Pembelajaran Konstektual Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis

12

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN PRESTASI BELAJAR IPS BAGI SISWA KELAS VI SD NEGERI KLAPA PADA SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2014/2015

ABSTRAK

Terwujudnya  pembelajaran yang baik menuntut guru agar dapat mengaktualisasikan kompetensi profesionalnya, terutama dalam aspek metodologi.  Pada kenyataannya proses pembelajaran masih berlangsung seperti biasa. Guru masih cenderung menggunakan metode ceramah, kurang mengoptimalkan penggunaan alat/media, dan tidak memperhatikan kemampuan siswa. Kondisi seperti ini berakibat ditemukannya perilaku negatif yang pada gilirannya berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar rendah. Untuk mengatasi bebagai permasalahan yang terjadi, maka dilaksanakan Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar IPS siswa kelas VI SD Negeri Klapa di semester II tahun pelajaran 2014/2015 dengan menerapkan pembelajaran kotekstual. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VI berjumlah 31 siswa, terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan dengan karakteristik potensi dan kompetensi yang berbeda-beda. Teknik dan alat pengumpulan data dalam penelitian  menggunakan teknik tes, pengamatan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan, penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis yaitu dari 4,14 pada pra siklus menjadi 8,66 pada siklus II dan prestasi belajar dari rata-rata 66,16 pada pra siklus menjadi 85,30 pada siklus II, serta ketuntasan belajar dari 32,25% pada pra siklus menjadi 87,09% pada siklus II.

Kata kunci: berpikir kritis, prestasi belajar, pembelajaran kontekstual.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan wahana untuk menyiapkan individu bagi kehidupannya di masa sekarang dan masa depan. Menurut Crow and Crow dalam Agus Taufik (2007: 1.3), pendidikan adalah bimbingan terhadap individu maupun kelompok untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya sehingga dia memperoleh kepuasan dalam seluruh aspek kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya.

Mata pelajaran IPS adalah salah satu mata pelajaran yang bertujuan membekali siswa untuk mengembangkan penalaran dan nilai-nilai moral, sosial. Proses pembelajaran  membutuhkan keterlibatan siswa secara total, kreativitas siswa,  berpikir kritis, mengajukan pertanyaan dan memberi tanggapan terus diupayakan agar terjadi dialog kreatif, sehingga diharapkan tercipta pembelajaran interaktif sampai pada akhirnya kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar siswa meningkat. Menurut Puji Lestari (200: 3.28), bahwa belajar kreatif tidak hanya berkaitan dengan perkembangan kognitif/penalaran tetapi juga berkaitan dengan penghayatan pengalaman belajar yang menghasikan unsur afektif/sikap.

Hasil pengamatan awal yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan, bahwa kualitas pembelajaran pada kompetensi dasar mendeskripsikan gejala alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga mata pelajaran IPS di kelas VI SD Negeri Klapa Kecamatan Punggelan masih rendah. Hal tersebut terlihat dari data sebagai berikut:

  1. Kemampuan berpikir kritis siswa sangat rendah. Dari 31 siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis kategori tinggi hanya 4 siswa atau 12,90 %. Rendahnya kemampuan berpikir kritis disebabkan: (1) guru hanya mengunakan metode ceramah, (2) proses pembelajaran tidak melibatkan siswa secara aktif, (3) siswa tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan ide, berpikir kritis seperti bertanya, menjawab pertanyaan, atau menanggapi jawaban, (3) guru tidak menggunakan media/alat pemebelajaran secara optimal.
  2. Pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan rendah, karena rata–rata prestasi belajar yang dicapai 66,16 padahal KKM yang ditetapkan 75. Ketuntasan belajar hanya 32,25%.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah ada dua masalah yang   teridentifikasi, yaitu kemampuan berpikir kritis rendah dan prestasi belajar rendah.

Atas dasar uraian latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini “Apakah pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar mata pelajaran IPS bagi siswa kelas VI SD Negeri Klapa pada semester II tahun pelajaran 2014/2015.

KAJIAN PUSTAKA

Kemampuan Berpikir Kritis

Menurut Richard W. Paul yang dikutip oleh Kasdin dan Febiana (2012: 5) mengatakan berpikir  kritis adalah proses disiplin secara intelektual dimana seseorang secara aktif dan terampil  memahami mengaplikasikan, menganalisis, mensintesakan dan mengevaluasi berbagai  informasi yang dia kumpulkan atau yang dia ambil dari pengalaman, pengamatan, refleksi  yang dilakukannya,  penalaran atau komunikasi yang dilakukannya. (http://www.unindra.ac.id. Menurut  Prof. Dr. Mustaji, M.Pd, berpikir kristis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan.

Pengertian Prestasi Belajar

Menurut Din Wahyudin (2006: 3.30), prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai melalui sebuah proses perubahan tingkah laku peserta didik baik berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran umumnya ditunjukkan dengan nilai angka dan nilai sikap yang diberikan oleh guru. Menurut Djalal (1986: 4), prestasi belajar siswa adalah gambaran  kemampuan siswa yang diperoleh dari hasil penilaian proses belajar siswa dalam mencapai tujuan pengajaran.

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

        Menurut Sanjaya (dalam Sukarto, 2009: 3), Contextual Teaching and Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan meraka. Terdapat tujuh komponen utama dalam pembelajaran kontekstual yang efektif, yaitu konstruktivisme (constructivisme), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (Autentic Assesment).

Menurut Zahorik (Depdiknas, 2003), ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual, yaitu:

  • Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
  • Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian detailnya.
  • Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) yaitu dengan menyusun konsep sementara/hipotesis, melakukan sharing kepada orang lain agar memperoleh tanggapan/validasi, dan atas dasar itu konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
  • Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).
  • Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.

Kerangka Berpikir

Pada kondisi awal, guru belum  menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran. Akibatnya kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar pembelajaran IPS masih rendah.  Menyadari kondisi yang terjadi, guru mencoba melakukan tindakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar siswa. Cara yang dilakukan oleh guru adalah menerapkan pembelajaran kontekstual.  Pada siklus I, pendekatan pembelajaran kontekstual diterapkan dalam jumlah kelompok besar. Pada siklus II  pendekatan pembelajaran kontekstual kembali diterapkan, tetapi dalam jumlah kelompok kecil.

Berdasarkan kajian teoretis dan kerangka berpikir di atas, maka  hipotesis tindakan penelitian “Melalui penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar IPS bagi siswa kelas VI SD Negeri Klapa pada semester II tahun pelajaran 2014/2015”.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Klapa Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara. Penelitian dilakukan di kelas VI pada mata pelajaran IPS selama dua siklus. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa (data tentang kemampuan berpikir kritis dan data tentang prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS dan data tentang penerapan model pembelajaran kontekstual, guru (data ketrampilan guru merencanakan perbaikan pembelajaran dan ketrampilan melaksanakan perbaikan pembelajaran, proses pembelajaran seperti interaksi pembelajaran, implementasi penerapan pembelajaran kontekstual, dan kolaborator (pengamatan proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran konteksual dan hasil refleksi bersama peneliti).

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik tes.  Tes yang digunakan  adalah  tes prestasi belajar. Sedangkan instrumen yang digunakan berupa lembar tes yang terdiri dari pilihan ganda 20 nomor, isian 10 nomor dan uraian 5 nomor. Selain teknik tes, digunakan pula pengamatan. Pengamatan digunakan untuk mengamati kemampuan berpikir kritis, penerapan pembelajaran kontekstual, dan pengamatan perilaku peserta didik. Instrumen pengamatan kemampuan berpikir kritis menggunakan lembar pengamatan yang terdiri 10 aspek/indikator. Instrumen yang digunakan untuk pengamatan penerapan pembelajaran kontekstual dilakukan saat proses pembelajaran yaitu Alat Penilaian Kemampuan Guru Mengajar (APKG 2) yang terdiri dari 3 aspek, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan  kegiatan akhir. Instrumen yang digunakan untuk pengamatan perilaku peserta didik berupa anekdotal deskripsi penerapan pembelajaran kontekstual terdiri dari perilaku pada proses kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen pra siklus tentang kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar serta dokumen perangkat pembelajaran. Instrumen yang digunakan untuk menilai perangkat pembelajaran menggunakan Alat Penilaian Kemampuan Guru dalam Menyusun Perencanaan Pembelajaran (APKG) 1 yang terdiri aspek tujuan pembelajaran, materi, metode, alokasi waktu, langkah pembelajaran, alat/bahan dan sumber pembelajaran, dan penilaian.  Selain itu digunakan pula dokumentasi foto kegiatan pembelajaran.

Analisis data yang digunakan disesuaikan dengan metode dan jenis data yang dikumpulkan berbentuk data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif menggunakan analisis deskriptif komparatif dengan cara membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes siklus 1 dan nilai tes siklus 2. Sedangkan data kualitatif  hasil pengamatan menggunakan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi setiap siklus.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada kondisi pra siklus kemampuan berpikir kritis tinggi hanya 12,90 % atau 4 siswa, kemampuan berpikir kritis sedang 35,48% atau 11 siswa,  kemampuan berpikir kritis rendah 51,61% atau 16 siswa. Setelah dilakuakan pembelajaran dengan model pembelajaran kontekstual kemampuan berpikir kritis mengalami peningkatan. Kemampuan berpikir kritis tinggi 45,16% atau 14 siswa, dari 31 siswa, kemampuan berpikir kritis sedang 35,48% atau 11 siswa, kemampuan berpikir kritis rendah 19,35% atau 6 siswa. Rerata kemampuan berpikir kritis pada siklus I adalah 6,40 atau kategori sedang. Hal ini disebabkan situasi pembelajaran sudah ada perubahan, siswa mulai aktif, siswa yang bercakap-cakap sendiri sedikit berkurang, sementara guru tidak hanya ceramah dan aktivitas siswa mendapat perhatian lebih, sehingga situasi kelas tampak ramai oleh aktivitas belajar siswa. Namun kemampuan berpikir kritis belum mencapai indikator keberhasilan.

Pada siklus II penerapan model pembelajaran kontekstual dengan penekanan pada perubahan jumlah kelompok. Jumlah kelompok yang ada diperkecil. Ternyata tindakan tersebut mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis secara optimal. Hasil pengamatan pada siklus II adalah sebagai berikut: kemampuan berpikir kritis tinggi 90,32% atau 28 siswa dari 31 siswa, kemampuan berpikir kritis sedang 9,67% atau 3 siswa, dan tidak ditemukan siswa dengan kemampuan berpikir kritis rendah. Rerata  kemampuan berpikir kritis pada siklus II adalah 8,66 atau kategori tinggi. Perbandingan hasil penelitian pra siklus, siklus I dan siklus II setelah dilakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut:

       PERBANDINGAN RERATA KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PRA SIKLUS, SIKLUS I DAN SIKLUS II

 

No Kemampuan Berpikir Kritis Pra Siklus Siklus I Siklus II
1. Tinggi 4 14 28
2. Sedang 11  11 3
3. Rendah 16 6
4. Rerata 4,14 6,40 8,66

Berdasarkan data di atas, pada siklus I terdapat kenaikan rerata kemampuan berpikir kritis dari 4,14 menjadi 6,40. Pada siklus II ada kenaikan rerata kemampuan berpikir kritis dari 6,40 menjadi 8,66. Hal tersebut menunjukkan, bahwa pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan rerata kemampuan berpikir kritis dari 4,14 menjadi 8,66.

Pada siklus I rerata nilai hasil tes yang dicapai sebesar 73,63 dengan ketuntasan belajar  67,74%. Melalui kegiatan  refleksi, rerata hasil tes yang dicapai pada siklus I ternyata belum mencapai indikator keberhasilan penelitian. Dari kegiatan refleksi diperoleh informasi, bahwa penerapan pendekatan kontekstual belum maksimal, karena masih diterapkan dalam jumlah kelompok besar. Oleh karena itu, pada siklus II pendekatan kontekstual diubah penerapannya dalam kelompok jumlah kecil. Dengan memperbaiki kekurangan yang ada pada siklus I rerata hasil tes siklus II mencapai 85,30 dengan tingkat ketuntasan 87,09%. Perbandingan hasil tes prestasi belajar pra siklus, siklus I dan siklus II seperti tersaji pada tabel di bawah ini.

 

    PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR IPS

    PRA SIKLUS, SIKLUS I DAN SIKLUS II

No Prestasi Belajar Pra Siklus Siklus I Siklus II
1. Nilai tertinggi 86,7 91,1 100
2. Nilai terendah 42,2 51,1 60
3. Nilai rata-rata 66,16 73,63 85,30
4. Ketuntasan belajar 32,25% 67,74% 87,09%

Berdasarkan data yang terdapat pada tabel di atas dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut :

  1. Sebelum dilakukan tindakan penelitian (pra siklus) nilai rata-rata subyek penelitian 66,16. Pada siklus I nilai rata-rata subyek penelitian 73,63. Jika nilai rata-rata pada siklus I dibandingkan dengan nilai rata-rata kondisi pra siklus, maka terdapat kenaikan sebesar 7,47 setara 11,29%. Pada siklus II nilai rata-rata subyek penelitian 85,30. Jika nilai rata-rata pada siklus II dibandingkan dengan nilai rata-rata pada siklus I, berarti terdapat kenaikan sebesar 11.67 setara 15,84%. Dengan demikian pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar subyek penelitian dari 66,16 menjadi 85,30. Artinya terdapat kenaikan sebesar 19,14 poin atau setara dengan 28,92%. Dapat dimaknai pula, bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran kontekstual berdampak positif terhadap peningkatan prestasi belajar subyek penelitian, yaitu siswa kelas VI SD Negeri Klapa.
  2. Pada kondisi pra siklus tingkat ketuntasan belajar sebesar 32,25%. Tingkat ketuntasan belajar pada akhir siklus I sebesar 67,74%. Jika ketuntasan belajar pada siklus I dibandingkan dengan ketuntasan belajar pada kondisi pra siklus, maka terdapat kenaikan sebesar 35,49 poin atau setara 110,04%. Pada siklus II ketuntasan belajar mencapai 87,09%. Jika ketuntasan belajar pada siklus II dibandingkan dengan ketuntasan belajar pada siklus I, maka terdapat kenaikan sebesar 19,35 poin atau setara 28,56%. Secara keseluruhan, ketuntasan belajar mengalami kenaikan 51,6 poin setara dengan 146,39%

Penjelasan di atas menguatkan keyakinan peniliti, bahwa penerapan model pembelajaran kontekstual berdampak positif terhadap situasi kelas dan siswa. Kondis kelas setelah diterapkannya pendekatan kontekstual antara lain: siswa memperhatikan penjelasan guru, antusias dalam mempelajari materi, terjadinya kerjasama, mampu menyampaikan pendapat dan menjawab pertanyaan guru, mampu menanggapi pernyataan/pendapat teman, aktif menggunakan/mempelajari  buku sumber, membuat kesimpulan  dan mencatat materi yang penting, mengerjakan tugas kelompok, dan mengerjakan evaluasi. Kondisi kelas menyenangkan dengan berbagai kegiatan. Perubahan jumlah kelompok dari kelompok besar menjadi kelompok kecil menyebabkan kondisi kelas lebih baik. Hal tersebut berimplikasi pada peningkatan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar siswa.

PENUTUP

Berdasarkan  analisis data penelitian, diketahui kemampuan berpikir kritis subyek penelitian mengalami perubahan dari 4,14 menjadi 8,66 dan nilai rata-rata berubah dari 66,16 menjadi 85,30. Perubahahan kemampuan berpikir kritis dan nilai rata-rata menuju ke  arah peningkatan yang sangat jelas. Oleh karena itu dapat disimpulkan, bahwa pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar mata pelajaran IPS siswa kelas VI SD Negeri Klapa pada semester II tahun pelajaran 2014/2015.

Sejalan dengan hasil penelitian ini, maka secara teoritis penerapan pembelajaran kontekstual dapat dikembangkan untuk mata pelajaran IPS karena dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran, siswa mengalami sendiri apa yang dipelajari dengan kondisi nyata, dan siswa mampu menemukan konsep pengetahuan sendiri. Mengingat penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan  berpikir kritis dan prestasi belajar  pada mata pelajaran IPS, maka para guru dapat menerapakan pembelajaran kontekstual di sekolahnya. Sekolah harus memberikan fasilitas guru untuk menerapkan pembelajaran kontekstual agar kemampuan  berpikir kritis dan prestasi belajar  meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Hawa. Kemampuan berpikir kritis (http://www.unindra,ac,id.) diunduh tanggal 20 Maret 2015.

Lestari, P. (2007). Modul 3. Pendidikan Anak di SD: Perkembangan Siswa Sekolah Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Mustaji, http://pasca.tp.ac.id/site/pengembangan-kemampuan-berpikir-kritis-dan-kreatif-dalam-pembelajaran diunduh tanggal  20 Maret 2015.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22, 23, 24 Tahun 2006

Said Hudri, 2014. Prestasi Belajar (http://expresisastra.blogspot.com/Pengertian-Belajar-dan-Prestasi-belajar-menurut-para-Ahli.html diunduh tanggal 30 Maret 2015.

Taufik, A. (2007). Modul 1. Pendidikan Anak di SD: Hakikat Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wahyudin, D. (2006). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.

 BIODATA

Nama

NIP

Pangkat/Golongan

Jabatan

Unit Kerja

: Paryoto, S.Pd.SD

: 19670804 199103 1 008

: Pembina, IV/a

: Guru Kelas

: SD Negeri Klapa, Punggelan, Banjarnegara




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *