Pembelajaran Kompetensi Dasar Pembacaan Cerpen pada Peserta Didik Kelas VII SMP

Pembelajaran Kompetensi Dasar: Pembacaan Cerpen pada Peserta Didik Kelas VII SMP Negeri 1 Kembaran Melalui Pemanfaatan Perpustakaan

Pembelajaran Kompetensi Dasar: Pembacaan Cerpen pada Peserta Didik Kelas VII SMP Negeri 1 Kembaran Melalui Pemanfaatan Perpustakaan

Sri Redjeki Muljaningsih, M.Pd.- Guru SMPN 1 Kembaran

Latar Belakang

Kegiatan pembelajaran pada Kurikulum KTSP tidak hanya dilaksanakan di dalam kelas. Pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan di mana saja, antara lain di lingkungan sekolah, laboratorium baik laboratorium bahasa maupun IPA, juga dapat pula dilaksanakan di perpustakaan.

Kegiatan pembelajaran yang melibatkan guru dan peserta didik ini semestinya dapat dilaksanakan secara bervariasi dan disesuaikan dengan materi pembelajarannya. Guru tidak hanya mengajak peserta didik di dalam kelas. Hal ini akan menjadikan peserta didik merasa jenuh. Kejenuhan peserta didik berada di dalam kelas akan berpengaruh pula tentunya pada prestasi peserta didik. Suasana hidup akan tercipta jika guru sebagai faktor utama dalam kegiatan pembelajaran ini memiliki kreativitas dalam pembelajarannya.

Kegiatan pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia sangat memungkinkan untuk menjadikan ruang pepustakaan sebagai sarana dalam pelaksanaan pembelajaran. Peserta didik dapat memanfaatkan sumber belajar seperti buku bacaan, kamus, dan buku penunjang lainnya untuk memperdalam dan menguasai materi bahasa Indonesia. Hal tersebut dipertegas pula dalam Modul Pendidikan dan Latihan Kepala Perpustakaan Sekolah (2014: 1) bahwa perpustakaan sekolah dewasa ini bukan hanya merupakan unit kerja yang menyediakan bacaan guna menambah pengetahuan dan wawasan bagi murid, tetapi juga merupakan bagian yang integral dalam proses pembelajaran.

Kompetensi dasar “Pembacaan Cerpen” merupakan salah satu materi pembelajaran pada mata pelajaran bahasa Indonesia yang  dapat  dilaksanakan dengan menggunakan perpustakaan. Peserta didik dapat leluasa untuk berkreativitas dan bekerja sama dengan peserta didik  yang lain. Mereka akan dapat memanfaatkan apa saja yang ada di perpustakaan untuk mendukung mereka dalam belajar. Peserta didik yang satu dengan yang lainnya dapat berinteraksi di perpustakaan tanpa merasa tertekan.

Mengacu pada fenomena tersebut, maka penulis akan mencoba mengupas artikel yang berjudul “Pembelajaran Kompetensi Dasar: Pembacaan Cerpen pada Peserta Didik Kelas VII SMP Negeri 1 Kembaran melalui Pemanfaatan Perpustakaan”..”

Rumusan Permasalahan Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Bagaimana pembelajaran Kompetensi Dasar: Pembacaan Cerpen pada peserta didik Kelas VII SMP Negeri 1 Kembaran melalui Pemanfaatan Perpustakaan?”

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan tujuan pembelajaran di perpustakaan, antara lain:

  1. mengenal lebih dekat perpustakaan di SMP Negeri 1 Kembaran.
  2. memanfaatkan perpustakaan sebagai pelaksanaan pembelajaran: Kompetensi Dasar: Pembacaan Cerpen pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Kembaran.
  1. Kajian Pustaka
  2. Hakikat Pembacaan Cerpen

Membaca merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh sebagian orang sehari-hari. Hal ini juga dilaksanakan setiap hari oleh peserta didik. Kegiatan tersebut juga merupakan salah satu aspek berbahasa Indonesia. Henry Guntur Tarigan (1979 : 7) menyebutkan  bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Selanjutnya, dipandang dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi ( a recording and decoding process), … sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis ( written word) dengan makna bahasa lisan ( oral language meaning ) yang mencakup  pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna.

Demikian pula dengan Mansoer Pateda (1989: 92) mengungkapkan bahwa  membaca adalah suatu interpretasi simbol-simbol tertulis atau membaca adalah menangkap makna dari rangkaian huruf tertentu. Berpijak dari kedua pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa membaca merupakan suatu proses yang dilakukan oleh seseorang dalam usaha memahami simbol-simbol yang ada dalam bahasa tulis untuk mengetahui pesan yang disampaikan oleh penulis. Adapun yang dibahas dalam artikel ini adalah kata pembacaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 111) disebutkan bahwa pembacaan adalah proses atau cara membaca.

Adapun cerpen juga merupakan salah satu karya sastra yang berbentuk prosa. Cerpen ini dijadikan salah satu materi yang harus dipelajari oleh peserta didik.  Sesuai dengan singkatannya dikatakan bahwa cerpen adalah cerita pendek. Akan tetapi, kita tidak tahu ukuran panjang pendek teks cerita tersebut. Nurgiyantoro (2005: 10) mengemukakan bahwa berdasarkan panjang pendeknya membagi cerpen menjadi tiga, yakni cerita yang pendek (short short story), cerita yang panjangnya cukupan (middle short story), dan cerpen yang panjang (long short story).

Demikian pula dengan Nugroho (2005: 287) mengemukakan pula bahwa cerpen merupakan cerita fiksi yang hanya terdiri atas beberapa halaman; atau sekitar seribuan kata. Berdasarkan kedua pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa cerpen merupakan cerita yang pendek yang tidak dapat ditentukan ukuran panjang pendeknya teks yang dimungkinkan hanya terdiri atas beberapa halaman saja.

Adapun ciri-ciri cerpen dapat diketahui dari pernyataan yang dikemukakan oleh Ahmad Badrun (1983: 102) yaitu:

  1. Cerita pendek mengandung interpretasi pengarang tentang kehidupan, baik secara langsung atau tidak langsung.
  2. Dalam cerita pendek harus menimbulkan satu efek dalam pikiran pembaca dan juga harus menarik perhatian
  3. Cerita pendek mengandung detail dan insiden yang dipilih sebagai dan dapat menimbulkan pertanyaan dalam pikiran pembaca.
  4. Jalan cerita pendek dikuasai oleh sebuah insiden
  5. Dalam cerita pendek harus ada pelaku utama
  6. Cerita pendek menyajikan satu kesan tunggal
  7. Cerita pendek menyajikan satu emosi saja
  8. Cerita pendek bergantung pada satu situasi dan hanya satu situasi
  9. Jumlah cerita pendek dibawah 10.000 kata dan tidak lebih dari 33 halaman kuarto spasi rangkap
  10. Bahasa cerita pendek lebih tajam, sugesti dan padat.

Mengacu pada hakikat membaca dan cerpen maka Pembacaan cerpen yang diharapkan dalam kompetensi dasar tersebut adalah proses atau cara membaca cerpen yang dilakukan oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajarannya.

  1. Hakikat Perpustakaan

Setiap sekolah tentu tidak terlepas dengan perpustakaan. Ruang ini yang akan menyediakan berbagai buku pelajaran dan buku-buku penunjang. Kemajuan suatu sekolah ditunjang oleh kemajuan perpustakaan. Ruang ini juga berhubungan erat dengan guru sebagai pengajar.

Melaksankan Pembelajaran di Perpustakaan

Melaksankan Pembelajaran di Perpustakaan

Mudyana dan Royani mengemukakan bahwa perpustakaan sekolah adalah sarana penunjang pendidikan di satu pihak sebagai pelestari ilmu pengetahuan dan di lain pihak sebagai sumber bahan pendidikan yang akan diwariskan kepada generasi yang lebih muda. Secara nyata perpustakaan sekolah merupakan sarana untuk proses belajar dan mengajar bagi guru maupun bagi murid (Sinaga, 2005: 6). Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Trimo yang mengatakan bahwa perpustakaan adalah sekumpulan bahan pustaka, baik yang tercetak maupun yang lainnya pada suatu tempat tertentu yang telah diatur sedemikian rupa untuk mempermudah pemustaka mencari informasi yang diperlukannya dan yang tujuan utamanya adalah untuk melayani kebutuhan informasi masyarakat yang dilayaninya dan bukan untuk diperdagangkan (Sinaga, 2005: 220).

Dengan pernyataan kedua pakar tersebut maka penulis dapat menggarisbawahi bahwa perpustakaan dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran guru dalam menyampaikan materi pembelajaran karena di dalamnya terdapat sekumpulan bahan pustaka.

Adapun manfaat perpustakaan sekolah menurut Bafadal (2008), antara lain:

  1. Perpustakaan sekolah menimbulkan kecintaan siswa terhadap membaca
  2. Perpustakaan sekolah memperkaya pengalaman belajar siswa
  3. Perpustakaan menanamkan kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya siswa mampu belajar mandiri
  4. Perpustakaan sekolah mempercepat proses penguasaan teknik membaca.
  5. Perpustakaan sekolah membantu perkembangan kecakapan berbahasa.
  6. Perpustakaan sekolah melatih murid ke arah tanggung jawab.
  7. Perpustakaan bsekolah memperlancar murid dalam tugas sekolah.
  8. Perpustakaan sekolah membantu guru-guru menemukan sumber-sumber pengajaran.
  9. Perpustakaan sekolah membantu siswa, guru dan anggota staff sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi.

Adapun fungsi perpustakaan sekolah ditekankan kepada pendidikan, yaitu yang dirumuskan ke dalam 3 bagian:

  1. Bagi siswa: untuk kepentingan proses belajar sehingga dapat berprestasi di dalam belajarnya.
  2. Bagi guru: dalam hal penambahan ilmu pengetahuan, untuk mengadakan penyelidikan ilmiah demi kemajuan ilmu pengetahuan dan prestasi dirinya.
  3. Bagi masyarakat: untuk mencari bahan yang diinginkannya yang tidak ada di perpustakaan umum. Misalnya riwayat perkembangan perpustakaan sekolah yang bersangkutan.(A.R. Ibnu Ahmad Shaleh, 1987: 17)
Pembelajaran di Perpustakaan

Menerangkan tentang materi yang akan dipelajari

  • Pembahasan

Kegiatan pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia diawali dengan guru  memilih materi pembelajaran yang dapat dilaksanakan di perpustakaan. Guru terlebih dahulu menghubungi petugas perpustakaan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran tersebut.  Peserta didik kelas VII yang kebetulan  berjadwal mata pelajaran bahasa Indonesia segera diajak oleh guru untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Pada pembelajaran pertama yang dilaksanakan Selasa, 19 April 2016 yang secara rinci bahwa peserta didik kelas VIID pada jam pelajaran ke-5 sampai dengan ke-6 mereka pergi ke perpustakaan untuk mencari dan menentukan cerpen yang akan dibacakan di depan teman-temannya. Demikian pula peserta didik kelas VIIC pada jam pelajaran ke-7.

Setelah mereka menemukan cerpen yang diinginkan, guru memberikan arahan kepada peserta didik untuk membaca cerpen tersebut terlebih dahulu di tempat duduk masing-masing. Pada peserta didik kelas VIID dapat leluasa membaca buku cerpen tersebut di perpustakaan karena waktu pembelajaran pada hari tersebut dua jam pelajaran. Sedangkan peserta didik kelas VIIC baru mereka memperoleh buku cerpen yang sesuai dengan keinginannya.

Pembelajaran yang dilaksanakan di perpustakaan menjadikan peserta didik kelas VIID berantusias untuk membaca cerpen tersebut dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.  Peserta didik terlihat rileks pada hari tersebut. Walaupun AC di ruangan tersebut mati, tidak mengurangi peserta didik untuk menikmati pembelajaran bahasa Indonesia. Peserta didik leluasa untuk membaca cerpen tersebut.

Pembelajaran pada hari berikutnya adalah Kamis, 21 April 2016 tepatnya pada jam pelajaran ke-5 sampai dengan 7 guru mengajak peserta didik kelas VIIC untuk belajar kembali di perpustakaan. Mereka pun sama dengan kelas sebelumnya. Mereka merasa senang melaksanakan pembelajaran di perpustakaan. Hal tersebut dijadikan mereka untuk penyegaran karena merasa jenuh selalu berada di dalam kelas setiap kegiatan pembelajarannya. Pada materi pembelajaran ini guru akan mengajak peserta didik untuk menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini” dengan harapan peserta didik bisa mengingat kembali jasa-jasa yang diberikan beliau kepada rakyat Indonesia khususnya kaum wanita Indonesia yang menjadikan kaum wanita Indonesia bisa memiliki pendidikan dan berkedudukan sejajar dengan kaum pria. Guru pun mengajak peserta didik untuk bisa meniru seperti apa yang dilakukan beliau. Setelah itu, guru mulai menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan yang akan dicapai pada pembelajaran hari itu.

Pada pembelajaran hari itu guru mengajak peserta didik membaca cerpen di depan kelas secara individu.  Guru menyajikan materi terlebih dahulu tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam membacakan teks cerpen. Kemudian, guru menugaskan kepada peserta didik untuk memilih dan membaca buku cerita yang disukainya. Setelah dirasa cukup, guru mempersilakan peserta didik untuk menempati tempat duduknya melanjutnya materi. Materi tersebut adalah menuntut peserta didik untuk maju membaca buku cerita dengan memperhatikan aspek-aspek seperti: intonasi yang meliputi volume keras lembutnya suara, tempo cepat lambatnya suara, dan sebagainya, penampilan peserta didik semestinya dapat berkomunikasi dengan audiens sehingga seolah-olah audiens merasa diperhatikan oleh pembaca, gestur si pembaca yang meliputi gerakan tubuh peserta didik pada saat membaca cerpen.  Tidak kalah pentingnya tentang pembacaan isi cerpen yang menuntut kelancaran peserta didik dalam membaca cerpen.

Guru memanggil peserta didik satu per satu. Semua peserta didik berusaha untuk berkonsentrasi mempersiapkan diri. Guru mempunyai cara tersendiri untuk membuat peserta didik selalu siap. Cara tersebut adalah memanggil peserta didik menggunakan angka yang bisa berupa tanggal pertemuan, tanggal lahir pahlawan, dan sebagainya. Karena pada hari itu bertepatan dengan hari Kartini maka yang dipanggil terlebih dahulu adalah peserta didik dengan nomor urut 21. Peserta didik tersebut ternyata tidak berangkat ke sekolah pada hari itu. Guru pun memanggil peserta didik berikutnya dengan nomor urut 4 yang artinya angka bulan kelahiran Ibu Kartini. Satu per satu peserta didik dipanggil secara acak. Hal tersebut ternyata dapat mengurangi kegaduhan peserta didik di perpustakaan.

Setelah peserta didik satu per satu maju. Guru pun langsung memasukkan nilai tersebut di komputer. Guru memberikan penilaian mengacu aspek-aspek sebagai berikut: intonasi yang berhubungan dengan kerasnya volume, penampilan yang berhubungan dengan kesiapan mereka maju dan disertai dengan mimiknya, tidak kalah pentingnya adalah gestur atau gerakan anggota tubuh. Peserta didik juga tidak lupa dengan aspek isi yang berhubungan dengan kelancaran membacanya. Sampai akhirnya jam terakhir mulai selesai peserta didik pun sudah selesai melaksanakan tugas membaca cerpen. Guru memberikan refleksi pada pembelajaran hari tersebut.

Pada kegiatan pembelajaran terakhir yang dilaksanakan pada Sabtu,  23 April 2016 tepatnya pada jam pelajaran ke-3 sampai dengan ke-4 melibatkan kelas yang  terdahulu. Kelas tersebut adalah kelas VIID. Peserta didik di kelas tersebut merasa antusias diajak belajar bahasa Indonesia di perpustakaan. Materi pembelajaran yang disampaikan di kelas tersebut sama dengan materi kelas VIIC. Materi tersebut adalah Pembacaan Cerpen. Walaupun pada pertemuan sebelumnya peserta didik sudah mengunjungi perpustakaan, mereka masih tetap antusias untuk belajar di sana. Mereka membaca buku-buku bacaan sebentar khususnya buku yang dibaca adalah cerpen. Guru mulai menjelaskan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang akan dipelajarinya. Materi pembelajaran mulai disampaikan oleh guru. Peserta didik tenang dan konsentrasi untuk mendengarkan penjelasan dari guru. Setelah detil guru memberikan pemahaman tentang materi tersebut,  guru pun memberi tugas kepada peserta didik untuk mempersiapkan membaca teks cerpen di depan. Mereka diberi waktu lima menit. Setelah itu, guru memanggil peserta didik secara bergiliran tetapi acak. Mereka terlihat siap dan berkonsentrasi dalam membaca. Guru memberikan rambu-rambu yang harus diperhatikan pada saat maju membaca cerpen. Rambu-rambu tersebut sama dengan yang disampaikan kepada peserta didik kelas VIIC. Setelah salah satu peserta selesai membacakan cerpen, guru memberikan selingan dengan mempersilakan kepada peserta didik yang lain untuk memberikan tanggapan/komentar tentang penampilan temannya tersebut. Mereka terlihat senang dan tidak merasa tertekan. Tidak terasa kegiatan pembelajaran telah dilaksanakan selama dua jam pelajaran. Guru pun memberikan refleksi tentang pembelajaran pada saat itu.

  1. Hasil Pembelajaran

Pertemuan kedua merupakan pertemuan yang digunakan oleh guru untuk memberikan penilaian terhadap peserta didik yang sudah membaca cerpen. Guru menyuruh peserta didik membaca cerpen dengan harapan mereka sudah mengenal cerpen yang akan dibacanya di depan.Peserta didik kelas VIIC telah melaksanakan pembelajaran Pembacaan Cerpen pada Kamis, 21 April 2016 dan peserta didik kelas VIID pada Sabtu, 23 April 2016. Aspek yang dijadikan penilaian pembacaan cerpen telah disebutkan di atas, yaitu: intonasi, gestur, isi, dan penampilan.

 Dengan dilaksanakan di kedua kelas yaitu kelas VIIC dan VIID dapat diperoleh nilai sebagai berikut ini.

Tabel 1

Rata-Rata Nilai Pembacaan Cerpen Peserta Didik Kelas VIIC dan VIID

SMP Negeri 1 Kembaran di Perpustakaan

No Kelas Jumah Peserta Didik Rata-Rata Nilai tiap Aspek Rata-Rata Nilai
isi Penampilan Intonasi Gestur
1 VIIC 33 95 87 80 79 82,72
2 VIID 32 94 87 87 80 81,80

Berdasarkan penilaian yang dilakukan terhadap dua kelas yaitu kelas VIIC dan VIID dapat disebutkan peserta didik dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Adapun rincian pembahasan masing-masing aspek sebagai berikut:

  1. Isi

Peserta didik kelas VIIC sudah mencapai 95% sudah lancar dalam membaca cerpen. Mereka sudah dapat menguasai isi cerpen. Akan tetapi,  ada 5% peserta didik yang belum lancar membacanya. Mereka masih tersendat-sendat membacanya sehingga peserta didik yang lain yang mendengarkan agak sulit untuk memahaminya. Setelah satu per satu peserta didik mendapatkan giliran maka guru pun langsung memberikan kesempatan untuk peserta didik yang masih kurang lancar membacanya untuk membaca cerpen kembali di depan. Akhirnya mereka cukup lancar membacanya. Guru memberikan tugas untuk sering membaca di luar pembelajaran.

Peserta didik kelas VIID sudah mencapai 96% sudah lancar dalam membaca cerpen. Akan tetapi, ada 6% peserta didik yang belum lancar membaca cerpennya. Mereka pun masih tersendat-sendat membacanya seperti yang dialami oleh peserta didik kelas VIIC. Guru pun memberikan kesempatan kembali untuk tampil membaca cerpen. Pada akhirnya mereka dapat dikatakan sudah cukup lancar dalam membacanya.

Akhirnya berdasarkan hasil yang telah dicapai oleh kedua kelas tersebut bahwa kedua kelas sudah tuntas dalam memahami isi cerpen yang telah dibacanya.

  1. Penampilan

Berdasarkan rata-rata nilai dari aspek penampilan maka dapat dikatakan bahwa peserta didik kelas VIIC dan kelas VIID sudah mencapai 87% yang telah tuntas dan nilainya melampaui KKM yang telah ditentukan pada mata pelajaran bahasa Indonesia yaitu KKM 78. Pada aspek penampilan ini peserta didik sudah memiliki keberanian untuk tampil di depan. Mereka merasa senang berada di perpustakaan. Mereka dapat leluasa berekspresi sehingga dapat dikatakan bahwa mereka sudah menguasai panggung saat mereka membaca cerpen.

  1. Intonasi

Intonasi merupakan salah satu yang menentukan tingkat keberhasilan dalam kegiatan membaca cerpen. Intonasi dapat meliputi keras lemahnya volume suara, cepat lambatnya tempo yang digunakan, jeda, ataupun irama. Pada aspek intonasi ini kelas VIIC sudah mencapai 80% dan kelas VIID sudah mencapai 87%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kedua kelas tersebut sudah dapat membaca cerpen. Walaupun masih ada beberapa peserta didik yang masih terlihat canggung untuk berganti suara antara suara wanita dan suara laki-laki. Akan tetapi, sebagian besar sudah mencapai tuntas dan melampaui batas KKM. Suara mereka sudah dapat didengar dalam satu perpustakaan ini.

  1. Gestur

Gestur merupakan gerakan anggota badan yang mereka ekspresikan berdasarkan teks yang dibacanya. Berdasarkan hasil penilaian terhadap kedua kelas maka dapat dikatakan bahwa kedua kelas sudah mencapai ketuntasan. Akan tetapi, tingkat ketuntasan mereka masih tipis. Kelas VIIC rata-rata nilai aspek gestur mencapai 79% sedangkan kelas VIID sudah mencapai 80%.

Berdasarkan penilaian yang dilakukan terhadap kedua kelas VIIC dan VIID maka rata-rata nilai secara keseluruhan aspek pada peserta didik kelas VIIC adalah 82,72 sedangkan peserta didik kelas VIID nilai rata-rata keseluruhan aspek 81,80. Dengan hasil penilaian yang telah dilakukan terhadap peserta didik kelas VIIC dan VIID diperoleh rata-rata nilai 82,26.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran kompetensi dasar: Pembacaan Cerpen yang telah dilaksanakan di  perpustakaan telah berhasil dengan baik. Dengan hasil pembelajaran tersebut telah membuktikan bahwa pembelajaran tidak hanya dapat dilaksanakan di ruang kelas saja. Akan tetapi, peserta didik perlu diberi suasana baru agar memiliki pola berpikir yang lebih luas. Suasana baru tersebut tidak lain adalah perpustakaan. Dengan mereka dibawa ke  perpustakaan mereka dapat mengembangkan kemampuan dirinya dalam kegiatan pembelajaran seperti membaca cerpen. Mereka dapat memanfaatkan buku bacaan yang berupa cerpen untuk digunakan dalam pembelajaran. Hal ini dapat membantu guru dalam rangka meningkatkan pemahaman peserta didik tentang cerpen.

Penutup

Simpulan

Kegiatan pembelajaran di perpustakaan dilaksanakan oleh guru supaya peserta didik tidak merasa jenuh berada di dalam kelas. Peserta didik memerlukan kegiatan pembelajaran yang bervariatif. Pembelajaran di perpustakaan dapat pula meningkatkan prestasi belajar peserta didik terutama pada kompetensi dasar “Pembacaan Cerpen”

Kegiatan pembelajaran di perpustakaan tidak hanya dilaksanakan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini tidak menutup kemungkinan kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran yang lainnya. Guru dapat menjadikan perpustakaan sebagai sumber belajar. Di perpustakaan banyak kita temui buku-buku bacaan yang berhubungan dengan mata pelajaran.

Saran

Penulis menghimbau kepada guru mata pelajaran untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai salah satu tempat belajar. Hal tersebut tidak hanya sekarang tetapi di masa-masa yang akan datang. Kita berikan kesempatan kepada peserta didik untuk menimba ilmu dan menumbuhkan kegiatan gemar membaca melalui pemanfaatan perpustakaan. Kita sukseskan harapan Indonesia untuk menjadikan generasi muda yang gemar membaca.

Daftar Pustaka

Badrun, Ahmad. 1983. Pengantar Ilmu Sastra. Surabaya: Usaha Nasional.

http://pengertian-pengertian-info.blogspot.co.id/2015/05/pengertian-dan-fungsi-perpustakaan.html

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitity Press.

Pateda, Mansoer. 1989. Analisis Kesalahan. Ende, Flores: Nusa Indah.

Shaleh, A.R. Ibnu Ahmad. 1987. Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: PT Hidakarya Agung.

Tarigan, Henry Guntur. 1979. Membaca: Sebagai Suatu Keterampilan Membaca. Bandung: Angkasa.

Tim Diklat Perpustakaan, Universitas Negeri Yogyakarta. 2014. Modul Pendidikan dan Latihan Kepala Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta UPT Perpustakaan.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *