Peningkatan Hasil Belajar Ipa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Bagikelas

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODELPEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW BAGIKELAS VI SD NEGERI SIDOREJO KECAMATAN SELOMERTO KABUPATEN WONOSOBO SEMESTER II TAHUN PELAJARAN2016/2017

Oleh : Nuryanah Lismi Eti, S.Pd

ABSTRAK

Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar IPA pada siswa kelas VI SD Negeri Sidorejo kecamatan Selomerto kabupaten Wonosobo.Pada kondisi awal sebelum dilaksanakan penelitian, dari 19 siswa kelas VI SD Negeri Sidorejo hanya 6 siswa atau 32% yang mencapai batas KKM ≥ 70. Rendahnya hasil belajar di SD Negeri Sidorejo disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (1) pandangan siswa yang masih holistik atau global pada obyek tertentu; (2) minat siswa masih sangat rendah; (3) kurangnya media yang tepat dan membuat siswa tertarik pada pembelajaran IPA; (4) guru yang tidak menerapkan pendekatan pembelajaran yang inovatif, konstruktif, dan terkesan statis; (5) keadaan kelas yang sering kacau karena kenakalan dan sikap usil siswa laki-laki.

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau (classroom action research). dengan menggunakan 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 3 tahap yakni 1) perencanaan tindakan (planning), 2) pelaksanaan tindakan (action) dan pengamatan (observation), dan 3) refleksi (reflection). Subyek penelitian adalah siswa kelas VI SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo sebanyak 19 siswa. Teknik pengumpulan data dengan teknik tes dan teknik observasi. Adapun instrumen penelitiannya dengan menggunakan butir-butir soal dan lembar observasi. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif komparatif.

            Dari hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan hasil belajar IPA siswa tentang penghematan energi setelah menggunakan model pembelajaran jigsaw. Hal ini nampak pada siswa yang mencapai KKM ≥ 70. Pada pra siklus hanya 6 siswa atau 32%. Naik pada siklus I sebanyak 13 siswa atau 68%, dan pada siklus II sebanyak 18 siswa atau 95%. Implikasi penelitian adalah sebagai bahan pertimbangan guru untuk menerapkan model pembelajaran jigsaw pada pembelajaran IPA, sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai sehingga hasil belajar siswa mencapai optimal. Bagi peneliti di bidang pembelajaran dan asesmen, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan pengembangan penelitian lebih lanjut.

Kata kunci: Hasil belajar IPA, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw, Siswa kelas VI

PENDAHULUAN

Hasil survei yang telah dilakukan, menunjukkan nilai rata-rata kelas untuk materi IPA pada 19 siswa kelas VI SD Negeri Sidorejo hanya mencapai 6 siswa atau 32% dengan rata-rata nilai sebesar 68,94. Rendahnya hasil belajar di SD Negeri Sidorejo kecamatan Selomerto kabupaten Wonosobo disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (1) pandangan siswa yang masih holistik atau global pada obyek tertentu; (2) minat siswa masih sangat rendah; (3) kurangnya media yang tepat dan membuat siswa tertarik pada pembelajaran IPA; (4) guru yang tidak menerapkan model pembelajaran yang inovatif, konstruktif, dan terkesan statis; (5) keadaan kelas yang sering kacau karena jumlahnya banyak didominasi siswa laki-laki. Kondisi ini merupakan masalah yang perlu dicarikan pemecahannya.Salah satu langkah awal yang perlu dipersiapkan dalam usaha mensukseskan pembelajaran adalah dengan menentukan metode pembelajaran yang tepat yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. Model Pembelajaran Jigsaw adalah model pembelajaran dimana siswa diajak untuk dapat berfikir kritis dan mencari solusi untk dapat emecahkan masalah yang dihadapi. Untuk itu, guru hendaknya berupaya melakukan perubahan pembelajaran dengan mengaktifkan siswa agar hasil belajar siswa menjadi meningkat.

Permasalahan yang dapat diindentifikasi terkait dengan pembelajaran IPA bagi siswa kelas VI SD Negeri Sidorejo adalah: 1.6 siswa atau 38 % dari 20 siswa kelas VI SD Negeri Sidorejo belum dapat mencapai KKM ≥ 70 yang ditetapkan; 2.Aktivitas siswa dalam pembelajaran hanya diam saja, dan tidak dilibatkan dalam pembelajaran. Bahkan siswa cenderung mengantuk. Siswa terlihat pasif; 3.Dalam pembelajaran IPA, siswa belum pernah diajak untuk dapat berfikir kritis dan mencari solusi untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi; 4.Dalam pembelajaran di kelas, guru hanya mengacu kepada banyaknya materi yang diberikan siswa. Tujuan yang dirumuskan dalam penelitian adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi penghematan energi listrik dapat dilakukan melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw bagi siswa kelas VI SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017.

KAJIAN PUSTAKA

Mata Pelajaran IPA

Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang tersusun secara terbimbing. Hal ini sejalan dengan kurikulum KTSP (Depdiknas RI No. 22, 2006) bahwa “IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan”. Hal ini menunjukkan bahwa, hakikat IPA sebagai proses diperlukan untuk menciptakan pembelajaran IPA yang empirik dan faktual. IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusa melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran yang diarahkan pada pengalaman belajar bagi siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.

Hasil Belajar

Hasil belajar adalahkemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya(Sudjana, 2004:22). Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.Benyamin S. Bloom(dalam Anni 2005: 9) mengusulkan hasil belajar dikelompokkan ke dalam tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar yaituranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotorik.Secara umum model penilaian dapat di kelompokkan menjadi dua, yaitu model tes dan nontes.

Model Pembelajaran Jigsaw

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997).Menurut Arends (1997) keunggulan kooperatif tipe jigsaw adalah: 1.Meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain; 2.Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain; 3.Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Langkah-langkah penerapan model jigsaw menurut Arends (1997) antara lain adalah :

1. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok masing-masing 4–6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Terdiri dari kelompok asal dan kelompok ahli.

2. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.

3. Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.

4. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.

Hipotesis Tindakan

Penggunaan modelpembelajarankooperatif tipe Jigsaw diduga dapat meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa Kelas VI SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas untuk mata pelajaran IPA yang dilaksanakan pada siswa kelas VI SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo pada Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017. SD Negeri Sidorejo berdasarkan lokasi termasuk wilayah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo.Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VI sebanyak 19 siswa terdiri dari laki-laki 12 siswa dan perempuan 7 siswa.Rancangan penelitian tindakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model spiral, yang dikemukakan oleh C.Kemmis dan Mc.Taggart, R melalui siklus yang terdiri dari 3 tahap yakni rencana tindakan, tindakan dan observasi,dan refleksi.Data yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa data kualitatif yaitu data yang diperoleh langsung dari hasil pengamatan siswa dan guru; dan data kuantitatif adalah data yang diperoleh langsung dari skor yang diperoleh dari tes formatif dan rubrik penilaian unjuk kerja. Model analisis data yang digunakan model statistik sederhana yakni model diskriptif komparatif yakni model statistic dengan membandingkan nilai antar siklus yang berupa nilai tertinggi, nilai terendah, rata-rata dan presentase ketuntasan.Indikator keberhasilan penelitian ini adalah terjadinya kenaikan hasil belajar yang ditunjukkan adanya kenaikan nilai hasil belajar siswa. Target KKM IPA ≥ 70 dan dicapai oleh minimal 80% dari seluruh siswa yang ada.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Kegiatan belajar mengajar sebelum pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Guru dalam mengajar masih menggunakan metode ceramah. Karena metode yang digunakan masih belum tepat, akibatnya siswa menjadi jenuh, tidak tertarik terhadap pelajaran, ramai sendiri di dalam kelas sehingga mengakibatkan siswa tidak dapat menguasai pelajaran yang telah disampaikan guru. Kondisi pembelajaran seperti itu berdampak pada hasil belajar siswa kelas VISD Negeri Sidorejo pada mata pelajaran IPA, sebelum siklus I (pra Siklus) banyak siswa yang belum mencapai KKM ≥ 70. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa hanya ada 6 siswa atau 32% yang tuntas atau mencapai KKM. Sedangkan 13 siswa atau 68% belum tuntas. Nilai tertinggi yang dicapai yaitu 80, nilai terendah 30 dan rata-rata 53,15.

Deskripsi Pelaksanaan Siklus I

Perencanaan

Perencanaan tindakan siklus I adalah sebagai berikut: a.Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada mata pelajaran IPA dengan pendekatan metode percobaan; b.Menyiapkan media (seterika listrik, kipas angin, radio), materi pelajaran (buku IPA kelas VI), Silabus kelas VI, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP); c.Menyiapkan lembar pengamatan kinerja guru dan siswa (lembar observasi) dan soal evaluasi.

Pelaksanaan Tindakan dan Observasi

Pada pelaksanaan tindakan ini, guru menerapkan apa yang sudah tertuang dalam RPP terhadap pembelajaran di kelas. Selama pelaksanaan dilakukan pengamatan atau observasi. Pengamatan hasil belajar pada siklus I ini disajikan pada tabel berikut ini.

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa 13 siswa atau 68% tuntas atau mencapai KKM. Sedangkan 6 siswa atau 32% belum tuntas. Nilai tertinggi yang dicapai yaitu 90, nilai terendah 40 dan rata-rata 68,94. Hal tersebut tentu saja jauh meningkat jika dibandingkan dengan hasil belajar pada pra siklus.

Refleksi

Berdasarkan hasil tes pra siklus sampai siklus I menunjukkan adanyapeningkatan hasil belajar. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Meskipun sudah terjadi peningkatan, namun hasil tersebut belum optimal karena jumlah siswa belum mencapai 80% dari jumlah siswa keseluruhan. Sedangkan kegiatan pembelajaran ini dapat terlihat dari hasil observasi bahwa masih terdapat beberapa anak yang kurang aktif dan kurang berkonsentrasi dalam melakukan pembelajaran. Misalnya dalam hal bertanya anak masih kurang aktif, dan hanya ada beberapa siswa yang menanggapi proses pembelajaran. Kinerja guru dalam mengajar juga belum semuanya terlaksana karena waktu terbuang sia-sia karena guru banyak bercerita. Cara untuk mengatasi masalah-masalah pada siklus II tersebut adalah:

a. Membuat suasana pembelajaran menyenangkan dengan menghubungkan dengan kegiatan sehari-hari.

b. Dalam melontarkan pertanyaan, hendaknya bersifat individual jangan klasikal agar anak dapat ikut terpancing berfikir dan berkonsentrasi dalam pelajaran.

c. Setelah guru menerangkan sebagian, guru dapat memberi contoh dari materi tersebut.

d. Guru harus menggunakan waktu sebaik-baiknya dalam melaksanakan pembelajaran.

e. Guru dapat memberikan penghargaan kepada siswa yang menjawab dengan benar.

Deskripsi Pelaksanaan Siklus II

Perencanaan

Perencanaan tindakan siklus IIadalah sebagai berikut: a.Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada mata pelajaran IPA dengan pendekatan metode percobaan; b.Menyiapkan media; c.Menyiapkan lembar pengamatan kinerja guru dan siswa (lembar observasi) dan soal evaluasi.

Pelaksanaan Tindakan dan Observasi

Dalam tahap pelaksanaan tindakan, peneliti melaksanakan seperti apa yang telah tertuang di RPP. Kemudian pada tahap observasi atau pengamatan didapat hasil berupa peningkatan hasil belajar siswa yang dapat dilihat pada tabelberikut ini.

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa 18 siswa atau 95% tuntas atau mencapai KKM. Sedangkan hanya 1 siswa atau 5% yang belum tuntas. Nilai tertinggi yang dicapai yaitu 100, nilai terendah 60 dan rata-rata 86,31. Hal tersebut tentu saja jauh meningkat jika dibandingkan dengan hasil belajar pada pra siklus dan siklus I.

Refleksi

Berdasarkan hasil tes pra siklus sampai siklus IImenunjukkan adanya peningkatan hasil belajar. Dari 19 siswa pada pra siklus yang mencapai KKM sebanyak 6 siswa, sedangkan pada siklus I yang mencapai KKM sebanyak 13 siswa. Serta pada siklus II terjadi kenaikan yang cukup baik dengan prosentase ketuntasan 95% dan nilai rata-rata 86,31. Ini adalah perolehan yang sangat baik karena sudah melampaui ketuntasan yang sudah ditetapkan yaitu 80 %.Perbandingan hasil belajar prasiklus, siklus I, siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar antara pra siklus dengan siklus Idan siklus II, danhasil yangoptimal karena prosentase ketuntasan sudah melampaui indikator kinerja yang sudah ditetapkan yaitu ketuntasan mencapai 80%dan perolehan nilai rata-rata 75. Hal ini terbukti pada perolehan jumlah siswa yang tuntas yaitu 18 anak atau 95% dan rata-rata 86,31 pada siklus II.

Pembahasan Seluruh Siklus

Hasil Belajar Pra Siklus

a. Hasil Belajar

Hasil belajar siswa pada pra siklus I sangatlah rendah. KKM yang ditetapkan sekolah adalah ≥70.Hasil perolehan nilai ada pra siklus hanya 6 (32%) siswa yang mencapai KKM, sedangkan yang belum mencapai KKM 13 (68%) siswa. Dengan demikian hasil belajar itu belum memenuhi ketuntasan, karena rata-rata nilai siswa masih rendah yaitu 53,15. Adapun hasil nilai tertinggi adalah 80 dan yang terendah adalah 30.

b. Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran pada pra siklus menunjukkan guru sering menggunakan metode ceramah sehingga siswa menjadi jenuh, tidak tertarik pada pelajaran, ramai, bermain sendiri, bahkan ada juga siswa yang mengantuk di kelas akibatnya siswa tidak menguasai materi pelajaran sehingga nilainya menjadi rendah.

Hasil Belajar Siklus I

a. Hasil Belajar

Berdasarkan hasil belajar siklus I, menyatakan bahwa siswa yang telah mencapai KKM sebanyak 13 (68%) siswa, sedangkan yang belum mencapai KKM yaitu 6 (32%)siswa. Dari hasil tersebut tampak bahwa hasil belajar siswa pada siklus I mengalami peningkatan. Nilai tertinggi dan nilai terendah siswa dan rata-rata kelas juga mengalami peningkatan. Walaupun sudah mengalami peningkatan, jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belum mencapai 80% dari jumlah siswa keseluruhan. Ini berarti PBM pada siklus I belum meningkat sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan

b. Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran pada siklus I sudah menunjukkan adanya perubahan aktivitas siswa. Hal ini dikarenakan guru menggunakan model pembelajaran jigsaw. Dari hasil observasi aktivitas guru dan siswa, pada pertemuan pertama tanggal diperoleh 50% yang berarti aktivitas guru dan siswa sudah cukup baik. Pada pertemuan kedua aktivitas guru dan siswa mengalami peningkatan menjadi 60%. Dan pada pertemuan terakhir aktivitas guru dan siswa meningkat menjadi 70% yang masuk dalam kriteria baik. Meskipun sudah terjadi peningkatan, namun hasil tersebut belum optimal. Hal ini dapat terlihat dari hasil observasi bahwa dalam kegiatan pembelajaran masih terdapat beberapa anak yang kurang aktif dan kurang berkonsentrasi dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Misalnya, dalam hal berani bertanya dan menjawab pertanyaan minoritas hanya anak yang sama. Anak juga belum sepenuhnya mengetahui manfaat dari mempelajari materi tersebut. Kinerja guru dalam mengajar juga belum semuanya terlaksana.

Hasil Belajar Siklus II

a. Hasil Belajar

Berdasarkan hasil belajar siklus II, siswa kelas VI sudah mencapai KKM sebanyak 18(95%) siswa. Dengan nilai tertinggi 100 dan terendah 60. Nilai rata-rata kelas juga meningkat menjadi 86,31. Ini membuktikkan bahwa siswa kelas VI

sudah tuntas dalam mengikuti proses pembelajaran. Nilai ini menunjukkan bahwa ada peningkatan dari nilai pra siklus sampai siklus II. Dengan hasil yang didapat ini terlihat bahwa kriteria keberhasilan yang ditetapkan telah terpenuhi yaitu kreteria ketuntasan 80% yang sudah ditetapkan namun perolehan ketuntasannya sudah melampaui yaitu 95 %. Adanya perolehan hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus II ini karena anak sudah mengalami kegiatan pra siklus dan siklus I maka aktivitas siswa dan guru meningkat menjadi 85% yang masuk dalam kriteria baik. Kinerja guru dilaksanakan dengan sangat baik. Guru disini juga telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan silabus dan RPP yang telah direncanakan terlebih dahulu. Jadi, apabila guru telah mengajar sesuai yang telah direncanakandengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan, maka siswa akan beraktivitas sesuai dengan yang diharapkan sehingga siswa dapat memahami materi dan hasil belajar juga meningkat. Mengingat bahwa nilai siswa telah tuntas, maka proses pembelajaran siklus II telah berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

PENUTUP

Simpulan

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa kelas VI di SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo semester II tahun pelajaran 2016/2017. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata hasil belajar siswa pada prasiklus 53,15, siklus I 68,94 dan pada siklus II 86,31 juga pada persentase ketuntasan hasil belajar yaitu pada prasiklus 32%, siklus I 68% dan pada siklus II 95%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas VI di SD Negeri Sidorejo Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo semester II tahun pelajaran 2016/2017 pada kompetensi dasar mengidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saran

Hendaknya sekolah memfasilitasi dan mendorong para guru agar lebihmeningkatkan potensi dan kreativitas dalam mengajar sehingga siswa lebih berhasil mengikuti kegiatan pembelajran dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Dalam pembelajaran IPA hendaknya guru menggunakan model pembelajaranKooperatif tipe jigsaw karena berdasarkan penelitian telah terbukti bahwa model pembelajaran ini lebih dapat meningkatkan hasil belajar siswa.Hendaknya menumbuhkan serta meningkatkan hasil belajr siswa yang akan membawa dmapak positif prestasi siswa sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.Lebih kreatif dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran sehingga siswa lebih aktif dan terhasil dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Diharapkan peneliti dapat melakukan penelitian lanjutan terutama pada dunia pendidikansehingga dapat memajukanbangsa dan negara ke arah yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Anni, Catharina Tri, dkk. 2005. Psikologi Belajar. Semarang: UPT UNNES Press

Arends, Richard I. 2008. Learning To Teach. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas

Hamalik, Oemar. 2004.  Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Sudjana, Nana. 1987. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *