PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI POKOK MENGIDENTIFIKASI BERBAGAI BANGUN DATAR SEDERHANA MENURUT SIFAT ATAU UNSURNYA MELALUI ALAT PERAGA BENDA KONKRET KELAS III SEMESTER II SD NEGERI BANJARSARI 02 NUSAWUNGU CILACAP TAHUN PELAJARAN 2014/2015

pujikan

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III pada mata pelajaran matematika materi mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya di SD Negeri Banjarsari 02 Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap Tahun pelajaran 2014/2015. Subjek penelitian siswa kelas III SD Negeri Banjarsari 02 Kecamatan Nusawungu dengan jumlah siswa 23 anak. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, siklus I dan siklus II terdiri atas dua pertemuan. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui hasil belajar siswa maka dilakukan evaluasi pada setiap akhir siklus. Data yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dilihat dari keadaan awal sebelum tindakan dan sesudah tindakan. Adapun hasil belajar yang diperoleh adalah: nilai rata-rata kelas pada tes awal 53,6, siklus I adalah 73,9, siklus II adalah 82,2. Siswa yang memperoleh nilai tidak mencapai KKM sebelum perbaikan pembelajaran sebanyak 11 siswa (61,1%), siklus I sebanyak 4 siswa (22,2%) dan pada siklus II tidak ada siswa yang tidak mencapai KKM. Sedangkan siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM sebelum perbaikan pembelajaran sebanyak 7 siswa (38,9%), siklus I sebanyak 14 siswa (77,8%) dan pada siklus II sebanyak 18 siswa (100%). Dapat disimpulkan bahwa perbaikan pembelajaran dengan Penelitian Tindakan Kelas menggunakan alat peraga benda konkret dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III pada mata pelajaran matematikamateri mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya di SD Negeri Banjarsari 02 tahun pelajaran 2014/2015.

Kata Kunci: Peningkatan, Hasil Belajar, Alat Peraga Benda Konkret

 

PENDAHULUAN

Terbatasnya alat peraga menyebabkan kemampuan siswa atau prestasi siswa kurang baik. jadi guru dalam mengajar khususnya dalam dalam pelajaran matematika diharapkan mampu menciptakan suasana yang menarik, tidak monoton dan dapat meningkatkan motivasi belajar yang selanjutkan diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai sesuai yang diharapkan.

Temuan di lapangan, ditempat peneliti bertugas menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Salah satu bagian matematika pelajaran matematika yang dirasa sulit dipahami oleh siswa pada pengoperasian Mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya. Hal ini disebabkan siswa masih kesulitan memahami pengertian tentang pengoperasian “Mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya”.

Pada materi awal pembelajaran matematika tentang “Mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya”. Hasil dari tes formatif menunjukan rendahnya tingkat penguasaan materi yang diajarkan, dari hasil ulangan matematika tentang Mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya semester dua tahun pelajaran 2014/2015 di SD Negeri Banjarsari 02  Kecamatan Nusawungu  Kabupaten Cilacap ternyata masih sangat rendah. Hal ini terbukti dari hasil ulangan matematika tentang Mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya dari 20 siswa yang mendapat nilai 70 keatas atau mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) hanya 4 siswa. Selebihnya 17 siswa memperoleh nilai di bawah 70 dan tidak mencapai KKM. Ini berarti menunjukkan untuk pelajaran matematika hanya 20% siswa yang dapat menguasai materi dan mencapai ketuntasan.

Berdasarkan identifikasi permasalahan di atas, dapat terlibat bahwa proses pembelajaran matematika pada siswa kelas III SD Negeri Banjarsari 02 Nusawungu, belum sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hal tersebut apabila dibiarkan akan berpengaruh pada hasil belajar siswa. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menerapkan model pembelajaran dengan melalui alat peraga benda konkret sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa di SD Negeri Banjarsari 02  Nusawungu.

KAJIAN PUSTAKA

Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku akibat adanya interaksi individu dengan lingkungan. Dalam arti luas mencangkup pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, sikap, dan sebagainya. Setiap perilaku ada yang tampak atau diamati, dan ada pula yang tidak dapat diamati.

Belajar adalah perubahan kemampuan dan disposisi seseorang yang dapat dipertahankan dalam suatu periode tertentu dan bukan merupakan dari proses pertumbuhan.

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang penting sebagai pengatur ilmu-ilmu pengetahuan yang lain dan banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran matematika tidak hanya ditekankan pada kemampuan berhitung, tetapi pada konsep-konsep matematika yang berkenaan dengan ide-ide yang bersifat abstrak. Setiap konsep atau prisip dapat dimengerti secara sempurna jika pada awalnya diasjikan dalam bentuk konkret.

Alat peraga adalah alat (benda) yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prisip, atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata /konkret. Alat bantu adalah (benda) yang digunakan oleh guru untuk mempermudah tugas dalam mengajar sehingga meningkatkan efektifitas serta efesien pengajaran.

Pemanfaatan persegi satuan dapat menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang dialami sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggung jawabkan.
pujikana

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka teori yang dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan untuk penelitian adalah: “melalui alat peraga benda konkret dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III mata pelajaran matematika materi mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya di SD Negeri Banjarsari 02  Nusawungu ”.

METODE PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Banjarsari 02, Nusawungu, Cilacap, tempat peneliti mengajar beralamat di Jalan Diponegoro No 35 Desa Banjarsari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2015. Subjek penelitian adalah siswa kelas III yang berjumlah 23 siswa, laki-laki 14 siswa dan perempuan 9 siswa.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data kuantitatif yaitu data tentang keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan data kualitatif yaitu data tentang hasil ulangan formatif siswa sebelum dan sesudah diadakan perbaikan.

Alat pengumpul data yaitu lembar observasi dan lembar kerja siswa (penilaian). Sumber data diambil dari hasil observasi dan hasil ulangan harian siswa.

Penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila sudah ada peningkatan prestasi belajar siswa dari kondisi awal, setelah dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan konsep menjelaskan bangun datar sederhana dan memberikan contoh-contoh dari masing-masing benda sampai selesainya tindakan. Kriteria keberhasilan dalam upaya perbaikan pembelajaran adalah proses perbaikan pembelajaran (pemahaman materi pelajaran) dinyatakan berhasil jika 75% dari jumlah siswa tuntas dalam belajar.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Prasiklus

Sebelum penelitian dilakukan, prestasi belajar siswa kelas III SD Negeri Banjarsari 02 Tahun Pelajaran 2014/2015 sangat rendah. Nilai rata – rata kelas 53,6 nilai tertinggi 70, nilai terendah 40, jumlah siswa yang tuntas 9 siswa (39,1%), jumlah siswa yang belum tuntas 14 siswa (68,9%). (Sumber: Daftar nilai kelas III SD Negeri Banjarsari 02 Tahun Pelajar 2014/2015.

Deskripsi Siklus I

Peneliti bersama supervisor 2, mempersiapkan: Rencana perbaikan pembelajaran (RPP), lembar observasi, alat peraga benda konkret, lembar kerja siswa, mensimulasikan RPP beserta skenario untuk pemantapan RPP sebelum dilaksanakan.

Kegiatan pembelajaran dimulai dengan berdoa, mengabsen siswa, dan menciptakan suasana kelas yang kondusif, agar pembelajaran berjalan dengan lancar. Menyampaikan tujuan perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan, menyampaikan langkah – langkah kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran, memberi motivasi dengan memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi  sebagai apersepsi.

Pada kegiatan inti, guru memberikan materi pembelajaran, diantaranya cara mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya. Kemudian guru memberikan pertanyaan secara klasikal dan individual. Diakhiri dengan kesimpulan atau penutup.

Sebelum pembelajaran diakhiri, siswa dan guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Pada akhir pembelajaran guru memberikan pekerjaan rumah (PR) untuk siswa. Guru juga memberikan informasi materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Pembelajaran diakhiri dengan mengucapkan salam.

Hasil pengamtaan, siswa sudah aktif mengikuti pembelajaran, prestasi belajar juga sudah meningkat. Tetapi peneliti masih kurang puas, sehingga peneliti melakukan perbaikan pembelajaran pada siklus II.

Berdasarkan uraian data di atas dapat diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM sebanyak 14 siswa (60,9%) dari 23 anak, lebih banyak dari siswa yang memperoleh nilai tidak mencapai KKM, yaitu 9 siswa (39,1%). Persentase siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM lebih banyak dari siswa yang memperoleh nilai tidak mencapai KKM, ternyata kurang dari pada persentase yang distandarkan, yaitu 14 siswa (75%) sehingga harus dilakukan pembelajaran ke siklus II. Rata-rata kelas 69,5, nilai tertinggi 100, nilai terendah 50.

Deskripsi Siklus II

Peneliti bersama supervisor 2, mempersiapkan: Rencana perbaikan pembelajaran (RPP), lembar observasi, alat peraga benda konkret, lembar kerja siswa, mensimulasikan RPP beserta skenario untuk pemantapan RPP sebelum dilaksanakan.

Kegiatan pembelajaran dimulai dengan berdoa, mengabsen siswa, dan menciptakan suasana kelas yang kondusif, agar pembelajaran berjalan dengan lancar. Peneliti menyampaikan tujuan perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan, langkah – langkah kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran, memberi motivasi dengan memberikan pertanyaan, yang berhubungan dengan materi yang akan di ajarkan sebagai apresiasi. Guru memberikan materi pembelajaran, diantaranya cara mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya. Kemudian guru memberikan pertanyaan secara klasikal dan individual. Diakhiri dengan kesimpulan atau penutupDiakhiri dengan kesimpulan atau penutup.

Siswa menulis PR di buku PR masing–masing. Peneliti berpesan agar siswa mengerjakan PR. Akhirnya peneliti bersama siswa mengakhirir pembelajaran dengan menyanyikan lagu satu-satu aku sayang ibu dan mengucapkan salam. Siswa antusias mengikuti pembelajaran, prestasi belajar juga sudah meningkat. Sebenarnya peneliti belum begitu puas, karena masih ada 2 siswa yang belum tuntas. Peneliti menyadari akan kekurangannya. Siswa yang belum tuntas semata – mata bukan kesalahan peneliti karena siswa tersebut adalah siswa dengan keterbelakangan mental. Prestasi yang diperoleh pada siklus 2, peneliti anggap sudah baik sehingga peneliti mengakhiri perbaikan pembelajaran pada siklus II. Hasil rata-rata kelas 80,7, nilai tertinggi 100, nilai terendah 60 dan siswa tuntas 100%.

PEMBAHASAN

Prestasi belajar siswa setelah di adakan perbaikan pembelajaran di kelas III, SD Negeri Banjarsari 02, Nusawungu, Cilacap pada materi cara mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya ternyata sangat meningkat. Hal ini dapat dilihat dari hasil ulangan yang mengalami peningkatan pada siklus I dan siklus II. Berikut peneliti sajikan data siswa tuntas dan belum tuntas dari ketiga langkah (Studi awal, Siklus I dan Siklus II).

Tabel 1 Hasil Penelitian

Tahap Siswa Tuntas Siswa Belum Tuntas
Jumlah Siswa Presentase Jml Siswa Presentase
Studi Awal 9 39,1% 14 60,9%
Siklus I 14 60,9% 9 39,1%
Siklus II 23 100% 0 %

Sumber: Buku Analisis Nilai kelas 1V SDN Banjarsari 02 Tahun Pelajaran 2014/2015.


pujigrafik

Grafik 1 Hasil Penelitian

Dilihat dari tabel bahwa pada kondisi awal siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM hanya 9 siswa (39,1%) dari 23 anak. Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus I siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM meningkat menjadi 14 siswa (60,9%) dari 23 anak dan menjadi 100 % pada siklus II. Sedangkan siswa yang memperoleh nilai tidak mencapai KKM pada studi awal sebanyak dari 14 anak (61,1%) dari 23 anak. Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus I menurun menjadi 9 siswa (39,1%) dan menjadi 0 % pada siklus II.

KESIMPULAN

Peneliti telah membuktikan bahwa model pembelajaran Materi Pokok Mengidentifikasi Berbagai Bangun Datar Sederhana Menurut Sifat Atau Unsurnya Melalui Alat Peraga Benda Konkret Kelas III Semester II SD Negeri Banjarsari 02 Nusawungu Cilacap. Bukti itu dapat peneliti deskripsikan, semula pada prasiklus ketuntasan belajar siswa hanya 9 siswa (39,1%). Setelah peneliti menerapkan model pembelajaran materi pokok: mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya melalui alat peraga benda konkret dua kali tindakan pembelajaran, lewat siklus i hasil belajar siswa menunjukkan ketuntasan 14 siswa (60,9%), pada siklus II naik menjadi 23 siswa (100%). Dengan kata lain tindakan ini telah berhasil meningkatkan prestasi belajar penjumlahan di kelas III SD Negeri Banjarsari 02, Nusawungu, Cilacap.

DAFTAR PUSTAKA

­­­­­­­­­­­­

Arifin dan Kartikasari. 1995. Dewi. Bimbingan dan Konseling SD dan MI. Jakarta :Dirjen Pembinaan  Kelembagaan Agama Islam. Hal. 23-24.

Arikunto, Suharsini.  2004.  Penelitian Tindakan Kelas.  Yogyakarta: Gajah Mada Press.

Arikunto, Suharsimi dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

ProsedurPenelitianSuatuPendekatanPraktik. Jakarta: RinekaCipta.

BIODATA

NAMA                        : PUJIKAN, S. Pd

NIP                             : 19591101 197911 1 004

JABATAN                  : GURU KELAS SD

GOLONGAN             : PEMBINA IV A

UNIT KERJA             : SDN KARANGPAKIS 01 UPT DISDIKPORA KECAMATAN NUSAWUNGU




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *