PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGENAI PENJUMLAHAN PADA TEMA 7 MELALUI METODE PICTURE AND PICTURE BERBANTUAN ALAT PERAGA BILANGAN DI KELAS 1 SDN PESANTUNAN 01 SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2015/2016

BIODATA

 

Nama                           : MUTRIBAH, S.Pd.SD

NIP                               : 19670222 198810 2 003

Jabatan                        : Guru Kelas

Pangkat/Gol                : Pembina / IVa

Unit Kerja                   : SD Negeri Pesantunan 01 Kec. Wanasari Kab. Brebes

E-mail                          : –

No.HP                         : 085742055744

 

Abstrak

Latar belakang penelitian ini  berdasarkan  hasil  refleksi  pembelajaran  yang  telah dilaksanakan , masih  ada  siswa  yang  memperoleh  hasil  belajar  matematika  di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (action research) yang dilaksanakan dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi  dan  refleksi. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas VI SD Negeri Pesantunan 01  UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi dan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan Metode Picture And Picture Berbantuan Alat Peraga Bilangan dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas 1. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata hasil belajar siswa yang semula pada pembelajaran pra siklus hanya mencapai 62,22 dan setelah diadakan perbaikan siklus I rata-rata nilai belajar siswa meningkat  menjadi 68,33 dan pada perbaikan pembelajaran siklus II kembali mengalami kenaikan menjadi 73,33. Ketuntasan belajar siswa juga mengalami kenaikan Hal ini dibuktikan dengan Ketuntasan belajar siswa yang semula pada pembelajaran pra siklus hanya mencapai 33,3 % dan setelah diadakan perbaikan siklus I Ketuntasan belajar siswa meningkat  menjadi 55,5 % dan pada perbaikan pembelajaran siklus II kembali mengalami kenaikan menjadi 83,3% .

 Kata Kunci: pembelajaran, Matematika, dan Metode Picture And Picture

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menyiapkan diri dalam peranannya dimasa yang akan datang. Pendidikan dilakukan tanpa ada batasan usia, ruang dan waktu yang tidak dimulai atau diakhiri di sekolah, tetapi diawali dalam keluarga dilanjutkan dalam lingkungan sekolah dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat, yang hasilnya digunakan untuk membangun kehidupan pribadi agama, masyarakat, keluarga dan negara. Merupakan suatu kenyataan bahwa pemerintah dalam hal ini diwakili lembaga yang bertanggung jawab didalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia, akan tetapi pendidikan menjadi tanggung jawab keluarga, sekolah dan masyarakat yang sering disebut dengan Tri Pusat Pendidikan.

Kegiatan pembelajaran matematika selama ini banyak dianggap oleh siswa sebagai   aktivitas   yang   tidak   menyenangkan.   Pembelajaran   yang   biasanya digunakan guru dalam pelajaran matematika adalah metode ceramah dimana guru menjelaskan materi dan siswa mendengarkan lalu mencatat materi. Siswa tidak memperhatikan  pelajaran karena merasa bosan dengan penjelasan yang diberikan apalagi  jika  pembelajarannya  kurang  menarik  mengakibatkan  siswa  cenderung tidak termotivasi, tidak fokus, dalam mengikuti pembelajaran yang pada akhirnya anak sulit untuk memahami materi. Interaksi yang terjadi hanya bersifat satu arah yaitu dari guru ke siswa sehingga keterlibatan  siswa dalam pembelajaran  kurang maksimal. Selain itu guru juga lebih mementingkan  tercapainya materi pelajaran bukan pemahaman  siswa. Pembelajaran  yang demikian  merupakan  pembelajaran yang tidak membuat siswa aktif sehingga tujuan pembelajaran akan sulit dicapai.

Keadaan  yang  demikian  juga  terjadi  dalam  pembelajaran  matematika  di kelas  I  Sekolah  Dasar  Negeri  Pesantunan 01.  Berdasarkan  hasil observasi , diperoleh   bahwa   pembelajaran   matematika   banyak  menggunakan   metode  ceramah  yang  kurang membuat  siswa  aktif.  Pembelajaran  cenderung  berpusat  pada  guru  dengan  cara guru menjelaskan materi dan siswa mencatat. Interaksi yang terjadi masih bersifat satu arah dari guru ke siswa. Selain itu guru juga hanya memberikan   penjelasan di papan tulis. Dengan demikian guru belum menggunakan media yang menarik. Sesekali  guru  melakukan  tanya  jawab  terhadap  siswa  tetapi  siswa  cenderung kurang  aktif  dan  tidak  merespon  pertanyaan  guru.  Siswa  juga  kurang  tertarik terhadap  pembelajaran  karena  merasa  bosan  dengan  penjelasan  yang  diberikan guru sehingga masih banyak siswa yang berbicara dengan teman pada saat pembelajaran berlangsung. Dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa masih bersifat individual belum melaksanakan pembelajaran secara berkelompok.

Berdasarkan pengamatan, dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika belum berhasil. Suatu pembelajaran  dikatakan  berhasil  apabila  minimal  75%  dari jumlah  siswa  dalam kelas sudah tuntas belajar. Dari 18 siswa terdapat  6  siswa atau 33% yang tuntas belajar sedangkan 12 siswa atau 67% lainnya belum tuntas belajar. Perolehan hasil belajar   yang   belum   optimal   ini   dikarenakan   siswa   masih   kesulitan   dalam memahami  menghitung dalam pembelajaran matematika.

Permasalahan   dalam  pembelajaran   tersebut   perlu   mendapat   perhatian. Sebagai   pihak  yang  terlibat   langsung   dalam  pembelajaran,   guru  diharapkan melakukan  inovasi.  Salah  satu  upaya  yang  yang  dapat  dilakukan  guru  adalah dengan menggunakan  media pembelajaran  yang mampu menumbuhkan  motivasi belajar siswa. Selain itu, penggunaan  media dalam kegiatan  pembelajaran  dapat mempermudah  guru  dalam  menyampaikan  konsep  kepada  siswa  dan mempermudah siswa dalam memahami materi.

Penggunaan  Metode Picture and picture dalam pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika. Metode Picture and picture sesuai untuk siswa sekolah dasar, karena dalam penerapannya Metode Picture and picture disesuaikan dengan karakteristik materi dan siswa. Sesuai dengan karakteristik siswa usia sekolah dasar yang masih pada tahap operasional konkret maka Metode Picture and picture dapat dijadikan sebagai media yang memudahkan siswa memahami konsep dalam berhitung. Selain itu, Metode Picture and picture juga  disesuaikan  dengan  karakteristik  siswa  yang  lain  yaitu  senang  bermain, bergerak, bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan atau memperagakan sesuatu secara langsung.

Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas peneliti ingin meningkatkan kemampuan berhitung penjumlahan siswa pada mata pelajaran Matematika di kelas I Sekolah Dasar Negeri Pesantunan 01 Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes dengan Metode Picture and Picture.

Permasalahan rendahnya pemahaman konsep matematika yang berkaitan dengan Penjumlahan Pada Tema 7 di kelas I SD Negeri Pesantunan 01 semester 2 tahun Pelajaran 2015/2016 diharapkan dapat diatasi melalui penggunaan metode Picture and picture Berbantuan Alat Peraga Bilangan sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik sesuai dengan kompetensi inti, kompetensi dasar, dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Rencana pemecahan masalah ini dalakukan melalui penelitian tindakan kelas yang diperkirakan dilakukan dalam 2 siklus kegiatan perbaikan pembelajaran. Setiap siklus mengacu pada tujuan dan permasalahan penelitian yang direncanakan. Tindakan pada siklus 2 tergantung dari analisis hasil refleksi pada siklus sebelumnya dan seterusnya sampai tercapai tujuan yang ditentukan sebelumnya dalam penelitian ini.

Berpijak dari permasalahan yang diteliti maka tujuan  penelitian ini  adalah  Untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar peserta didik pada muatan mata pelajaran Matematika Mengenai Penjumlahan Pada Tema 7 Melalui Metode Picture and picture Berbantuan Alat Peraga Bilangan Di Kelas 1 SDN Pesantunan 01 Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016; Untuk mendeskripsikan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran  Matematika Mengenai Penjumlahan Pada Tema 7 Melalui Metode Picture and picture Berbantuan Alat Peraga Bilangan Di Kelas 1 SDN Pesantunan 01 Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016.

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Hakekat Belajar dan Pembelajaran

Para ahli pendidikan memiliki pandangan yang berbeda dalam mengartikan istilah  belajar.  Namun,  perbedaan  tersebut  masih  dalam  tahap  kewajaran  yang justru   memberi   pemahaman   yang   mendalam   tentang   belajar.   Berikut   ini dikemukakan   pendapat  beberapa  tokoh  yang  menjelaskan   tentang  pengertian belajar.

Belajar menurut Daryanto (2010: 2), adalah “suatu proses usaha yang dilakukan  seseorang untuk memperoleh  suatu perubahan  tingkah laku yang baru secara keseluruhan,  sebagai hasil pengalamannya  sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Sejalan dengan pendapat tersebut Uno (2011: 54) mendefinisikan hakikat belajar adalah “kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menghasilkan suatu perubahan,  menyangkut  pengetahuan,  keterampilan,  sikap, dan nilai-nilai”. Sementara, menurut Santrock dan Yussen (1994) dalam Sugihartono, dkk (2007: 74) menyebutkan belajar sebagai “perubahan yang relatif permanen karena adanya pengalaman”.

Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran  adalah  suatu  upaya  yang  dilakukan  oleh  pendidik  dengan  cara mengatur  lingkungan  dan  sumber  belajar  sebaik-baiknya  agar  tercipta  interaksi dengan siswa sehingga terjadi proses belajar. Pembelajaran  yang dilakukan pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai.

Hakekat Matematika

Istilah “matematika” berasal dari kata Yunani “mathein” atau “manthenein” yang artinya “mempelajari”. Mungkin juga kata itu erat hubungannya dengan kata Sansekerta “medha” atau “widya” yang artinya ialah “kepandaian”, “ketahuan”, atau “inteligensi” (Andi Hakim Nasution, 1978: 12). Di bagian lain beliau berpendapat istilah “matematika” lebih tepat digunakan daripada “ilmu pasti” karena memang benarlah, bahwa dengan menguasai matematika orang akan belajar mengatur jalan pikirannya dan sekaligus belajar menambah kepandaiannya (Andi Hakim Nasution, 1987: 12).

Matematika merupakan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol, maka konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-simbol itu. Seseorang akan lebih mudah mempelajari matematika apabila telah didasari pada apa yang telah dipelajari orang itu sebelumnya. Karena untuk mempelajari suatu materi matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang itu akan mempengaruhi terjadinya proses belajar matematika tersebut.

Metode Picture and picture

Metode (method), secara harfiah berarti cara. Selain itu metode atau metodik berasal dari bahasa Greeka, metha, (melalui atau melewati), dan hodos (jalan atau cara), jadi metode bisa berarti jalan atau cara yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu.

Secara umum atau luas  metode atau metodik berarti ilmu tentang jalan yang dilalui untuk mengajar kepada anak didik supaya dapat tercapai tujuan belajar dan mengajar. Prof. Dr.Winarno Surachmad (1961), mengatakan bahwa metode mengajar adalah cara-cara pelaksanaan dari pada murid-murid di sekolah.  Pasaribu dan simanjutak (1982), mengatakan bahwa metode adalah cara sistematik yang digunakan untuk mencapai tujuan.

Metode pembelajaran adalah suatu cara atau upaya yang dilakukan oleh para pendidik agar proses belajar-mengajar pada siswa tercapai sesuai dengan tujuan. Metode pembelajaran ini sangat penting di lakukan agar proses belajar mengajar tersebut nampak menyenangkan dan tidak membuat para siswa tersebut suntuk, dan juga para siswa tersebut dapat menangkap ilmu dari tenaga pendidik tersebut dengan mudah

Salah satu model yang saat ini populer dalam pembelajaran adalah Model Pembelajaran Picture and picture ini merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, silih asih, dan silih asuh. Model pembelajaran Picture and picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.

Pembelajaran ini memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan. Model apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap pembelajaran harus memberikan sesuatu yang baru, berbeda dan selalu menarik minat peserta didik.

Sesuai dengan namanya, tipe ini menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran yaitu dengan cara memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu berpikir dengan logis sehingga pembelajaran menjadi bermakna.

Materi Bilangan

Materi bilangan adalah salah satu topik dari mata pelajaran matematika di Sekolah Dasar (SD) dan Madrasyah Ibtidaiyah (MI). Topik bilangan di SD/MI meliputi Bilangan Asli, Bilangan  Cacah, dan Bilangan Bulat yang menjadi dasar pengetahuan bagi siswa untuk dapat memahami topik-topik lain seperti Geometri dan Statistika. Oleh karena itu pembelajaran materi bilangan asli, cacah dan bulat harus jelas difahami siswa agar dapat memahami topik-topik lain.

Membelajarkan materi bilangan khususnya bilangan bulat  agar mudah difahami siswa maka desain pembelajarannya harus dilakukan secara rinci dan bertahap sesuai dengan ciri dan kerumitan materi yang diajarkan. Oleh karena itu, guru harus memahamidengan baik tentang tata cara merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berinteraksi, berkomunikasi secara intensif  baik bersama teman, guru dan bahan belajar.

METODE PENELITIAN

Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di kelas VI  SD Negeri Pesantunan 01 Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes profinsi Jawa Tengah. Dengan jumlah siswa sebanyak 18 Siswa dengan jumlah anak perempuan 10 dan laki-laki  8 anak. Waktu pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran matematika dimulai tanggal 22 Februari 2016  sampai dengan 20 Maret 2016.

Siswa SD Negeri Pesantunan 01 pada umumnya berasal dari keluarga yang bervariatif. sekitar 50% orang tua wali murid bermata pencaharian sebagai petani. Selebihnya ada yang bermata pencaharian sebagai karyawan swasta, pegawai negeri, dan ada juga yang pergi ke luar Kota.

Penelitian dilaksanakan di SDN Pesantunan 01 yang beralamat di Jl. Mayjen Sungkono RT 02 RW. 07 Desa Pesantunan Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Tenaga pendidik dan kependidikan di SDN Pesantunan 01 berjumlah 11 orang yang terdiri dari 1 Kepala Sekolah, 9 guru kelas 1  orang penjaga. Guru PNS sebanyak 5 orang sedangkan guru tidak tetap (GTT) sebanyak 6 orang. Jumlah siswa. Jumlah rombel di SDN Pesantunan 01 seluruhnya 6 kelas dengan jumlah siswa sebanyak 115 anak.

Penelitian yang dilakukan di SDN Pesantunan 01 berlangsung selama 1 bulan lebih. Dimulai dari tanggal  22 Februari 2016  sampai dengan 20 Maret 2016. Penelitian ini  dilaksanakan sampai dengan 2 siklus perbaikan pembelajaran. Jadwal  penelitian sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

Untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam pembelajaran, perlu dilakukan analisis data. Pada penelitian tindakan kelas ini, digunakan analisis deskripsi kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat mengambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa juga untuk mengetahui respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Data yang diperoleh dari hasil observasi, tes, dan dokumentasi akan dianalisis bersama dengan observer dan teman sejawat. Data tersebut akan disaring atau diseleksi terlebih dahulu. Data yang dianggap penting dan

Dalam penelitian ini terdapat dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara individu dan klasikal. Ketuntasan belajar secara individual didapat dari KKM untuk pembelajaran tematik ditetapkan sekolah yaitu siswa dinyatakan tuntas jika telah mendapatkan nilai sekurang-kurangnya 65 dan di bawah 65 dinyatakan belum tuntas. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal yaitu mengukur tingkat keberhasilan ketuntasan belajar siswa menyeluruh. Kelas dapat dikatakan tuntas jika dalam kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai nilai lebih dari atau sama dengan 65.

Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar klasikal digunakan rumus :

 

 

 

 

 

 

 

Ketuntasan belajar klasikal dinyatakan berhasil jika persentase siswa yang tuntas belajar atau siswa yang mendapat nilai ≥ 70 jumlahnya lebih besar atau sama dengan 85 % dari jumlah siswa seluruhnya.

Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan refleksi untuk melakukan perencanaan lanjutan dalam pertemuan dan siklus selanjutnya. Hasil analisis juga dijadikan sebagai bahan refleksi dalam memperbaiki rancangan pembelajaran atau bahkan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan metode pembelajaran yang tepat.

Lembar Observasi Pengamatan Kegiatan Pembelajaran adalah lembar penilaian yang natinya akan dijadikan acuan akan keberhasilan guru dalam pembelajaran yang berisi mengenai butir-butir penilaian dalam langkah pembelajaran maupun ketepatan waktu yang disesuaikan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Dengan Lembar Observasi Pengamatan Kegiatan Pembelajaran ini diharapkan dari siklus ke siklus selanjutnya ada peningkatan yang dapat dijadikan indikator keberhasilan dalam kegiatan perbaikan pembelajaran.

Validasi adalah suatu tindakan yang membuktikan bahwa suatu proses/metode dapat memberikan hasil yang konsisten sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dan terdokumentasi dengan baik. Validasi dilakukan bila ada perubahan yang mempengarui produk secara langsung (major modification), produk baru atau produk lama dengan metode baru, exiting dan legacy product. Validasi metode analisis bertujuan untuk memastikan dan mengkonfirmasi bahwa metode analisis tersebut sudah sesuai untuk peruntukannya.

Indikator kinerja dalam penelitian ini dapat dikatakan berhasil apabila siswa Kelas I SD Negeri Pesantunan 01 memiliki nilai rata-rata Hasil Belajar Matematika Pada Tema 7  lebih dari 75 Jumlah  siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 80 % dari jumlah keseluruhan siswa. Serta Analisis nilai pengelolaan Kelas oleh guru mencapai nilai 75 %.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi awal kemampuan matematika dalam penjumlahan siswa diperoleh hasil observasi penilaian matematika. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa kemampuan siswa kelas I dalam penjumlahan masih rendah. siswa masih kurang dapat memahami cara mengerjakan dan memahami isi soal.

Pada observasi pembelajaran penjumlahan, diketahui bahwa guru kurang memperhatikan dalam mengajarkan keterampilan penjumlahan. Selama ini pola pembelajaran Matematika yang digunakan masih pendekatan tradisional. Dalam hal ini guru hanya memberi kesempatan beberapa siswa untuk menghitung atau dengan menghitung tanpa alat peraga yang kemudian dilakukan dengan tanya jawab. Siswa tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan bimbingan lebih lanjut dalam penjumlahan. Dampaknya, kemampuan penjumlahan yang dimiliki siswa tidak merata dan pemahaman yang diterima siswapun tidak maksimal.

Siswa yang baru mencapai KKM sebanyak 6 anak atau sebesar 33,33 %, sedangkan siswa yang belum mencapai KKM sebanyak 12 siswa atau sebesar 66,67 %. Dengan melihat tabel di atas, maka dikelas  I SDN Pesantunan 01 memang perlu diadakan perbaikan pembelajaran agar prestasi belajar siswa dapat meningkat. Untuk lebih rincinya dapat diperhatikan pada tabel di bawah ini:

Tindakan dalam siklus I ini selama enam jam pelajaran dalam 1 kali pertemuan. Dalam 1 pertemuan  pertemuan terdiri dari 3 kegiatan yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Adapun uraian kegiatan dalam pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut

Tindakan dalam siklus II ini dilaksanakan selama enam jam pelajaran dalam 1 kali pertemuan. Dalam 1 pertemuan  pertemuan terdiri dari 3 kegiatan yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Adapun uraian kegiatan dalam pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut

Pembelajaran Matematika dalam Penjumlahan pada kelas I SD Negeri Pesantunan 01, sebelumnya hanya sebatas siswa menghitung atau menjumlahkan kemudian dilanjutkan tanya jawab seputar pertanyaan penjumlahann tanpa menggunakaan pendekatan apapun. Keadaan ini mengakibatkan siswa mudah bosan dan tidak tertarik mengikuti pelajaran. Siswa belum mampu memahami dan mengingat secara jelas materi yang disampaikan oleh guru. Sebagian besar siswa masih belum mencapai nilai KKM yang ditentukan oleh sekolah.

Pendekatan pembelajaran memiliki peranan sangat penting dalam keberhasilan suatu pembelajaran. Hal ini dikemukakan oleh Puji Santoso (2011: 2) bahwa salah satu keberhasilan suatu pembelajaran ditentukan oleh pendekatan yang digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Hal tersebut termasuk dalam pembelajaran Matematika dalam Penjumlahan. Pendekatan metode picture and picture berbantuan alat peraga bilangan merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran Matematika dalam Penjumlahan. Dengan pendekatan metode picture and picture berbantuan alat peraga bilangan pembelajaran matematika disajikan secara utuh.

Penggunaan pendekatan metode picture and picture berbantuan alat peraga bilangan dalam pembelajaran Matematika dalam Penjumlahan memudahkan siswa dalam memahami dalam penyelesaian soal penjumlahan. Siswa terlebih dahulu menyimak penjelasan guru dan menulis poin-poin penting dari penjelasan guru. Guru menegur siswa yang kurang memperhatikan pelajaran agar tidak mengganggu siswa lain. Dengan bekal penjelasan guru yang telah dicatat siswa menjadi lebih memahami sal dan cara pengerjaanya.

Pada pelakasanaan siklus II proses pembelajaran hampir sama dengan siklus I. Pada siklus II telah terjdi perbaikan-perbaikan untuk mengatasi masalah yang ada pada siklus I. Guru tidak lagi terlalu cepat dalam menyampaikan materi. Guru lebih memberikan perhatian kepada siswa-siswa yang belum mencapai KKM. Pada proses diskusi guru lebih membimbing siswa sehingga siswa lebih paham dalam mengerjakan lembar kerja siswa.

Peningkatan KKM meningkat yang kondisi pada siklus I sebesar 55,56 % meningkat menjadi 83,33 %. Melalui pendekatan metode picture and picture berbantuan alat peraga bilangan dapat meningkatkan kemampuan Matematika dalam Penjumlahan pada siswa kelas I SD Negeri Pesantunan 01. perolehan nilai siklus II

 

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang Peningkatan Hasil Belajar Matematika Mengenai Penjumlahan Pada Tema 7 Melalui Metode Picture And Picture Berbantuan Alat Peraga Bilangan Di Kelas 1 SDN Pesantunan 01 Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016 dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pembelajaran dengan menggunakan Metode Picture And Picture Berbantuan Alat Peraga Bilangan dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas 1. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata hasil belajar siswa yang semula pada pembelajaran pra siklus hanya mencapai 62,22 dan setelah diadakan perbaikan siklus I rata-rata nilai belajar siswa meningkat  menjadi 68,33 dan pada perbaikan pembelajaran siklus II kembali mengalami kenaikan menjadi 73,33.

Ketuntasan belajar siswa juga mengalami kenaikan Hal ini dibuktikan dengan Ketuntasan belajar siswa yang semula pada pembelajaran pra siklus hanya mencapai 33,3 % dan setelah diadakan perbaikan siklus I Ketuntasan belajar siswa meningkat  menjadi 55,5 % dan pada perbaikan pembelajaran siklus II kembali mengalami kenaikan menjadi 83,3% .

Dari hasil penelitian ini dapat disampaikan beberapa saran bagi pendidik. Penyampaian saran ini merupakan sumbangan pemikiran bagi peneliti untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran di SD, khususnya pembelajaran Matematika. Saran-saran  yang dikemukakan antara lain Pilihlah metode pembelajaran yang sesuai dengan karakter mata pelajaran karena Metode belajar cukup menentukan hasil dalam pembelajaran. Hendaknya siswa diberi kesempatan untuk senantiasa aktif dalam setiap pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna. Hendaknya siswa diberi kesempatan yang lebih banyak dalam mengerjakan soal-soal latihan, agar siswa terlatih dan timbul rasa percaya diri.

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Sudrajat. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik dan Model Pembelajaran. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Daryanto. (2010). Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media

Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik. Jakarta: Rineka Cipta

Hamalik, Oemar (2007).  Evaluasi Kurikulum Pendekatan Sistematika. Yayasan Al Madani Terpadu

Hernowo. (2003). Quantum Reading: Cara Cepat nan Bermanfaat Untuk Merangsang Munculnya Potensi Membaca. Bandung: Mizan Learning Center.

Kunandar. 2007. Guru Profesional : Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta : Rajagrafindo Persada.

Mulyasa. (2009). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugihartono,dkk. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press. 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *