Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Perpangkatan Tiga dan Penarikan Akar Pangkat Tiga Melalui Teknik Pemberian Tugas Pekerjaan Rumah

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI PERPANGKATAN TIGA DAN PENARIKAN AKAR PANGKAT TIGA MELALUI TEKNIK PEMBERIAN TUGAS PEKERJAAN RUMAH BAGI PESERTA DIDIK KELAS VI  SD NEGERI 1 PURWOKERTO KIDUL SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh : Sudarno, S.Pd

ABSTRAK

Kegiatan pembelajaran matematika pada peserta didik kelas VI SD Negeri 1 Purwokerto Kidul cenderung berpusat pada guru, terutama pada pembelajaran pecahan. Hal ini mengakibatkan minat, aktivitas, dan hasil belajar peserta didik belum maksimal. Tindakan yang dilakukan untuk memecahkan permasalahan agar dapat meningkatkan minat, aktivitas dan hasil belajar peserta didik adalah dengan menerapkan model pemberian tugas rumah untuk pembelajaran materi perpangkatan tiga dan akar pangkat tiga  pada peserta didik kelas VI SD Negeri 1 Purwokerto Kidul. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 Siklus, meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan, dan tahap refleksi. Jenis data yang digunakan berupa data kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh berupa hasil tes dan non tes. Data hasil tes merupakan data hasil perolehan pretest, evaluasi pada tiap akhir pertemuan, dan tes formatif pada tiap akhir siklus. Data hasil non tes merupakan data hasil pengisian lembar angket minat belajar peserta didik, lembar pengamatan aktivitas belajar peserta didik, dan pengamatan terhadap performansi guru. Dari pengumpulan data tersebut diperoleh data kondisi awal (pra siklus), hasil siklus I dan hasil siklus II. Nilai rata-rata yang diperoleh sebelum perbaikan pembelajaran adalah 51,82 pada pra siklus. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus I nilai rata-rata kelas naik hingga mencapai 63,2 dan pada siklus II nilai rata-rata kelas naik secara signifikan yaitu 81,32.

Kata kunci:    Hasil belajar, perpangkatan tiga dan penarikan akar pangkat tiga,  teknik pemberian tugas pekerjaan rumah

PENDAHULUAN

Salah satu mata pelajaran di SD yang relevan dengan kehidupan masyarakat adalah pelajaran matematika. Oleh karena itu pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat mengharapkan prestasi hasil belajar matematika peserta didik dapat mencapai kriteria yang ideal.

Berdasarkan data nilai guru, hasil belajar matematika tentang perpangkatan tiga dan penarikan akar pangkat tiga, bagi peserta didik kelas VI SD Negeri 1 Purwokerto Kidul masih cukup rendah, yaitu kurang dari 60  dari rentang nilai 0-100. Hal ini terjadi karena pembelajaran matematika yang masih konvensional.

Bagi seorang guru, kenyataan ini tidak boleh dipandang sebagai suatu hambatan yang harus disingkiri, tetapi harus dipandang sebagai suatu tantangan yang harus dihadapi, dicari akar permasalahan dan solusinya, sehingga permasalahan dapat diselesaikan, dan prestasi belajar matematika dapat tercapai sesuai harapan. Pengembangan pembelajaran matematika dengan menggunakan teknik pemberian tugas pekerjaan rumah, merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kemampuan peserta didik memahami matematika. Penggunaan teknik pemberian tugas pekerjaan rumah dinilai dapat membantu peserta didik untuk lebih memahami matematika karena dengan pemberian tugas pekerjaan rumah peserta didik dapat berlatih banyak berbagai model soal. Dengan diterapkannya teknik pembelajaran ini, maka diharapkan hasil belajar matematika peserta didik dapat ditingkatkan.

Dari identifikasi masalah dan penyebab-penyebabnya, maka dirumuskan permasalahannya sebagai berikut: 1) Bagaimana proses pembelajaran matematika untuk meningkatkan kompetensi perpangkatan tiga dan penarikan akar pangkat tiga di kelas VI SD Negeri 1 Purwokerto Kidul semester I tahun pelajaran 2012/2013? 2) Bagaimana peningkatan aktifitas belajar matematika materi perpangkatan tiga dan penarikan akar pangkat tiga melalui pemberian tugas rumah pada  peserta didik kelas VI SD Negeri 1 Purwokerto Kidul ? 3) Seberapa besar teknik pemberian tugas pekerjaan rumah dapat meningkatkan hasil belajar  matematika tentang  perpangkatan tiga dan penarikan akar pangkat tiga dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik dalam mata pelajaran matematika bagi peserta didik Kelas VI SD Negeri 1 Purwokerto Kidul ?.

KAJIAN TEORI

Perpangkatan Tiga

Perpangkatan tiga suatu bilangan merupakan operasi perkalian bilangan tersebut dengan bilangan yang sama sebanyak tiga kali. Suatu misal 5 x 5 x 5 dapat ditulis 53, atau dibaca lima pangkat tiga. 5 merupakan bilangan pokok dan 3 merupakan pangkat atau eksponen. Hasil dari perpangkatan tiga suatu bilangan disebut bilangan kubik. (Permana dan Triyati, 2008:10).

Definisi akar pangkat tiga adalah sebagai berikut:  (dibaca akar 3 dari bilangan a) adalah bilangan yang apabila dipangkatkan dengan bilangan tiga hasilnya sama dengan a. Contohnya =    = 2  karena 23 = 8. (Budhayanti. 2007:1-6).

Prestasi Belajar

Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar maka responnya menjadi lebih baik dan sebaliknya bila tidak belajar responnya menjadi menurun. Sedangkan menurut Gagne belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapasitas baru (Dimyati dan Mujiono, 2002-10).

Belajar adalah usaha guru untuk membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan stimulus (lingkungan) dengan tingkah laku si pembelajar (Sugandi, 2006:9) Menurut Gagne (dalam Catharina 2006; 2) belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan perubahan itu tidak berasal dari proses pertumbuhan.

Menurut Edwad Walter (dalam Wanci, 2007) belajar adalah perubahan atau tingkah laku akibat pengalaman dan latihan. Belajar adalah merupakan perubahan yang relatif permanen, akibat interaksi dengan lingkungan (Woodword dalam Wanci, 2007) Jadi belajar adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang permanen pada peserta didik dengan menyediakan lingkungan sebagai stimulus.

Menurut Gagne dalam Winataputra (2008:34-35) ada delapan tahap pengolahan (proses) kognitif yang terjadi dalam belajar, yaitu: 1) perhatian, 2) pengharapan, 3) membangkitkan ingatan, 4) persepsi seleksi, 5) penyimpanan dalam memori jangka panjang, 6) respon, 7) reinforcement, 8) retrival. Aktivitas belajar yang perlu diterapkan dalam fase-fase belajar adalah: 1) membangkitkan perhatian, 2) memberitahu tujuan pembelajaran pada peserta didik, 3) merangsang ingatan pada materi prasyarat, 4) menyajikan bahan perangsang, 50 memberi bimbingan belajar, 6) menampilkan unjuk kerja, 7) memberi umpan balik, 8) menilai unjuk kerja, 9) meningkatkan retensi.

Prestasi belajar berasal dari kata “prestasi“ dan “belajar’. Prestasi berarti hasil yang telah dicapai, sedangkan pengertian belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu (Depdikbud, 1995: 14). Jadi prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru.

Prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Prestasi akademik adalah hasil belajar yang diperoleh dalam kegiatan pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian. Prestasi belajar adalah penguasan pengetahuan dan ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru (Tu’u dalam Butuk Buang 2008:42).

Berdasar hal tersebut prestasi belajar peserta didik dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) prestasi belajar peserta didik yang dicapai ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah, 2) Prestasi belajar tersebut terutama dinilai dari aspek kognitif karena bersangkutan dengan  kemampuan peserta didik dalam pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesa, dan evaluasi, 3) Prestasi belajar peserta didik dibuktikan dan ditunjukan melalui nilai atau angka dari hasil evaluasi yang dilakukan guru terhadap tugas peserta didik dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya (Tu’u dalam Butuk Buang 2008:42).

Tugas Pekerjaan Rumah (PR)  

Tugas pekerjaan rumah atau yang lazim disebut PR dalam bahasa Inggris “Homework“ yang artinya mengerjakan pekerjaan rumah. Dalam penilitian ini yang dimaksudkan dengan PR adalah sebuah tugas tertentu, baik tertulis atau lisan, yang harus dikerjakan diluar jam sekolah (terutama di rumah) berkaitan dengan pelajaran yang telah disampaikan guru untuk meningkatkan penguasaan konsep atau ketrampilan dan sekaligus memberikan penbangan.

Tugas pekerjaan rumah dinilai efektif sebagai sarana untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, karena peserta didik dapat mengulang dan mengingat materi yang diberikan oleh guru sebelumnya di sekolah tanpa adanya batasan waktu. Tugas pekerjaan rumah biasanya diberikan dalam bentuk soal-soal yang harus dikerjakan peserta didik di rumah. Dalam hal ini, peserta didik dapat berfikir lebih tenang dan santai dengan tetap konsentrasi pada tugas-tugas yang diberikan oleh guru.

Dengan mengerjakan beberapa tugas di rumah, tugas yang dianggap peserta didik sulit dan tidak bisa dikerjakan dapat ditanyakan kepada guru di sekolah untuk dibahas bersama-sama. Oleh karena itu, dengan pemberian tugas pekerjaan rumah diharapkan semua peserta didik mampu memahami materi yang telah disampaikan sebelumnya.

Hipotesis Tindakan

Melalui teknik pemberian tugas pekerjaan rumah, maka hasil belajar peserta didik kelas VI SD Negeri 1 Purwokerto Kidul Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas dalam mata pelajaran matematika khususnya materi pokok perpangkatan tiga dan penarikan akar pangkat tiga dapat ditingkatkan.

METODE PENELITIAN

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SD Negeri 1 Purwokerto Kidul  Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas. Penelitian tindakan kelas difokuskan pada peserta didik kelas VI (Enam) yang berjumlah 25 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan observasi. Alat pengumpulan data terdiri dari butir soal tes dan lembar observasi. Analisis data hasil penelitian menggunakan analisis deskriptif. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam dua siklus tindakan. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan rancangan tindakan meliputi perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi untuk mencapai perubahan yang diinginkan, yaitu target ketuntasan belajar klasikal minimal 20 dari 25 peserta didik mencapai nilai paling rendah 75 dari rentang nilai 0-100.

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Kondisi Awal 

Pada kondisi pra siklus, minat belajar peserta didik kelas VI SDN 1 Purwokerto Kidul masih rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari aktivitas kegiatan kelompok yang dilakukan oleh 25 peserta didik yang ada, keberanian bertanya pada guru hanya dilakukan oleh 2 peserta didik, keberanian maju ke depan kelas mengerjakan tugas dilakukan oleh 6 peserta didik, serta masih terdapat 3 peserta didik yang berbicara sendiri saat pembelajaran berlangsung. Dari 25  peserta didik kelas VI  hanya 9 peserta didik yang tuntas (36%) yang mendapat nilai 60 ke atas. Sedangkan 16 (64%) peserta didik yang belum tuntas dan nilai rata-rata kelasnya 55,6.

Tingkat keaktifan peserta didik dalam prasiklus atau kondisi awal masih sangat rendah karena peserta didik hanya mendengarkan penjelasan guru dan sesekali menjawab pertanyaan guru apabila guru bertanya. Kemampuan peserta didik dalam memahami penjelasan atau materi yang disampaikan guru belum maksimal karena ketika pembelajaran tidak dilengkapi dengan penggunaan media alat peraga.

Deskripsi Siklus I Penelitian

Nilai hasil evaluasi belajar peserta didik pada siklus I dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 4.1         Hasil Evaluasi Belajar Kelas VI SD 1 Purwokerto Kidul Tahun Pelajaran 2012/2013 Materi Pokok Perpangkatan Tiga dan Akar Pangkat Tiga (Siklus I)

Dari hasil siklus I tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa setelah dilakukan tindakan pada siklus I dengan menggunakan Teknik Pekerjaan Rumah ternyata terdapat peningkatan minat belajar peserta didik. Minat belajar peserta didik dikatakan meningkat ditandai dengan keaktivan peserta didik dalam kelompok yang pada kondisi awal terdapat 9 peserta didik yang terlibat aktif, dalam kegiatan kelompoknya pada saat dilakukan tindakan siklus I meningkat menjadi 22 peserta didik. Hal lain yang menjadi indikator meningkatnya minat belajar peserta didik adalah meningkatnya keberanian peserta didik untuk bertanya yang pada kondisi awal hanya seorang peserta didik saat dilakukan siklus I menjadi 7 orang peserta didik, meningkatnya keberanian peserta didik untuk maju kedepan mengerjakan tugas yang pada kondisi awal 6 peserta didik menjadi 14 peserta didik saat berlangsung tindakan siklus I, serta saat pembelajaran berlangsung yang pada kondisi awal masih terdapat 2 peserta didik dari 25 peserta didik yang berbicara sendiri, sekarang meningkat karena semua peserta didik memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh. Peningkatan minat belajar peserta didik ini juga diiringi dengan peningkatan hasil belajar peserta didik. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari rerata nilai peserta didik pada kondisi pra siklus yang hanya 55,6 dan Indikator Kinerja berdasar KKM yaitu 60, ternyata setelah dilakukan tindakan pada siklus I rerata nilai peserta didik mencapai 63,2.

Deskripsi Siklus II Penelitian

Nilai hasil evaluasi belajar peserta didik pada siklus I dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 4.2         Hasil Evaluasi Belajar Kelas VI SD 1 Purwokerto Kidul Tahun Pelajaran 2012/2013 Materi Pokok: Perpangkatan Tiga dan Akar Pangkat Tiga (Siklus II)

Setelah data-data yang ada peneliti analisis, maka dari data-data tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa setelah dilakukan tindakan pada siklus I dan siklus II dengan menggunakan teknik pemberian tugas pekerjaan rumah ternyata terdapat peningkatan minat belajar peserta didik. Minat belajar peserta didik dikatakan meningkat ditandai dengan:

1. Keaktifan peserta didik dalam kelompok pada kondisi pra siklus terdapat 9 peserta didik yang terlibat aktif dalam kegiatan kelompoknya pada saat  dilakukan tindakan siklus I meningkat menjadi 18 peserta didik, dan pada tindakan siklus II meningkat lagi menjadi 25 peserta didik.Ini berarti bahwa semua peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan di kelompoknya

2. Keberanian peserta didik untuk bertanya pada kondisi pra siklus hanya 3 orang peserta didik, saat dilakukan siklus I menjadi 7 orang peserta didik, dan pada tindakan siklus II meningkat lagi menjadi 11 orang peserta didik.

3. Keberanian peserta didik untuk maju kedepan mengerjakan tugas yang pada kondisi awal 3  peserta didik, saat berlangsung tindakan siklus I 15 peserta didik, dan pada saat tindakan siklus II menjadi 20   peserta didik.

4. Perhatian peserta didik terhadap pelajaran dengan tidak berbicara sendiri. Pada kondisi awal masih terdapat 4 peserta didik dari 25 peserta didik yang berbicara sendiri, pada pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II meningkat karena semua peserta didik memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh.

Peningkatan minat belajar peserta didik ini juga diiringi dengan peningkatan hasil belajar peserta didik. Pening katan tersebut dapat dilihat dari rerata nilai peserta didik pada kondisi pra siklus  yang hanya 55,6 dan Indikator

Kinerja berdasar KKM yaitu 60, ternyata setelah dilakukan tindakan pada siklus I rerata nilai peserta didik mencapai 63,2 yang berarti sudah melebihi indikator kinerja, dan setelah tindakan siklus II rerata nilai lebih meningkat lagi menjadi 81,32 jika dibandingkan dengan indikator kinerja pada siklus II yang telah ditetapkan sesuai KKM, yaitu 60. Dari rerata nilai tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa peserta didik yang mendapat nilai ≥ 60 pada kondisi awal adalah 15 dari 25 peserta didik, pada siklus I meningkat menjadi 18 dari 25 peserta didik, dan pada siklus II lebih meningkat lagi menjadi 25 dari 25 peserta didik. Dengan dilakukannya tindakan pada siklus I dan siklus II melalui penerapan teknik pemberian tugas pekerjaan rumah ternyata dapat meningkatkan hasil belajar, minat belajar, dan aktivitas belajar peserta didik yang telah melampaui indikator kinerja yang ditetapkan.

PEMBAHASAN

Pada siklus I peneliti sudah melaksanakan pembelajaran matematika Perpangkatan Tiga dan Akar Pangkat Tiga sesuai dengan tahap-tahap seperti pada RPP yang telah dipersiapkan, namun pelaksanaannya belum optimal. Kelemahan yang masih ada dalam siklus I adalah guru kurang memberi kesempatan pada peserta didik untuk memanipulasi media pita sehingga pemahaman konsep perkalian bilangan asli dengan pecahan biasa tidak maksimal. Peserta didik yang belum paham cenderung diam. Kegiatan diskusi kelompok belum terarah sehingga melebihi waktu yang telah ditentukan, hal ini dikarenakan keterampilan kerjasama/cooperatife masih terbatas dan masih ada peserta didik dalam kelompok yang dominan. Peserta didik yang sudah memahami konsep Perpangkatan Tiga dan Akar Pangkat Tiga enggan mengajari peserta didik yang masih belum paham. Guru kurang membimbing peserta didik dalam kelompok. Kegiatan diskusi menjadi tidak menarik. Namun juga terdapat beberapa keunggulan dalam siklus I, yaitu ketika guru menyampaikan tujuan pembelajaran Perpangkatan Tiga dan Akar Pangkat Tiga, cakupan materi, dan apersepsi agar peserta didik tertarik dan termotivasi. Penghargaan guru terhadap kelompok dengan predikat Good Team dapat meningkatkan rasa percaya diri pada kelompok dan meningkatkan motivasi untuk mencapai kesuksesan kelompok.

Beberapa hal yang diperbaiki dalam siklus I ini, yaituketertiban dan kelancaran proses pembelajaran perlu tetap dijaga, pemanfaatan media dan alat peraga lebih diefektifkan, guru perlu membimbing ketrampilan kerjasama/ cooperative, dan guru lebih memotivasi peserta didik, agar peserta didik lebih berani dan percaya diri dalam presentasi dan memberikan tanggapan.

Hasil tes menunjukkan pada pra siklus  rata-rata 55,6  pada tes awal menjadi 63,2 pada siklus I. Ketuntasan belajar  individu sebesar 36% dari 25 peserta didik pada tes awal menjadi 72% pada siklus I. Kentutasan belajar Matematika tersebut belum mencapai target yang diinginkan seperti pada indikator keberhasilan yaitu 75 % peserta didik mengalami  ketuntasan belajar individu dengan nilai ≥ 60, sehingga penelitian dilanjutkan pada siklus II.

Pelaksanaan pembelajaran matematika pada materi Perpangkatan Tiga dan Akar Pangkat Tiga dengan menerapkan pemberian tugas rumah pada siklus II ada peningkatan dibanding dengan siklus I. Guru sudah mampu memperbaiki kekurangan-kekurangan pada siklus I. Guru melakukan pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap pembelajaran. Peserta didik telah memiliki ketrampilan untuk bekerja sama dalam kelompok. Peserta didik diberi kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan keseharian dengan menggunakan alat peraga yang disiapkan. Suasana belajar lebih hidup, peserta didik antusias, bergairah dan aktif dalam kelompoknya. Kesempatan presentasi yang diberikan guru dimanfaatkan dengan baik oleh peserta didik.

Peserta didik menanggapi secara positif proses pembelajaran matematika materi Perpangkatan Tiga dan Akar Pangkat Tiga dengan menerapkan pemberian tugas rumah. Peserta didik menyatakan senang belajar matematika secara kelompok, kerjasama dalam kelompok dapat saling membantu dan dibantu sehingga dapat meningkatkan pemahaman materi. Peserta didik juga merasa senang dengan bimbingan dan penghargaan dari guru.

Hasil tes menunjukkan ada peningkatan rata-rata 63,2 pada siklus I menjadi 81,32  pada siklus II. Ketuntasan belajar individu sebesar 72% atau 18 peserta didik pada siklus I, menjadi 100% atau 25 peserta didik pada siklus II. Kentutasan belajar Matematika tersebut sudah mencapai target yang diinginkan seperti pada indikator keberhasilan yaitu 75 %peserta didik mengalami ketuntasan belajar individu dengan nilai ≥ 60.

SIMPULAN

Melalui pembelajaran dengan menerapkan teknik pemberian tugas pekerjaan rumah dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika tentang perpangkatan dan penarikan akar pangkat tiga bagi peserta didik kelas VI SD Negeri 1 Purwokerto Kidul Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas pada semester gasal tahun pelajaran 2012/2013.

Setelah diterapkannya Teknik pemberian tugas pekerjaan rumah dalam pembelajaran matematika ditemukan hal-hal penting yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran yang lainnya. Hal-hal tersebut adalah:

1. Penyajian soal-soal kontekstual pada peserta didik yang diselesaikan dengan mengoptimalkan penggunaan alat peraga ternyata menarik perhatian peserta didik yang berimbas kepada meningkatnya minat belajar dan hasil belajar peserta didik,

2. Pemberian LKS pada peserta didik ternyata dapat membimbing peserta didik melakukan suatu penemuan dengan lebih sistematis. Hal ini meningkatkan kemampuan kognitif peserta didik,

3. Pemberian latihan yang cukup dapat meningkatkan pemahaman peserta didik, sehingga peserta didik termotivasi untuk selalu aktif dalam kegiatan pembelajaran.

SARAN

1. Guru perlu meningkatkan kualitas pembelajaran pada Matematika  melalui pemberian tugas rumah, terutama untuk keaktivan peserta didik dan hasil belajar peserta didik.dalam pembelajaran matematika menggunakan pemberian tugas rumah sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika di SD.

2. Guru perlu meningkatkan pengolahan kegiatan belajar mengajar dengan melengkapi fasilitas untuk mencapai ketuntasan dalam belajar.

3. Guru perlu meningkatkan kemampuan dalam menggunakan metode, mengembangkan materi, dan menyampaikan materi, sehingga peserta didik dapat menerima materi serta tidak mengalami kesulitan dalam melakukukan pembelajaran.

4. Dalam pembelajaran Matematika sangat memerlukan keterampilan guru , sehingga sebelum melalukan pembelajaran guru hendaknya memiliki persiapan dan perencanaan yang matang supaya proses pembelajaran berjalan dengan lancar.

5. Guru hendaknya lebih inovatif dalam menerapkan metode untuk menyampaika materi.

6. Peserta didik diharapkan aktif selama kegiatan belajar mengajar dan ada interaksi antara guru dengan peserta didik atau peserta didik dengan peserta didik dalam pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Budhayanti, Clara Ika Sari. 2007. Pemecahan Masalah Matematika. Jakarta. Ditjend. Dikti.

Catharina, Tri Anni. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.

Depdikbud. 1995. Metodik Khusus Pengajaran Berhitung di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud.

Dimyati, dan Mujiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Permana, A. Dadi dan Triyati. 2008. Bersahabat Dengan Matematika 6.  Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Sugandi, Achmad, 2006.  Teori Pembelajaran. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Warnei, Gerda K. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Depdiknas.

Winataputra, Udin S. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *