Suci Rahayu

Pabrik Gula Kalibagor 1839 Suatu Tinjauan Historis dan Sosial Ekonomi

PABRIK GULA KALIBAGOR 1839 SUATU TINJAUAN HISTORIS DAN SOSIAL EKONOMI

oleh : Suci  Rahayu*)

 

 

PENDAHULUAN

Memasuki awal abad ke-18 pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengalami defisit anggaran Kerajaan. Kekosongan kas kerajaan Belanda terjadi dikarenakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menghadapi berbagai perlawanan-perlawanan daerah di Indonesia. Perlawanan-perlawanan daerah memaksa Belanda untuk menguras keuangan Kerajaan. Perlawanan Bangsa Indonesia yang membuat Belanda mengalami defisit keuangan adalah Perang Diponegoro ( 1825-1830), Perang Aceh ( 1873-1904) serta perang-perang lain yang menentang penjajahan Belanda di Indonesia. Keadaan ini diperburuk oleh usaha pemisahan Belgia dari Kerajaan Belanda. Hal ini menekan pemerintah Kolonial Hindia Belanda.Untuk mengatasi kekosongan kas kerajaan Belanda ditempuh dengan menerapkan sistem penjajahan baru di Indonesia. Sistem baru yang diterapkan adalah sistem tanam paksa ( Cultuur Stelsel) yang dicetuskan oleh Van Den Bosch dan diterapkan sejak 1830- 1870. Sistem ini mengharuskan rakyat menanam tanaman yang laku di pasaran Eropa. Tanaman yang diwajibkan ditanam oleh petani antara lain; tebu, nila, teh, tembakau, kayu manis, dan kapas ( Burger , 1957 : 198 ). Tebu sebagai salah satu tanaman wajib dalam sistem tanam paksa dengan gencar disebarluaskan penanamannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Penanaman wajin tanaman tebu dilakukan di Jawa maupun di luar Jawa. Penanaman tebu di Pulau Jawa dilakukan di daerah-daerah seperti ; Banten, Cirebon, Pekalongan, Tegal, Semarang, Madiun, Banyumas, Kediri, Bagelen, Pasuruan ( Burger, 1957 : 200).

Secara historis penanaman tebu telah dikenal cukup lama, tanaman ini telah dikenal sejak abad ke-15. Tanaman tebu diperkenalkan oleh para imigram Cina yang datang ke Pulau Jawa. Dengan cara ini penduduk mulai mengenal cara bercocok tanam tebu. Pembudidayaan tebu pada waktu itu masih sangat sederhana bahkan kebanyakan menggunakan sistem perladangan. Alat pemerah tebu juga  masih sederhana yaitu dengan menggunakan tenaga hewan sebagai pengeraknya. Perdaganga gula tebu di Nusantara telah berlangsung cukup lama. Pada waktu Belanda pertama datang ke Indonesia 1596 yang dipimpin oleh Cornelis De Hautman telah dijumpai adanyan perdagangan gula tebu di pulau Jawa. Perdagangan gula tebu saat itu kebanyakan didatangkan dari daerah sekitar Jakarta, Jepara, Palembang, Timor .  Pada saat itu para pedagang Belanda ikut memperdagangkan  gula dari pulau Jawa ke Eropa. Dengan keuntungan yang cukup besar dari perdagangan gula tebu mendorong pedagang Belanda untuk memperkokoh kedudukannya di pulau Jawa. Sebagai realisasinya para pedagang Belanda membentuk kongsi dagang dengan nama VOC ( Verenigde Oost Indishce Compagnie ) pada tahun 1602. Sejak itu para pedagang Belanda di Indonesia mulai kuat kedudukannya dalam menghadapi persaingan dagang dengan bangsa Portugis dan Spanyol. Pada tahun-tahun pertama VOC belum menampakkan pengaruhnya yang kuat dalam perdagangan gula di pulau Jawa. Pada masa itu industri gula di pulau Jawa mengalami perkembangan  yang pesat, hal ini ditandai dengan makin bertambahnya jumlah pabrik gula menjadi 130 pabrik gula pada tahun 1710.

Pabrik Gula Kalibagor

Gambar : Pabrik Gula Kalibagor Kabupaten Banyumas (Foto: Dokumen Penulis)

Perkembangan industri gula di pulau Jawa sangat pesat, hal ini didorong karena terjadinya pertambahan permintaan gula dipasaran Eropa. Melihat keadaan ini VOC mulai ingin menguasai perdagangan gula di pulau Jawa, hal ini dibuktikan dengan tindakan VOC yang mulai ikut campur dan menentukan perdagangan gula di pulau Jawa, VOC juga menanamkan pengaruhnya dalam perdagangan gula di pulau Jawa. Untuk mencari keuntungan yang lebih besar VOC mengontrak industri-industri gula yang tersebar di sekitar Jakarta. Pabrik-pabrik gula pada waktu itu masih sangat sederhana baik mesin-mesinnya maupun tempat pengolahannya. Tempat pengolahan tebu belum tentu dilakukan di dalam pabrik, namun  ada yang mengolah tebu di pekarangan , di halaman rumah, bahkan ada yang mengolah tebu di areal penanaman tebu. Untuk penggeraknya menggunakan tenaga hewan. Selain mengontrak industri-indusrti gula , dalam menanamkan pengaruhnya VOC mengharuskan penyerahan wajib bagi hasil giling tebu kepada para pemilik pabrik gula selesai musim giling.

GEOGRAFIS

            Banyumas merupakan salah satu kabupaten  yang masuk dalam Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis Kabupaten Dati II Banyumas berada diantara 108⁰ 39’ 17” – 109⁰ 27′ 15″ garis bujur timur dan diantara 7⁰  15′  05′′ -7⁰ 37′ 10″ garis lintang selatan yang membentang dari arah barat ke timur denga panjang bentangan 96 km.

Kabupaten  Banyumas secara administratif berbatasan dengan kabupaten-kabupaten lain yaitu ; sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Cilacap, sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Pemalang dan Kabupaten Tegal, sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Purbalingga Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Kebumen, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes.

Kalibagor merupakan salah satu kecamatan yang berada di kabupaten Banyumas. Letak Kecamatan Kalibagor adalah sebelah tenggara kota Purwokerto ibukota kabupaten Banyumas. Ditinjau dari ketinggian tanah wilayah Kalibagor berada pada ketinggian 37m dari permukaan laut. Kecamatan Kalibagor secara adminitratif terbagi dalam 12 desa. Secara keseluruhan wilayah Kecamatan Kalibagor memiliki luas wilayah 3. 537, 173 Ha. Dengan curah hujan dalam arti banyaknya hari hujan  berkisar 20 hari/tahun dengan banyaknya curah hujan berkisar 332mm/tahun. ( Monografi Kecamatan Kalibagor, 2005:1). Topografi Kecamatan Kalibagor sebagian wilayahnya datar sampai berombak sekitar 90% sedang 10% berupa perbukitan. Bila ditinjau dari kondisi geografis maka Kecamatan Kalibagor sangat sesuai dan cocok untuk areal penanaman dan perkebunan  tebu.

Pabrik Gula Kalibagor Tinjuan Historis

            Secara historis Pabrik Gula Kalibagor merupakan salah satu perusahaan swasta milik orang Belanda yang berkantor pusat di Amsterdam. Pabrik Gula Kalibagor adalah milik Perusahaan Belanda yang bernama VVCM ( Verenigde Vortelandsche Cultuur Maatschappij ) yang berdiri pada tahun 1839 oleh Edward Cook. Pada masa awal berdirinya Pabrik Gula Kalibagor masih sederhana baik fasilitas gedung maupun cara pengolahannya. Dengan adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong Pabrik Gula Kalibagor menerapakan mesinisasi dalam pengolahan gula. Sejak berdirinya 1839 Pabrik Gula Kalibagor mengalami pasang surut. Keadaan pasang surut Pabrik Gula Kalibagor terjadi tidak dapat dipisahkan dari pengaruh negeri Belanda. Keadaan ekonomi dan pasaran dunia turut mempengaruhi keberadaan Pabrik Gula Kalibagor.

            Sejak berdirinya tahun 1839 Pabrik Gula Kalibagor mengalami pasang surut produksi, bahkan sempat mengalami penutupan pabrik. Pada kurun waktu dari tahun 1839 hingga 1928 Pabrik Gula Kalibagor dapat beroperasi dan berproduksi dengan baik dan lancar. Keadaan ini tidak dapat bertahan lama karena pada tahun 1929 Pabrik Gula Kalibagor mengalami penutupan dan tidak berproduksi, hal ini dikarenakan pertimbangan ekonomi waktu itu bahwa perekonomian dunia mengalami masa yang disebut krisis ekonomi ( malaise ). Penutupan Pabrik Gula Kalibagor dengan pertimbangan menunggu situasi dan keadaan ekonomi dunia membaik kembali. Penutupan Pabrik Gula Kalibagor berlangsung hingga tahun 1935.

            Tahun 1936 keadaan ekonomi dunia mulai menunjukkan tanda-tanda membaik, melihat hal ini Pabrik Gula Kalibagor dibuka kembali dan berproduksi kembali hingga tahun 1941. Kondisi ini tidak dapat bertahan lama karena Belanda mengalami kekalahan dari Jepang dan Indonesia dikuasai Jepang sejak tahun 1942.

            Pada masa pendudukan Jepang Pabrik Gula Kalibagor diambil oelh pemerintah pendudukan Jepang  ( Gunseikanbu Kenri ). Masa tahun 1942 -1945 Pabrik Gula Kalibagor tidak berproduksi. Untuk mengawasi Pabrik-pabrik Gula pemerintahan Pendudukan Jepang membentuk Togyo Rengokai ( Persatuan Perusahaan Gula ) ( marwati Djoened, 1992: 43). Pengelolaan perkebunan gula dipercayakan kepada enam perusahaan swasta Jepang . Pabrik Gula Kalibagor pada masa Jepang dikelola oleh Dai Nihon Saito ( Aiko Kurasawa, 1993: 41).

            Dengan Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 Pabrik Gula Kalibagor diambil alih oleh Bangsa Indonesia. Pada awal kemerdekaan kondisi ekonomi Indonesia sangat memburuk, hal ini terjadi karena adanya hiper inflasi yang sangat tinggi, beredarnya mata uang Jepang di masayarakat, peredaran uang oleh pasukan Sekutu dan Belanda menerapkan Blokade ekonomi terhadap Indonesia. ( Marwati Djoened, 1992: 172). Untuk mengatasi perekonomian pemerintah RI menerapkan langkah-langkah seperti ; membentuk Bank Negara Indonesia ( BNI 46), mengeluarkan Oeang Republik Indonesia ( ORI), melakukan penjaman Nasional, Peraturan Pemerintah ( PP No 3 tahun 1946) tentang Badan Penyelenggara Perusahaan Gula Nasional ( BPPGN) dengan status perusahaan Negara . ( Marwati Djoened, 1992: 179). Berdasarkan PP No 3 tahun 1946 ini  Pabrik Gula Kalibagor masuk dalam BPPGN. Kembali pemerintah menetapka Peraturan Pemerintah ( PP No 4 tahun 1946) tentang pembentukan Perusahaan Perkebunan Negara (PPN). Pabrik Gula Kalibagor  masuk dalam PPN.

            Pengakuan kedaulatan RI tanggal 27 Desember 1949 yang ditandai dengan penandatangan naskah Konferensi Meja Bundar ( KMB ) mengakibatkan pemerintah RI terpaksa harus menyerahkan perusahaan-perusahaan milik Belanda termasuk Pabrik Gula Kalibagor dan diserahkan kembali kepada pemiliknya yaitu VVCM ( Verenigde Vorstelandsche Cultuur Maastschapij ).

Pada tahun 1957 dengan dikeluarkannya Peraturan Penguasa Militer No. 1063/ PMT / 1957 dilakukan pengambil alihan semua perusahaan milik Belanda termasuk Pabrik Gula Kalibagor tanggal 10 Desember 1957 . ( Capita Selekta PG Kalibagor, 1988 : 1).  Sejak tahun 1957 Pabrik Gula Kalibagor menjadi milik RI kembali. Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP No 19 / 1959 ) tentang Pembentukan Pusat Perkebunan Negara Baru ( PPN-Baru ) Pabrik Gula kalibagor dimasukan dalam wilayah kerja PPN-Baru Unit I Semarang dengan sebutan PPN- Baru PG Kalibagor ( Capita Selekta PG Kalibagor, 1988 : 2). Pemerintah kembali mengeluarkan Peraturan Pemerintah ( PP No 141 / 1961 ) tentang pembentukan Badan Pimpinan Umum Perusahaan Perkebunan Negara ( BPU-PPN) ( Soeharttono, 1987: 3). Pabrik Gula Kalibagor masuk dalam BPU-PPN kesatuan Jateng II.  Tahun 1963 kembali dikelurkan Peraturan Pemerintah ( PP No 1/ 1963 ) tentang Perusahaan Perkebunan Gula Negara ( PPN- Gula ) Pabrik Gula Kalibagor masuk dalam PPN Jateng II dengan sebutan PPN- Gula Kalibagor. Tahun 1968 terjadi perubahan status pabrik-pabrik Gula. Dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP)  No. 14 / 1968 tentang pendirian PNP I – PNP XXVIII ( Sapuan, 1987: 4) . Dengan Peraturan ini Pabrik Gula Kalibagor masuk wilayah kerja PNP XVI, dengan sebutan PNP XVI-PG Kalibagor ( capita selekta PG Kalibagor, 1988:2). Perubahan status Pabrik Gula terjadi lagi tahun 1981. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 11 / 1981 tentang Pembubaran Perusahaan Negara Perkebunan XVI dan Penggabungan ke dalam Perusahaan Perseroan ( Persero) PT Perkebunan XV, PTP XV digabung dengan PTP XVI dengan nama PT Perkebunan XV-XVI ( Sapuan , 1987: 6). Berdasarkan ketentuan ini Pabrik Gula Kalibagor masuk dalam wilayah PTP XV-XVI yang berkantor direksi di Surakarta.

Pabrik Gula Kalibagor Tinjauan Sosial Ekonomi

            Kehidupan sosial ekonomi masyarakat kabupaten Banyumas pada umunya  bergerak disektor perdagangan dan pertanian. Keadaan ini ditunjang oleh kondisi lingkungan yang mendukung. Pertanian yang berkembang sebagian besar dengan cara dengan cara memanfaatkan daerah aliran Sungai Serayu, pertanian yang dikembangkan adalah pertanian padi. ( Mubyarto, 1987 : 84). Dengan adanya Sungai Serayu dimanfaatkan oleh penduduk sebagai sarana perladangan dan persawahan. Sistem persawahan di lembah Sungai Serayu telah dikembangkan oelh penduduk cukup lama yaitu kira-kira sebelum masehi (Clifford  Geertz, 1983:41). Sistem padi sawah dengan memanfaatkan aliran sungai Serayu adalah sangat efektif mengingat pada waktu itu belum ada irigasi yang modern seperti sekarang. Sistem pengairan kala itu masih sederhana yaitu memanfaatkan alam seadanya sesuai dengan kemampuan masyarakat. Kehidupan sosial masyarakat masih sederhana . Secara garis besar pembagian lapisan masyarakat masyarakat Banyumas terdiri atas  golongan petani, pedagang, penguasa lokal ( kepada desa). Hal ini berlangsung hingga kira-kira  akhir abad ke-14.

            Memasuki abad ke -15 Banyumas masuk dalam daerah bawahan Kerajaan Pajang. Tahun 1582 Sultan Hadiwijaya mengangkat Adipati Wargautama II sebagai wakil Sultan di Wilayah Banyumas.( Pemda, 1986:26). Dengan dijadikannya daerah bawahan Kerajaan Pajang terjadi beberapa perubahan. Dalam stratifikasi sosial masyarakat  munculnya penguasa diatas kepala desa yaitu sultan dan terbentuknya ikatan antara daerah vasal dengan kerajaan.

Dengan  mundurnya Kerajaan Pajang dan diganti oleh Mataram  Banyumas menjadi daerah bawahan Mataram. Pada waktu Mataram di pecah menjadi dua akibat perjanjian Giyanti ( 1755) Banyumas menjadi daerah bawahan Kasunanan Surakarta hingga pecahnya Perang Diponegoro ( 1825-1830). Seperti halnya daerah lain stuktur masyarakat Banyumas pada abad ke-18 dibedakan menjadi dua yaitu ikatan desa dan ikatan feodal. Ikatan desa merupakan suatu bentuk kehidupan ekonomi yang bercirikan ekonomi subsisten. ( Burger, 1957: 104). Masyarakat desa berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Bagi petani-petani yang hanya memiliki sawah yang sempit atau petani penggarap  akan bekerja keras untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Petani yang memiliki sawah yang sempit atau petani penggarap akan memanfaatkan waktunya setelah selesai menanam padi untuk membuat barang-barang kerajinan tangan, menjadi tukang, berjualan di pasar, serta usaha-usaha lainnya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.  Kehidupan gotong royong masih sangat kuat dijalankan, apabila salah satu warga membutuhkan tenaga maka warga yang lain merasa wajib dan dengan segera membantu ( sambatan ). Warga yang membantu tidak dikarenakan rasa terpaksa namun secara sukarela dan tidak dengan imbalan. Ekonomi uang belum berperang penting seperti masa sekarang. Kehidupan ekonomi  masyarakat desa pada waktu itu masih sederhana, transaksi dan sewa menyewa belum dikenal. Perdagangan yang dikembangkan dengan cara barter dengan cara ini peranan uang memagang peranan yang kecil ( Burger, 1957: 105). Kehidupan ekonomi desa sekitar tahun 1800-an masih sederhana, kehidupan untuk memenuhi kebutuhan dijalankan dengan jiwa tolong-menolong, gotong-royong  dan kekeluargaan antar warga desa dan ketaatan kepada penguasa desa. Ikatan feodal merupakan ikatan pengabdian yang berbentuk vertikal dan bukan suatu ikatan persaudaraan ( Burger , 1957:106). Dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat desa memiliki ciri khusus yaitu dalam kegiatan produksi ekonomi dijalankan dengan cara barter belum mengenal perjanjian( kontrak) tertentu, peredaran uang dan nilai guna uang masih rendah. Dalam struktur pemilikan tanah pertanian pada abad ini dibedakan menjadi tiga yaitu :

  1. Tanah pertanian milik perorangan secara turun temurun (Erfelijk individueek bezit )
  2. Tanah pertanian milik komunal ( gemen bezit )
  3. Tanah bengkok untuk pamong desa ( ambsvelden )( William L. Collier, 1984 : 47 ).

            Setelah berakhirnya perang Diponegoro 1830 Banyumas dan Bagelen lepas dari Kasunanan Surakarta. Sejak itu Banyumas langsung di bawah pengawasan pemerintah Kolonial Hinda-Belanda ( Nederlandsch Indie ). Pada tahun1831 Banyumas dijadikan Karesidenan. Sejak ini masuk pengaruh barat baik dalam bidang sosial ekonomi maupuan masyarakat. Wilayah karesidenan Banyumas terbagi dalam lima kabupaten yaitu ;

  1. Banyumas dengan distrik Banyumas, Adireja, PurworejoKlampok dengan Bupati R. adipati Cokronegoro I
  2. Ajibarang dengan distrik Purwokerto, Jatilawang, dengan Bupati R. Adipati Brotodiningrat
  3. Purbalingga dengan distrik Purbalingga, Sokaraja, Kartanegara, Cahyaria, dengan Bupati R.T. Dipokusumo
  4. Banjarnegara dengan distrik Banjarnegara, Singomerto, Leksono, Batur, Karangkobar, dengan Bupati R.T. Dipoyuda IV
  5. Majenang dengan distrik Majenang, Dayeuhluhur, Pangadingan, Jeruklegi dengan Bupati R.T. Prawironegoro ( Pemda , 1986 : 75)

Tahun 1839 di wilayah Karesidenan Banyumas tepatnya di Kecamatan Kalibagor berdiri Pabrik Gula Kalibagor. Keberadaan Pabrik Gula ini secara langsung maupun tidak langsung membawa perubahan dalam masyarakat. Berdirinya Pabrik Gula Kalibagor bersamaa dengan diterapkannya Cultuur Stelsel ( 1830-1870), sistem ini merupakan suatu sistem pemilikan dan perkebunan negara dengan jalan eksploitasi kekayaan Pulau Jawa ( Onghokham, 1983: 37).

Dengan berdirinya Pabrik Gula Kalibagor tahun 1839 menandai masuknya investasi modal asing dan teknik-teknik bercocok tanam yang lebih modern. Perkebunan tebu merupakan suatu kegiatan ekonomi yang memerlukan lahan yang luas dan tenaga kerja yang banyak . Dari pembukaan lahan untuk areal penanaman tebu, pemeliharaan, panen, penggilingan tebu menyerap tenaga kerja yang besar. Untuk keperluan industri gula pada masa itu hampir memerlukan 4000-5000 tenaga kerja dari pembukaan lahan sampai penggilingan tebu ( Clifford Geertz, 1983 : 37). Untuk mengatasi pemenuhan tenaga kerja pada insudtri gula diperlukan sekitar 65% – 75% petani Jawa yang tinggal disekitar pabrik diharuskan bekerja sebagai buruh dengan sistem tanam paksa ( Onghokham, 1983: 37).

Beberapa perubahan penting dengan dibangunnya Pabrik Gula Kalibagor dapat diuraikan sebagai berikut ;

  1. Masyarakat Desa Kalibagor yang dahulunya bersifat tertutup mulai dipengaruhi oleh sistem ekonomi dunia luar. Ekonomi uang mulai menembus kehidupan pedesaan, dikenalnya barang-barang baru ke rumah tangga-rumah tangga desa, penduduk desa mulai mengenal kebutuhan-kebutuhan yang lebih kompleks.
  2. Dengan pengawasan dari Pemerintah Kolonial Belanda berakibat terjadinya perubahan-perubahan yang disebabkan oleh politik Kolonial Belanda.
  3. Tanah-tanah milik petani banyak yang disewa oleh pabrik Gula Kalibagor dan dipakai untuk perkebunan tebu sehingga timbul kelas baru dalam masyarakat yaitu penyewa tanah.
  4. Masyarakat desa Kalibagor terjadi perubahan mata pencaharian dari petani padi menjadi petani tebu karena dipaksa menanam tebu sebagai tanaman wajib dalam sistem tanam paksa .
  5. Bagi petani yang tidak memiliki tanah harus bekerja sebagai buruh Pabrik Gula dan buruh perkebunan tebu sehingga muncul kelas baru yaitu buruh / kuli. Hal ini terjadi karena petani tidak memiliki tanah .

            Terdapat penggolongan dalam masyarakat berdasarkan kepemilikan tanah dibedakan menjadi tiga yaitu ;

  1. Orang desa pemilik tanah ( terutama Sawah )
  2. Orang desa yang memiliki hak memegang tanah pertanian tetapi hanya memiliki sebuah rumah dan kebun
  3. Orang yang tidak memgang tanah, tidak memiliki rumah dan kebun ( Robert Van Niel, 1984: 30)

Bangunan-bangunan Peninggalan Pabrik Gula Kalibagor

Pabrik Gula Kalibagor sebagai salah satu benda cagar budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang mengalami kondisi yang memprihatinkan hal ini dikarenakan Pabrik Gula Kalibagor ditutup dan tidak beroperasi. Dengan ditutupnya Pabrik Gula Kalibagor bangunan-bangunan peninggalannya ditinggalkan oleh penghuni dan dibiarkan dalam keadaan kosong, kondisi ini berlangsung selama bertahun-tahun sehingga kondisi Pabrik Gula Kalibagor yang sekarang seperti bangunan tua yang kosong dan tidak terawat sehingga banyak ditumbuhi semak belukar. Oleh karena itu penulis sangat kesulitan memperoleh gambar atau dokumentasi tentang bangunan-bangunan peninggalan Pabrik Gula Kalibagor. Bangunan yang masih tersisa adalah musholla yang berdekatan  dengan Pabrik Gula Kalibagor. Namun apabila diteliti secara mendetail bangunan-bangunan yang terdapat di Pabrik Gula Kalibagor adalah sebagai berikut :

  1. Tempat penimbangan Tebu

Sebelum Tebu masuk ke mesin penggilingan terlebih dahulu tebu ditimbang di tempat penimbangan tebu.

  1. Tempat pengolahan /penggilingan Tebu menjadi gulu

Tempat ini berfungsi menggiling tebu untuk dijadikan gula pasir halus.

  1. Gudang Gula

Tempat ini dipergunakan untuk menyimpan gula pasir yang telah jadi dan siap dipasarkan.

  1. Bak Penampungan Tetes

Bak ini untuk menampung tetes merupakan sisa dari hasil penggilingan tebu .

  1. Bak Penampung Residu

Bak ini untuk menampung residu dari penggilingan tebu.

  1. Tembok Keliling Pabrik Gula Kalibagor

Tembok keliling Pabrik Gula Kalibagor untuk membatasi antara lokasi pabrik untuk proses produksi dengan kantoran.

  1. Perkantoran PG Kalibagor

Bangunan ini merupakan perkantoran PG Kalibagor

  1. Bangunan rumah dinas PG Kalibagor
  2. Bangunan rumah dinas PG Kalibagor bersebelahan dengan perkantoran berjejer ke arah utara.

PENUTUP

            Demikian sekelumit tentang Pabrik Gula Kalibagor yang pernah mengalami masa keemasan, dan sekarang tinggallah bangunan yang seolah tidak berarti lagi. Sebagai pendidik tentu tidak mudah melupakan waktu dan peristiwa masa lalu sehingga dapat dijadikan pengetahuan dan pembelajaran yang berharga. Pabrik Gula Kalibagor, di masa kejayaan pernah menjadi ikon Kabupaten Banyumas di bagian Barat Daya Ibukota Provinsi Jawa Tengah.

DAFTAR PUSTAKA

 

Bappeda Kabupaten Dati II Banyumas, 1994. Neraca Sumber Daya Alam Daerah DatiII Banyumas . Purwokerto : t.p

Burger DH, 1957. Sejarah Ekonomis Sosiologis. terjemahan Prajudi Atmosudirdjo Jakarta :  PN Pradnya Paramita

Djoened Poesponegoro Marwati, 1992. Sejarah Nasional Indonesia  Jilid VI .Jakarta : Depdikbud

Geertz  Clifford . 1983. Involusi Pertanian. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Kartodirdjo Sartono. 1991. Sejarah Perkebunan di Indonesia Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta : Aditya Media

  1. Collier William .1984. Dua Abad Penguasaan Tanah. Jakarta: Granedia

Mubyarto, 1984. Masalah Industri Gula Di Indonesia . Yograkarta : BPFE UGM

Onghokham, 1983. Rakyat dan Negara . Jakarta : Sinar Harapan

Pemda Kabupaten Dati II Banyumas, 1986. Inti Silsilah dan Sejarah Banyumas. Purwokerto : t.p

Sapuan, 1985. Ekonomi Pergulaan di Indonesia. Jakarta : Bulog

Soehartono, 1987. Sejarah Berdirinya PTP XV-XVI. Solo : t.p

Tim Penyusun, 1988. Capita Selekta Pabrik Gula Kalibagor Banyumas Kalibagor : t.p

Van Niel, Robert. 1984. Munculnya Elite Modern Indonesia. Tejemahan  Zahara Deliar Noer. Jakarta : PN Pustaka Jaya

BIODATA PENULIS

NAMA                         : SUCI RAHAYU,S.Pd

NIP                               : 19710601 200701 2 013

UNIT KERJA              :SMA N BATURRADEN

PANGKAT/GOL        : Penata / IIIc

Email                        : rahayusuci81@yahoo.com




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *