PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKn MATERI NEGARA-NEGARA ASEAN MELAUI MODEL PEMBELAJARAN QUESTIONING STUDENT PADA SISWA KELAS VI

masti

Abstrak : Tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah : (1)  mengetahui hasil belajar PKn materi negara-negara ASEAN melalui metode pembelajaran questioning student di Kelas VI.(2) mengetahui aktifitas belajar PKn materi negara-negara ASEAN melalui model pembelajaran questioning  student di Kelas VI. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan pembelajaran questioning student. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI semester II tahun pelajaran 2012/2013 SD Negeri Linggapura 01 yang berjumlah 24 siswa.  Hasil penelitian nenunjukan adanya peningkatan antausias proses belajar siswa, terlihat dari antusias siswa dalam proses pembelajaran baik secara kelompok maupun individu. Demikan juga dengan hasil belajar siswa pada sebelum siklus  nilai rata-rata 45,00, siklus I nilai rata-rata 77,0 dan nilai rata-rata siklus II menjadi 90,1.

 

Kata kunci: Model pembelajaran questioning Student, negara-neraga ASEAN, aktifitas peserta didik, nilai KKM.

  1. Latar Belakang Masalah

Guru harus memiliki berbagai kemampuan yang dapat menunjang tugasnya agar tujuan pendidikan dapat dicapai. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam meningkatkan kompetensi profesinya ialah kemampuan mengembangkan metode pembelajaran. Dalam mengembangkan metode pembelajaran seorang guru harus dapat menyesuaikan antara metode yang dipilihnya dengan kondisi siswa, materi pelajaran, dan sarana yang ada. Oleh karena itu, guru harus menguasai beberapa jenis metode pembelajaran agar proses belajar mengajar berjalan lancar dan tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud.

Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, khususnya dalam pembelajaran PKn siswa lebih banyak pasif dan merasa takut bila guru mengajukan pertanyaan baik secara lisan maupun tertulis. Ini pun terjadi di SD Negeri Linggapura 01 pada kelas VI. Dari jumlah siswa 24 orang yang mengikuti post tes pada materi Negara-negara ASEAN dengan metode ceramah bervariasikan tanya jawab sederhana, ternyata hanya 9 orang yang dapat dinyatakan lulus (45%) dan sisanya sekitar 11 orang yang dinyatakan belum lulus (55%).

Data tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar PKn pada kelas VI dalam materi Negara-negara ASEAN dapat dinyatakan belum tuntas. Ketidaktuntasan tersebut terlihat dari bukti prosentase kelulusan seluruh siswa hanya mencapai 45%. Prosentase tersebut jauh dari prosentase ideal antara 80% – 100%. Bahkan prosentase kelulusan tersebut ternyata lebih kecil daripada prosentase ketidaklulusan. Oleh karena itu, untuk kasus tersebut perlu diadakan perbaikan proses pembelajaran melalui kegiatan penelitian tindakan kelas. Dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI tersebut,  guru dituntut merancang metode pembelajaran yang lebih tepat dan variatif. Berdasarkan kenyataan itulah penulis (guru) mencoba mengadakan PTK melalui penerapan model questioning Student. Penerapkan model questioning student bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar PKn materi negara-negara ASEAN di Kelas VI semester II tahun pelajaran 2012/2013 SD Negeri Linggapura 01. Dan aktifitas proses belajar PKn di kelas VI diharpkan meningkat. Berdasarkan pembatasan masalah di atas, dirumuskan permasalahan penelitian sebagai yaitu “bagaimanakah model questioning Student dapat meningkatkan hasil belajar PKn materi negara-negara ASEAN di Kelas VI semester II tahun pelajaran 2012/2013 SD Negeri Linggapura 01”

 

KAJIAN PUSTAKA

  1. Model Questioning Student

Model questioning student merupakan suatu kegiatan belajar kolaboratif yang dapat digunakan guru ditengah pelajaran sehingga dapat  menghindari cara pengajaran yang selalu didominasi oleh guru dalam PBM. Melalui kegiatan belajar secara kolaboratif (bekerja sama) diharapkan peserta didik akan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara aktif.

Hal ini sesuai pendapat Oemar Hamalik yang menyatakan bahwa proses kelompok karaktristik atau segi-segi relasi, interaksi, partisipasi, konteribusi, afeksi dan dinamika. Tiap individu berhubungan satu sama lain, sitiap individu memberikan sumbnagan pikiran, setiap individu saling medmpengaruhi, setiap individu ikut aktif, setiap individu mendapat pembagian tugas dan setiap individu mengembangkan sifat-sifat personal-sosial-moral dan karenanya kelompok senantiasa hidup berubah, berkembang, yamg berarti bersifat dinamis.

Hal ini juga diperkuat dengan pendapat Vygostsky yang menyatakan bahwa, jika hari ini anak mampu bekerja sama, esok dia akan mampu mengerjakan sesuatu secara mandiri. Kerjasama memlalui kerja kelompok di mana anak saling berinteraksi dengan bertanya dan mengemukakan pendapat adalah fondasi sukses dikemudian hari. Berbicara (talk) adalah sentral untuk pengembangan sosial dan pertumbuhan intelektual.

Tipe Question Studeny adalah salah satu tipe interaksinal dari belajar aktif (active learning) yang termasuk dalam bagian Collaborative learning (belajar dengan cara bekerja sama, melatih kemampuan mendengarkan pendap[at orang lain, peningkatan daya ingat terhadap materi yang dipelajari, melatih rasa peduli dan kerelaan untuk berbagi, meningkatkan rasa penghargaan terhadap orang lain, melatih kecerdasan emosional, mengasah kecerdasan interpesonal, memningkatkan motivasi dan suasana belajar secara kecepatan dan hasil belajar dapat lebih meningkat.

Silberman, memgungkapkan prosedur pembelajaran dengan menggunakan tepe qustion student, yaitu :

  1.  guru menjelaskan materi kepada peserta didik;
  2. guru membagikan peserta didik dalam beberapa kelompok;
  3. guru memberikan potongan kertas kepada setiap peserta didik;
  4. guru meminta peserta didik untuk memnulis satu pertanyaan apa saja yang berkait dengan materi yang telah disampaikan atau yang berhubungan dengan kelas;
  5. membagikan potongan kertas tersebut  kerseluruh kelompok searah jarum jam;
  6. ketika potongan kertas dibagikan kepada peserta didik berikutnya, dia harus membacanya dan memberikan tanda contreng pada potongan kertas itu jika berisi pertanyaan yang dihadapi yang mebacanya;
  7. ketika semua potongan kertas peserta didik kembali pada pemiliknya,tiap peserta harus meninjau semua pertanyaan kelompok;
  8. meningkatkan peserta didik untuk berbagi pertanyaan secara suka rela, sekalipun pertanyaan mereka itu tidak mendapatkan suara (tanda contreng) paling banyak;
  9. memberi respon pada pada pertanyan tersebut;
  10. mengumpulkan semua potongan kertas. Potongan kertas tersebut mungkin berisi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dijawab pada pertermuan mendadang.
  1. Hasil Belajar

Belajar adalah upaya agar seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yanng tinggi akan terjadinya perubahan atau transpormasi budaya dalam lingkungan sosialnya. (Ihat ratinah, 2007:1.8). Menurut suhito menyatakan belajar adalah suatu proses untuk mendapatkan pengetahuan atau pengalaman sehingga mampu mengubah, tingkah laku itu sukar diubah dengan modivikasi yang sama (Suhito, 2003:8).

Berdasarkan dari pengertain diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses yang dikerjakan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagi hasil latihan dan pengalaman sehingga diperoleh pengetahuan baru.

Menurut pendapat E.Wand and G. Brown hasil belajar adalah hasil atau nilai yang di dapat tentukan melalui suatu tindakan atau proses tertentu (sri Panukmi, 2004:31)

  1. Hakekat Belajar PKn

Pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya indonesia. Nilai luhur dan moral tersebut diharpkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan sehari-hari siswa, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. (Panitia PLPG UNNES Semarang 2013, 2013 : 5.i).

  1. Asia Tenggara

Asia Tenggara adalah  sebuah kawasan yang berada di bagian tenggara Benua Asia.Bagian tenggara Benua Asia ini memiliki ciri khas, yaitu wilayahnya berbentuk kepulauan. Kawasan Asia Tenggara memiliki keunikan dan keragaman budaya yang luar biasa.

Asia tenggara terdiri dari 11 negara merdeka. Negara-negara tersebut adalah Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Vitnam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Timor Leste.

  1. Proses pembentukan ASEAN

            Pembentukan ASEAN diawali oleh pertemuan tingkat mentri lima negara di Asia Tenggara. Pertemuan ini diselenggarakan pada tanggal 5-8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand. Keliama metri tersebut adalah Adam Malik (Mentri Luar Negara Indonesia), Tun Abdul Razak (Wakil Perdana Mentri Malaysia), Sir Rajaratman (Memtri Luar negeri singapura), Narcisco Ramos (Mentri Luar Negeri Filipina), dan Thanat Khoman (Mentri Luar Negeri Thailand). Kelima negara ini yang merupakan anggota pertama dan pendiri ASEAN.  Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan yang disebut Deklarasi Bangkok. Pendirian ASEAN ditetapkan setelah ditandatanganinya Deklarasi Bangkok. Penandatangan tersebut dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 1967. Dengan demikian, tanggal tersebut sekaligus merupakan tanggal berdirinya ASEAN. (Fajar Rahayuningsih, 2008:59).

METODE PENELITIAN

Metode penelitian dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksankan pada semester II tahun pelajaran 2012/2013. Terdiri dari 24 peserta didik , 14 laki-laki, dan 10 perempuan. Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus,dimana setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan, dalam setiap siklus terdiri dari 4 tahap mengadopsi spiral penelitian tindakan yaitu plan (perencanaan) , act & observe ( pelaksanaan tindakan dan observasi ) dan reflect and replan (refleksi).

Guna meningkatkan kecukupan data, maka data diambil dengan menggunakan berbagai metode dan berbagai instrumen, seperti : Observasi untuk mengamati aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran, wawancara untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan pembelajaran,Lerning log untuk menampung opini peserta didik secara jujur dalam bentuk tertulis di secarik kertas,tes berupa ulangan harian dan dokumentasi gambar.

Untuk menjamin validitas dan realibilitas data dibuat dengan mempertimbangkan prctical/validity/reliability, artinya sepanjang peserta didik peneliti tindakan (guru dan kolaboratornya) memutuskan bahwa instrumen dinyatakan valid dan reliable, maka dapat digunakan. Dengan demikian maka kepercayaan (trustwothiness) suatu hasil penelitian tindakan benar-benar dibangun oleh kulitas proses kolaborasi oleh masing-masing anggota peserta didik.(Arikunto,2009:128). Adapun teknik validasi data yang digunakan adalah teknik triangulasi, artinya dengan menggunakan berbagai sumber data, dipertemukan satu sama lain. Jika data menunjukan saling terkait dan mendukung maka data disimpulkan bahwa data tersebut valid.

Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah deskripsi komporatif dimana data yang diperoleh dibuat tabulasi, dihitung rata-ratanya untuk setiap akhir siklus, dan komporatif setiap hasil wawancara dan learning log, dilakukan untuk menyimpulkan fakta yang ada dikelas. Data hasil observasi , wawancara, learning log juga dianalisis deskriptif untuk saling dipertemukan dengan semua data kuantitatif seperti hasil ulangan harian, tugas-tugas, dan data aktifitas peserta didik. Semua data tersebut ditriangulasikan untuk menemukan simpulan hasil penelitian.

Penelitian dilakukan dalam 2 siklus, tiap siklus terdiri dari 2 pertemuan @2 x 35 menit dengan materi “Negara-negara ASEAN “. Adapun rincian kegiatan dalam siklus 1 adalah sebagai berikut : tahap perencanaan (meliputi kegiatan menentukan topik, menentukan jenis tindakan, membuat RPP, membuat instrumen penjaringan data seperti lembar observasi, lembar wawancara,lembar tes.) . Tahap berikutnya: pelaksanaan (meliputi kegiatan pembelajaran pertemuan I dan II ulangan harian akhir siklus I), dalam pembelajaran dilakuan observasi terhadap guru dan peserta didik yang dilakukan bersamaan waktunya dengan pelaksanaan tindakan oleh teman guru sejawat, demikian dengan wawancara, lerning log penilaian individu. Dan terakhir adalah refleksi yang dilakukan di akhir tiap siklus untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam pembelajaran. Refleksi terebut di tindak lanjuti dengan perbaikan yang masih mungkin dilakukan agar indikator kinerja dapat tercapai. Refleksi dilakukan dalam sebuah diskusi kolaboratif antar guru penyaji materi, wakil peserta didik dan kolaborator.

Tahapan pada siklus kedua sama pada siklus kesatu, hanya perbedaan materi tentang’ “ kerjasama di tingkat negara ASEAN” yaitu dengan melakukan perbaikan sebagai tidak lanjut refleksi atas kekuranga-kekurangan yang ditemukan di siklus satu. Keberhasilan ditetapkan bila presentase ketuntasan belajar peserta didik mencapai 85% dengan nilai KKM 75.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian
  2. Deskripsi Kondisi Awal

            Hasil belajar siswa rendah, dari 24 siswa yang mencapai ketuntasan minimal (KKM)  baru 45 % yang lainya belum. Untuk lebih jelasnya lihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1 Nilai Ulangan Kondisi  Awal

No Uraian Nilai presentase
1. Nilai Terendah 45 70,83
2. Nilai Tertinggi 76 29,17
3. Nilai Rata-rata 55,00

Sedangkan hasil pengamatan pada kondisi awal, sebelum penerapan model pembelajaran qustioning dalam pembelajaran pada siswa, aktifitas dalam pembelajaran masih kurang aktif.

  1. Deskripsi Siklus I

Peneliti telah menyusun sekenario pembelajaran dengan model pembelajaran qustioning, dengan menyusun rencana pembelajaran, menyusun instrument dan menyusun alat evaluasi. Pada tahap pelaksanaan memberi penjelasan materi, menugaskan siswa, menarik kesimpulan cara belajar dengan pendekatan pembelajaran  model pembelajaran qustioning. Ternyata hasil belajar siswa meningkat. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2 Nilai Ulangan Siklus I

No Uraian Nilai presentase
1. Nilai Terendah 65 25,00
2. Nilai Tertinggi 95 75,00
3. Nilai Rata-rata 77,00

Tabel 3 Aktifitas Belajar Siswa pada Siklus I

Derajat Aktivitas Kualitas Aktifitas Prosentase
< 70 Rendah 34,29
70-80 Sedang 65,71
81-90 Tinggi

Pada tabel di atas sudah menunjukan ada perubahan aktivitas siswa, sebelumnya  siaswa masih malas, ini sudah mulai aktif belajar, diskusi dan sebagainya.

  1. Deskripsi Siklus II

Peneliti telah merancang skenario pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran quistioning dengan menyusun rencana perbaikan pembelajaran, menyusun istrument, dan menyusunan alat evaluasi. Tahap pelaksanaan pembelajaran menjelaskan ulang materi pembelajaran tentang kerjasama negara- negara ASEAN, menugaskan siswa berdiskusi , menarik kesimpulan, melakukan penilaian selama proses berlangsung. Pada siklus II ini hasil belajar siswa lebih meningkat secara signifikan di atas KKM dan secara klasikal indicator keberhasilan 91,7%, siswa memperoleh nilai diatas KKM. Data hasil belajar dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4 Nilai Ulangan Siklus II

No Uraian Nilai presentase
1. Nilai Terendah 70 15,00
2. Nilai Tertinggi 100 85,00
3. Nilai Rata-rata 90,10

 Berikut hasil pengalaman pada siklus II, ternyata bannyak siswa yang aktif berdiskusi , menyelesaikan tugas, dan sebagainya, meskipun ada beberapa siswa yang kurang aktif.

Tabel 5 Aktifitas Belajar Siswa pada Siklus II

Derajat Aktivitas Kualitas Aktifitas Prosentase
< 70 Rendah 9,50
70-80 Sedang 20,20
81-90 Tinggi 70,30

 

  1. Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil penelitian membuktikan bahwa hasil belajar siswa pada kondisi awal rendah, karena belum ada pendekatan pembelajaran model questioning student. Setelah dilakukan  pendekatan pembelajaran model questioning student hasil belajar siswa meningkat pada siklus I mengalami kenaikan 32 % pada siklus II mengalami peningkatan secara signifikan yaitu siswa mengalami nilai diatas KKM yang ditetapkan oleh sekolah. Dengan demikian secara umum atau klasikal ketuntasan belajar 90,10% nilai diatas KKM tercapai. Hasil belajar kondisi awal, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel berikut :

Diagram batang nilai ulangan kondisi awal, siklus I dan siklus II

siklus2

Hasil belajar siswa pada kondisi awal bila dibanding dengan siklus I adalah kenaikan besar 32 %, sedangkan dibanding dari siklus I deanga siklus II meningkat 13 %, ini menunjukan bahwa dengan pendekatan pembelajaran model questioning student hasil belajar siswa khususnya belajar PKn pada materi Negar-negara ASEAN meningkat.

  1. Hasil Tindakan

Berdasarkan refleksi pembelajaran dapat disimpulkan bahwa dengan pendekatan pembelajaran model questioning student dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya belajar PKn pada materi Negar-negara ASEAN bagi siswa kelas VI SD N Lingapura 01 kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes semester II tahun pelajaran 2012/2013. Hal ini dapat di tunjukan dalam tabel di atas baik aktifitas selama proses belajar maupun hasil belajar yang diperoleh siklus perbaikan.

PENUTUP

Guru mengalami kesulitan dalam mengembangkan metode pembelajaran. Siswa lebih banyak pasif dan hasil belajarnya kurang optimal. Salah satu penyebabnya adalah ketidak tepatan penggunaan metode ceramah bervariasi tanya jawab yang monoton dan tidak variatif dalam pembelajaran PKn.

Namun setelah digunakan teknik lain untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn dengan materi negara-negara ASEAN yaitu penetapan model questioning sehingga pembelajaran PKn menjadi menarik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu sebelum penelitian  nilai rata-rata 45,00, siklus I nilai rata-rata 77,0 dan nilai rata-rata siklus II menjadi 90,1.

Adapun saran yang ingin disampaikan adalah sebagai berikut :

  1. Pelaksanaan model questioning sebagai salah satu bagian dari model pembelajaran yang perlu terus ditingkatkan penggunaannya, mengingat cukup signifikan dampak positif penerapannya terhadap peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa.
  2. Guru-guru harus selalu berusaha untuk mempelajari dan menerapkan berbagai metode dalam pembelajaran, sehingga mampu meningkatkan motivasi dan kualitas pembelajaran di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :Rineka Cipta.

Fajar Rahayuningsih.2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Surakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contectual Teaching and Learning). Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktoral Pendidikan Lanjutan Pertama.

Harminingsih. 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar.

Melvin L. Silberman, Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (terjemahan Sarjuli et al) / diakses tanggal 2 Februari 2016.

Panitia PLPG UNNES Semarang 2013. 2013. Bahan Ajar PLPG.Semarang : UNNES

Ratih,  2008. Pembelajaran Efektif. Jakarta : On line at.

Sudjana. 1992. Metoda Statistik. Bandung : Tarsito

Suharsimi Arikunto, Suhardjono dan Supardi (2006) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta; PT. Bumi Aksara

Suhito. 2003. Dasar-dasar Pembelajaran. Bandung : Remaja Karya.

Sri Panukmi .2004 ,Dasar-dasar Pembelajaran. Bandung: Remaja Karya.

Oemar Hamalik. 2007. Psikologi Belajar mengajar. Badung : Sinar Baru Algensindo.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *