PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN METODE COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW DALAM MATA PELAJARAN IPS PADA SISWA KELAS V DI SD NEGERI KERSANA 01 KECAMATAN KERSANA KABUPATEN BREBES

duriah

ABSTRAK

Dalam menyampaikan materi pembelajaaran sering kali kita menghadapi berbagai kendala khususnya dalam memilih metode agar pembelajaran tidak  membosankan. Pembelajaran yang membosankan ini tentu akan terus berlangsung apabila para guru khususnya guru kelas hanya menggunakan metode yang konvensional saja, tidak melakukan inovasi dalam kegiatan pembelajarannya. Minat siswa khususnya siswa kelas 5 terhadap Mata Pelajaran IPS masih kurang, menyebabkan hasil belajarnyapun kurang memuaskan yaitu sekitar 50 % siswa belum mencapai KKM (Kriteri Ketuntasan Minimal). Usaha pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan metode cooperative learning tipe jigsaw. Pembelajaran tersebut dibagi dalam sejumlah kegiatan, yaitu; (1) pendahuluan, yang meliputi pemberian motivasi berkaitan dengan peningkatan hasi belajar dan pemahaman serta pengenalan (penjelasan) tentang metode cooperative learning tipe jigsaw, (2) kegiatan inti, yaitu pembagian kelompok dan kartu soal dengan membentuk kelompok tim ahli, dan (3) penutup, yaitu evaluasi atau pengukuran hasil belajar siswa.Berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran yang menggunakan metode cooperative learning tipe jigsaw dapat disimpulkan bahwa: (1) hasil belajar Siswa pada Siklus I mengalami peningkatan, yang dibuktikan dengan siswa yang berhasil mencapai nilai KKM, meningkat menjadi 18 orang atau  75 %   atau terdapat peningkatan sebesar 25 % dari sebelumnya, (2) hasil belajar siswa pada siklus II mengalami peningkatan dari hasil belajar pada siklus I yang dibuktikan dengan siswa yang berhasil mencapai nilai KKM meningkat menjadi 21 orang atau  87,5 %   atau terdapat peningkatan sebesar 12,5 % dari sebelumnya.

Kata kunci: hasil belajar, metode cooperative learning tipe jigsaw, mata pelajaran IPS

 

PENDAHULUAN

Seorang guru yang profesional dituntut untuk memiliki berbagai  kompetensi, seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa guru sebagai penggagas perubahan di tengah masyarakat, dituntut untuk menguasai kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Oleh karena itu seorang guru harus berusaha memikul tanggung jawab besar terhadap pembelajaran khususnya kepada peserta didik demi meningkatkan pengetahuan dan hasil pengalaman belajarnya. Sebagai agen pembelajaran guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar dan  pendidik saja, tetapi harus pula memiliki kemampuan dalam memilih metode pembelajaran  yang paling akomodatif dan kondusif  untuk siswa , sehingga siswa dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara efektif dan efisien.

Namun dalam kenyataannya guru seringkali mendapat kendala bagaimana memilih dan menggunakan metode dalam pembelajaran, metode dan strategi yang bagaimana yang  paling tepat untuk membahas satu materi pembelajaran, atau metode apakah yang paling diminati oleh sebagian besar siswa, sehingga tercipta pembelajaran yang “PAIKEM GEMBROT” yaitu Pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Edukatif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot.

Penulis sebagai guru kelas 5 sering kali menghadapi berbagai kendala dalam menyampaikan materi pembelajaran, khususnya dalam memilih metode agar pembelajaran tidak  membosankan. Pembelajaran yang membosankan ini tentu akan terus berlangsung apabila para guru khususnya guru kelas hanya menggunakan metode yang konvensional saja, tidak melakukan inovasi dalam kegiatan pembelajarannya. Apalagi kenyataan yang penulis hadapi saat ini minat siswa khususnya siswa kelas V terhadap mata pelajaran IPS masih kurang yang menyebabkan hasil belajarnyapun kurang memuaskan yaitu sekitar 50 % siswa belum mencapai KKM (Kriteri Ketuntasan Minimal).

Berdasarkan pada kenyataan tersebut, penulis menganggap sangat perlu  melakukan penelitian berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mencoba menggunakan metode pembelajaran koperatif atau Cooperative Learning yang sedang gencar disosialisasikan sebagai alternatif dan berharap dengan metode ini bisa meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu metode yang akan dicoba adalah Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw.

Berdasarkan hal tersebut di atas, masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah “Apakah penggunaan metode cooperative learning tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPS di SD Negeri Kersana 01 Kecamatan Kersana Kabupaten Brebes. Adapun tujuan penelitian makalah ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPS dengan menggunakan metode cooperative learning tipe jigsaw di SD Negeri Kersana 01 Kecamatan Kersana Kabupaten Brebes”.

KAJIAN PUSTAKA

Menurut R.Gagne seperti yang dikutip oleh Slameto dalam bukunya Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya, memberikan dua definisi belajar,  yaitu: 1) Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku; 2) Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.

Menurut W.J.S Purwadarminto (1987 :767) ”Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik-baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal-hal yang dikerjakan atau dilakukan”. Sehubungan dengan hasil belajar, Poerwanto (1986 : 28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “ hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport”.

Sedangkan menurut S. Nasution (1996 : 17) “Prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi atau hasil belajar adalah tingkat keberhasilan yang diperoleh seseorang dari kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai.

Metode berasal dari bahasa Yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Metode mengajar mampu membangkitkan motivasi, minat atau gairah belajar siswa bahkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008 : 740) metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki. Menurut Sudjana dalam Adang Heriawan dkk.(2012:73) Metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungannya dengan siswa  pada saat berlangsungnya pengajaran, peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara yang digunakan oleh seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan.

Cooperative Learning adalah metode pembelajaran yang menekankan kepada proses kerja sama dalam suatu kelompok yang biasa terdiri dari 3 sampai 5 orang siswa untuk mempelajari suatu materi akademik yang spesifik sampai tuntas. (Adang Heriawan dkk,2012:109).

Menurut Slavin dalam Isjoni (2010 : 12) Cooperative Learning adalah model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen.

Inti dari pembelajaran kooperatif menurut Robert E.Slavin yang diterjemahkan oleh Narulita Yusron (2010 : 8) “Dalam metode pembelajaran kooperatif, para siswa akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru.”

Menurut Johnson &Johnson dalam Isjoni (2010 : 17) Cooperataive Learning adalah mengelompokkan siswa di  dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja bersama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Metode Coopetatif Learning adalah salah satu metode pembelajaran yang mengutamakan kerjasama kelompok dalam menyelesaikan materi pembelajaran, memecahkan masalah atau menyelesaikan sebuah tujuan.

Ada beberapa tipe dalam model pembelajaran Cooperative Learning diantaranya:

1)   Jigsaw

2)   Student Team Achievement Division (STAD)

3)   Team Game Tornament (TGT)

4)   Number Head Together (NHT)

5)   Group Investigation

6)   Team Assisted Individualization (TAI)

Pembelajaran Kooperatif JIGSAW merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal dengan cara membentuk tim ahli. Dalam metode ini terdapat tahap-tahap dalam penyelenggaraannya, yaitu  :

1)   Pembentukan kelompok siswa yang terdiri dari 4-6 orang sebaiknya heterogen.

2)   Setiap anggota kelompok ditugaskan untuk mempelajari materi tertentu

3)   Setiap anggota kelompok yang mempelajari materi yang sama bertemu dalam satu kelompok baru membentuk  ‘Tim Ahli’. Selanjutnya materi tersebut didiskusikan, dipelajari apabila menemukan masalah dibahas bersama.

4)   Setelah masing-masing perwakilan dalam tim ahli tersebut dapat menguasai materi yang ditugaskannya, kemudian masing-masing perwakilan tersebut kembali ke kelompok masing-masing atau kaelompok asalnya.

5)   Masing-masing anggota tersebut saling menjelaskan kepada teman satu kelompoknya.sehingga teman dalam satu kelompoknya dapat memahami materi yang ditugaskan guru.

6)   Siswa diberi tes/kuis untuk mengetahui apakah siswa sudah dapat memahami suatu materi atau belum.

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yaitu salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah yang disampaikan secara terpadu, terdiri dari materi pelajaran Geografi, Sejarah, Ekonomi, dan Sosiologi.

HASIL PENELITIAN

Tabel 1 Deskripsi Kondisi Awal

No Aspek Penelitian Sebelum Tindakan Pertemuan 1 Refleksi
1 Minat Belajar  dan Aktivitas Siswa Kurang ·         Guru sangat perlu memberi motivasi kepada siswa

·         Segera sosialisasikan PAIKEM

·         Harus mengevaluasi langkah-langkah pembelajaran

2 Aktivitas Guru Cukup ·         Sebaiknya menuliskan tujuan pembelajaran

·         Sampaikan tujuan pembelajaran secara bertahap

3 Kendala yang dihadapi ·         Masih ada siswa yang datang terlambat

·         Terdapat siswa yang mengobrol

·         Terdapat siswa yang mengerjakan tugas mata pelajaran lain

·         Terdapat siswa yang diam saja

o    Guru sangat perlu mengubah metode dalam pembelajaran

o    Perlu mengevaluasi langkah-langkah pembelajaran yang lebih efektif

o    Segera sosialisasikan PAIKEM

4 Hasil  Tes ·         Nilai terendah 50 ada 6 orang = 25 %

·         Nilai 60 ada 8 orang = 33,33 %

·         Nilai 70 ada 4 orang = 16,67 %

·         Nilai 80 ada 3 orang = 12,5 %

·         Nilai 90 ada 2 orang = 8,33 %

·         Nilai 100 ada 1 orang = 4.17 %

· Segera mengubah metode Dicoba metode jigsaw
5 Ketuntasan Belajar Klasikal Dari 24 orang siswa yang tuntas 6 orang= 25 % · Perlu kerja keras untuk meningkatkanketuntasan

 

Tabel 2 Hasil Pengamatan tiap Aspek pada Siklus I

No. Aspek Penelitian Pertemuan 2 Refleksi
1 Aktivitas Siswa 89,19 % Orang siswa tidak aktif diskusi dalam tim ahli ·         Masih bingung dengan metode jigsaw

·         Beri  kesempatan siswa untuk bertanya .

2 Aktivitas Guru Cukup ·         Agar menjelaskan kembali cara-cara jigsaw

·         Guru agar menyampaikan tujuan pembelajaran

·         Guru kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya

3 Kendala yang dihadapi ·         Kekurangan waktu

·         Siswa belum terbiasa dengan metode Jigsaw

·         Menyiapkan tempat duduk menyita waktu

·         Pembagian kelompok terlalu banyak

·         Kelompok Tim Ahli anggotaya terlalu banyak

·         Diskusi Tim Ahli tidak efektif

·         Masih ada beberapa siswa tidak mengikuti pembelajaran

·         Penentuan materi yang dibahas terlalu banyak.

·         Siswa tidak sempat presentasi dan membuat kesimpulan

4 Hasil Belajar ·         Nilai terendah 65 ,ada 2 orang = 8,33 %

·         Nilai 70 ada 4 orang = 16,67 %

·         Nilai 75 ada 7 orang = 29,17%

·         Nilai 80 ada 4 orang = 16,67 %

·         Nilai 85 ada 2 orang =8,3 %

·         Nilai 90 ada 3 orang = 12,5 %

·         Nilai tertinggi, 100 ada 2  orang = 8,33 %

agar mengevaluasi langkah-langkah pembelajaran
5 Ketuntasan Belajar Klasikal ·         Ada peningkatan siswa yang mencapai ketuntasan  belajar sebanyak 18 orang = 75 %

·         Tingkat kesukaran soal perlu diperhatikan

·         Jumlah soal perlu ditambah agar lebih banyak alternative

Deskripsi Hasil Siklus II

Tabel 3 Hasil Pengamatan Tiap Aspek Siklus II

No Aspek Penelitian Pertemuan 3 Refleksi
1 Aktivitas Belajar Siswa ·         95,8 %

·         Hampir semua siswa (23 orang dari 24 siswa ) aktif

·         Masing-masing siswa sudah terbiasa dengan Jigsaw

Perlu menambah sumber belajar

Perlu bimbingan dan pengawasan dari guru agar aktifitas belajar lebih berkualitas

2 Aktivitas Guru Cukup Kegiatan Awal, Kegiatan Inti dan Kegiatan Akhir sudah dilaksanakan secara sistematis sesuai dengan RPP. Agar menyediakan buku sumber yang lebih bervariasi dan lakukan motivasi dalam setiap pembelajaran
4 Hasil Belajar ·         Nilai 70 ada 3 orang =  12,5%

·         Nilai 75 ada 3 orang = 12,5 %

·         Nilai 80 ada 4 orang =  16,67%

·         Nilai 85 ada 3 orang = 12,5 %

·         Nilai 90 ada 4 orang = 16,67 %

·         Nilai 95 ada 4 orang =  16,67 %

·         Nilai 100 ada 3 orang = 12,5 %

Jenis dan bentuk soal agar lebih bervariasi
5 Ketuntasan Belajar Klasikal ·         Dari 24 orang siswa yang sudah  mencapai ketuntasan belajar , sebanyak 21 orang = 87,5 %.

·         Siswa yang belum tuntas sebanyak 3 orang = 12,5  %

Sudah mencapai tingkat ketuntasan ideal yaitu sebesar 85 %

Tabel 3 Perbandingan Hasil Tes Sebelum Tindakan, Siklus I dan Siklus II

No Nilai Jumlah Siswa  /  Persentase
Sebelum Tindakan Siklus I Siklus II
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 50 6 25
2 60 8 33,33
3 65 2 8,33
4 70 4 16,67 4 16,67 3 12,5
5 75 7 29,17 3 12,5
6 80 3 12,5 4 16,67 4 16,67
7 85 2 8,3 3 12,5
8 90 2 8,33 3 12,5 4 16,67
9 95 4 16,67
10 100 1 4,16 2 8,33 3 12,5


PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan dalam penelitian tindakan  yang terdiri dari 2 siklus kegiatan,  diperoleh data bahwa aktivitas atau keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran mengalami peningkatan. Sedangkan pada pertemuan berikutnya yaitu Siklus I, aktivitas belajar siswa menunjukan peningkatan yaitu sebesar 89,19%. Besaran persentase ini dilihat dari jumlah siswa yang aktif dalam mengikuti pembelajaran yaitu sebanyak 21 orang. Dari 24 orang siswa ada 3 orang yang tidak ikut diskusi dalam tim ahli. Sedangkan pada Siklus II, terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari  aktivitas belajar siswa hingga mencapai 95,8%, yaitu 23 orang siswa sudah mengikuti kegiatan belajar dengan baik. Peningkatan Aktivitas yang positif ini  terjadi setelah adanya tindakan melalui penggunaan Metode Pembelajaran Kooperataif tipe Jigsaw, dimana metode ini mengharuskan siswa  untuk aktif mempelajari materi dan menguasainya untuk didiskusikan dalam kelompok tim ahli, siswa harus bertanggung jawab atas tugasnya karena harus menjelaskan kembali kepada kelompok asalnya.

Observasi atau pengamatan yang dilakukan oleh rekan guru yang bertindak sebagai observer atau kolaborator menyatakan bahwa aktivitas guru sudah cukup bahkan sudah baik, meskipun masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki berkaitan dengan bagaimana menciptakan pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dipandang sesuai dengan kenyataan dimana aktivitas guru banyak berfungsi sebagai fasilitator dan motivator yang melayani siswa, baik dalam menguasai materi pembelajaran maupun dalam meningkatkan kualitas belajar siswa.

Hasil tes siswa kelas V sebelum tindakan menunjukan angka yang rendah, nilai terendah yaitu 50  sangatlah jauh dari target ketuntasan minimal pelajaran IPS yang mencapai angka 75. Setelah diadakan tindakan, pada Siklus I mengalami peningkatkan, nilai terendah mencapai angka 65 bahkan pada Siklus II berikutnya mengalami kenaikan, nilai terendah mencapai 70. Dengan kata lain mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Nilai Kriteria Ketuntasan Minimal atau KKM  untuk Tema V di SDN Kersana 01 sudah ditentukan sejak awal tahun pelajaran yaitu 75. Sebelum tindakan, nilai ketuntasan belajar klasikal siswa kelas V hanya mencapai 25 % yaitu hanya 6 orang dari jumlah siswa 24 orang  yang sudah mencapai nilai KKM.

Setelah diadakan tindakan pada siklus I  ternyata mengalami peningkatan yaitu mencapai 75 % yaitu sebanyak 18 orang sudah mencapai KKM. Bahkan pada siklus berikutnya Siklus II, mengalami peningkatan menjadi 87,5 % yaitu sebanyak 21 orang yang mencapai KKM.

SIMPULAN

Hasil pembelajaran dapat disimpulkan:

  1. Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Kersana 01 pada Siklus I mengalami peningkatan, yang dibuktikan dengan perolehan nilai atau hasil tes siswa yang semakin menunjukkan kemajuan. Siswa yang berhasil mencapai nilai KKM, meningkat menjadi 18 orang atau  75 %   atau terdapat peningkatan sebesar 25 % dari sebelumnya.
  2. Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Kersana 01 pada Siklus II mengalami peningkatan dari hasil belajar pada siklus I yang dibuktikan dengan perolehan nilai atau hasil tes yang diperoleh siswa. Siswa yang berhasil mencapai nilai KKM meningkat menjadi 21 orang atau  87,5 %   atau terdapat peningkatan sebesar 12,5 % dari sebelumnya.
  3. Ketuntasan Belajar secara Klasikal menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan. Jumlah siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal meningkat menjadi 21 orang, yaitu  sebesar 87,5 %.
  4. Penggunaan Metode Cooveratieve Learning Tipe Jigsaw dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V pada Mata Pelajaran IPS Tema 5 Bangga Sebagai Bangsa Indonesia di SDN Kersana 01 Kabupaten Brebes.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2001. Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : Depdiknas.

Moleong. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.

Trianto, 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Trianto, M.Pd (2010).  Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik.  Penerbit : PT. Prestasi Pustakaraya – Jakarta. Hal.74.

Wiriaatmadja, Rochiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: UPI dan Rosdakarya.

Slavin, Robert E. 2005. Cooperative Learning (cara efektif dan menyenangkan pacu prestasi seluruh peserta didik). Bandung: Nusa Media.

Sudrajat, Akhmad. 2008. Cooperative Learning-teknik Jigsaw.

Sugianto. 2010. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma Pustaka.

Zaini, Hisyam dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.

BIODATA PENULIS

Nama Penulis          : Duriah, S.Pd

Nip                              : 19650625 198610 2 003

Pangkat/ Gol           : IV/a

Unit Kerja                 : SD Negeri Kersana 01 Brebes




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *