PTK SD Model STAD Mapel PKn Kelas VI

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STAD UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARAGANEGARAAN MATERI MENGENAL WILAYAH ASIA TENGGARA SISWA KELAS VI SD NEGERI REJAMULYA 04 SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2011/2012

ABSTRAK

Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah: “Untuk Mengetahui Apakah dengan Menggunakan Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Materi Kerjasama ASEAN di Kelas VI SD Rejamulya 04 Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012.”Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Rejamulya 04 Kecamatan Kedungreja Kabupaten Cilacap pada semester dua (genap) tahun ajaran 2011/2012. Penelitian merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam dua siklus dengan 2 pertemuan untuk masing-masing siklus dengan subjek penelitian adalah siswa Kelas VI dengan jumlah siswa 30 orang. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Penerapan Model Pembelajaran STAD dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Mengenal Wilayah Asia Tenggara di Kelas VI SD Rejamulya 04 Semster 2 Tahun Pelajaran 2011/2012, di mana siswa yang mencapai KKM pada pra siklus sebanyak 12 siswa atau 46,15% kemudian pada pra siklus sebanyak 14 siswa atau 46,67% kemudian pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 20 siswa atau 66,67% dan pada siklus II kembali mengalami peningkatan menjadi 27 siswa atau 90%. Sedangkan nilai rata-rata pada pra siklus hanya 66,33 kemudian pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 75,67 dan pada siklus II kembali mengalami peningkatan menjadi 85,67.”

Kata kunci: Prestasi Belajar, STAD, PKn

PENDAHULUAN

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas VI SD Negeri Rejamulya 04 Kecamatan Kedungreja Kabupaten Cilacap selama ini lebih banyak menerapkan model konvensional (ekspositori) yang menekankan dominasi guru dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran ini memiliki beberapa kelemahan antara lain: (1) Pembelajaran lebih menekankan pada hafalan; (2) Siswa kurang aktif dan kreatif dalam kegiatan pembelajaran; (3) Menghambat perkembangan siswa dalam mengemukakan ide dan gagasan; (4) Kegiatan pembelajaran didominasi guru, sehingga kreatifitas siswa sangat rendah; (5) Sumber informasi hanya dari buku paket pelajaran dan guru; dan (6) Siswa belum terlatih untuk belajar dan bekerja sama dalam diskusi dan kerja kelompok.Hal ini berakibat mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kurang disukai dan dinomorduakan dibanding mata pelajaran lain oleh siswa. Penyebabnya adalah karena mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dianggap sebagai mata pelajaran yang menyulitkan, banyak hafalan, membosankan, dan menjadikan siswa pasif dalam belajar.

Masalah penelitian tindakan kelas ini adalah: “Bagaimanakah melalui Penerapan Model Pembelajaran STAD dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Mengenal Wilayah Asia Tenggara Siswa Kelas VI SD Negeri Rejamulya 04 Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012?”Berdasarkan rumusan masalaah di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah: “Melalui Penerapan Model Pembelajaran STAD dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Mengenal Wilayah Asia Tenggara Siswa Kelas VI SD Negeri Rejamulya 04 Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012”.

KAJIAN PUSTAKA

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Model pembelajaran STAD merupakan salah satu bentuk pembelajaran kooperatif yang di dalamnya siswa dibentuk dalam kelompok belajar yang terdiri atas empat atau lima anggota yang mewakili siswa dengan tingkat kemampuan dan jenis kelamin yang berbeda (Sukidin dkk, 2002). Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut: Guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Guru dapat menggunakan berbagai pilihan dalam menyampaikan materi pembelajaran ini kepada siswa. Misal, antara lain dengan metode penemuan terbimbing atau metode ceramah. Langkah ini tidak harus dilakukan dalam satu kali pertemuan, tetapi dapat lebih dari satu; Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu sehingga akan diperoleh nilai awal kemampuan siswa; Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 – 5 anggota, dimana anggota kelompok mempunyai kemampuan akademik yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari budaya atau suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender; Guru memberikan tugas kepada kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan, mendiskusikannya secara bersama-sama, saling membantu antaranggota lain, serta membahas jawaban tugas yang diberikan guru. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap kelompok dapat menguasai konsep dan materi. Bahan tugas untuk kelompok dipersiapkan oleh guru agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai; Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu; Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari; Guru memberi penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari nilai awal ke nilai kuis berikutnya.

Prestasi Belajar

Menurut Saiful Bahri DJamarah (2002: 141) mengemukakan pendapat bahwa hasil dari proses belajar adalah perubahan yang terjadi sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukan oleh individu atau siswa. Hasil belajar siswa bagi kebanyakan orang diartikan ulangan, ujian atau tes. Maksud ulangan tersebut adalah untuk memperoleh indeks dalam menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar.

Sumadi Suryabrata (1993: 297) mengatakan bahwa tiap masa akhir tertentu, sekolah mengeluarkan rapor tentang kelakuan, kerajinan dan kepandaian siswa yang menjadi tanggungjawabnya. Raor itulah yang merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh guru mengenai belajar siswa-siswanya selama masa tertentu.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai siswa setelah menyelesaikan serangkaian kegiatan belajar mengajar. Prestasi ini dapat diwujudkan sebagai nilai yang dapat berupa angka-angka dan huruf yang biasanya disebut indeks prestasi (IP). Indeks prestasi ini merupakan satuan nilai akhir yang menunjukkan mutu penyelesaian program.

Pendidikan Kewarganegaraan

Pendapat lain menurut Sapriya dan Maftuh Bunyamin (2005: 321), yaitu: Mata pelajaran PKn adalah program pendidikan atau mata pelajaran yang memiliki tujuan utama untuk mendidik siswa agar menjadi warga negara yang baik, demokratis dan bertanggung jawab. Program PKn ini memandang siswa dalam kedudukannya sebagai warga negara, sehingga program-program, kompetensi atau materi yang diberikan kepada peserta didik diarahkan untuk mempersiapkan mereka mampu hidup secara fungsional sebagai warga masyarakat dan warga negara yang baik.

Sedangkan dalam Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan menengah (Departemen Pendidikan Nasional 2006: 2) ditegaskan bahwa: PKn (citizenships) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosial-budaya, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh pancasila dan UUD 1945.

Pendidikan Kewarganegaraan sebagai salah satu bidang sosial dan kenegaraan memiliki fungsi yang sangat esensial dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang memiliki keterampilan hidup bagi diri, masyarakat, bangsa dan Negara. Menurut Somantri (2001: 166) memberikan pemaparan mengenai fungsi PKn sebagai berikut: Usaha sadar yang dilakukan secara ilmiah dan psikologis untuk memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik agar menjadi internalisasi moral Pancasila dan pengetahuan kewarganegaraan untuk melandasi tujuan nasional yang diwujudkan dalam integrasi pribadi dan perilaku sehari-hari.

Sapriya dan Maftuh Bunyamin (2005: 320) mengemukakan tujuan PKn adalah sebagai berikut: Secara umum tujuan negara mengembangkan Pendidikan Kewarganegaraa adalah agar menjadi warga negara yang baik (to be good citizenships) yakni, warga yang memiliki kecerdasan (Civic Intellegence) baik intelektual, emosional, sosial maupun spiritual; memiliki rasa bangga dan tanggung jawab (Civic Responsibility); dan mampu berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara(Civic Participation) agar tumbuh rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

Hipotesis Tindakan

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: “Penerapan Model Pembelajaran STAD dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Materi Mengenal Wilayah Asia Tenggara pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  di Kelas SD Negeri Rejamulya 04 Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012.”

 

METODE PENELITIAN

Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SD Negeri Rejamulya 04 Kecamatan Kedungreja Kabupaten Cilacap. Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012, yaitu bulan Januari sampai dengan Maret 2012. Subyek penelitian adalah siswa Kelas VI SD Negeri Rejamulya 04 Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012 pada materi Mengenal Wilayah Asia Tenggara, di mana jumlah siswanya adalah 30 orang siswa.

Pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Alat-alat yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, perlengkapan kamera dan handycam, dan tes prestasi belajar.

Indikator Keberhasilan

Komponen yang menjadi indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: siswa dianggap meningkat prestasi belajarnya apabila terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar siswa di akhir pembelajaran, dalam hal ini di akhir siklus penelitian. Selain itu juga, harus dapat menguasai 80% dari seluruh tujuan pembelajaran.

 

HASIL PENELITIAN

Keadaan Pra Siklus

Penelitian ini dilaksanakan dimulai dengan pengamatan peneliti dan teman sejawat yang dilakukan pada awal Januari 2012. Karena penelitian ini dilakukan oleh guru peneliti, maka pengamatan dilakukan ketika guru mengajar di kelas. Pengamatan dilakukan pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada hari Kamis, 5 Januari 2012. Pada pengamatan ini guru peneliti lebih banyak mengamati kegiatan siswa.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan bersama teman sejawat, permasalahan yang dihadapi siswa, yaitu rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran, siswa cenderung pasif ketika pembelajaran berlangsung. Tidak ada siswa yang bertanya kepada guru, ketika ditanya tentang kepahaman siswa, para siswa hanya diam saja. Namun ketika guru bertanya, ternyata jawabannya tidak tepat. Selain itu, siswa juga cenderung mengharapkan bantuan teman atau mencontoh jawaban teman dalam mengerjakan tugas yang harus dikerjakan di sekolah maupun di rumah. Akhirnya, rendahnya aktivitas belajar siswa inilah yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa, di mana berdasarkan pengamatan peneliti terhadap nilai tes formatif keadaan pra siklus diperoleh data bahwa siswa yang mencapai KKM berjumlah 14 siswa atau 46,67%.

Deskripsi Siklus I

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada hari Kamis, 2 dan 9 Februari 2012 di Kelas VI SD Negeri Rejamulya 04 dengan jumlah siswa 30 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar oleh teman sejawat, yaitu Sugiantoro, S.Pd., SD.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut.

Tabel 1

Nilai Tes Formatif Pada Siklus I (KKM: 72)

No Nama Nilai Pra Siklus Nilai Siklus I Kriteria Ketuntasan
1 Riki R 80 80 T
2 Anggi S 40 60 TT
3 Ambar T 50 50 TT
4 Amir H 50 50 TT
5 Eva O 80 80 T
6 Heri T 60 80 T
7 Ismail 80 80 T
8 Nur S 80 80 T
9 Nur Hasim 50 80 T
10 Riski 40 50 TT
11 Tri Nur N 50 60 TT
12 Turyanto 50 60 TT
13 Umi A 80 90 T
14 Arif R 60 80 T
15 Afit T 80 80 T
16 Dita O 80 90 T
17 Feri 70 80 T
18 Jepi L 70 80 T
19 Ngadinem 50 60 TT
20 Nur Hidayat 80 90 T
21 Nur Arifin 80 80 T
22 Nur Fajar 80 90 T
23 Oki A 60 80 T
24 Siti R 80 90 T
25 Samsul H 40 50 TT
26 Septian P 70 90 T
27 Windi R 80 80 T
28 Alvina A 80 90 T
29 Pebriyan JS 60 80 T
30 Eko S 80 80 T
Rata-Rata 66.33 75.67
Sesuai KKM 14 20
Prosentase sesuai KKM 46.67% 66.67%

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 75,67 dan ketuntasan belajar mencapai 66,67% atau ada 20 siswa  dari 30 siswa sudah tuntas belajar.

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran,  Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu,  Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya refisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya yaitu: Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan, Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan, Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.

Deskripsi Siklus II

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada hari Kamis, 22 Februari 2012 dan 1 Maret 2012 dengan jumlah siswa 30 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalah atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut.

Tabel 2

Nilai Tes Formatif Pada Siklus II (KKM: 72)

No Nama Nilai Pra Siklus Nilai Siklus I Nilai Siklus II Kriteria Ketuntasan
1 Riki R 80 80 90 T
2 Anggi S 40 60 80 T
3 Ambar T 50 50 80 T
4 Amir H 50 50 70 TT
5 Eva O 80 80 90 T
6 Heri T 60 80 80 T
7 Ismail 80 80 90 T
8 Nur S 80 80 90 T
9 Nur Hasim 50 80 90 T
10 Riski 40 50 60 TT
11 Tri Nur N 50 60 80 T
12 Turyanto 50 60 80 T
13 Umi A 80 90 90 T
14 Arif R 60 80 90 T
15 Afit T 80 80 90 T
16 Dita O 80 90 90 T
17 Feri 70 80 90 T
18 Jepi L 70 80 90 T
19 Ngadinem 50 60 80 T
20 Nur Hidayat 80 90 90 T
21 Nur Arifin 80 80 90 T
22 Nur Fajar 80 90 100 T
23 Oki A 60 80 80 T
24 Siti R 80 90 90 T
25 Samsul H 40 50 60 TT
26 Septian P 70 90 90 T
27 Windi R 80 80 90 T
28 Alvina A 80 90 100 T
29 Pebriyan JS 60 80 90 T
30 Eko S 80 80 90 T
Rata-Rata 66.33 75.67 85.67
Sesuai KKM 14 20 27
Prosentase sesuai KKM 46.67% 66.67% 90.00%

Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 85,67 dan ketuntasan belajar mencapai 90% atau ada 27 siswa dari 30 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena siswa mambantu siswa yang kurang mampu dalam mata pelajaran yang mereka pelajari. Di samping itu adanya kemampuan guru sudah meningkat dalam proses belajar mengajar.

Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD. Dari data-data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut: Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar, Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung, Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik, Hasil belajar siswsa pada siklus II mencapai ketuntasan.

Pada siklus II guru telah menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

PEMBAHASAN

Prestasi Belajar Siswa

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa prestasi belajar siswa di Kelas VI SD Negeri Rejamulya 04 terus mengalami peningkatan dari pra siklus, siklus I dan siklus II, di mana siswa yang mencapai KKM pada pra siklus sebanyak 14 siswa atau 46,67% kemudian pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 20 siswa atau 66,67% dan pada siklus II kembali mengalami peningkatan menjadi 27 siswa atau 90%. Sedangkan nilai rata-rata pada pra siklus hanya 66,33 kemudian pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 75,67 dan pada siklus II kembali mengalami peningkatan menjadi 85,67. Secara ringkas peningkatan prestasi belajar siswa di Kelas VI SD Negeri Rajamulya 04 dapat dilihat pada tabel 4.4. berikut ini.

Tabel 3

Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

Siklus Nilai Rata-Rata Sesuai KKM Prosentase Sesuai KKM
Pra Siklus 66,33 75,67 85,67
Siklus I 14 20 27
Siklus II 46,67% 66,33% 90%

 

Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran kooperatif model STAD dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dan penguasaan materi pelajaran yang telah diterima selama ini, yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran PKn dengan pembelajaran kooperatif model STAD yang paling dominan adalah, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas isiwa dapat dikategorikan aktif.

Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif model STAD dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan, menjelaskan materi yang tidak dimengerti siswa, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.

 

KESIMPULAN       

Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan, kesimpulan dari penelitian ini adalah: “Diketahui Bahwa dengan Penerapan Model Pembelajaran STAD dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Mengenal Wilayah Asia Tenggara di Kelas VI SD Negeri Rejamulya 04 Semster 2 Tahun Pelajaran 2011/2012, di mana siswa yang mencapai KKM pada pra siklus sebanyak 12 siswa atau 46,15% kemudian pada pra siklus sebanyak 14 siswa atau 46,67% kemudian pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 20 siswa atau 66,67% dan pada siklus II kembali mengalami peningkatan menjadi 27 siswa atau 90%. Sedangkan nilai rata-rata pada pra siklus hanya 66,33 kemudian pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 75,67 dan pada siklus II kembali mengalami peningkatan menjadi 85,67.

 

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.

___________________. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineksa Cipta.

Sapriya dan Maftuh Bunyamin. (2005). Jurnal Civicus: Implementasi KBK Pendidikan Kewarganegaraan dalam Berbagai Konteks. Bandung: Jurusan PMPKn FPIPS.

Somantri, Muhammad Numan. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Suryabrata, Sumadi. 1990. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *