http://www.infopasti.net/penerapan-model-pembelajaran-kooperatif-tipe-tai-team-assisted-individualization-untuk-meningkatkan-hasil-belajar-materi-konduktor-dan-isolator-panas-bagi-kelas-vi/

PTK SD Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATERI KONDUKTOR DAN ISOLATOR PANAS BAGI KELAS VI SD NEGERI WIDARAPAYUNG KULON 02 BINANGUN

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk meningkatkan hasil belajar siswa (2) Untuk menganalisis keaktifan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI. Penelitian ini dilakukan melalui proses pengkajian berdaur (PTK) yang meliputi empat tahapan yaitu perencanaan (plan), pelaksanaan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection), dan dilaksanakan dalam tiga siklus perbaikan. Kesimpulan antara lain: (1) Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran IPA peningkatan hasil belajar siswa sebesar 54,16%. (2) Dapat meningkatkan tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA sebesar 95,83%.

Kata Kunci    : Model Kooperatif Tipe TAI, Hasil Belajar, Konduktor dan Isolator

 

PENDAHULUAN

Dalam upaya meningkatkan proses belajar, guru harus berupaya menciptakan strategi yang cocok, sebab dalam proses belajar mengajar yang bermakna, keterlibatan siswa sangatlah penting, hal ini sesuai dengan pendapat Muhamad Ali, (1983:12) yang menyebutkan bahwa kadar pembelajaran akan bermakna apabila: Adanya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar; Adanya keterlibatan intelektual-emosional siswa baik melalui kegiatan menganalisa, berbuat dan pembentukan sikap; Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok untuk berlangsungnya proses belajar mengajar.

Dari 24 siswa kelas VI SD Negeri Widarapayung Kulon 02 hanya 10 orang yang tuntas  belajar, hal ini mendorong kami untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas ini. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI  dalam pembelajaran akan lebih bermakna, sebab dengan menggunakan model Pembelajaran kooperatif  tipe TAI  siswa akan terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran.

Mata pelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar, dan merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan. Kehadiran medel Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization)  dalam pembelajaran IPA akan lebih mempermudah bagi guru dalam menyampaikan materi yang akan diajarkan kepada siswa.

KAJIAN PUSTAKA

Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Slavin dalam Isjoni (2009: 15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 5 orang dengan struktur kelompok heterogen. Sedangkan menurut Sunal dan Hans dalam Isjoni (2009: 15) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada siswa agar bekerja sama selama proses pembelajaran. Selanjutnya Stahl dalam Isjoni (2009: 15) menyatakan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap saling tolong-menolong dalam perilaku sosial.

Johnson (Anita Lie,2007: 30) mengemukakan dalam model pembelajaran kooperatif ada lima unsur yaitu: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok. Pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) adalah model pembelajaran yang menekankan pada saling ketergantungan positif antar individu siswa, adanya tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi intensif antar siswa, dan evaluasi proses kelompok (Arif Rohman, 2009: 186).

Agus Suprijono (2009: 54) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu siswa menyelesaikan masalah yang dimaksudkan. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

Model Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) ini dikembangkan oleh Slavin. Menurut Slavin (2005) tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada model pembelajaran TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.

Miftahul (2011) mengemukakan bahwa dalam model pembelajaran TAI, siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuannya yang beragam. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa dan ditugaskan untuk menyelesaikan materi pembelajaran atau PR. Dalam model pembelajaran TAI, setiap kelompok diberikan serangkaian tugas tertentu untuk dikerjakan bersama-sama. Poin-poin dalam tugas dibagikan secara berurutan kepada setiap anggota (misalnya, untuk materi IPA yang terdiri dari 8 soal, berarti empat anggota dalam setiap kelompok harus saling bergantian menjawab soal-soal tersebut). Semua anggota harus saling mengecek jawaban temanteman satu kelompoknya dan saling memberi bantuan jika memang dibutuhkan. Setiap kelompok harus memastikan bahwa semua anggotanya paham dengan materi yang telah didiskusikan.

METODE PENELITIAN

Penelitian direncanakan pada hari Selasa tanggal 24 Agustus 2015 untuk siklus 1 dan siklus 2 pada hari Senin tanggal 7 September 2015. Penelitian dilakukan di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Widarapayung Kulon 02 Kelurahan Widarapayung Kulon Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap, yang merupakan objek Penelitian. Yang berjumlah 24 siswa terdiri dari 13 laki-laki dan 11 perempuan.

   Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, oleh karenanya penelitian ini tidak direncanakan sejak awal, tetapi baru direncanakan setelah hasil dari proses belajar mengajar dirasakan adanya masalah (kurang memuaskan).

 Deskripsi Kondisi AwalHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data yang diperoleh dari sekolah, keadaan siswa Kelas VI SD Negeri Widarapayung Kulon 02 pada semester I diperoleh data yang terdiri dari 24 siswa yaitu 13  laki-laki dan 11 Perempuan. Aktivitas siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, siswa kurang antusias dalam menghadapi pelajaran, hal ini salah satu penyebabnya adalah guru tidak menggunakan model pembelajaran yang tepat.

Dalam kegiatan orientasi dan identivikasi masalah terlebih dahulu dilakukan tes untuk mengetahui kemampuan siswa (tes awal) tentang materi Konduktor Dan Isolator Panas. Adapun hasil yang diperoleh dari tes awal adalah sebagai berikut :

Tabel 1  Nilai Tes Awal Sebelum Tindakan

No Uraian Nilai Prosentase
1 Nilai Terendah 40  
2 Nilai Tertinggi 80  
3 Rata-rata 61,04  
4 Siswa Yang Tuntas 10 dari 24 Siswa 41,67%
5 Siswa Yang belum Tuntas 14 dari 24 Siswa 58,33%

 

Deskripsi dan Pembahasan Siklus 1

Pelaksanaan tindakan siklus I, peneliti bekerja sama dengan teman sejawat yang berperan sebagai observer. Peneliti melakukan pembelajaran sesuai dengan yang telah direncanakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization)  Kegiatan yang dilakukan peneliti sama dengan RPP yang telah dibuat. Sedangkan observer melakukan tugasnya mengobservasi kegiatan yang dilakukan guru dan siswa dalam pembelajaran dan mencatat hal-hal yang muncul selama pembelajaran baik dari siswa maupun guru.

Dari hasil yang diperoleh pada siklus 1 serta diskusi dengan pengamat maka penggunaan model pendekatan kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) berhasil untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA tentang Konduktor dan Isolator Panas.

Tabel 2. Nilai Pada Siklus 1           

No Uraian Nilai Prosentase
1 Nilai Terendah 45  
2 Nilai Tertinggi 80  
3 Rata-rata 65,20  
4 Siswa Yang Tuntas 15 dari 24 Siswa 62,5%
5 Siswa Yang belum Tuntas 9 dari 24 Siswa 37,5%

Pada pelaksanaan tindakan dengan pendekatan model kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) siswa banyak yang antusias menyimak dam mamperhatikan  yang ada di papan tulis tentang konduktor dan isolator panas. Hal ini dapat dilihat dari antusias siswa dalam menjawab pertanyaan dari guru tentang konduktor dan isolator panas.

Hasil refleksi dari siklus I merupakan rekomendasi untuk siklus 2 agar pembelajaran lebih baik dan sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun kegiatan perencanaan untuk kegiatan pembelajaran siklus 2 antara lain merefisi Rencana Pelaksanaan pembelajaran terutarna dalam Proses Belajar Mengajar.

Deskripsi dan Pembahasan Siklus 2

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus 2, peneliti bekerja sama dengan teman sejawat yang berperan sebagai observer. Peneliti melakukan pembelajaran sesuai dengan yang telah direncanakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI Kegiatan yang dilakukan peneliti sama dengan RPP yang telah dibuat. Sedangkan observer melakukan tugasnya mengobservasi kegiatan yang dilakukan guru dan siswa dalam pembelajaran dan mencatat hal-hal yang muncul selama pembelajaran baik dari siswa maupun guru. Tindakan penelitian siklus 2 berdasarkan repleksi siklus l, dan hasilnya disusun berdasarkan katagori data dibawah ini.

Tabel 3. Nilai Pada Siklus 2           

No Uraian Nilai Prosentase
1 Nilai Terendah 45  
2 Nilai Tertinggi 85  
3 Rata-rata 72,08  
4 Siswa Yang Tuntas 23 dari 24 Siswa %
5 Siswa Yang belum Tuntas 91dari 24 Siswa 37,5%

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus 2 peneliti masih dibantu oleh observer. Setelah pelaksanaan, peneliti melakukan diskusi dengan pengamat tentang pelaksanaan siklus 2. Berdasarkan pengamatan observer dapat dikemukakan beberapa hal. Dari tabel di atas rekapitulasi peningkatan motivasi siswa pada studi awal, siklus I dengan model pendekatan kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) dapat diperoleh data sebagai berikut: 1) Pada studi awal siswa yang termotivasi dalam pembelajaran sebanyak  10 anak dari 24 anak atau hanya 41,67 % dari seluruh siswa; 2) Pada siklus I siswa yang termotivasi dalam pembelajaran naik  menjadi 15 anak  dari 24 anak  atau  62,5 % dari jumlah seluruh siswa; 3) Pada siklus II siswa yang termotivasi dalam pembelajaran sebanyak  23 anak dari 24 anak atau 95,83 %. Belum semua siswa termotivasi dalam pembelajaran, hal ini dikarenakan siswa tersebut mempunyai keterlambatan dalam intelegensi dalam perkembangannya.

Siswa yang belum tuntas belajar dapat diperoleh data sebagai berikut: 1) Pada studi awal siswa yang belum sebanyak  14 anak dari 24 anak atau hanya 58,33% dari seluruh siswa; 2) Pada siklus I siswa yang belum tuntas sebanyak 9 anak  dari 24 anak  atau  37,5% dari jumlah seluruh siswa; 3) Pada siklus II siswa yang belum tuntas sebanyak 1 anak dari 24 anak atau 4,17 % dari jumlah seluruh siswa.

Tabel 4. Persentase Ketuntasan Siswa pada Studi Awal, Siklus I dan Siklus II

 

No.

 

Kegiatan

Siswa Tuntas Belajar Siswa Belum Tuntas Belajar
Frekwensi (%) Frekwensi (%)
1 Studi Awal 10 41,67% 14 58,33%
2 Siklus I 15 62,5% 9 37,5%
3 Siklus II 23 95,83% 1 4,17%

Dari data di atas terlihat bahwa tiap siklus hasil belajar dan motivasi siswa meningkat.Pada siklus I sudah menunjukkan perbaikan yang meningkat. Siswa yang aktif sebanyak 15 anak atau  62,5%.Siswa yang cukup aktif dan belum aktif sebanyak 9 anak atau 37,5%. Walaupun masih ada siswa yang belum tuntas peneliti menggunakan pembelajaran model questioning dengan teknik round card  dimana anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Pada siklus 2 terjadi perubahan yang sangat meningkat dapat diketahui bahwa siswa yang akif dan mencapai ketuntasan belajar sebanyak 23 anak dari 24 siswa atau 95,83%. Namun pada siklus ini masih ada 1 siswa atau 4,17% yang belum aktif dan belum tuntas belajarnya. Hal ini disebabkan karena faktor intelegensi yang lambat dalam perkembangannya.Untuk motivasi belajar siswa mencapai 95,83% karena masih ada siswa yang motivasi belajarnya cukup rendah walaupun sudah menggunakan berbagai macam media pembelajaran.

Naiknya nilai hasil belajar siswa terhadap materi hingga mencapai tingkat ketuntasan 95,83% (23 siswa). Hal ini membuktikan kebenaran dari Brunner seperti dikutip Rusna Ristasa 2006:42, “Siswa akan memiliki daya kompetensi jika mereka tertarik pada apa yang mereka senangi, sulit untuk memotivasi siswa terhadap apa yang tidak mereka senangi.” Berdasarkan simpulan pada siklus penelitian 1  dan 2 tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini, yaitu “Apabila model pendekatan kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization)  dapat berjalan efektif, maka hasil belajar siswa akan meningkat”dapat diterima.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil análisis data dan hasil temuan yang diperoleh dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

  1. Melalui model pendekatan kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran IPA tentang Konduktor dan Isolator Panas di kelas VI SD Negeri Widarapayiung Kulon 02.
  2. Melalui model pendekatan kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Widarapayung Kulon 02 pada pembelajaran IPA tentang Konduktor dan Isolator Panas.
  3. Peningkatan prestasi belajar ini disebabkan oleh meningkatnya keaktifan belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:

  1. Sebelum melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran, guru hendaknya menyiapkan rencana pebelajaran, sarana dan prasarana, metode yang tepat, serta alat peraga sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat berhasil dengan baik.
  2. Pembelajaran dengan model pendekatan kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) hendaknya dapat digunakan guna mendukung pelaksanaan kurikulum.
  3. Untuk mengurangi ketergantungan siswa pada kelompok, perlu ditambahkan tugas mandiri.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP.

Depdiknas, (2004). Kurikulum Pendidikan Dasar, Dirjen Dikdasmen.

Depdikbud, (1998). Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Kelas VI Sekolah Dasar. Jakarta Dirjen Dikdasmen.

Depdikbud, (1997). Ilmu Pengetahuan Alam Petunjuk Guru Sekolah Dasar Kelas 6. Jakarta Dirjen Dikdasmen.

Kasihani Kasbolah, (1998). Penelitian Tindakan Kelas Dirjen Pendidikan. Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Nana Sujana, (1991). Media Pengajaran. Pusat Penelitian dan Pembidangan Ilmu Lembaga Penelitian IKIP Bandung. Sinar Baru.

Ngalim Purwanto, (1997). Psikologi Pendidikan. Bandung Remaja Rosda Karya.

Tim Bina Karya Guru, (2008). IPA SD untuk Sekolah Dasar Kelas VI. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Winataputra, U. (2001). Model-model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Dapdiknas

BIODATA PENULIS

Nama Peneliti              : DWI ASTUTI, S.Pd.SD

NIP                                : 19671018 199302 2 003

Pangkat/Golongan      : Pembina/IVa

Unit Kerja                     : SD Negeri Widarapayung Kulon 02 UPT Disdikpora Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *