Pemanfaatan Getah dan Biji Kelor Untuk Menjernihkan Air Kotor

PEMANFAATAN GETAH DAN BIJI KELOR UNTUK MENJERNIHKAN AIR KOTOR

Oleh : Trian Santa Andriani

Sumber daya alam yang sngat melimpah dimana penggunaannya perlu dicermati adalah mutu air. Kualitas air bersih sangat menentukan dan sangat berpengaruh terhadap pola hidup dan ukuran kesehatan di masyarakatPola kehidupan masyarakat di pedesaan saat ini sangatlah mendukung untuk mengelola sumber daya yang ada, terutama sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.

PENDAHULUAN

Penggunaan teknologi tepat guna yang diterapkan, sangat tergantung dari sumber dan kualitas sumber air baku, serta proses distribusi melalui aliran pipa menuju ke area pelayanan masyarakat. Pengolahan air bersih tepat guna menggunakan salah satu sumber daya alam yang ada, yang disajikan kali ini, merupakan salah satu alternatif penggunaan teknologi tepat guna yang dapat langsung digunakan untuk masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih siap pakai.

Seiring dengan melimpahnya persentase air yang ada di perdesaan, misalnya air tanah, air rawa dan air danau, maka penulis sampaikan terapan penggunaan tanaman alam, yang jarang diminati, tetapi tanaman ini dapat dimanfaatkan secara praktis untuk menjernihkan air yang berasal dari sumber air alami. Tanaman jenis ini, praktis tidak menarik perhatian para pecinta tanaman hias, tetapi getah dan bijinya dapat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat terutama kebutuhan akan air bersih siap pakai.

SYARAT AIR bersih

Air bersih yang digunakan untuk kelangsungan hidup dan kebutuhan sehari-hari setidaknya harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

Persyaratan Fisik

1.    Tidak berbau.

Air yang baik memiliki ciri khas tidak berbau bila dicium dari jauh maupun dari dekat. Air yang berbau busuk mengandung bahan bahan organik dan anorganik terlarut yang  sedang mengalami dekomposisi/ penguraian oleh mikroorganisme di dalamnya. Air yang berbau sangat tidak layak untuk dikonsumsi sebagai air minum. Air berbau yang mencampuri kehidupan rumah tangga maupun bidang industri perdesaan disebabkan adanya jasad renik. Air jenis ini juga sangat tidak layak untuk dikonsumsi sebagai kebutuhan sekunder. Kebutuhan air bersih untuk mandi, cuci, dan untuk WC, sangat vital. Umumnya air yang berbau ini dapat menimbulkan gatal pada kulit dan iritasi.

2.    Tidak berwarna.

Air untuk kepentingan rumah tangga harus jernih dilihat dari dekat maupun dari kejauhan. Kualitas air yang baik adalah air yang juga memenuhi persyaratan fisik. Air yang berwarna berarti didalam air tersebut mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Warna keruh pada tampilan air disebabkan adanya kotoran renik yang mengambang di sekitar air. Air seperti itu hanya dapat diendapkan dengan zat koagulan.

3.    Tidak berasa atau tawar.

Secara fisika, air dapat dirasakan oleh panca indra manusia. Air yang terasa asam, manis, pahit atau asin menunjukkan bahwa kualitas air tersebut tidak layak dikonsumsi bagi kehidupan. Rasa asin disebabkan oleh terlarutnya garam-garam tertentu yang terlarut dalam air, sedangkan air yang terasa asam diakibatkan oleh adanya asam organik maupun asam non organik yang berasal dari dalam tanah yang secara langsung terlarut dalam air tanah sehingga ada beberapa air tanah yang terasa asam.

 

Sumber daya alam yang sngat melimpah dimana penggunaannya perlu dicermati adalah mutu air. Kualitas air bersih sangat menentukan dan sangat berpengaruh terhadap pola hidup dan ukuran kesehatan di masyarakatPola kehidupan masyarakat di pedesaan saat ini sangatlah mendukung untuk mengelola sumber daya yang ada, terutama sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.

 

Triana Santa Andriani*)

perdesaan disebabkan adanya jasad renik. Air jenis ini juga sangat tidak layak untuk dikonsumsi sebagai kebutuhan sekunder. Kebutuhan air bersih untuk mandi, cuci, dan untuk WC, sangat vital. Umumnya air yang berbau ini dapat menimbulkan gatal pada kulit dan iritasi.

  1. Tidak berwarna.

Air untuk kepentingan rumah tangga harus jernih dilihat dari dekat maupun dari kejauhan. Kualitas air yang baik adalah air yang juga memenuhi persyaratan fisik. Air yang berwarna berarti didalam air tersebut mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Warna keruh pada tampilan air disebabkan adanya kotoran renik yang mengambang di sekitar air. Air seperti itu hanya dapat diendapkan dengan zat koagulan.

  1. Tidak berasa atau tawar.

Secara fisika, air dapat dirasakan oleh panca indra manusia. Air yang terasa asam, manis, pahit atau asin menunjukkan bahwa kualitas air tersebut tidak layak dikonsumsi bagi kehidupan. Rasa asin disebabkan oleh terlarutnya garam-garam tertentu yang terlarut dalam air, sedangkan air yang terasa asam diakibatkan oleh adanya asam organik maupun asam non organik yang berasal dari dalam tanah yang secara langsung terlarut dalam air tanah sehingga ada beberapa air tanah yang terasa asam.

  1. Jernih atau tidak keruh.

Air yang keruh disebabkan karena terlarutnya butiran koloid yang berasal dari tanah liat ataupun berbagai macam garam garam mineral didalam tanah yang tersimpan berjuta tahun yang lalu. Semakin banyak kandungan zat yang bersifat koloid yang terlarut maka kondisi air akan semakin keruh. Kondisi koloid yang mempengaruhi kemurnian air berasal dari hasil pembentukan delta di muara sungai hasil koagulasi limbah rumah tangga dan limbah pabrik industri.

  1. Suhu

Air yang baik harus mempunyai suhu yang sama dengan suhu udara normal. Terlalu tinggi suhu udara ataupun terlalu rendah suhu air akan mempengaruhi keadaan air dan mengganggu kualitas air untuk dikonsumsi.

  1. Tidak mengandung zat padatan.

Air minum yang baik tidak mengandung zat padatan ataupun kotoran organik dan kotoran anorganik yang terapung di dalam air. Walaupun jernih, tetapi bila air mengandung banyak zat padatan yang terapung di dalamnya maka air dikatakan tidak baik dikonsumsi bagi kehidupan.

Persyaratan Kimia

Ukuran keasaman air ditentukan berdasarkan derajat keasaman air dan sifat atau nilai PHnya harus netral, tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa. Air yang mempunyai derajat keasaman rendah akan bersifat asam yang rasanya masam, sedangkan air yang mempunyai derajat keasaman tinggi akan bersifat basa, yang rasanya pahit. Air yang sahat tidak mengandung bahan kimia yang beracun misalnya jenis sianida, kotoran klorox ataupun sampah organik lainnya.Bahan kimia yang tidak diperbolehkan adalah racun jenis sianida dan fenolik.Air yang sehat terkonsumsi adalah air yang tidak mengandung garam garam terlarut atau ion logam logam berat sejenis mercuri atau logam berat lainnya.

Air yang berkualitas tidak mengandung garam-garam atau ion logam seperti : Fe, Mg, Ca, K, Zn, Hg, Mn, Cl, Cr, Na, Cu, dan lain lain.Beberapa zat organik yang terlarut dalam air dapat mempengaruhi keasaman air dan berbahaya bagi kesehatan mahkluk hidup, karena adanya air yang bersifat asam.

Persyaratan Biologi:

  1. Mempunyai kadar oksigen terlarut tinggi atau kadar DO tinggi
  2. Mempunyai kadar BOD rendah.
  3. Tidak mengandung bakteri patogen dan tidak mengandung bakteri non patogen serta tidak mengandung bakteri pengurai.
  4. Tidak mengandung dan tidak terdapat kotoran atau jasad renik.

Pengolahan air bersih yang banyak dikelola oleh lembaga pemerintah, pada umumnya menggunakan bahan kimiawi sejenis kaporit yang berguna untuk membunuh kuman serta tawas yang berguna untuk mengendapkan lumpur atau kotoran, sehingga secara tidak langsung dimasa yang akan datang akan timbul dampak atau akibat penggunaan bahan kimia tersebut.

Pada pengolahan air bersih siap pakai yang ditampilkan kali ini, penulis meracik dalam sajian praktis menggunakan getah dan biji kelor. Tanaman kelor (Moringa Oleifera) merupakan sinonim dari : Moringa Pterygosperma, Gaertn. Dari struktur dan kekhasannya, tanaman ini mengandung zat antibiotik dari tepung bijinya dan di dalam sari getahnya mengandung senyawa klorox yang dapat dimanfaatkan untuk membunuh kuman yang terdapat dapa sampel air.

Permasalahan yang menjadi pertimbangan adalah :

  1. Apakah pemanfaatan teknologi ini, dapat dilakukan di semua tempat yang menjadi sumber air minum bagi kehidupan ?
  2. Apakah penggunaan getah dan biji kelor, akan mengganggu kelangsungan ekosistim terhadap lingkungan ?
  3. Untuk jangka waktu yang cukup lama, apakah bahan baku pohon kelor masih tersedia ?
  4. Bagaimanakah kriteria air yang dihasilkan ?
  5. Bagaimanakah solusi terbaik memanfaatkan sumber daya alam yang ada dengan hemat biaya dan bermanfaat bagi kehidupan ?

pengolahan air dengan getah dan daun kelor

Pengolahan air dilakukan pada sumber air baku yang pada hakekatnya air tersebut tidak memenuhi standart kualitas air minum atau air bersih yang berlaku, sehingga beberapa unsur yang tidak memenuhi standart perlu dihilangkan ataupun dikurangi, agar seluruh air yang ada memenuhi standart yang sangat tergantung dari sumber air baku dengan kualitas air yang beraneka ragam untuk dapat diolah menjadi air bersih siap pakai.Beberapa pusat-pusat pengolahan air yang ada di perkotaan ataupun pengolahan air untuk industri dengan skala besar, pengolahan air dilakukan dengan cara penambahan senyawa kimia , tawas yang berfungsi sebagai koagulan atau penggumpal, di dalam air yang akan diolah.

Dengan cara ini, partikel-partikel yang ada dalam air akan menjadi gumpalan yang berukuran lebih besar, yang kemudian akan mengendap, barulah air yang berada di atas gumpalan tersebut dipisahkan untuk digunakan sebagai keperluan sehari-hari. Namun demikian, zat kimia penggumpal yang baik, tidaklah mudah dijumpai di berbagai penjuru saat ini. Andaipun ada, sangatlah tidak logis karena harganya yang tidak dapat terjangkau oleh sebagian masyarakat di pedesaan.

Beberapa proses dalam mendapatkan air bersih siap pakai adalah :

  1. Penampungan air baku sesuai kebutuhan ke dalam sebuah wadah berukuran super, yang mudah dijangkau oleh sebagian besar masyarakat.
  2. Penggunaan getah pohon kelor sebagai zat penggumpal alami.
  3. Pemanfaatan serbuk biji kelor untuk menjernihkan air baku sebagai air bersih siap pakai.
  4. Efisiensi penggunaan bahan yang berasal dari sumber daya alam yang ada, untuk peningkatan kualitas hidup dan peningkatan mutu kesehatan masyarakat.

LANGKAH-LANGKAH PENGOLAHAN

Proses pengolahan air bersih menggunakan bahan alam berupa getah dan serbuk biji kelor, merupakan salah satu alternatif pengolahan yang dapat dijadikan acuan untuk pemanfatan teknologi multi guna,praktis, ekonomis dan bernilai kualitas yang tinggikarena menggunakan tanaman herbal yang ramah lingkungan.

Pada prinsipnya pengolahan dilakukan berdasarkan urutan sebagai berikut :

  1. Pohon kelor yang berbiji, dibiarkan sampai matang atau sampai tua di pohon. Biji matang tersebut baru dipanen setelah kering. Sayap bijinya yang sangat ringan serta kulit bijinya mudah dipisahkan sehingga meninggalkan inti biji yang berwarna putih. Keadaan dijaga agar biji kering yang ada tidak menyebar kemaana-mana.
  2. Biji yang tak berkulit dihancurkan dengan cara ditumbuk sampai halus sehingga diperoleh bubuk atau serbuk biji moringa.
  3. Jumlah bubuk biji moringa atau kelor yang diperlukan untuk menjernihkan air baku sangat tergantung pada seberapa jauh kotoran yang terdapat di dalamnya.
  4. Untuk menangani air sebanya 20 liter atau 1 a9 satu ) jirigen, diperlukan hanya 2 gram bubuk kelor atau kira-kira 2 sendok teh ( 5 ml ), sedangkan banyaknya penggunaan getah untuh koagulan alami adalah 10 ml untuk keperluan 20 liter air baku.

Proses pengolahan air baku dilakukan sebagai berikut :

  1. Tambahkan sedikit air bersih ke dalam wadah, tambahkan bubuk biji kelor sehingga menjadi pasta.
  2. Letakkan pasta tersebut ke dalam botol yang bersih dan tambahkan kedalamnya satu cup air bersih, kemudian kocoklah selama 5 menit hinggaadonan tercampur sempurna, karena dengan cara tersebut terdapat aktifasisenyawa kimia yang terdapat pada bubuk dan getah biji kelor.
  3. Saringlah larutan yang telah tercampur dengan koagulasi biji kelor tersebutmelalui kain kasa, kemudian hasil saringan/filtratnta dimasukkan ke dalam20 liter air yang telah disiapkan sebelumnya, aduklah perlahan-lahan selama 10 sampai 15 menit sampai terbentuk endapan di dasar jirigen, danair bersih di atas endapan atau koagulan.
  4. Pada pengadukan beberapa lama, butiran biji yang telah dilarutkan akan mengikat dan menggumpalkan partikel-partikel padatan dalam air beserta mikroba dan uman-kuman penyakit yang terdapat koagulan berukuran lebih besar, bersifat mudah tenggelam.
  5. Tunggulah waktu minimal satu jam dari proses pencampuran dengan koagulan dan tunggulah waktu 3 jam untuk penambahan zat yang akan mnjernihkan air sehingga air layak untuk dikonsumsi, setelahnya maka air bersih sudah dapat siap digunakan untuk kepentingan air bersih siap pakai. Ulangilah hal yang sama dengan zat dan penaambahan koagulan baru untuk setiap proses penjernihan dilakukan, dan kebersihan wadah penampungan harus dijaga.
  6. Untuk menanggulangi atau mengatasi berbagai kendala yang dihadapi, misalnya oada bak penampungaan trdapat bebrapa jasad renik seperti bintik jentik nyamuk, maka dilakukan proses ulang yang harus menjaga kebersihan, dengan menambahkan kaporit yang berfingsi untuk membunuh kuman yang ada pada wadah atau bak penampungan air. Wujud daun dan biji kelor dapat dilihat di bawah ini.
Daun Kelor

Gambar 1: Daun kelor (foto: dokumen penulis)

Batang dan Bijih Kelor

Gambar 2: Batang dan bijih kelor (foto: dokumen penulis)

Teknologi tepat guna, merupakan teknologi yang sesuai dengan negara yang berkembang atau daerah yang berada jauh dan terbelakang di negara industri, yang mana kemungkinan kekurangan dana dan kurang kemampuan dalam mengoperasikan dan memelihara teknologi tinggi.

Dalam prakteknya adalah sesuatu yang dideskripsikan sebagai teknologi yang sederhana dan kebanyakan sebagai teknologi permulaan yang dapat secara efektif dapat mencapai tujuan yang dimaksud. Karakteristik dari teknologi ini adalah biaya sangat rendah, menggunakan tanaman herbal, menggunakan potensi tanaman lokal dan membutuhkan sedikit pemeliharaan. Semakin sering pemeliharaan dapat dikatakan sebagai tepat guna, bila pemeliharaan dapat diatasi oleh keahlian yang ada secara setempat, peralatan, dan bahan yang memadai.

Teknologi tepat guna dipandang sebagai teknologi yang dapat sesuai dengan lebih dari satu atau lebih penggunaan tertentu, khususnya digunakan oleh warga setempat atau dilakukan oleh anggota dari komunitas tertentu seperti Lembaga Sosial Masyarakat yang menangani kepedulian lingkungan. Sebagai contoh adalah penggunaan secara langsung dari energi surya di India, yang sampai sekarang mengalami peningkatan pengguna karena berhasil guna dan berkualitas bagi penduduk pribumi pada khususnya dan warga atau penduduk sekitar pada umumnya.

Komunitas Auroville di Pondicherry India, telah memasang “Solar Bowl” yang besar, digunakan sebagai alat masak energi surya. Digunakan ditempat yang memiliki iklim yang memungkinkan matahari bersinar dengan cerah. Teknologi tepat guna tidak berarti teknologi yang rendah. Penggunaan cahaya dari lampu LED kadang dapat digunakan di daerah yang terpencil dimana energi kebutuhan LED sangat sedikit sehingga dapat menghemat energi.

Dengan mengutamakan biaya yang rendah, penggunaan bahan bakar fosil yang sedikit, dan menggunakan sumber daya kearifan lokal dapat memberikan keuntungan dan peningkatan kualitas kehidupan yang keberlanjutan.

KENDALA YANG DIHADAPI

Ketercapaian program pengolahan air bersih dengan memanfaatkan getah dan bijih kelor di pedesaan, mengalami banyak kendala antara lain :

  1. Sangat minimnya pemahaman penduduk mengenai perlunya air bersih bebas kuman yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan.
  2. Dengan pemahaman yang minimalis, maka kebutuhan sumber daya alam dan sumber daya manusia menjadi tidak seimbang.
  3. Air yang dihasilkan masih mengandung sedikit bakteri patogen.
  4. Bahan baku yang diperoleh dari alam sekitar merupakan sumber daya alam yang sukar duperbaharui.
  5. Proses pengolahan sederhana ini sangat mendukung prokasih, tetapi berdampak pada pemberdayaan sumber daya alam yang semakin menipis.
  6. Air yang dihasilkan dari pengolahan ini, belum mampu mewakili standarisasi kriteria air bersih.

FAKTOR FAKTOR PENDUKUNG

Terdapat unsur-unsur yang secara nyata mendapat porsi yang menjanjikan, untuk dapat dikembangkan menjadi pengolahan air berskala besar dan bernilai bisnis kearifan lokal. Hal ini didukung adanya bebeapa factor, antara lain:

  1. Melimpahnya sumber air yang berasal dari mata air sumber alam dan sumber air baku.
  2. Pemanfaatan tanaman yang sangat tidak banyak diminati dan tidak banyak dikonsumsi sebagai tanaman sayur untuk makanan, dan ini  menjadi tanaman kelor mwmpunyai manfaat yang berfungsi ganda dan berdaya guna tinggi serta memiliki daya saing yang cukup signifikan.
  3. Kebutuhan akan air bersih yang setiap tahun berikutnya semakin lama semakin meningkat, karena kesadaran akan pentingnya kelangsungan hidup manusia semakin bertambah berkualitas.

ALTERNATIF SOLUSI

Semaksimal kita melaksanakan terobosan dalam inovasi terpadu untuk memanfaatkan sumber daya local dan sumber daya manusia yang ada, penggunaan getah dan biji kelor ini, belum dilakukan secara serius dan belum dilaksanakan secara cerdas penduduk dan maksimal.

Hal ini disebabkan oleh belum terpenuhinya persyaratan biologikal untuk menyakinkan bahwa air hasil proses sudah merupakan air bersih.

Pemikiran pilihan atau alternatif yang dapat ditimbulkan adalah :

  1. Penggunaan bahan alam untuk kepentingan industri di pedesaan sedikit menimbulkan pencemaran yang baru, sehingga dampak yang ditimbulkan tidak terlalu signifikan.
  2. Biaya yang digunakan relatif dapat terjangkau oleh masyarakat di pedesaan, yang pada umumnya berpencaharian sebagai petani dan peternak, sehingga besaran biaya tidak banyak mempengaruhi perekonomian pedesaan.
  3. Proses praktis dari pengolahan ini, menyebabkan setiap keluarga dapat melakukannya untuk kepentingan mendapatkan air bersih siap pakai dengan biaya ringkas dan sarana praktis.Pengaruh kesehatan terhadap pola ini tidaklah berdampak, karena bahan tanaman dasar yang digunakan adalah bahan alami atau herbal yang erasal dari kearifan lokal..
  4. Semaksimal mungkin dengan pembelajaran ini, para penduduk khususnya dapat belajar dari alam dan untuk lestarinya lingkunga

SIMPULAN

Dari pemaparan proses diatas, ternyata keseimbangan sistim dan ekosistim harus dilakukan dengan asas keseimbangan antara ekosistim dan lingkungan. Hal ini diperoleh dari pemanfaatan bahan dari sumber daya alam berjenis tanaman, yang dapat digunakan sebagai bahan penjernihan air secara sederhana dan tepat guna, disisi lain tanaman tersebut dianggap sebagai tanaman yang tidak menarik perhatian publik dan dibeberapa kelompok penduduk, tanaman kelor ini difungsikan berbeda yaitu untuk melakukan hal yang mistik sehingga banyakpenduduk melakukannya dengan tidak maksimal, tidak serius dan setengah hati karena diyakini akan mengganggu kehidupannya, anggapan yang keliru.

Kita sebagai makhluk hidup memerlukan kesempurnaan dalam menyeimbangkan antara kebutukan dan peranan lingkungan. Oleh karena itu, pemanfaatan bahan alam ini diupayakan sebagai tanaman obat multi guna yang dapat meningkatkan taraf kesehatan mesyarakat yang berkualitas.

REKOMENDASI OPERASIONAL

Pada perumusan pembuatan media penggumpal untuk proses air bersih ini, masih banyak terdapat kelemahan. Oleh karena itu, penulis berharap beberapa kelemahan perjalanan proses penjernihan air ini, dapat menjadi bahan untuk penelitian lebih lanjut dan dapat digunakan secara berkelanjutan dalam menyusun tulisan  ini. Semoga bermanfaat.

BIODATA

NAMA             : Hj. TRIANA SANTA ANDRIANI, S.Pd

NIP.                 :  19640315 199412 2 002

UNIT KERJA   : SMA NEGERI BATURRADEN




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *