PENGGUNAAN MODEL KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA TENTANG BANGUN DATAR BAGI SISWA KELAS III SD NEGERI ROWOSARI KECAMATAN BONOROWO KABUPATEN KEBUMEN SEMESTER 2 TAHUN AJARAN 2014/2015

 

BIODATA PENELITI

Nama                                        : Tumino Suryono, S.Pd.SD

NIP                                            : 19630328 198702 1 001

Pangkat/Golongan                 : PenataTk I / IIID

Jabatan/Instansi                    : Kepala SD Negeri 2 Mrentul

Alamat                                      : Ngasinan, RT 01/RW 01, Bonorowo, Kebumen

Telepon/HP                            : 081578033640

Email                                        : suryonotumino@gmail.com

 

ABSTRAK

Penelitian ini  bertujuan mendapatkan deskripsi  empirik  tentang  peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika unsur dan sifat bangun datar melalui model Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI)  pada siswa kelas III tahun pelajaran 2014/2015 SD Negeri Rowosari. Penelitian ini menerapkan Penelitian Tindakan Kelas ( Action Research )  terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika unsur dan sifat bangun datar melalui model Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada siswa kelas III semester 2 tahun pelajaran 2014/2015 SD Negeri  Rowosari. Hal tersebut dilakukan tindakan dengan maksud meningkatkan hasil belajar siswa. Analisis data  menggunakan model interaktif Miles dan Humberman dengan  langkah-langkah :(1) pengumpulan dan telaah data, (2) deskripsi komperatif, (3) penyajian data dan (4) verifikasi menarik  kesimpulan. Temuan penting dalam penelitian ini bahwa pembelajaran matematika unsur dan sifat bangun datar melalui pembelajaran model Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada siswa kelas III dapat: (1) Meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran (2) Meningkatkan kerja sama untuk memecahkan suatu persoalan dan (3) Meningkatkan tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan guru sehingga mampu meningkatkan hasil belajar matematika unsur dan sifat bangun datar melalui model Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI)  pada siswa kelas III.

Kata Kunci :  Peningkatan Hasil Belajar, Pembelajaran matematika, Model Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI)

LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam dunia pendidikan khususnya sekolah dasar, guru memegang peranan penting untuk menentukan keberhasilan suatu  pembelajaran. Dengan banyaknya mata pelajaran guru dituntut untuk mampu menguasai berbagai mata pelajaran tersebut. Dibutuhkan  kejelian untuk dapat menyampaikan materi pembelajaran  kepada siswa. Salah satu mata pelajaran yang membutuhkan kejelian guru adalah mata pelajaran matematika. Siswa menggangap matematika merupakan pelajaran yang paling sulit dibanding mata pelajaran yang lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian pada siswa kelas III SD Negeri Rowosari yang dilakukan, matematika merupakan mata pelajaran yang rumit, paling ditakuti dan dihindari oleh sebagian besar anak. Siswa cenderung kurang bersemangat ketika mengikuti pelajaran matematika padahal materi tentang “Unsur dan Sifat Bangun Datar” sederhana menjadi dasar dalam materi selanjutnya terkait bangun datar. Kenyataan lain yang membuktikan peserta didik kesulitan dalam mempelajari matematika tentang  adalah pada hasil ulangan siswa pada semester 2 tahun ajaran 2014/2015, dari 10 siswa masih ada 7 siswa atau 70 % yang belum mencapai batas ketuntasan belajar yakni ≥ 75 dan hanya 3 siswa atau 30 % yang telah mencapai batas ketuntasan belajar. Hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya hasil pembelajaran tentang bangun datar.

Materi bangun datar menjadi masalah besar khususnya bagi guru kelas III SD karena di kelas inilah peserta didik mulai mempelajari bangun datar. Akan menjadi tugas bagi guru kelas III SD untuk mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan yang mampu mentransfer materi bangun datar kepada anak tanpa mereka harus berpikir bahwa bangun datar itu materi yang sulit.

Berdasarkan diskusi peneliti dengan observer atau teman sejawat, identifikasi permasalahan yang timbul dalam kegiatan pembelajaran yaitu:

1.Siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran, bahkan ada beberapa siswa yang sibuk membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan materi pembelajaran yang disampaikan guru.

2.Rendahnya motivasi peserta didik juga termasuk faktor yang  mengakibatkan siswa sulit dalam memahami materi pembelajaran sehingga siswa lambat dalam menyelesaikan soal-soal tentang bangun datar yang diberikan oleh guru.

3.Nilai mata pelajaran matematika siswa merupakan nilai paling rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain.

4.Dalam penyampaian materi guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional dan belum memaksimalkan penggunaan model-model pembelajaran yang ada.

5.Guru kurang memberdayakan interaksi dengan peserta didik, serta kurang memahami karakteristik setiap siswa sehingga pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas tidak berlangsung secara optimal.

Dormatio (2013) menyatakan bahwa pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang dalam penyampaian materi dilakukan secara lisan dan berpusat pada guru serta komunikasi yang searah. Siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan guru di depan kelas dan melaksanakan tugas apabila guru memberikan latihan-latihan kepada siswa. Dengan keadaan itu akan membuat siswa menjadi jenuh dan tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran.

Untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran matematika, maka membuat para guru untuk terus berusaha menyusun dan menetapkan model pembelajaran yang paling efektif dan efisien untuk membantu peserta didik dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Penyajian bermacam-macam model pembelajaran dan aplikasinya dalam pengajaran matematika ialah agar guru memiliki pengetahuan yang luas tentang model-model pembelajaran dan memiliki keterampilan untuk menerapkannya.

Model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam peningkatan proses dan hasil belajar matematika tentang bangun datar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI). Menurut Robert Slavin (1984), Team Assisted Individualization (TAI) merupakan sebuah program pedagogik yang berusaha mengadaptasikan pembelajaran dengan perbedaan individual siswa secara akademik. Pengembangan Team Assisted Individualization (TAI) dapat mendukung praktik-praktik ruang kelas, seperti pengelompokkan siswa, pengelompokkan kemampuan di dalam kelas, pengajaran terprogram, dan pengajaran berbasis komputer. Tujuan dari model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) adalah untuk meminimalisasi pengajaran individual yang terbukti kurang efektif, selain juga ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, serta motivasi siswa dengan belajar kelompok.

Berdasarkan uraian masalah di atas serta kemungkinan model pembelajaran yang cocok untuk meningkatkan pembelajaran matematika siswa kelas III SD, maka dalam penelitian ini peneliti mengambil model Kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)  dalam dengan harapan dapat meningkatkan hasil pembelajaran matematika tentang bangun datar bagi siswa kelas III SD Negeri Rowosari Kecamatan Bonorowo Kabupaten Kebumen.

Rumusan Masalah

a.Bagaimana langkah-langkah penggunaan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dalam peningkatan proses dan hasil belajar matematika tentang bangun datar bagi siswa kelas III SD Negeri Rowosari Kecamatan Bonorowo Kabupaten Kebumen?

b.Apakah penggunaan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dapat meningkatkan pembelajaran matematika tentang bangun datar bagi siswa kelas III SD Negeri Rowosari Kecamatan Bonorowo Kabupaten Kebumen?

KAJIAN TEORI

Piaget dalam Trianto mengemukakan ada empat tahap perkembangan kognitif, yaitu ;

1.usia 0-2 tahun adalah tahap sensori motor, ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan dan langkah demi langkah,

2.usia 2-7 tahun adalah tahap pra operasional, ciri perkembangannya menggunakan simbol atau bahasa tanda dan konsep intuitif,

3.usia 8-11 tahun atau lebih adalah tahap operasi konkret, ciri perkembangannya memakai aturan jelas atau logis dan reversible dan kekebalan,

4.usia 11 tahun atau lebih adalah tahap operasi formal, ciri perkembangannya abstrak, murni simbolis, deduktif, induktif dan logis.

UUSPN No. 2 tahun 2003 menyatakan, “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik sumber belajar pada suatu lingkungan belajar” (Sagala, 2011: 62).

Martiyono (mengutip simpulan Djiwandono, 2002)   menyatakan tentang tujuan pembelajaran yaitu:

1.Memungkinkan guru tahu secara tepat tingkah laku yang bagaimana yang diinginkan untuk berhasilnya suatu pelajaran

2.Membantu guru dalam mengevaluasi;

3.Menjadikan siswa lebih aktif mengikuti pelajaran;

4.Memungkinkan siswa belajar dengan waktu yang lebih sedikit dibandingkan dengan siswa yang diajar tanpa tujuan pembelajaran;

5.Mempengaruhi ingatan informasi verbal; dan

6.Mengurangi masalah apa yang dihadapi siswa (2012: 62).

Kerangka Berpikir

Pembelajaran matematika di SD Negeri Rowosari Kecamatan Bonorowo Kabupaten Kebumen khususnya kelas III sudah cukup baik, tetapi masih perlu adanya peningkatan proses dan hasil belajar pada materi bangun datar. Siswa cenderung kurang bersemangat dalam pembelajaran sehingga pembelajaran belum maksimal. Di samping itu, cara mengajar guru yang belum memaksimalkan penggunaan model pembelajaran menjadi penghambat siswa dalam mempelajari matematika khususnya pembagian. Masalah tersebut berdampak pada kualitas pembelajaran di kelas yaitu proses dan hasil pembelajaran matematika.

Agar pembelajaran matematika dapat berjalan dengan baik perlu adanya suatu model pembelajaran. Salah satunya ialah dengan digunakannya model kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI). Sintak dalam model tersebut mencakup tahapan-tahapan konkret, yaitu:

1.Tim, merupakan pembagian siswa ke dalam tim-tim yang beranggotakan 4-5 orang.

2.Tes penempatan, merupakan pemberian pre-test bagi siswa untuk mengetahui kemampuan siswa.

3.Materi, merupakan kegiatan siswa mempelajari materi yang akan didiskusikan.

4.Belajar kelompok, merupakan kegiatan diskusi kelompok siswa.

5.Skor dan rekognisi, hasil kerja siswa diskor di akhir pengajaran dan setiap tim yang memenuhi kriteria sebagai “tim super” harus diberi penghargaan (rekognisi) dari guru.

6.Kelompok pengajaran, yaitu guru memberi pengajaran kepada setiap kelompok tentang materi yang sudah didiskusikan.

7.Tes fakta, yaitu guru meminta siswa untuk membuktikan kemampuan mereka yang sebenarnya.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dan kajian teori di atas, maka dapat disusun hipotesis tindakan ini adalah “Jika model Team Assisted Individualization (TAI) digunakan dengan tepat dan benar sesuai langkah-langkahnya, diduga dapat meningkatkan proses dan hasil belajar matematika tentang bangun datar siswa kelas III SD Negeri Rowosari Kecamatan Bonorowo Kabupaten Kebumen semester 2 tahun ajaran 2014/ 2015.”

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di kelas III SD Negeri Rowosari Kecamatan Bonorowo Kabupaten Kebumen, dengan jumlah siswa 10 orang, terdiri dari 6 siswa laki – laki dan 4  siswa perempuan.  Waktu penelitian dari menyusun proposal sampai pelaporan penelitian dilaksanakan dari bulan Februari – April 2015 yakni pada kelas III semester 2 tahun pelajaran 2014/2015 SD Negeri Negeri Rowosari.

Data diperoleh dari hasil evaluasi dan hasil observasi siswa kelas III semester 2 tahun pelajaran 2014/2015 SD Negeri Rowosari dengan jumlah 10 siswa. Data tersebut berupa hasil jawaban dari soal-soal yang berhubungan dengan materi pembelajaran.

Cara pengambilan data pada penelitian ini memilih teknik dan alat pengumpul data yang relevan, pengumpulan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperoleh data yang objektif. Data dan cara pengambilannya antara lain : (1) sumber data, sumber data dari penelitian ini adalah siswa dan guru; (2) jenis datanya,  jenis data yang didapat adalah data kuantitatif dan data kualitatif

Dari kelima kriteria tersebut dalam penelitian ini hanya digunakan dua kriteria, yaitu:

-Validitas demokratik (democtaric validity), dilaksanakan dengan cara memberi kesempatan dan kebebasan kepada semua komponen yang terlibat dalam penelitian ini yaitu Kepala Sekolah, kolaborator, dan siswa untuk berpartisipasi dan berkolaborasi antara satu dengan lainnya.

-Validitas dialogis (dialogic validity), yaitu validitas yang diperoleh melalui tinjauan sejawat antara peneliti dengan kolaborator atau peneliti dengan teman sesama praktisi saling berdialog menanggapi apa saja yang dihadapi dan dikatakan masing-masing pihak. Tinjauan juga dapat dengan dialog refleksi dengan praktisi lainnya.

Penelitian tindakan kelas ini, strategi yang digunakan mengacu pada model siklus, yaitu model Kemmis dan Mc. Taggart. “Dalam perencanaan Kemmis menggunakan sistem spiral refleksi diri yang dimulai dengan perencanaan atau planning, tindakan atau action, pengamatan atau observation, dan refleksi atau reflection, sebagai dasar perencanaan kembali yang merupakan dasar ancang-ancang pemecahan permasalahan dalam pembelajaran.”

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Kondisi Awal

Berdasarkan hasil nilai tes studi awal terdapat 3 siswa atau 30% yang tuntas, berarti dari 10 siswa terdapat 7 siswa yang belum tuntas atau 70%. Sedangkan nilai rata-rata kelas adalah 61, berarti guru kurang optimal dalam menyampaikan materi pelajaran karena kriteria keberhasilan yang diharapkan nilai rata-rata kelas minimal 75. Berdasarkan data tersebut sudah selayaknya peneliti meneruskan penelitian tindakan dengan menggunakan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dalam pembelajaran matematika tentang bangun datar.

Deskripsi Siklus I

Pada tahap perencanaan peneliti membuat rencana pembelajaran beserta skenario tindakan yang akan dilaksanakan sesuai dengan rumusan masalah yang tertulis pada Bab I, membuat lembar observasi, membuat soal – soal serta tes tentang bangun datar untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran serta mendiskusikan rencana pelaksanaan tindakan dengan teman sejawat.

Pelaksanaan pada siklus I menunjukkan adanya perubahan peningkatan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan hasil studi awal sebelum dilakukan tindakan oleh peneliti. Hasil pengamatan data nilai yang diperoleh sebagai berikut: Studi awal nilai rata-rata kelas 61, setelah dilakukan perbaikan mengalami kenaikan menjadi 78. Jadi, nilai rata-rata kelas naik sebesar 17. Persentase ketuntasan belajar siswa pada studi awal sebesar 30 %. Persentase  ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 50 %. Persentase keaktifan belajar siswa pada studi awal sebesar 30 %. Persentase keaktifan belajar siswa pada studi awal sebesar 50 %. Persentase respon siswa dalam pembelajaran sebesar 30%. Persentase antusias siswa dalam pembelajaran sebesar 40%. Persentase unjuk kerja siswa dalam pembelajaran sebesar 40%.

Pada siklus pertama menunjukkan bahwa siswa telah mampu menghitung luas bangun datar dengan cukup baik. Namun, masih terdapat siswa yang hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil observasi, pembelajaran belum berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hanya beberapa siswa secara perorangan yang telah tuntas dalam pembelajaran. Dari jumlah 10 siswa pada siklus pertama menunjukkan bahwa 5 siswa atau 50% siswa telah tuntas dan 5 siswa atau 50% siswa belum tuntas. Oleh karena itu praktis tindakan siklus pertama dilanjutkan ke siklus kedua agar pembelajaran berlangsung lebih optimal.

Deskripsi Siklus II

Berdasarkan pada hasil refleksi siklus I peneliti merevisi rencana perbaikan pembelajaran beserta skenario tindakan. Terkait dengan revisi RPPP, peneliti menyiapkan kelengkapan lembar kerja siswa, lembar pengamatan guru, lembar pengamatan siswa dan lembar evaluasi.

Pelaksanaan tindakan pada siklus II menunjukkan adanya perubahan peningkatan hasil belajar kea rah yang lebih baik dibandingkan saat studi awal sebelum dilakukan tindakan oleh guru. Data yang diperoleh berupa data nilai dapat diterangkan sebagai berikut: Studi awal nilai rata-rata kelas 61, setelah dilakukan perbaikan siklus I mengalami kenaikan menjadi 78, dan setelah dilakukan perbaikan siklus II mengalami kenaikan menjadi 89. Jadi, nilai rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II naik sebesar 12. Persentase  ketuntasan belajar siswa pada siklus II sebesar 100 %. Persentase respon siswa dalam pembelajaran sebesar 80%. Persentase antusias siswa dalam pembelajaran sebesar 70%. Persentase unjuk kerja siswa dalam pembelajaran sebesar 20%.

Dua siklus perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan ternyata menunjukkan adanya kemajuan yang berarti. Hal tersebut dapat ditunjukkan pada perbaikan dari studi awal prestasi belajar mengalami perbaikan prestasi belajar pada siklus pertama sebesar 20%. Pada siklus kedua prestasi belajar mengalami kenaikan sebesar 50% dibanding siklus pertama. Dengan demikian perbaikan pembelajaran selama dua siklus hasil akhir prestasi belajar siswa sangat memuaskan karena semua siswa yaitu berjumlah 10 anak mendapatkan nilai yang tuntas atau ketuntasan belajar mencapai 100%.

 

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Pada siklus I, dari 10 siswa kelas III SD Negeri Rowosari yang tuntas belajar sebanyak 5 siswa atau 50% dan yang belum tuntas 5 siswa atau 50%. Hal tersebut menunjukkan adanya kenaikan sebesar 20% dari studi awal (belum dilakukannya tindakan), di mana pada studi awal ketuntasan belajar siswa hanya sebesar 30%. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) berpengaruh terhadap kenaikan ketuntasan belajar siswa. Akan tetapi, masih akan dilanjutkan tindakan siklus II yang diharapkan dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa dibandingkan dengan siklus I.

Pada siklus II, dari 10 siswa kelas III SD Negeri Rowosari seluruhnya sudah memenuhi ketuntasan belajae atau ketuntasan mencapai 100%.  Hal tersebut menunjukkan adanya kenaikan sebesar 50% dari siklus I dan kenaikan sebesar 50% dari studi awal (belum dilakukannya tindakan), di mana pada studi awal ketuntasan belajar siswa hanya sebesar 30% dan pada siklus I sebesar 50%. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) berpengaruh terhadap kenaikan ketuntasan belajar siswa. Sehingga penelitian tindakan kelas berakhir pada siklus II.

 

PENUTUP

Kesimpulan

1.Pembelajaran matematika dengan menggunakan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) berlangsung 2 siklus dan telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari 10 siswa kelas III SD Negeri Rowosari tidak ada siswa yang tidak tuntas karena telah mencapai kriteria minimal yaitu 75, maka ketuntasan belajar sebesar 100%. Berdasarkan  perolehan nilai rata-rata kelas pada siklus kedua mendapatkan hasil yang sangat memuaskan yakni mencapai 89 dari persyaratan keberhasilan rata-rata kelas minimal mencapai 75.

2.Penggunaan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dalam pembelajaran matematika tentang unsur dan sifat bangun datar dengan memperhatikan karakteristik, keunggulan dan kelemahan serta kondisi guru dan siswa sangat efektif karena dapat melibatkan keaktifan siswa secara optimal.

3.Penggunaan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dalam pembelajaran matematika tentang unsur dan sifat bangun datar baik aktivitas, interaksi, dan respon positif siswa dalam pembelajaran meningkat, sehingga hasil belajar siswa meningkat.

Saran-saran

1.Materi pembelajaran matematika tentang unsur dan sifat bangun datar hendaknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak serta disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada relevansinya dengan tingkatan kematangan berpikir siswa.

2.Pelaksanaan pembelajaran akan berhasil jika guru mampu memilih dan menerapkan metode yang tepat dengan materi yang diajarkan, oleh karena itu pembelajaran matematika tentang unsur dan sifat bangun datar dapat berhasil jika terjadi hubungan interaktif antara guru dan siswa.

3.Guru sebelum melaksanakan pembelajaran hendaknya merencanakan pelaksanaan pembelajaran sesuai materi pembelajaran dengan mempertimbangkan penggunaan model pembelajaran yang relevan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Uno, Hamzah. (2007). Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Depdiknas. (2007). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Dimyati dan Mujiono. (2013). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Fariz. (2009). Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif. Diperoleh 12 Desember 2015 dari http://mfariz.wordpress.com/2009/02/22/pembelajaran-kooperatif-yang-berkesan/.

Hamalik, O. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Huda, M. (2011). Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Moeleong, L.J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Rusman. (2012). Model-model Pembelajaran.. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sagala, S. (2011). Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfa Beta.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfa Beta.

Suprijono, A. (2012). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM . Surabaya: Pustaka Pelajar.

Tim Penyusun KBBI (Edisi Ketiga). (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke III Cetakan keempat. Jakarta: Balai Pustaka.

Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana.

Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Wahyudi. (2008). Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Surakarta: UNS

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *