Penelitian Tindakan Kelas SD Kelas V Mapel PKn

 caskiroh 

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PKn KOMPETENSI PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERSAMA MENGGUNAKAN METODE BERMAIN PERAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING DI KELAS V

ABSTRAK

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran PKn komptensi Pengambilan Keputusan Bersama Menggunakan Metode Bermain Peran dengan Model Pembelajaran Cooperative Learning di Kelas V SD Negeri Tiwulandu 01. Subyek Penelitian adalah Siswa kelas V SD Negeri Tiwulandu 01 Semester I Tahun Peelajaran 2013/2014 dengan jumlah siswa 26 orang terdiri dari siswa laki-laki 15 siswa dan siswa perempuan sebanyak 11 siswa. Prosedur penelitian menggunakan teknik observasi, Teknis Tes, dan Teknik Questioner. Hasil pengolahan data yang terkumpul dalam penelitian ini adalah data kuantitatif mulai dari kondisi awal, siklus I dan siklus II. Pada kondisi awal nilai rata-rata kelas 68 pada siklus I nilai-rata kelas mencapai 69, dan hasil nilai rata-rata pada siklus II adalah 90 .dari data tersebut bahwa nilai rata-rata meningkat dari kondisi awal yaitu dari 68 menjadi 69 di siklus I. sedang dari siklus I ke siklus II nilai rata-rata meningkat yaitu dari 69 naik menjadi 90. Berdasarkan dari hasil analisis data di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan Metode Bermain Peran melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning, dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran PKn Kompetensi Pengambilan Keputusan Bersama di Kelas V SD Negeri Tiwulandu 01 Kecamatan Banjarharja Kabupaten Brebes.

Kata kunci : Cooperatif Learning, Bermain Peran, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar

 

LATAR BELAKANG MASALAH

           Pada pembelajaran PKn di SD Negeri Tiwulandu 01 Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes, setiap ulangan PKn nilai rata-rata anak di bawah 75. Termasuk pada komptensi Pengambilan Keputusan Bersama Nilai rata-rata formatif  hanya 68.  Dari 26 siswa hanya 14 siswa 53,84 %  yang memperoleh nilai 75 ke atas. Sedangkan 12 siswa yang lain 46,16 %  mendapat nilai dibawah 75.

  Menghadapi kenyataan tersebut di atas, penulis tertarik untuk mendalami dan melakukan tindakan-tindakan perbaikan pembelajaran PKn, khususnya komptensi Pengambilan Keputusan Bersama melalui penelitian tindakan kelas. Perbaikan yang  penulis lakukan mengenai penerapan metode bermain peran pada materi pengambilan keputusan bersama.

Harapan penulis adalah terjadinya pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan serta lebih bermakna dan adanya keberanian peserta didik yang tuntas untuk menyelesaikan masalah kontektual dengan benar serta untuk lebih menguasai pelajaran.

Rendahnya nilai pembelajaran PKn adalah; (1) siswa kurang memahami konsep pengambilan keputusajn, (2) siswa kurang aktif dalam berdiskusi, (3)siswa kurang terampil dalam komunikasi, setelah dianalissis masalah-masalah tersebut disebabkan (1) guru tidak menggunakan alat poraga dalam menyajikan pembelajaran, (2) sebagian bsar siwa belum berani bertanya atau mengeluarkan pendapat, (3) guru kurang memberikan bimbingan alam diskusi kelompok, (4) strategi pembelajaran kurang menarik minat siswa.

Untuk memecahkan masalah-masalah tersebut penulis mencoba menerapkan metode bermain peran melalui pendekatan model Cooperative Larning.

Setelah mengidntifikasi, menganalisis, serta menemukan alternatif pemecahan masalah, maka penulis merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah cara meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn komptensi Pengambilan Keputusan Bersama?
  2. Apakah penerapan metode pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar PKn tentang komptensi Pengambilan Keputusan Bersama kelas V SD Negeri Tiwulandu 01?”

 

KAJIAN PUSTAKA

PKn merupakan mata pelajaran di sekolah yang perlu menyesuaikan diri sejalan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang sedang berubah. Hal ini merupakan fungsi PKn sebagai pembangun karakter bangsa (nasional character building) yang sejak proklamasi kemerdekaan RI telah mendapat prioritas, yang perlu direvitalisasi agar sesuai dengan arah dan pesan konstitusi Negara RI. Untuk itu pembentukan karakter anak yang kuat perlu penguasaan Pembelajaran Kewarganegaraan sejak dini.

 Mata pelajaran PKn perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari Sekolah Dasar karena PKn memiliki tugas pokok sebagai berikut: (a) Mengembangkan Kecerdasan Warga Negara (civic intelligence), (b)Membina tanggungjawab warga Negara (civic intelligence), (c) Mendorong partisipasi warga Negara ( civic intelligence).

Kecerdasan warga Negara yang dikembangkan untuk membentuk warga Negara yang baik bukan hanya dalam dimensi rasional melainkan juga dimensi spiritual, emosional, dan sosial sehingga PKn memiliki ciri multidimensional. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk mengolah dan memanfaatkan informasi serta peka terhadap keadaan yang selalu berubah / tidak pasti.

Fungsi pembelajaran PKn tidak hanya sekadar memberi  pengetahuan tentang pendidikan kewarganegaraan saja, tetapi juga dimaksudkan untuk mengembangkan sikap-sikap tertentu mengenai hal-hal yang timbul disekitar dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Anni, 2004: 4). Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang relative menetap dalam diri seseorang sebagai akibat dari interaksi seseorang dengan lingkungannya. Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas peneliti menyimpulkan bahwa aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperolah berupa penguasaan konsep. Dalam pembelajaran PKn pada materi Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan diperlukan aktivitas siswa yaitu dengan melakukan aktivitas langsung dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melalui aktivitas tersebut pembelajar akan lebih mengena pada siswa. Selain itu siswa juga perlu berinteraksi dengan siswa yang lain untuk membuat simpulan dengan benar.

Dalam penelitian ini hasil belajar pada pelajaran PKn komptensi Pengambilan Keputusan Bersama yang diukur melalui tes formatif dengan KKM 75. Bagi siswa yang nilainya kurang dari 75 diberi soal perbaikan dan bagi siswa yang nilainya 75 ke atas diberi soal pengayaan dalam bentuk pekerjaan rumah.

Model mengajar adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Model mengajar merupakan suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, merancang bahan-bahan pengajaran, dan bimbingan pengajaran di kelas atau yang lain.

Metode bermain peran adalah berperan atau mamainkan peranan dalam dramatisir masalah social atau psikologis. Bermain peran adalah salah satu bentuk permainan pendidikan yang di gunakan untuk menjelaskan perasaan, sikap, tingkah laku, dan nilai, dengan tujuan untuk menghayati perasaan, sudut pandang dan cara berfikir orang lain.

Melalui metode bermain peran siswa diajak untuk belajar memecahkan masalah pribadi, dengan bantuan kelompok social yang anggotanya teman- temannya sendiri. Dengan kata lain metode ini berupaya membantu individu melalui proses kelompok sosial. Melalui bermain peran, para siswa mencoba mengeksploitasi masalah-masalah hubungan antara manusia dengan cara memperagakannya. Hasilnya didiskusikan dalam kelas.

Proses belajar dengan menggunakan metode bermain peran diharapkan siswa mampu menghayati tokoh yang dikehendaki, keberhasilan siswa dalam menghayati peran itu akan menentukan apakah proses pemahaman, penghargaan dan identifikasi diri terhadap nilai berkembang.

Tujuan dari penggunaan metode bermain peran adalah sebagai berikut; (a) Untuk motivasi siswa, (b) Untuk menarik minat dan perhatian siswa, (c) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi situasi dimana mereka mengalami emosi, perbedaan pendapat, dan permasalahan dalam lingkungan kehidupan social anak, (d) Menarik siswa untuk bertanya, (e) Mengembangkan kemampuan komunikasi siswa dan (f) Melatih siswa untuk berperan aktif dalam kehidupan nyata.

Menurut  Sumantri (2001) bermain peran merupakan model mengajar yang berakar pada dimensi personal dan sosial dari pendidikan. Model ini mencoba membantu indivisu untuk menemukan makna pribadi dalan dunia sosial dan memecahkan dilema-dilema dengan bantuan kelompok sosial. Dalam hal ini memungkinkan individu untuk bekerjasama untuk menganalisis situasi sosial terutama permasalahan interpersonal dalam mengembangkan cara- cara yang demokratis untuk menghadapi situasi tersebut.

Dalam model mengajar bermain peran, sebagian siswa adalah pemain peran yang lainnya mengamati. Seseorang meletakkan dirinya pada posisi orang lain yang juga bermain peran. Bila empati, simpati, kemarahan, dan kasih sayang serta apeksi dilakukan dalam berinteraksi, berarti bermain peran dapat dilaksanakan dengan baik / berhasil.

Hal penting dalam model mengajar bermain peran adalah keterlibatan siswa untuk berpartisipasi dalam situasi atau masalah nyata serta adanya keinginan untuk mengatasi suatu masalah bersama. Pemahaman siswa dalam model belajar bermain peran dapat memberikan contoh pada siswa dalam kehidupan sehari-hari untuk berperilaku sebagai berikut:(1) Menjajagi perasaan, (2) Menambah pengetahuan tentang sikap, nilai- nilai dan persepsinya, (3) Mengembangkan keterampilan dan sikapnya dalam memecahkan masalah, (4) Mengkaji pelajaran dengan berbagai cara.

 

METODE PENELITIAN

Tempat pelaksanaan perbaikan pembelajaran di SD Negeri Tiwulandu 01, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes.  Subjek penelitian adalah siswa kelas V semester I, mata pelajaran PKn komptensi Pengambilan Keputusan Bersama. Jumlah siswa kelas V ada 26 siswa terdiri dari 15 laki- laki dan 11 perempuan.  Dari 26 siswa peserta didik  pada awal pembelajaran  hanya 14 siswa 53,84 % yang telah mencapai KKM 75. Sedangkan 12 siswa yang lain  46,16 % belum mencapai nilai 75. Sebagian siswanya dari masyarakat sekitar sekolah yang memiliki tingkat ekonomi menengah sampai ke bawah. Kesadaran akan pendidikan anak kurang. aktu pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada semester 1 tahun 2013/2014.

Prosedur penelitian Tindakan Kelas terhadap pembelajaran PKn komptensi Pengambilan Keputusan Bersama di SD Tiwulandu 01 kelas V akan peneliti lakukan sampai dua siklus perbaikan. Dalam setiap siklus terdapat empat fase yang meliputi (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan (4) melakukan refleksi.

Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari (Prasiklus). Sedang fase pada siklus kedua dirancang dari refleksi siklus pertama. Dengan cara demikian diharapkan pada siklus kedua seluruh siswa kelas V SD Negeri Tiwulandu 01 dapat meningkatkan hasil belajarnya tentang komptensi Pengambilan Keputusan Bersama.

Dalam kegiatan pengumpulan data ini, penulis dibantu 3 Observer. Pengamatan ini dilakukan pada saat berlangsungnya pelaksanaan perbaikan pembelajaran di SD Negeri Tiwulandu 01. Adapun data-data yang diperoleh adalah sebagai berikut. Dalam kegiatan pengumpulan data secara kualitatif, pengamat menggunakan lembar observasi guru. Pengamat memberikan tanda cek (√ ) pada kolom kemunculan sesuai indikator tersebut.

Pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (observer) adalah tentang keefektifan metode bermain peran dalam meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran PKn khususnya tentang kompetensi pengambilan keputusan bersama. Untuk mendapatkan data yang lebih tepat, maka fokus pengamatan ditekankan pada: kegiatan guru dalam menerapkan metode bermain peran, aktifitas anak dalam pelaksanaan pembelajaran, keaktifan siswa dalam pelaksanaan bermain peran, indikator yang diamati pada lembar observasi guru terlampir.

Data kuantitatif diperoleh dari hasil nilai tes formatif. Dari hasil tersebut dapat untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran. Dari hasil nilai tes formatif tersebut dapat diketahui tingkat keberhasilan penggunaan metode bermain peran dalam meningkatkan motivasi siswa. Data kuantitatif tersebut dibuat sesuai dengan pedoman penilaian yang telah dibuat oleh guru. Setelah guru memberikan penilaian lalu menganalisis perbutir soal.

HASIL PENELITIAN

Dari hasil refleksi kondisi awal siswa yang mendapat nilai diatas 75 sebanyak 14  siswa, atau 53,84 % sedangkan nilai kurang dari 75 sebanyak 12 siswa atau 46,16 % dari 26 siswa. Untuk mengetahui presentasi rentang nilai maka diadakan analisis yang disajikan pada tabel dibawah ini.

Tabel 1

Analisis Hasil Tes Formatif Pra Siklus Mata Pelajaran PKn

No Rentang Frekuensi
1

2

3

4

5

6

41 -50

51 – 60

61 – 70

71 – 80

81 -90

91 -100

3

5

4

9

3

2

Jumlah 26

Berdasarkan tabel di atas, penguasaan materi  pembelajarn pra siklus bahwa dari jumlah 26 siswa yang mendapat nilai 41 sampai 50 sebanyak 3 siswa, yang mendapat nilai 51 sampai 60 sebanyak 5 siswa, nilai 61 sampai 70 sebanyak 4 siswa, nilai 71 sampai 80 sebamyak 9 siswa, nilai 81 sampai 90 sebanyak 3 siswa dan 2 siswa yang mendapat nilai diatas 91. Nilai hasil tes formatif diperoleh setelah proses pembelajaran selesai. Guru memberi evaluasi untuk mengetahui tingkat penguasaan materi yang telah diajarkan pada pembelajaran pra siklus.

Deskripsi Siklus I

Dari hasil penilaian tes akhir siswa yang mendapat  nilai diatas 75 sebanyak 18 siswa atau 69,23 % sedangkan nilai kurang dari 75 sebanyak 8 siswa atau 30,77% dari jumlah 26 siswa. Untuk mengetahui presentasi rentang nilai maka diadakan analisis yang disajikan pada tabel dibawah ini.

Tabel 2

Analisis Hasil Tes Formatif  Siklus I

No Rentang Frekuensi
1

2

3

4

5

6

41 -50

51 – 60

61 – 70

71 – 80

81 -90

91 -100

2

5

1

12

3

3

Jumlah 26

Berdasarkan tabel di atas, penguasaan materi setelah perbaikan pembelajaran Siklus I bahwa dari jumlah 26 yang mendapat nilai 41 sampai 50 sebanyak 2 siswa , nilai 51 sampai 60 sebanyak 5 siswa, nilai 61 sampai 70 sebanyak 1 siswa , nilai 71 sampai 80 sebanyak 12 siswa, nilai 81 sampai 90 sebanyak 3 siswa dan 3 siswa yang mendapat nilai diatas 91.

Deskripsi Siklus II

Skenario pembelajaran berlangsung dengan baik. Peneliti melaksanakan sesuai rencana. Pada akhir pembelajaran peneliti mengadakan evaluasi hasil belajar untuk mengetahui tingkat keberhasilan. Hasil perbaikan pembelajaran siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut: Siswa yang mendapat  nilai diatas 75 sebanyak 24 siswa atau 92,30%, sedangkan nilai kurang dari 75 sebanyak 2 siswa atau 7,70% dari jumlah 26 siswa. Untuk mengetahui presentasi rentang nilai maka diadakan analisis yang disajikan pada tabel dibawah ini.

Tabel 3

Analisis Hasil Tes Formatif  Siklus II

No Rentang Frekuensi
1

2

3

4

5

6

        41 -50

51 – 60

61 – 70

71 – 80

81 – 90

91 -100

2

5

7

12

Jumlah 26

Berdasarkan tabel di atas, penguasaan materi setelagh perbaikan  pembelajaran Siklus II bahwa dari jumlah 26 siswa tak seorang pun yang mendapat nilai dibawah 60, nilai 61 sampai 70, 2 siswa, nilai 71 sampai 80 sebanyak 5 siswa, nilai 81 sampai 90 sebanyak 7 siswa dan  yang mendapat nilai diatas 91 sebanyak 12 siswa.

Hasil Belajar dan Peningkatan Nilai Rata Rata

Berdasarkan tabel analisis Prasiklus dapat kita lihat bahwa hanya 53,84 % siswa yang meraih ketuntasan, 69,23 % pada siklus I dan pada Siklus II sebanyak 92,30 % hal ini menunjukkan bahwa peningkatan yang signifikan apabila kita menggunakan metode dan cara belajar yang tepat sehingga siswa dapat belajar dengan semangat dan meraih prestasi yang kita harapkan.

Pada nilai rata-rata juga mengalami peningkatan yang signifikan, nilai rata – rata pada pembelajaran awal 68, pada siklus I mengalami peningkatan yaitu 69 dan pada perbaikan pembelajaran siklus II menjadi 96. Perbaikan pembelajaran cukup pada siklus II tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya karena dari 26 siswa ada 24 siswa yang tuntas atau 92,30 % dan hanya2 siswa atau 7,70 % yang belum tuntas termasuk siswa yang lamban belajarnya.

Hasil peningkatan prosentase Ketuntasan Belajar penulis Sajikan dalam bentuk diagram di bawah ini :

caskiroh

PENUTUP

Setelah peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui pembelajaran siklus I dan siklus II dengan komptensi Pengambilan Keputusan Bersama di kelas V semester I tahun pelajaran 2013/2014 di SD Negeri Tiwulandu 01, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dengan metode bermain peran melalui pendekatan model cooperative learning maka aktivitas serta hasil belajar meningkat, Peningkatan ini terjadi pada siklus I maupun siklus II dengan bukti adanya peningkatan pada :

  • Model pembelajaran cooperative learning melalui penerapan metode bermain peran dapat meningkatkan aktivitas serta hasil belajara siswa.
  • Prosentase ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada evaluasi sebelum perbaikan pembelajaran ada 14 siswa atau 53,84 % dari 26 Pada perbaikan pembelajaran siklus I meningkat, siswa yang nilainya 75 keatas menjadi 18 atau 69,23% dari jumlah 26 siswa dan pada perbaikan siklus II menjadi 24 siswa atau 92,30 %.

           

DAFTAR PUSTAKA

      Sumantri Mulyani, Nana Syaodih. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta, Universitas Terbuka.

      Wardani, I.G.A.K, 2008, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Universitas Terbuka.

 

BIODATA PENULIS:

Nama             : CASKIROH, S.Pd.SD

NIP                 : 19670310 198903 2 014

Unit Kerja       : SD Negeri Tiwulandu 01

Kecamatan      : Banjarharja

Kabupaten       : Brebes




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *