PTK SD Kelas 1 Pendekatan Tematik dengan Media Gambar

PENINGKATAN AKTIVITAS SISWA MELALUI PENDEKATAN TEMATIK DENGAN MEDIA GAMBAR PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA, MATEMATIKA, SENI BUDAYA DAN PRAKARYA SISWA KELAS I

Laelatul Qomariyah

ABSTRAK

Penelitiian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatan aktivitas belajar siswa pada pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, dan SBDP melalui model pembelajaran tematik dengan media gambar. Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas siswa kelas I SD Negeri Pasir Wetan Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2014/2015 masih sangat rendah. Dari 32 siswa, hanya 6 siswa (20%) yang dapat dikategorikan aktif yaitu memiliki keberanian dalam bertanya, menjawab pertanyaan, menanggapi, dan merespons tanggapan. Sedangkan 8 siswa (24%)  dikategorikan sedang, dan 18 siswa (56%) dikategorikan kurang aktif bahkan pasif sekali. Kondisi ini jelas menghambat proses pembelajaran. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, peneliti mencoba menerapkan pendekatan pembelajaran tematik dengan media gambar. Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui apakah pendekatan  tematik dengan media gambar dapat meningkatkan aktivitas siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia, matematika dan SBDP siswa kelas I Semester 1 SD Negeri Pasir Wetan, Banyumas Tahun 2014/2015. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian adalah aktivitas bertanya dari kondisi awal 25%, siklus pertama 58% dan siklus kedua mencapai 82%. Aktivitas menjawab pertanyaan kondisi awal 23%, siklus pertama 52% dan siklus kedua naik menjadi 80%. Memberi ide kondisi awal 20%, siklus pertama 45% dan siklus kedua menjadi 75%. Aktivitas merespon tanggapan, kondisi awal 20%, siklus pertama 48% dan siklus kedua mencapai angka 75%. Rata-rata aktivitas siswa mengalami kenaikan. Pada kondisi awal rata-rata aktivitas siswa baru 22%. Siklus 1 naik menjadi 48% dan siklus 2 rata-rata mencapai 78%. Kesimpulan dari penelitian ini  bahwa penggunaan pendekatan tematik dengan media gambar dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas I SDN  Pasir Wetan,  Banyumas Tahun 2014/2015”.

 

Kata kunci     : Aktivitas Siswa, Pendekatan Tematik, media gambar,  pembelajaran bahasa Indonesia, matematika, SBDP.

PENDAHULUAN

            Bahasa Indonesia, matematika dan SBDP  merupakan beberapa mata pelajaran di sekolah dasar yang dapat dikemas untuk mengembangkan aktivitas siswa. Bahasa merupakan alat komunikasi. Belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi. Agar anak memiliki keterampilan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Matematika juga merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat mengaktifkan jika dirancang secara menyenangkan dan dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Sedangkan SBDP merupakan pelajaran yang menitikberatkan pada pembelajaran life skill yang dapat mengembangkan bakat dan minat siswa.

            Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas siswa kelas I SD Negeri Pasir Wetan Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2014/2015 masih sangat rendah. Dari 32 siswa, hanya 6 siswa (20%) yang dapat dikategorikan aktif yaitu memiliki keberanian dalam bertanya, menjawab pertanyaan, menanggapi, dan merespons tanggapan. Sedangkan 8 siswa (24%)  dikategorikan sedang, dan 18 siswa (56%) dikategorikan kurang aktif bahkan pasif sekali. Kondisi ini jelas menghambat proses pembelajaran yang baik.

            Berdasarkan dugaan sementara dari peneliti, salah satu faktor penyebab kondisi tersebut adalah guru jarang menggunakan pendekatan pembelajaran yang dapat mendorong siswa aktif secara fisik maupun mental. Siswa kurang mendapat kesempatan untuk menyampaikan perasaan dan  gagasannya, dan guru masih berperan sebagai pusat informasi. Situasi seperti inilah yang akhirnya menjadikan siswa takut salah, tidak memiliki keberanian berbicara, dan kelas menjadi sangat pasif.

            Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, peneliti mencoba menerapkan pendekatan pembelajaran tematik dengan media gambar untuk meningkatkan aktivitas siswa dan memilih mata pelajaran bahasa Indonesia, matematika, dan SBDP. Salah satu teknik pembelajaran yang terinspirasi dari pendekatan tematik dengan media gambar. Media gambar dipilih dengan latar belakang bahwa salah satu yang menarik bagi anak-anak adalah gambar. Dengan media gambar ini siswa dapat mengontruksikan pengalaman belajar yang sedang diperoleh dengan konteks yang pernah dialami sehari-hari. Menurut J. Peaget (dalam Sanjaya, 2008:124), bahwa individu pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mengonstruksi pengetahuannya sendiri, sehingga pengetahuan itu menjadi bermakna.

            Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah pendekatan  tematik dengan media gambar  dapat meningkatkan aktivitas siswa pada pembelajaran bahasa Indonesia, matematika, dan SBDP siswa kelas I Semester 1 SD Negeri Pasir Wetan Kecamatan Karanglewas, Banyumas Tahun 2014/2015?”.

Pembelajaran bahasa sekurang-kurangnya melibatkan tiga kelompok disiplin ilmu yakni linguistik, psikologi, dan paedagogi. Linguistik  memberikan informasi kepada kita mengenai bahasa dan strukturnya secara umum, psikologi menguraikan bagaimana seseorang belajar sesuatu, dan pedagogi memungkinkan kita untuk meramu semua keterangan dari bahasa dan psikologi menjadi satu metode yang sesuai untuk mengajar di kelas (Subyakto, 1988:5). Ketiga disiplin ilmu tersebut  menjadi acuan guru untuk mengembangkan kompetensi dasar yang ada ke dalam indikator, materi pokok, pemilihan pendekatan dan metode, merancang skenario  pembelajaran, menentukan alat penilaian, dan lain-lain.

Berbicara merupakan suatu proses berkomunikasi, sehingga ada yang berperan sebagai penyampai maksud dan penerima maksud. Agar komunikasi berjalan lancar, kedua pihak harus bekerja sama dalam beberapa faktor antara lain: siapa yang diajak komunikasi, situasi, tempat, isi pembicaraan, dan media yang digunakan.

Dalam pembelajarannya, materi berbicara lebih banyak menuntut aktivitas performance atau unjuk kerja siswa berupa aktivitas menceritakan, menjelaskan, menanggapi, mendeskripsikan, menjelaskan, mengomentari, dan melaporkan (Widharyanto, 2008:6). Untuk itu guru dituntut memahami kurikulum, mengetahui karakteristik siswa, menentukan materi, memilih sumber dan alat bantu, dan strategi pembelajarannya. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian guru dalam menentukan strategi pembelajaran berbicara adalah bahwa kegiatan berfokus pada siswa, mengembangkan keterampilan proses, merangsang siswa untuk belajar, mengembangkan penampilan kreativitas siswa dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit.

Matematika itu terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil yang dibuktikan kebenarannya, sehingga matematika itu disebut ilmu deduktif (Ruseffendi, 1989. dalam Subarinah, 2006: 1).

Pendidikan Seni Budaya dan Prakarya diberikan  di sekolah karena keunikan perannya yang tak mampu diemban oleh mata pelajaran lain. Keunikan tersebut terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi  melalui pendekatan: “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.”

Pendidikan Seni Budaya dan Prakarya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural.  Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya.  Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan  kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan Mancanegara.  Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.

Pendidikan Seni Budaya dan Prakarya memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan  yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal,  interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas (AQ), kreativitas (CQ), spiritual dan moral (SQ).

Bidang seni rupa, musik, tari, dan desain memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing.  Dalam pendidikan seni dan prakarya, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi.  Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam.

Proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas merupakan aktivitas mentransformasikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Guru dalam hal ini membantu  mengembangkan kapasitas belajar, kompetensi dasar, dan potensi yang dimiliki siswa secara penuh sehingga pembelajaran menjadi kegiatan yang efektif (Yamin, 2007:75). Pembelajaran yang efektif merupakan pembelajaran  yang berpusat pada siswa sehingga siswa ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran, mengembangkan cara-cara belajar mandiri, sampai ikut berperan dalam kegiatan menilai.

Pendidikan perlu mengarahkan keaktifan yang dimiliki siswa agar tidak terjadi penyimpangan yang berakibat terganggunya perkembangan siswa. Salah satu yang bertugas membantu berkembangnya aktivitas siswa adalah guru. Perilaku guru yang pasif, lesu, dan sukar dikontrol mengakibatkan proses pembelajaran tidak banyak melibatkan siswa dan tidak terdapat interaksi, karena waktu tersita dengan penyajian materi yang serius (Yamin, 2007:76).

Beberapa ahli mengklasifikasikan jenis-jenis aktivitas siswa dalam pembelajaran. Dierich (dalam Yamin, 2007:84) berpendapat bahwa jenis aktivitas siswa meliputi kegiatan-kegiatan visual, kegiatan lisan, kegiatan mendengarkan, menulis, menggambar, metrik, kegiatan mental, dan kegiatan emosional. Menurut Whipple aktivitas siswa meliputi bekerja dengan alat-alat visual, ekskursi dan trip (berkunjung, mengundang nara sumber, menyaksikan demonstrasi), mempelajari masalah-masalah, mengapresiasi literatur, ilustrasi dan konstruksi, bekerja menyajikan informasi, serta cek dan tes.

Raularson (dalam Mudyahardjo, 1996:92) berpendapat bahwa setiap kegiatan belajar mengajar akan efektif bila terjadi rangsang terhadap materi yang akan dipelajari, aktif menanggapi atau merespons situasi, ada kegiatan tanya jawab, dan latihan melakukan respon yang tepat. Semakin tinggi aktivitas siswa dalam pembelajaran akan berpengaruh terhadap pola interaksi yang terjadi.

Pendekatan Tematik  merupakan  pendekatan pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik( BNSP:2007). Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).

Pendekatan tematik merupakan  pendekatan pembelajaran yang meniadakan jarak pembatas antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain. Dalam melaksanakan pendekatan pembelajaran terpadu model tematik, tema digunakan sebagai payung atau sebagai pemersatu beberapa mata pelajaran.

Dengan pendekatan pembelajaran terpadu model tematik, beberapa mata pelajaran dapat dipadukan sehingga dapat  memberikan pengalaman yang bermakna bagi anak didik. Maksud dari bermakna pada pembelajaran terpadu model tematik adalah anak memahami konsep yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami oleh siswa melalui kesempatan menjelajahi apa yang berhubungan dengan tema atau peristiwa otentik.

Kata media berasal dari bahasa latin bentuk jamak dari medium yang berarti perantara yang dipakai untuk menunjukan alat komunikasi . Secara harfiah media diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.

Menurut Gagne dan Reiser (dalam Mulyani 1983:3) sebagai alat-alat fisik dimana pesan-pesan intruksional dikomunikasikan. Jadi seorang instruktur, buku cetak pertunjukan film atau tape recorder dan peralatan fisik yang mengkomunikasikan pesan intruksional dianggap sebagai media. Rumpuruk (dalam Mulyani, 2001:6) mendefinisikan media pembelajaran sebagai alat, baik hardware maupun software dipergunakan sebagai media komunikasi tujuannya untuk meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar.

Dari dua definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa media pembelajaran adalah segala alat pembelajaran yang digunakan guru sebagai perantara untuk menyampaikan bagan intruksional dalam proses belajar mengajar sehingga memudahkan siswa untuk mencapai tujuan.

Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mengantarkan atau menyampaikan pesan, sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap kepada peserta didik sehingga peserta didik itu dapat menangkap, memahami dan memiliki pesan-pesan dan makna yang disampaikan itu.

Menurut  Rowntrie  (dalam Mulyani, 2001:168)  fungsi media pengajaran adalah: 1)  Engange the Student”s motivation (membangkitkan motivasi belajar). 2) Recall earlier learning (mengulang apa yang telah dipelajari ), 3) Provide new learning stimuli ( menyediakan stimulus belajar ), 4) Activate the studentt’s response (mengaktifkan peserta didik), 5) Give Speedy feedback (memberikan balikan dengan tepat), 6) Encourage appropriate practice (mengalahkan latihan yang serasi).

Dari berbagai macam media, peneliti menggunakan salah satu jenis media visual yaitu gambar. Gambar memiliki beberapa kelebihan, antara lain : mudah didapat, murah, efektif  mengatasi ruang dan waktu, memberi pengalaman yang lebih konkrit pada anak, dan menarik.

Sesuai dengan rumusan masalah, hipotesis dari penelitian ini adalah pendekatan  tematik dengan media gambar dapat meningkatkan aktivitas siswa pada pelajaran bahasa Indonesia, matematika, dan SBDP siswa kelas I Semester 1 SD Negeri Pasir Wetan, Banyumas Tahun 2014/2015.

Indikator Keberhasilan

Penelitian Tindakan Kelas ini dikatakan berhasil apabila mampu meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran, di setiap siklusnya dengan indikator kinerja sebagai berikut:

Tabel 2.1 : Indikator kinerja

No. Indikator Data Awal Target
1. Bertanya 20 % 80 % (16 dari 20)
2. Menjawab Pertanyaan 20 % 80 % (16 dari 20)
3. Memberi ide 20% 70 % (14 dari 20)
4. Merespon Tanggapan 20 % 70 % (14 dari 20)

Kegiatan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan semangat kompetisi secara sehat untuk memperoleh penghargaan, bekerja sama, dan solidaritas (Widharyanto, 2008:8). Pendekatan pembelajaran yang dapat mengembangkan semangat kompetisi yang sehat dan mampu meningkatkan aktivitas siswa adalah pendekatan tematik.

Pendekatan pembelajaran tematik adalah suatu pendekatan pendekatan pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Salah satu media yang tepat dalam pendekatan ini adalah media gambar. Media gambar merupakan salah satu media yang tidak asing bagi siswa. Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, maka hipotesis penelitian tindakan kelas ini adalah bahwa pendekatan  tematik dengan media gambar dapat meningkatkan aktivitas siswa pada pelajaran bahasa Indonesia, matematika, dan SBDP siswa kelas I Semester 1 SD Negeri Pasir Wetan, Banyumas Tahun 2014/2015.

 

MEDTODE PENELITIAN

Subyek penelitian adalah siswa kelas I Semester 1 SD Negeri Pasir WetanTahun Pelajaran 2014/2015, yang berjumlah 32 siswa terdiri dari 12 perempuan dan 20 laki-laki. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Pasir Wetan Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester I Tahun Pelajaran 2014/2015, tepatnya bulan Agustus s/d Oktober  2014, tepatnya 30 September-2 Oktober .

Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan dengan dua siklus masing-masing siklus terdiri dari satu kali pertemuan (3 x 35 menit). Proses penelitian ini masing-masing terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) Rencana Tindakan (planning), (2) Pelaksanaan (acting), (3) Pengamatan (observing), dan  (4) Analisis dan Refleksi (reflecting). Secara rinci instrumen yang berupa rubrik pengamatan dapat dilihat pada tabel 3.3 berikut:

Tabel 3.3 Rubrik Pengamatan Aktivitas Siswa

Aspek Skor Deskripsi Skor Maksimal
Bertanya 1 jumlah pertanyaan antara 1-2 kali 3
2 jumlah pertanyaan 3-4 kali
3 pertanyaan lebih dari 4 kali
Menjawab pertanyaan 1 menjawab pertanyaan antara 1-2 kali 3
2 menjawab pertanyaan 3-4 kali
3 menjawab pertanyaan lebih dari 4 kali
Memberi ide 1 memberi ide antara 1-2 kali 3
2 memberi ide 3-4 kali
3 memberi ide lebih dari 4 kali
Merespons tanggapan 1 merespons tanggapan antara 1-2 kali 3
2 merespons tanggapan 3-4 kali
3 merespons tanggapan lebih dari 4 kali
Jumlah skor maksimal 12

Tabel 3.4 Kondisi Awal Aktivitas Siswa dan Kondisi Akhir yang Diharapkan

Peubah Indikator Kondisi Awal Target
I II
Aktivitas a.    Bertanya 25% 50% 80%
b.    Menjawab pertanyaan 23% 50% 80%
c.    Memberi ide 20% 40% 70%
d.   Merespons tanggapan 20% 40% 70%

HASIL DAN PEMBAHASAN

Secara keseluruhan hasil penelitian tindakan kelas mengalami kenaikan pada tiap siklus. Pada kondisi awal rata-rata aktivitas 32 siswa rata-rata keempat indikator hanya 22%. Peningkatan terbesar terjadi pada aktivitas bertanya yaitu dari 25% menjadi 58%. Sedangkan peningkatan terkecil terjadi pada aktivitas memberi ide yang mengalami kenaikan 25% yaitu dari 20% menjadi 45%. Peningkatan aktivitas pada kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2 dapat terbaca pada grafik 4.1 berikut ini.

lael

             Grafik 4.1 Aktivitas Siswa pada Kondisi Awal, Siklus 1, dan Siklus 2

angkuman secara keseluruhan, rata-rata aktivitas siswa juga mengalami peningkatan. Pada kondisi awal rata-rata aktivitas siswa baru 22%. Siklus 1 naik menjadi 51% dan siklus 2 rata-rata aktivitas siswa mampu mencapai angka 78%. Kenaikan rata-rata aktivitas siswa tersebut dapat terlihat dalam grafik sebagai berikut.

laela

Grafik 4.2 Rata-rata Aktivitas Siswa pada Kondisi Awal, Siklus 1, dan Siklus 2

Pembahasan

Hasil penelitian tindakan kelas tentang aktivitas siswa menunjukkan peningkatan. Pada kondisi awal, rata-rata aktivitas siswa 22%. Pada siklus satu menjadi 50% dan siklus kedua mencapai angka 78%. Peningkatan tersebut terjadi pada seluruh indikator yang diamati, yang meliputi keberanian bertanya, menjawab pertanyaan, memberi ide dan merespons tanggapan. Bahkan ada beberapa indikator yang melampaui target yang ditetapkan. Pada siklus 1 aktivitas menjawab pertanyaan, memberi ide dan merespons tanggapan melampaui target yang ditetapkan antara 2-8%. Hal ini terjadi karena beberapa anak sekedar menjawab pertanyaan tanpa  mempertimbangkan benar salahnya jawaban. Apabila ditinjau dari kondisi awal, peningkatan yang paling rendah terjadi pada aktivitas memberi ide, yaitu dari kondisi awal 20% menjadi 45%. Ini dipengaruhi bahwa anak usia SD masih takut salah untuk  memberi ide, tanggapan, atau komentar pada hasil kerja orang lain dalam bentuk lisan.

Secara umum aktivitas bertanya mengalami peningkatan  paling tinggi yaitu dari 25% pada kondisi awal, siklus pertama 58% dan pada akhir penelitian mencapai angka 82%. Dari data tersebut dapat terlihat bahwa aktivitas bertanya dapat melampaui target yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu karakteristik anak usia SD adalah memiliki rasa ingin tahu yang besar. Keingintahuan ini akan teraktualisasikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang selalu diajukan setiap kali menemukan fenomena baru. Apabila didukung oleh lingkungan, maka keberanian untuk bertanya akan berkembang dengan baik.

Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa sebenarnya anak memiliki potensi yang besar dalam beraktivitas. Akan tetapi, secara umum guru kurang memperhatikan potensi tersebut sehingga pembelajaran hanya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual saja. Kemampuan yang lain seperti keberanian bertanya, menjawab pertanyaan, mengungkapkan gagasan kurang mendapat perhatian.

Peningkatan aktivitas siswa kelas I ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian diterima, yaitu bahwa pendekatan tematik dengan media gambar dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia, matematika, dan SBDP pada siswa kelas I SD Negeri Pasir Wetan Kabupaten Banyumas Tahun 2014/2015.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian mengenai “Peningkatan Aktivitas Siswa Melalui Pendekatan Tematik dengan Media Gambar pada Pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan SBDP Siswa Kelas I Semester 1 SDN Pasir Wetan,  Banyumas Tahun 2014/2015”, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan tematik dengan media gambar dapat meningkatkan aktivitas. Aktivitas bertanya dari kondisi awal 25%, siklus pertama 58% dan siklus kedua mencapai 82%. Aktivitas menjawab pertanyaan kondisi awal 23%, siklus pertama 52% dan siklus kedua naik menjadi 80%. Memberi ide kondisi awal 20%, siklus pertama 45% dan siklus kedua menjadi 75%. Aktivitas merespon tanggapan, kondisi awal 20%, siklus pertama 48% dan siklus kedua mencapai angka 75%. Rata-rata aktivitas siswa mengalami kenaikan. Pada kondisi awal rata-rata aktivitas siswa baru 22%. Siklus 1 naik menjadi 48% dan siklus 2 rata-rata mencapai 78%.

Dari data yang diperoleh beberapa aspek mengalami peningkatan melebihi target yang telah ditetapkan. Dengan demikian, penelitian tindakan kelas ini dinyatakan berhasil dan dihentikan pada siklus kedua. Dengan demikian hipotesis penelitian diterima.

 

DAFTAR PUSTAKA

Mudyahardjo, Redja. (1996). Dasar-dasar Kependidikan. Universitas Terbuka. Jakarta.

Sanjaya, Wina. (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Subyakto. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud.

Widharyanto. B. (2008). Pendekatan dan Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Untuk SD. (Modul Pendidikan Bahasa Indonesia SD, Program Sertifikasi Guru Jalur Pendidikan).Yogyakarta; Universitas Sanata Dharma.

Yamin, Martinis. (2013). Strategi & Metode dalam Model Pembelajaran.  Jakarta: Gaung Persada Press.

BIODATA

Nama Guru                                         : Laelatul Qomariyah, S.Pd

NIP                                                       : 19661220 199211 2 001

Tempat Pengajar                                : SDN Pasir Wetan




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *