infopasti.net

PTK SMP Motivasi odel Problem Posing dan Arisan Soal Kelas VIII

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR DAN MOTIVASI PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PROBLEM POSING DAN ARISAN SOAL MATERI MENGHINDARI MINUMAN KERAS, JUDI, DAN PERTENGKARAN PADA KELAS 8 D SEMESTER GENAP SMP NEGERI 2 TONJONG

ABSTRAK

     Hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang optimal akan menjadi modal utama dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Namun disisi lain penyajian pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti dinilai cenderung bersifat indoktrinatif dan tidak bermakna sehingga hasil belajarnya sangat rendah. hal ini terbukti dari hasil rata-rata kemampuan pengetahuan peserta didik pada materi Menghindari Minuman Keras, judi, dan pertengkaran hanya 71,69 persentase ketuntasan 48,71%  dari hasi pengamatan persentase siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran hanya 53,84%. Atau 21 dari 39 peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi peserta didik pada materi tersebut dengan menggunakan model Problem Posing dan Arisan Soal yang dilakukan dengan dua siklus pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa rata-rata kemampuan pengetahuan peserta didik menjadi 86,64 pada siklus 1 dan meningkat lagi menjadi 93,17 pada siklus  II. Sedangkan persentase ketuntasan peserta didik meningkat menjadi 82,05% pada siklus 1 dan meningkat lagi menjadi 97,43% pada siklus II. Persentase partisipasi aktif peserta didik juga meningkat  menjadi  71,79% atau 28 dari 39 peserta didik  pada  siklus 1 dan meningkat lagi  menjadi 87,18%  atau  34 dari  39 peserta didik pada siklus II.

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

     Materi pokok menjauhi minuman  keras, judi  dan  pertengkaran yang dibahas dalam  mata  pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas VIII Semester 2 Kurikul um 2013 perlu mendapat perhatian dalam kegiatan pembelajaran karena berkaitan dengan moral akhlak  seseorang.

     Namun  demikian, proses pembelajaran PAI yang selama ini berlangsung cenderung mengarah  pada penekanan aspek pengetahuan dengan pendekatan ceramah saja, menyebabkan peserta didik kurang termotivasi dalam mengikuti  pembelajaran yang tentunya berefek pada rendahnya pemahaman terhadap materi yang di pelajari  dan pengamalannya  dalam ke hidupan sehari-hari.

     Selain  itu, peserta didik juga belum bisa aktif dalam kegiatan  pembelajaran karena  kurang  diberikan  stimulus-stimulus yang mengkondisikan peserta didik untuk  mengkomunikasikan materi  yang  belum  dipahami. Peserta didik  juga  belum  bersikap kritis dalam bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami. Pembelajaran  searah yang terpu sat pada guru juga dapat mengurangi kemampuan peserta didik untuk memahami materi  tersebut  sehingga tidak bisa berdiskusi dengan peserta didik yang lain.

     Hasil belajar yang diperoleh peserta didik dengan  pendekatan ceramah dan  memberi  tugas  untuk  mengerjakan  soal-soal latihan yang ada di LKS, ternyata hasil belajarnya masih rendah. Rata-ratanya hanya 71,69  dan  persentase ketuntasannya 48,71%. Sedang kan hasil pengamatan,  persentase peserta didik yang terlibat aktif dalam  kegiatan pembe lajaran hanya 53,84%.

     Hal ini tentu  menjadi  masalah  yang  serius  karena  dikhawatirkan  materi Menghin dari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran ini hanya terlewati begitu saja, tanpa kesan, tidak  bermakna,  dan  tidak  mendapatkan  hasil belajar  yang  optimal  pada  diri  peserta didik.

     Berdasarkan latar belakang  masalah, identifikasi  masalah, dan pembatasan  ma salah, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: (1) Apakah pendekatan melalui model pembelajaran problem posing dan arisan soal dapat meningkatkan motivasi peserta didik kelas VIII D SMP Negeeri 2 Tonjong pada materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran?. (2) Apakah  pendekatan model problem posing dan arisan  soal dapat meningkat kan keak tifan belaja peserta didik kelas VIII D SMP Negeri 2 Tonjong pada materiMenghindari minuman Keras,Judi,dan Pertengkara? (3) Apakah pendekatan model  pembelajaran problem posing dan arisan soal dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik  kelas VIII D SMP Negeri 2 Tonjong pada materi Menghindari Minuman  Keras, Judi, dan Pertengkaran?

     Dari hasil penelitian ini diharapkan mendatangkan manfaat berupa penambahan pengetahuan serta wawasan tentang pelaksanaan pembelajaran bagi siswa, guru, sekolah, dan bagi MGMP terutama guru mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti.

Landasan Teori

Sujana (2000:5) menyatakan bahwa belajar merupakan proses yang di tandai dengan adanya perubahan-perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat  ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Sedangkan hasil belajar diperoleh individu melalui latihan dan pengalaman. Belajar dapat di artikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu, berkat adanya interaksi antara individu dengan individu, dan individu dengan lingkungannya. Sehingga mereka mampu berinteraksi dengan lingkungannya (Usman,1993:4).

    Dengan demikian hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri peserta didik, tentu saja perubahan yang di harapkan adalah perubahan kearah yang positif dan berguna bagi kehidupannya.

         Hasil belajar merupakan perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungan (Suprayekti, 2003:4). Proses perubahan perilaku yang sengaja direncanakan agar terjadi perubahan perilaku ini di sebut dengan proses belajar. Proses ini merupakan suatu aktifitas psikis/mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasil kan perubahan-perubahan. Yang relatif konstan dan berbekas.

                 Menurut pendapat sartain sebagaimana disitir oleh Purwanto (2002:61) motivasi adalah suatu pernyataan yang komplek didalam suatu organisasi yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive).

     Tujuan (goal) adalah yang menentukan atau membatasi tingkah laku organisme itu. Jika yang ditekankan adalah fakta atau objeknya, yang menarik organisme itu, maka kita pergunakan istilahperangsang (incentive). Lebih lanjut purwanto (2002:72) mendefinisi kan motivasi ke dalam tiga kelompok yaitu menggerakkan, mengarahkan dan menopang tingkah laku manusia. Dari ketiga definisi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:   .

  • Menggerakkan berarti menimbulkan kekuatan pada individu, memimpin seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. Misalkan kekuatan dalam hal ingatan, respon-respon efektif dan kecenderungan mendapatkan kesenangan.
  • Motivasi juga mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku. Dengan demikian ia menye diakan  suatu orientasi tujuan tingkah laku individu di arahkan terhadap sesuatu.(3) Untuk  menjaga  dan  menopang tingkah  laku,  lingkungan  sekitar  menguatkan  harus (reinforce)  intensitas  dan  arah  dorongan-dorongan dan  kekuatan-kekuatan  individu.

      Dari pengertian di atas kiranya jelas bahwa motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan dan menjaga tingkah laku manusia agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertetu. Apabila dikaitkan dengan belajar, motivasi ini diarahkan untuk mencapai hasil atau tujuan belajar denngan cara peserta didik bertindak secara nyata dalam proses pembelajaran.

     Dengan demikian dapat diketahui bahwa motivasi guru adalah suatu usaha yang menggerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku anak agar mereka terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil dan tujuan pembelajaran.

Kerangka berpikir

   Kerangka berpikir dalam penelitian ini, pada awalnya guru melaksanakan pembelajaran materi menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran dengan pendekatan konvesional. Guru menjelaskan materi dan peserta didik mendengarkan dan mencatat. Setelah dilakukan penelitian ternyata hasil belajar peserta didik rendah, rata-ratanya hanya 71,69 dan persentase peserta didik yang tuntas hanya 48,71%. Sedangkan berdasarkan hasil pengamatan, persentase peserta didik yang terlibat aktif dalam kegiatan  pembelajaran hanya 53,84% atau 21 dari 39 peserta didik. Guru  kemudian  melakukan  tindakan yang terdiri  dari  2  siklus    sebagai  berikut:  (1) Pada  siklus 1 guru melakukan pembelajaran materi Menghindari Minuman Keras,  Judi,  dan Pertengkaran dengan menggunakan model pembelajaran problem posing. Pada  proses  pembelajaran siklus 1 ini, peserta didik diharapkan terlibat aktif dalam pembelajaran  serta  termotivasi  untuk  mengikuti  kegiatan  pembelajaran  sehingga  hasil  belajar  meningkat.(2) Pada  siklus 2 guru melakukan pembelajaran materi Menghindari  Minuman keras, Judi,  dan pertengkaran dengan menggunakan model pembelajaran  model  problem  posing  dan  arisan soal. Proses  pembelajaran pada siklus  2  ini  bertujuan agar  peserta  didik  terlibat  lebih aktif  dalam  pembelajaran,  dan  lebih  termotivasi  untuk  mengikuti  kegiatan  pembelajaran  dan  hasil  belajar  lebih  meningkat.

 

     Hipotesis Tindakan

     Berdasarkan uraian diatas,dapatlah dimunculkan hipotesis tindakan sebagai berikut: Apabila dalam pembelajaran PAI dan Budi Pekerti materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran digunakan model pembelajaran problem posing dan arisan soal maka dapat meningkatkan keaktifan, motivasi, dan prestasi belajar siswa kelas VIII D SMP Negeri 2 Tonjong Brebes.

 Metode Penelitian

    Penelitian ini akan dilaksanakan pada akhir semester genap yaitu pada 15 April sampai   30 Mei 2015. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik SMP Negeri 2 Tonjong. Tempat penelitian adalah di SMP Negeri 2 Tonjong Brebes. Sebagai subjek penelitian adalah kelas VIII D SMP Negeri 2 Tonjong Tahun Ajaran 2014/2015 yang berjumla 39 siswa terdiri dari 20 laki-lakidan 19 perempuan. Sumber data dalam penelitian ini adalah peserta didik yang diperoleh dengan cara sebagai berikut: (1) Melalui tes pengetahua (2)Pengamatan (observasi) Keaktifan Peserta didik(3) Wawancara yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui motivasi peserta didik tentang pembelajaran yang dilakukan

Teknik Pengumpulan Data

     Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi pengamatan, wawancara motivasi, dan melakukan tes atau evaluasi hasil belajar. Pengamatan dilakukan terhadap peserta didik ketika mereka melakukan proses pembelajaran dengan model problem posing dan arisan soal. Pengamatan tersebut menitik beratkan pada tingkat partisipasi dan motivasi peserta didik dalam proses belajar mengajar. Dan wawancara dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui tingkat motivasi peserta didik terhadap pembelajaran pada materi Menghindari Minuma Keras,Judi, dan Pertengkaran,sehingga dapat diamati tingkat partisivasi dan motivasi peserta didik secara individual. Sedangkan melakukan THB dimaksudkan untuk mengukur (mengetahui) tingkat pemahaman yang diperoleh peserta didik pada  pembelajaran materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran dengan model problem posing dan arisan soal. Evaluasi ini juga bersifat individual (setiap peserta didik tidak boleh saling membantu).

Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan metode penilaian tindakan kelas (classroom action research) dengan tindakan berupa model pembelajaran Problen Posing dan Arisan Soal, yang merupakan suatu variasi dalam pembelajaran PAI. Penelitian ini dilaksanakan melalui dua siklus dengan menggunakan model Kurt Lewin, ynag menyatakan bahwa dalam satu siklus terdiri dari empat langkah pokok yaitu: (1) Perncanaan  (planning) (2) Aksi  atau  Tindakan  (acting) (3) Pengamatan  (observasi). (4) Refleksi  (reflecting).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

             Awalnya  peneliti  melakukan  pembelajaran materi Menghindari Minum Kerass, Judi, dan Pertengkaran dengan menggunakan pendekatan ceramah didalam kelas. setelah selesai,peneliti melakukan penelitian pengetahuan serta melakukan pengamatan terhadap aktivitas peserta  didik.  Hasil  penelitian  dan observasi  tersebut  tergambar dalam tabel berikut ini.

INDIKATOR KEMAMPUAN Rata-rata Persentase peserta

Didik yang tuntas %

Persentase partisipasi

peserta didik

dalam pembelajaran %

Kemampuan pengetahuan 71,69 48,71% 53,84%
KKM 77 77

             Tabel  1  hasil penelitian dan pengamatan pada kondisi awal

        Berdasarkan  table 1 ini,  dapat  dinyatakan  bahwa  partisipasi  keaktifan  peserta  didik  dalam mengikuti pembelajaran PAI materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan  Per tengkaran dengan pendekatan ceramah sangat rendah. Rendahnya partisipasi  tersebut  menyebabkan   hasil  belajar  rendah. Kenyataan  ini  terlihat setelah dilakukan  tes kemampuan  pengetahuan  tentang  materi  Menghindari  Minuman  Keras, Judi,  dan  Pertengkaran yang  hanya  mencapai 48,71%  peserta  didik  yang tuntas atau 19 dari 39 peserta didik, sedangkan 51,29%  belum tuntas dan   rata-rata   nilainya 71,69.  Sementara  hasil  observasi  dan  wawancara  menyatakan  bahwa  peaserta didik yang  tertarik dalam  kancah kegiatan pembelajaran hanya 53,84%.  Atau  21  dari  39  peserta  didik.

   Atas dasar hasil belajar yang demikianlah peneliti mengambil way out untukmencari solusi agar pembelajaran lebih menarik dan mampu memancing  perhatian peserta  didik, peneliti  mempunyai strategi untuk melaksanakan pembelajaran pada materi Menghindari Minuman   Keras,  Judi,  dan  Pertengkaran  dengan  menggunakan  model pembelajaran problem posing dan   arisan  soal.

     Deskripsi Tindakan Siklus 1

     Perencanaan tindakan

 Yang dilakukan peneliti  pada tahap perencanaan siklus 1 adalah menyusun  rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan  lembar observasi. RPP dibuat untuk dua kali per temuan  (6 x 40 menit). Pertemuan pertama digunakan untuk memberikan penjelasan tentang pembagian kelompok diskusi, penyajian materi Menghindari Minuman Keras, Judi,dan Pertengkaran,dan diskusi kelompok dalam kerangka ProblemPosing.Pertemuan  kedua digunakan untuk melakukan kompetisi menjawab soal dari kelompok lain dimana pendistribusiannya melalui arisan soal.

Pelaksanaan Tindakan

     Pada tahap pelak sanaan siklus 1 ini pembelajaran  dilakukan  dengan model Prob lem Posing sesuai dengan rencana  pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Dengan  model pembelajaran ini  diharapkan peserta didik lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran terkait materi Menghindar Minuman Keras, judi, dan pertengkaran. Penggunaan model pembelajaran Problem Posing pada siklus 1 ini bertujuan untuk meningkatkan  keaktifan peserta  didik  karena  memerluka  interaksi  antar  peserta didik dalam bentuk diskusi kelompok. Sehingga  hasil  belajar   peserta  didik  pada  materi  Menghindari Minuman Keras, Judi, dan pertengkaran  dapat  meningkat.

Hasil Pengamatan

     Pada tahapan siklus 1 ini peneliti mengamati pada setiap kegiatan yang dilaku kan  peserta  didik. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa masing-masing kelompok  cukup  antusias dalam  membuat soal. Namun demikian, tingkat partisipasi (keaktifan)  anggota  kelompok  untuk kelompoknya  tergolong masih rendah. Pembuat soal lebih di dominasi oleh ketua kelompok yang memiliki kemampuan relative lebih tinggi.Pada masing-masing kelompok masih dijumpai anggota yang melakukan kegiatan”negative misalnya bermain,  melamun,  bahkan   ada yang minta  izin   keluar.  Dari  penjelasan   tersebut,   peneliti  menganggap  bahwa   hasil  pengamatan  pada  siklus 1  menunjukka  tingkat  partisipasi dalam  kegiatan  diskusi   masih  belum   tinggi. Motiva si  proses  yang  dimiliki terlihat masih belum merata.Pada akhir pembelajaran kemudian peneliti mengadakan wawancara  dan  tes pengetahuan  untuk  mengetahui keberhasilan  proses  pembelajaran.

   Adapun hasil pembelajaran tergambar dalam table berikut ini :

INDIKATOR KEMAMPUAN Rata-rata  Persentase peserta

Didik yang tuntas

Persentase partisipasi

peserta didik

dalam pembelajaran

Kemampuan pengetahuan 86,64 82,05% 71,79%
KKM 77 77

Tabel 2 hasil penelitian dan pengamatan pada siklus 1

      Hasil  ini  menunjukkan  bahwa  nilai  rata-rata  yang  diperoleh  telah melebihi standar   Kriteria   Ketuntasan  Minimal  (KKM)  yaitu   82,05%   peserta   didik  yang  tuntas  dan  17,95 %  yang   belum   tuntas  dan   rata-rata   nilainya  86,64   sedangkan  (KKM)  yang  telah   ditetapkan, yaitu  77. Partisipasi  aktif peserta didik dalam mengikuti pembelajaran  PAI  juga  meningkat  (71,79%). Kenaikan  persentase partisipasi keaktifan  peserta  didik  ter sebut  disebabkan oleh  factor ketertarikan mereka  terhadap model pembelajaran gaya  baru. Namun bisa jadi ketertarikan  itu sifatnya hanya temporer. Berdasarkan pengamatan  peneliti, pada  awalnya mereka begitu  antusias, namun semakin  lama  para peserta  didik  merasa  agak  jenuh. Walaupun  demikian,  meningkatnya perhatian  peserta didik  karena ini telah berhasil menaikan hasil belajar.

Refleksi Silkus 1

                  Secara   keseluruhan  kegitan  pembelajaran dan hasil  pengamatan  pada siklus 1 me nun jukan bahwa tingkat keaktifan dan prestasi belajar peserta didik masih belum tercapai  secara  optimum  karena  masih  banyak  kendala–kendala  yang  dijumpai  dalam   proses   pembelajaran,  sehingga peneliti memandang  perlu  memperbaiki  proses pembelajaran dengan  pendekatan problem posing dan teknik arisan soalnya.

Untuk meningkatkan keaktifan, motivasi proses,  dan  prestasi belajar peserta didik peneliti   memandang   perlu memperbaiki RPP terutama yang berkaitan  dengan  tipe  problem  posing  yang  digunakan, sehingga  dapat diperoleh soal yang  biasa di fahami oleh lebih banyak peserta  didik. Selanjutnya juga dipandang perlu memperbaiki teknik arisan soal yang digunakan sehingga penditribusian soal tetap dapat berlangsung  adil namun dapat meningkatkan  semangat  berkompetisi. Dalam  hal  ini   ditetapkan  aturan  bahwa  jika  masih  ada kelompok yang  mendapatkan soal buatan sendiri, maka  proses  arisan / pengundian harus diulang lagi.

Deskrip Tindakan Siklus II

Perencanaan Tindakan

      Pada  tahap perencanaan siklus 2 ini, peneliti  menyempurnakan  kembali RPP    yang akan digunakan pada siklus 2 dengan melakukan perbaikan-perbaikan seperlu nya. Dasar perbaikan  adalah  hasil  refleksi  pada siklus 1. Selanjutnya dipersiapkan juga instrument penilaian berupa lembar observasi dan soal tes.

Pelaksanaan Tindakan

    Pada tahap  pelaksanaan siklus 2, peneliti  melaksanakan proses  pembelajaran  yang telah disempurnakan. Peserta didik  diajak melakukan kegiatan  pembelajaran  yang dilak sanakan  dengan   pendekatan  problem  posing dan  arisan  soal  kembali,  namun   telah mengalami  penyempurnaan  penyempurnaan  berdasarkan  hasil  refleksi pada  siklus 1, Pada siklus 2 ini  kegiatan   pembelajaran   dapat  berjalan  lebih baik disbanding siklus1. Hal  ini ditandai  dengan  tidak  adanya  kelompok  yang  keliru   dalam   membuat  soal (seperti pada siklus 1).  Dalam kelompoknya  secara   umum   mengalami   peningkatan. Kegiatan  arisan soal dan diskusi  kelompok juga terlihat lebih menarik  dan  kompetitip yang ditandai  dengan semakin banyaknya kelompok yang dapat  menjawab dan mempresentasikan soal dengan benar.

Hasil Pengamatan

    Pada  tahap pengamatan siklus  2  ini  peneliti kembali  melakukan proses  pembelajaran dan mengamati setiap kegiatan peserta didik dalam kelompoknya. Hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan keaktifan peserta didik dalam kelompoknya dan adanya peningkatan  semangat  kompetisi  antara kelompok. Pada  akhir  pem belajaran  peneliti  mengadakan  wawancara  dan  tes  pengetahuan untuk mengetahui daya serap atau tingkat penguasaan  peserta  didik  terhadap  materi  yang  diberikan. Adapun hasilnya tergambar dalam table berikut ini :

INDIKATOR KEMAMPUAN Rata-rata Persentase peserta

Didik yang tuntas

Persentase partisipasi

peserta didik

dalam pembelajaran

Kemampuan pengetahuan 93,17 97,43% 87,18%
KKM 77 77

Table 3. Hasil penilaian dan pengamatan pada siklus 11

         Berdasarkan  tabel 3 diatas,  dapat  dinyatakan   bahwa   partisipasi  keaktifan peserta  didik dalam mengikuti pembelajaran PAI materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran  sampai pada level aktif  (87,18%). Kenaikan  persentase partisipasi peserta  didik tersebut disebabkan oleh factor ketertarikan  mereka  ditambah  adanya fokus perha tian yang lebih intensif terhadap materi.

         Pada saat dilakukan tes kemampuan pengetahuan tentang  materi  Menghindari Minu man  Keras, Judi, dan Pertengkaran terdapat 97,43%  peserta didik yang tuntas,  sehingga   yang belum tuntas sejumlah 2,57%.Sedangkan nilai rata-rata  tes pengetahuan pada siklus II ini menjadi 93,17.Sementara hasil observasi dan wawancara menyatakan bahwapeserta didik tertarik dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah sejumlah 87,18%sehin gga yang menyatakan kurang/tidak  tertarik hanya 12,82%. Atau 7 dari 39 peserta didik.

  Reflek Siklus 2

        Berdasarkan data hasil pengamatan aktfitas, angket dan tes hasil  belajar, selanjutnya peneliti menganalisis hasil tersebut. Bahwa pembelajaran  melalui model problem posing dan arisan soal pada materi. Menghindari Minuman Keras, Judi dan  Pertengkaran  ternyata membawa dampak  yang  sangat  signifikan.

       Berbeda dengan siklus 1,  pada siklus II  ini sepertinya mereka   ingin lebih fokus dalam menyimpulkan dan menyelesaikan lembar kerja. Kesempatan ini digunakan untuk bertanya kepada guru maupun teman disekelilingnya. Disamping itu, adanya model problem posing dalam pembelajaran disiklus II  ini  peserta  didik berpartisipasi aktif baik dalam perhatian, penglihatan, pendengaran,  maupun  aktifitas  fisiknya   (gerakan).

 Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus

       Berdasarkan uraian pembahasan pada siklus 1 dan siklus 2 diatas, maka hasil tindakan yang dilakukan peneliti dapat digambarkan dalam table berikut.

Indikator Kemampuan Rata-rata hasil panilaian Persentase Peserta didik yang Tuntas Persentase partisipasi aktif Peserta didik
KA I II KA I II KA I II
Kemampuan Pengetahuan  71,69  86,64  93,17  48,71%  82,05%  97,43% 53,84% 71,79% 87,18%
KKM  77 77 77 77 77 77

                   Tabel 4. Hasil penelitian dan pengamatan pada tiap siklus                      Ket : KA = Kondisi Awal, 1 = Siklus 1, 11 = siklus 11.

          Grafik  peningkatan  nilai  rata-rata  hasil  belajar  peserta didik  kelas VIII D SMP Negeri 2 Tonjong dalam materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran adalah sebagai berikut:

masid

                  Grafik 1 Peningkatan Nilai Peserta didik Kelas VIII D SMP Negeri 2 Tonjong Materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran

                  Sedangkan grafik kenaikan persentase ketuntasan peserta  didik  kelas  VIII D SMP Negeri 2 Tonjong dalam materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran adalah sebagai berikut:

masida

Grafik  2,  Kenaikan Persentase Ketuntasan Belajar dalam memahami Materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran

     Sedangkan grafik peningkatan persentase Keaktifan peserta didik kelas VIII D SMP Negeri 2 Tojong Materi Minuman Keras,Judi, dan Pertengkaran adalah sebagai berikut

masidaa

     Grafik 3. Kenaikan Persentase Ketunasan Belajar dalam Memahami Materi Menghindari Minuman Keras,Judi, dan Pertengkaran

       Berdasarkan table  4  diatas terlihat bahwa  partisipasi  peserta didik dalammengikuti pembelajaran  PAI  materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran sebelum adanya tindakan sangat redah yaitu rata-ratanya  71,69 dan tingkat  ketuntasannya  hanya  mencapai 48,71%  sedangkan yang berpar tisipasi aktip  hanya 53,84%. Rendahnya  hasil  tersebut  dikarenakan  peserta didik kurang tertarik dengan pembelajaran yang dilakukan. Mereka cenderung bosan dan jenuh dengan materi pembelajaran tersebut.

          Hasil belajar  yang demikian  membuat  peneliti berusaha untuk mencari  solusi  agar pembelajaran lebih  menarik dan mampu memancing peserta  didik. Peneliti  mempunyai  ide  untuk   menyajikan  dengan  model problem posing dan arisan soal.

            Setelah dilakukan tindakan pada siklus 1, partisipasi peserta didik dalam mengikuti  pembelajaran  PAI dan Budi Pekerti ternyata sudah cukup  aktif, yaitu mencapai 71,79%. Kenaikan  persentase  partisipasi keaktifan peserta didik tersebut  disebabkan oleh  faktor  ketertarikan mereka terhadap model pembelajaran gaya baru. Namun demikian, bisa jadi ketertarikan itu sifatnya hanya temporer.Berdasarkan pengamatan peneliti, pada awalnya mereka begitu  antusias, namun  semakin lama para peserta didik tersebut merasa agak jenuh. Walaupun  demikian, meningkatnya  perhatian peserta didik pada siklus 1 ini telah berhasil menaikkan hasil belajar.

            Pada   saat  dilakukan  tes  kemampuan pengetahuan   pada  siklus 1 tentang  materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran terdapat 82,05% peserta didik yang tuntas  dan  17,95%  yang  belum  tuntas  dan rata-rata  nilainya  86,64.  Sementara  hasil observasi  dan  wawancara  menyatakan   bahwa   peserta  didik   tertarik dalam  kegiatan  pembelajaran  yang  dilakukan  sudah 71,79%.

          Hal ini menggambarkan bahwa  telah  terjadi peningkatan hasil tes kemampuan peng etahuan  peserta  didik pada materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran dari  kondisi  awal  yang  hanya  mencapai  rata-rata  71,69  menjadi  86,64 pada siklus 1. Sedangkan  ketuntasannya  naik dari  48,71%  pada  kondisi  awal  menjadi 82,05%  pada siklus 1. Sehingga meningkat nilai rata-ratanya  sebesar 14,95  sedangkan persentase  ketuntasannya naik sebesar 33,34 %.

            Setelah di lakukan tindakan pada siklus II, partisipasi keaktifan peserta didik dalam mengikuti  pembelajaran  PAI  dan Budi Pekerti  materi Menjauhi Minuman  Keras, Judi,  dan  Pertengkaran   sampai  pada  level 87,18%. Kenaikan  persentase  partisipasi  peserta didik  tersebut disebabkan oleh  faktor ketertarikan mereka  pada  kegiatan pembelajaran semakin bertambah sehingga fokus dan perhatian mereka lebih intensif terhadap materi pambelajaran.

          Pada  saat  dilakukan   tes  kemampuan  pengetahuan  pada  siklus  II  tentang materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran terdapat 97,43% peserta didik yang tuntas  sehingga  yang  belum  tuntas 2,57%. Sedang  nilai rata-rata tes pengetahuan pada siklus II ini menjadi 93,17. Sementara hasil observasi dan wawancara menyatakan bahwa peserta  didik  tertarik  dalam  kegiatan  pembelajaran  yang  dilakukan  adalah  sejumlah 87,18% sehingga yang menyatakan kurang/tidak tertarik hanya 12,82%

           Hal ini menggambarkan bahwa telah terjadi peningkatan  hasil tes kemampuan peng etahuan peserta didik pada materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan   Pertengkaran   dari siklus 1  ke siklus II. Peningkatan ini berupa peningkatan nilai rata-rata tes kemampu an  pengetahuan 86,64  pada  siklus 1 menjadi 93,17  pada  siklus II. Sedangkan  ketuntas annya naik dari 82,05% pada siklus 1 menjadi 97,43% pada siklus II. Sehingga peningka tan nilai rata-ratanya

Dari  siklus 1 ke siklus  II  sebesar  6,53  sedangkan  persentase ketuntasannya naik sebesar 15,51.38%.

        Keseluruhan   pembahasan   diatas,   sejalan   dengan   pernyataan   Brown  &  Walter (dalamAhmad, S. et.al. : 2006),bahwa problem posing tidak hanya meningkatkan kemam puan berpikir peserta didik, tetapi juga memperkaya dan menyatukan pemahaman peserta didik dalam memahami konsep-konsep materi pelajaran.

Penutup

Simpulan

      Dari  uraian diatas dapat disimpulkan  bahwa pembelajaran  dengan penerapan model  problem  posing  dan arisan  soal  dapat  meningkatkan keakifan dan  hasi  belajar peserta didik.  Peningkatan  tersebut tercermin pada  beberapa  indikator, antara  lain: (1)  Pening katan  pada aspek keaktifan peserta  didik  kelas VIIID SMP Negeri 2  Tonjong melalui model problem posing pada materi Menghindari Minuman Keras, Judi, dan Pertengkaran  ditunjukan dengan adanya peningkatan nilai  rata-rata kemampuan pengetahuannya 71,69 dari  kondisi  awal,  menjadi 86,64 pada siklus 1 dan meningkat lagi  menjadi 93,17 pada  siklus 2. (2)  Tanggapan  dan  motivasi  positif  peserta didik  kelas VIIID SMP Negeri 2 Tonjong melalui Model problem posing dan arisan soal ditunjukan dengan adanya penin gkatan persentase partisipasi aktif peserta didik pada kondisi awal 53,84% menjadi 71,79  pada siklus 1  dan  meningkat lagi menjadi 87,18%.

           Pembelajaran melalui model problem posing dan  arisan soal juga  mampu memuncul kan kegiatan pembelajaran yang  kompetitip, dimana masing-masing kelompok  berusaha  untuk yang  terbaik. (3)  Peningkatan pada aspek prestasi belajar pesert didik kelas VIII D  SMP Negeri 2 Tonjong melalui model problem posing pada materi Menghindari  aminum an  Keras, Judi, dan  pertengkaran ditunjukan dengan adanya  peningkatan  nilai  rata-rata  persentase  yang  diperoleh  peserta  didik  dari  kondisi  awal  48,71%  menjadi  82,15%  pada  siklus  1  dan  meningkat  lagi  menjadi  97,43  pada  siklus 2

     Saran – saran  

       Atas  dasar simpulan diatas, peneliti merasa perlu memberikan saran sebagai berikut: (1) Bagi  guru,  guru  harus  berani  melakukan  inovasi pembelajaran, sebaiknya  ditekan kan pada upaya  peningkatan keterlibatan  peseta  didik secara maksimal. Hasil penelitian ini  kiranya  bisa  menjadi acuan dalam pemecahan masalah  pembelajaran  PAI dan Budi Pekerti, khususnya pada Materi Minuman Keras,Judi, dan Pertengkaran. (2) Bagi peneliti lain,  hasil  penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi yang dapat men jadi pijakan  dalam  mengembangkan model pembelajaran yang lebih efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi.  2005. Ideologi  Pendidika  Islam:  Paradigma  Humanisme  Teosentris.  Yogyakarta:  Pustsks Pelajar.

Ahmad,  S.  el.  2006.  Problem Posing Abilities in  Mathematcs Malaysian Year

5 Childres  :  An  Explolatory  Study.  Jurnal Pendidikan Universitas

Hamalik,oemar.1992.Psikologi Belajar Mengajar.Bandung:Sinar Baru Algensindo

Moleong ,  lexy.  2000.  Metodologi  Penelitian Kualitatif.  Bandung:  RemajaRosdakarya.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *