PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS II SDN 2 KALISALAK DENGAN MENERAPKAN TEORI BELAJAR BRUNER PADA TAHUN PELAJARAN 2016/2017

BIODATA PENULIS
Nama : Tarikun,S.Pd.SD
NIP : 196901121999031006
Pangkat /gol : Penata/IIIC
Unit Kerja : SDN 2 Kalisalak UPK Kedungbanteng

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas II SDN 2 Kalisalak dengan menerapkan teori belajar Brunner tahun ajaran 2016/2017.Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model spiral  Kemmis dan MC. Tagart, langkahnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas II SDN 2 Kalisalak yang berjumlah 15 orang, 10 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Penelitian ini terdiri dari dua siklus, siklus I dua kali pertemuan, dan siklus II satu kali pertemuan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes dan observasi. Teknik analisis data berupa analisis deskriptif kuantitatif.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas II SDN 2 Kalisalak dengan menerapkan teori belajar Brunner tahun ajaran 2016/2017. Hal itu ditandai dengan meningkatnya jumlah siswa yang mencapai KKM dalam tiap siklus dan persentase aktivitas kelas. Hasil pretes menunjukkan bahwa jumlah siswa yang mencapai KKM ada 4 orang atau 26.6%. Pada siklus I jumlah  siswa yang mencapai KKM ada 12 orang atau 50%, dan pada siklus II jumlah siswa yang mencapai KKM ada 14 orang atau 93%. jumlah siswa yang mencapai KKM dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebanyak 2 siswa atau sebesar 13%.

Kata kunci : hasil belajar, matematika, dan teori belajar Brunner.

PENDAHULUAN

Matematika adalah salah satu ilmu dasar yang  berkembang pesat saat ini. Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang sangat penting, yang terorganisasi secara sistematik, juga merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logis dan selalu berhubungan dengan kegiatan atau aktivitas manusia sehari-hari.

Menurut Fruedental (Sukur, 2009:81) matematika merupakan aktifitas manusia sehari-hari. Ini berarti matematika harus dekat dengan manusia dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh manusia.

Berdasarkan BSNP (2006:35), matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran di sekolah selain dipengaruhi oleh adanya tuntutan sesuai perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan juga seringkali diawali adanya perubahan pandangan tentang hakekat matematika serta pembelajaranya.

Dari hasil pengamatan atau observasi awal dan pengalaman peneliti selama melakukan penelitian  yang dilakukan  di SDN 2 Kalisalak di temukan bahwa pendekatan yang dominan digunakan dalam proses pembelajaran ialah dengan menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas yang tidak membutuhkan keterlibatan atau keaktifan peserta didik dalam proses belajar mengajar.  Untuk mengatasi hal-hal tersebut diatas guru perlu membelajarkan matematika dengan berbagai metode yang bervariasi dan dalam hal ini peneliti mendesain suatu metode pelajaran yang bisa membuat siswa terlibat aktif dalam pelajaran matematika.

KAJIAN TEORI

Model penyajian yang dikenal dengan Teori Belajar Bruner meliputi tahap enaktif, ikonik dan simbolik. Pada tahap enaktif, penyajian melalui tindakan anak secara langsung dalam menggunakan benda (obyek). Pada tahap ini siswa memperoleh pengetahuan secara langsung melalui benda konkret. Pada tahap ikonik, penyajian melalui gambar karena pada tahap ikonik suatu pengetahuan direpresentasikan secara gambar yang menggambarkan bagian konkret yang terdapat dalam tahap enaktif. Pada tahap simbolik, anak menggunakan simbol atau lambang obyek tertentu.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2001: 895) prestasi diartikan sebagai yang telah dicapai (telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Prestasi berarti hasil usaha. Dalam hubungannya dengan usaha belajar, prestasi berarti hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar pada kurun waktu tertentu.

Istilah hasil belajar selalu digunakan dalam mengetahui keberhasilan belajar siswa di sekolah. Hasil belajar adalah upaya memberi nilai terhadap belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan pengajaran. Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2000: 723), matematika merupakan ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan.

Berdasarkan pengertian hasil belajar yang dikemukakan para ahli, maka dapat dikemukakan bahwa hasil belajar matematika adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Seorang siswa yang telah melakukan kegiatan belajar matematika, dapat diukur hasil belajarnya setelah melakukan kegiatan belajar tersebut dengan menggunakan suatu alat evaluasi.

Jadi hasil belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun waktu tertentu dan diukur dengan menggunakan alat evaluasi (tes).Dari pemaparan di atas, hasil belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari mata pelajaran matematika.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan pada semester 1tahun pelajaran 2016/2017. Tempat penelitian adalah di SDN 2 Kalisalak. Subyek penelitian adalah siswa kelas II dengan jumlah 15 anak, yang terdiri dari 5 siswa perempuan dan 10 siswa laki-laki.

Dalam penelitian tindakan kelas terdapat 2 tehnik pengumpulan data ,yaitu tehnik tes dan tehnik non tes. Tehnik pengumpulan data dengan tehnik tes terdapat 3 bentuk tes, yaitu tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan. Sedangkan tehnik pengumpulan data dengan menggunakan tehnik non tes dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah melalui wawancara, observasi, quisioner dan lain-lain.

Setelah data dalam penelitian tindakan kelas ini diperoleh maka selanjutnya dilakukan analisis data. Analisis data yang berupa nilai hasil tes belajar adalah dengan cara mencari nilai tertinggi, nilai terendah, rata-rata nilai, dan modusnya. Analisis data meliputi analisis data nilai tes pada awal, nilai tes pada siklus I, nilai tes siklus II, dan analisis diskriptis kondisi awal dengan siklus I dan siklus II.

Penelitian ini dilakukan selama 2 siklus, dan tiap-tiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu planning, acting, observing, dan reflecting.

Kriteria keberhasilan seorang siswa yang telah melakukan kegiatan belajar matematika, dapat diukur hasil belajarnya setelah melakukan kegiatan belajar tersebut dengan menggunakan suatu alat evaluasi. Jadi hasil belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun waktu tertentu dan diukur dengan menggunakan alat evaluasi (tes).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Data Awal

Sebelum peneliti melakukan kegiatan penelitian, peneliti mengumpulkan data-data yang ada di sekolah tempat peneliti melakukan kegiatan penelitian. Data-data yang dikumpulkan oleh peneliti bertujuan untuk menggali masalah yang ada di sekolah yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa dan dari data-data tersebut peneliti dapat menemukan permasalahan pokok yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa. Data-data tersebut yaitu: observasi atau pengamatan, wawancara dan hasil belajar siswa.  Untuk lebih jelas maka kondisi awal hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500 dapat dilihat pada tabel berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari tabel di atas, diketahui rata-rata nilai tes pada tahap pratindakan adalah 62.33. Dari 15 siswa, yang mendapatkan nilai yang memenuhi KKM atau tuntas adalah 3  siswa (6,6%), sedangkan 12 siswa (93,4%) mendapat nilai di bawah KKM atau belum tuntas.

Deskripsi Siklus 1

Siklus pertama dilaksanakan dalam 2x pertemuan. Tiap  pertemuan terdiri dari dua jam pelajaran (2 x 35 menit) yang dilaksanakan pada tanggal 1 September 2016, dan diikuti oleh semua peserta didik kelas II yang berjumlah 15 orang. Pada tahap ini peneliti bertindak sebagai guru model dan sekaligus sebagai observer. Hasil siswa dapat dilihat pada tabel-tabel berikut;

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari tabel di atas, diketahui bahwa rata-rata nilai tes pada siklus I adalah 71. Dari 15 siswa, yang mendapatkan nilai yang memenuhi KKM (tuntas) adalah 10  siswa (66,6%), sedangkan 5 siswa (33,33%) mendapat nilai dibawah KKM (belum tuntas). Karena siswa yang memperoleh nilai minimal 64 hanya mencapai  66,66%. Data tersebut menunjukan porsentase ketuntasan klasikal lebih kecil dari porsentase ketuntasan ideal yang di kehendaki yaitu 76%.

Deskripsi Siklus 2

Siklus kedua dilaksanakan dalam 1x pertemuan (2 x 35 menit) , yang dilaksanakan pada tanggal 15 November 2016, dan diikuti oleh semua peserta didik kelas II yang berjumlah 15 orang. Pada tahap ini peneliti bertindak sebagai guru model dan sekaligus sebagai observer ke 2. Hasil belajar pemjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500 dapat dilihat pada tabel-tabel berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari  tabel di atas rata –rata nilai test perkalian siklus II adalah 79.66. Dari 15 siswa yang mendapat nilai yang memenuhi KKM (tuntas) adalah 14 siswa (93.33%) dan yang mendapat nilai dibawah nilai KKM (belum tuntas) adalah 1 orang siswa (6.66%). Hasil tersebut menunjukan bahwa secara klasikal siswa sudah tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai minimal 64 mencapai 93,33%, data tersebut menunjukan porsentase ketuntasan klasikal lebih besar dari porsentase ketuntasan ideal yang di kehendaki yaitu 75%. Dan dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pada siklus II ini siswa sudah tuntas belajar .

PEMBAHASAN

Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan Teori Belajar Brunner pada topik penjumlahan dan pengurangan, dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SDN 2 Kalisalak Kec Kedungbanteng. Dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada topik penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500 dilakukan melalui 5 tahap yaitu merumuskan masalah, menganalisa data, menyusun konjektur atau prakiraan, menguji hasil konjektur atau perkiraan dan menyimpulkan hasil temuan.

Pada tahap merumuskan masalah, guru disini sebagai perumus masalah, dimana masalah yang dirumuskan harus berasal dari guru dan pada peningkatan prestasi belajar siswa pada topik penjumlahan dan pengurangan, perumusan masalahnya berupa pertanyaan-pertanyaan yang memudahkan siswa untuk bisa berpikir tentang penjumlahan dan pengurangan  serta dengan data secukupnya yaitu gambar atau model teori belajar Brunner dan LKPD.

Pada tahap menganalisa data dilakukan oleh siswa dengan menjawab pertanyaan yang ada dalam LKPD serta penerapan teori belajar Brunner. Pada tahap menyusun konjektur atau prakiraan, pada peningkatan prestasi belajar penjumlahan dan pengurangan dilakukan dengan mempresentasikan hasil kerja kelompok  berdasarkan jawaban LKPD. Pada tahap menguji hasil konjektur pada peningkatan prestasi belajar dilakukan dengan mengerjakan test tentang operasi penjumlahan dan pengurangan  yang menguji perkiraan mereka dan pada tahap menyimpulkan hasil temuan pada peningkatan prestasi belajar  semua kelompok dan hasil pengerjaan operasi penjumlahan dan pengurangan yang membawa mereka sampai pada kesimpulan.

Penerapan Teori Belajar Brunner pada topik penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500 dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas II SDN 2 Kalisalak kec. Kedungbanteng. Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I dan siklus II selama proses pembelajaran, respon siswa terhadap penerapan teori belajar Brunner sangat antusias, karena siswa dilatih untuk lebih berpikir kreatif, mandiri serta siswa sendiri dapat mengerjakan sendiri langkah-langkah teori belajar Brunner ini.

Pada siklus I, dari kelima aspek yaitu aspek keaktifan, kerjasama, ketepatan, mempresentasikan dan menyimpulkan materi rata-rata semua kelompok mendapat kategori baik namun pada aspek  mempresentasikan dan menyimpulkan materi semua kelompok masih mendapat kategori cukup, Brunner yang menuntut siswa untuk berpikir kreatif dan mandiri. Pada siklus II mengalami peningkatan dimana semua kelompok mendapat kategori sangat baik. Hal ini dilihat dari semua aspek rata-rata mendapat skor 4 dan pada aspek mempresentasikan.

Hal itu sejalan dengan pandangan Van Hiele (Pitadjeng, 2006:41) yang mengatakan bahwa siswa pada tahap ini sudah mulai menyadari betapa pentinganya ketepatan dari prinsip-prinsip yang melanda suatu pembuktian.Hal ini dapat dilihat dengan makin meningkatnya  hasil evaluasi belajar dimulai dari pratindakan sampai pada tahap tindakan yang meliputi siklus I dan siklus II. Dari hasil evaluasi belajar yang disajikan dalam tabel dibawah ini dapat diketahui hubungan peningkatan hasil belajar siswa. Adapun  deskripsi hasil peningkatan nilai dan ketuntasan belajar siswa kelas  II SDN 1 Kalisalak pada topik penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500 dari pratindakan,siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel.

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan tabel di atas maka dengan diterapkan teori belajar Brunner pada topik penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500. Siswa mengalami peningkatan prestasi belajar. Hal ini dapat dilihat pada hasil test pratindakan nilai terendah berada pada nilai 50, pada siklus I mengalami peningkatan dimana nilai terendah berada pada nilai 60 dan pada siklus II juga mengalami peningkatan nilai  terendah berada pada nilai 60. Pada nilai rata-rata juga mengalami peningkatan dimana pada pratindakan nilai rata-rata kelas cuma 62.33 dan pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 71.00 dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 75.66, dan ketuntasan  klasikal  siswa dari pratindakan sampai pada siklus II mengalami peningkatan, dimana pada pratindakan porsentase ketuntasan klasikal hanya mencapai 20% (3 orang) dan yang tidak tuntas mencapai 80% (12 orang).

Pada siklus I meningkat porsentase ketuntasan klasikalnya menjadi 71% (10 orang ) dan yang tidak tuntas mengalami penurunan menjadi 33% (5 orang). Pada siklus II porsentase ketuntasan klasikalnya menjadi 93.33% (14 orang) dan yang tidak tuntas  6.66% (1`orang), dan ini telah mencapai target standar ketuntasan ideal.

PENUTUP

Dalam melaksanakan pembelajaran di kelas peran guru sangatlah penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Berdasarkan  hasil penelitian, pada bab IV dapat  ditemukan beberapa hal yaitu : rata-rata nilai siswa mengalami peningkatan dari fase pratindakan sampai pada siklus II.

Pada pratindakan, rata-rata nilai siswa 62.33, pada siklus I rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 71.00 dan pada siklus II rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 75.66. Begitu pula pada porsentase klasikal mengalami peningkatan dari fase pratindakan sampai pada siklus II. Pada fase pratindakan porsentase klasikalnya cuma  3 orang siswa atau 20.00% , pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 10 orang siswa atau 66.66% dan pada siklus II mengalami peningkatan yaitu mencapai 14 orang siswa  atau 93.33 %.

DAFTAR PUSTAKA

Arif Rohman. (2010). Pendidikan Komparatif. Yogyakarta: Laksbang Grafika.Departemen Pendidikan Nasional. (2000). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Dimyati. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Elida Prayitno. (1991). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

E.T Ruseffendi. (1980). Pengajaran Matematika Modern Untuk Orang Tua Murid, Guru dan SPG. Bandung: Tarsito.

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *