PENERAPAN MODEL MAKE A MATCH DALAM PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENJUMLAHAN PADA SISWA KELAS I

agusri   

ABSTRAK

Prestasi belajar penjumlahan siswa sangat rendah. Hal ini disebabkan pembelajaran kurang menarik. Tujuannya untuk meningkatkan prestasi belajar penjumlahan dengan menerapkan model Make A Match. Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus. Siklus I Selasa, 25 Agustus 2015, Siklus II Jum’at, 28 Agustus 2015. Pelaksanaannya melalui 4 tahap, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dengan subyek siswa kelas 1 SD Negeri Brani 02, yang berjumlah 24 siswa, laki-laki 8 siswa dan perempuan 16 siswa. Teknik pengumpulan nilai dari hasil tes formatif. Analisis data dilakukan dengan menganalisis kuantitatif dan kualitatif, selanjutnya dihubungkan dengan kriteria keberhasilan, untuk mengetahui tuntas atau tidak tuntas belajar.Berdasarkan prestasi belajar, dari prasiklus, siklus I dan siklus II, mengalami peningkatan yang signifikan. Pada prasiklus siswa yang tuntas 10 siswa (41,7%), 14 siswa (58,3%) belum tuntas. Setelah dilakukan perbaikan pada Siklus I meningkat 15 siswa (62,5%) tuntas, 9 siswa (37,5%) belum tuntas. Pada siklus 2, 22 siswa (91,67%) tuntas, 2 siswa (8,33%) belum tuntas. Simpulan penelitian ini adalah penerapan model Make A Match dapat meningkatkan prestasi belajar penjumlahan pada siswa kelas I SD Negeri Brani 02, Sampang, Cilacap.

Kata Kunci : Make A Match, Penjumlahan, Brani 2015

PENDAHULUAN

Tugas utama seorang guru dalam pembelajaran adalah menyampaikan pengetahuan, melatih dan memberikan pemahaman kepada siswa. Namun tidak semua pelajaran mudah dipahami siswa, terutama mata pelajaran matematika. Seperti yang terjadi pada kondisi awal nilai siswa kelas I SD Negeri Brani 02, Sampang, Cilacap masih menunjukan rendahnya penguasaan materi dan minat belajar siswa. Sehingga prestasi yang dicapai siswa jauh dari yang diharapkan. Dari keseluruhan jumlah siswa kelas I adalah 24 siswa, hanya 10 siswa (41,7%) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Sedangkan 14 siswa (58,3%) belum melampaui Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM)  yang ditetapkan yaitu 65.

Berkaitan dengan permasalahan di atas peneliti tertarik untuk menerapkan model Make A Match [mencari pasangan ] dalam pembelajaran penjumlahan sehingga prestasi belajar dapat meningkat.Harapan peneliti pembelajaran  penjumlahan di  Kelas I SD Negeri Brani 02 dapat membawa siswa mampu memahami konsep dan makna penjumlahan.

Dari latar belakang masalah yang telah peneliti paparkan di atas, maka peneliti melakukan refleksi dan diskusi dengan teman sejawat sehingga dapat di ketahui rumusan masalah dalam perbaikan pembelajaran adalah “Bagaimana menerapkan model pembelajaran “Make A Match”, untuk meningkatkan prestasi belajar penjumlahan pada siswa kelas I SD Negeri Brani 02,Sampang,Cilacap.

KAJIAN PUSTAKA

Prestasi Belajar

Menurut Sudjana : “Prestasi belajar adalah bukti keberhasilan belajar dan tingkat kondisi perubahan tingkah laku yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai”. (Sudjana. 1989 : 19).

        Dari penafsiran di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa prestasi belajar  adalah hasil belajar maksimal yang di capai oleh seseorang melalui proses aktif dalam memahami dan menguasai materi serta aplikasinya dalam penyelesaian masalah.  

Pengertian “Make A Match

Menurut Rusman (Model-Model Pembelajaran. 2011 : 223) dikatakan model “Make A Match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode dalam pembelajaran Koorperatif” model Make A Match dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan teknik ini adalah peserta didik (siswa) mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Anita Lie mengatakan bahwa “Model Make A Match atau bertukar pasangan merupakan teknik belajar yang memberi kesempatan siswa untuk bekerja sama dengan orang lain”. (Cooperative Learning. 2008 : 56). Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia siswa  didik. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peniliti simpulkan bahwa model Make A Match adalah suatu teknik pembelajaran mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.   

Kelebihan Make A Match

Miftahun Huda mengatakan kelebihan model “Make A Match” adalah : Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik, menyenangkan karena ada unsur permainan, meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa., Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi, efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar.

(http://www.kajianpustaka.com/2015/03/model-pembelajaran-tipe-make-match.html)

Kekurangan model “Make A Match

Menurut Miftahul Huda dikatakan bahwa kelemahan model “Make A Match” adalah : Banyak waktu yang terbuang, bila guru tidak mempersiapkan dengan baik, pada awal penerapan model ini, banyak siswa yang malu berpasangan dengan lawan jenis, apabila guru tidak mengarahkan siswa dengan baik, akan banyak siswa yang kurang memperhatikan pada saat presentasi pasangan, guru harus bijaksana dan hati-hati saat memberi hukuman pada siswa yang tidak mendapat pasangan, karena siswa bisa malu, Apabila digunakan terus-menerus akan menimbulkan kebosanan.

(http://www.kajianpustaka.com/2015/03/model-pembelajaran-tipe-make-match.html)

Langkah-langkah pembelajaran “Make A Match

Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. Setiap siswa mendapat satu buah kartu,  memikirkan jawaban/soal dari kartu yang di pegang,  mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal/jawaban). Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu di beri poin. Setelah satu babak kartu dikocok lagi, agar tiap siswa mendapatkan kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya, Kesimpulan/penutup (model-model, media, dan strategi pembelajaran kontekstual (inovatif). 2012 : 23-24).

Alasan Peneliti Menerapkan Model “Make A Match

  Siswa  kelas satu senang bermain , senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Maka peneliti memberanikan diri untuk menerapkan model “Make A Match” karena dalam model “Make A Match” terdapat unsur-unsur permainan, yang menuntut siswa untuk bergerah, berkelompok, dan mencari pasangan sehingga siswa merasa senang dan tidak cepat bosan. Belajar dengan suasana yang senang, mudah-mudahan prestasi belajar siswa akan meningkat.

Pengertian Penjumlahan

Hakekat penjumlahan yang pertama ditanamkan pada siswa adalah “bertambah” dan ini merupakan bahasa sehari- hari yang sering didengarkan oleh siswa pada jenjang pendidikan dasar. Contoh : dalam sebuah wadah di atas meja tersedia 4 buah kelereng, siswa disuruh menambahkan kelereng baru kedalam wadah tersebut sebanyak 3 buah kelereng. Jumlah kelereng dalam wadah 4 ditambah 3, maka 4+3 = 7.

Diawal masa belajar siswa akan mengenal aspek “tambah” dari operasi penjumlahan. Ini terjadi ketika ingin menambahkan sebagaian benda baru ke dalam suatu kumpulan.

agusri

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Brani 02, Sampang, Cilacap, tempat peneliti mengajar beralamat di Jalan Gerilya No 35 Desa Brani. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2015. Subjek penelitian adalah

Berdasrakan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis tindakan dari penelitian ini adalah : Jika pembelajaran penjumlahan disajikan dengan menerapkan model Make A Match maka prestasi belajar penjumlahan siswa kelas 1 (usia 6-7 tahun) dapat ditingkatkan. Skema Kerangka berfikir

Hipotesis Tindakan

METODE PENELITIAN

siswa kelas 1 yang berjumlah 24 siswa ,laki-laki 8 siswa dan perempuan 16 siswa.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data kuantitatif yaitu data tentang keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan data kwalitatif yaitu data tentang hasil ulangan formatif siswa sebelum dan sesudah diadakan perbaikan.

Alat pengumpul data yaitu lembar observasi dan lembar kerja siswa (penilaian). Sumber data diambil dari hasil observasi dan hasil ulangan harian siswa.

Penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila sudah ada peningkatan prestasi belajar siswa dari kondisi awal, setelah dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model Make A Match sampai selesainya tindakan. Kriteria keberhasilan dalam upaya perbaikan pembelajaran adalah proses perbaikan pembelajaran (pemahaman materi pelajaran) dinyatakan berhasil jika 75% dari jumlah siswa tuntas dalam belajar.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Pendahuluan (Prasiklus).

            Sebelum penelitian dilakukan, prestasi belajar siswa kelas I SD Negeri Brani 02 Tahun Pelajaran 2015/2016 sangat rendah. Nilai rata – rata kelas 61, nilai tertinggi 100, nilai terendah 20, jumlah siswa yang tuntas 10 (41,7%), jumlah siswa yang beum tuntas 14 (58,3%). (Sumber : Daftar nilai kelas 1 SD Negeri Brani 02 Tahun Pelajar 2015/2016)

Siklus I

Perencanaan (Planning),

Peneliti bersama supervisor 2, mempersiapkan : Rencana perbaikan pembelajaran (RPP), lembar observasi, kartu soal dan kartu jawaban, lembar kerja siswa, mensimulasikan RPP beserta skenario untuk pemantapan RPP sebelum dilaksanakan.

Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Kegiatan awal

Kegiatan pembelajaran dimulai dengan berdoa, mengabsen siswa, dan menciptakan suasana kelas yang kondusif, agar pembelajaran berjalan dengan lancar. Menyampaikan tujuan perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan, menyampaikan langkah – langkah kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran, memberi motivasi dengan memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi  sebagai apersepsi. Contoh : Ani punya pensil 2, Nina punya pensil 7. Berapa jumlah pensil Ani dan Nina?.

Kegiatan inti (Acting)

Peneliti menyiapkan beberapa kartu soal dan kartu jawaban ,  membagikan  kepada siswa.Setiap siswa mendapat satu buah kartu, siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang, mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal, kartu jawaban).Setiap siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu yang ditentukan, diberi poin.Setelah satu babak, kartu di kocok lagi agar tiap siswa mendapatkan kartu yang berbeda dengan sebelumnya.Demikian seterusnya.Diakhiri dengan kesimpulan atau penutup.

Kegiatan akhir

Siswa menulis PR di buku PR masing – masing. Peneliti berpesan agar siswa mengerjakan PR. Pembelajaran diakhiri dengan mengucapkan salam.

Pengamatan (Observing).

Siswa sudah aktif mengikuti pembelajaran, prestasi belajar juga sudah meningkat.Tetapi peneliti masih kurang puas, sehingga peneliti melakukan perbaikan pembelajaran pada siklus II.

Refleksi (Reflection)

Prestasi yang diperoleh pada siklus I belum maksimal, maka perlu diadakan siklus II. Pada siklus II peneliti akan menambah kartu jawaban dan kartu soal, membimbing siswa yang belum melampaui KKM.

Rata-rata Kelas 73,75
Nilai Tertinggi 100
Nilai Terendah 20
Presentase Siswa Tuntas 62,5%

Sumber : Daftar nilai kelas 1 SD Negeri Brani 02 Tahun Pelajar 2015/2016

 Siklus II

Perencanaan (Planning)

Peneliti bersama supervisor 2, mempersiapkan : Rencana perbaikan pembelajaran (RPP), lembar observasi, kartu soal dan kartu jawaban, lembar kerja siswa, mensimulasikan RPP beserta skenario untuk pemantapan RPP sebelum dilaksanakan.

Pelaksanaan Tindakan (Acting).

Kegiatan Awal

Kegiatan pembelajaran dimulai dengan berdoa, mengabsen siswa, dan menciptakan suasana kelas yang kondusif, agar pembelajaran berjalan dengan lancar. Peneliti menyampaikan tujuan perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan, langkah – langkah kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran, memberi motivasi dengan memberikan pertanyaan, yang berhubungan dengan materi yang akan di ajarkan sebagai apresiasi. Contoh : Ani punya buku 3, Nina punya buku 6. Berapa jumlah buku Ani dan Nina?.

Kegiatan inti (Acting)

Peneliti mengulangi penjelasan tentang konsep penjumlahan. Siswa secara bergantian mengerjakan soal di depan dengan bimbingan peneliti.

Siswa menulis PR di buku PR masing – masing. Peneliti berpesan agar siswa mengerjakan PR. Akhirnya peneliti bersama siswa mengakhirir pembelajaran dengan menyanyikan lagu satu-satu aku sayang ibu dan mengucapkan salam.Peneliti membagikan kartu soal dan kartu jawaban kepada siswa.Setiap siswa mendapat satu buah kartu, siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang, mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal, kartu jawaban).Setiap siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu yang ditentukan, diberi poin.Setelah satu babak, kartu di kocok lagi agar tiap siswa mendapatkan kartu yang berbeda dengan sebelumnya.Demikian seterusnya.Diakhiri dengan kesimpulan atau penutup.

Kegiatan Akhir

Peneliti menyiapkan beberapa kartu soal dan kartu jawaban Contoh Kartu Soal            agusrii

Pengamatan (Observing)

 Siswa antusias mengikuti pembelajaran, prestasi belajar juga sudah meningkat. Sebenarnya peneliti belum begitu puas, karena masih ada 2 siswa yang belum tuntas. Peneliti menyadari akan kekurangannya. Siswa yang belum tuntas semata – mata bukan kesalahan peneliti karena siswa tersebut adalah siswa dengan keterbelakangan mental.

Refleksi (Reflection)

Prestasi yang diperoleh pada siklus 2, peneliti anggap sudah baik sehingga peneliti mengakhiri perbaikan pembelajaran pada siklusII.  

Rata – rata Kelas 87,08
Nilai Tertinggi 100
Nilai Terendah 20
Persentase Siswa Tuntas 91,67%

Sumber : Daftar nilai kelas 1 SD Negeri Brani 02 Tahun Pelajar 2015/2016

Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Prestasi belajar siswa setelah di adakan perbaikan pembelajaran  penjumlahan  di kelas I, SD Negeri Brani 02, Sampang, Cilacap dengan menerapkan model “Make A Match” ternyata sangat meningkat. Hal ini dapat dilihat dari hasil ulangan yang mengalami peningkatan pada siklus I dan siklus II.Berikut peneliti sajikan data siswa tuntas dan belum tuntas dari ketiga langkah (Studi awal, Siklus I dan Siklus II) .

Tahap Siswa Tuntas Siswa Belum Tuntas
Jumlah Siswa Presentase Jumlah Siswa Presentase
Studi Awal 10 41,7% 14 58,3%
Siklus I 15 62,5% 9 37,5%
Siklus II 22 91,67% 2 8,33%

Sumber : Buku Analisis nilai kelas 1 SD Negeri Brani 02 Tahun Pelajar 2015/2016

agusriii

Sumber : Buku Analisis nilai kelas 1 SD Negeri Brani 02 Tahun Pelajar 2015/2016

Di lihat dari tabel dan diagram di atas, ketuntasan pada siklus I 62,5%, siklus II 91,67%. Dengan rata-rata ketuntasan 77,1%. Dengan kenaikan dari siklus I ke siklus II yaitu 29,17%.

Berdasarkan hasil penelitian di atas. Menunjukkan bahwa model “Make A Match” dalam pembelajaran matematika materi penjumlahan  dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I SD Negeri Brani 02, Sampang, Cilacap.

SIMPULAN

Peneliti telah membuktikan bahwa model pembelajaran Make A Match sungguh dapat meningkatkan prestasi belajar penjumlahan di kelas I SD Negeri Brani 02, Sampang, Cilacap Bukti itu dapat peneliti deskripsikan, semula pada prasiklus ketuntasan belajar siswa hanya 10 siswa (41,7%). Setelah peneliti menerapkan model Make A Match dua kali perbaikan pembelajaran, lewat siklus I hasil belajar siswa menunjukkan ketuntasan 15 siswa (62,5%). Pada siklus II naik menjadi 22 siswa (91,67%). Dengan kata lain perbaikan ini telah berhasil meningkatkan prestasi belajar penjumlahan di kelas I SD Negeri Brani 02, Sampang, Cilacap.

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zaenal. (2013). Model-Model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif).Bandung : CV Trama Widya.

Lie, Anita. (2008). Cooperative Learning.Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Rusman, (2011).Model-Model Pembelajaran.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Wardhani, IGAK dan Kuswaya Wihardit.(2013). Penelitian Tindakan Kelas. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.A.K (2014). Teknik Penulisan Karya Ilmiah. Tanggerang Selatan : Universitas Terbuka.

http://www.kajianpustaka.com/2015/03/model-pembelajaran-tipe-make-match.html.

 

BIODATA PENULIS

NAMA            : AGUS RIYANTI

NIP                 : 196208021986082004

JABATAN      : GURU KELAS SD

GOLONGAN : PEMBINA IV A

UNIT KERJA : SDN BRANI 02 UPT DISDIKPORA KECAMATAN SAMPANG




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *