PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN MEMAHAMI NILAI-NILAI PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA PADA TEMA 7 MELALUI METODE ROLE PLAYING DI KELAS 6 SDN PESANTUNAN 01 SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2015/2016

 

BIODATA

Nama                           : HARNANI, S.Pd.SD

NIP                             : 19640122 198608 2 001

Jabatan                         : Guru Kelas

Pangkat/Gol                : Pembina / IVa

Unit Kerja                   : SD Negeri Pesantunan 01 Kec. Wanasari Kab. Brebes

E-mail                          : –

No.HP                         : 087730549123

 

Abstrak: Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses  pembelajaran, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan peserta didik. Guru harus mampu  memilih metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang akan disampaikan. Peneliti mencoba mengkaji penerapan metode pembelajaran Role Playing dalam proses pembelajaran karena metode ini masih belum digunakan dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa di SD Negeri Pesantunan 01. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (action research) yang dilaksanakan dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi  dan  refleksi. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas 6 SD Negeri Pesantunan 01 01  UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi dan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan metode Role Playing dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas 6 Mengenai nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa pada tema 7. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata hasil belajar siswa yang semula pada pembelajaran pra siklus hanya mencapai 63,33 dan setelah diadakan perbaikan siklus I rata-rata nilai belajar siswa meningkat  menjadi 65,83 dan pada perbaikan pembelajaran siklus II kembali mengalami kenaikan menjadi 80,42.

Kata Kunci: pembelajaran, PKn, dan metode Role Playing

 

PENDAHULUAN

Salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran disekolah.Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan,guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam belajar mengajar,perlu pemahaman ulang.Hal tersebut dikarenakan dalam pembelajaran siswa bersifat pasif, terutama dalam pembelajaran Pkn, Dari segi pembelajaran PKn lebih menekankan pada pembelajaran satu arah dengan dominasi guru yang lebih menonjol sehingga hasilnya sudah dapat diduga, yaitu verbalisme yang selama ini sudah dianggap sangat melekat pada pendidikan umumnya di Indonesia.Tentunya hal tersebut bertentangan.

Tujuan  utama  pembelajaran PKn di Sekolah Dasar adalah memberikan pengertian pengetahuan dan pemahaman tentang Pancasila yang benar. Meletakkan dan membentuk pola pikir yang sesuai dengan Pancasila dan ciri khas serta watak ke-Indonesian.  Mengenalkan pada siswa tentang sistem pemerintahan negara dan menanamkan sikap dan karakter positif pada siswa dalam bermasyarakat dan berkewarganegaraan. Oleh karena itu sebagai upaya nyata demi kelestarian nilai-nilai luhur pancasilaterutama pada sila ke tiga Persatuan Indonesia,dapat dilakukan denganmenanamkan kepribadian yang baik yang harus dilakukan sejak dini terutama penanaman rasa cinta tanah air  dan rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa indonesia.

Untuk mencapai tujuan tersebut, guru dapat menggunakan metode metode pembelajaran yang menarik dan tepat agar tujuan dari pembelajaran PKn tersebut dapat tercapai, yaitu dengan menjadikan siswaberpikir kritis, rasionl dan kreatif. Ketiga aspek itu dapat terwujud denganketerlibatan peran aktif siswa untuk tanya jawab, berdiskusi, bermainperan atau sosiodrama dan menganalisis suatu permasalahan. Maka dalam hal ini perlu ditanamkan dan perlu ada pemahaman kepada generasi penerus bangsa, salah satunya melalui  pendidikan pancasila di sekolah dasar, oleh karena itu metode yang dapat menerapkan pembelajaran pancasila terutama sila ke tiga Persatuan Indonesia untuk meningkatkan aktivitas siswa sekolah dasar salah satunya adalah  “ menerapkan nilai nilai persatuan didalam pembelajaran Pkn melalui metode Role playing“bermain peran”di Sekolah Dasar”.

Permasalahan pembelajaran PKn yang ada di kelas 6 SD Negeri Pesantunan 01 adalah siswa masih susah memahami materi yang diajarkan oleh guru. Hal tersebut terlihat dari prestasi belajar PKn yang semakin hari semakin menurun. Dari 20 siswa kelas 6 hanya sebanyak 7 siswa yang mencapai KKM  sedangkan sisanya 13 siswa masih belum mencapai KKM yang telah ditentukan.

Permasalahan  rendahnya  pemahaman konsep mata pelajaran PKn memahami nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa pada tema 7 Di Kelas 6 SDN Pesantunan 01 Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016 diharapkan dapat diatasi melalui penggunaan melalui metode role playing sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik sesuai dengan kompetensi inti, kompetensi dasar, dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Rencana pemecahan masalah ini dalakukan melalui penelitian tindakan kelas yang diperkirakan dilakukan dalam 2 siklus kegiatan perbaikan pembelajaran. Setiap siklus mengacu pada tujuan dan permasalahan penelitian yang direncanakan. Tindakan pada siklus 2 tergantung dari analisis hasil refleksi pada siklus sebelumnya dan seterusnya sampai tercapai tujuan yang ditentukan sebelumnya dalam penelitian ini.

Berpijak dari permasalahan yang diteliti maka tujuan  penelitian ini  adalah untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar peserta didik pada muatan  mata pelajaran PKn memahami nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa pada tema 7 melalui metode role playing Di Kelas 6 SDN Pesantunan 01 Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016 dan untuk mendeskripsikan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran  mata pelajaran PKn memahami nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa pada tema 7 melalui metode role playing Di Kelas 6 SDN Pesantunan 01 Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016.

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

 

Belajar menurut Daryanto (2010: 2), adalah “suatu proses usaha yang dilakukan  seseorang untuk memperoleh  suatu perubahan  tingkah laku yang baru secara keseluruhan,  sebagai hasil pengalamannya  sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Sejalan dengan pendapat tersebut Uno (2011: 54) mendefinisikan hakikat belajar adalah “kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menghasilkan suatu perubahan,  menyangkut  pengetahuan,  keterampilan,  sikap, dan nilai-nilai”. Sementara, menurut Santrock dan Yussen (1994) dalam Sugihartono, dkk (2007: 74) menyebutkan belajar sebagai “perubahan yang relatif permanen karena adanya pengalaman”.

Pembelajaran  merupakan  suatu proses  yang melibatkan  pendidik,  peserta didik,  lingkungan  belajar  dan  sumber-sumber   belajar.  Hal  ini  sesuai  dengan Undang-Undang  RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan  Nasional Bab I Pasal 1 mendefinisikan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Sudjana (2000) dalam Sugihartono dkk (2007: 80), mengemukakan  bahwa “pembelajaran merupakan setiap upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik yang dapat menyebabkan  peserta  didik  melakukan  kegiatan  belajar”.  Sementara  Purwanto (2011:   48),   menyatakan   bahwa   pembelajaran    adalah   “usaha   mengadakan perubahan  perilaku  dengan  mengusahakan  terjadinya  proses  belajar  dalam  diri siswa”.

Untuk  mencapai  tujuan  pembelajaran  yang  optimal  dibutuhkan pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan menurut Suyatno  (2005)  dalam  Yusuf  (2011:  9)  merupakan  “pembelajaran  yang  cocok dengan suasana yang terjadi dalam diri siswa”. Kalau siswa tidak senang, mereka pasti tidak akan memperhatikan  pembelajaran.  Hasilnya, siswa akan pasif, jenuh dan tidak tertarik mengikuti pembelajaran. Untuk menanganinya, guru memerlukan seni  atau  kreativitas   tersendiri   dalam  pembelajaran.   Untuk  mencapai   tujuan pendidikan diperlukan proses pembelajaran yang baik dan bermutu.

Pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang  secara optimal.Oemar Hamalik menyatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun atas unsur-unsur manusia, materiil, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai hasi pembelajaran.Jadi untuk memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal seorang guru harus mampu mengatur dan memadukan antara unsur-unsur tersebut.Tujuan utama pembelajaran PKn di Sekolah Dasar adalah memberikan pengertian pengetahuan dan pemahaman tentang Pancasila yang benar. Meletakkan dan membentuk pola pikir yang sesuai dengan Pancasila dan ciri khas serta watak ke-Indonesian. Mengenalkan pada siswa tentang sistem pemerintahan negara dan menanamkan sikap dan karakter .

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, susunan W.J.S. Poerwadarminta, bahwa”metode adalah cara yang teratur dan berpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud”. Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer pengertian metode adalah  cara kerja yang sistematis untuk mempermudah sesuatu kegiatan dalam mencapai maksudnyaî. Dalam metodologi pengajaran agama Islam pengertian metode adalah suatu cara “seni”dalam mengajar.

Dari beberapa pengertian tersebut di atas jelaslah bahwa metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan, maka diperlukan pengetahuan tentang tujuan itu sendiri. Perumusan tujuan yang sejelas-jelasnya merupakan persyaratan terpenting sebelum seorang guru menentukan dan memilih metode mengajar yang tepat. Untuk mencapai hasil yang diharapkan, hendaknya guru dalam menerapkan metode terlebih dahulu melihat situasi dan kondisi yang paling tepat untuk dapat diterapkannya suatu metode tertentu, agar dalam situasi dan kondisi tersebut dapat tercapai hasil proses pembelajaran dan membawa peserta didik ke arah yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Proses pengajaran yang dilakukan mengacu pada tiga aspek, yaitu “penguasaan sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap tertentu sesuai dengan isi proses belajar mengajar tersebut”.  Jadi pengajaran secara bahasa yaitu hal apa yang dikatakan orang supaya diketahui. Sedangkan secara istilah para ahli pendidikan berbeda pendapat dalam memberikan definisi tentang pengajaran. Ada yang mengatakan bahwa pengertian antara pengajaran dan pendidikan itu sama, dan ada pula yang mengatakan bahwa antara pengajaran dan pendidikan itu berbeda.

Menurut H. B. Hamdani, bahwa pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari suatu generasi yang tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi muda untuk melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain, pendidikan bertujuan agar menggunakan segala kemampuan yang ada padanya, baik fisik, intelektual, emosional, maupun psikomotornya untuk menghadapi tantangan hidup dan mengatasi kesulitan-kesulitan dan hambatan-hambatan sepanjang perjalanan hidup. Dengan demikian pendidikan adalah sebagai bimbingan terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak menuju kedewasaan.

Dalam menciptakan  proses pembelajaran yang komunikatif antara guru dan siswa maka diperlukan variasi teknik, metode, dan media yang tepat dalamproses pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan pada pembelajaran Pancasila yang cocok adalah metode Role playing(bermain peran).    Pengertian role playingDalam buku Pembelajaran Kontekstual (Komalasari : 2010) Model Pembelajaran Role Playing adalah suatu tipe Model pembelajaran Pelayanan (Sercvice Learning). Model pembelajaran ini adalah suatu model penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan murid. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan murid dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benada mati.

Role playing merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah – masalah yang berkaitan dengan pembelajaran pancasila dengan  menerapkan  metode Role playing diharapkan akan  tercipta pembelajaran yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif. Pembelajaran yang efektif berarti terciptanya interaksi antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa dan antara siswa dengan materi pembelajaran.

menurut Hamalik (2012: 214) kelebihan model RolePlaying, yaitu waktu bermain peran, siswa dapat bertindak danmengekspresikan perasaan dan pendapat tanpa mengkhawatirkanmendapatkan sangsi.Bermain peran memungkinkan para siswamengidentifikasi situasi-situasi dalam dunia nyata dan dengan ide-ideorang lain.Dilihat dari kelebihan-kelebihan bermain peran yang dikemukakandi atas, dapat disimpulkan bahwa berhasilnya pemeran tersebutbergantung pada kegiatan yang dilakukan siswa terutama pada analisissebagai tindak lanjutnya.

Kerangka berfikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah  adanya kesulitan berlajar PKn yang terjadi di kelas VI SD Negeri Pesantunan  01 dan diadakan penelitian tindakan kelas dengan penerapan metode pembelajaran Role playing. Kerangka berfikir tersebut dapat digambarkan dengan bagan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan kerangka berfikir di atas, maka dapat kami rumuskan hoipotesis tindakan penelitian tindakan kelas ini yaitu dengan penerapan metode Role playing dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas VI  pada muatan mata pelajaran PKn Mengenai  Memahami Nilai persatuan dan kesatuan Pada Tema 7  SD Negeri Pesantunan 01 semester 2 tahun Pelajaran 2015/2016.

METODE PENELITIAN

Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di kelas VI  SD Negeri Pesantunan 01 Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes profinsi Jawa Tengah. Dengan jumlah siswa sebanyak 20 Siswa dengan jumlah anak perempuan 11 dan laki-laki  9 anak. Waktu pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran PKn dimulai tanggal 08 Februari 2016  sampai dengan 15 Maret 2016.

Siswa SD Negeri Pesantunan 01 pada umumnya berasal dari keluarga yang bervariatif. sekitar 50% orang tua wali murid bermata pencaharian sebagai petani. Selebihnya ada yang bermata pencaharian sebagai karyawan swasta, pegawai negeri, dan ada juga yang pergi ke luar Kota.

Penelitian dilaksanakan di SDN Pesantunan 01 yang beralamat di Jl. Mayjen Sungkono RT 02 RW. 07 Desa Pesantunan Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Tenaga pendidik dan kependidikan di SDN Pesantunan 01 berjumlah 11 orang yang terdiri dari 1 Kepala Sekolah, 9 guru kelas 1  orang penjaga. Guru PNS sebanyak 5 orang sedangkan guru tidak tetap (GTT) sebanyak 6 orang. Jumlah siswa. Jumlah rombel di SDN Pesantunan 01 seluruhnya 6 kelas dengan jumlah siswa sebanyak 115 anak.

Penelitian yang dilakukan di SDN Pesantunan 01 berlangsung selama 1 bulan lebih. Dimulai dari tanggal  08 Februari 2016  sampai dengan 15 Maret 2016. Penelitian ini  dilaksanakan sampai dengan 2 siklus perbaikan pembelajaran.

Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik atau (feedback) yang selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan.

Manfaaat Penilaian formatif adalah agar Guru dapat mengetahui sampai mana bahan pelajaran dikuasai oleh peserta didik.  Guru dapat memperkirakan hasil penilaian sumatif  Melalui penilaian formatif peserta didik akan mengetahui butir-butir soal mana yang sudah betul- betul dikuasai dan butir- butir soal mana yang belum dikuasai.

Dalam penelitian ini terdapat dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara individu dan klasikal. Ketuntasan belajar secara individual didapat dari KKM untuk pembelajaran tematik ditetapkan sekolah yaitu siswa dinyatakan tuntas jika telah mendapatkan nilai sekurang-kurangnya 65 dan di bawah 65 dinyatakan belum tuntas. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal yaitu mengukur tingkat keberhasilan ketuntasan belajar siswa menyeluruh. Kelas dapat dikatakan tuntas jika dalam kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai nilai lebih dari atau sama dengan 65.

Ketuntasan belajar klasikal dinyatakan berhasil jika persentase siswa yang tuntas belajar atau siswa yang mendapat nilai ≥ 70 jumlahnya lebih besar atau sama dengan 85 % dari jumlah siswa seluruhnya.

Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan refleksi untuk melakukan perencanaan lanjutan dalam pertemuan dan siklus selanjutnya. Hasil analisis juga dijadikan sebagai bahan refleksi dalam memperbaiki rancangan pembelajaran atau bahkan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan metode pembelajaran yang tepat

Indikator kinerja dalam penelitian ini dapat dikatakan berhasil apabila siswa Kelas VI SD Negeri Pesantunan 01 memiliki nilai rata-rata Hasil Belajar PKn Pada Tema 7  lebih dari 75 Jumlah  siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 85 % dari jumlah keseluruhan siswa. Analisis nilai pengelolaan Kelas oleh guru mencapai nilai 75 %.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi awal kemampuan PKn dalam Memahami Nilai persatuan dan kesatuan siswa diperoleh hasil observasi penilaian PKn. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa kemampuan siswa Kelas VI dalam Memahami Nilai persatuan dan kesatuan masih rendah. siswa masih kurang dapat memahami isi bacaan seperti mencari tokoh, menentukan watak tokoh, latar cerita, dan menyimpulkan bacaan yang dibaca, serta kesulitan menemukan kalimat utama dan gagasan utama.

Sebelum mengadakan penelitian, terlebih dahulu peneliti melakukan mengidentifikasi masalah yang akan sedang terjadi di Kelas VI  SD Negeri Pesantunan 01.  Peneliti melakukan penilaian pada pembelajaran Prasiklus terhadap siswa untuk mengetahui kondisi awal prestasi belajar siswa. dapat diketahui hasil prestasi belajar siswa sangat kurang dari harapan. Siswa yang baru mencapai KKM sebanyak 7 anak atau sebesar 35 %, sedangkan siswa yang belum mencapai KKM sebanyak 13 siswa atau sebesar 65 %. Dengan melihat tabel di atas, maka dikelas  VI SDN Pesantunan 01 memang perlu diadakan perbaikan pembelajaran agar prestasi belajar siswa dapat meningkat.

Tindakan dalam siklus I dilaksanakan selama enam jam pelajaran dalam 1 kali pertemuan. Dalam 1 pertemuan  pertemuan terdiri dari 3 kegiatan yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Adapun uraian kegiatan dalam pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut

perolehan rata-rata hasil pengamatan pengelolaan kelas pada Siklus I dengan perolehan skor rata-rata jumlah sebesar 40,5 poin jika dikonversikan kedalam prosentase sebesar 72,32% termasuk kedalam kategori Cukup Baik.  Aspek yang perlu diperbaiki dalam pengelolaan pembelajaran diantaranya adalah;

(1) Memotivasi Siswa ;

(2) melakukan Pengamatan;

(3) Membimbing siswa untuk melakukan Berdiskusi;

(4) Ketepatan waktu Kegiatan penutup. Aspek-aspek tersebut perlu diperbaiki kembali pada pembelajaran siklus II.

Setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus I, ternyata prestasi belajar siswa di Kelas VI mengalami kenaikan. Peneliti melakukan penilaian pada pembelajaran siklus I  terhadap siswa untuk mengetahui berapa tingkat keberhasilan perbaikan pembelajaran  pada prestasi belajar siswa. hHHhhhhasil prestasi belajar siswa mengalami kenaikan. Siswa yang telah mencapai KKM menjadi 9 anak atau sebesar 45 %, sedangkan siswa yang belum mencapai KKM sebanyak 11 siswa atau sebesar 55 %. Dengan melihat tabel di atas, maka di Kelas VI SDN Pesantunan 01 masih perlu diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II agar prestasi belajar siswa dapat semakin meningkat.

Setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus II, ternyata prestasi belajar siswa di Kelas VI mengalami kenaikan. Peneliti melakukan penilaian pada pembelajaran siklus I  terhadap siswa untuk mengetahui berapa tingkat keberhasilan perbaikan pembelajaran  pada prestasi belajar siswa.

Pembelajaran PKn dalam Memahami Nilai persatuan dan kesatuan pada Kelas VI SD Negeri Pesantunan 01, sebelumnya hanya sebatas siswa membaca bacaan dibuku siswa, dilanjutkan tanya jawab seputar pertanyaan Memahami Nilai persatuan dan kesatuann tanpa menggunakaan pendekatan apapun. Keadaan ini mengakibatkan siswa mudah bosan dan tidak tertarik mengikuti pelajaran. Siswa belum mampu memahami dan mengingat secara jelas materi yang disampaikan oleh guru. Sebagian besar siswa masih belum mencapai nilai KKM yang ditentukan oleh sekolah.

Pendekatan pembelajaran memiliki peranan sangat penting dalam keberhasilan suatu pembelajaran. Hal ini dikemukakan oleh Puji Santoso (2011: 2) bahwa salah satu keberhasilan suatu pembelajaran ditentukan oleh pendekatan yang digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Hal tersebut termasuk dalam pembelajaran PKn dalam Memahami Nilai persatuan dan kesatuan. Pendekatan metode Role Playing merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran PKn dalam Memahami Nilai persatuan dan kesatuan. Dengan pendekatan metode Role Playing pembelajaran PKn disajikan secara utuh.

Penggunaan pendekatan metode Role Playing dalam pembelajaran PKn dalam Memahami Nilai persatuan dan kesatuan memudahkan siswa dalam memahami dalam penyelesaian soal Memahami Nilai persatuan dan kesatuan. Siswa terlebih dahulu menyimak penjelasan guru dan menulis poin-poin penting dari penjelasan guru. Guru menegur siswa yang kurang memperhatikan pelajaran agar tidak mengganggu siswa lain. Dengan bekal penjelasan guru yang telah dicatat siswa menjadi lebih memahami sal dan cara pengerjaanya.

Melalui pendekatan metode Role Playing dapat meningkatkan kemampuan PKn dalam Memahami Nilai persatuan dan kesatuan pada siswa Kelas VI SD Negeri Pesantunan 01. perolehan nilai siklus I dapat dilihat pada grafik berikut ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siklus II

Pada pelakasanaan siklus II proses pembelajaran hampir sama dengan siklus I. Pada siklus II telah terjdi perbaikan-perbaikan untuk mengatasi masalah yang ada pada siklus I. Guru tidak lagi terlalu cepat dalam menyampaikan materi. Guru lebih memberikan perhatian kepada siswa-siswa yang belum mencapai KKM. Pada proses diskusi guru lebih membimbing siswa sehingga siswa lebih paham dalam mengerjakan lembar kerja siswa.

Pada siklus II siswa lebih terkondisikan untuk belajar. Siswa lebih tenang dan fokus dalam mengikuti penyampaian materi yang disampaikan guru. Tidak lagi terlihat siswa yang mengobrol pada saat guru menyampaikan materi. Pada proses diskusi kelompok siswa terlihat lebih aktif. Siswa juga lebih berani berbicara di depan kelas memaparkan hasil diskusi kelompok.

Peningkatan KKM meningkat yang kondisi pada siklus I sebesar 55,56 % meningkat menjadi 83,33 %. Melalui pendekatan metode Role Playing dapat meningkatkan kemampuan PKn dalam Memahami Nilai persatuan dan kesatuan pada siswa Kelas VI SD Negeri Pesantunan 01.

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I pada mata pelajaran PKn melalui pendekatan metode Role Playing diketahui dapat meningkatkan hasil prestasi belajar siswa. Pada siklus I Siswa yang telah mencapai KKM menjadi 9 anak atau sebesar 45 %, sedangkan siswa yang belum mencapai KKM sebanyak 11 siswa atau sebesar 55 %. Dengan melihat hasil perolehan siklus I, maka di Kelas VI SDN Pesantunan 01 masih perlu diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II agar prestasi belajar siswa dapat semakin meningkat.

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II pada mata pelajaran PKn melalui pendekatan metode Role Playing diketahui dapat meningkatkan hasil prestasi belajar siswa. Pada siklus II Siswa yang telah mencapai KKM sebanyak 18 anak atau sebesar 90 %, sedangkan siswa yang belum mencapai KKM hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 20 %. Dengan melihat hasil tersebut, maka Perbaikan Pembelajaran Siklus II diKelas VI SDN Pesantunan 01 dapat dikatakan berhasil sehinggga tidak perlu diadakan perbaikan pembelajaran selanjutnya.

Pembelajaran PKn melalui pendekatan metode Role Playing dapat meningkatkan aktivitas dan perhatian siswa. Aktivitas siswa dapat dilihat dari keterlibatan siswa dalam berbagai kegiatan pembelajaran PKn dalam Memahami Nilai persatuan dan kesatuan. Perhatian siswa meningkat pada saat guru menjelaskan dan pada saat siswa kerja kelompok.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan dan saran dalam bab ini disajikan berdasarkan temuan dan pembahasan pada bab sebelumnya. Simpulan yang diambil sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan pada bab sebelumya :

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang Peningkatan Hasil Belajar PKn memahami nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa pada tema 7 melalui metode role playing di kelas 6  SDN Pesantunan 01 Semester 2  Tahun Pelajaran 2015/2016 dapat disimpulkan sebagai berikut:

Melalui Metode metode role playing Siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik karena siswa terlibat langsung dalam proses penanaman konsep.

Pembelajaran dengan menggunakan metode role playing dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata hasil belajar siswa yang semula pada pembelajaran pra siklus hanya mencapai 62,0 dan setelah diadakan perbaikan siklus I rata-rata nilai belajar siswa meningkat  menjadi 65,5 dan pada perbaikan pembelajaran siklus II kembali mengalami kenaikan menjadi 76,0.

Ketuntasan belajar siswa juga mengalami kenaikan Hal ini dibuktikan dengan Ketuntasan belajar siswa yang semula pada pembelajaran pra siklus hanya mencapai 35 % dan setelah diadakan perbaikan siklus I Ketuntasan belajar siswa meningkat  menjadi 45 % dan pada perbaikan pembelajaran siklus II kembali mengalami kenaikan menjadi 90% .

Hendaknya siswa diberi kesempatan untuk senantiasa aktif dalam setiap pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna. Sebagai contoh dalam kegiatan pembelajaran PKn banyak materi yang perlu langsung dipraktikkan.

Hendaknya siswa diberi kesempatan yang lebih banyak dalam mengerjakan soal-soal latihan, agar siswa terlatih dan timbul rasa percaya diri.

 

DAFTAR PUSTAKA

Andi Hakim Nasution. (1978). Landasan Matematika. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Azhar Arsyad. (2002). Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Suryosubroto. (2002). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas. (2008). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. Jakarta: Dirjen Manejemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik. Jakarta: Rineka Cipta

Hamalik, Oemar (2007).  Evaluasi Kurikulum Pendekatan Sistematika. Yayasan Al Madani Terpadu

Herman Hudojo. (1988). Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Kunandar. 2007. Guru Profesional : Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta : Rajagrafindo Persada.

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *