PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI MENGOPERASIONALKAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA KONKRIT DI KELAS I SD NEGERI KARANGMAJA SEMESTER 1 TAHUN PELAJAR 2013/2014

sunarti

ABSTRAK

Dalam kegiatan ini peneliti melaksanakan pembelajaran Matematika Materi mengoperasinalkan penjumlahan dan pengurangan di Kelas I SD Negeri Karangmaja dengan dua siklus perbaikan yang masing-masing dilaksanakan selama 4 jam pelajaran. Pada siklus pertama hasil yang dicapai masih kurang maksimal ini dilihat dari hasil refleksi siklus pertama Ketercapaian rata-rata nilai sudah mencapai 74 ketuntaan belajar secara klasikal hanya mencaapai 63%. Hanya 22 siswa yang tuntas dari 35 siswa kelas I SD Negeri KarangmajaSetelah peneliti melaksanakan siklus II , peneliti merasa cukup berhasil dalam pembelajaran, hal ini terlihat dari refleksi siklus II, hasil analisis nilai rata-rata mncapai 83 Ini sudah melebihi KKM yang ditetapkan yaitu 75. Dan siswa yang tuntas 32 atau 91% dari 35 siswa SD Negeri Karangmaja. Hasil observasi tentang aktivitas siswa ternayata siswa merasa senang belajarsambil bermain dengan bantuan alat peraga konkrit yang ada di sekitar. Dengan menerapkan penggunaan alat peraga konkrit maka hasil pembelajaran Matematika Materi mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan dapat mencapai hasil yang maksimal, juga dapat meningkatkan minat belajar siswa. Rekomendasi atau saran peneliti berharap agar hasil penelitian ini dijadikan bahan referensi untuk memacu meningkatkan mutu pendidikan khususnya guru-guru SD Negeri Karangmaja dan umumnya semua kalangan guru, sehingga kinerja serta hasilnya dapat mencapai apa yang diharapkan.

Kata Kunci : Hasil belajar, Minat belajar, Alat Peraga Konkrit.

LATAR BELAKANG MASALAH

             Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menyiapkan diri dalam perananya dimasa akan datang. Pendidikan dilakukan tanpa ada batasan usia, ruang dan waktu yang tidak dimulai atau diakhiri di sekolah, tetapi diawali dalam keluarga dilanjutkan dalam lingkungan sekolah dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat, yang hasilnya digunakan untuk membangun kehidupan pribadi agama, masyarakat, keluarga dan negara. Merupakan suatu kenyataan bahwa pemerintah dalam hal ini diwakili lembaga yang bertanggung jawab didalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia, akan tetapi pendidikan menjadi tanggung jawab  keluarga, sekolah dan masyarakat yang sering disebut dengan Tri Pusat Pendidikan.

Salah satu keprihatinan yang dilontarkan banyak kalangan adalah mengenai rendahnya mutu pendidikan atau Out Put yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal. Dalam hal ini yang menjadi kambing hitam adalah guru dan lembaga pendidikan tersebut, orang tua tidak memandang aspek keluarga dan kondisi lingkungannya. Pada hal lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar sangat menentukan terhadap keberhasilan pendidikan.

Memasuki Tri bulan pertama tahun 2013-2007, ketika diadakan Ulangan Tengah Semester mulai tampak timbul suatu masalah. Sewaktu ulangan jatuh pada mata pelajaran Matematika begitu naskah dibagikan, sebagian siswa berteriak-teriak memanggil-manggil ibunya, ada yang garuk-garuk kepala, juga tidak sedikit yang menangis karena merasa tidak bisa mengerjakan. Akhirnya nilai yang diperoleh oleh sisa kelas I dalam pelajaran matematika khususnya dalam mengoperasionalkan penjumlahan  dan pengurangan. Nilai dari 35 siswa sebagai berikut: (1) 80-100 Amat baik ada 4 siswa = 11 %. (2) 55-79 Cukup ada 7 siswa = 20 %. (3) 0-54 Kurang ada 24 siswa = 69%. Dengan kondisi nilai tersebut diatas guru sebagai peneliti merasa pembelajaran matematika dikelas I kurang berhasil.

Selama ini peneliti sudah menggunakan berbagai macam metode untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, tetapi hasilnya masih belum memuaskan. Agaknya memang strategi/pendekatan-pendekatan saja belum cukup untuk menghasilkan perubahan. Meier (2002 : 54) mengatakan bahwa belajar adalah berkreasi bukan mengkonsumsi. Pengetahuan bukanlah suatu yang diserap oleh pembelajaran, melainkan sesuatu yang diciptakan oleh pembelajar.

Pembelajaran terjadi ketika seseorang pembelajar  memadukan pengetahuan dan keterampilan baru kedalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Belajar berharfiah adalah menciptakan makna baru, sejauh ini pendidikan kita didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. Kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan strategi belajar baru yang memberdayakan siswa, yaitu sebuah strategi belajar tidak mengharuskan siswa menghafalkan fakta-fakta tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.

Dalam kelas tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuan. Maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi dengan alat bantu yang dikenal siswa disekitarnya, dari pada memberi informasi. Memang pendidikan siswa kelas I Sekolah Dasar masih identik dengan dunia bermain, oleh karena itu benda-benda disekitar sekolah sangat membantu proses pembelajaran siswa.

Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas peneliti ingin meningkatkan kemampuan siswa kelas I Sekolah Dasar dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan pada mata pelajaran Matematika dengan bantuan benda-benda kongkrit.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka perumusan masalahnya sebagai berikut: Bagaimana penggunaan benda-benda kongkrit mampu meningkatkan kemampuan siswa kelas I SDN Karangmaja dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan pada mata pelajaran Matematika.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Kemampuan

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, peserta didik, Guru sebagai pendidik dituntut untuk memiliki kemampan yang baik karena antar siswa sebagai peserta didik dan guru sebagai pendidik merupakan suatu interaksi.

Menurut Purwodarminto. (1988:553) Kemampuan berasal dari kata “Mampu” artinya Kuasa (bisa, sanggup) melakukan Sesuatu. Dari definisi diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa, kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan untuk melakukan sesuatu kegiatan.

Dalam pengembangan pembelajaran guru harus memiliki kemampuan untuk memilih strategi, metode, alat pembelajaran dan teknik-teknik pembelajaran yang, efektif, efisien sesuai dengan karakteristik siswa. Apalagi saat ini sekolah-sekolah menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang mana dalam kurikulum ini antara guru dan siswa dituntut aktif, kreatif, dan inovatif  dalam mencapai tujuan. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Mulyasa, (2002:183) yang mengatakan, proses pembelajaran merupakan interaksi edukatif antara peserta didik dengan lingkungan sekolah. Dalam hal ini sekolah di beri kebebasan untuk memilih strategi, metode dan teknik-teknik pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik siswa, karakteristik mata pelajaran, karakteristik guru dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah.

Dari pendapat diatas alat bantu pembelajaran tidak harus membeli dengan harga-harga yang mahal dan moderen, tetapi dapat menggunakan benda-benda kongkrit disekitar sekolah untuk sarana pembelajaran. Pendapat lain juga mengatakan, dalam pembelajaran pelajaran Matematika kelas I Sekolah dasar konsep dasar yang digunakan adalah benda-benda kongkrit disekitar sekolah. (Wardhani, 2004:3). Dengan benda-benda kongkrit disekitar sekolah di gunakan sebagai alat pembelajaran akan tercipta suasana pendidikan yang PAKEM (Pembelajaran Aktif  Kreatif efektif dan Menyenangkan)

Pengertian Mengoperasionalkan

           Mengoperasionalkan berasal dari kata “operasi” yang artinya pelaksanaan rencana yang telah dikembangkan, maka apabila mengoperasionalkan berarti melaksanakan suatu kegiatan yang telah direncanakan (Purwodarminto,1988:627).

Apabila dikaitkan dengan penjumlahan dan pengurangan maka mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan maka melaksanakan suatu kegiatan menjumlah dan mengurang suatu bilangan. Mengoperasionalkan suatu kegiatan tidaklah mudah, guru sebagai pendidik harus mampu memilih strategi dan metode yang tepat untuk melaksanakannya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Hamalik (2002:11): metode merupakan komponen yang mengandung unsur sub stantif atau program kurikulum, metode penyajian bahan dan media pendidikan. Tiap jenjang pendidikan guru memiliki programnya sendiri, sesuai dengan tujuan institusionalnya yang membutuhkan metode penyampaian dan metode tepat guna, demi tercapainya mutu lulusan yang baik.

Pengertian Kongkrit

Kongkret adalah nyata, benar-benar ada ( berwujud, dapat dilihat, diraba dsb). (Purwodarminto,1988:455)

Kata kongkret biasanya sering dihubungkan dengan benda-benda, baik benda-benda di rumah, di jalan atau dilingkungan sekitar. Benda adalah segala yang ada di alam yang berwujud atau barjasad (bukan roh) misal bola, kelereng, kayu, kerikil dsb.

Sehingga apabila digabungkan benda-benda kongkret adalah segala yang ada di alam yang berwujud, berjasad dan benar-benar ada.

METODE PENELITIAN 

Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Kualitatif yaitu menggambarkan masalah sebenarnya yang ada di lapangan, kemudian direfleksikan dan dianalisis berdasarkan teori menunjang dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan di lapangan. Pendekataan Kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk menelusuri dan mendapatkan gambaran secara jelas tentang situasi kelas dan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Penelitian  Tindakan Kelas dilaksanakan secara bersiklus. Pembelajaran dilakukan di kelas I SDN Karangmaja  Kecamatan Banjarharja  Kabupaten Brebes.

Jenis penelitian yang digunakan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karena ingin menerapkan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas I dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan dengan alat bantu benda-benda kongkrit di sekitar sekolah.

Kehadiran Peneliti  

Peneliti dibantu 3 Orang observer senantiasa hadir dan kehadirannya mutlak diperlukan karena penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.  Kedudukan peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai perencana, pelaksana, pengumpul, penganalisa, penafsir data dan akhirnya sebagai pelaporan hasil penelitian.

Ketika pelaksanaan penelitian, kehadiran peneliti di lapangan berperan sebagai peneliti sekaligus pelaksana pembelajaran, pengobservasi dalam rangka pengumpulan data. Penelitian ini dilakukan  dalam 2  siklus  Pada setiap  akhir tindakan, peneliti bersama pengamat melakukan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan.

Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai Guru Matematika kelas I, jadi disamping bekerja  mengumpulkan dan menganalisis data di lapangan, peneliti  berperan langsung dalam proses pembelajaran dari perencanaan, pelaksanaan pengajaran sampai dengan penilaian.

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian tindakan kelas ini adalah SD Negeri Karangmaja Kecamatan Banjarharja Kabupaten Brebes. SDN Karangmaja memiliki 6 kelas masing-masing kelas rata-rata terdiri dari 40 siswa, hanya kelas I yang berjumlah 35 siswa .Alasan dipilihnya SDN Karangmaja adalah: (1) prestasi belajar siswa kelas I pada mata pelajaran matematika masih rendah, (2) Di sekitar sekolah banyak tersedia benda-benda kongkrit yang digunakan sebagai alat pembelajaran. (3) Jumlah siswa kelas I jumlahnya paling sedikit, sehingga harapan peneliti dapat memberikan perhatian yang maksimal pada waktu kegiatan pembelajaran, sehingga pembelajaran berlangsung secara efektif. (5) SDN. Karangmaja adalah sekolah desa sehingga memiliki latar belakang  kondisi siswa, pendidikan Orang Tua  siswa, kondisi sosial ekonomi yang sangat heterogen. (6) Kemampuan akademik  siswa kelas I yang beragam ada yang pandai dan cepat tanggap dalam menyelesaikan soal, ada yang sedang dan bahkan ada yang lambat sekali.

Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini, barasal siswa kelas I SD Negeri Karangmaja Kecamatan Banjarharja Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 35 siswa terdiri dari  20 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Jenis data yang dihimpun adalah data yang kualitatif, berupa hasil Observasi, diskusi  dan penilaian. Observasi dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran Matematika tentang operasional penjumlahan dan pengurangan bilangan. Dari hasil Observasi ini peneliti banyak menemukan masalah–masalah pada siswa kelas I diantaranya siswa sebagian besar belum bisa mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan. Akhirnya peneliti mencoba untuk mengatasi masalah yang dialami siswa kelas I dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan dengan alat bantu benda-benda konkrit di sekitar sekolah. Benda – benda kongkrit di sekitar sekolah yang peneliti gunakan adalah biji kacang , kerikil , buah nyamplung. Sedangkan penilaian dilakukan setiap pada setiap akhir pertemuan dalam pembelajaran yang berfungsi untuk menguji sejauh mana keberhasilan pembelajaran Matematika dengan menggunakan alat bantu benda-benda kongkrit di sekitar sekolah.

Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dilakukan berdasarkan bentuk data yang diperoleh. Untuk memperoleh data yang diinginkan dalam pembelajaran Matematika khususnya mengopersionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan dilakukan dengan teknik Observasi, diskusi dan evaluasi hasil belajar yang hasilnya akan dilaksanakan dalam bentuk skor. Sebelum dilaksanakan pelaksanaan tindakan kelas peneliti mengidentifikasi masalah pembelajaran Matematika  Kelas I dilanjutkan dengan upaya pemecahan masalah yang dihadapi Guru dan siswa.

Diskusi dilaksanakan bersama 2 orang pengamat yang membantu pelaksanaan kegiatan penelitian, pengamat melakukan pencatatan terhadap semua  kegiatan siswa, kreatifitas siswa, perhatian siswa terhadap pelajaran, penggunaan alat-alat bantu pembelajaran, kedisiplinan siswa, keberanian siswa dalam menyelesaikan masalah, keberanian dalam mengemukakan pendapat, penilaian terhadap siswa. Dari hasil catatan pengamat ini kemudian didiskusikan bersama peneliti  agar dalam kegiatan selanjutnya berjalan lebih efektif.

Kegiatan penilaian dilakukan dengan penilaian proses  dan evaluasi akhir pelajaran. Penilaian proses dilaksanakan pada saat pembelajaran berlangsung dengan menguji siswa maju ke depan kelas untuk menyelesaikan soal . Ketika  maju ke depan kelas peneliti memberi kesempatan yang sama antara siswa yang memiliki kemampuan yang lebih dengan siswa yang memiliki kemampuan yang cukup, sedangkan siswa yang memiliki kemampuan lebih lambat dari teman yang lainnya diberi kesempatan yang lebih besar agar siswa tersebut dapat mengejar ketinggalannnya dari siswa yang lain. Kegiatan akhir pembelajaran berupa penilaian yang ditentukan dengan skor dengan tujuan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran dalam 1 pertemuan, dari masing–masing pertemuan kemudian diakumulasi kan dalam bentuk tabel untuk mengetahui sejauh mana perkembangan pembelajaran Matematika dalam setiap pertemuan.

Analisis Data

Data hasil penelitian yang terkumpul berasal dari data observasi, diskusi dan evaluasi. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian mengikuti langkah Hopkins (1993:151) dengan tiga tahap analisis yaitu tahap kategorisasi, validasi dan intepretasi data.

Kategorisasi data dilakukan dengan memilih-milih data yang terkumpul berdasarkan kategori tertentu yang di tetapkan. Kategori yang dimaksud meliputi konsepsi awal siswa, jenis pertanyaan siswa, eksplorasi siswa, aktivitas siswa, penilaian akhir siswa.

Validasi merupakan data yang kedua, dalam kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengelola data yang betul-betul objektif, valid dan diakui kebenarannya, validasi data dilakukan dengan observasi lapangan untuk mengetahui masalah-masalah yang terjadi. Melakukan diskusi dengan pengamat tentang hasil-hasil catatan yang ada di lapangan, kemudian diakhiri dengan penilaian baik penilaian proses maupun penilaian akhir kegatan. Dari penilaian akhir kegiatan data yang di peroleh disusun secara sistematis, dibedakan antara penilaian sebelum pelaksanaan penelitian tindakan kelas dengan sesudah dilaksanakan penelitian tindakan kelas, agar dapat digunakan untuk menarik satu kesimpulan, sehingga kesimpulan yang diperoleh benar-benar valid, sahih dan objektif.

Pengecekan Keabsahan Data 

Pengecekan Keabsahan Data dilakukan dengan memadukan hasil observasi, hasil-hasil catatan dari pengamat beserta evaluasi yang dilakukan untuk menjaga keabsahan data perlu dilakukan diskusi-diskusi dengan pengamat sehingga kesimpulan yang diperoleh sangat tepat sesuai dengan hasil penelitian.

Tahap-Tahap Penelitian

Penelitian tindakan kelas dilakukan dalam dua siklus, setiap siklus diawali dengan perencanaan penerapan tindakan dan observasi, serta diakhiri dengan refleksi.

HASILPENELITIAN  DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian Prasiklus :

Kegiatan awal penelitian diawali dengan Observasi pada kelas I SDN. Karangmaja Kecamatan Banjarharja Kabupaten Brebes pada hari Selasa tanggal 19 September 2013, kebetulan saat itu sedang dilaksanakan Ulangan Tengah Semester  I tahun pelajaran 2013-2014.  Pada hari  tersebut jam ke I adalah mata pelajaran Matematika.

          Nilai dari hasil ulangan tersebut kemudian peneliti ambil datanya untuk dianalisis, kesimpulan yang diperoleh yaitu :

Nilai   >  75  sebanyak  11 siswa   =   31 %   dari keseluruhan siswa.

Nilai  < 75  sebanyak  24   siswa  =   69  %  dari keseluruhan siswa.

Nilai rata-rata kelas 63

Peneliti mengambil standar nilai 75 terendah, karena nilai 75 diatas dari nilai cukup untuk suatu keberhasilan pembelajaran.Namun karena siswa kelas I SDN. Karangmaja nilai  > 75  sebanyak 31 % berarti pembelajaran Matematika di kelas I belum berhasil.

Hasil Penelitian Siklus I

Kegiatan penelitian siklus I diawali dengan kegiatan perencanaan, yaitu menentukan pokok bahasan, menyusun RPP, mempersiapkan lembar kerja, mempersiapkan alat/media pembelajaran, sumber pembelajaran

            Pada kegiatan awal peneliti mengkondisikan kelas, mengabsen, menugaskan siswa berdoa sebelum pelajaran dimulai, menyampaikan tujuan pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran.

            Pada kegiatan inti, guru menjelaskan cara mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan alat peraga kerikil, lidi atau benda yang ada disekitar. Membimbing siswa yang diberi kesempatan maju di depan kelas untuk mengerjakan soal latihan.

Peneliti berkeliling dengan dibantu pengamat untuk memberi bimbingan kepada siswa dalam mengerjakan LKS secara individual.

            Pada kegiatan akhir peneliti memberikan lembar soal tes formatif dengan 10 soal, untuk dikerjakan siswa secara individu. Adapun hasil dari analisis penilaian siklus I , sebagai berikut :

Siswa yang memperoleh nilai ≥75   sebanyak 22 siswa = 63 %, Siswa yang mendapat nilai < 75  sebanyak 13 siswa = 37 %, Nilai Rata-rata kelas = 74.

      Hasil Penelitian Siklus II

Menentukan materi pembelajaran tentang penjumlahan dan pengurangan dengan pola bersusun, mencari suku yang belum diketahui dan soal cerita dengan menggunakan alat bantu lidi, menyusun Rencana Pembelanjaan, menyiapkan alat bantu yang digunakan yaitu lidi, menyiapkan alat evaluasi, dan lembar observasi.

      Pelaksanaaan kegaiatan perbaikan pembelajaran  pertemuan I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal… oktober 2013 alokasi 4 x 35 menit.

                Pada kegiatan awal peneliti melaksanakan  apersepsi untuk mengulas materi penjumlahan dan pengurangan bilangan secara singkat sambil melakukan tanya jawab. Memberi kesempatan kepada siswa untuk tampil di depan kelas menyelesaikan soal yang diberikan oleh peneliti.

                Pada kegiatan inti peneliti memperkenalkan kepada siswa tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan antara 2 sampai 3 angka dengan pola bersusun, menjelaskan penjumlahan dan pengurangan bilangan pola bersusun melalui alat bantu lidi, kerikil, memberi kesempatan kepada siswa untuk tampil di depan kelas menyelesaikan soal yang diberikan peneliti dengan alat bantu lidi. Peneliti dibantu pengamat membimbing siswa satu persatu dalam menyelesaikan lembar Kerja. Siswa mendemonstrasikan di depan kelas tentang pengoperasian penjumlahan dan pengurangan bilangan dengan lidi. Siswa mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa secara individual dibawah bimbingan peneliti dibantu pengamat dengan menggunakan alat bantu buah nyamplung.

Pada kegiatan akhir peneliti mengadakan evaluasi, dan membagikan lembar tes formatif. Adapun hasil analisis penilaian es formatif adalah sebagai berikut ; siswa yang mendapat nilai diatas KKM sebanyak 32 siswa atau 91 %, sedang siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM adalah 3 siswa atau 7 %. Nilai rata-rata kelas mencapai 83. Berarti ketuntasan belajar sudah melampai batas kriteria ketuntasan belajar klasikal.

      Dalam proses pembelajaran berlangsung semakin aktif semua siswa sibuk dengan tugas-tugas dihadapi, ternyata  alat bantu benda-benda kongkrit sangat membantu proses pembelajaran, ketuntasan belajar siswa semakin meningkat, muli dari kondisi awal yang hanya mencapai 31 % meningkat di siklus I menjadi 63 % dan meningkat secara signfikan di siklus II yaitu 91 %. Juga peningkatan secara signifikan terjadi pada nilai rata-rata kelas dari 63 di kondisi awal menjadi 74 di Siklus I dan 83 di siklus II.

 

PEMBAHASAN

Sebelum penelitian tindakan kelas dilaksanakan peneliti dibantu beberapa guru melakukan Observasi lapangan sebagai tindakan awal. Kegiatan ini dilakuakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat ketuntasan belajar siswa dalam melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan dalam pembelajaran Matematika. Dari kegiatan Observasi awal ini diperoleh data ulangan sebagai berikut , siswa yang mendapat nilai ≥ 75  sebanyak  11 siswa   =   31 %   dari keseluruhan siswa, siswa yang mendapat nilai  < 75  sebanyak  24   siswa  =   69  %  dari keseluruhan siswa, dan nilai rata-rata kelas 63

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan belum berhasil.

Kemudian peneliti mencoba untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan dengan menggunakan alat bantu benda-benda kongkrit di sekitar sekolah setelah dilakukan penelitan tindakan kelas peneliti mengambil evaluasi dari masing-masing silkus dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran dalam siklus I dengan standart nilai terrendah 75, siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 sebanyak 22  siswa atau kurang lebih 63 % sedangkan hasil evaluasi pada siklus II dengan standart nilai yang sama, semua siswa memperoleh nilai ≥ 75 ada 32 siswa atau 91 %, sedang 3 siswa masih mendapat nilai di bawah KKM. Kalau dilihat dari nilai rata-rata kelas dari setiap kondisi antara lain pada kondisi awal nilai rata-rata 63, siklus I nilai rata-rata kelas 74, dan siklus II nilai rata-rata mencapai 83.

Data diatas peneliti sajikan dalam bentuk tabael di bawah ini :

Tabel Ketuntasan Belajar

Kondisi Jumlah siswa Tuntas Prosentase Nilai Rata-rata
Prasiklus 11 31 % 63
Sklus I 22 63 % 74
Siklus II 32 91 % 83

Tabel di atas disajikan dalam bentuk diagram batang di bawah ini

1

Berdasarkan data tersebut di atas maka kesimpulan sementara, antara lain sebagai berikut :

  1. Nilai evaluasi Silkus I dan Siklus II mengalami peningkatan.
  2. dengan alat bantu benda-benda kongkrit siswa dapat mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan.
  3. Siswa mampu mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan.

Dengan demikian peneliti menganggap bahwa penelitian yang dilakukan adalh telah dapat mmbuktikan hipotesis dan indkator kinerja penelitian ini, sehingga penelitian di anggap selasai.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang upaya meningkatkan kemampuan siswa kelas I dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan pada pembelajaran Matematika dengan bantuan benda-benda kongkrit dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Siswa yang pada awalnya merasa takut dan bingung dengan pembelajaran Matematika, melalui alat bantu benda-benda kongkrit rasa percaya diri siswa timbul dan merasa senang terhadap pembelajaran Matematika terutama tentang mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan.
  • Siswa dapat menggunakan benda-benda kongkrit dengan baik dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan pada pembelajaran Matematika.
  • Pembelajaran dengan menggunakan alat bantu benda-benda kongkrit di sekitar sekolah dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas I dalam mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan bilangan dengan hasil sampai 20. Hal ini dibuktikan dengan hasil evaluasi siklus I menunjukkan standart ketuntasan belajar mencapai 63 % dan siklus II mencapai 91 % dari 35 siswa Kelas I SD Negeri Karangmaja Kecamatan banjarharja Kabupaten Brebes.
  • Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa.

Saran :

Dengan mengacu pada temuan dari penelitian tindakan ini disampaikan beberapa saran penyampaian saran ini merupakan sumbangan pemikiran bagi peneliti untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran dikelas I SD, khususnya pembelajaran Matematika saran-saran yang dikemukakan sebagai berikut :

  • Pendidikan yang dilakukan harus berwawasan lingkungan, karena lingkungan banyak menyediakan alat bantu pembelajaran.
  • Alat bantu pembelajaran tidak harus dibeli dengan harga yang mahal, benda-benda lingkungan sekitar dapat diperoleh dengan mudah dan dikenal oleh siswa.
  • Hendaknya siswa diberi kesempatan sendiri untuk mencari alat bantu benda-benda kongkrit disekitar sekolah sesuai dengan keinginannya.
  • Karena alat bantu benda-benda kongkrit bersifat hanya sementara ajaklah siswa sekali waktu mengoperasionalkan penjumlahan dan pengurangan tenpa alat bantu.
  • Hendaknya siswa diberi kesempatan yang lebih banyak untuk tampil didepan kelas menyelesaikan soal-soal latihan, agar siswa terlatih dan timbul rasa percaya diri

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah Syaiful Bahri, dkk.2013. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta

Mulyani Sumantri,2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta :Universitas Terbuka.

Muhsetyo Gatot, dkk.2007.Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Purwanto M.Ngalim.1990. Psikologi Pendidikan. Bandung :PT. Remaja Rosdakarya.

Panitia Sertifikasi Guru Rayon 112.  (2012) Bahan Ajar Pendidikan dan Latiha Profesi Guru

              dalam Jabatan . Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Siregar Eveline, dkk.2011. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Ghalia Indonesia

Udin S.Winataputra, dkk. 2007.Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka

Wardani I.G.A.K, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka

DATA DIRI

Nama                                : Sunarti, S.Pd.SD

NIP                                    : 19660615 1989032 2 012

Tempat, Tgl Lahir          : Brebes, 15 Juni 1966

Pangkat/Gol                    : Pembina / IV A

Unit Kerja                        : SD Negeri Karangmaja, UPT Dinas Pendidikan Kec. Banjarharja, Brebes

Alamat Rumah                : Desa Cikakak Kec. Banjarharja




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *