PTK SD PEMBELAJARAN KOOPERTIF MODEL JIGSAW TEKNIK PERMAINAN TTS

 PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERTIF MODEL JIGSAW TEKNIK PERMAINAN TTS UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS MATERI CARA-CARA MENGAHADAPI BENCANA ALAM DI KELAS VI SD NEGERI 3 SENDEN, NGAWEN, KLATEN

winarno

Oleh:

WINARNO, S.Pd.SD

ABSTRAK

 

Dalam kegiatan ini peneliti melaksanakan pembelajaran IPS materi pokok cara-cara menghadapi bencana alam Melalui Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Teknik Permainan TTS di Kelas VI SD Negeri 3 Senden”dengan dua siklus perbaikan yang masing-masing dilaksanakan selama 4 jam pelajaran. Pada siklus pertama hasil yang dicapai masih kurang maksimal ini dilihat dari hasil refleksi siklus pertama. Ketercapaian rata-rata nilai hanya mencapai 64,00, ketuntasan belajar hanya mencaapai 58,82 %. Hanya 10 siswa yang tuntas dari 17 siswa kelas VI SD Negeri  3 Senden. Setelah peneliti melaksanakan siklus II, peneliti merasa cukup berhasil dalam pembelajaran, hal ini terlihat dari refleksi siklus II hasil analisis nilai rata-rata mencapai 78,75. Ini sudah melebihi KKM yang ditetapkan yaitu 65,00. Dan siswa yang tuntas 16 (94,12 %) dari 17 siswa SD Negeri  3 Senden. Dengan menerapkan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Teknik Permainan TTS maka hasil pembelajaran IPS materi pokok cara-cara menghadapi bencana alam dapat mencapai hasil yang maksimal.

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, Metode Diskusi, Permainan TTS, Hasil Belajar


LATAR BELAKANG

Dalam kegiatan pembelajaran IPS materi pokok cara-cara menghadapi bencana alam, nilai akhir atau tes formatif rata-rata kelas hanya mencapai 48,00. Dari 17 siswa kelas VI SD Negeri  3 Senden hanya 7 siswa  (41,18 %) yang memperoleh nilai di atas KKM yang ditentukan yaitu 65,00, dan 10 siswa masih di bawah KKM dari jumlah siswa kelas VI SD Negeri  3 Senden.

Hasil belajar IPS yang sangat rendah merupakan suatu permasalahan yang harus segera diatasi. Untuk mengatasi masalah tersebut guru harus menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dapat tercipta bila guru menggunakan metode yang bervariasi dan media pembelajaran yang relevan dengan materi IPS yang akan diajarkan serta menggunakan pendekatan pembelajaran yang tepat. Siswa akan merasa tertarik mempelajari IPS, mengamati dan membuktikan sendiri, sehingga akan memperkuat kemampuan kognitifnya dengan demikian pembelajaran menjadi lebih bermakna dan tujuan pembelajaran IPS SD dapat tercapai.

Dalam memperbaiki proses pembelajaran, peneliti menetapkan pemecahan masalah dengan menggunakan pendekatan kooperatif dengan metode diskusi dan Permainan TTS. Dengan pendekatan kooperatif, pembelajaran menjadi lebih aktif dan kreatif serta menyenangkan.

Dari uraian latar belakang masalah tersebut  maka peneliti ingin  melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “ Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Teknik Permainan TTS untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPS Materi Cara-Cara Menghadapi Bencana Alam di Kelas VI SD Negeri 3 Senden Tahun Pelajaran 2014/2015”.

Sesuai dengan latar belakang permasalahan di atas, disusun rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimanakah cara meningkatkan kualitas pembelajaran IPS kelas VI SD Negeri  3 Senden, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Rumusan masalah di atas dapat dirinci sebagai berikut:

  • Apakah melalui Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Teknik Permainan TTS dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam pembelajaran IPS kelas VI SD Negeri 3 Senden ?
  • Apakah melalui Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Teknik Permainan TTS dapat meningkatkan keterampilan guru dalam pembelajaran?
  • Apakah dengan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Teknik Permainan TTS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 3 Senden pada materi cara-cara menghadapi bencana alam.

Menurut Siddiq (2008), pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang (guru atau yang lain) untuk membelajarkan siswa yang belajar. Pada pendidikan formal (sekolah), pembelajaran  merupakan tugas yang dibebankan kepada guru, karena guru merupakan tenaga profesional yang dipersiapkan untuk itu. Menurut Winataputra dkk, (2007), pembelajaran merupakan kegiatan untuk menginisisasi, memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik.

Menurut pasal 1 butir 20 Butir Nomor  20  tahun  2003  tentang   Sisdiknas (dalam Winataputra, 2007) yakni, “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.” Dalam konsep tersebut terkandung 5 konsep, yakni interaksi peserta didik, pendidik, sumber belajar dan lingkungan belajar. Menurut Hernawan dkk, 2008. Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan melalui usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar. Pembelajaran pada intinya merupakan suatu proses menciptakan kondisi yang kondusif agar terjadi interaksi pembelajaran. Konsep pembelajaran pada dasarnya terbagi kedalam dua konsep yang berlangsung secara bersamaan, yaitu proses belajar yang dilakukan oleh siswa dan proses mengajar yang dilakukan oleh guru.

Beberapa pengertian di atas dapat disatukan bahwa hakekat pembelajaran adalah suatu kegiatan dalam  proses belajar dan mengajar dimana terjadi komunikasi yang berarti antara siswa dengan guru yang didukung oleh sumber belajar dalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan.

Kata hasil belajar sering disebut prestasi belajar. Kata prestasi berasal dari Belanda yaitu ”prestatie” kemudian dalam bahasa Indonesia disebut prestasi yang artinya hasil usaha. Kata prestasi juga berarti kemampuan ketrampilan, sikap sesorang dalam menyelesaikan sesuatu (Arifin l,1999 :78). Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh setelah mengalami aktifitas belajar (Tri Anni, 2004: 4).

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, generalisasi yang berkaitan dengan isu social. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, an Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga Negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai.

Di masa yang akan dating peserta didik akan menghaapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi social masyarakat alam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.

Mata pelajaran IPS disusun secara sistemmatis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebuit diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.

Mata pelajaran IPS agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut; 1) mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat ddan lingkungannya, 2) memiliki kemampuan  dasar untuk berpikir logi an kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan social, 3) memiliki komitmen dan kesaaran terhadap nilai-nilai social an kemampuan, 4) memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama an berkompetensi alam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional an global.

Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Slavin (2007) pembelajaran kooperatif menggalakan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Model pemblajaran ini ini dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky. Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna, 1988:181).

Dalam model pembelajaran kooperatif ini guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak ahanya memberikan pengetahuan pada siswa tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya.

Menurut pandangan Piaget dan Vigotsky adanya hakikat sosial dari sebuah proses belajar dan juga tentang penggunaan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggotanya yang beragam, sehingga terjadi perubahan konseptual.

Berkaitan dengan karya vigotsky dan penjelasan Piaget, para konstruktivisme menekankan pentingnya interaksi dengan teman sebaya, melalui pembentukan kelompok belajar. Dengan kelompok belajar memberikan kepada siswa secara aktif dan kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan siswa kepada teman akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan lebih jelas bahkan melihat ketidaksesuaian pandangan mereka sendiri.

Pembelajaran koopratif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 – 6 orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati, 2002 : 25). Dalam sistim belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya. Model pmbelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan beelajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Sanjaya, 2006:239).

Tom V. Savage (1987 : 217) mengemukakan bahwa cooperative learning adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok. Terdapat empat hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yakni : (1) adanya pesrta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main (role) dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok. Berkenaan dengan pengelompokkan siswa dapat ditentukan berdasarkan atas : (1) minat dan bakat siswa, (2) latar belakang kemampuan siswa, (3) perpaduan antara minat ddan bakat siswa dan latar kemampuan siswa. Nurulhayati, (2002:25-28), mngemukakan lima unsur dasar model cooperative learning yaitu : (1) ketergantungan yang positif, (2) pertanggungan individual, (3) kemampuan bersosialisasi, (4) tatap muka, dan (5) evaluasi proses kelompok.

Prosedur Pembelajaran Kooperatif

  1. Penjelasan Materi, tahap ini merupakan tahapan pnyampaian pokok-pokok materi plajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan tahpa ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran
  2. Belajar Kelompok, tahap ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
  3. Penilaian, penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan melalui tes atau kuis, yang dilakukan secara individu atau kelompok. Tes individu akan memberikan penilaian kmampuan individu, sedangkan klompok akan memberikan penilaian pada kmampuan kelompoknya, seperti dijelaskan Sanjaya (2006: 247). Hasil trakhir setiap siswa adalah menggabungkan keduanya dan dibagi dua.
  4. Pengakuan tim, adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadian, dengan harapan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi lebih baik lagi.

Model Jigsaw

Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (zigzag), yaitu siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mncapai tujuan bersama. Pada dasarnya dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke ddalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota berrtanggung jawab terhadap penguasaan setiap kompopnen/subtopic yang ditugaskan guru dengan sebaik-biknya. Siswa-iswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam (a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopic baghiannya, (b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopic bagiannya kepada teman kelompoknya semula. Setelah itu siswa itu kembali lagi kelompoknya masing-masing sebagai ahli dan mengajarkan subtopic baianya kepada teman kelompoknya. Dengan demikian setiap siswa dapat menguasai topik secara keseluruhan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang
  2. Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbea
  3. Anggota dari tim yang berbeda ddengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
  4. Setelah kelompok ahli berdiskusi , tiap anggota kembali ke kelompok asal dan menjelakan kepaa anggota kelompoknya tentang subbab yang mereka kuasai.
  5. Tiap tim ahli memprsentasikan hasil diskusi
  6. Pembahasan

Model pembelajaran kooperatif Jigsaw  adalah sebuah model belajar yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Seperti diungkapkan oleh  Lie (1999:73), bahwa “pembelajaran kooperatif model jigsaw merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri ari empat samapai enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.

Dalam model kooperatif jigsaw ini siswa memiliki banyak keesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari an dapat menyampaikan informasinya kepada kelompok lain.

 

HIPOTESIS TINDAKAN

Diduga dengan menerapkan Pendekatan Pembel;ajaran Kooperatif Model Jigsaw Teknik Permainan TTS pembelajaran IPS materi cara-cara mnghadapi bancana alam minat dan hasil belajar siswa Kelas VI SD Negeri  3 Senden meningkat secara optimal.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN  3 Senden Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VI sebanyak 17 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan. Waktu Penelitian selama 6 bulan mulai Bulan Januari sampai Juni 2015. Faktor-faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Rancangan yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Melalui tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap observasi, tahap refleksi. Prosedur yang digunakan adalah langkah pembelajaran Model Jigsaw.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut

  • Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang
  • Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbea
  • Anggota dari tim yang berbeda ddengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
  • Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan menjelakan kepaa anggota kelompoknya tentang subbab yang mereka kuasai.
  • Tiap tim ahli memprsentasikan hasil diskusi
  • Pembahasan

Hasil penghitungan dikonsultasikan dengan kriteria ketuntasan belajar siswa yang dikelompokkan ke dalam dua kategori tuntas dan tidak tuntas, dengan kriteria sebagai berikut :

Kriteria Ketuntasan Kualifikasi
≥ 65 Tuntas
< 65 Belum Tuntas

Data kualitatif berupa data hasil observasi aktifitas siswa dan aktifitas guru dalam pembelajaran kontekstual, serta hasil catatan lapangan dan angket dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif. Data kualitatif dipaparkan dalam kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas VI SD Negeri  3 Senden, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten dengan indikator sebagai berikut:

  • Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS menggunakan pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik.
  • Aktivitas guru dalam pembelajaran IPS menggunakan pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik.
  • 80% siswa kelas VI SD Negeri 3 Senden mengalami ketuntasan belajar individual sebesar ≥ 65 dalam pembelajaran IP

 

HASIL PENELITIAN

Hasil analisis terhadap hasil penilaian oleh seluruh siswa pada siklus I dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata tes formatif adalah 64,00 KKM yang telah ditetapkan yaitu 65 Jadi nilai rata-rata sudah melebihi KKM. Dilihat dari ketuntasan belajarnya 10 siswa tuntas atau sekitar 58,82 % dan yang belum tuntas ada 7 siswa atau 41,18 %. Kalau dilihat dari hasil analisis pembelajaran prasiklus yang prosentase ketuntasan belajarnya hanya mencapai 41,18 %, maka sudah ada peningkatan sebanyak 17,64  %.

Untuk penilaian aktivitas siswa dan hasil kerja kelompok dapat dijelaskan sebagai berikut; Kelompok Dahlia mendapat nilai 67,5 kategori Cukup, Kelompok Bugenvile nilai 65 ketegori kurang, Kelompok Mawar nilai 77,5 kategori Sudah Baik.

Penyebab Kegagalan dan Solusinya

Dalam pembelajaran masih ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, malu bertanya, tidak aktif dalam kerja kelompok. Belum memahami tugas yang diberikan dalam kegiatan kelompok.

Solusi untuk mengatasi kegagalan tersebut Peneliti akan selalu membimbing dan memberikan motivasi baik secara individu maupun kelompok  agar mereka turut aktif dalam kegiatan pembelajaran, dan memberikan penjelasan tentang tugas yang harus dikerjakan  dalam kelompok sehingga semua siswa memahami alur pembelajaran, dan guru menentukan anggota kelompok dengan bergantian sesuai dengan kemampuan intelgensi dan dapat memanfaatkan siswa yang pandai dalam setiap kelompok. Dalam permainan TTS Siswa membuat pertanyaan dan jawaban dan kolom TTS, kemudian hasil pekerjaan ditukar dengan kelompok lain (artinya yang mengisi TTS kelompok lain). Selanjutnya solusi ini akan digunakan untuk memperbaiki RPP siklus I menjadi RPP siklus II.

Hasil Penelitian Siklus II

Hasil analisis terhadap hasil penilaian dari seluruh siswa pada siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata tes formatif 78,75 KKM yang telah ditetapkan yaitu 65  Jadi nilai rata-rata sudah melebihi KKM. Siswa yang tuntas sebanyak 16 siswa, atau 94,12% dan yang belum tuntas hanya 1 orang atau 5,88 %. Berdasarkan hasil refleksi  di atas dapat dijelaskan bahwa perbaikan pembelajaran Siklus ke II telah berhasil, hal ini dilihat dari peningkatan ketuntasan belajar yaitu selisih ketuntasan belajar Siklus I dengan siklus II, Ketuntasan Belajar pada Siklus I  adalah 58,82 % sedangkan Ketuntasan Belajar pada Siklus II 94,12% , jadi ada peningkatan secara signifikan yaitu 36,70%. Data hasil aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan hasil dari kerja kelompok adalah; kelompok  Dahlia, Mawar, Melati memperoleh nilai dengan kategori Suah Baik.

Untuk mengetahui sejauh mana minat siswa terhadap kegiatan pembelajaran matematika dengan menerapkan pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Teknik TTS peneliti di akhir siklus membagikan angket sederhana terhadap siswa kelas VI SD Negeri  3 Senden, yang hasilnya menunjukkan bahwa 16 siswa menyatakan senang dan 1 orang menyatakan biaa saja.

PEMBAHASAN

Data kondisi awal (prasiklus) pembelajaran IPS Materi Cara-Cara Menghadapi Bencana Alam yaitu dari 17 siswa yang mengalami ketuntasan belajar hanya 7  siswa atau sekitar 41,18 %, dan yang belum tuntas 10 siswa atau 52,82 %. Data tersebut disajikan dalam tabel di bawah ini

 

Tabel 1 Ketuntasan Belajar Prasiklus

Jumlah Siswa Siswa yang Memperoleh Nilai
< 65 ≥ 65 T BT
17 10 7 7

 

10
100 % 52,82 %. 41,18 %, 41,18 %, 52,82 %.

Hasil Analisis Penilaian Siklus I

Hasil analisis terhadap hasil penilaian oleh seluruh siswa pada siklus I dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata tes formatif adalah 64 KKM yang telah ditetapkan yaitu 65  Jadi nilai rata-rata belum mencapai KKM. Dilihat dari ketuntasan belajarnya 10 siswa tuntas atau sekitar 52,82 %. dan yang belum tuntas ada 7 siswa atau 41,18 %,Data tersebut disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini:

Tabel 2 Ketuntasan Belajar Siklus I

Jumlah Siswa Siswa yang Memperoleh Nilai
< 65 ≥ 65 T BT
17 7 10 10 7
100 % 41,18 %, 52,82 %. 52,82 %. 41,18 %,

Hasil Analisis Penilaian Siklus II

Hasil analisis terhadap hasil penilaian dari seluruh siswa pada siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata tes formatif 78,75 KKM yang telah ditetapkan yaitu 65  Jadi nilai rata-rata sudah melebihi KKM. Siswa yang tuntas sebanyak 16 siswa, atau 93,75  % dan yang belum tuntas hanya 1 orang atau 6,25 %.

Tabel 3 Ketuntasan Belajar Siklus II

Jumlah Siswa Siswa yang Memperoleh Nilai
< 63 ≥ 63 T BT
17 1 16 16 1
100 % 5,88  % 94,12  % 94,12  % 5,88 %

 

Jika diperbandingkan mulai dari kegiatan pembelajaran prasiklus, siklus I, dan siklus II, maka hasil perbaikan pembelajaran mengalami peningkatan secara signifikan, hal ini terlihat dari hasil analisis prasiklus yaitu ketuntasan belajar hanya 41,18 %,pada siklus satu mengalami peningkatan yaitu menjadi 52,82 %.sedangkan ketuntasan belajar pada siklus II mencapai 94,12  % Bila data prosentase peningkatan ketuntasan belajar selama kegiatan PTK yang dilaksanakan disajikan dalam bentuk tabel adalah sebagai berikut :

Tabel 4 Prosentase Peningkatan Hasil Belajar

Siklus Ketuntasan Belajar
Prasiklus 41,18 %,
Siklus I 52,82 %.
Siklus II 94,12  %

 Dari tabel diatas penulis sajikan dalam diagram batang di bawah ini :

winar

Diagram  Prosentase Peningkatan Ketuntasan Belajar

 

Dari diagram prosentase di atas dapat disimpulkan bahwa, kegiatan perbaikan pembelajaran dari prasiklus ,Siklus I dan Siklus II, pencapaian ketuntasan belajar mengalami kenaikan yang signifikan, dan kalau dilihat dari hasil angket terhadap siswa tentang minat belajar yaitu 16 siswa merasa senang, 1 siswa biasa saja, , dengan demikian peneliti mengangap bahwa pembelajaran IPS Materi Cara-cara Menghadapi Bencana Alam, dengan menerapkan pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Teknik Permainan TTS model dapat meningkatkan minat serta hasil belajar siswa.

 

SIMPULAN

Dari hasil penelitian serta pembahasan pada Bab IV, dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan pendekatan Kooperatif Model Jigsaw Teknik TTS maka suasana pembelajaran akan lebih menarik dan menyenangkan anak sehingga mereka aktif dalam mengikuti pembelajaran dan hasil belajar pun mengalami peningkatan, secara rinci dapat dijelaskan :

  1. Belajar sambil bermain TTS dan dengan pemberian motivasi serta penguatan pada siswa, akan lebih meningkatkan aktivitas siswa sehingga hasil belajar pun meningkat secara signifikan.
  2. Terbukti bahwa Ketuntasan Belajar mengalami peningkatan dari mulai kegiatan pembelajaran Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II.
  3. Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Teknik Permainan TTS dapat membawa situasi belajar lebih menyenangkan dan aktivitas belajar serta hasil belajar siswa meningkat.

 

SARAN

Berdasarkan simpulan di atas, maka penulis menyarankan kepada semua guru khususnya guru di SD Negeri  3 Senden Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten,  agar dalam menyajikan pembelajaran hendaknya :

  1. Harus pandai-pandai menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna.
  2. Harus lebih mengenal model-model pembelajaran dan strategi pembelajaran dan memilih strategi/model apa yang paling tepat untuk menyajikan materi pembelajaran.
  3. Harus pandai-pandai memilih media/alat pembelajaran dengan tepat sesuai materi pembelajaran yang disajikan.
  4. Selalu memberikan bimbingan, motivasi, serta penguatan pada siswa baik secara individual maupun kelompok.
  5. Selalu menindak lanjuti disetiap akhir pembelajaran dengan memberikan Remedial dan pengayaan sebagai bahan pekerjaan rumah siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Siddiq, M. Djauhar. 2008. Pengembangan Bahan Pembelajaran SD. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Kurnia, Inggridwati. dkk. 2007. Perkembangan belajar peserta didik. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Purwanto. M Ngalim. 1997. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Winataputra, Udin,S. dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :

              Universitas Terbuka.

Winataputra, Udin,S. dkk. 2007. Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta :Universitas Terbuka.

BIODATA PENULIS

NAMA                                       : WINARNO, S.Pd.SD

NIP                                           : 19600414 197911 1 005

PANGKAT GOL /RUANG    : PEMBINA /IVA

JABATAN                                 : KEPALA SEKOLAH

UNIT KERJA                           : SD NEGERI 3 SENDEN

KECAMATAN                          : NGAWEN

KABUPATEN                           : KLATEN




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *