infopasti.net

Penerapan Metode Active Learning Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Pkn Materi Peraturan Perundang-Undangan Tingkat Pusat Dan Daerah

PENERAPAN METODE ACTIVE LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR Pkn MATERI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TINGKAT PUSAT DAN DAERAH BAGI SISWA KELAS V SD NEGERI KARANGNANGKA KABUPATEN BANYUMAS SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Oleh : Mahanani

ABSTRAK

 

Pembelajaran yang ideal ditandai dengan sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara aktif, namun kenyataan menunjukkan kondisi tersebut sulit untuk diwujudkan secara maksimal, seperti terjadi dalam pembelajaran PKn di kelas V SD Negeri Karangnangka. Akibatnya suasana pembelajaran menjadi kurang dinamis dan bermakna. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut adalah prestasi belajar menjadi tidak masimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya meningkatkan prestasi belajar PKn melalui penerapan metode active learning bagi siswa kelas V SD Negeri Karangnangka Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017. Hipotesis yang diajukan adalah: “Metode active learning dapat meningkatkan prestasi belajar PKn bagi siswa kelas V SDN Karangnangka Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017”.

Penelitian ini dilaksanakan pada Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 di SD Negeri Karangnangka dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas V. Pengumpulan data menggunakan teknik tes dan nontes. Teknik analisis data menggunakan deskriptif komparatif Penelitian tindakan ini dilakukan melalui penerapan metode active learning dalam 2 siklus. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran PKn yang menggunakan metode active learning terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SD Negeri Karangnangka. Hal ini ditunjukkan dengan hasil yang dicapai pada siklus II penelitian dimana sebanyak 22 siswa (84,62%) yang dapat memperoleh nilai 70 atau lebih. Hasil ini meningkat dibanding siklus I dimana terdapat 16 siswa (61,53%) yang dapat memperoleh nilai 70 atau lebih. Hasil pada siklus II penelitian tersebut melampaui indikator kinerja dalam penelitian ini, yaitu minimal 75% siswa dapat mencapai nilai sebesar 70 atau lebih. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis penelitian diterima.

Kata kunci: Active learning, Prestasi belajar, PKn.

Latar Belakang Masalah

Pembelajaran yang ideal ditandai dengan sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara aktif. Hakikat pembelajaran yang ideal adalah proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran yang ideal mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan perilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka (Djiwandono, 2006: 6).

Kenyataan menunjukkan bahwa kondisi pembelajaran yang ideal sulit untuk diwujudkan secara maksimal. Hal tersebut seperti terjadi dalam pembelajaran PKn di kelas V SD Negeri Karangnangka. Peneliti mengamati bahwa dalam pembelajaran PKn siswa seringkali tidak fokus, mengantuk, kurang memperhatikan penjelasan guru, kadang mengobrol dengan teman sebangkunya. Akibatnya suasana pembelajaran menjadi kurang dinamis dan bermakna. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut adalah prestasi belajar menjadi tidak masimal. Hal tersebut peneliti amati dari hasil ulangan harian, dimana banyak siswa yang nilainya di bawah KKM, yaitu sebesar 70. Bahkan ada kalanya, siswa yang nilainya di bawah KKM mencapai lebih dari separuh dari jumlah siswa.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka perlu dilakukan upaya yang tepat dan nyata untuk meningkatan prestasi belajar PKn. Untuk itu, strategi yang dapat digunakan antara lain adalah dengan menerapkan metode pembelajaran yang tepat. Metode tersebut khususnya yang dapat mengarahkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran.

Salah satu metode dapat mengarahkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran yaitu model active learning atau model pembelajaran aktif. Pembelajaran aktif merupakan proses pembelajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa baik yang bersifat fisik, mental, emosi maupun intelektual untuk mencapai tujuan pendidikan yang berhubungan dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Jadi, active learning pada dasarnya merupakan kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa, dalam arti siswa terlibat langsung dalam pembelajaran yang berhubungan dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hal ini sesuai dengan karakteristik siswa SD. Menurut Djiwandono (2006: 6) bahwa sebagian besar anak sekolah dasar yang berada dalam operasional konkret kurang mampu berfikir abstrak. Jika dilihat dari pemikiran dan karakteristik anak usia sekolah dasar, maka dalam pelaksanaan pembelajaran PKn guru dapat merencanakan kegiatan yang mengandung unsur keterlibatan siswa secara langsung.

Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk meningkatkan prestasi belajar PKn melalui penerapan metode active learning pada siswa kelas V SD Negeri Karangnangka Kabupaten Banyumas Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran.

b. Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn

Kajian Teori

Menurut Pribadi (2010: 6), belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang agar memiliki kompetensi berupa keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan. Sementara menurut Hamalik (2010: 37), belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.

Pakar teknologi pendidikan, Gagne, Briggs, & Wager (1992) yang dikutip oleh Prawiradilaga (2009: 15) menyatakan bahwa proses belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor internal siswa itu sendiri dan faktor eksternal, yaitu pengaturan kondisi belajar. Proses belajar terjadi karena sinergi memori jangka pendek dan jangka panjang diaktifkan melalui penciptaan faktor eksternal, yaitu pembelajaran atau lingkungan belajar. Melalui inderanya, siswa dapat menyerap materi secara berbeda. Pembelajaran mengarahkan supaya pemrosesan informasi untuk memori jangka panjang dapat berlangsung lancar.

Menurut Winkel (2009: 21), belajar adalah perubahan tingkah laku sesudah belajar, sedangkan Bruner (1962) dalam Winataputra, dkk (2007: 3.13) berpendapat bahwa belajar itu terjadi atas 3 episode yaitu (1) informasi, (2) transformasi, dan (3) evaluasi. Informasi ialah penjelasan mengenai pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Adapun transformasi adalah suatu proses perpindahan pengetahuan ke dalam diri siswa, serta evaluasi adalah penilaian untuk mengukur tingkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa.

Ciri-ciri belajar dikemukakan oleh Baharudin dan Wahyuni (2009: 15-16) bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang bersifat relative permanent dan bersifat potensial. Dikatakan relative permanent karena saat belajar terjadi perubahan perilaku dalam kurun waktu tertentu. Perubahan perilaku yang terjadi hanya bersifat sementara tidak sampai pada akhir khayat. Kemudian dikatakan perubahan perilaku potensial dikarenakan perubahan perilaku yang terjadi tidak langsung dapat dilihat saat itu juga atau tidak terlihat langsung pada proses pembelajaran. Perubahan perilaku ini dapat dilihat saat pembelajaran selesai.

Menurut Pribadi (2010: 10), pembelajaran adalah proses yang sengaja dirancang untuk menciptakan terjadinya aktivitas belajar dalam diri siswa. Pembelajaran menurut Briggs (1992) dalam Sugandi, dkk (2008: 9), adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi siswa sedemikian rupa, sehingga siswa itu memperoleh kemudahan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pembelajaran yang efektif menurut Anni, dkk (2007: 15), menuntut guru untuk memiliki kemampuan sebagai berikut: (1) merancang bahan belajar yang mampu menarik dan memotivasi siswa untuk belajar; (2) menggunakan berbagai strategi pembelajaran; (3) mengelola kelas agar tertib dan teratur; (4) memberi informasi siswa tentang perilaku yang diharapkan untuk dimiliki oleh siswa; (5) menjadi narasumber, fasilitator, dan motivator yang handal; dan (6) memperhitungkan karakteristik intelektual, sosial, dan kultural siswa, mahir dalam memberikan pertanyaan dan balikan, mereview pelajaran bersama dengan siswa.

Jika kemampuan guru yang disebutkan di atas dapat dilaksanakan dengan menyeluruh dan maksimal, akan menghasilkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Kemampuan pemilihan penggunaan strategi pembelajaran misalnya, guru harus memilih strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik materi, sehingga dapat menentukan model, metode, atau teknik yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. Pemilihan metode atau teknik yang cocok dalam pembelajaran akan membuat hasil belajar maksimal. Oleh sebab itu, pembelajaran harus disusun sedemikian rupa dengan memahami kemampuan yang harus dimiliki guru agar dapat melakukan pembelajaran bermakna bagi siswa.

Kegiatan pembelajaran mencakup aspek kehidupan yakni mengembangkan kognitif, afektif, psikomotorik serta keterampilan hidup (life skill) untuk itu dibutuhkan bimbingan dan arahan dari orang lain. Arahan dan bimbingan dapat diperoleh dengan guru maupun tanpa guru misalnya teman sebaya atau orang yang berkompeten. Dengan adanya bimbingan dari orang yang berkompeten maka diharapkan akan mudah menerima transfer ilmu pengetahuan sehingga tujuan dari kegiatan pembelajaran dapat tercapai.

Menurut Suryasubrata (2008:28) prestasi belajar merupakan hasil usaha, sedangkan belajar lebih menekankan pada proses kegiatan. Jadi prestasi belajar adalah hasil usaha dari kegiatan belajar. Kemudian menurut Sudjana (2002:19) prestasi belajar adalah suatu keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti program pengajaran dalam kurun waktu tertentu, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Prestasi belajar berwujud angka-angka, hasil ulangan, hasil ujian, dan tugas-tugas, dan ukuran secara operasional dari konsep prestasi belajar.

Menurut Howard Kingsley yang dikutip oleh Sudjana (2002:22) membagi tiga hasil belajar, yaitu : 1) keterampilan, 2) pengetahuan dan pengertian, 3) sikap dan cita-cita. Hasil belajar yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta nilai dapat diukur, tinggi rendahnya pengukuran dengan memberikan tugas yang sesuai dengan komponen hasil belajar yang diinginkan. Dalam sistem pendidikan nasional, rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler maupun instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar yang secara garis besarnya membagi dalam tiga ranah yaitu, ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

Menurut Zamroni (dalam Ubaedillah & Rozak, 2013: 15) Pendidikan Kewarganegaraan merupakan pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat berfikir kritis dan bertindak melalui dengan menanamkan kesadaran bahwa demokrasi adalah bentuk kehidupan yang menjamin hak masyarakat. Sedangkan menurut Soemantri (dalam Ubaedillah & Rozak, 2013: 15) Pendidikan Kewarganegaraan (civic education) ditandai oleh kegiatan yang sudah diprogramkan oleh sekolah. Kegiatan ini meliputi kegiatan pembelajaran yang dapat menumbuhkan perilaku yang baik. Pendidikan Kewarganegaraan dilakukan dengan kegiatan yang menyangkut pengalaman yang dikaitkan dengan kehidupan nyata, seperti kehidupan dalam keluarga dan masyarakat.

Permendiknas No.22 Tahun 2006 bahwa mata pelajaran PKn bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

a. berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan,

b. berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, serta anti korupsi,

c. berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain,

d. berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam peraturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka seyogyanya pembelajaran PKn tidak hanya didominasi dengan ceramah yang dilakukan guru namun melibatkan siswa untuk berpartisispasi secara langsung dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Arthur K. Ellis (Samsuri, 2011: 4) bahwa kata kunci dalam pembelajaran ialah partisipasi. Untuk itu guru dapat membuat rancangan kegiatan yang memunculkan partisipasi siswa dalam belajar sehingga dapat mencapai tujuan PKn yang telah ditentukan.

Active learning merupakan suatu pembelajaran yang menekankan siswa untuk aktif dalam belajar. Kegiatan pembelajaran lebih didominasi pada aktivitas siswa. Kegiatan pembelajaran tidak hanya menekankan pada aktivitas mental namun juga melibatkan aktifitas fisik, sehingga suasana pembelajaran lebih nyaman dan menyenangkan (Zaini, 2008 : xiv). Menurut Samadhi (2009: 2) pembelajaran aktif (active learning) merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa turut aktif dalam proses pembelajaran, baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan guru.

Karakteristik pembelajaran aktif menurut Bonwell (Hamid, 2011: 49-50) yaitu dalam pembelajaran siswa tidak hanya pasif mendengakan penjelasan dari guru, namun kegiatan pembelajaran menekankan pada aktivitas belajar siswa. Sehingga siswa aktif dalam pembelajaran. Siswa dituntut untuk berfikir kritis, melakukan analisis dan melakukan evaluasi. Dari hal tersebut diketahui bahwa proses pembelajaran menekankan pada pengembangan keterampilan menganalisis dan mengkritisi persoalan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari untuk itu umpan balik dalam pembelajaran sering terjadi. Selain itu dalam kegiatan pembelajaran ditanamkan sikap-sikap dan nilai karakter kepada siswa yang berkenanan dengan materi yang disampaikan.

Dalam panduan pembelajaran Model Active Learning in School (Uno, 2009: 75-76) ciri pembelajaran aktif merupakan pembelajaran yang kegiatannya berpusat pada siswa. Pada pembelajaran aktif siswa dituntut untuk berfikir kritis, sebab siswa sendiri yang mencari pengetahuannya melalui kegiatan langsung. Untuk itu lingkungan dapat digunakan sebagai media atau sumber belajar siswa. Dengan pembelajaran yang dikaitkan dengan  kehidupan nyata dapat mendorong anak untuk berinteraksi dengan lingkungan.

Kegiatan guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran aktif yaitu memantau siswa dalam belajar. Guru memberikan arahan kepada siswa dalam menemukan pengetahuannya. Pembelajaran aktif menekankan pada aktifitas siswa daripada guru, namun guru tetap mengontrol jalannya kegiatan pembelajaran agar tidak terjadi perbedaan persepsi dalam belajar. Selain itu memberikan umpan balik juga dilakukan oleh guru kepada siswa. Pemberian umpan balik tersebut bertujuan untuk mengapreiasi kegiatan yang sudah dilakukan siswa.

Hipotesis Tindakan

Penerapan metode active learning dapat meningkatkan prestasi belajar pada siswa kelas V SD Negeri Karangnangka Kabupaten Banyumas Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 di SD Negeri Karangnangka dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas V. Pengumpulan data menggunakan teknik tes dan nontes. Teknik analisis data menggunakan deskriptif komparatif Penelitian tindakan ini dilakukan melalui penerapan metode active learning dalam 2 siklus. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Deskripsi Hasil Siklus I

Penelitian ini menerapkan tindakan dengan metode active learning dalam upaya meningkatkan hasil belajar PKn pada siswa kelas V SD Negeri Karangnangka. Penelitian ini dilakukan mengingat data awal menunjukkan banyak siswa kelas V yang nilainya di bawah KKM dalam pembelajaran PKn. Penelitian dilakukan dalam 2 siklus dan pada tiap akhir siklus dilakukan tes untuk mengetahui keberhasilan tindakan. Hasil tes pada Siklus I penelitian tersaji pada tabel berikut ini.

Nilai tes PKn siswa kelas V SD Negeri Karangnangka pada Siklus I penelitian belum memenuhi kriteria keberhasilan dalam penelitian ini, terlihat dari nilai rata-rata kelas sebesar 68,65. Nilai tersebut masih dibawah nilai KKM, yaitu 70. Selain itu hasil tes menunjukkan masih banyak siswa yang belum mencapai nilai KKM. Dari 21 siswa, 16 orang (61,53%) mampu mencapai KKM atau lebih. Lainnya sebanyak 10 orang (38,46%) nilainya belum mencapai KKM.

Respon siswa pada siklus pertama belum memuaskan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya respon yang baik hanya pada dua indikator, yaitu pada indikator perhatian dalam kegiatan pembelajaran serta keaktifan dan kerjasama dalam melaksanakan tugas atau diskusi kelompok. Hasil pengamatan pada siklus pertama ini belum memenuhi kriteria yang dipersyaratkan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini, yaitu minimal 3 indikator dalam kategori baik.

2. Deskripsi Siklus II Penelitian

Hasil tes pada Siklus I penelitian tersaji pada tabel berikut ini.

Berdasarkan data pada Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa nilai tes PKn siswa kelas V SD Negeri Karangnangka pada Siklus II penelitian sudah memuaskan. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya siswa yang mampu mencapai nilai diatas KKM. Dari 21 siswa, hanya 4 orang (15,38%) yang nilainya belum mencapai KKM. Lainnya sebanyak 22 orang (84,62%) nilainya sudah mencapai KKM atau lebih. Kondisi ini menunjukkan bahwa penerapan metode active learning sudah berhasil karena sesuai dengan kriteria keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini, seperti telah diuraikan pada Bab III, yaitu penelitian dianggap berhasil jika minimal 75 persen siswa mampu mencapai nilai sebesar 70 atau lebih.

Hasil pada siklus kedua sudah menunjukkan hasil yang benar-benar positif dan karena siswa sudah menunjukkan respon yang baik pada seluruh indikator atau 100 persen, yang berarti melampaui kriteria keberhasilan pembelajaran alam penelitian ini, yang mana hasil pembelajaran dianggap efektif jika minimal 3 indikator atau 75 persen dalam kategori baik. Dengan demikian hasil pada siklus kedua ini selain terus menunjukkan peningkatan dibanding siklus sebelumnya, juga sudah memenuhi kriteria keberhasilan perbaikan pembelajaran sesuai kriteria yang dipersyaratkan.

3. Perbandingan Antar Siklus

Berikut ini disajikan perbandingan nilai tes yang dicapai siswa pada Nilai Siklus I dan Siklus II.

Data pada Tabel 4.3 menunjukkan bahwa seluruh siswa nilainya mengalami peningkatan pada Siklus II penelitian dan pada nilai rata-rata kelas juga mengalami kenaikan sebesar 12,50 poin. Hal tersebut menunjukkan bahwa metode active learning memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan prestasi belajar pada siswa kelas V SD Negeri Karangnangka. Adapun perbandingan siswa yang mencapai nilai minimal 70 pada 2 siklus penelitian adalah sebagai berikut.

Berdasarkan data pada Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa  nilai siswa pada kedua siklus mempunyai perbedaan yang cukup menyolok. Pada Siklus I siswa nilainya di bawah 70 sebanyak 10 orang (38,46%). Sedangkan siswa yang memperoleh nilai 70 atau lebih sebanyak 16 orang (61,53%). Oleh sebab itu, hasil pada Siklus I belum memenuhi kriteria keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini, yaitu minimal 75 persen siswa mampu mencapai nilai 70 atau lebih Sementara pada Siklus II, mayoritas siswa, yaitu 22 orang (84,62%), mampu mencapai nilai 70 atau lebih, yang berarti melampaui kriteria keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini.

4. Pembahasan/Diskusi

Data awal menunjukkan banyak siswa kelas V SD Negeri Karangnangka yang nilainya di bawah KKM. Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa untuk mata pelajaran PKn di SD N Karangnangka masih cukup jauh dari target yang diharapkan. Untuk itu peneliti merasa perlu melakukan penelitian tindakan guna meningkatkan hasil belajar. Peneliti berusaha meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model active learning.

Berdasarkan hasil tindakan pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 68,65 dan jumlah siswa yang memperoleh nilai 70 atau lebih sebanyak 16 orang (61,53%). Hasil ini belum memenuhi kriteria keberhasilan dalam penelitian ini. Namun demikian, hasil yang ada setidaknya menunjukkan bahwa tindakan pada siklus I memiliki pengaruh terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn.

Pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan model active learning pada siklus I sudah berjalan dengan baik. Meskipun terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki yakni pada aktivitas guru dalam menjelaskan kegiatan pembelajaran kepada siswa dan masih rendahnya aktivitas menjawab pertanyaan. Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I pertemuan pertama guru tidak menjelaskan kegiatan pembelajaran seperti adanya diskusi, membuat pertanyaan individu, dan tidak melakukan pertukaran peran untuk tanya jawab pada awal kegiatan pembelajaran. Setelah melakukan apersepsi guru langsung membagi siswa dalam beberapa kelompok. Saat diskusi sedang berjalan, guru baru menjelaskan kegiatan belajar yang akan dilakukan. Hal tersebut menjadikan jalannya pembelajaran tidak terkondisi. Disaat melakukan diskusi kelompok, siswa harus mendengarkan penjelasan guru. Terdapat beberapa siswa yang tidak mendengarkan penjelasan guru sehingga setiap melanjutkan kegiatan lain guru menjelaskan kembali kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan.

Kendala yang muncul pada siklus I diperbaiki pada siklus II. Pada siklus II guru menjelaskan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran, yaitu pada awal kegiatan. Setelah siswa mengerti, kegiatan selanjutnya baru dilakukan. Guru selalu membimbing dan mengarahkan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Guru juga memberikan dorongan serta motivasi kepada siswa agar aktif dalam pembelajaran.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada siklus II yang dilakukan guru lebih baik daripada siklus I. Guru sudah menerapkan dan mengorganisasikan pembelajaran PKn menggunakan model active learning dengan lebih baik. Kegiatan siswa dalam pembelajaran lebih terkondisi dan berurutan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Seluruh siswa sudah aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Hasil pengamatan terhadap siswa pada siklus II menunjukkan bahwa siswa lebih aktif, senang dan bersemangat mengikuti pembelajaran. Hasil pada siklus II menunjukkan respon yang baik pada seluruh indikator pengamatan. Hasil ini meningkat dibanding siklus I, dimana hanya 2 indikator yang menunjukkan respon baik. Jadi, hasil pada siklus kedua sudah menunjukkan hasil yang benar-benar positif dan karena siswa sudah menunjukkan respon yang baik pada seluruh indikator atau 100 persen.

Hasil belajar siswa setelah dilakukan perbaikan tindakan pada siklus II mengalami kenaikan secara signifikan dari siklus I. Nilai rata-rata hasil belajar siswa naik 12,50 poin dari 68,65 pada siklus I menjadi 81,15 pada siklus II. Siswa yang memperoleh nilai 70 atau lebih meningkat dari 16 orang (61,53 %) pada siklus I menjadi 22 orang (84,62%) pada siklus II. Dengan demikian siklus II sudah mencapai kriteria keberhasilan tindakan yang ditentukan yaitu 75 persen dari jumlah siswa memperoleh nilai 70 atau lebih.

Simpulan

Pembelajaran PKn yang menggunakan metode active learning terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SD Negeri Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Hal ini ditunjukkan dengan hasil yang dicapai pada siklus II penelitian dimana sebanyak 22 siswa (84,62 %) yang dapat memperoleh nilai 70 atau lebih. Hasil ini meningkat dibanding siklus I dimana terdapat 16 siswa (61,53%) yang dapat memperoleh nilai 70 atau lebih. Hasil pada siklus II penelitian tersebut melampaui indikator kinerja dalam penelitian ini, yaitu minimal 75% siswa dapat mencapai nilai sebesar 70 atau lebih. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis penelitian diterima.

DAFTAR PUSTAKA

Anni, Tri Chatarina, dkk. 2007. Psikologi Belajar. Semarang: UNNES

Baharudin, dan Esa Nur Wahyuni. 2009. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Djiwandono, Sri Esti Wuryani. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo Garamedia Widiasarana Indonesia.

Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.

Hamid, Moh. Sholeh. 2011. Metode Edutaiment. Yogyakarta: Diva Press.

Pribadi, Benny. 2010. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian Aksara.

Prawiradilaga, Dewi Salma. 2009. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta : Prenada Media Group.

Samandhi, Ari. 2009. Pembelajaran Aktif (Active Learning). Jakarta: Teaching Improvement Worshop Enginering Education Develompment Project.

Samsuri. 2011. Pendidikan Karakter Warga Negara. Yogyakarta: Diandra. Pustaka Indonesia.

Sudjana, Nana. 2002. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugandi, Achmad dkk. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK UNNES.

Suryabrata, Sumadi. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakata: Raja Grafindo Persada.

Ubaedillah, A. dan Abdul Rozak. (2013). Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education): Pancasila, Demokrasi, hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah

Uno, Hamzah B. dan Nurdin Mohamad. 2009. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM:Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik. Jakarta: Bumi Aksara.

Winataputra, S. Udin, dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta Universitas Terbuka

Winkel. 2009. Psikologi Belajar. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Zaini, Hiszyam. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Insan Madani.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *