PENGGUNAAN METODE DISCOVERY DENGAN PEMBUATAN MIND MAP DALAM UPAYA PENINGKATAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS 8A SMPN 5 SATAP PURWANEGARA DALAM PEMBELAJARAN IPA MATERI BAHAN KIMIA DALAM KEHIDUPAN

 

 

Nama                                       : Wartini,S.Pd.Bio

Tempat, Tanggal lahir             : Pati, 06 Januari 1970

NIP                                            : 19700106 199203 2 003

Gol/Ruang                               : IV/a

Instansi                                    : SMPN 5 Satu Atap Purwanegara , Banjarnegara

Jabatan                                    : Kepala Sekolah

NUPTK                                   : 4438 7486 4930 0012

Alamat                                   : Kalipelus RT 03 RW 05 Kec Purwanegara

Kabupaten Banjarnegra Jawa Tengah

Email                                       : wartinicemerlang@gmail.com

No HP /WA                            : 081327027910

 

Abstrak: Peningkatan kreativitas dan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran IPA Bahan Kimia Dalam Kehidupan melalui metode pembelajaran Discovery dengan pembuatan mind map pada peserta didik kelas 8A SMPN 5 Satap Purwanegara tahun pelajaran 2015/2016. Hasil belajar mata pelajaran IPA SMPN 5 Satap Purwanegara pada semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 masih rendah, rata-rata nilai raport semester 1 adalah 76 dan prosentase ketercapaian KKM hanya 70,37 %. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan kreativitas peserta didik melalui metode discovery dengan pembuatan mind map dan hasil belajar peserta didik berupa peningkatan nilai rata-rata Ulangan Harian dan peningkatan ketercapaian KKM pada pemahaman konsep materi Bahan Kimia dalam Kehidupan. Ada beberapa asumsi yang menyebabkan rendahnya daya kreativitas peserta didik, yaitu (1) peserta didik belum diberi kesempatan untuk menemukan sendiri materi pelajaran dari sumber belajar yang ada di sekitarnya, (2) peserta didik belum diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil karyanya, (3) peserta didik belum merasa senang dalam proses pembelajaran IPA. Penerapan metode Discovery dengan pembuatan mind map dapat meningkatkan kreativitas peserta didik dilihat dari kemunculan indikator kreativitas peserta didik 66,7 % pada siklus I menjadi 88,88 % pada siklus II. Peningkatan hasil belajar peserta didik rata-rata nilai 76 pada kondisi awal menjadi rata-rata nilai ulangan harian 88,5 pada akhir siklus II. Ketercapaian KKM 70 % pada kondisi awal menjadi 88,88 % pada akhir siklus II. Rasa senang terhadap pembelajaran IPA para peserta didik juga meningkat. Penemuan (discovery) merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan (discovery) lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar. Mind Map adalah diagram istimewa yang cara kerjanya sesuai dengan cara kerja otak dan membantu peserta didik untuk berfikir, membayangkan, mengingat dan merencanakan serta memilah informasi. Mind Map adalah alat sempurna untuk membantu belajar dan mengulang pelajaran.

Kata kunci:  kreativitas peserta didik, hasil belajar, metode discovery, dan pembuatan Mind Map.

PENDAHULUAN

Tugas guru dalam pembelajaran tidak terbatas pada penyampaian informasi kepada peserta didik. Sesuai kemajuan dan tuntutan zaman, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami peserta didik dengan berbagai keunikannya agar mampu membantu mereka menghadapi kesulitan belajar. Dalam pada itu, guru dituntut memahami berbagai model pembelajaran yang efektif agar dapat membimbing peserta didik secara optimal.

Setiap penetapan model pembelajaran sampai dengan implementasinya di kelas,akan berhasil jika seorang guru mampu menciptakan situasi yang mendukung proses pembelajaran sehingga peserta didik benar-benar belajar tentang suatu materi. Motivasi merupakan bagian penting yang perlu mendapatkan perhatian guru, sebab motivasi belajar peserta didik meeningkat apabila materi ditampilkan menarik, dapat diterapkan dalam praktik hidup sehari-hari dan membawa manfaat bagi peserta didik.

Materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan merupakan materi baru dalam pembelajaran IPA di SMP. Materi bahan kimia rumah tangga berhubungan langsung dengan lingkungan di sekitar kita, dan setiap saat kita bisa mengamati langsung keberadaannya. Tetapi pada kenyataannya di kelas 8A SMP N 5 Satap Purwanegara nilai raport IPA  pada tahun pelajaran 2015/2016 smt 1 masih rendah. Jumlah peserta didik yang mencapai nilai Kreteria Ketuntasan Minimum (KKM IPA 75) sebanyak 19 peserta didik dari 27 peserta didik atau 70,37 % dari jumlah peserta didik. Rata-rata nilai raport mata pelajaran IPA di kelas 8A hanya mencapai 76.

Kreativitas peserta didik masih rendah, karena semua peserta didik belum pernah menampilkan hasil karyanya. Dalam hal ini guru belum memberi kesempatan peserta didik untuk menampilkan hasil karyanya. Pada proses pembelajaran peserta didik sudah cukup aktif, tetapi peserta didik belum merasa senang dengan pembelajaran IPA karena menurut hasil angket yang diisi peserta didik sebanyak 37 % peserta didik tidak menyukai pembelajaran IPA. Peserta didik juga belum diberi kesempatan untuk menunjukkan hasil karyanya atau mengekspresikan kemampuannnya. Berdasarkan latar belakang masalah, yaitu rendahnya kreativitas dan hasil belajar peserta didik materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan, maka peneliti perlu mengadakan perbaikan dalam pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Selanjutnya peneliti berusaha memperbaiki proses pembelajaran dengan menerapkan metode pembelajaran yang berbeda, yaitu dari metode studi pustaka dan tanya jawab menjadi metode discovery dan pembuatan mind map dari bekas kemasan produk bahan kimia rumah tangga.

LANDASAN TEORI

Dalam landasan teori ini diuraikan teori yang diungkapkan oleh para ahli dari berbagai sumber yang mendukung penelitian ini. Landasan teori tersebut terdiri atas metode discovery, mind map, kreativitas peserta didik, pembelajaran IPA dan hasil belajar.

Metode Discovery

Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit ceramah dan metode-metode yang berpusat pada guru, serta lebih menekankanpada interaksi peserta didik. Penggunaan metode yang bervariasi akan sangat membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Penemuan (discovery) merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan (discovery) lebih mengutamakan proses daripada hasil belajar. Menurut pendapat Herdian,S.Pd (Blog: herdy07.wordpress.com) mengemukakan beberapa keuntungan belajar discovery yaitu (1) pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat, (2)hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya, (3)secara menyeluruh belajar discovery meningkatkan penalaran peserta didik dan kemampuan untuk berpikir bebas.

Metode discovery (penemuan) yang mungkin dilaksanakan pada peserta didik SMP adalah metode penemuan terbimbing. Hal ini dikarenakan peserta didik SMP masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni.

Sejalan pendapat di atas Muhammad Faid Dzaky (Guided diccovery Learning; diunduh 21 Februari 2010) mengemukakan bahwa pembelajaran penemuan terbimbing banyak diterapkan, karena dengan petunjuk guru, peserta didik akan bekerja lebih terarah dalam rangka mencapai tujuan yang lebih ditetapkan.

Mind Map

Mind artinya pikiran dan map adalah membuat peta (Kamus besar inggris-Indonesia:294 dan 300). Jadi Mind Map adalah membuat peta pikiran (peta konsep). Salah satu pernyataan dalam sehari – hari teori Ansabel adalah “bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui peserta didik (pengetahuan awal). Jadi supaya belajar menjadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep – konsep yang ada dalam struktur kognitif peserta didik. Ausabel belum menyediakan suatu alat atau cara yang sesuai yang digunakan guru untuk peserta didik (Partinem 2010 : 62 – 73). Berkenaan dengan itu Novak dan Gowin (1985) dalam Partinem (2010 : 62 – 73) mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep – konsep yang telah dimiliki peserta didik, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep (mind map).

Mind Map akan mempermudah peserta didik mengulang semua pelajaran untuk ujian. Mind Map akan membantu peserta didik memilah, menyusun pekerjaan, mengerjakan ujian dan mendapat nilai bagus.

Mind Map adalah diagram istimewa yang cara kerjanya sesuai dengan cara kerja otak dan membantu peserta didik untuk berfikir, membayangkan, mengingat dan merencanakan serta memilah informasi. Mind Map adalah alat sempurna untuk membantu belajar dan mengulang pelajaran. (Tony Buzan, 2008:Buku Pintar Mind Map untuk Anak).

Mind Map dapat membantu dalam memilih informasi dan gagasan, mengingat, menjadi kreatif, berkonsentrasi, menggunakan imajinasi, memehami, mencatat, tetap berminat dan tetap tenang. Persamaan antara penelitian Lin Suhartati (2009) dan penelitian Partinem (2009) dengan penelitian ini adalah bahwa penerapan pembuatan mind map dalam pembelajaran mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan bermakna. Peserta didik terlihat antusias dan berusaha dengan sungguh – sungguh untuk mempersembahkan karya terbaiknya.

Sedangkan perbedaan antara Lin Suhartati (2009) dan penelitian Partinem (2009) dengan penelitian ini adalah media yang digunakan untuk membuat mind map. Media yang digunakan untuk membuat mind map pada penelitian ini adalah menggunakan stereofoam dan bekas bungkus bahan kimia rumah tangga yang dibawa peserta didik dari rumah masing – masing. Adapun pada penelitian Lin Suhartati (2009) menggunakan spidol warna warni untuk menggambarkan peta konsep dan penelitian Partinem (2009) menggunakan kata kunci. Kunci di sini adalah kata – kata pokok atau kata utama untuk dikembangkan peserta didik untuk membuat puisi.

Kreativitas Peserta Didik

Menurut kamus besar Inggris-Indonesia (hal:149), arti dari creative adalah bersifat menciptakan. Salah satu proses pembelajaran yang harus dikembangkan oleh guru-guru dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), adalah mengembangkan kreativitas peserta didik secara optimal.

Pengembangan kreativitas peserta didik sangat penting terlihat dari bergesernya peran guru yang sering mendominasi kelas, tetapi kini guru harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berperan lebih aktif dan kreatif dalam suasana belajar yang menyenangkan. Membangun pemahaman yang baik kepada para peserta didik, akan sulit jika fisik dan psikis mereka dalam keadaan tertekan. Kreativitas peserta didik dapat tumbuh dan berkembang dengan baik apabila lingkungan sekolah, turut menunjang mereka dalam mengekspresikan kreativitas mereka.

Berdasarkan pendapat di atas, kemampuan memunculkan dan mengembangkan gagasan dan ide-ide baru menuntut kreativitas dan partisipasi peserta didik secara aktif. Menurut hasil study Jordan E.Ayan (1997) dalam blog Man Kuala Enok menggambarkan bahwa semasa bayi tingkat kreativitas umumnya masih tinggi, kemudian berkurang dan memudar justru pada saat anak-anak mulai bersekolah. Menurutnya pembatasan ketrampilan berpikir secara kreatif disebabkan oleh dua hal :

1.peserta didik yang duduk berderet dalam jumlah dua puluh hingga tiga puluhan bahkan empat puluhan,

2.peserta didik diharuskan tunduk serta patuh pada peraturan dan prosedur yang kaku. Pada saat anak-anak memasuki jenjang pendidikan selanjutnya kemungkinan mereka untuk mengembangkan kreatifitas mereka boleh dikatakan “terpasung”.

Jika hal ini tidak disikapi dan diantisipasi sedini mungkin akan menjadikan salah satu penyebab terhambatnya perkembangan kreatifitas mereka. Di lingkungan sekolah, perlu diupayakan iklim belajar yang menunjang kreatifitas peserta didik.

Pembelajaran IPA dan Hasil Belajar

Pembelajaran IPA di sekolah dapat dipandang dari berbagai segi, misalnya pembelajaran diartikan sebagai proses penyelesaian masalah, proses pemberian informasi, membangun interaksi antara guru-peserta didik-sumber belajar dan bentuk lain yang kesemuanya itu bermuara dalam upaya meningkatkan kualitas peserta didik.

Dalam kaitan dengan penyelesaian masalah, pendekatan pembelajaran diartikan sebagai kerangka berfikir dalam penyelesaian masalah. Pendekatan pembelajaran ini secara nyata di kelas dikenali dari aspek bentuk bantuan guru terhadap peserta didik agar mereka mampu menyelesaikan masalah berkaitan dengan topik yang sedang dipelajari peserta didik.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, hasil adalah sesuatu yang diadakan/dibuat oleh usaha (KBI:343), dan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu;atau berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan pengalaman (KBI:14). Menurut Gagne (dalam Susilo Herawati,2005) mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu proses yang memungkinkan organisme mengubah tingkah lakunya dengan cepat dan sedikit banyak bersifat permanen. Jadi belajar adalah suatu proses dan belajar dikatakan telah terjadi bila terdapat perubahan perilaku.

Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, hasil belajar merupakan sesuatu yang dibuat oleh guru untuk mengetahui hasil usaha peserta didik dalam belajar atau mengikuti pembelajaran materi tertentu.

Hasil belajar peserta didik dapat diketahui dari pelaksanaan penilaian yang dilakukan oleh guru, dengan tujuan untuk menentukan tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran, mengetahui hasil belajar peserta didik, mengetahui efektifitas suatu metode yang dipakai, mendorong semangat belajar peserta didik, menentukan rencana tindak lanjut untuk menanggulangi kesulitan belajar.

METODE PENELITIAN

Perencanaan Penelitian Tindakan Kelas ini diawali dengan analisis nilai IPA semester I tahun pelajaran 2015/2016 untuk menyusun rencana perbaikan pembelajaran. Setelah perencanaan matang, maka rencana tindakan perbaikan pembelajaran dilaksanakan dengan seorang kolaborator dan seorang pengamat (observer). Pengamatan bertujuan untuk merekam pengaruh tindakan perbaikan terhadap pembelajaran, sebagai koreksi dan analisis refleksi untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kekurangan tindakan perbaikan.

Penelitian ini berlangsung dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu:

1.Perencanaan (planning);

2.Tindakan (acting);

3.Pengamatan (observasi)

4.Refleksi (reflecting)

Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas hasil belajar peserta didik (hasil tes) dan hasil kreativitas siswa berupa mind map. Alat pengumpul data penelitian berupa butir – butir soal tes, lembar observasi, penilaian rubrik dan angket siswa.

Validasi data hasil penelitian terdiri atas :

1.Penilaian rubrik, hal ini dilakukan untuk mengetahui kreativitas peserta didik dalam pembuatan mind map dan

2.Hasil belajar (nilai tes).

Analisi data hasil penelitian dilakukan melalui:

1.Observasi untuk penilaian rubrik pembuatan mind map

2.Hasil belajar (nilai tes) dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif komparatif yaitu membandingkan rata – rata nilai tes tiap akhir siklus maupun indikator kinerjanya.

Indikator kinerja dari keberhasilan upaya meningkatkan kreativitas dan hasil belajar materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan, apabila upaya tersebut menunjukkan adanya kreativitas peserta didik berupa hasil karya yaitu mind map, sehingga peserta didik dalam penguasaan pemahaman konsep dengan ukuran keberhasilan yaitu minimal 80% dari jumlah peserta didik mencapai nilai KKM. KKM untuk nilai IPA di SMP N 5 Satap Purwanegara adalah 75.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Sebelum penulis jabarkan hasil pelaksanaan penelitian per siklus akan penulis uraikan tentang pelaksanaan kegiatan penerapan metode pembelajaran discovery dengan pembuatan mid map di kelas 8A SMP N 5 Satap Purwanegara.

1.Tahap persiapan

Peneliti lakukan 1 hari sebelum pelaksanaan penelitian, yaitu pembentukan kelompok diatur berbentuk huruf U seperti yang terlihat di foto dokumentasi dengan tujuan peserta didik dapat berdiskusi dan bekerja lebih nyaman.

2.Tahap pelaksanaan

Peserta didik masuk ke ruang laboratorium, langsung duduk sesuai dengan kelompok masing – masing.

Dengan menggunakan LCD, peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran. Tujuannya adalah agar peserta didik setiap saat dengan mudah melihat tujuan pembelajaran sebagai panduan untuk pembelajaran discovery dan pembuatan mind map. Peserta didik melaksanakan diskusi dengan kelompoknya masing – masing dan guru memantau kegiatan diskusi dan pembuatan mind map tersebut.

3.Tahap evaluasi

Hasil karya siswa berupa mind map bahan kimia rumah tangga dinilai berdasarkan penilaian rubric. Siswa diberi soal dari materi yang telah didiskusikan dan hasil tes ini dipergunakan sebagai dasar untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam pelaksanaan metode ini. Selanjutnya peneliti uraikan pelaksanaan kegiatan penelitian per siklus sebagai berikut.

Perubahan Perilaku Kreativitas Peserta Didik

Kemunculan indikator kreativitas peserta didik pada pembuatan mind map terlihat pada grafik yaitu 18 peserta didik dari 27 peserta didik atau 66,7 %. Pada siklus II kemunculan indicator meningkat menjadi 24 peserta didik dari 27 peserta didik atau 88,88 %.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Tes Ulangan Harian

Tabel 4.5. Nilai Ulangan Harian pada akhir siklus

Kelas      : 8A

Materi     : Bahan Kimia Dalam Kehidupan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari analisa data di atas menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata dari 76 pada kondisi awal menjadi 88,5 pada akhir siklus II.

Prosentase ketercapaian KKM meningkat dari 70 % pada kondisi awal menjadi 90,5 % pada akhir siklus II.

Hasil observasi yang dilakukan kolaborator, menunjukkan adanya peningkatan kreatifitas dan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga memberi kesempatan pada peserta didik untuk berani mengekspresikan kreatifitas yang dimiliki oleh peserta didik.

Penjelasan Tiap Siklus

Siklus I

Pada Penelitian Tindakan kelas yang peneliti lakukan melalui metode Discovery dan pembuatan Mind Map. Pada siklus I, pembentukan kelompok menjadi 6 kelompok dengan anggota kelompok 5 s.6 peserta didik. Suasana pembelajaran pada siklus I peserta didik terlihat aktif, tetapi belum menunjukkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya atau menyangkal pendapat orang lain. Anggota kelompok yang terlalu banyak kurang efektif untuk kerja sama karena masih terlihat peserta didik yang pasif hanya sebagai penonton, tidak ikut bekerja dalam menyelesaikan tugas kelompok. Kelompok yang paling kinerja dan kreativitasnya adalah kelompok 3 yang beranggota 5 peserta didik, tetapi pada saat pembelajran siklus I ada satu anggota kelompok yang tidak hadir (Edi Kurnia Hakim) karena sakit. Jadi, pada saat diskusi dan pembuatan mind map kelompok ini hanya beranggotakan 4 peserta didik, sedangkan kelompok yang lain beranggotakan 5 s.d 6 peserta didik. Peneliti dan kolaborator merefleksi bahwa kelompok yang anggotanya berjumlah sedikit dapat melakukan kinerja lebih baik dari pada kelompok yang anggotanya lebih banyak seperti yang terlihat dalam foto pembelajaran.

Pada waktu berdiskusi, peserta didik belum berani untuk mempertahankan pendapatnya dan juga belum terlihat menanggapi pendapat dari peserta didik lain.

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar peserta didik aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar dan peserta didik merasa senang serta enjoy karena pada saat peserta didik bekerja membuat Mind Map diperdengarkan music lagu-lagu yang disukai para peserta didik. Hasil analisis dan refleksi pada siklus I, yang perlu dilakukan tindakan selanjudnya pada siklus II adalah:

a.Peserta didik baru sekedar aktif dalam pembelajaran, tetapi belum tampak peserta didik yang aktif dalam diskusi. Peserta didik belum berani untuk menanggapi pendapat peserta didik lain.

b.Anggota kelompok yang terlalalu banyak ternyata kurang efektif untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas.Peserta didik yang betul-betul bekerja dan terlibat aktif dalam pembuatan Mind Map maka peserta didik tersebut lebih menguasai materi pembelajaran sehingga nilai ulangan hariannya lebih baik.

Siklus II

Pada siklus II anggota masing –masing kelompok hanya 4 peserta didik sehingga pada saat kerja kelompok semua peserta didik terlibat aktif dalam diskusi dan menyelesaikan tugas membuat Mind Map.

Hal ini berpengaruh terhadap penguasaan materi pembelajaran. Hasil tes pada akhir siklus II menunjukkan peningkatan ketercapaian KKM maupun nilai rata-rata.

Diskusi yang dilakukan peserta didik sudah menunjukkan ada peserta didik yang berani menyangkal pendapat dari temannya, dan berusaha untuk mempertahankan pendapatnya. Pada dokumentasi pembelajaran terlihat beberapa peserta didik berani berargumentasi untuk mempertahankan pendapatnya dan menyangkal pendapat dari temannya

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Angket Tanggapan Peserta Didik Terhadap Pembelajaran IPA

Tabel 4.7. Hasil Angket Tanggapan Siswa Terhadap Pembelajaran Pra Siklus dan Pada Akhir Siklus II

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peserta didik merasa senang dan bersemangat, semua anggota kelompok aktif dalam menyelesaikan tugas kelompok. Selain itu peserta didik dapat berlatih untuk berkomunikasi dan berani untuk presentasi di depan kelas, pembelajaran dengan metode yang diterapkan peneliti sangat berkesan dan menyenangkan bagi peserta didik.

Angket tanggapan peserta didik tentang metode yang diterapkankan guru pada Penelitian Tindakan Kelas kali ini, peneliti berikan pada peserta didik untuk diisi pada akhir siklus II. Hasilnya bisa dilihat pada tabel 4.6. Tanggapan peserta didik 96,36 % menyukai metode yang diterapkan.

PENUTUP

Simpulan

Penelitian Tindakan Kelas yang kami lakukan menggunakan dua siklus. Berdasarkan hasil analisis data tes dan non tes, peneliti dapat mengambil simpulan bahwa penerapan metode pembelajaran Discovery memacu peserta didik untuk aktif mencari dan memahami materi pelajaran dari sumber yang tersedia di lingkungan sekitar sehingga peserta didik lebih mudah mengingat.

Penerapan metode Pembelajaran Discovery dengan Pembuatan Mind Map dapat meningkatkan kreatifitas peserta didik kelas VIIID berupa kemunculan indikator kreativitas peserta didik dari 66,7 %  pada siklus I menjadi 90,6 % pada siklus II.Mind Map yang menarik dan mudah dipahami.

Selain itu, penerapan metode Pembelajaran Discovery dengan Pembuatan Mind Map juga dapat meningkatkan rata-rata nilai ulangan dari 69 (pada kondisi awal) menjadi 88,5 (pada akhir siklus II) dan meningkatkan prosentase ketercapaian KKM dari 47 % (pada kondisi awal) menjadi 90,5 % (pada akhir siklus II).

Penerapan metode ini juga dapat meningkatkan rasa suka peserta didik dalam proses pembelajaran IPA

Saran

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kreativitas peserta didik dan peserta didik senang dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran IPA, maka metode discovery dan pembuatan mind map yang diterapkan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini dapat diterapkan pada materi lain, terutama materi yang sumber belajarnya ada di alam sekitar kita dan bias menghasilkan suatu karya atau produk.

Pembelajaran yang menyenangkan seperti yang peneliti lakukan pada pembelajaran ini dapat meningkatkan rata-rata nilai ulangan harian yang cukup banyak, sehingga metode ini dapat diterapkan pada materi pembelajaran IPA yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

 

Buzan, Tony. 2008. Mind Map.Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama

BNSP. 2007. Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran IPA. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Deporter Bobbi dan Hernacki Mike. 1992, Quantum Learning. New York. Dell Publishing

HP Mulyadi. 2008. Laporan Hasil Penelitian Dalam Penelitian Tindakan Kelas. Semarang. LPMP Jawa Tengah.

Mulyasa, E. 2008. Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan). Bandung : PT Muda, Ahmad AK. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya : Gitamedia Press.ROSDA

Partinem. 2010. Teknik Gali Kunci (TGK) Aplikasi Mind Map. Pedagogik. Laboratorium Baca Tulis UNNES.

Silberman L Melvin. 2006. Active Learning. Bandung: Nusamedia

Suhartati, Lin. 2009. Peningkatan Kreativitas Pembelajaran Biologi Melalui Model Pembelajaran Mind Mapping Siswa Kelas VII SMP N 1 Banjarnegara. Laporan Penelitian. SMP N 1Banjarnegara.

http://idtesis.blogspot.com/2007/12/penelitiantindakankelas/

http://edu-articles.com/penelitiantindakankelas/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *