http://www.infopasti.net/penanaman-pendidikan-karakter-siswa-sekolah-dasar-melalui-tembang-macapat/

PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER SISWA SEKOLAH DASAR MELALUI TEMBANG MACAPAT

Kemajuan zaman yang berkembang semakin cepat, ilmu pengetahuan yang mudah diakses serta kemajuan teknologi yang semakin canggih, seharusnya tidak hanya meningkatkan tingkat kecerdasan intelektual tetapi juga kecerdasan moral dan karakter setiap individu. Akan tetapi pada faktanya, berbagai femomena yang terjadi akhir-akhir ini menunjukan betapa pentingnya kecerdasan intelektual yang perlu dimbangi dengan karakter dan moral yang terpuji.

Kekayaan warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai budi pekerti luhur juga seakan tertatih mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju. Memasuki era globalisasi kesenian budaya daerah mulai kehilangan pamornya. Salah satu seni warisa budaya jawa yang kini mulai kehilangan kejayaan adalah tembang macapat. Sangat mudah menemui peserta didik yang hafal dengan lagu-lagu ber-genre pop, dangdut, bahkan lagu-lagu yang berasal dari manca negara, namun akan sedikit sulit menemukan peserta didik yang gemar dan dapat menyanyikan tembang macapat, terlebih memaknai nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

Hal ini seharusnya menjadi ironi, mengingat tembang macapat bukan hanya sekedar salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik di jenjang pendidikan dasar atau menengah. Lebih dari itu tembang macapat adalah warisan budaya yang kaya akan pesan dan nilai-nilai moral yang patut dilestarikan dan dijadikan sebagai salah satu panduan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Edy Wedyawati (2008:225) yang mengungkapkan bahwa macapat merupakan sarana untuk mengintensifikan penghayatan nilai-nilai budaya sekaligus menanamkannya dalam sensitivitas keindahan. Hal tersebut didasarkan bahwa tembang macapat merupakan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur baik dari amanat yang tersirat ataupun tersurat dalam setiap liriknya maupun pengungkapannya melalui tembang yang telah mendarah daging sejak ratusan tahun silam.

Berdasar pada pendapat tersebut dapat dikakatakan bahwa macapat bukan sekedar warisan budaya yang berfungsi sebagai media hiburan saja, akan tetapi juga sebagai media penyalur nilai-nilai budi pekerti luhur dalam kehidupan. Hal tersebut seharusnya sejalan dengan pendidikan karakter yang tengah digadang-gadang dalam dunia pendidikan saat ini. Bahwa pengetahuan bukanlah tujuan akhir dari pendidikan. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, tetapi juga berkepribadian atau berkarakter sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang berlandaskan nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Sehingga dalam hal ini, tembang macapat yang merupakan warisan budaya bangsa yang kaya akan nilai-nilai budi pekerti luhur, bukan hanya sekedar sebagai salah satu kompetensi yang harus dikuasai baik di tingkat pendidikan dasar atau menengah. Tetapi nilai-nilai dalam tembang macapat baik yang tersirat maupun tersurat di setiap lirik-liriknya diharapkan mampu meresap kedalam jiwa peserta didik yang pada akhirnya tercermin dalam tingkah laku di kehidupan sehari-hari.

Oleh karenanya guru sebagai ujung tombak dalam dunia pendidikan, seyogyanya mampu menanamkan kecintaaan terhadap tembang macapat serta menggali dan menanamkan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam tembang macapat kedalam diri peserta didik.

Pendidikan Karakter

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, ahlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Sedangkan pendidikan karakter menurut Raharjo (dalam Kurniawan,2013, hlm.30) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai pondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasar pada pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendidikan karakter adalah proses pembentukan sifat-sifat kejiwaan atau budi pekerti setiap  individu sehingga terbentuk individu-individu atau generasi yang mempunyai budi pekerti luhur berlandaskan pada nilai-nilai yang diyakini.

Dalam pelaksanaannya, penanaman pendidikan karakter bukan hanya sekedar pembelajaran teoretis tentang nilai-nilai budi luhur melainkan pemahaman dan pengaplikasian nilai-nilai luhur oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Megawegi( 2009: 3). Sembilan pilar pendidikan karakter adalah sebagai berikut:

  1. Cinta tuhan dan alam semesta beserta isinya
  2. Tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian
  3. Kejujuran
  4. Hormat dan Santun
  5. Kasih sayang, Kepedulian, dan kerjasama
  6. Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah
  7. Keadilan dan kepemimpinan
  8. Baik dan rendah hati
  9. Toleransi, cinta damai, dan persatuan

Nilai-nilai Pendidikan Karakter yang terdapat dalam tembang Macapat

Tembang macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra. Disetiap gatra terdapat guru wilangan (jumlah suku kata) dan guru lagu (jatuhnya suara di akhir baris).

Tembang macapat merupakan karya sastra yang kaya akan makna. Nilai-nilai moral yang terkandung dalam tembang macapat baik yang muncul secara tersirat ataupun tersurat merupakan pesan yang perlu digali dan dikembangkan dalam upaya pembentukan karakter peserta didik.

Berikut disampaikan beberapa tembang macapat beserta gambaran secara umum nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

  1. Pocung

Pocung merupakan salah satu bagian dari tembang macapat. Pocung mempunyai watak gregeden kendho. Berikut merupakan salah satu contoh dari tembang pocung.

Ngelmu iku kalakone kanthi laku

Lekase lawan kas

Tegesekas nyantosani

Setya budya pangekese dur angkara

Secara garis besar tembang tersebut mengandung makna bahwa ilmu adalah sesuatu yang perlu diraih dengan tekad yang kuat. Apabila dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka akan menciptakan ketentraman dan menjauhkan dari watak angkara atau perilaku yang tidak terpuji.

Pesan atau amanat yang terdapat dalam tembang pocung sangat relevan jika diaplikasikan untuk para pembelajar. Bahwa Ilmu adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan. Ilmu ibarat benteng yang mampu mencegah dari perbuatan angkara. Ilmu dapat mendatangkan ketentraman. Tapi untuk memperolehnya tentu bukanlah hal yang mudah. Butuh ketekunan dan perjuangan dalam memperolehnya. Dari sini peserta didik dikenalkan pada jiwa pantang menyerah.

Jika dikaitkan dengan sembilan pilar pendidikan pendidikan karakter menurut Megawegi (2009 : 3), tembang pocung yang diantaranya mengandung semangat pantang menyerah sangat relevan untuk diajarkan kepada peserta didik. Untuk kemudian pesan yang terkandung didalamnya diimplementasikan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Sehingga jiwa pantang penyerah dapat tertanam dalam diri peserta didik dan pada akhirnya akan membudaya dalam sanubari setiap peserta didik.

  1. Gambuh

  Gambuh merupakan salah satu dari tembang macapat yang memiliki watak sumanak, sumadulur. Berikut merupakan salah satu contoh dari tembang gambuh.

Sekar gambuh ping catur

Kang cinatur polah kang kalantur

Tanpa tutur katula tula katali

Kadaluwarsa katutuh

Kapatuh pan dadi awon

    Gambuh merupakan salah satu bentuk nasihat yang diutarakan dengan bahasa penyampaian yang indah. Dalam tembang tersebut dijelaskan bahwa perilaku yang ‘keblabasan’ alias tidak tahu aturan dengan tanpa mengindahkan nasihat akan terjerat pada penderitaan. Dan jika hal ini dibiarkan dapat menjadi kebiasaan yang berakibat buruk.

         Tembang ini dapat dijadikan sebagai bahan perenungan, baik sebagai pendidik yang terbiasa menyampaikan nasihat, atau kepada peserta didik sebagai penerima nasihat. Sebagai pendidik hendaknya menyampaikan nasihat melalui bahasa yang mudah diterima, bahkan tidak perlu sampai menyakiti. Seperti halnya tembang gambuh yang menyampaikan nasihat melalui syair yang indah. Sedangkan bagi orang yang dinasehati (khususnya peserta didik), tembang ini seolah menjadi peringatan untuk tidak menjadi pribadi yang keras hati dengan selalu mengacuhkan setiap nasihat yang menghampiri. Penting bagi guru untuk menanamkan pentingnya menerima nasihat dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik bagi peserta didik. Karena jika kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik dibiarkan dikhawatirkan akan melekat pada diri peserta didik, sehingga pada akhirnya dapat membentuk karakter yang tidak terpuji. Dalam tembang ini juga diajarkan sifat persaudaraan yang dapat ditunjukan dengan saling mengingatkan pada sesuatu yang benar.

Jika dikaitkan dengan sembilan pilar pendidikan pendidikan karakter menurut Megawegi (2009:3), tembang gambuh mengandung nilai pendidikan karakter diantaranya sikap hormat dan santun, kepedulian serta pentingnya disiplin dalam menjalankan aktivitas atau kebiasaan-kebiasaan yang bersifat positif.

  1. Mijil

       Mijil merupakan salah satu tembang macapat yang mempunyai watak sereng, nepsu. Berikut merupakan salah satu contoh dari tembang mijil.

            Dedalane guna lawan sekti

            Kudu andhap aspor

            Wani ngalah, luhur wekasane

            Temungkula yen dipun dukani

            Bapak den simpangi

            Ana catur mungkur 

Secara garis besar tembang mijil, merupakan acuan bagi para pencari ilmu. Sikap rendah hati dalam mencari ilmu, berani mengalah, dan tidak membantah saat dinasehati. Tak melulu peserta didik tapi juga guru, karena sejatinya guru adalah pembelajar tak henti. Dalam tembang tersebut mengandung nasihat bahwa jalan untuk menuju kepandaian; kebijaksanaan harus ditempuh dengan rendah hati. Tidak merasa paling pintar, juga tidak sombong atau arogan dengan ilmu yang telah dimiliki. Melainkan sikap penuh ingin tahu karena merasa diri masih kurang dengan ilmu yang dimiliki.

Sikap seperti ini perlu ditumbuhkan sejak dini kepada peserta didik. Rasa ingin tahu dapat menumbuhkan peserta didik sebagai pembelajar yang kritis dan tidak mudah puas terhadap ilmu yang telah diperoleh. Sementara sikap tidak sombong dan arogan akan menjadikan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat dan tetap menghargai orang lain. Jika diibaratkan ilmu padi, semakin berisi maka akan semakin merunduk.

Selanjutnya adalah sikap berani mengalah. Mengalah bukan berarti kalah, bahkan dengan mengalah dapat meningkatkan kemuliaan budi. Sikap berani mengalah akan menghindarkan diri dari sifat egosentrisme.

Jika dikaitkan dengan sembilan pilar pendidikan pendidikan karakter menurut Megawegi (2009 : 3), maka tembang mijil mengandung nilai pendidikan karakter diantaranya sikap rendah hati, santun dan kerja keras dalam mencari ilmu.

Pemecahan Masalah

Membentuk karakter bukanlah hal yang mudah, terlebih setiap individu memiliki keberagamannya masing-masing. Tapi mengarahkan, membiasakan hingga membudayakan hal yang bersifat positif tentu bukanlah sesuatu yang mustahil.

Tembang macapat sebagai salah satu warisan budaya Jawa yang kaya akan nilai-nilai pendidikan karakter, ironisnya sedikit banyak mulai dilupakan di zaman yang semakin modern. Untuk itu, penanaman pendidikan karakter melalui tembang macapat perlu mendapat dukungan secara masif dalam pelaksanaannya. Guru sebagai ujung tombak dalam dunia pendidikan seharusnya tidak segan untuk terus belajar memperbarui ilmu yang telah dimiliki. Instansi pendidikan atau unit-unit pendidikan diharapakn mampu memfasilitasi kegiatan yang meningkatkan wawasan para pendidik, misal mengadakan workshop atau seminar mengenai tembang macapat. Perlombaan atau festival budaya Jawa juga bisa dijadikan alternatif lain untuk menumbuhkan semangat mempelajari budaya Jawa khususnya tembang macapat.

Sekolah sebagai tempat terselenggaranya pendidikan diharapkan dapat menjadi lingkungan yang kondusif untuk penanaman pendidikan karakter, pengembangan kecerdasan peserta didik, juga sebagai tempat pelestarian budaya dan penghayatan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh William Bennet (dalam Syamsul, 2013: 106) yang menyatakan bahwa sekolah memiliki peran yang sangat urgen dalam pendidikan karakter seorang peserta didik, sekolah merupakan salah satu wahana yang efektif dalam internalisasi pendidikan karakter peserta didik. Sesuai dengan yang diutarakan William bahwa apa yang terekam dalam memori anak didik disekolah akan mempunyai pengaruh besar bagi kepribadian atau karakter mereka pada dewasa kelak.

Penutup

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan untuk membentuk insan Indonesia yang cerdas, tetapi juga berkepribadian atau berkarakter. Dalam pelaksanaanya penanaman pendidikan karakter bukanlah hal yang dapat ditanamkan secara instan, melainkan membutuhkan proses panjang yang berkelanjutan serta dukungan secara masif oleh seluruh pihak.

            Tembang macapat bukan sekedar kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Lebih dari itu tembang macapat merupakan warisan budaya Jawa yang kaya akan nilai-nilai luhur. Nilai-nilai yang terdapat dalam tembang macapat diharapkan tertanam sebagai pedoman berperilaku sehingga menjadi identitas yang baik dalam diri seseorang yang kemudian menjadi kebiasaan dan menjadi karakter yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto, Joko; karsono dan Masturi. Pengembangan Media Pembelajaran Tembang Macapat Berbasis Video interaktif. Diakses tanggal 4 Juni 2016 dari jurnal.fib.uns.ac.id.

Kurniawan Syamsul.(2013).Pendidikan Karakter Konsepsi dan Implementasinya.Jogjakarta:Ar-ruzz media.

Khasanah, Dian Ulul. Pendidikan Karakter Melalui Dolanan Anak Tradisional sebagai jembatan        Antar kelas, Keluarga, dan Komunitas di Kampung Pintar Pandes Panggungharjo Sewon Bantul Yogyakarta. Diakses 4 Juni 2016 dari Digilib.uin.ac.id

Murwadi, Muh dan Marwanto. (2011). Tuntunan Sekar Macapat. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Diakses 10 Juni 2016. Dari qoqoazroqu.blogspot.com/2013/01/undang-undang-republik-indonesia-nomorhtml?m=1.

BIODATA PENULIS

Nama               : Anggri Laisaroh, S. Pd

NIP                 : –

Jabatan             : Guru Kelas

Unit Kerja       : SDN 4 Cirahab, UPK Lumbir




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *