PTK SD Mapel Matematika Materi Luas Bangun Datar

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA LUAS BANGUN DATAR SEDERHANA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PERSEGI SATUAN BAGI SISWA KELAS VI SD NEGERI 2 TLAGA

Oleh : Wiyati, S.Pd.

 

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Kelas ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Matematika dan secara khusus bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Matematika bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Tlaga pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 bertempat di SD Negeri 2 Tlaga Unit Pendidikan Kecamatan Tambak dengan subyek penelitian 20 siswa kelas VI SD Negeri 2 Tlaga pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 11 siswa permpuan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik tes. Tes yang digunakan adalah tes tertulis. Penelitian dilaksankan dalam dua siklus dan setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukan, penggunaan alat peraga persegi satuan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas VI SD Negeri 2 Tlaga pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Rata-rata hasil belajar meningkat 59 menjadi 74 pada akhir siklus I dan kembali meningkat menjadi 89 pada akhir siklus II, sehingga total kenaikan yang dicapai 30 poin (50,84%).

Kata kunci : hasil belajar, luas bangun datar sederhana, persegi satuan.

 

PENDAHULUAN

Dari tiga kali ulangan harian mata pelajaran Matematika kelas VI SD Negeri 2 Tlaga diperoleh nilai rata-rata 54. Sementara KKM mata pelajaran Matematika yang ditetapkan adalah 6,0.  Artinya, hasil belajar siswa masih rendah. Rendahnya hasil belajar disebabkan penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran yang belum optimal.

Keadaan di atas menggambarkan kesenjangan antara kenyataan dengan harapan yang diinginkan. Oleh karena itu, guru mencari solusi untuk mengatasinya, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan melakukan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas. Melalui penelitian diharapkan dapat ditemukan alternatif tindakan yang tepat, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan hasil belajar siswa.

Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, peneliti hanya meneliti rendahnya hasil belajar Matematika dilihat dari pemanfaatan alat peraga. Dari sekian banyak alat peraga yang ada, peneliti membatasinya pada pemanfaatan alat peraga persegi  satuan dalam pembelajaran pengukuran materi luas bangun datar.

Sesuai dengan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan batasan masalah,  peneliti merumuskan masalah “Apakah melalui penggunaan alat peraga persegi satuan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika luas bangun datar sederhana bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Tlaga pada Semester I Tahun pelajaran 2015/2016.

LANDASAN TEORI  

Belajar

Belajar adalah suatu aktivitas untuk menghasilkan perubahan pada diri individu. Bahwa perubahan yang diharapkan itu berupa kemampuan- kemampuan baru dalam memberikan respon terhadap stimulus yang diterima (Masyhuri HP, 1990:52). Rumusan belajar dari E.R. Hilagart “ Leraning is the process by which an activity originates or is changed through training procedures“.  Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan yang mungkin membuahkan atau menghasilkan pola kelakuan tertentu (yang belum dimiliki sebelumnya) tetapi mungkin pula merubah pola kelakuan (yang telah dimiliki sebelumnya). Pola kelakuan atau tingkah laku dari seseorang dipengaruhi oleh apa yang dimiliki orang tersebut (sifat-sifatnya, pengalamannya, pengetahuan, ketrampilan-ketrampilannya, sikapnya, keadaan jasmaninya dan sebagainya) tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan. Hasil belajar dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, diantaranya adalah dorongan dari dalam diri (motif), bahan yang dipelajari, alat-alat, banyaknya waktu yang digunakan, cara belajar dan sebagainya.

Hasil belajar  

Hasil belajar dapat disamakan pengertiannya dengan produk belajar, yaitu merupakan suatu pola perbuatan, nilai, makna, apresiasi, kecakapan, keterampilan yang berguna bagi masyarakat. (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:172). Ada tiga ranah hasil belajar, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif adalah hasil belajar yang berupa pengetahuan-pengetahuan atau kemampuan baru yang bersifat keilmuan. Ranah affektif adalah hasil belajar yang berupa perubahan-perubahan perilaku sebagai akibat telah dilakukannya proses belajar. Sedangkan ranah psikomotorik adalah hasil belajar yang berupa ketrampilan-ketrampilan praktis oleh anggota badan seperti tangan,kaki, alat indra dan sebagainya. Untuk mata pelajaran matematika, hasil belajar yang diperoleh peserta didik lebih dominan pada ranah kognitif.

Berdasar uraian di atas, hasil belajar Matematika adalah hasil belajar yang dicapai peserta didik pada mata pelajaran Matematika setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam kurun waktu tertentu atau program tertentu. Hasil belajar berupa kemampuan-kemampuan baru yang meliputi pola perbuatan, nilai, makna, sikap, apresiasi, kecakapan, ketrampilan, yang berguna untuk memecahkan problematika dalam mata pelajaran Matematika khususnya dan problematika sosial pada umumnya. Penguasaan atas kemampuan-kemampuan baru oleh peserta didik  dinyatakan dengan nilai berupa angka-angka. Untuk memperoleh nilai dilakukan penilaian oleh guru dengan menggunakan berbagai teknik tes. Penilaianan kelas dapat dilakukan melalui teknik tes (tertulis, lisan, dan perbuatan) dan non tes berupa pemberian tugas, tes perbuatan/praktik dan kumpulan hasil kerja siswa (Depdiknas, 2002:5). Makin tinggi nilai yang diperoleh peserta didik berarti makin tinggi pula tingkat kemampuan-kemampun baru yang dikuasainya.

Alat Peraga dan Persegi Satuan

Alat peraga adalah alat pengajaran yang hanya digunakan untuk satu jam pelajaran. Faedah dari alat peraga adalah membantu cara guru memberikan pelajaran, agar murid dapat lebih jelas mnerima keterangan-keterangan tersebut (Abu Ahmadi, 1978:95).       Alat Peraga juga disebut sebagai “alat bantu mengajar“, yaitu segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk memahamkan anak-anak mengenai pelajaran yang masih belum jelas, belum dimengerti ataupun masih dirasa sulit. Alat bantu mengajar ini dapat diklasifikasikan (1) Alat peraga visual, yaitu segala sarana yang dapat mempengaruhi daya pikir anak dengan lewat panca indranya, dengan cara memperlihatkan benda aslinya, benda tiruan, gambar atau yang sejenisnya, (2) Alat peraga auditif, yaitu segala sarana yang ada dapat mempengaruhi daya pikir anak dengan cara menerangkan, memberikan padan kata (persamaannya), contoh-contoh kalimat dan sebagainya (Djudi, 1988:135). Dikatakannya juga bahwa alat bantu mengajar yang digunakan  dengan baik akan dapat menghilangkan penyakit yang paling berkecamuk di belajar mengajar.

Dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa alat peraga adalah benda  yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dengan baik. Alat peraga dapat berupa benda sesungguhnya, model atau tiruan benda, gambar- gambar, alat-alat elektronika sebagai alat bantu yang dapat didengar, dilihat, atau dilihat dan didengar.

Persegi adalah bangun yang mempunyai sisi empat buah yang sama panjang dan keempat sudutnya membentuk sudut siku-siku. Satuan di sini adalah ukuran panjang dari sisi tersebut. Panjang sisi satuan dapat dibuat 1 cm, 5 cm, 10 cm dan sebagainya sesuai kebutuan. Alat peraga persegi satuan yang digunakan mempunyai panjang sisi 1 cm yang terbuat dari kertas kartu undangan hajatan. Untuk dapat memanfaatkan alat peraga persegi satuan, peneliti menggunakan sterofom ukuran 40 cm x 60 cm yang dipasang di papan tulis. Pada sisi sterofom dibuat garis-garis horisontal dan vertikal, sehingga membentuk bangun-bangun persegi dengan panjang sisi 5 cm. Pada sumbu “X“ dan sumbu “Y“ seperti pada bentuk koordinat, tiap persegi satuan diberi nomor urut. Terbentuklah nomor urut pada sumbu “X” dari nomor 1 sampai dengan nomor 10. Pada sumbu “Y” terbentuk nomor urut dari nomor 1 sampai dengan nomor 7. Alat peraga persegi satuan ini dilengkapi dengan seutas benang kasur warna putih, sehingga memudahkan untuk membuat bentuk-bentuk bangun datar dan dilengkapi pula dengan beberapa paku pines.

 

Kerangka Bepikir

Sebelum tindakan penelitian, guru belum menggunakan alat peraga dalam proses belajar mengajar secara optimal, sehingga pemahaman siswa terhadap konsep bangun datar sederhana masih kurang. Hasil belajar Matematika siswa kelas VI SD Negeri 2 Tlaga Unit Pendidikan Kecamatan Tambak pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 masih rendah.

 Pada siklus I alat peraga persegi satuan mulai digunakan dalam pembelajaran secara kelompok. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok, tiap kelompok menggunakan satu set alat peraga. Cara yang ditempuh diharapkan dapat meningkatkan perhatian dan minat siswa terhadap proses pembelajaran.

Jika pada siklus I alat peraga persegi satuan digunakan secara klasikal, tetapi pada siklus II persegi satuan digunakan secara individual. Artinya, terjadi terdapat peningkatan kualitas dan kualtitas penggunaan alat peraga. Melalui peningkatan kualitas dan kuantitas penggunaan alar peraga persegi satuan dari siklus I ke siklus II diduga dapat meningkkatkan hasil belajar Matematika luas bangun datar sederhana.  Secara ringkas, maka kerangka berpikir dalam penelitian seperti di bawah ini.

KERANGKA BERPIKIR

wiyat

METODE PENELITIAN 

Sesuai kajian teori dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini “Melalui penggunaan alat peraga persegi satuan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika luas bangun datar sederhana bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Tlaga Unit Pendidikan Kecamatan Tambak pada semester I tahun pelajaran 2015/2016”.

Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah 20 siswa kelas VI SD Negeri 2 Tlaga Unit Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan.

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes. Tes yang digunakan adalah tes tertulis.  Analisis data penelitian dilakukan secara deskriptif komparatif dengan cara membandingkan nilai rata-rata kondisi awal dengan nilai akhir siklus I. Nilai rata-rata akhir siklus I dibandingkan dengan nilai rata-rata akhir siklus II. Selanjutnya nilai rata-rata kondisi awal dibandingkan dengan nilai rata-rata tes akhir siklus II. Penelitian dinyatakan berhasil jika nilai rata-rata subjek penelitian mengalami peningkatan dari kondasi awal sampai akhir siklus.

Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan dalam dua siklus dan setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskriptif Kondisi Awal

Sebelum penelitian dilaksanakan, nilai rata-rata hasil belajar Matematika siswa kelas VI SD Negeri 2 Tlaga pada semester I tahun pelajaran 2015/2016 masih rendah. Buktinya, dari 20 siswa yang  mengikuti ulangan harian materi menentukan luas bangun datar, diperoleh rata-rata 59, nilai tertinggi 82, dan terendah 34. Dilihat dari ketuntasan belajar, hanya 5 siswa (25%) tuntas belajar sedangkan 15 siswa (75%) belum tuntas belajar, karena KKM yang ditetapkan adalah 65.

Deskripsi Siklus I

Siklus I dilaksanakan pada minggu ketiga Oktober 2015. Pertemuan pertama dilaksanakan hari Selasa, 20 Oktober 2015 dan pertemuan kedua dilaksanakan hari Kamis, 22 Oktober 2015.

Dalam pembelajaran siklus I alat peraga persegi satuan digunakan oleh guru dengan cara dipasang pada sterofom berukuran 40 cm x 60 cm membentuk bangun persegi dan persegi panjang. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan langkah-langkah: (1) Apersepsi dengan cara menanyakan  macam-macam bangun datar, (2) Siswa dibagi menjadi 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 4 siswa. Tiap kelompok memegang  alat peraga yang terbuat dari  kertas  bekas undangan hajatan, dipotong persegi dengan ukuran 1 cm x 1 cm, (3) Guru membagikan lembar kerja berisi soal tentang bangun datar, (4) Guru menjelaskan cara menentukan luas bangun datar dengan menggunakan persegi satuan, (5) Setelah semua siswa paham, maka siswa dipersilahkan megerjakan lembar kerja, (6) Setelah lembar kerja selesai dikerjakan, lembar kerja dikoreksi bersama-sama dengan tujuan apabila ada kekeliruan bisa langsung diketahui letak kekeliruannya.

Setelah peneliti melakukan pembelajaran pada pertemuan kedua dilakukan tes akhir siklus I yang diikuti oleh 20 siswa kelas VI SD Negeri 2 Tlaga. Dari tes yang dilaksanakan diperoleh tertinggi 100 dan nilai terendah 34 dengan rata-rata 74. Sebanyak 14 (70%) siswa tuntas belajar dan 6 (30%) belum tuntas belajar.

Pencapaian hasil belajar pada siklus I jika dibandingkan dengan hasil belajar pada kondisi awal tersaji pada tabel di bawah ini.

 

PERBANDINGAN NILAI HASIL BELAJAR  KONDISI AWAL DENGAN KONDISI AKHIR SIKLUS  I

NILAI KONDISI AWAL KONDISI AKHIR SIKLUS  I KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
Tertinggi 82 91 10,97%
Terendah 38 34 10,52%
Rata-rata 59 74 25,42%

         Sesuai tabel di atas, diketahui nilai tertinggi mengalami peningkatan dari 82 menjadi 91, nilai terendah menurun dari 38 menjadi 43, dan nilai rata-rata meningkat dari 59 menjadi 74. Pancapaian hasil belajar pada siklus I menjadi dasar bagi peneliti untuk menetukan tindakan pada pelaksanaan siklus II.

Deskripsi Siklus II

Siklus II dilaksanakan pada minggu keempat Oktober 2015. Peneliti mengambil data melalui serangkaian tindakan selama pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan Selasa, 27 Oktober 2015 dan pertemuan kedua dilaksanakan Kamis, 29 Oktober 2015.

Pada siklus II, penggunaan peraga persegi satuan diubah dari secara kelompok menjadi secara individual. Untuk peragaan, guru memasang peraga persegi satuan pada sterofom dengan ukuran 40 cm x 60 cm dengan membentuk bangun persegi dan persegi panjang. Langkah-langkah pembelajaran yang ditempuh oleh guru sebagai berikut: (1) Apersepsi menanyakan macam-macam bangun datar, (2) Siswa secara individual menyiapkan persegi satuan berukuran 1 cm x 1 cm yang telah dibuat di rumah, (3) Guru membagikan lembar kerja yang berisi soal tentang bangun datar lain yang telah disajikan pada pembelajaran sebelumnya, (4) Guru menjelaskan cara menentukan luas bangun datar dengan menggunakan persegi satuan yang telah terpasang, (5) Setelah semua siswa paham, maka siswa dipersilahkan megerjakan lembar kerja, (6) Secara bersama-sama siswa mencocokkan hasil lembar kerja supaya apabila ada kekeliruan bisa langsung diketahui letak kekeliruannya.

Pada akhir pertemuan kedua diadakan tes secara individual yang diikuti oleh 20 siswa. Dari tes yang dilaksanakan diperoleh nilai tertinggi 100, nilai terendah 55, dan rata-rata 89.  Sebanyak 19 (95%) siswa tuntas belajar dan 1 (5%) siswa belum tuntas belajar. Pencapaian hasil belajar pada siklus I jika dibandingkan dengan hasil belajar pada kondisi awal tersaji pada tabel di bawah ini.

PERBANDINGAN NILAI HASIL BELAJAR KONDISI AKHIR SIKLUS I DENGAN AKHIR SIKLUS  II

NILAI KONDISI AKHIR SIKLUS  I KONDISI AKHIR SIKLUS  II KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
Tertinggi 91 100 9,89%
Terendah 34 55 61,76%
Rata-rata 74 89 20,27%

         Berdasar tabel di atas, diketahui nilai tertinggi mengalami peningkatan dari 91 menjadi 100, nilai terendah meningkat dari 34 menjadi 55, dan nilai rata-rata meningkat dari 74 menjadi 89. Pancapaian hasil belajar pada siklus II tetap menjadi bahan refleksi bagi guru untuk kepentingan pembelajaran lain, sehingga dapat mempertinggi proses dan hasil belajar siswa. Setelah berakhirnya siklus II diketahui perbandingan hasil belajar antara kondisi awal dengan akhir siklus II seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

 PERBANDINGAN NILAI HASIL BELAJARKONDISI AWAL DENGAN AKHIR SIKLUS II

NILAI KONDISI AWAL KONDISI AKHIR SIKLUS  II KETERANGAN
NAIK TETAP TURUN
Tertinggi 82 100 21,95
Terendah 38 55 44,73
Rata-rata 59 89 50,84

Pembahasan  

Berdasarkan data-data yang diperoleh melalui pengamatan sejak dari kondisi awal, kondisi akhir siklus I sampai dengan kondisi akhir siklus II ternyata terjadi  perubahan hasil belajar pada subyek penelitian. Pada saat kondisi awal, nilai rata-rata subjek penelitian hanya 59. Setelah peneliti melakukan tindakan, nilai rata-rata subjek penelitian berubah menjadi 74. Artinya tindakan yang dilakukan dalam penelitian mampu meningkatkan rata-rata hasil belajar sebesar 15 poin atau setara dengan 25,42%. Peningkatan hasil belajar dikarenakan penggunaan peraga persegi satuan secara berkelompok yang diterapkan oleh peneliti. Hal yang sangat jelas terlihat dari penggunaan peraga persegi satuan adalah meningkatnya motivasi, terjadinya interaksi multi arah, dan pemahaman subyek penelitian terhadap konsep luas bangun datar.

Tindakan penelitian pada siklus II dengan menggunakan peraga persegi satuan secara individual ternyata dapat meningkatkan nilai rata-rata sukjek penelitian menjadi dari 74 menjadi 89. Artinya, tindakan yang dilakukan dalam penelitian mampu meningkatkan rata-rata hasil belajar sebesar 15 poin atau setara dengan 20,27%. Kenaikan hasil belajar yang dicapai pada akhir siklus II semakin menguatkan bukti, bahwa alat persegi satuan dapat membantu meningkatkan pemahaman subyek penelitian tentang konsep luas bangun datar dalam berbagai bentuk. Perubahan hasil belajar yang dialami oleh subyek penelitian dari kondisi awal, akhir siklus I dan akhir siklus II secara lebih jelas terlihat pada diagram di bawah ini.

DIAGRAM HASIL BELAJAR KONDISI AWAL, SIKLUS I DAN SIKLUS II Dan DIAGRAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR

wiyati

Dari data-data yang terkumpul dalam Penelitian Tindakan Kelas ini terlihat dengan jelas terjadinya peningkatan hasil belajar subyek penelitian. Pada kondisi awal nilai rata-rata subjek penelitian 59. Setelah dilakukan serangkaian tindakan kelas dari siklus I sampai dengan siklus II, nilai rata-rata subjek penelitian mencapai 89. Berarti terjadi kenaikan nilai sebesar 30 poin atau setrara 50,84%.

PENUTUP

Sesuai dengan data hasil penelitian, diketahui rata-rata hasil belajar subyek penelitian meningkat dari 59 pada kondisi awal menjadi 74 pada akhir siklus I. Nila rata-rata subyek penelitian kembali meningkat dari 74 menjadi 89 pada akhir siklus II. Total kenaikan rata-rata hasil belajar dari kondisi awal sampai akhir siklus sebesar 50,84%. Dengan demikian hipotesis “Melalui penggunaan alat peraga persegi satuan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika luas bagun datar sederhana bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Tlaga Unit Pendidikan Kecamatan Tambak pada semester I tahun pelajaran 2015 /2016”, terbukti. Berkenaan dengan hasil penelitian ini, peneliti sebagai guru mengajak para guru untuk senantiasa melakukan inovasi dalam melaksanakan tugas profesionalnya, termasuk dalam hal penggunaan alat peraga.

DAFTAR PUSTAKA

Mashuri HP. 1990. Azas-azas Belajar. Semarang: IKIP Semarang Press

Sukahar dan Siti M Amin. 2001. Matematika 6 Mari Berhitung untuk Sekolah Dasar Kelas 6: Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, PT Balai Pustaka.

Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990, Psikologi Belajar. Semarang: IKIP Semarang Press.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Depdikbud, Balai Pustaka, Jakarta.

……………, 2002. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas Di SD, SDLB, SLB Tingkat Dasar dan MI,  Jakarta: Dirjen Dikdasmen, Dediknas.

BIODATA PENULIS

Nama                           : Wiyati, S.Pd.SD.

NIP                             : 19641022 198806 2 001

Pangkat, Gol Ruang    : Pembina, IV/a

Unit Kerja                   : SDN 2 Tlaga UPK Tambak Kabupaten Banyumas




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *