (87,50%) yang mencapai ketuntasan. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan minimal ada 1 siswa (12,50%). KKM mata pelajaran IPA kelas VI adalah 7,00.

Reflecting Kondisi Awal dengan Kondisi Akhir Siklus II

Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar 56 meningkat menjadi 78,8 pada akhir siklus II (meningkat sebesar 29%). Nilai tertinggi pada kondisi awal sebesar 77 meningkat menjadi 100 pada akhir siklus II (menignkat sebesar 23%). Nilai terendah pada kondisi awal sebesar 30 meningkat menjadi 60 pada akhir siklus II (meningkat sebesar 100%).

Perhatikan tabel berikut ini :

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA

KONDISI AWAL DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS II

 

 

 

 

Reflecting Kondisi Akhir Siklus I dengan Kondisi Akhir Siklus II

Nilai rata-rata pada kondisi akhir siklus I sebesar 7,13 meningkat menjadi 7,88 pada akhir siklus II (meningkat sebesar 9,6%). Nilai tertinggi pada kondisi akhir siklus I sebesar  90  , pada akhir siklus II  tetap 100 (10%). Nilai terendah pada kondisi akhir siklus I dan akhir siklus II tidak mengalami peningkatan (0%) pada siklus I siswa yang mendapat nilai 60 ada 3, namun pada siklus II siswa yang mendapat nilai 60 hanya 1 siswa.

Perhatikan tabel berikut ini :

 

KOMPARASI NILAI HASIL BELAJAR ANTARA

KONDISI AKHIR SIKLUS I DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS II

 

 

 

 

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh guru peneliti sejak dari kondisi awal, kondisi akhir siklus I, sampai dengan kondisi di akhir siklus II, sesuai dengan data-data yang diperoleh ternyata terjadi dinamika perubahan hasil belajar. Pada saar kondisi awal, nilai rata-rata subjek penelitian hanya 5,60. Setelah peneliti melakukan tindakan di siklus I, nilai rata-rata subjek penelitian menjadi 7,13. Ketika dilakukan penilaian penilaian di akhir siklus II, ternyata nilai rata-rata subjek penelitian menjadi 7,88. Data hasil belajar subjek penelitian mulai dari kondisi awal siklus sampai akhir siklus dapat dilihat pada tabel berikut ini :

DATA HASIL BELAJAR SUBJEK PENELITIAN

 

 

 

 

 

Dinamika perubahan hasil belajar dari kondisi awal, kondisi di akkhir siklus I, sampai dengan kondisi di akhir siklus II (kondisi akhir) akan lebih jelas dalam diagram berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

Kiranya perlu diketahui bahwa keberhasilan penelitian tindakan kelas adalah ditentukan oleh perbandingan nilai rata-rata kondisi awal dengan nilai rata-rata kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II). Penelitian tindakan kelas tersebut berhasil apabila nilai rata-rata subjek penelitian mengalami peningkatan dari kondisi awal ke kondisi akhir siklus II.

Sebagaimana tertulis di bagian terdahulu bahwa nilai rata-rata subjek penelitian pada saat kondisi awal adalah 5,60; sedangkan nilai rata-rata subjek penelitian pada kondisi akhir (kondisi pada akhir siklus II) adalah 7,88. Dengan demikian, dari kondisi awal ke kondisi akhir, nilai rata-rata hasil belajar subjek penelitian mengalami peningkatan sebesar 2,28 poin (28,93%). Perubahan nilai rata-rata tersebut dapat lebih terlihat dengan jelas pada diagram berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan Hasil Penelitian

Menurut data empirik penelitian tindakan kelas sebagaimana tertulis di atas, dapat disimpulkan bahwa melalui optimalisasi penggunaan alat peraga realia untuk meningkatkan hasil belajar IPA konduktor dan isolator panas bagi siswa kelas VI SD Negeri Gandeng pada semester I tahun pelajaran 2015/2016.

Penutup

Data-data empirik telah ditulis dengan seksama dalam Bab IV yang semuanya menunjukkan bahwa tindakan kelas yang dilakukan oleh guru peneliti yang berupa penggunaan alat peraga realia dalam proses pembelajaran telah berhasil meningkatkan hasil belajar subjek penelitian dalam mata pelajaran IPA Konduktor dan Isolator. Tindakan peneliti dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri dari dua pertemuan. Dari dua siklus tersebut diperoleh nilai rata-rata pada kondisi awal yang hanya 5,60 dapat ditingkatkan menjadi 7,88 pada saat kondisi akhir.

Berdasarkan data empirik penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa tindakan kelas yang dilakukan peneliti telah berhasil meningkatkan hasil belajar IPA Konduktor dan Isolator bagi siswa kelas VI SD Negeri Gandeng pada semester I tahun pelajaran 2015/2016.

Kesimpulan berdasarkan data empirik tersebut sesuai dengan pengajuan hipotesis berdasarkan kajian teoritis sebagaimana tercantum dalam Bab II yang berbunyi: “Melalui Penggunaan Alat Peraga Realia Dapat Meningkatkan Hasil Belajar  IPA Konduktor Dan Isolator Panas Bagi Siswa Kelas VI SD Negeri Gandeng Unit Pendidikan Kecamatan Tambak Pada Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini terbukti, yaitu : Melalui optimalisasi penggunaan alat peraga realia untuk meningkatkan hasil belajar IPA konduktor dan isolator panas bagi siswa kelas VI SD Negeri Gandeng pada semester I tahun pelajaran 2015/2016”.

Dengan terbuktinya hipotesis tindakan penelitian tindakan kelas ini, yaitu : “Melalui Penggunaan Alat Peraga Realia Dapat Meningkatkan Hasil Belajar  IPA Konduktor Dan Isolator Panas Bagi Siswa Kelas VI SD Negeri Gandeng Unit Pendidikan Kecamatan Tambak Pada Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016” maka penulis mengajak kepada semua guru untuk semaksimal mungkin melakukan optimalisasi penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran konduktor dan isolator khususnya agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai secara optimal.

Dengan terbuktinya hipotesis tindakan penelitian tindakan kelas ini, yaitu: “Melalui Penggunaan Alat Peraga Realia Dapat Meningkatkan Hasil Belajar  IPA Konduktor Dan Isolator Panas Bagi Siswa Kelas VI SD Negeri Gandeng Unit Pendidikan Kecamatan Tambak Pada Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016”, maka secara teoritis kita semakin meyakini bahwa penggunaan alat peraga realia dapat meningkatkan hasil belajar IPA konduktor dan isolator. Dengan demikian diharapkan dapat menambah wacana dalam berpikir dan dijadikan dasar bertindak oleh para pendidik dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai agen pembelajaran di kelas, khususnya dalam pembelajaran IPA konduktor dan isolator. Disamping itu juga dapat sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya, baik oleh peneliti PTK ini maupun peneliti-peneliti lainnya.

 

Daftar Pustaka

Anitah, Sri, Prof. Dr., M.Pd. 2010. Media Pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka.

Ibayati, Yayat, dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam Untuk SD dan MI Kelas VI. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Mashuri, HP, 1990. Azas-azas Belajar. Semarang: IKIP Semarang Press.

Suhartanti, Dwi, dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam Untuk Kelas VI SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Sulistyanto, Heri dan Wiyono, Edi. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam Untuk SD dan MI Kelas VI. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

……………….. . 2002, Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SD, SDLB, SLB Tingkat Dasar dan MI. Jakarta: Ditjen Dikdasmen, Depdiknas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *