PTK SD Mapel PKn Materi Pemilu dan Pilkada

wagiya

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MACTH UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKn TENTANG PROSES PEMILU DAN PILKADA BAGI SISWA KELAS VI SDN MERGAWATI  02 SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN  2015 / 2016

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn tentang proses pemilu dan pilkada pada siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Mergawati 02 semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016. Untuk mendapatkan data aktivitas dan hasil belajar siswa digunakan teknik pengumpulan data : tes, observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis dengan teknik deskriptif komparatif untuk data kuantitatif dan deskriptif kualitatif untuk data kualitatif. Subjek penelitian 11 siswa yang terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Penelitian dilaksanaan dalam 2 siklus dengan prosedur umum yang terdiri dari: 1) Planing,  2) acting, 3) observing, dan 4) reflecting, Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan model pembelajaran make a macth dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar PKn tentang proses pemilu dan pilkada di kelas VI SD Negeri Mergawati 02 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan aktivitas belajar siswa pada kondisi awal sebesar 15 (45,4%) meningkat menjadi 19 (57,6%) pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 28 (84,8%) pada siklus II. Pelaksanaan pembelajaran make a macth juga dapat hasil belajar PKn tentang proses pemilu dan pilkada pada siswa kelas VI SD Negeri Mergawati 02 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan ketuntasan siswa dari 36,4% pada kondisi awal, menigkat menjadi 64,9% pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 90,9% pada siklus II.

Kata Kunci: aktivitas, hasil belajar, model pembelajaran make a macth.

 

PENDAHULUAN

Salah satu mata pelajaran wajib di tingkat SD adalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). PKn memerlukan kemampuan ingatan dan pemahaman konsep yang baik. Para siswa perlu memahami konsep dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Masalah yang dihadapi pada mata pelajaran PKn adalah sulitnya siswa dalam memahami konsep di setiap materinya. Siswa beranggapan bahwa mata pelajaran PKn sulit untuk dipelajari.

Berdasarkan hasil ulangan harian siswa kelas VI yang berjumlah 11 anak, hanya 4 siswa (36,4%) yang mendapat nilai tuntas atau memenuhi KKM, sedangkan 7 siswa (63,6%) mendapat nilai kurang dari KKM. KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) di SD Negeri Mergawati 02 mata pelajaran PKn dari kompetensi dasar proses pemilu dan pilkada adalah 65. Data inilah yang menjadi tolok ukur bagi peneliti untuk mengadakan penelitian tindakan kelas.

Rendahnya hasil belajar PKn kelas VI SD Negeri Mergawati 02 disebabkan karena guru belum menggunakan model pembelajaran yang tepat untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Di samping itu, guru juga belum menggunakan media yang tepat sesuai dengan karakteristik mata pelajaran tersebut. Adapun persoalan yang terjadi pada diri siswa yaitu: (1) Pemahaman siswa terhadap proses perumusan Pancasila masih sangat rendah (2) Pembelajaran yang dilaksanakan kurang adanya respon siswa bahkan pembelajaran kurang efektif karena belum adanya kesungguhan dalam belajar (3) Masih terdapat kekurangaktifan siswa dalam pembelajaran (4) Tanggung jawab dan kerjasama siswa dalam pembelajaran belum berlangsung secara optimal.

Untuk mengatasi berbagai hal yang terjadi dalam pembelajaran PKn tersebut guru perlu melakukan perbaikan pembelajaran. Model pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang diterapkan pada proses penelitian tindakan kelas ini adalah model pembelajaran make a macth. Model pembelajaran make a macth merupakan kegiatan pembelajaran dimana siswa diminta mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal dalam waktu tertentu. Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Di sisi lain, guru juga menggunakan media flashcard guna membantu memperjelas pemahaman siswa tentang topik yang akan dipelajari.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Apakah penerapan model pembelajaran make a macth dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran PKn di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Mergawati 02 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016?
  2. Apakah penerapanmodel pembelajaran make a macth dapat meningkatkan hasil belajar PKn tentang proses pemilu dan pilkada pada siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Mergawati 02 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016?

KAJIAN TEORI

Menurut Sardiman (2004: 96) aktivitas belajar adalah kegiatan–kegiatan siswa yang menunjang keberhasilan belajar.sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (1999) aktivitas belajar adalah merupakan tindakan dan perilaku siswa yang komplek. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dan siswa atau pun siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif. Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan perubahan pengetahuan – pengetahuan, nilai – nilai sikap, dan keterampilan pada siswa sebagai latihan yang dilaksanakan secara sengaja.

 Aktivitas siswa selama proses mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki aktivitas apabila ditemukan ciri – ciri perilaku seperti : sering bertanya pada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar dan lain sebagainya (Rosalin, 2005: 4).

Berdasarkan berbagai pengertian dan jenis-jenis aktivitas belajar di atas peneliti berpendapat bahwa dalam belajar sangat dituntut adanya aktivitas siswa. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan.

Numan Somantri (2001: 159) mendefinisikan PKn sebagai seleksi dan adaptasi dari lintas disiplin ilmu-ilmu sosial, ilmu kewargaanegaraan, humaniora dan kegaiatan dasar manusia diorganisasikan dan disajikan secara psikologi dan ilmiah untuk mencapai salah satu tujuan pendidikan IPS.

Sedangkan dalam lampiran Permendiknas No 22 tahun 2006 di kemukakan bahwa  mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukkan warga negara yang memahami dan mampu melakssanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarekter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Model Pembelajaran Make a Macth

Model pembelajaran merupakan suatu teknik pembelajaran yang digunakan guru dalam mengajarkan suatu pokok bahasan (materi) tertentu dan dalam pemilihan suatu model harus disesuaikan terlebih dahulu dengan materi pelajaran, tingkat perkembangan kognitif siswa, dan sarana atau fasilitas yang tersedia sesuai dengan tujuan pembelajaran sehingga model pembelajaran yang diterapkan dapat tercapai.

Model pembelajaran make a match merupakan salah satu pembelajaran dengan pendekatan PAIKEM yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam berbagai kegiatan pembelajaran baik secara individu maupun kelompok, sehingga dapat mengembangkan pemahaman dan kemampuan belajar melalui berbuat atau melakukan (Suprijono, 2010 : 947).

Menurut Rusman (2011: 223-233) model make a match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu cara keunggulan teknik ini adalah peserta didik mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik, dalam suasana yang menyenangkan.

Anita Lie (2008: 56) menyatakan bahwa model pembelajaran tipe make a match atau bertukar pasangan merupakan teknik belajar yang memberi kesempatan siswa untuk bekerja sama dengan orang lain. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe make a match adalah suatu teknik pembelajaran make a match adalah teknik mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.

Kerangka Berfikir

Berdasarkan hasil ulangan harian siswa kelas VI yang berjumlah 11 anak, hanya 4 siswa (36,4%) yang mendapat nilai tuntas atau memenuhi KKM, sedangkan 7 siswa (63,6%) mendapat nilai kurang dari KKM. KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) di SD Negeri Mergawati 02 mata pelajaran PKn adalah 65. Data inilah yang menjadi tolok ukur bagi peneliti untuk mengadakan penelitian tindakan kelas.

Rendahnya hasil belajar PKn kelas VI SD Negeri Mergawati 02 disebabkan karena guru belum menggunakan model pembelajaran yang tepat untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Di samping itu, guru juga belum menggunakan media yang tepat sesuai dengan karakteristik mata pelajaran tersebut. Adapun persoalan yang terjadi pada diri siswa yaitu: (1) Pemahaman siswa terhadap proses perumusan Pancasila masih sangat rendah (2) Pembelajaran yang dilaksanakan kurang adanya respon siswa bahkan pembelajaran kurang efektif karena belum adanya kesungguhan dalam belajar (3) Masih terdapat kekurangaktifan siswa dalam pembelajaran (4) Tanggung jawab dan kerjasama siswa dalam pembelajaran belum berlangsung secara optimal.

Untuk mengatasi berbagai hal yang terjadi dalam pembelajaran PKn tersebut guru perlu melakukan perbaikan pembelajaran. Model pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang diterapkan pada proses penelitian tindakan kelas ini adalah model pembelajaran make a macth. Model pembelajaran make a macth merupakan kegiatan pembelajaran dimana siswa diminta mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal dalam waktu tertentu. Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Dengan menerapkan model pembelajaran ini diharapkan akan terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar PKn. Berdasarkan uraian di atas dapat dibuat bagan kerangka berfikir sebagai berikut:

1

Gambar 1. Skema Kerangka Berpikir

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian teoritis dan kerangka berfikir di atas dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

  1. Penerapan model pembelajaran make a macth dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran PKn di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Mergawati 02 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016.
  2. Penerapan model pembelajaran make a macth dapat meningkatkan hasil belajar PKn tentang proses pemilu dan pilkada pada siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Mergawati 02 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Mergawati 02 UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. Penelitian ini dilakukan pada mata pelajaran PKn selama 2 siklus. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan yaittu bulan Agustus 2015 sampai dengan November 2015,

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Mergawati 02 semester 1  tahun pelajaran 2015/2016 berjumlah 11 siswa, terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan dengan karakteristik siswa memiliki potensi dan kompetensi yang heterogen. SD Negeri Mergawati 02 tersebut tempat peneliti melaksanakan tugas mengajar sehingga tidak menggangu kegiatan pembelajaran.

Sumber data pada penelitian tindakan kelas ini yang digunakan adalah :

  1. Sumber data siswa meliputi: data tentang aktivitas belajar siswa, data tentang hasil belajar pada mata pelajaran PKn dan data tentang penerapan penerapan model pembelajaran make a macth.
  2. Sumber data guru meliputi data keterampilan guru merencanakan perbaikan pembelajaran dan keterampilan meaksanakan perbaikan pembelajaran, proses pembelajaran seperti interaksi pembelajaran, implementasi penerapan model pembelajaran make a macth.
  3. Sumber data kolaborator meliputi pengamatan penerapan model pembelajaran make a macth, hasil refleksi bersama guru peneliti.

Teknik merupakan cara mengumpul data sedangkan alat pengumpulan data merupakan instrument yang digunakan mengambil data.  Banyak cara yang digunakan dalam pengumpulan data meliputi: teknik tes, teknik pengamatan, teknik wawancara, teknik dan dokumen. Prosedur penelitian meliputi 2 siklus dengan tahapan tiap siklus : perencanaan, pelaksaanaan, pengamatan dan refleksi.

Indikator Kinerja

Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa adalah secara individual maupun klasikal serta ketuntasan belajar siswa. Secara individual siswa dinyatakan tuntas belajar jika telah memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran PKn kelas VI semester 1 tahun pelajaran  2015/2016. Adapun  keberhasilan penelitian ini secara kuantitatif adalah:

  1. Hasil belajar siswa dipersyaratkan berdasarkan KKM PKn kelas VI SD Negeri Mergawati 02 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 adalah ≥ 65.
  2. Hasil belajar siswa secara klasikal apabila 80% siswa mendapat nilai rata-rata ≥ 65.

Sedangkan indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan aktivitas dan tanggung jawab siswa adalah sebagai berikut:

  1. Siswa aktif dalam pembelajaran ditunjukkan dengan respons yang antusias dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran baik secara klasikal maupun dalam kelompok.
  2. Pembelajaran dinyatakan berhasil jika 80% siswa memiliki tingkat aktivitas baik.

HASIL PENELITIAN

Siklus I

Sebelum dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran model pembelajaran make a macth , aktivitas belajar  siswa  belum ada yang mendapat sekor tinggi. Situasi pembelajaran monoton, siswa tidak aktif terlibat dalam pembelajaran guru hanya menjelaskan dan belum mengembangkan pembelajaran yang bervariasi, situasi kelas kurang menggairahkan. Perbandingan hasil penelitian pra siklus dan siklus I setelah dilakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 1

Perbandingan aktivitas belajar Siswa

Pra Siklus sengan Siklus I

No Aktivitas belajar Siswa Pra Siklus Siklus I
1 Tinggi 1
2 Sedang 4 6
3 Kurang 7 4

   Berdasarkan data di atas ada kenaikan aktivitas belajar siswa  yang tinggi dari 0 menjadi 1, sedang aktivitas belajar siswa yang rendah dari 7 menjadi 4. Pada siklus I diperoleh hasil, siswa memiliki aktivitas belajar  tinggi 0, siswa memiliki aktivitas belajar sedang 6 siswa atau 54,6 % dan siswa memiliki aktivitas belajar  rendah 4  siswa atau 36,4 %. Ini berarti ada kenaikan aktivitas belajar siswa dari pra siklus 0 siswa menjadi 1  siswa.

Nilai rata-rata baru mencapai 60. Kondisi ini memprihatinkan dalam proses pembelajaran yang berakibat sangatlah sulit dalam pengelolaan belajar mengajar. Melalui diskusi awal, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran melalui penerapan model model pembelajaran make a macth . Perbandingan hasil penelitian pra siklus dan siklus I setelah dilakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 2

Perbandingan Hasil belajar PKn Pra Siklus dan Siklus I

No Hasil belajar PKn Pra siklus Siklus I
1 Nilai tertinggi 73 75
2 Nilai terendah 46 50
3 Nilai rata – rata 60 64,9
4 Ketuntasan belajar 36,4% 63,6%

   Pada tabel di atas terlihat siklus I hasil nilai tertinggi 75, nilai terendah 50  dan nilai rata-rata 64,9.  Pada studi awal nilai rata-rata 60 sehingga ada kenaikan rerata sebesar 4,9. Berkat intervensi dengan penerapan pembelajaran model pembelajaran make a macth  maka aktivitas belajar siswa dan hasil belajar PKn  ada kenaikan. Hal ini disebabkan model pembelajaran make a macth  kondisi siswa menjadi a) lebih antusias;  b) lebih aktif dalam pembelajaran;  c) memiliki pemahaman yang lebih konkrit dan  d) lebih termotivasi untuk belajar. Situasi kelas a) menyenangkan;  b) interaktif dan  c) merangsang siswa untuk terlibat lebih aktif dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan kelebihan  model pembelajaran make a macth yang dikemukakan Miftahul Huda (2013: 253-254) antara lain: (1) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik; (2) karena ada unsur permainan, metode ini menyengkan; (3) meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa; (4) efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi; dan (5) efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar.

Akhir siklus I menunjukan bahwa hasil penelitian aktivitas belajar siswa baru mencapai rerata 37,5% sehingga belum berhasil. Hasil tes hasil belajar baru mencapai rerata   67 sehingga belum berhasil. Berdasarkan diskusi refleksi maka penelitian dilanjutkan siklus II dengan menambah kegiatan model pembelajaran make a macth dari kelompok besar menjadi kelompok kecil.

Siklus II

Setelah  dilakukan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran model pembelajaran make a macth , aktivitas belajar  siswa yang tinggi  pada siklus II sebesar 63,6% atau 7 siswa dari 16 siswa. Situasi pembelajaran sudah bervaiasi dan menyenagkan, siswa aktif terlibat dalam pembelajaran. Perbandingan hasil penelitian siklus I dan siklus II setelah dilakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 3

Perbandingan aktivitas belajar Siswa

Siklus I sengan Siklus II

No Aktivitas belajar Siswa Siklus I Siklus II
1 Tinggi 1 7
2 Sedang 6 3
3 Kurang 4 1

Berdasarkan data di atas ada kenaikan aktivitas belajar siswa  yang tinggi dari 1 menjadi 7, sedang aktivitas belajar siswa yang rendah dari 4 menjadi 1. Pada siklus II diperoleh hasil, siswa memiliki aktivitas belajar  tinggi 7 atau 63,6 %, siswa memiliki aktivitas belajar sedang 3 siswa atau 27,3 % dan siswa memiliki aktivitas belajar  rendah 1 siswa atau 0,1 %. Ini berarti ada kenaikan aktivitas belajar siswa dari  siklus I sebanyak 1 siswa menjadi 7 siswa.

Selain hal tersebut hasil belajar PKn sudah  mencapai tingkat yang tinggi. Nilai rata-rata sudah mencapai 77,2 . Kondisi ini menunjukkan bahwa hasil belajar PKn sudah mencapai kriteria yang telah ditetapkan yaitu mencapai nilai rata-rata 65. Perbandingan hasil penelitian pra siklus dan siklus I setelah dilakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 4.Perbandingan Hasil belajar PKn Siklus I dan Siklus II

No Hasil belajar PKn Siklus I Siklus II
1 Nilai tertinggi 75 85
2 Nilai terendah 50 63
3 Nilai rata – rata 64,9 77,2
4 Ketuntasan belajar 63,6% 90,9%

Pada tabel di atas terlihat siklus II hasil nilai tertinggi 85, nilai terendah 63  dan nilai rata-rata 77,2.  Pada Siklus I nilai rata-rata  64,9 sehingga ada kenaikan 12,3 dan ketuntasan belajar sudah mencapai 90,9% .

Berkat intervensi dengan penerapan pembelajaran model pembelajaran make a macth  maka aktivitas belajar siswa dan hasil belajar PKn  ada kenaikan. Hal ini disebabkan model pembelajaran make a macth  kondisi siswa menjadi a) antusias;  b) aktif dalam pembelajaran;  c) memiliki pemahaman yang lebih konkrit dan  d) lebih termotivasi untuk belajar. Situasi kelas a) menyenangkan;  b) interaktif dan  c) merangsang siswa untuk terlibat lebih aktif dalam pembelajaran.

Penerapan pembelajaran model pembelajaran make a macth  pada konsep proses pemilu dan pilkada pada siswa kelas VI SD Negeri Mergawati 02, ini mununjukan adanya prestasi yang meningkat, hal ini dsebabkan adanya kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran model pembelajaran make a macth sebagaimana teruarai di atas.

Akhir siklus II menunjukan bahwa hasil penelitian aktivitas belajar siswa sudah mencapai 84,8% sehingga sudah berhasil. Hasil tes hasil belajar sudah mencapai rerata   77,2 sehingga sudah berhasil. Berdasarkan diskusi refleksi maka penelitian dihentikan dan tidak perlu dilanjutkan siklus III.

PEMBAHASAN

Pada pengamatan pra siklus aktivitas belajar siswa tinggi hanya 0 siswa dari 11 siswa, aktivitas belajar siswa sedang 36,4% atau 4 siswa, dan aktivitas belajar siswa kurang 63,6%. atau 7 siswa, jadi rerata aktivitas belajar siswa pada pra siklus adalah 15 atau 45,5%. Setelah dilakukan pembelajaran dengan meggunakan model pembelajaran make a macth  aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Aktivitas belajar siswa tinggi 54,5% atau 6 siswa dari 11 siswa, aktivitas belajar siswa sedang 54,5% atau 6 siswa, dan aktivitas belajar siswa kurang 36,4.%. atau 4 siswa, rerata aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah 19 atau 57,6%. Namun aktivitas belajar siswa belum mencapai indikator keberhasilan. Pada siklus II penerapan model pembelajaran make a macth dengan penekanan / perubahan kegiatan kelompok yang lebih kecil mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa secara optimal. Hasil pengamatan pada siklus II adalah sebagai berikut. Aktivitas belajar siswa  tinggi 63,6% atau 7 siswa dari 11 siswa, aktivitas belajar siswa  sedang 27,3 % atau 3 siswa, dan aktivitas belajar siswa kurang 9,1% atau 1 siswa. Jadi rerata aktivitas belajar siswa pada siklus II adalah 28 atau 84,8%. Perbandingan hasil penelitian pra siklus, siklus I dan siklus II setelah dilakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 5 Perbandingan aktivitas belajar siswa Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

No Aktivitas belajar siswa Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Tinggi 9,1 63,6
2 Sedang 36,4 54,5 27,3
3 Kurang 63,6 36,4 9,1
4 Rerata 15 (45,5%) 19 (57,6%) 28 (84,8%)

Berdasarkan data di atas pada siklus I ada kenaikan rerata aktivitas belajar siswa  dari 15 menjadi 19. Pada siklus II ada kenaikan rerata aktivitas belajar siswa dari 19 menjadi 28. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran make a macth  dapat meningkatkan  rerata aktivitas belajar siswa  dari 19 menjadi 28.

Hasil belajar mata pelajaran PKn yang diukur melalui tes prestasi menunjukan hasil pada pra siklus rerata 60 dan ketuntasan 36,4%. Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran make a macth  ada peningkatan. Pada siklus I rerata 64,9 dan ketuntasan 60.%. Dari hasil refleksi tersebut masih belum mencapai indikator keberhasilan. Dengan memperbaiki kekurangan yang ada pada siklus I yaitu mengoptimalkan model pembelajaran make a macth dan penggunaan model bangun ruang sederhana, hasil tes prestasi pada siklus II  rerata 77,2 dan ketuntasan 90,9%. Perbandingan  hasil tes hasil belajar pra siklus dan siklus I setelah dilakukan ulangan pada akhir siklus diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 6 Perbandingan Prestasi  Belajar PKn, Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

No Hasil belajar PKn Pra Siklus Siklus I Siklusn II
1 Nilai tertinggi 73 75 85
2 Nilai terendah 46 50 63
3 Nilai rata-rata 60 64,9 77,2
4 Ketuntasan Belajar 36,4 63,6 90,9

Pada tabel di atas terlihat bahwa pada pra siklus nilai rata-rata 60, pada siklus I nilai rata-rata 64,9 dan pada siklus II nilai rata-rata 80,9. Dengan demikian pembelajaran dengan metode semonstrasi  dapat meningkatkan hasil belajar pada siklus I rata-rata 60 menjadi 64,9 dan pada siklus II rata-rata 64,9 menjadi 77,2.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran make a macth  dapat meningkatkan hasil belajar dari rerata 60 menjadi 77,2. Ketuntasan pra siklus 36,4 pada siklus I 63,6% dan pada siklus II menjadi 90,9%. Ini berarti bahwa pada siklus I ada peningkatan ketuntasan belajar dari 46,4% menjadi 64,9%, sedangkan pada siklus II ada peningkatan dari 64,9% menjadi 90,9%. Dengan demikian pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran make a macth  dapat meningkatkan ketuntasan belajar dari 36,4% menjadi 90,9%.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Penerapan model pembelajaran make a macth dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran PKn di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Mergawati 02 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 dari skor pra siklus 15 (45,5%) menjadi 28 (84,8%) pada akhir siklus II.
  2. Penerapan model pembelajaran make a macth dapat meningkatkan hasil belajar PKn tentang proses pemilu dan pilkada pada siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Mergawati 02 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 dari pra siklus ketuntasan belajar 36,4% menjadi 90,9% pada akhir siklus II.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bodnar, H.George and S.W Hopwood. (2000). Sistem Informasi Akuntansi. Buku Satu.Diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf dan Rudi M. Tambunan. Salemba Empat,Jakarta.

Denny Setiawan, 2008. Komputer dan Media Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.

Drs. Syaiful Bahari Djamari, 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta :        Rineka Cipta.

Drs. Slamet, 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta : Rineka Cipta

Gatot Muhseyo, 2007. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta :      Universitas Terbuka.

Gulo, W. (2008). Strategi belajar mengajar. Jakarta: Grasindo.

Hamalik ( 2010 ) kurikulum dan pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Mulyadi dan Kanaka Puradireja. (1998). Haury Auditing. Edisi ke-5, Buku Satu. SalembaEmpat, Jakarta.

Muhibin Syah, 1995. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Terbaru. Bandung: Remaja

Nana Sujana, 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru

Oemar Hamalik, 2001. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar CBSA, Bandung : Sinar Baru Algensindo

Pasaribu, 1980. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito

Peraturan Menteri Pendidikan Nasinal No.22 Tahun 2006

Ruseffendi. 1995. Pendidikan  Matematika 3. Jakarta: Depdikbud

Purwodarminto, 1999. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Priyatna, Nanang,  2003. Saya Ingin Pintar Matematika untuk SD Kelas VI Bandung : Grafindo Media Pratama.

Rusna Ristata,dkk. 2006. Panduan Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Purwokerto: UPBJJ Purwokerto.

Sardiman ( 2004 ). Interaksi dan Motivasi Belajar. P.T Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Soeparno.1990. Media Pengajaran Bahasa Indonesia. Klaten: Intan Pariwara.

Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta, ,.

Tim Bina Karya Guru, 2007. Trampil Berhitung Matematika untuk SD Kelas VI. Jakarta : Erlangga

Trianto, 2007. Model-model Pembelajaran Inovativ Berorientasi Konstruktivistik. Surabaya : Prestasi Pustaka.

Udin, S Winataputra, 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :   Universitas Terbuka.

Wina Sanjaya. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar ProsesPendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

BIODATA PENULIS:

Nama                         ;  Wagiya, S.Pd

NIP                             :  19620603 198201 1 004

Panhkat/ Golongan :  Pembina / IV a

Jabatan                       ;  Kepala Sekolah

Unit Kerja                   :  SDN Mergawati 02 UPT DISDIKPORA Kec. Kroya.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *