http://www.infopasti.net/penerapan-model-pembelajaran-cooperative-learning-tipe-jigsaw-untuk-meningkatkan-motivasi-dan-prestasi-belajar-siswa-kelas-vi-mata-pelajaran-ipa-di-sdn-1-punggelan-semester-ii-tahun-ajaran-20152016/

PTK SD Model Cooperative Learning Tipe Jigsaw

admin

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VI MATA PELAJARAN IPA DI SDN 1 PUNGGELAN SEMESTER II TAHUN AJARAN 2015/2016

ABSTRAK

Prestasi dan partisipasi belajar siswa pada bidang pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pokok bahasan energi listrik sangat memprihatinkan. Untuk itu perlu adanya inovasi atau pembaharuan dalam penyampian pelajaran ilmu pengetahuan alam. Dalam hal ini perlu adanya metode atau cara untuk mencapai tujuan pelajaran ilmu pengetahuan alam. Khususnya pokok bahasan energi listrik yaitu melalui penerapan model pembelajaran coperative learning tipe Jigsaw. Dari hasil analisis dan pengamatan menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran coperative learning tipe Jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam, yaitu dari 20 siswa yang mendapatkan nilai 75 mencapai 18 siswa atau 90 %. Disimpulkan bahwa dari berbagai metode atau cara metode penerapan model pembelajaran coperative learning tipe Jigsaw juga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam, pokok bahasan energi listrik.

 

Kata Kunci : Model pembelajaran coperative learning tipe Jigsaw,  motivasi, dan prestasi belajar siswa.

 

PENDAHULUAN

Menurut Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, Pendididikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Strategi yang dapat meningkatkan dan menyempurnakan penyelenggaraan pendidikan adalah dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Masalah kualitas pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari kualitas guru yang berdiri didepan kelas melaksanakan pendidikan dan memberikan bimbingan walaupun hanya beberapa jam dalam sehari harinya, karena mengajar merupakan tugas utama guru sebagai pendidik dalam membelajarkan peserta didik dari tidak tahu sehingga menjadi tahu.

Berdasarkan uraian di atas  maka masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. Kemampuan motivasi belajar siswa rendah
  2. Rendahnya prestasi belajar siswa
  3. Pembelajaran yang dilakukan selama ini di kelas VI SD Negeri 1 Punggelan Kecamatan Punggelan sudah berjalan rutin jam 07.30 masuk kelas dan pelajaran diahiri jam 12.05 WIB namun hasil pembelajarannya masih mengecewakan bagi siswa, guru sebagai pengajar dan sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar . Hal ini disebabkan oleh (1) siswa belum termotivasi untuk belajar, (2) guru belum menerapkan metode coperative learning tipe Jigsaw.

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :

  1. Meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pokok bahasan energi listrik dengan menerapkan pendekatan coperative learning tipe Jigsaw di kelas VI SD Negeri 1 Punggelan Kabupaten Banjarnegara, semester 2 tahun pelajaran 2015/ 2016.
  2. Meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pokok bahasan energi listrik dengan menerapkan pendekatan coperative learning tipe Jigsaw di kelas VI SD Negeri 1 Punggelan Kabupaten Banjarnegara, semester 2 tahun pelajaran 2015/ 2016.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah penerapan metode coperative learning tipe Jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Punggelan semester 2 tahun pelajaran 2015/ 2016 ?
  2. Apakah penerapan metode coperative learning tipe Jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Punggelan semester 2 tahun pelajaran 2015/ 2016 ?

KAJIAN PUSTAKA

Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna, 1988 : 181). Menurut Frank T. Lyman (1981) penerapan  coperatif learning Tipe Jigsaw memungkinkan setiap anggota pasangan siswa untuk berkontemplasi terhadap sebuah pertanyaan yang diajukan. Setelah diberikan waktu yang cukup mereka selanjutnya diminta untuk mendiskusikan apa yang telah mereka pikirkan tadi (hasil kontemplasi) dengan pasangan masing-masing. Setelah diskusi dengan pasangan selesai guru kemudian mengumpulkan tanggapan atau jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan tersebut dari seluruh kelompok. Spencer Kagan (1990). Dengan strutur kelompok kooperatif dapat memberikan kesempatan kepada tiap kelompok untuk saling berbagi informasi dengan kelompok-kelompok lain. Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diuji cobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan temen-teman di Universitas Hopkins (Arends, 2001). Tujuan diciptakannya tipe model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw ini adalah untuk meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap belajarnya sendiri dan juga belajar anggota kelompoknya yang lain. Pada penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw ini merupakan ketergantungan antar siswa sangat tinggi. Setiap siswa pada penerapan model belajar kooperatif tipe Jigsaw ini adalah anggota dari dua kelompok, yaitu (1) kelompok asal (home group) dan (2) kelompok ahli (expert group). Kelompok asal ini dibentuk dengan anggota yang heterogen. Di kelompok asal ini mereka akan berbagi tugas untuk memeplajari suatu topik. Setelah semua kelompok asal memperoleh tugas masing-masing, mereka akan meninggalkan kelompok asal untuk membentuk kelompok ahli. Kelompok ahli adalah kelompok yang terbentuk dari kelompok-kelompok yang mempunyai tugas mempelajari sebuah topik yang sama (berdasarkan ahli, mereka akan kembali ke kelompok asal). Setelah mempelajari topik tersebut di kelompok ahli mereka akan kembali ke kelompok asal mereka masing-masing dan saling mengajarkan topik yang menjadi tanggungjawab mereka ke anggota kelompok lain secara bergantian.

METODE PENELITIAN

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes prestasi belajar, pengertian tes prestasi belajar dalam penelitian ini merupakan tes yang digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari, dalam hal ini tes yang digunakan berupa soal-soal pilihan ganda 20 butir soal, jawaban singkat sejumlah10 soal dan uraian sejumlah 5 soal Langkah yang dilakukan dalam menyusun tes prestasi belajar mata pelajaran IPA meliputi : 1). Membuat kisi-kisi tes hasil belajar 2). Menyusun butir soal tes prestasi belajar 3). Membuat kunci jawaban 4) Membuat norma dan tabel penilaian..Instrumen yang digunakan untuk mengetahui prestasi belajar  mata pelajaran IPA lembar tes prestasi belajar yang terdiri dari: 20 soal pilihan ganda, 10 soal isian singkat dan 5 soal uraian.

Langkah yang dilakukan dalam menyususn instrumen pengamatan prestasi meliputi: 1) kisi-kisi 2) butir pernyataan 3) lembar pengamatan 4) lembar observasi. Instrumen yang digunakan dalam mengamati varibel motivasi  belajar mengunakan lembar pengamatan kemampuan motivasi terdiri dari aspek/indikator, yaitu:  1). Kemauan untuk berbuat. 2). Jumlah waktu yang disediakan untuk belajar 3). Ketekunan dalam mengerjakan tugas 4). Ulet dalam menghadapi kesulitan 5). Menunjukan minat terhadap masalah-masalah orang dewasa 6). Dapat mempertahankan pendapatnya. 7). Lebih senang bekerja mandiri 8). Menunjukan kepedulian terhadap teman yang belum berhasil 9). Dapat menyampaikan pendapatnya dalam diskusi. 10). Bisa menjadi teladan.

Teknik Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen pra siklus tentang motivasi dan prestasi belajar serata dokumen perangkat pembelajaran. Instrumen yang digunakan untuk menilai perangkat pembelajaran menggunakan Alat Penilaian Kemapuan Guru dalam  Menyusun Perencanaan Pembelajaran (APKG 1) terdiri dari 7 aspek yaitu  1). Tujuan pembelajaran 2). Materi ajar 3). Model pembelajarn 4). Alokasi waktu 5). Langkah-langkah 6). Alat, bahan dan sumber pembelajaran 7) Penilaian Dokumen pra siklus yang digunakan untuk mengetahui ondisi awal prestasi belajar mata pelajaran IPA yaitu mengambil dari daftar nilai KD sebelumnya yaitu menyimpulkan hasil pengamatan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran semester II tahun pelajaran 2015/2016.

Validasi data adalah cara untuk mencapai keabsahan data sesuai yang dikemukakan oleh  Anderson dkk (1994) mengemukakan lima kriteria validitas yang dipandang paling tepat untuk diterapkan pada penelitian tindakan kelas yang bersifat transpormatif yaitu : validitas demokratik, hasil, proses, katalitik, dan dialogis.

Analisis tersebut dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menghitung skor yang diperoleh peserta didik dalam norma dan tabel penilaian
  2. Menghitung skor tertinggi, terendah dan median
  3. Menghitung ketuntasan belajar siswa
  4. Menghitung niali rata-rata dengan rumus:

Hasil tes prestasi belajar dengan analisa statistik deskriptif untuk membandigkan rata-rata hasil tes dengan  indikator kinerja , maka digunakan teknik analisa kecenderungan nilai tengah (central tendensy) yaitu mencari nilai rata-rata (mean).

                                                  Jumlah Nilai Seluruh Siswa

Nilai rata-rata            =       ————————————–

                                                                Jumlah Siswa

Ketuntasan belajar individu menggunakan kriteria ketuntasan minimal sebesar 75 ketuntasan klasikal minimal 75% untuk menghitung ketuntasan klasikal dengan rumus:

                                                   Jumlah Siswa Tuntas

Ketuntasan klasikal     =       —————————– x 100%

                                                           Jumlah Siswa

kepedulian terhadap teman yang belum berhasil, dapat menyampaikan pendapatnya dalam diskusi,dan bisa menjadi teladan.  Jumlah aspek pengamatan 10 butir pernyataan, jika hasil pengamatan 1 – 3 aspek = kemampuan motivasi belajar rendah, 4 -7 aspek = kemampuan motivasi belajar sedang dan 8 – 10 aspek kemampuan motivasi belajar tinggi.

Hasil tes prestasi belajar dengan analisis statistik deskriptif untuk membandingkan rata-rata hasil tes dengan indikator kinerja, maka digunakan teknik analisis kecenderungan nilai tengah (central tendensy) yaitu mencari rata-rata (mean).

                                           Jumlah Nilai Seluruh Siswa

Nilai rata-rata  =       —————————————-

                                                       Jumlah Siswa

Ketuntasan belajar individu menggunakan kriteria ketuntasan minimal sebesar 75 ketuntasan belajar klasikal minimal 75% untuk menghitung ketuntasan klasikal dengan rumus

                                                        Jumlah Siswa Tuntas

Ketuntasan klasikal     =       —————————– x 100

                                                          Jumlah Siswa

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kriteria yang yang digunakan untuk mengukur keberhasilan motivasi adalah kemampuan siswa dalam aspek 1) Kemauan berbuat 2) Jumlah waktu yang di sediakan untuk belajar 3) Ketekunan dalam mengerjakan tugas 4) Ulet dalam menghadapi kesulitan 5) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah orang dewasa 6) Dapat mempertahankan pendapatnya 7) Lebih senang bekerja mandiri dengan kriteria skor 47 – 60 tinggi, skor 34 – 46 skor sedang dan skor rendah 20 – 33 (Penjelasan : Lihat landasan teori pada proses yang telah disusun instrumen proses pada lampiran). Kriteria yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar adalah tes prestasi belajar dengan tes teretulis, terdiri dari pilihan ganda 20 butir soal, 10 soal isian singkat dan uraian 5 butir soal dengan rentang nilai 0 – 100. Siswa dikatakan tuntas jika mencapai nilai prestasi dengan KKM 75 (Penjelasan: Prestasi yang dimaksud pada penelitian ini adalah nilai yang diperoleh siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pokok bahasan energi listrik, dalam bentuk nilai berupa angka yang diberikan padanya )

Pembahasan Tiap dan Antar Siklus

Perbandingan hasil penelitian pra siklus dan siklus I setelah dilakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4

Perbandingan Kemampuan Motivasi Pra Siklus dengan Siklus I

No. Kemampuan Motivasi Pra Siklus Siklus  I
1 Tinggi 2 6
2 Sedang 12 11
3 Rendah 6 3

Berdasarkan data diatas ada kenaikan kemampuan motivasi yang tinggi dari 2 menjadi 6 sedangkan kemampuan yang rendah dari 6 menjadi 3 siswa atau 15 % ini berarti ada kenaikan motivasi belajar dari pra siklus 2 menjadi 6 siswa.

Perbandingan Kemampuan Motivasi Belajar Pra Siklus dan Siklus I.

Grafik diatas menunjukkan kemampuan motivasi pada pra siklus yaitu 6 siswa kategori rendah menjadi 3 siswa pada siklus I. Kemampuan motivasi kategori sedang data pra siklus menujukkan 12 siswa dan pada siklus I menjadi 11 siswa.

Perbandingan hasil penelitian pra siklus dan siklus I setelah dilakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.2

Perbandingan Kemampuan Prestasi Belajar Pra Siklus dan Siklus I

No. Kemampuan Prestasi Pra Siklus Siklus I
Nilai Tertinggi 80 83
Nilai Terendah 54 60
Nilai rata-rata 67,1 71,1
Ketuntasan Belajar 30 % 65 %

Pada tabel diatas terlihat siklus I hasil nilai tertinggi 83 nilai terendah 60 rata-rata 71,1 Pada studi awal nilai rata-rata 67,1 sehingga ada kenaikan 71,1 meskipun siswa ketuntasan belajar baru mencapai 65 % menjadi 71,1. Selain hal tersebut data nilai terendah ada kenaikan dari pra siklus 54 .menjadi  60

Perbandingan Prestasi Belajar Pra siklus dan siklus I

PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Penerapan model coperative learning Tipe Jigsaw dapat meningkatkan motivasi mata pelajaran IPA siswa kelas VI SD Negeri 1 Punggelan semester 2 Tahun pelajaran 2015/ 2016 dari pra siklus 67,1 % .menjadi 75 % pada akhir siklus II
  2. Penerapan model coperative learning Tipe Jigsaw dapat meningkatkan prestasi mata pelajaran IPA siswa kelas VI SD Negeri 1 Punggelan semester 2 Tahun pelajaran 2015/ 2016 dari pra siklus 35 % menjadi 90 % pada akhir siklus II.

Saran

Saran Untuk Penelitian Lanjut

  1. Kelemahan motivasi dan prestasi yang belum tercapai atau belum dapat diukur dalam penelitian ini antara lain: 1). Motivasi untuk melakukan pembelajaran yang dapat menimbulkan sikap sosial 2). Prestasi yaitu menyimpulkan hasi pembelajaran dan refleksi , disarankan untuk dapat diteliti pada penelitian selanjutnya.
  2. Pelaksanaan penelitian ini baru 2 siklus, penelitian lain selanjutnya dapat menambah siklus III untuk mendapat temuan-temuan yang lebih signifikan.

DAFTAR PUSTAKA

Asep Herry Hernawan.(2004). Pengembangan  Kurikulum dan Pembelajaran.Jakarta : Universitas Terbuka.

Lestari M., Hera, Taufik A., Lestari P,Puji, (2003). Pendidikan Anak di SD.Jakarta:Universitas Terbuka.

Ristasa,R. Prayitno.(2008).Panduan Penulisan Laporan Perbaikan

Pembelajaran (Penelitian Tindakan Kelas) Purwokerto: UPBJJ UT Purwokerto.

Suciati.(2006) Belajar dan Pembelajaran 2.Jakarta : Universitas terbuka.

Wardhani, I.G.A.K. (2007) Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta : Universitas Terbuka.

Winataputra Udin.(2003).Strategi Belajar Mengajar.Jakarta:Universitas Terbuka.

Winataputra Udin.(2008).Materi dan Pembelajaran IPS SD.Jakarta:Universitas Terbuka.

BIODATA

Nama               : Admin, S.Pd. SD

NIP                 : 19700717 200501 1 011

Pangkat/Gol    : Penata/ III C

Unit Kerja       : SDN 1 Punggelan, Kec. Punggelan, Kab. Banjarnegara




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *