PENDEKATAN PARTISIPATORIS SEBAGAI ALTERNATIF MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PKn GUNA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

PENDEKATAN PARTISIPATORIS SEBAGAI ALTERNATIF MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PKn GUNA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DI KELAS VII B SMP NEGERI 4 SUMBANG TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Oleh : Totok Joko Prasetya

ABSTRAK

Berdasarkan pengamatan dan evaluasi di lapangan banyak temuan yang menunjukkan bahwa hasil kegiatan pembelajaran  PKn masih sangat rendah. Hal tersebut menggerakkan peneliti untuk mengadakan penelitian memperbaiki kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya, meningkatkan  partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran PKn  tentang” hakikat dan arti penting hukum bagi warga negara”. Penelitian  dilaksanakan dalam dua siklus dan tiap siklus dua kali pertemuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan partisipatoris yang dirancang agar siswa terlibatlangsung dalam proses pembelajaran dan kejadian yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dipadukan dengan pengetahuan yang diperoleh siswa melalui guru sebagai transformator sehingga terjadi perubahan perilaku.

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I tertera angka ketuntasan siswa ada 24 siswa (77,41 %), sedangkan pada studi awal ada 13  siswa (41,93%). Ini menunjukan pelaksanaan perbaikan pembelajaran mengalami kenaikan  sebesar 35,48 %. Sedangkan partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran mengalami kenaikan 41,93 %, karena pada siklus I siswa yang berpartisipasi aktif  ada 24 siswa (77,41 % ) dari studi awal yang baru 13 siswa (41,93%). Pada  siklus II siswa yang tuntas meningkat, dari 31 siswa ( 77,41 %) di siklus I menjadi 27 siswa (87,10 %), atau mengalami peningkatan 9,69 %. Partisipasi aktif  siswapun makin meningkat  dengan persentase kenaikan 45,16 %. Di siklus I siswa yang berpartisipasi aktif 24  siswa ( 77,41 %) sedang pada siklus II menjadi 27 siswa (87,10 %).

Pendekatan partisipatoris dapat meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa kelas VII B SMP Negri 4 Sumbang Kabupaten Banyumas.

Kata Kunci    : hasil belajar, partisipasi siswa, pendekatan partisipatoris

PENDAHULUAN

Proses pembelajaran konvensional dimana siswa pasif hanya duduk,mendengar dan mencatat  sudah tidak sesuai dengan paradigma pendidikan  di abad milenium seperti tahun 2015 sekarang.Upaya gurudalam keberhasilan pembelajaran adalah dengan sekuat tenaga berusaha mengaplikasikan metode, dan media pembelajaran sesuai kurikulum yang berlaku.

Kualitas pembelajaran yang rendah juga dirasakan di SMP Negeri 4 Sumbang khususnya pada pembelajaran PKn, siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi PKn yang diberikan oleh guru. Hal ini dapat dilihatdari 31 siswa ada 18 siswa mendapat nilai dibawah KKM, 13 siswa di atas rata-rata kelas dan nilai ketuntasan hanya 41,93 %. Berdasar masalah yang dihadapi tersebut fokus penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan pemahaman siswa dalam pelajaran PKn, sehingga siswa mampu menguasai konsep yang memiliki kompleksitastinggi dalam pembelajaran agar hasil belajar siswa menjadi meningkat.

Metode partisipatoris sebagai alternatif meningkatkan kualitas pembelajaran PKn guna meningkatkan hasil belajar siswakelas VII B SMP Negeri 4 Sumbang,Kebupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2014/2015.

Berdasarkan diskusi dengan kepala sekolah  dan teman sejawat di SMP Negeri 4 Sumbang, terungkap beberapa masalah yang terjadi, yaitu : Siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, siswa cepat bosan dengan pelajaran PKn, partisipasi siswa dalam mengerjakan tugas rendah, keberanian siswa untuk bertanya rendah, hasil belajar siswa rendah.

Dengan melihat identitas masalah, kemudian menganalisis masalah tersebut maka ditemukan beberapa faktor yang menjadi penyebab kualitas pembelajaran PKn rendah adalah : a)Penjelasan guru terlalu cepat, sehingga banyak siswa yang belum memahami materi. b) Siswa cepat bosan karena pembelajaran monoton dan interaksi hanya satu arah. c)Partisipasi siswa dalam mengerjakan tugas rendah karena guru kurang optimal dalam melaksanakan penilaian. d)Partisipasi siswa rendah karena  metode yang digunakan kurang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. e) Guru kurang memberi kesempatan siswa untuk bertanya.

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang peneliti sampaikan adalah :metode partisipatoris dapat dijadikan sebagai alternatif meningkatkan kualitas pembelajaran PKn ,  dapat meningkatkan partisipasi belajar siswakelas VII B SMP Negri 4 Sumbang.

Setelah mengetahui penyebab masalah ketidakberhasilan siswa dalam pembelajaran PKn maka tujuan penelitian  ini adalah : Meningkatkan partisipasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn, meningkatkan kualitas pembelajaran PKn,

meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran PKn, meningkatkan hasil belajar siswa.

Perbaikan pembelajaran yang dilakukan guru melalui Penelitian Tindakan Kelas diharapkan bermanfaat bagi siswa, guru dan sekolah.

Manfaat bagi siswa yaitu meningkatkan hasil belajar dan kompetensi siswa pada aspek kognitif, afektik dan psikomotor, meningkatkan partisipasi dan keberanian siswa untuk bertanya, meningkatkan kedisiplinan siswa dalam mengerjakan tugas.

Manfaat bagi guru yaitu memperbaiki pembelajaran yang dikelola sehingga kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan,menumbuhkan rasa lebih percaya diri, berperan aktif dan kreatif mengembangkan metode mengajar yang sesuai dengan karakteristik pelajaran PKn.

Sedangkan manfaat bagi sekolah adalah sebagai bahan masukan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, memberikan sumbangan yang positif untuk kemajuan sekolah dengan melaksanakan pembelajaran PAIKEM, dan tercita iklim belajar yang kondusif di sekolah.

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif.  Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pembelajaran dilakukan.

Pendidikan formal guru adalah praktisi yang paling bertanggung jawab atas berhasil tidaknya program pembelajaran di sekolah, sebab guru merupakan ujung tombak dalam kegiatan pembelajaran ( Wihidmurni, 2008:66-67).

Di dalam proses pembelajaran dibutuhkan sebuah prinsip belajar seperti dikemukakan oleh (Rogers Anthony J. Sutich and Milles A Vich, 1969 dalam Noehi Nasution, dkk, 1991) mengemukakan prinsip belajar sebagai berikut :

Manusia mempunyai dorongan alamiah, untuk belajar ingin tahu melakukan eksplorasi dan mengasimilasikan pengalaman baru.

Belajar akan bermakna apabila materi yang dipelajari relevan dengan kebutuhan anak, dengan mengurangi ancaman eksternal seperti hukuman, penilaian, sikap merendahkan murid, mencemooh dan belajar atas inisiatif sendiri serta sikap mandi,  kreatifitas dan percaya diri .

Hasil belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan,baik secara individu maupun kelompok, yang diperoleh melalui perjuangan, keuletan diri, rintangan dan tantangan. Seseorang yang ingin meraih sukses dalam belajar harus menempuh beberapa jalan.

A.M.Sardiman (1988) mengatakan suatu rumusan bahwa belajar sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga psikopisik menuju perkembangan pribadi manusia secara utuh mencakup ramah kognitif, afektif dan psikomotorik, melalui proses belajar. Sedangkan W.J.S Poerwadarminta mengatakan bahwa prestasi belajar terdiri dari dua kata, prestasi dan belajar. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai sedangkan “belajar” adalah suatu aktifitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari.

Proses belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung interaksi aktif dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan ini relatif konstan (tetap) atau berbekas, W.S Winkel (1997:20). Setiap kegiatan belajar akan dapat merubah tingkah laku yang kesemuanya itu belum dimiliki.

Belajar menurut Brunner bahwa belajar dan persepsi merupakan kegiatan pengolahan informasi yang menemukan kebutuhan-kebutuhan untuk mengenal dan menjelaskan gejala-gejala di lingkungannya, model belajar Brunner disebut model belajar penemuan. (Diskovery Learning ).Sedangkan Gagne, mengatakan belajar itu merupakan suatu proses yang memungkinkan seseorang untuk mengubah tingkah lakuknya cukup cepat dan perubahan tersebut relatif tetap, sehingga perubahan serupa tidak perlu terjadi

Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kemamapuan berikir yang kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.

Dalam proses pembelajaran guru harus memiliki strategi. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian yang disebut metode mengajar. Strategi pembelajaran adalah tindakan strategi guru dalam merealisasikan perwujudan kegiatan pembelajaran aktual yang efektif dan efisien (Suprihadi, 1993:23). Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efekif dan efisien .

Pendekatan Partisipatoris

Pendekatan partisipatoris merupakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, menyenangkan dan merangsang motivasi perkembangan proses intelektual. Proses belajar mengajar mempunyai makna dan pengertian yang lebih luas dari pada pengertian mengajar, karena di dalamnya tersirat satu kesatuan kegiatan yang tidak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar yang terjalin dalam bentuk interaktif edukatif.

Balen (dalam Udin S Winataputra, 1993 : 9.4). ”Pengembangan ketrampilan tersebut yang harus dimiliki siswa adalah ketrampilan berfikir, ketrampilan sosial dan ketrampilan praktik, ketrampilan berfikir dikembangkan untuk melatih siswa berfikir logis dan sistematis”.

Melalui proses belajar mengajar dengan model pengembangan berpikir kritis, ketrampilan tersebut dapat dikembangkan dalam situasi belajar mengajar yang interaktif antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Interaksi tersebut disebut, sharing model .

Optimalisasi interaksi dalam proses belajar mengajar menggunakan pendekatan partisipatoris tergantung  beberapa faktor yang menyangkut kesiapan siswa dan guru adalah sebagai berikut :faktor minat dan perhatian, faktor motivasi, faktor latar belakang dan konteks, faktor perbedaan individu, faktor sosialisasi, dan lain-lain.

Disamping itu ada empat keterampilan yang harus dikuasai guruagar intesitas interaktif dalam KBM bisa efektif yaitu :kemahiran dalam memilih stimulus yang dapat menimbulkan reaksi siswa, mengklasifikasi pesan yang penting melalui pertanyaan,menangkap aksi dan reaksi siswa, dan kemahiran mengeteskan mata pelajaran agar terjadi KBM yang dialogistik tradisional.

Dari uraian tersebut pendekatan partisipatoris adalah metode dimana, siswa berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran disamping masing-masing siswa mempunyai ketrampilan.

Kerangka Berfikir

Dalam proses pembelajaran perlu digunakanmetode yang tepat agar siswa tidak merasa bosan, sehinnga siswa dapat belajar dengan aktif..

Pada kondisi awalsebelum pelaksanaan perbaikan pada pembelajaran mata pelajaran PKn, partisipasi siswa dalam  pelajaran PKn rendah, sehingga prestasi belajar siswa juga rendah.

Dengan masalah tersebut tindakan pembelajaran yang harus dilakukan guru yaitu melaksanakan penelitian untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pelajaran PKn.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan konsep tersebut, maka peneliti mengemukakan hipotesis yaitu sebagai berikut : pendekatan  partisipatoris  dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran PKndan meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn siswa kelas VII B SMP Negeri 4 Sumbang.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan kepada siswa Kelas VII B SMP Negeri 4 Sumbang, Kabupaten Banyumas, dengan jumlah siswa sebanyak 31siswa terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.

Waktu penelitian dilaksanakan pada semester gasal tahun pelajaran 2014/2015.Penelitian ini membutuhkan waktu empat  bulan yaitu di bulan Juli sampai Oktober 2014 , dengan rincian per siklus : siklus pertama tanggal 2 s.d 23 Agustus 2014, siklus kedua tanggal 1 s.d 27 September 2014.

Mata pelajaran yang menjadi kajian yaitu PKn materi pokok “Menjelaskan  Hakikat Hakikat dan Arti Penting Hukum Bagi Warga Negara”

Sumber data yang digunakan yaitu data primer Penelitian Tindakan Kelas adalah siswa Kelas VII B SMP Negeri 4Sumbang dan data sekunder yaitu kepala sekolah, guru lain dan lingkungan sekolah. Siswa memberi informasi (data) tentang hasil belajar dan penggunaan sumber belajar, guru memberikan informasi (data) tentang kondisi murid sekolah, proses belajar mengajar (kelebihan dan kelemahan) proses evaluasi dan dokumentasi lain yang diperlukan. Lingkungan memberi informasi tentang situasi dan kondisi proses belajar mengajar, dukungan kepala sekolah, dan sumber belajar.

Jenis Data yang digunakan yaitu data kuantitatif meliputi nilai hasil belajar siswa, hasil penilaian kelompok, Data kualitatif  meliputi respon, opini atau pendapat siswa tentang intervensi pembelajara, perhatian dan partisipasi  belajar siswa, tanggapan observer dalam mengamati proses pembelajaran,

Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan meliputi : 1) Nilai ulangan harian sebelum Penelitian Tindakan kelas 2) Nilai ulangan tiap siklus 3) Data keterlibatan siswa melalui pengamatan (observasi) 4) Wawancara digunakan untuk menggali kelemahan dan kelebihan pembelajaran. Adapun alat pengumpulan data melalui : lembar observasi,  wawancara, alat tes (penilaian)

Untuk menjamin kepercayaan data yang diperoleh melalui penelitian maka perlu dilakukan validasi data dengan cara trianggulasi yaitu dilakukan dengan  cek silang antara kepala sekolah dan guru lain,pengamatan terhadap proses pembelajaran kepada siswa dan guru, angket ketrelibatan siswa dalam pembelajaran PKn.

Dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas ini,  proses pengambilan data, peneliti dibantu oleh teman sejawat sebagai observer, yaitu :  Yahya, S.Pd yang bertugas mengobservasi kegiatan perbaikan pembelajaran.

Penelitian tindakan kelas ini dianggap berhasil apabila :sekurang-kurangnya 70% siswa memiliki partisipasi belajar PKn tinggi,sekurang-kurangnya 75% siswa memiliki prestasi  belajar PKn > KKM dan ketuntasan sebesar 85% dan pendekatan partisipatoris membuat siswa terlibat dalam proses belajar mengajar secara maksimal

Proses penelitian tindakan kelas (PTK) atau dalam istilah bahasa Inggris adalah Classroom Action Research (CAR), yaitu sebuah penelitian yang dilakukan di dalam kelas. Menurut Suharsini Arikunto (2006:2-3) di dalam penelitian tindakan kelas memiliki tiga pengertian yaitu :

1. Penelitian → menunjukkan suatu kegiatan mencermati atau objek dengan menggunakn cara dan aturan dan metodologi tertentu untuk memperoleh data dan informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.

2. Tindakan → menunjukkan pada suatu gerak kegiatan sengaja dilakukan denga tujuan tertentu. Dalam penelitian merupakan siklus kegiatan siswa.

3. Kelas → istilah kelas adalah sekelompok siswa dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.

Mills (2000:34) mendefinisikan penelitian tindakan kelas  sebagai “systematic inquiry” yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah atau konselor sekolah untuk mengumpulkan informasi yang digunakan untuk meningkatkan prestasi serta mengembangkan “reflective practice” yang berdampak positif pada berbagai praktik persekolahan termasuk memperbaiki belajar siswa

Selanjutnya Rochiyati Wiryaatmaja (2007) mengatakan PTK dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari empat tahap yaitu : Melakukan perencanaan (planning), tindakan (acting), mengamati (observing), refleksi (reflecting).

 

Dengan demikian akan dapat diketahui kelemahan dan kelebihan tindakan yang perlu diperbaiki pada siklus berikutnya.

Dalam siklus I sebelum pelaksanaan tindakan, peneliti dibantu observer menyusun rencana tindakan antara lain :  1). Menyusun  Rencana Pelaksanaan  Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada pendekatan partisipatoris.2). Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika metode tersebut diaplikasikan.3). Membuat/mempersiapkan alat bantu yang diperlukan dalam rangka memperlancar proses pembelajaran.4).  Mendesain alat evaluasi tes tiap siklus.

Pada kegiatan awal ini, penelititerlebih dahulu menciptakan kondisi yang mendidik dan suasana belajar yang kondusif. Peneliti mengajukan pertanyaan apersepsi guna menghubungkan materi yang akan disampaiakan pada hari itu, juga menyampaikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan metode diskusi dan kegiatan pembelajaran.

Guru memberi penjelasan bahwa ada dua tugas menceritakan gambar dan mengelompokkan gambar tentang pelanggaran HAM. Kegiatan akhir peneliti  membuat kesimpulan dari berbagai informasi yang telah didapat dan memberikan evaluasi secara lisan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi.

Pertemuan kedua guru membagikan lembar kerja. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru selaku peneliti memberikan bimbingan dan arahan pada tiap kelompok.

Selanjutnya guru mengadakan evaluasi tentang materi tersebut, siswa mengerjakan soal-soal evaluasi dan dikoreksi bersama.

Peneliti dan observer mengambilbeberapa siswa untuk dimintai tanggapan apakah proses pembelajaran yang dilakukan dapat mempermudah siswa mengikutinya atau tidak.

Peneliti dan observer melakukan diskusi balikan untuk membahas kelemahan dan kelebihan selama proses pembelajaran berlangsung yang akan dijadikan dasar refleksi dan proses untuk tindakan pembelajaran berikutnya.Pada siklus I Peneliti menggunakan pendekatan partisipatoris dalam kegiatan pembelajaran interaktif. Walaupun hampir semua kriteria observasi sudah terpenuhi akan tetapi dalam pembelajaran PKn belum berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga akan dilakukan tindakan pada siklus II.

Pada proses pembelajaran siklus I, hasil pengamatan menunjukkan hal-hal sebagai berikut : Kemampuan memahami materi masih rendah karena proses penalaran pada siswa lambat.

Dari hasil analisis data diketahui bahwa pembelajaran PKn belum berhasil karena dari 31 siswa baru 24 siswa (77,41 %) yang dapat mencapai nilai 70 ke atas, berarti masih 7 siswa (22,58 %) yang belum tuntas.

Pada pertemuan siklus kedua ini, proses pembelajaran menggunakan langkah-langkah seperti pada pertemuan pertama.

Siswa melakukan tanya jawab dalam kelompok untuk memantapkan hasil diskusi tentang. Masing-masing kelompok maju mengerjakan soal dari guru, sedang kelompok lain memperhatikan. Guru memberikan penguatan pengetahuan yang diperoleh siswa.

Setelah semua kegiatan selesai peneliti melakukan diskusi balikan untuk membahas kelemahan dan kelebihan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.

Dari hasil diskusi balikan diperoleh data hasil observasi pada siklus II sebagai berikut : Partisipasi siswa selama proses belajar mengajar meningkat, siswa lebih antusias dan lebih aktif mengikuti pelajaran.

Kemampuan siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan guru meningkat dan

ketuntasan belajar sangat signifikan terbukti dari 31 siswa sudah 27 siswa atau 87 % sudah tuntas belajar.

Dari hasil refleksi tersebut, tindakan  pada pembelajaran PKntelah terbukti berhasil. Berarti upaya meningkatkan hasil belajar PKn melalui Penelitian Tindakan Kelas berakhir di siklus kedua.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Dari hasil tes formatif siswa materi Hakikat dan Arti Penting Hukum bagi warga Negara di Siswa kelas VII B SMP Negeri 4 Sumbang, Kabupaten Banyumas diperoleh data bahwa terdapat 18 siswa atau 58 % yang belum tuntas. Hal itu berarti antara proses belajar mengajar dan hasilnya belum memuaskan, Dari hasil pengamatan dokumen nilai ulangan harian dan jurnal mengajar yang dimiliki guru,teridentifikasi bahwa dalam pembelajaran guru belum melibatkan siswa untuk berpartisipasi dalam pembelajaran. Metode yang digunakan hanya ceramah saja, tanpa media dan alat peraga.

Berdasarkan latar belakang kondisi awal tersebut maka peneliti memilih menggunakan pendekatan partisipatoris sebagai alternaatif dalam meningkakkan hasil belajar PKn.

Deskripsi Hasil Siklus I

Kegiatan yang dilakukan dengan mempersiapkan kelengkapan berupa lembar kerja siswa yang berisi hal-hal yang terus diselesaikan oleh kelompok siswa, lembar observasi untuk mengetahui keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan alat peraga gambar dan tayangan LCD untuk mempermudah penyampaian pembelajaran kepada siswa. Lembar pengamatan untuk guru digunakan oleh observer untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan guru dalam proses pembelajaran. Lembar evaluasi digunakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap materi pembelajaran yang telah disampaikan.

Pada studi awal nilai rata-rata nilai ulangan PKn di kelas VII B sebesar 41,93 %, setelah melaksanakan tindakan pembelajaran siklus Imengalami kenaikan menjadi 77,41 %. Ketuntasan belajar dari 13 siswa menjadi 24 siswa

Deskripsi Hasil Siklus II

Setelah dilakukan tindakan pembelajaran dengan mengakomodasikan kelemahan pada siklus I, nilai rata-rata kelas pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 80,81,Nilai rata-rata  naik 5,23 % dari siklus I atau 11,94  dari studi awal.

Jumlah siswa yang telah mencapai tingkat ketuntasan belajar sebanyak 27 siswa atau 87,10 %. Pada siklus II, siswa yang berpartisipasi aktif selama proses pem belajaransebanyak 27 siswa atau 87,10 %.

Hasil tindakan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan peneliti dan observer dibuktikan dengan jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran di atas angka kriteria  ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan. Peningkatan ini diikuti oleh meningkatnya nilai rata-rata mata pelajaran PKn dari 68,87  pada pembelajaran sebelum PTK menjadi 79,19 pada siklus I dan meningkat menjadi 80,81 pada  siklus II.

Untuk lebih jelasnya peningkatan ketuntasan belajar siswa dan nilai rata-rata kelas dapat dilihat pada gambar diagram berikut ini :

Gambar 3.   Diagram Perbandingan Angka Ketuntasan,BelumTuntas dan Nilai Rata-rata pada Setiap Siklus Kegiatan Perbaikan Pembelajaran.

Pada siklus II, siswa yang berpartisipasi aktif selama proses pembelajaran sebanyak 27 siswa atau 87,10 %, dapat dilihat pada tabel berikut berikut :

Dengan pendekatan partisipatoris ada kenaikan hasil belajar siswa manjadi 27 siswa yang pada siklus I sebanyak 24 siswa. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Varmon A Magnesen (dalam Cipto Waluyo,2003:13) “siswa belajar 10% dari apa yang mereka baca, 20% dari apa yang mereka dengar, 30% dari apa yang mereka lihat, 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar, 70% dari apa yang mereka katakan, 90% dari apa yang mereka katakan dan lakukan”.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan temuan yang diperoleh pada siklus I dan II  dalam penelitian tindakan kelas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Penggunaan pendekatan partisipatoriterbukti mampu memberikan tingkat pemahaman materi yang lebih baik dari pada metode konvensional (ceramah )

2. Pendekatan partisipatoris dapat meningkatkan partisipasi  belajar siswa dan keaktifan siswa selama proses pembelajaran, melakukan pengamatan, melakukan diskusi, keberanian berpendapat, kerjasama kelompok dan kemampuan memecahkan masalah.

3. Pendekatan partisipatoris terbukti dapat meningkatkan hasil belajar  PKn.

4. Adanya korelasi positif antara partisipasi belajar dengan hasil belajar siswa, semakin tinggi partisipasi belajar siswa semakin tinggi pula angka keberhasilan siswa meraih hasilbelajar.

5. Pembelajaran lebih efektif dengan memperhatikan perkembangan konigtif, afektif dan psikomotor siswa, sehingga siswamerasa senang dan semangat dalam belajar.

SARAN-SARAN

1. Sebaiknya guru lebih cepat menganalisa setiap permasalahan yang muncul pada setiap pembelajaran, sehingga dapat secara tepat dicarikan pemecahannya.

2. Guru hendaknya selalu meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan serta kreativitas sebagai bekal dalam melaksanakan proses pembelajaran yang lebih baik, bermakna dan berkualitas.

3. Indikator-indikator yang berhubungan dengan aspek pembelajaran guru dan aktifitas siswa hendaknya dijadikan pedoman untuk meningkatkan keberhasilan proses pembelajaran secara keseluruhan pada setiap mata pelajaran, khususnya PKn.

DAFTAR PUSTAKA

_____. 1991. Mengajar dengan Sukses. Jakarta : Grasindo.

Arikunto, Suharsini. 1993. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta : Bumi    Aksara

Arikunto, Suharsini. 1993. Prosedur Penelitian.Jakarta : Rineka Cipta, Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 2. Jakarta : Balai Pustaka.

Hadi, Sutrisno. 1987. Statistik II. Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.

Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Slameto. 1998. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bina Aksara.

Sudjana. 1998. Model Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar.Bandung : Sinar Baru.

Bkg for education. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Erlangga.

Sardiman.AM.1988. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali pers

Poerwadarminto.W.J.S. 2005. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai  Pustaka




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *