Peningkatan Hasil Belajar Ipa Melalui Model Discovery Learning Berbantu Media Kartu Bergambar

PENINGKATAN  HASIL BELAJAR  IPA MELALUI MODEL DISCOVERY LEARNING BERBANTU MEDIA KARTU BERGAMBAR BAGI SISWA KELAS IX H SMP NEGERI 2 PURBALINGGA TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh : Enny Kustiyah Rumiyati

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar konsep Reproduksi pada Tumbuhan dan Hewan bagi  siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Purbalingga  semester Gasal tahun  pelajaran 2015/2016. Masalah utama dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Purbalingga  semester Gasal tahun  pelajaran 2015/2016. Pengumpulan data dengan tekhnik dokumentasi, wawancara, observasi dan tekhnik tes. Hasil belajar kondisi awal aspek pengetahuan siswa kelas IX H nilai  rata rata 67,08 dengan nilai terendah 45 dan tertinggi adalah 80. Siswa tuntas sesuai KKM minimal 75 hanya berjumlah 25 siswa (69,4%). Penilaian aspek pengetahuan siklus I rata-rata 75,1 dengan nilai tertinggi 90 dan terendah 65. Siswa tuntas sebanyak 29 siswa (81%) dan tidak tuntas sebanyak 7 siswa  (19%). Siklus II nilai rata-rata 80 dengan nilai terendah 65 tertinggi 95. Pada penilaian aspek Keterampilan kondisi awal,  siswa terampil berdiskusi hanya  26 siswa dan siswa aktif hanya 28 siswa. Siklus I siswa terampil memainkan kartu kategori baik (B) sebanyak 31 siswa, siswa aktif meningkat menjadi 33 siswa. Siklus II, siswa terampil kategtori B sebanyak 33 siswa dan semua siswa aktif dalam pembelajaran. Dari data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar IPA melalui model discovery learning berbantu media kartu bergambar pada siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Purbalingga semester gasal tahun pelajaran 2015/2016.

Kata  Kunci :  Hasil belajar, discovery learning,   media kartu bergambar

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Hasil belajar mata pelajaran IPA Tahun pelajaran 2015/2016 kelas IX H SMP N 2 Purbalingga  semester gasal belum maksimal dengan nilai rata – rata tes harian pada kondisi awal konsep Reproduksi pada Tumbuhan dan Hewan sebesar 67,08. Dari 36 siswa di kelas IX H meliputi  18 laki-laki dan 18 perempuan diperoleh hasil belajar dengan nilai tertinggi sebesar 80 dan nilai terendah 45. Pada kondisi awal, siswa tuntas sebanyak 25 siswa atau 69,4% dan siswa tidak tuntas sebanyak 11 siswa atau 30,6%. Kondisi ini tidak mencerminkan ketuntasan dalam proses pembelajaran yang maksimal karena kriteria minimal ketuntasan di SMPN 2 Purbalingga sebesar 75 dan ketuntasan klasikal sebesar 85% dari jumlah siswa yang memiliki nilai serendah rendahnya sebesar 75.

Salah satu penyebab rendahnya hasil belajar adalah pada proses pembelajaran yang kurang mengaktifkan siswa walaupun sudah menggunakan pendekatan scientifict dengan metode diskusi namun media pembelajaranpun belum dimanfaatkan guru dalam proses pembelajaran.  Guru masih  menganggap bahwa metode diskusi  adalah cara paling mudah dan cepat untuk mengaktifkan siswa sehingga siswa mampu memperoleh konsep-konsep sesuai dengan tujuan pembelajaran.  Selain itu guru menganggap bahwa dengan metode diskusi, waktu persiapan tidak lama dan juga tidak membutuhkan dana yang mahal.

Jika kondisi awal  ini dibiarkan pada  siswa SMPN 2 Purbalingga khususnya kelas IX H semester gasal Tahun Pelajaran 2015/2016 maka di khawatirkan siswa tidak mampu untuk memahami konsep Reproduksi pada Tumbuhan dan Hewan. Padahal konsep Reproduksi pada Tumbuhan dan Hewan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari karena konsep ini dapat menjadi  bekal pagi siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Solusi peningkatan hasil belajar konsep Reproduksi pada Tumbuhan dan Hewan yaitu dengan melalui berupa proses pembelajaran dengan model  discovery learning dilakukan sebanyak dua siklus dan setiap siklus sebanyak dua pertemuan melalui permainan kartu bergambar. Pada siklus pertama, siswa dikelompokan dengan anggota setiap kelompok 6 orang terbimbing guru. Siklus kedua masih menggunakan model discovery learning dengan kelompok kecil (4 siswa perkelompok secara mandiri.

Menurut Kemendikbud dalam buku guru kelas IX (2015:38)  salah satu model pembelajaran yang direkomendasikan dalam kurrikulum 2013 untuk digunakan guru dalam pembelajaran IPA adalah Discovery Learning yaitu model pembelajaran yang berorientasi pada siswa  sehingga pembelajaran bukan berpusat pada guru tetapi pada siswa. Penelitian selain menggunakan model dicovery learning juga berbantu media pembelajaran yang direncanakan berupa media kartu bergambar yang akan digunakan dalam bentuk permainan.

Berdasarkan latar belakang di atas,  perlu dilakukan penelitian tindakan kelas tentang Peningkatan Hasil Belajar IPA melalui discovery learning berbantu Permainan Kartu Bergambar  bagi Siswa Kelas IX H SMP Negeri 2 Purbalingga  Semester Gasal  Tahun Pelajaran 2015 / 2016.

Rumusan Masalah

Apakah Model Discoery Learning Berbantu Permainan Kartu Bergambar dapat Meningkatkan Hasil Belajar IPA bagi Siswa Kelas IX H  SMP Negeri  2 Purbalingga  Semester Gasal Tahun Pelajaran 2015 / 2016?

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA Melalui Discovery Learning Berbantu Permainan Kartu Bergambar bagi Siswa Kelas IX H Semester Gasal SMPN 2 Purbalingga Tahun Pelajaran 2015/2016.

Penelitian ini mempunyai  manfaat dapat meningkatkan hasil belajar IPA, siswa lebih aktif, terampil dalam proses pembelajaran melalui keikutsertaannya dalam bermain kartu bergambar,

PEMBAHASAN

Kajian Teori, Kerangka Berpikir dan Hipotesis Tindakan

Peningkatan Hasil Belajar IPA

Menurut Hamalik (2004:23), belajar adalah memodifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing) dan belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya.

Pada penelitian Sudjana (2004:43) belajar bukan menghapal dan bukan pula mengingat. Jadi belajar lebih ditekankan pada terjadinya perubahan tingkah laku.

Sukmadinata (2003:33) menyatakan bahwa hasil belajar atau academic achievement merupakan realisasi pemekaran kecakapan – kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki siswa. Pencapaian prestasi belajar oleh seorang siswa dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Di sekolah hasil belajar ini dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata pelajaran yang ditempuhnya. Jadi penilaian hasil belajar dapat berupa penilaian aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa.

Hakekat IPA

Untuk mengetahui hakekat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) setidaknya harus mengetahui karakteristik IPA, meliputi pengertian IPA, tujuan IPA, fungsi IPA dan jenis-jenis materi IPA. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) secara garis besar berarti suatu cabang ilmu sains yang mempelajari fenomena alam melalui observasi dan menganalisis bukti-bukti empiris sehingga mampu menjabarkan, memprediksi dan memahami fenomena alam tersebut.

Menurut Permendikbud RI No 58 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 pada tingkat SMP/MTs bahwa tujuan dari mata pelajaran IPA adalah agar peserta didik memiliki kompetensi sebagai berikut : mengangumi ciptaan Tuhan, menunjukkan prolaku ilmiah, menghargai kerja kelompok,mengembangkan pengalaman,kemampuan menalar  dan menguasai konsep IPA serta ketrampilan mengembangkan pengetahuan.

Fungsi Mata pelajaran IPA dalam Depdiknas (2006: 2) adalah Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai ilmiah, mempersiapkan peserta didik menjadi warganegara yang melek IPA dan teknologi, menguasai konsep IPA untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hakekat Reproduksi pada Tumbuhan  dan Hewan

Reproduksi pada Tumbuhan dan Hewan  merupakan konsep dalam IPA yang juga mengandung fakta-fakta tentang cara reproduksi dan alat –alat reproduksi makhluk hidup khususnya  hewan dan tumbuhan. Selain dengan reproduksi  makluk hidup dapat mempertahankan hidupnya dengan berbagai macam adaptasi.

Hakekat Model Discovery Learning

Pembelajaran IPA dengan discovery learning pertama kali dikemukaan oleh Jerome Bruner tahun 1960-an dalam Buku Guru Kemendikbud (2015:38) bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penemuan (discovery), refleksi , berpikir, melakukan eksperimen, dan eksplorasi.Kelebihan Discovery Learning adalah : (1) Membantu siswa memperbaiki dan meningkatkan ketrampilan dan prises kognitif, (2) Pengetahuan  yang diperoleh mudah dan lama diingat,(3) Menimbulkan rasa senang, (4) Siswa berkembang dengan cepat, (5) Siswa belajar mandiri belajar berpusat pada siswa, (6) Menghilangkan pada siswa keragu-raguan, (7) Meningkatkan penghargaan pada siswa, (8) Mengembangkan bakat dan minat siswa.

Langkah –langkah pembelajaran Discovery Leaarning adalah : (1)Stimulation (pemberian stimulus/rangsangan), (Problem Statment (2) Identifikasi Masalah) ,(3) Data Collection ( Pengumpulan Data), (4) Data Processing (pengolahan Data), (5)Verification (pembuktian), (6) Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi.

Berdasarkan penjelasan di atas, Discovery learning adalah suatu model pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa dalam menemukan pengetahuan dan ketrampilan berbasis inquiri.

Pengertian Media Pembelajaran

Media adalah alat bantu pembelajaran dari berbagai bentuk yang berfungsi saluran yang digunakan dalam proses penyampaian informasi (yang berupa materi pelajaran) dari guru (sumber belajar lainnya) kepada siswa atau peserta didik. Pada dasarnya proses pembelajaran akan efektif apabila terdapat tiga hal yaitu:

1. Adanya sumber belajar bagi peserta didik.

2. Peserta didik dilatih cara memanfaatkan sumber belajar tersebut.

3. Peserta didik diberi kesempatan berlatih memanfaatkan sumber belajar itu juga.

Menurut Ikhsan (2006:54) AECT (Association for Educational Communication and Technology) membedakan enam jenis sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar, yaitu: Pesan, di dalamnya mencakup kurikulum (GBPP) dan mata pelajaran,  Orang, bahan pembelajaran, Alat pembelajaran, Teknik pemblajaran, Latar (setting) atau lingkungan.

Media Kartu bergambar ini dibuat untuk membantu siswa dalam hal pemahaman suatu materi. Kertas yang digunakan adalah kertas manila berwarna, dengan tujuan untuk mempermudah dalam permainan. Jumlah kartu tidak dibatasi, disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.

Sedangkan cara permainan kartu bergambar ini dilakukan dalam bentuk permaianan dimana dalam proses pembelajaran siklus I dan II terdapat poin bagi yang betul menjawab dana berkurang poin bagi yang salah menjawab. Poin ini dihitung berupa permen . pada akhirnya jumlah permen dihitung sebagai poin benar pada akhir permainan dan menunjukkan ketrampilan dalam bermain dan menjawab sesuai aturan perbainan. Untuk nilai jumlah permen terbanyak pada kelompok  akan mendapatkan tambahan penghargaan berupa permen lagi sebagai hadiah dari guru.

Kerangka Berpikir

Prosedur penelitian Tindakan Kelas sebagai berikut:

Hipotesis Tindaka

Setelah melakukan pembelajaran model discovery learning  dengan memanfaatkan media kartu bergambar dalam bentuk permaiann , hasil belajar siswa mengalami peningkatan.

Metodologi Penelitian

Waktu Penelitian  : penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2015 hingga bulan Desember 2015. Tempat penelitian dilakukan di SMP Negeri  2 Purbalingga Jalan Isdiman No 94, Purbalingga. Tepatnya pada siswa kelas  IX H tahun pelajaran 2015/2016. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX H  berjumlah 36 orang terdiri atas perempuan 18 orang siswa dan laki-laki 18 orang siswa. Dari siswa yang berjumlah 36 orang siswa ini termasuk siswa heterogen dan mempunyai nilai yang baik.

Sumber data pnelitian berupa : Data primer, yaitu data yang diperoleh dari siswa, berupa nilai tes tertulis siswa. Pada tiap siklus dilakukan satu kali tes .dan data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari pengamatan peneliti dan kolaborator, berupa hasil diskusi dengan kolaborator yang dituangkan dalam tiap-tiap siklus.

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik observasi, tekhnik dokumentasi, teknik tes. Penilaian ketrampilan dilakukan pada saat proses kegiatan pembelajaran dengan media kartu bergambar melalui proses permainan. Penilaian ketrampilan di dasarkan pada unjuk kerja pada saat melakukan permainan baik pada siklus I dan siklus II.

Alat pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah: Butir soal dalam bentuk pilihan ganda dan lembar observasi. Data yang diproleh divalidasi.Untuk data kuantitatif tentang hasil belajar dilakukan validasi terhadap instrumen/ butir soal melalui kisi-kisi soal. Sedangkan data kualitatif validasi data dilakukan pengamatan dan wawancara langsung terhadap siswa. Data penelitian yang telah terkumpul selanjutnya dilakukan analisis deskriptif komparatif dan deskriptif kualitatif.

Indikator Kinerja dalam penelitian ini adalah terjadi: (1) peningkatan hasil belajar aspek pengetahuan  mencapai rata –rata minimal KKM yaitu 75 dengan ketuntasan secara klasikal sebesar 85% dari jumlah siswa. (2) Peningkatan hasil belajar aspek ketrampilan minimal 85% siswa aktif dalam proses belajar, (3) Keaktifan siswa mengalami peningkatan minimal 90% dari jumlah siswa.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas ( PTK ) yang terdiri dari dua siklus. Tiap siklus terdiri dari: (1) Perencanaan (Planning), (2) Pelaksanaan Tindakan (Acting), (3) Pengamatan (Observing), (4) Refleksi (Reflecting). Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian menurut Hopkins, 1993 (dalam Suharsimi Arikunto dkk, 2006),

Hasil Tindakan dan Pembahasan

Deskripsi Kondisi Awal

Setelah dilakukan pembelajaran dengan diskusi kelompok pada konsep reproduksi tumbuhan dan hewan pada siswa kelas IX H diperoleh hasil belajar rendah. Kurangnya hasil belajar siswa pada kondisi awal  dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.1 Hasil belajar  Kondisi Awal

Ketuntasan hasil belajar dan proses belajar IPA pada kondisi awal nampak pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.2. Ketuntasan Hasil Belajar Aspek Pengetahuan  Kondisi Awal

Berdasarkan tabel di atas bahwa ketuntasan klasikal baru sebesar 69,4 % pada kondisi awal atau  belum 85% dari seluruh siswa sehingga masih dalam kategori hasil belajar belum tuntas. Sdangkan pada aspek keterampilan kondisi awal dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.3. Hasil Belajar aspek Ketrampilan Kondisi Awal

Aspek ketrampilan siswa dalam berdiskusi masih  masih ada siswa yang masih belum memperoleh baik (B) yaitu sebanyak 9 siswa atau 27, 8% padahal dalam kurikulum 2013 ketrampilan siswa mencapai sekurang kurangnya nilai B atau Baik.

 Keaktifan Siswa Kondisi awal dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.4. Keaktifan siswa kondisi awal

Demikian juga pada kesukaan model pembelajaran terhadap siswa kelas IX H setelah dilakukan wawancara oleh observer maka diperoleh data bahwa model pembelajaran  pada kondisi awal terhadap siswa kelas IX H hampir 90 % mengatakan  kurang menyukai proses pembelajaran (membosankan) melalui diskusi dengan sumber belajar dari buku siswa dan lembar kerja yang disediakan peneliti.

Diskripsi Hasil Siklus I

Setelah dilakukan pembelajaran dengan model discovery learning  bermedia kartu bergambar diperoleh hasil belajar aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan data keaktifan siswa. Hasil Belajar pada siklus I aspek pengetahuan terdapat peningkatan rata-rata yang semula 67,08 menjadi 75,1 seperti terdapat dalam tabel.

Tabel 2.5 Hasil Belajar  Aspek Pengetahuan Siklus I

Berdasarkan tabel terdapat kenaikan nilai pengetahuan pada siklus I, baik pada nilai terendah kondisi awal sebesar 45 menjadi sebesar 65, nilai tertinggi kondisi awal seebesar 80 menjadi sebesar  90 pada siklus I.

Tabel 2.6.  Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I

Berdasarkan data tabel ketuntasan belajar pada siklus I, terdapat kenaikan ketuntasan belajar dari 26 siswa pada kondisi awal  menjadi tuntas pada siklus I sebanyak 29 siswa atau naik 3 siswa tuntas dengan nilai sama dengan 75 atau di atas 75 sesuai KKM  mapel IPA di SMPN 2 Purbalingga. Sedangkan hasil belajar dari aspek ketrampilan siklus I terdapat pada tabel di bawah ini .

Tabel 2.7. Hasil belajar aspek ketrampilan

Keterampilan siswa  dalam proses pembelajaran meningkat pada siklus I dimana pada kondisi awal siswa terampil hanya 26   pada siklus I meningkat menjadi 31 siswa dengan nilai B. Keaktifan siswa Siklus I, terdapat pada tabel 2.8.

Tabel 2.8. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran siklus I

Deskripsi  Siklus II

Pelaksanan siklus II dilakukan dengn model discovery learning, berbantu kartu bergambar dengan bentuk permaiann. Dari proses perencanaan hingga refleksi dengan perbedaan perlakuan pada siklus I dengan terbimbing guru dan kunci jawaban permainan dipegang oleh salah satu anggota sampai dua kali permainan dan permainan ke tiga mandiri dengan jumlah anggota 6 orang. Namun pada siklus II pemegang kunci hanya satu kali selanjutnya dua kali permainan tanpa memegang kunci dan anggota 4 orang.

Hasil Belajar Aspek pengetahuan pada Siklus II   terjadi kenaikan. Nilai terendah pada siklus II tetap seperti pada Siklus I sebesar 65  namun terdapat kenaikan nilai tertinggi yaitu dari nilai sebesar 90 menjadi  menjadi 95. Nilai pengetahuan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.9. Hasil belajar aspek pengetahuan  Siklus II

Ketuntasan hasil belajar dan proses belajar konsep Reproduksi Tumbuhan dan Hewan pada siklus II nampak pada tabel di bawah ini.

Tabel  2.10.Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II

Dilihat dari hasil belajar aspek pengetahuan pada siklus II dapat disimpulkan bahwa terdapat kenaikan hasil belajar dan ketuntasan belajar yang semula pada siklus I rata rata sebesar 75,1 dengan ketuntasan sebesar 81% sedangkan pada siklus II siswa mendapatkan rata-rata pengetahuan sebesar 80 dengan ketuntasan sebesar 92%. Hal ini dapat dijelaskan bahwa terdapat kenaikan nilai hasil belajar dari siklus 1 sebesar 4,9 poin. Dan ketuntasan belajar yang semula hanya 81% sehingga dikatakan secara klasikal belum tuntas maka pada siklus II terdapat ketuntasan sebesar 92% anak telah tuntas atau sebanyak 33 siswa telah memperoleh nilai minimal 75.

Tabel 2.11. Hasil belajar aspek ketrampilan siklus  II

Berdasarkan tabel, ketrampilan pada siklus II mengalami kenaikan dengan nilai >B bertambah menjadi 33 siswa  yang semula 31 siswa pada siklus I. Keaktifan siswa siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.12. Keaktifan siswa siklus II

Refleksi dan Pembahasan  Hasil Penelitian

Hasil Belajar Aspek pengetahuan

Proses pembelajaran pada penelitian tindakan kelas pada kondisi awal , siklus I,  dan siklus II berbeda pada tindakan guru, guru sebelum menggunakan permainan media pembelajaran kartu bergambar  dan sesudah guru menggunakan media pembelajaran kartu bergambar.

Tabel 2. 13. Perbedaan Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

Perolehan hasil belajar aspek pengetahuan baik pada kondisi awal, siklus I dan siklus II dapat di lihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.14.Hasil Belajar Aspek Pengetahuan Kondisi Awal, Siklus I , dan Siklus II

Kondisi awal dibandingkan dengan siklus I dari rata-rata 67,08 menjadi 75,1, mengalami kenaikan sebesar 8,02 poin, sedangkan dari siklus I dibandingkan dengan siklus II dari 75, 1 menjadi 80 sehingga naik 4,9 poin. Hal ini menandakan bahwa pemanfaatan media pembelajaran dengan melalui permainan  kartu bergambar dapat meningkatkan hasil belajar khususnya aspek pengetahuan hasil belajar IPA konsep Reproduksi pada Tumbuhan dan Hewan.

Tabel 2.15. Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II

Dari kondisi awal ke siklus I setelah diberi perlakuan penggunaan media bergambar melalui permaianan ketuntasan hasil belajar meningkat dari 69,4% menjadi 81%. Atau meningkat sebesar 11,6%. Ketuntasan belajar siswa naik dari siklus I sebesar 81%  menjadi 92% pada siklus II sehingga mengalami kenaikan sebesar 11% . Dengan demikian  dari kondisi awal sampai ke siklus II ketuntasan hasil belajar meningkat 22,6%  atau siswa tuntas bertambah dari 25 siswa  pada kondisi awal meningkat menjadi 29 siswa pada siklus I dan 33 siswa pada siklus II sehingga terdapat kenaikan ketuntasan secara klasikal pada kelas IX H semester gasal tahun pelajaran 2015/2016 sebanyak 8 siswa (22, 2%).

Hasil Belajar Aspek Ketrampilan

Tabel  2.16. Hasil belajar aspek ketrampilan kondisi awal, siklus I dan II

Hasil belajar aspek ketrampilan pada siswa kelas IX H mengalami peningkatan dengan nilai >B dengan rentang nilai 68-100. Dimana pada kondisi awal hanya 26 siswa yang memiliki ketrampilan >B sedangkan pada siklus I ada 31 siswa dan pada siklus II terdapat 33 siswa memiliki ketrampilan >B. Dengan demikian terdapat kenaikan dari kondisi awal ke siklus I sebanyak 5 siswa (13,9%) dan dari siklus I ke siklus II terdapat kenaikan sebanyak 2 siswa ( 5,6%) . Sehingga dapat diperoleh data kenaikan aspek ketrampilan dengan nilai >B dari kondisi awal hingga siklus II yaitu  naik 7 siswa (19,4%)

Hasil Pengamatan Keaktifan Siswa Dalam Proses Pembelajaran

Data  peningkatan keaktifan siswa dari kondisi awal hingga siklus I dan siklus II dapat di tampilkan dalam tabel di bawah ini .

Tabel 2.17.  Keaktifan siswa pada kondisi awal, siklus I dan siklus II

Berdasarkan data keaktifan siswa dalam proses pembelajaran terdapat kenaikan keaktifan siswa dalam pembelajaran dengan model discovery learning dari kondisi awal, siklus I dan siklus II. Pada kondisi awal terdapat 28 siswa aktif (77,8%) , pada siklus I naik menjadi 33 siswa (91,7%) dan siklus II 36  siswa (100% ).

Hasil pengamatan observing terhadap proses pembelajaran

Hasil pengamatan / observing terhadap guru dalam proses belajar konsep Reproduksi pada Tumbuahn dan Hewan , tertera dalam tabel 4.20. Dimana proses pembelajaran berlangsung baik dengan rata – rata 3,67 yang berasal dari skor rerata pengamatan siklus I sebesar 3,50 dan skor rerata pengamatan siklus II sebesar 3,83

Tabel 2.18. Pengamatan Proses Pembelajaran

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa melalui model discovery learning berbantu  Media Kartu bergambar dapat meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa kelas IX H SMP Negeri 2 Purbalingga  pada semester gasal  tahun pelajaran 2015 / 2016.

Implikasi Penelitian

Penelitian ini selesai dengan seluruh keterbatasannya, temuan penelitian ini berimplikasi untuk penelitian lanjutan dengan penggunaan model pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum 2013 termasuk dengan  model pembelajaran yang dirujuk oleh kurikulum 2013 . Model pembelajaran yang bevariasi membutuhkan media pembelajaran yang sesuai dan bervariasi pula. Hal ini dengan tujuan utama mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga tercapai tujuan pembelajran yang diharapkan.

Saran

Setelah penelitian ini disarankan guru mampu menggunakan model pembelajaran yang sesuai konsep IPA serta guru dapat membuat karya inovasi terutama sarana pembelajaran atau media pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar. Dengan media yang dibuat, harusnya disesuaikan dengan model pembelajaran atau metode dengan merujuk pada pendekatan scientific  pada kurikulum 2013 .

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. , Suhardjono, dan Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan Nasional , 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas

Departemen Pendidikan Nasional , 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi, Jakarta:Depdiknas

Hamalik, O. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Kemendikbud, 2015, Buku Guru IPA Kelas IX, Jakarta, Balitbang, Kemendikbud

Mendikbud, 2014, Permendikbud  No.58 ,  Tentang Kurikulum 2013, Jakarta:Depdiknas

Sudjana, Nana, 2004, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung:Sinar Baru

Sukmadinata, 2003, Landasan Psikologi dan Proses Pendidikan, Bandung: Remaja  Rosakarya

Susilana, Rudi, 2008, Media Pembelajaran, Bandung : CV Wacana Prima




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *