PENERAPAN METODE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI OPERASI HITUNG PERKALIAN DAN PEMBAGIAN BAGI SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 TELUK SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Oleh:

DARSIYAH, S.Pd

ABSTRAK

Kenyataan menunjukkan bahwa banyak siswa di Sekolah Dasar yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika. Hasil evaluasi mata pelajaran matematika pada kompetensi dasar operasi hitung perkalian dan pembagian yang dicapai siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk tahun Pelajaran 2016/2017 masih rendah, dimana lebih dari 40% siswa nilainya di bawah KKM. Selain itu, dalam proses pembelajaran siswa terlihat kurang tertarik dan termotivasi pada mata pelajaran matematika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode Teams Games Tournament (TGT) dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika materi operasi hitung perkalian dan pembagian bagi siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk semester I tahun pelajaran 2016/2017.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2016/2017 di SD Negeri 1 Teluk dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas IV. Metode pengumpulan data menggunakan teknik tes dan nontes. Instrumen yang digunakan adalah tes tertulis dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif. Penelitian tindakan ini dilakukan melalui 2 siklus. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode TGT terbukti mampu meningkatkan prestasi belajar matematika materi operasi hitung perkalian dan pembagian pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk. Hasil Siklus II penelitian menunjukkan 18 siswa atau 81,8% mampu mencapai nilai KKM sebesar 68 atau lebih. Hasil pembelajaran pada siklus II tersebut telah memenuhi kriteria keberhasilan dalam penelitian ini yaitu minimal 75% siswa mencapai nilai KKM 68. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis penelitian ini yang menyatakan: “Penerapan pembelajaran model kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi operasi hitung perkalian dan pembagian pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk semester I tahun pelajaran 2016/2017”, diterima

Kata kunci: Hasil belajar, TGT, matematika.

Latar Belakang Masalah

Pembelajaran matematika sangat penting, karena dapat diaplikasikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk berhitung, mengukur isi dan berat, mengolah data, dan sebagainya. Oleh karena itu, penting sekali bagi siswa untuk bisa menguasai matematika dengan baik.

Kenyataan menunjukkan bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika, khususnya pada materi operasi hitung perkalian dan pembagian. Hasil evaluasi mata pelajaran matematika pada kompetensi dasar operasi hitung perkalian dan pembagian yang dicapai siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk tahun Pelajaran 2016/2017 masih rendah, dimana lebih dari 40% siswa nilainya di bawah KKM. Selain itu, dalam proses pembelajaran siswa terlihat kurang tertarik dan termotivasi pada mata pelajaran matematika, khususnya pada operasi hitung perkalian dan pembagian. Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang penerapan metode Teams Games Tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV di SD Negeri 1 Teluk.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui penerapan metode Teams Games Tournament (TGT) dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika materi operasi hitung perkalian dan pembagian bagi siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk semester I tahun pelajaran 2016/2017

Kajian Teori

Abdurrahman (2003: 37) mengemukakan bahwa hasil belajar yaitu kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Sementara itu, Djamarah dan Aswan (2006: 107) mengemukakan bahwa setiap proses belajar selalu menghasilkan hasil belajar. Masalah yang dihadapi adalah sampai ditingkat mana prestasi (hasil) belajar yang dicapai.

Purwanto (2007: 44) berpendapat bahwa hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya yaitu, “hasil“ dan “belajar”. Pengertian hasil (product) menunjukkan pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Dalam kegiatan belajar mengajar setelah mengalami belajar siswa berubah perilakunya dibandingkan sebelumnya. Proses pengajaran merupakan sebuah aktivitas sadar untuk membuat siswa belajar. Proses sadar mengandung implikasi bahwa pengajaran merupakan proses yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran (goal directed). Menurut Susanto (2013: 5) hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari kegiatan belajar. Hal ini juga dipertegas dengan oleh Nawawi (Susanto, 2013: 5) bahwa hasil belajar diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran disekolah yang dinyatan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu.

Untuk memperoleh hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Susanto (2013: 12) hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua hal yaitu :

1.siswa, dalam arti kemampuan berpikir atau tingkah laku intelektual, motivasi, minat, dan kesiapan siswa baik jasmani maupun rohani,

2.lingkungan, yang termasuk dalam lingkungan antara lain sarana dan prasarana, kompetensi guru, kreativitas guru, sumber-sumber belajar, metode serta dukungan lingkungan keluarga, dan lingkungan.

Sedangkan menurut Wasliman (Susanto, 2013: 12) hasil belajar yang dicapai peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik faktor internal, meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan, maupun faktor eksternal meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Berdasarkan Standar Isi (BNSP, 2006: 148), mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1.Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.

2.Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

3.Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4.Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5.Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah

Menurut Suherman, dkk (2003: 3), agar tujuan pembelajaran matematika tercapai, maka pembelajaran hendaknya memenuhi empat pilar pendidikan yaitu learning to know about, learning to do, learning to be dan learning to live together. Belajar untuk mengetahui sesuatu (learning to know about) artinya belajar memahami pengetahuan matematika (konsep, prinsip, idea, teorema). Sedangkan belajar untuk bisa melakukan sesuatu (learning to do) berarti belajar melaksanakan proses matematika sesuai dengan kemampuan dasar matematika jenjang sekolah yang bersangkutan. Belajar menjiwai (learning to be) artinya belajar menjadi dirinya sendiri, belajar memahami dan menghargai proses matematika dengan cara menunjukkan sikap kerja keras, ulet, disiplin, jujur, dan mempunyai motif berprestasi. Serta belajar bersosialisasi dengan sesama teman (learning to live together) artinya belajar memahami orang lain, bekerja sama, menghargai dan memahami pendapat yang berbeda, serta saling menyumbang pendapat.

Menurut Piaget (Pitadjeng, 2006:28) perkembangan belajar matematika anak melalui 4 tahap yaitu tahap konkret, semi konkret, semi abstrak, dan abstrak. Pada tahap konkret, kegiatan yang dilakukan anak adalah untuk mendapatkan pengalaman langsung atau memanipulasi objek-objek konkret. Pada tahap semi konkret sudah tidak perlu memanipulasi objek-objek konkret lagi, tetapi cukup dengan gambaran dari objek yang dimaksud. Kegiatan yang dilakukan anak pada tahap semi abstrak memanipulasi/melihat tanda sebagai ganti gambar untuk dapat berpikir abstrak. Sedangkan pada tahap abstrak anak sudah mampu berpikir secara abstrak dengan melihat lambang/simbol atau membaca/mendengar secara verbal tanpa kaitan dengan objek-objek konkret.

Dalam pembelajaran matematika di sekolah, hendaknya guru mampu memilih dan menerapkan strategi, pendekatan, metode dan model yang tepat sehingga dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Keaktifan siswa inilah yang diharapkan dapat menumbuhkan pembelajaran matematika yang kritis dan kreatif serta dinamis sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya.

Menurut Johnson dan Johnson dalam Huda (2011 ; 31) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif berarti “Working Together to Accomplish Shared Goals” (bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama). Dalam suasana pembelajaran kooperatif, setiap anggota bersama-sama berusaha mencapai hasil yang nantinya bisa dirasakan oleh semua anggota kelompok, sehingga pembelajaran kooperatif bergantung pada efektivitas kelompok-kelompok siswa tersebut. Dalam pembelajaran kooperatif, guru diharapkan mampu membentuk kelompok-kelompok kecil kooperatif dengan hati-hati agar setiap anggotanya dapat bekerja sama dengan maksimal dan memaksimalkan pembelajarannya sendiri dan pembelajaran kelompok. Masing-masing kelompok bertanggung jawab mempelajari materi apa yang disajikan dan membantu teman/anggota satu kelompoknya untuk mempelajari materi tersebut.

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berbasis sosial. Hal ini disesuaikan dengan hakekat manusia sebagai makhluk sosial, yang artinya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Pembelajaran kooperatif ini menekankan pada kerja sama dalam kelompok. Kelompok bukanlah semata-mata merupakan sekumpulan orang, tetapi kumpulan orang yang berinteraksi, mempunyai tujuan dan berstruktur itulah kelompok. Tujuan dalam kelompok bersifat intrinsik dan ekstrinsik, adapun tujuan intrinsik adalah tujuan yang didasarkan pada alasan bahwa dalam kelompok perasaan menjadi senang, sedangkan tujuan ekstrinsik adalah tujuan yang didasarkan pada alasan bahwa untuk mencapai sesuatu tidak dapat dicapai secara sendiri, melainkan harus dikerjakan secara bersama-sama. Dalam kelompok terdapat struktur, hal ini dimaksudkan bahwa di dalam kelompok ada peran, peran dari tiap-tiap anggota kelompok terkait dengan tanggung jawab/ posisi yang diembannya dalam kelompok. (Suprijono, 2009 ; 57)

Metode Pembelajaran Kooperatif dibagi menjadi beberapa jenis antara lain Student Team Achievement Divisions (STAD), Teams Games Tournaments (TGT), Jigsaw, Team Accelerated Instruction (TAI), Cooperatif Integrated Reading and Composition (CIRC). Dalam penelitian ini Metode Pembelajaran Kooperatif yang digunakan adalah jenis TGT (Teams Games Tournaments). Robert E. Slavin (2005: 13) menyatakan bahwa “Teams Games Tournament pada mulanya diciptakan oleh John Hopkins yang kemudian dikembangkan oleh David DeVries dan Keith Edwards”. Model TGT adalah suatu model pembelajaran yang didahului dengan penyajian materi pembelajaran oleh guru dan diakhiri dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa. Setelah itu, siswa pindah ke kelompok masing-masing untuk mendiskusikan dan menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang diberikan oleh guru. Sebagai ganti dari tes tertulis, setiap siswa akan bertemu seminggu sekali pada meja turnamen dengan dua rekan dari kelompok lain untuk membandingkan kemampuan kelompoknya dengan kelompok lain.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Huda (2012: 116) menyatakan “TGT mirip dengan STAD dalam hal komposisi kelompok, format intruksional dan lembar kerjanya. Bedanya jika STAD fokus pada komposisi kelompok berdasarkan kemampuan, ras, etnik, dan gender, maka TGT umumnya fokus hanya pada level kemampuan saja. Selain itu jika dalam STAD, yang digunakan adalah kuis, maka dalam TGT istilah tersebut biasanya berganti menjadi game akademik”

Hipotesis Tindakan

Penerapan pembelajaran model kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi operasi hitung perkalian dan pembagian pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk semester I tahun pelajaran 2016/2017

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2016/2017 di SD Negeri 1 Teluk dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas IV. Metode pengumpulan data menggunakan teknik tes dan nontes. Instrumen yang digunakan adalah tes tertulis dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif. Penelitian tindakan ini dilakukan melalui 2 siklus. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi.

Hasil Tindakan dan Pembahasan

1.Deskripsi Hasil Siklus I Penelitian

Berdasarkan data nilai tes pada Siklus I Penelitian dapat disusun ringkasan nilai tes sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada Tabel 4.2 dapat dijelaskan, nilai tertinggi pada hasil tes siswa adalah 80, sedangkan nilai terendah 50. Nilai rata-rata kelas sebesar 67,73. Nilai rata-rata tersebut belum mencapai nilai KKM kelas (68).

 

 

 

 

Pada tabel 4.3, dari 22 siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk, 15 siswa atau 68,2% telah mencapai ketuntasan dalam belajar. Sedangkan 7 siswa atau 31,8% belum tuntas karena belum mencapai nilai KKM sebesar 68.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada tabel 4.4 dapat diketahui respon yang baik hanya pada dua indikator. Hasil pengamatan pada siklus pertama ini tidak memenuhi kriteria yang dipersyaratkan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini, yaitu minimal 3 indikator dalam kategori baik.

2.Deskripsi Siklus II Penelitian

Berdasarkan data nilai tes pada Siklus II Penelitian dapat disusun ringkasan nilai sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa nilai tertinggi pada Siklus II adalah 90, sedangkan nilai terendah 55. Nilai rata-rata kelas sebesar 74,32. Nilai rata-rata tersebut sudah melampaui nilai KKM sebesar 68.

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada Tabel 4.7, dari 22 siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk, 18 siswa atau 81,8% telah mencapai ketuntasan dalam belajar karena nilainya mencapai KKM sebesar 68 atau lebih. Sedangkan 4 siswa atau 18,2% belum mencapai nilai KKM. Berdasarkan hasil tersebut maka pembelajaran pada siklus II sudah mencapai kriteria keberhasilan dalam penelitian ini karena siswa yang mampu mencapai nilai KKM lebih dari 70%.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada tabel 4.8 dapat diketahui adanya respon yang baik pada seluruh indikator yang digunakan. Hasil pembelajaran dianggap berhasil jika minimal 3 indikator atau 75% dalam kategori baik. Dengan demikian hasil pada siklus kedua ini selain terus menunjukkan peningkatan dibanding siklus sebelumnya, juga sudah memenuhi kriteria keberhasilan penelitian ini.

3.Perbandingan Antarsiklus

Berikut ini disajikan data perbandingan hasil penelitian antara Siklus I dan Siklus II. Melalui perbandingan tersebut dapat diketahui perkembangan nilai siswa pada dua siklus penelitian yang sudah dilakukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Data pada Tabel 4.9 menunjukkan bahwa seluruh siswa mengalami peningkatan nilai pada Siklus II penelitian. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode TGT dapat meningkatkan prestaasi belajar matematika materi operasi hitung perkalian dan pembagian pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk.

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada Tabel 4.10 dapat diketahui bahwa  ketuntasan siswa mengalami kenaikan. Pada Siklus I siswa yang mampu mencapai KKM 68 sebanyak 15 orang atau 68,2%. Pada siklus II meningkat menjadi 18 siswa atau 81,8%. Prosentase ketuntasan pada siklus II sudah memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan dalam penelitian ini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode TGT dapat meningkatkan aktifitas, partisipasi dan prestasi belajar matematika materi operasi hitung perkalian dan pembagian karena dengan menggunakan metode pembelajaran TGT siswa menjadi lebih aktif dan prestasi belajar juga meningkat.

Simpulan

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode TGT terbukti mampu meningkatkan prestasi belajar matematika materi operasi hitung perkalian dan pembagian pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk. Hasil Siklus II penelitian menunjukkan 18 siswa atau 81,8% mampu mencapai nilai KKM sebesar 68 atau lebih. Hasil pembelajaran pada siklus II tersebut telah memenuhi kriteria keberhasilan dalam penelitian ini yaitu minimal 75% siswa mencapai nilai KKM 68. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis penelitian ini yang menyatakan : “Penerapan pembelajaran model kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi operasi hitung perkalian dan pembagian pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Teluk semester I tahun pelajaran 2016/2017”, diterima.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. (2003). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

BSNP. (2006). Standar Isi, Jakarta: BSNP.

Djamarah, Saiful B. dan Zain Aswan. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta :  Rineka Cipta

Huda, Miftahul. (2011). Cooperative Learning (Metode, Teknik, Struktur, dan Model Terapan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pitadjeng. (2006). Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan. Jakarta: Depdiknas.

Purwanto, Ngalim. (2007). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Slavin, Robert E. (2005). Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

Suherman, Erman. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Suprijono, Agus. (2009). Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Ahmad, Susanto. (2013). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *