Penerapan In House Training Guna Meningkatkan Kemampuan Menyusun RPP Tematik Bagi Guru

PENERAPAN IN HOUSE TRAINING GUNA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYUSUN RPP TEMATIK BAGI GURU SD NEGERI 2 BEJI SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh: Khoerudin, S.Pd, M.Si

ABSTRAK

Kemampuan merencanakan pembelajaran merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Temuan supervisi rutin menunjukkan kemampuan guru SD Negeri 2 Beji dalam menyusun RPP Tematik belum memadai. In house training dapat didayagunakan untuk kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik. Tujuan penelitian ini secara khusus adalah: 1) mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik melalui in house training oleh kepala sekolah; 2) mengetahui tindakan in house training yang dilakukan kepala sekolah. Hipotesis yang diajukan adalah: “In house training dapat meningkatkan kemampuan menyusun RPP Tematik bagi guru SD Negeri 2 Beji pada semester II tahun pelajaran 2015/2016”.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2015/2016 di SD Negeri 2 Beji dan subjek penelitiannya adalah guru di sekolah tersebut. Instrumen penelitian menggunakan instrumen penyusunan RPP Tematik dan lembar pengamatan. Validasi data dilakukan dengan membuat kisi-kisi instrumen, sedangkan validasi hasil tindakan dilakukan dengan triangulasi data.  Analisis data menggunakan deskriptif komparatif. Penelitian dilakukan sebanyak 2 siklus dan tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

Hasil penelitian menunjukkan in house training dapat meningkatkan kemampuan guru SD Negeri 2 Beji dalam menyusun RPP Tematik. Hasil akhir kemampuan menyusun RPP Tematik sebesar 49,64 dan pelaksanaan in house training sebesar 27,5. Keduanya melampaui indikator kinerja dalam penelitian tindakan ini, yaitu: 1) nilai atau skor rata-rata kemampuan menyusun RPP Tematik adalah 49,64 yang lebih besar dari indikator kinerja sebesar 46, dan 2) nilai rata-rata in house training yang dilakukan peneliti adalah 27,5 lebih besar dari indikator kinerja sebesar 23. Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis tindakan terbukti benar.

Kata kunci: Kemampuan, RPP Tematik, In House Training.

LATAR BELAKANG MASALAH

Kegiatan pembelajaran membutuhkan perencanaan yang baik agar dapat berjalan secara sistematis dan dinamis. Oleh sebab itu, kemampuan merencanakan pembelajaran merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Guru yang profesional idealnya dapat membuat Rencana Program Pembelajaran (RPP) secara mandiri, bukan hasil copy paste.

Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 menekankan bahwa pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran di SD adalah pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (Sukini, 2012).

Kenyataan menunjukkan bahwa guru SD Negeri 2 Beji belum dapat menyusun RPP Tematik. Berdasarkan hasil supervisi tahun 2014/2015, dari 14 RPP yang dikumpulkan dari 7 orang guru sebagai sampel, hanya terdapat 2 RPP (14,3%) yang sudah bernuansa tematik.

Penelitian ini membahas upaya peningkatan kemampuan menyusun RPP Tematik bagi guru SD Negeri 2 Beji dengan melaksanakan in house training oleh peneliti selaku kepala sekolah. In house training dipandang sesuai untuk diterapkan karena para guru menyampaikan keluhan tentang masalah RPP Tematik dan meminta peneliti untuk memberikan bimbingan penyusunan RPP Tematik. Kondisi peneliti dan guru yang tergabung dalam satu sekolah juga semakin memberikan iklim yang kondusif bagi pelaksanaan in house training. Peneliti memutuskan untuk menjadikan semua guru di SD Negeri 2 Beji sebagai subjek penelitian, mengingat ke depan RPP Tematik diwacanakan digunakan pada semua kelas, sehingga semua guru harus memiliki kemampuan untuk menyusun RPP Tematik dengan baik dan benar.

TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan Umum

Meningkatkan mutu pendidikan di SD Negeri 2 Beji, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas serta meningkatkan kompetensi penelitian dan pengembangan bagi peneliti.

2. Tujuan Khusus

a. mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP melalui in house training oleh kepala sekolah;

b. mengetahui tindakan in house training yang dilakukan Kepala sekolah.

KAJIAN TEORI

Hakikat Kemampuan Guru

Menurut Pasal 1 Undang-undang No. 14 Tahun 2005, guru sebagai pendidik harus memiliki kualifikasi akademis dan kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.

Rusman (2009) mengatakan bahwa tahap merancang kegiatan pembelajaran adalah tahap yang akan berhubungan dengan kemampuan guru menguasai bahan ajar. Kemampuan guru dalam hal ini dapat dilihat dari cara atau proses penyusunan program kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

Menurut Ardiansyah (2010), hal-hal yang dilakukan guru dalam rangkaian aktivitas pengajaran meliputi rencana mengajar, proses belajar mengajar, penilaian, analisis dan umpan balik. Dalam siklus pembelajaran, hal pertama yang harus dilakukan oleh guru adalah menyusun rencana mengajar. Dalam menyusun rencana mengajar ini hal-hal yang harus dipertimbangkan meliputi rincian komponen yang harus dicapai peserta didik, cakupan dan kedalaman materi, indikator pencapaian kompetensi, pengalaman belajar yang harus dialami peserta didik, persyaratan sarana belajar yang diperlukan, dan metode serta prosedur untuk menilaian ketercapaian kompetensi.

Slameto (2003) mengatakan dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam belajar sebagai suatu proses yang dinamis dalam segala fase dan proses perkembangan siswa. Secara lebih terperinci tugas guru berpusat pada:

a. mendidik dengan titik berat memberikan arah dan motivasi pencapaian tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang

b. memberi fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai;

c. membantu perkembangan aspek-aspek pribadi seperti sikap, nilai-nilai, dan penyesuaian diri.

Proses pelaksanaan pembelajaran diharapkan dapat berjalan dengan baik. Menurut Rusman (2009) kriteria melaksanakan pembelajaran yang baik meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Kemampuan membuka pembelajaran sebaiknya menarik perhatian siswa, memberi motivasi awal, memberi apersepsi, menyampaikan tujuan, memberi acuan bahan belajar yang akan diberikan.

b. Sikap guru dalam proses pembelajaran seharusnya jelas artikulasi suara, variasi gerakan badan tidak mengganggu perhatian siswa, antusiasme dalam penampilan, mobilitas posisi mengajar.

c. Penguasaan bahan belajar harus sesuai dengan langkah-langkah dalam RPP, jelas dalam menyampaikan bahan belajar, jelas dalam memberikan contoh, memiliki wawasan yang luas dalam penyampaian bahan belajar.

d. Proses Pembelajaran (KBM) mencakup kesesuaian metode dengan bahan belajar, penyajian bahan belajar sesuai dengan tujuan/indikator yang telah ditetapkan, terampil dalam menanggapi dan merespon pertanyaan siswa, serta ketepatan dalam penggunaan alokasi waktu yang disediakan.

e. Kemampuan menggunakan media pembelajaran, diantaranya: memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan media, kesesuaian media dengan materi, terampil dalam penggunaan media, meningkatkan perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran.

f. Evaluasi pembelajaran yang baik memiliki kriteria penilaian relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan, menggunakan bentuk dan jenis ragam penilaian, sesuai RPP.

g. Kemampuan menutup pembelajaran meliputi: meninjau kembali materi yang telah diberikan, memberi kesempatan bertanya dan menjawab pertanyaan, memberi kesimpulan pembelajaran.

h. Tindak lanjut/ follow up sebaiknya mampu memberi tugas individu maupun kelompok, memberi informasi materi yang akan datang, memotivasi siwa untuk selalu rajin belajar.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang telah dijabarkan dalam silabus. RPP ini dapat digunakan oleh setiap pengajar sebagai pedoman umum untuk melaksanakan pembelajaran kepada peserta didiknya, karena di dalamnya berisi petunjuk secara rinci, pertemuan demi pertemuan, mengenai tujuan, ruang lingkup materi yang harus diajarkan, kegiatan belajar mengajar, media, dan evaluasi yang harus digunakan. Oleh karena itu, dengan berpedoman RPP ini pengajar akan dapat mengajar dengan sistematis, tanpa khawatir keluar dari tujuan, ruang lingkup materi, strategi belajar mengajar, atau keluar dari sistem evaluasi yang seharusnya. (BSNP, 2006).

Menurut Muslich (2008) perencanaan pembelajaran atau biasa disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan RPP inilah seorang guru diharapkan bisa menerapkan pembelajaran secara terprogram. Karena itu, RPP harus mempunyai daya terap (aplicable) yang tinggi. Tanpa perencanaan yang matang, mustahil target pembelajaran bisa tercapai secara maksimal.

Mulyasa (2008) menyebutkan bahwa RPP terdiri dari komponen program kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program. Komponen program mencakup KD, materi standar, metode pembelajaran, media pembelajaran, sumber belajar, dan waktu belajar. Dengan demikian, RPP pada hakikatnya merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang saling berhubungan serta berinteraksi satu dengan lainnya, dan memuat langkah-langkah pelaksanaannya untuk mencapai tujuan yaitu membentuk kompentensi yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik pada dasarnya merupakan model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Menurut Robin Foganty pembelajaran tematik bertolak dari topik atau tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama-sama dengan siswa. Tema yang dipilih tidak hanya untuk menguasai konsep-konsep mata pelajaran, tetapi konsep-konsep dari mata pelajaran terkait digunakan sebagai alat dan wahana untuk mempelajari dan menjelajahi topik atau tema tersebut. Pembelajaran tematik dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan pembelajaran yang bisa mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan (Sukini, 2012).

Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awal SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:

a. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,

b. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama;

c. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;

d. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;

e. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;

f. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain;

g. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Sukini (2012), dengan mengutip berbagai sumber, mengatakan bahwa sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik: Berpusat pada siswa, Memberikan pengalaman langsung, Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, Bersifat fleksibel, Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

In House Training

Pelatihan dibagi dalam dua pengertian; IT (In House Training) dan PT (Public Training). In house training adalah pelatihan yang terjadi atas permintaan suatu komunitas tertentu apakah itu lembaga profit ataupun nonprofit (Sueta, 2010).

Banyak istilah yang digunakan untuk menunjukkan pendidikan/ pelatihan yang diperuntukkan para guru sebagai bentuk pengembangan personil. Istilah-istilah tersebut antara lain in house training, in-service training, in-service education, up-grading. Istilah-istilah ini semuanya menunjuk kepada pendidikan dalam jabatan, untuk membedakannya dengan pendidikan persiapan untuk calon guru (pre-service education) (Dahlan, 2007).

Nawawi (2003), memberikan pengertian in-service training sebagai usaha meningkatkan pengetahuan pengetahuan dan keterampilan guru dalam bidang tertentu sesuai dengan tugasnya, agar dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam melakukan tugas-tugas tersebut. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa program in-service training ini diperlukan karena banyak guru muda yang belum mendapat pengalaman dan bekal yang cukup dalam menghadapi pekerjaannya.

Jadi, in house training pada dasarnya adalah program pelatihan yang diselenggarakan di tempat peserta pelatihan, menggunakan peralatan kerja peserta pelatihan dengan materi yang relevan dan merupakan permasalahan yang sedang dihadapi. Program ini dapat membuat peserta lebih mudah menyerap dan mengaplikasikan materi pelatihan untuk menyelesaikan dan mengatasi permasahan kerja dan mampu secara langsung meningkatkan kualitas dan kinerja dari sumber daya manusia di lingkungan instansi peserta pelatihan.

HIPOTESIS TINDAKAN

In house training dapat meningkatkan kemampuan menyusun RPP Tematik bagi guru SD Negeri 2 Beji pada semester II tahun pelajaran 2015/2016.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2015/2016 di SD Negeri 2 Beji dan subjek penelitiannya adalah guru di sekolah tersebut yang berjumlah 7 orang. Instrumen penelitian menggunakan instrumen penyusunan RPP Tematik dan lembar pengamatan. Validasi data dilakukan dengan membuat kisi-kisi instrumen, sedangkan validasi hasil tindakan dilakukan dengan triangulasi data. Analisis data menggunakan deskriptif komparatif. Indikator kinerja: tindakan dalam penelitian ini dapat dikatakan berhasil jika terdapat bukti peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik setelah dilakukannya in house training, yang dilihat dari: 1) Nilai atau skor rata-rata kemampuan menyusun RPP Tematik sebesar 46, 2) Nilai rata-rata in house training yang dilakukan peneliti sebesar 23. Penelitian dilakukan sebanyak 2 siklus dan tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Deskripsi Kondisi Awal

Berdasarkan penilaian terhadap RPP yang terkumpul sebelum penelitian, nilai rata-rata kemampuan menyusun RPP Tematik sebesar 26,29 yang termasuk kategori kurang dalam penelitian ini. Kondisi demikian menunjukkan bahwa guru SD Negeri 2 Beji secara umum belum memiliki kemampuan yang memadai dalam menyusun RPP Tematik.

Permasalahan tersebut secara khusus dapat disebabkan oleh pembimbingan yang dilakukan peneliti yang belum maksimal. Untuk itu, peneliti akan melakukan tindakan pembimbingan melalui in house training dengan tujuan agar guru SD Negeri 2 Beji mampu menyusun RPP Tematik dengan baik dan benar, sehingga diharapkan kompetensi guru semakin berkembang dan proses pembelajaran juga semakin baik dan bermutu.

2. Deskripsi Siklus I Penelitian

Nilai rata-rata kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik dari peneliti adalah sebesar 36,86 sedangkan dari kolaborator sebesar 37,57. Jadi nilai rata-ratanya adalah sebesar 37,21. Penilaian terhadap tindakan in house training yang dilakukan peneliti, dari kolaborator sebesar 21 sedangkan dari salah satu subjek penelitian sebesar 23. Jadi nilai rata-ratanya sebesar 22.

 

 

 

Berdasarkan data tersebut di atas dapat diketahui bahwa data awal kemampuan menyusun RPP Tematik menunjukkan skor rata–rata sebesar 26,29 sedangkan hasil tindakan pada siklus 1 diperoleh rata–rata sebesar 37,21. Jadi nilai kemampuan menyusun RPP Tematik mencapai kenaikan skor 10,92 atau 19,85%. Sementara pelaksanaan in house training mencapai skor 22 atau meningkat 73,3% dibanding data awal.

Berdasarkan hasil siklus 1, dapat diketahui bahwa meskipun ada peningkatan kemampuan menyusun RPP Tematik pada subjek penelitian, namun hasilnya secara keseluruhan belum mencapai indikator keberhasilan dalam penelitian ini. Oleh sebab itu, tindakan dilanjutkan lagi ke Siklus 2, dengan harapan hasilnya semakin meningkat dan dapat mencapai indikator/kinerja keberhasilan dalam penelitian ini.

3. Deskripsi Siklus II Penelitian

Nilai rata-rata kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik dari peneliti adalah sebesar 49,43 sedangkan dari kolaborator sebesar 49,86. Jadi nilai rata-ratanya adalah sebesar 49,64. Sementara penilaian untuk tindakan in house training dari kolaborator sebesar 27 sedangkan dari salah satu subjek penelitian sebesar 28. Jadi nilai rata-ratanya adalah sebesar 27,5.

 

 

 

Berdasarkan data tersebut di atas dapat diketahui bahwa kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik mencapai kenaikan skor sebesar 12,43 atau 22,6% dan skor pelaksanaan in house training meningkat sebesar 5,5 atau 18,3%. Pada proses penyusunan RPP Tematik sebagian besar indikator sudah nampak maksimal. Sedangkan untuk pelaksanaan in house training yang dilakukan oleh peneliti secara umum sudah berjalan secara maksimal.

4. Pembahasan/Diskusi

Berdasarkan data hasil penelitian dapat diketahui bahwa kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik mengalami peningkatan, yaitu dari data awal sampai akhir siklus 2 sebesar adalah 23,35 atau 42,45%. Sementara pelaksanaan in house training dari awal sampai siklus 2 meningkat sebesar 27,5 atau 91,7%.

 

 

 

Berdasarkan uraian data tersebut di atas dapat diketahui bahwa penelitian tindakan sekolah tentang peningkatan kemampuan menyusun RPP Tematik oleh peneliti terhadap guru di dapat dikatakan berhasil karena terjadi peningkatan skor pada kemampuan menyusun RPP Tematik dan in house training pada tiap siklus penelitian.

5. Hasil Tindakan

Berdasarkan data hasil penelitian, tindakan in house training oleh peneliti berhasil meningkatkan kemampuan guru dalam penyusunan RPP Tematik. Kemampuan menyusun RPP Tematik pada kondisi awal sebesar 26,29 meningkat menjadi 37,21 pada akhir siklus 1 dan meningkat lagi menjadi 49,64 pada akhir siklus 2. Total kenaikan sebesar 23,35 atau 42,45%. Pelaksanaan in house training oleh peneliti dari kondisi awal belum dilaksanakan (0), meningkat menjadi 22 pada siklus 1 dan 27,5 pada siklus 2, sehingga total kenaikan 27,5 atau 91,7%. Kenaikan skor tersebut merupakan bukti bahwa pelaksanaan in house training dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik.

SIMPULAN

In house training dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik. Hal ini dibuktikan dengan naiknya skor kemampuan menyusun RPP Tematik maupun pelaksanaan in house training. Hasil akhir untuk kemampuan menyusun RPP Tematik adalah sebesar 49,64 dan pelaksanaan in house training sebesar 27,5. Keduanya melampaui indikator kinerja dalam penelitian tindakan ini, yaitu: 1) Nilai atau skor rata-rata kemampuan menyusun RPP Tematik adalah 49,64 yang lebih besar dari indikator kinerja sebesar 46, dan 2) Nilai rata-rata in house training yang dilakukan peneliti adalah 27,5 lebih besar dari indikator kinerja sebesar 23. Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis tindakan terbukti benar.

SARAN

1. Bagi kepala sekolah; 1) agar lebih intensif dalam melaksanakan bimbingan guna mengoptimalkan kompetensi guru, sesuai dengan perkembangan yang berlaku, 2) tindakan in house training dapat menjadi alternatif model bimbingan guna meningkatkan kompetensi guru.

2. Bagi guru; agar meningkatkan motivasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya secara berkelanjutan, sesuai perkembangan kebijakan yang berlaku, sehingga kompetensi dan profesionalismenya dapat terus meningkat dari waktu ke waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, M. Asrori. 2011. Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa. http:// kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/04/penilaian-dalam-pembelajaran-bahasa. html. Diakses tanggal 19 Juli 2014.

Badan Nasional Standar Pendidikan. 2006. Naskah Akademik Tentang Standar Pengawas Satuan Pendidikan. Jakarta: Direktorat Pendidikan.

Dahlan, Dadang. 2007. In-house Training sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Guru Tsanawiyah. Makalah, file.upi.edu/al.php.

Mulyasa, E. 2008. Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muslich, Masnur. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.

Rusman. 2009. Manajemen Kurikulum. Jakarta: Rajawali Pers.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sueta, I Nyoman, 2010, “Peningkatan Kemampuan Guru dalam Menyusun Kelengkapan Mengajar Melalui In-House Training pada SMK Bhakti Mulya Sampit”. Makalah. Diklat Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah dan Pengawas Kabupaten Kotawaringin Timur di LPMP Propinsi Kalteng.

Sukini, 2012, “Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar  dan Pelaksanaannya”, Jurnal Magistra No. 82 Th. XXIV Desember 2012.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

 


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *