PEMANFAATAN “LINGKUNGAN “ SEBAGAI MEDIA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS BAGI SISWA SMP NEGERI 3 BANYUMAS

supeno

ABSTRAK

Pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran dalam menulis dilaksanakan  SMP Negeri 3 Banyumas bertujuan (1) meningkatkan  motivasi belajar siswa, (2) mengurangi kejenuhan dan kebosanan, (3) mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik. Metode yang digunakan pengamatan/observasi lingkungan. Hasil yang dipeoleh adalah  meningkatnya keterampilan siswa menulis. Prosentase  siswa yang berkategori baik naik dari     20 %  menjadi 85 %, kategori sedang menurun dari  25% turun menjadi 10%, dan berkategori kurang menurun  dari 55%  menjadi 5 %.

Kata kunci : Media, lingkungan, menulis

PENDAHULUAN

       Pembelajaran menulis merupakan salah satu pembelajaran yang dirasakan berat oleh siswa. Terutama ketika siswa memulai membuat suatu tulisan. Meskipun menulis sering dihadapi oleh siswa namum ketika hendak memulai menulis masih banyak mengalami kesulitan. Keterampilan menulis merupakan keterampilan bahasa yang aktif produktif, kompleks dan terpadu yang berupa pengungkapan dan yang diwujudkan secara tertulis. Keterampilan menulis merupakan  keterampilan yang menuntut penulis untuk menguasai berbagai unsur diluar kebahasaan dan mampu mengasosiasikan dengan pengalamannya dan mengaplikasikan ide tulisan.

Sejalan dengan diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah Menengah Pertama yang telah cukup lama guru dituntut mampu melakukan perubahan dan inovasi dalam proses pembelajaran  yang mengarah pada tercapainya tujuan pembelajaran. Semua perubahan itu merupakan aktivitas yang mengarah pada peningkatan kualitas pembelajaran, baik inovasi dalam pemilihan metode, strategi pembelajaran dan media pembelajaran.

Proses kegiatan pembelajaran menulis, selain dituntut untuk memahami kurikulum dan menguasai materi pembelajaran, guru juga harus mampu  menentukan bahan pembelajaran, guru harus menentukan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, kemampuan apa yang dikembangkan, menentukan metode yang tepat, juga menentukan media pembelajaran. Guru yang kreatif akan selalu mempersiapkan media pembelajaran untuk menciptakan suasana pembelajaran yang komunikatif. Suasana yang komunikatif akan tercipta jika guru mampu mengembangkan variasi dalam pembelajaran, sehingga  dalam proses kegiatan belajar mengajar  yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa , serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan. Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Namun dalam pelaksanaannya sering kali tidak disadari, bahwa masih banyak kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas peserta didik. Proses pembelajaran di kelas pada umumnya lebih menekankan pada aspek kognitif, sehingga kemampuan mental yang dipelajari sebagian besar berpusat pada pemahaman bahan pengetahuan dan ingatan. Dalam situasi yang demikian biasanya peserta didik dituntut untuk menerima apa-apa yang dianggap penting oleh guru dan menghafalnya. Guru pada umumnya kurang menyenangi suasana pembelajaran yang para peserta didiknya banyak bertanya mengenai hal-hal di luar konteks yang diajarkan. Melihat kondisi yang demikian, maka aktivitas dan kreativitas para peserta didik terhambat atau tidak dapat berkembang secara optimal. Banyak cara untuk menciptakan suasana belajar kondusif yang dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitas belajar secara optimal, sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa. Salah satunya, yaitu pemanfaatan lingkungan sekitar untuk pembelajaran.

Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran mengacu kepada Standar Isi yang tertuang di dalam Permendiknas Nomor  22 Tahun 2006. Dalam Standar Isi mata pelajaran Bahasa Indonesia kompetensi dasar yang dapat menggunakan media pembelajaran lingkungan adalah  kelas VII semester 1 menulis buku harian atau pengalaman pribadi dengan memerhatikan cara pengungkapan dan bahasa yang ekspresif; semester 2 menulis puisi berkenaan dengan keindahan alam siswa kelas VIII semester 1 menulis teks berita secara singkat,padat dan jelas, menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang tepat,semester 2 menulis puisi bebas dengan memperhatikan unsur persajakan dan siswa kelas IX semester 1 menulis cerpen dari peristiwa yang pernah dialami, semerter 2 menulis surat pembaca tentang lingkungan.

Berkaitan dengan permasalahan di atas penulis tertarik untuk memanfaatkan lingkungan  sebagai media dalam pembelajaran menulis di SMP Negeri 3 Banyumas. Harapan penulis pemanfaatan media lingkungan dalam proses pembelajaran tidak membosankan dan menjenuhkan siswa.

PEMBELAJARAN MENULIS

  1. Konsep Pembelajaran Menulis

                Setiap guru bahasa Indonesia haruslah menyadari serta memahami benar bahwa Keterampilan menulis, menuntut penguasaan aspek bahasa yang meliputi (a) penguasaan secara aktif sejumlah besar perbendaharaan kata,     (b) penguasaan kaidah-kaidah sintaksis secara aktif, (c) kemampuan menemukan gaya (genre) yang paling cocok untuk menyampaikan gagasan, dan (d) tingkat penalaran atau logika yang dimiliki seseorang (Keraf, 2004:35). Menurut  Ariadinata (2009:5) menulis merupakan sarana paling ampuh untuk menyampaikan gagasan. Seorang penulis yang baik, mampu menyampaikan gagasan dengan baik pula. Amatlah pantas, jika di negara-negara maju pendidikan di sekolahnya, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi meletakkan kewajiban menulis sebagai sebuah kewajiban yang harus ditempuh. Oleh karena itu, penulis yang baik perlu memperhatikan beberapa syarat mutlak yang harus dikuasai di antaranya: (a) kemampuan menggali masalah, (b) kemampuan menuangkan gagasan ke dalam kalimat dan paragraf, (c) menguasai teknik penulisan seperti penerapan tanda baca (pungtuasi), dan (d) memiliki sejumlah kosa kata yang diperlukan.

         Guru bahasa Indonesia harus dapat menerapkan startegi pembelajaran yang menarik bagi siswa sehingga dalam  pembelajaran menulis  siswa dapat menuangkan ide atau gagasan dengan memanfaatkan lingkungan. Siswa sudah semestinya dapat berpikir, berkreasi, dan berkomuikasi baik lisan maupun tulisan dengan bahasa Indonesia secara logis, langsung, dan lancar. Dengan begitu, suatu saat akan dihasilkan karya-karya besar dari orang Indonesia dengan bahasa yang mantap. Hal itu tentunya harus menjadi obsesi guru bahasa Indonesia.

  1. B. Karakteristik Pembelajaran Menulis

                Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh siswa. Konsep pembelajaran menurut Corey dalam Sagala (2003:61) adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan. Pembelajaran menulis mengandung arti menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca langsung lambang- lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.

Dalam pelaksanaan pembelajaran menulis, guru hendaknya memahami karakteristik keterampilan menulis  karena ini sangat menentukan ketepatan penyusunan perencanaan, Dengan memahami karakteristik tersebut, guru bahasa Indonesia dapat merencanakan, melaksanakan dan menilai pembelajaran dengan baik. Sudah dapat dipastikan tanpa  memahami karakteristik keterampilan menulis,  guru yang bersangkutan akan mengalami kesulitan dalam menyusun perencanaan, pelaksanaan dan penilian pembelajaran menulis yang akurat, bervariasi dan menarik. Ada empat karakteristik  pembelajaran menulis. Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang kompleks. Penulisan sebuah karangan yang sederhana  sekalipun menuntut kepada penulisnya kemampuan memahami apa yang hendak ditulis dan bagaimana cara menulisnya.
  2. Keterampilan menulis condong kearah skill atau praktek. Keterampilan menulis lebih banyak praktek daripada teori.
  3. Keterampilan menulis bersifat mekanistik. Ini berarti bahwa penguasaan keterampilan menulis tersebut harus melalui latihan dan praktek.
  4. Penguasaan keterampilan menulis harus melalui kegiatan yang bertahap dan akumulatif. Berlatih menulis yang tidak terarah apalagi kurang diawasi guru membuat kegiatan siswa tidak terarah bahkan sering membingungkan siswa.

Hakikat Menulis

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pikiran atau gagasan dan untuk menyampaikan pesan (komunikasi) melalui bahasa tulis sebagai alat atau medianya, sehingga mudah untuk dipahami oleh pembaca. Kemampuan menulis merupakan kemampuan yang kompleks, yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsur yang terlibat, yaitu: penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, saluran atau media berupa tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan.

Tarigan (1994:3) menyatakan menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis, penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Selain itu, Tarigan (1994:21) mendeskripsikan menulis yaitu menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut.

Akhadiah (1988:2) mengatakan bahwa kemampuan menulis merupakan kemampuan yang kompleks, yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Menulis karangan yang sederhana, secara teknis seseorang dituntut memenuhi persyaratan dasar seperti menulis karangan yang rumit. Suparno (2004:13) mendefinisikan bahwa menulis sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsur yang terlibat: penulis sebagai penyampai pesan (penulis), pesan atau isi tulisan, saluran atau media berupa tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan.

  1. Tujuan Menulis

                  Tujuan menulis pada dasarnya adalah sarana  untuk menyampaikan  pendapat atau gagasan agar dapat dipahami dan diterima orang lain. Dengan demikian tulisan, menjadi sebagai salah satu sarana  berkomunikasi  yang cukup efektif  dan efisien untuk menjangkau khalayak masa yang luas. Tujuan menulis adalah sebagai berikut:

  1. Menginformasikan segala sesuatu, baik itu fakta, data maupun peristiwa termasuk pendapat  dan pandangan  terhadap fakta, data dan peristiwa  agar tentang berbagai hal  yang dapat maupun yang terjadi di muka bumi.
  2. Membujuk, melalui tulisan seseorang penulis mengharapkan kepada pembaca untuk menentukan sikap , apakah akan menyetujui atau mendukung  yang dikemukakan. Penulis harus mampu membujuk  dan meyakinkan pembaca  dengan menggunakan bahasa yang persuasif.
  3. Mendidik adalah salah satu tujuan dari komunikasi melalui tulisan. Melalui membaca hasil tulisan  wawasan pengetahuan seseorang  akan terus bertambah, kecerdasan terus diasah yang akhirnya akan menentukan perilaku seseorang.
  4. Menghibur, fungsi dan tujuan menghibur dalam komunkasi, bukan monopoli media massa, radio televisi, media cetak dapat pula berperan  dalam menghibur kepada khalayak pembacanya.

Jenis – Jenis Menulis

  1. Eksposisi

Eksposisi disebut juga dengan pemaparan  yaitu salah satu bentuk karangan  yang berusaha  menerangkan, menguraikan atau menganalisis suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan dan pandangan seseorang. Parera (1993:5) mengemukakan “Seseorang pengarang eksposisi  akan mengatakan, saya akan menceritakan kepada kalian semua tentang kejadian  dan peristiwa ini  dan menjelaskan agar Anda dapat memahaminya”

  1. Deskripsi

Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata suatu benda, tempat,  suasana atau keadaan. Penulis deskripsi mengharapkan pembacanya melalui tulisannya, dapat ‘melihat’ apa yang dilihatnya, dapat ‘mendengar’ apa yang didengarnya, ‘merasakan’ apa yang dirasakannya.

  1. Argumentasi

Argumentasi merupakan tulisan  yang bertujuan membuktikan  pendapat penulis meyakinkan atau mempengaruhi pembaca  agar menerima pendapatnya.

  1. Persuasi

Persuasi adalah tulisan yang menghimbau yang dapat membangkitkan pembaca untuk meyakini dan menuruti himbuan implisit  maupun eksplesit yang dilontarkan oleh penulis.

MEDIA PEMBELAJARAN MENULIS

Dalam proses pembelajaran kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting, karena dalam kegiatan tesebut ketidakjelasan bahan  dapat dibantu  dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada peserta didik dapat disederhanakan  dengan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu  guru ucapkan, baik melalui kata-kata atau kalimat tertentu, bahkan keabstrakan bahan  dapat dikonkritkan dengan media.

Berkaitan dengan penjelasan di atas, berikut dikemukakan beberapa prinsip yang dapat digunakan untuk memilih dan menentukan media pembelajaran menulis. Menurut Nana Sujana   dalam Media (2005:13-14) mengatakan prinsip untuk penggunaan  media dalam bahasa adalah sebagai  berikut 1) Menentukan jenis media dengan tepat, artinya, sebaiknya pendidik memilih terlebih dulu media manakah yang sesuai  dengan tujuan dan bahan pembelajaran yang akan diajarkan. 2) menetapkan atau memperhitungkan subyek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan  apakah penggunaan media  itu sesuai  dengan tingkat kematangan/kemampuan anak didik. 3) Menyajikan media dengan tepat, artinya teknik dan metode penggunaan media dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode, waktu dan sasaran yang ada. 4) Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat. Artinya kapan dan dalam situasi mana, pada waktu mengajar apa media digunakan. Tentu tidak setiap saat atau selama proses pembelajaran terus menerus menjelaskan sesuai dengan media pembelajaran.

Pemanfaatan Lingkungan sebagai Media dalam Pembelajaran Menulis

   Pemanfaatan Lingkungan adalah menggunakan alam yang ada disekitar kita. Menurut Oemar Hamalik (2004: 195) lingkungan (environment) sebagai dasar pengajaran adalah faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting. Sehingga pemanfaatan lingkungan bisa dijadikan media dalam metode pembelajaran. Sudjana (2002: 39) Juga menjelaskan hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan.

Dalam proses pembelajaran guru berusaha menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran  belajar  sehingga  siswa  menjadi aktif dalam pembelajaran yang berdampak pada hasil belajar siswa yang baik.

Hasil pemberlajaran yang penulis lakukan di kelas VIII SMP Negeri 3 Banyumas diketahui adanya peningkatan yang signifikan  dalam keterampilan menulis  mengunakan  lingkungan sebagai media pembelajaran.:

Tabel Peningkatan keterampilan Menulis

Klasifikasi Sebelum tindakan mengunakan media lingkungan Setelah menggunakan media lingkungan Presentase Peningkatan
Baik 20 % 85 % 65 %
Sedang 25% 10 % 15 %
Kurang 55 % 5 % 50 %

                 Berdasar tabel di atas terdapat kecenderungan meningkatnya keterampilan siswa menulis. Hal tersebut ditandai bertambahnya prosentase  siswa yang berkategori baik dari 20 %  menjadi 85 %, kategori sedang menurun dari  25% turun menjadi 10%, dan berkategori kurang menurun  dari 55%  menjadi 5 % .

            Salah satu media pembelajaran  yang sangat baik untuk digunakan adalah lingkungan. Ada beberapa kelebihan lingkungan yang akan didapat jika guru menggunakannya dalam kegiatan pembelajarannya, misalnya:

  1. Lingkungan Adalah Media Belajar Riil, Bukan Tiruan atau Model.

                 Bila guru memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, ini berarti guru telah menggunakan sumber belajar riil (sesungguhnya), bukan berupa tiruan atau model. Tentu bila menggunakan sumber belajar yang riil maka kualitasnya lebih baik bila dibandingkan menggunakan model atau tiruan yang tentu memiliki keterbatasan-keterbatasan.

  1. Pembelajaran Menjadi Lebih Menarik

                 Siswa akan lebih tertarik dengan sesuatu yang bersifat nyata dan asli dibanding tiruan atau model. Lingkungan sebagai media  adalah objek yang menarik untuk dipelajari. Dengan menariknya media pembelajaran, maka siswa tentu akan lebih bersemangat dan termotivasi.

  1. Lingkungan memberikan pembelajaran bermakna

                 Sebagai media  belajar riil dan menarik, lingkungan akan memberikan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Pembelajaran bermakna amat penting bagi mereka sehingga tujuan pembelajaran atau kompetensi yang diharapkan akan dapat mereka capai dengan baik.

  1. Mengaktifkan Belajar Siswa

                 Belajar dengan menggunakan lingkungan sebagai media pembelajaran akan membuat siswa aktif. Ini dikarenakan mereka akan lebih mudah berinteraksi dengan lingkungan. Adanya interaksi dalam pembelajaran akan memberikan kontribusi yang positif pada proses pembelajaran. Siswa yang mungkin pasif selama pembelajaran reguler di kelas biasanya akan lebih terlibat dalam pembelajaran saat terjun ke lingkungan.

  1. Memperkaya Sumber Media Di Kelas

                 Pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran   bagi siswa tentu saja akan menambah ragam dan memperkaya sumber belajar lain di kelas. Siswa menjadi tidak hanya duduk-duduk di kelas dan belajar seperti biasa. Banyak variasi yang dapat dilakukan guru bila menggunakan media pembelajaran berupa lingkungan. Ini akan membantu siswa mengatasi kebosanan belajar di kelas.

  1. Menumbuhkan Rasa Cinta Terhadap Lingkungan

                 Bila siswa berhasil memaknai lingkungan yang mereka pelajari, maka akan muncul dampak pengiring yang amat penting, yaitu rasa cinta terhadap lingkungan sekitar.

KESIMPULAN

    Pemanfaatan lingkungan merupakan salah satu media pembelajaran yang baik untuk diterapkan dalam proses belajar, karena dapat menumbuhkan minat dan semangat peserta didik. Hal ini dapat diterapkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya pada pembelajaran menulis. Karena siswa bisa mengamati apa yang ada di dalam lingkungan dan menjadikan apa yang siswa lihat sebagai salah satu sumber inspirasi untuk membuat suatu tulisan.

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.  Jakarta: PT Gelora Aksara Pramata.

Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan kependidikan Bahasa.2010. Modul Suplemen MGMP Bermutu Pembelajaran Menulis. Jakarta: Depdiknas

Keraf, Gorys. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Parera, Jos Daniel. 1993. Menulis Tertib dan Semantik. Jakarta: Erlangga.

Suparno.2004. Keterampilan Dasar Menulis .Jakarta: UT

Tarigan, Henri Guntur.1993. Menulis Sebagai Suatu keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tim Penyusun, 2006. Peraturan menteri Pendidikan Nasional  Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi  untuk Satuan Pendidikan  Dasar dan Menengah , Jakarta: Depdiknas

Sagala, 2007. Belajar dan Pembelajaran. Alfabeta : Bandung

Nama        : Supeno, S.Pd

NIP           : 19620211 198703 1 006

Pangkat     : Pembina TK I/ IV b

Unit Kerja : SMP Negeri 3 Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *