infopasti.net

PENINGKATAN KEGIATAN ON TASK DENGAN MENGGUNAKAN PLASTISIN SEBAGAI MEDIA STRUKTUR MOLEKUL PADA MATA PELAJARAN KIMIA

PENINGKATAN KEGIATAN ON TASK DENGAN MENGGUNAKAN PLASTISIN SEBAGAI MEDIA STRUKTUR MOLEKUL  PADA MATA PELAJARAN KIMIA DI SMA NEGERI 1 RAWALO

Oleh : Taufan Buwono, S.Pd

Pendahuluan

Kimia merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang memiliki perananan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kimia adalah cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari kejadian alam yang tidak kembali ke wujud asalnya seperti peristiwa pembakaran, perkaratan, pembusukan dan lain-lain.  Mengingat bahwa kimia memiliki peranan yang cukup besar dalam pembangunan peradaban kehidupan manusia maka sudah sepantasnya peserta didik harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam bidang mata pelajaran kimia, tetapi pada kenyataannya peserta didik  memiliki ketertarikan yang cukup rendah dalam mata pelajaran kimia. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme peserta didik dalam menjawab pertanyaan ataupun mengemukakan pendapat terhadap topik yang diajarkan  masih sangat rendah. Rata-rata dalam satu tatap muka yang terdiri dari 3 jam pelajaran,  maksimal hanya ada tiga peserta didik yang berkeinginan menjawab pertanyaan yang diberikan ( rata-rata dibawah 10% ). Penulis juga melihat dalam satu tatap muka selalu dijumpai ada saja siswa yang mengantuk.

Kurikulum 13 telah mengamanatkan kepada guru untuk lebih meningkatkan peran serta peserta didik dalam pembelajaran.  Guru dalam pembelajaran lebih di titik beratkan sebagai fasilitator, guru diusahakan untuk tidak lagi mendominasi pembelajaran yang tengah berlangsung.  Perubahan paradigma bahwa guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar maka perubahan paradigma ini menuntut guru menjadi seorang yang kreatif serta inovatif untuk menemukan atau memanfaatkan segala hal yang ada di dalam lingkungan untuk dijadikan alat atau media pembelajaran yang lebih atraktif, inovatif, mampu menghadirkan aktifitas siswa yang lebih banyak atau dalam arti mampu meningkatkan aspek on task pembelajaran peserta didik.

Selama ini penulis belum menggunakan atau memanfaatkan media yang ada, oleh sebab itu untuk menumbuhkan kembali aspek on task peserta didik maka penulis memiliki ide untuk memanfaatkan plastisin sebagai media bentuk struktur molekul untuk meningkatkan aspek on task pembelajaran peserta didik pada mata pelajaran kimia.

Masalah

Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pemanfaatan plastisin dapat digunakan sebagai media bentuk molekul  pada mata pelajaran kimia di SMA Negeri 1 Rawalo ?

2. Apakah dampak pemanfaatan plastisin sebagai media bentuk molekul pada mata pelajaran kimia  di SMA Negeri 1 Rawalo ?

Pembahasan dan Solusi

Kurikulum 13 telah mengamanatkan kepada guru untuk melibatkan peran serta peserta didik secara aktif. Guru hanyalah sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Pada kenyataannya untuk mengubah paradigma ini tidaklah semudah apa yang kita perkirakan. Peserta didik tidak secara otomatis bisa melakukan hal tersebut. Butuh waktu yang cukup lama untuk menciptakan aspek on task pembelajaran. Waktu tatap muka dengan satu kali tatap muka selama 135 menit tentu menimbulkan kejenuhan jika guru tidak mampu menghadirkan atau menumbuhkan peran serta aktif peserta didik dalam pembelajaran.

Mengatasi permasalahan diatas, penulis sebagai guru kimia teringat akan adanya konsep katalisator. Katalisator adalah zat yang mampu mempercepat reaksi kimia. Dengan adanya katalisator suatu reaksi kimia yang memakan waktu lama dengan adanya penambahan zat tertentu maka reaksi yang diinginkan akan segera terjadi. Hal ini tampaknya memiliki kemiripan dengan penumbuhan aspek on task dalam pembelajaran, penulis merasa  perlu untuk segera mencari dan menggunakan katalisator tersebut untuk menumbuhkan aspek on task peserta didik. Katalisator yang dimaksud adalah media atau sarana pembelajaran.

Struktur bentuk molekul dalam pelajaran kimia membutuhkan kemampuan imajinasi yang cukup tinggi untuk mampu menerjemahkan gambar 2D menjadi bentuk 3D dalam bentuk molekul. Bentuk molekul yang tergambar dalam kertas belum tentu sama ketika diwujudkan atau ditampilkan dalam bangun ruang. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mencari alat atau media yang cocok dengan pembelajaran bentuk struktur molekul. Dari berbagai alat atau media yang ada maka penulis memutuskan untuk memilih plastisin sebagai media pada pembelajaran bentuk struktur molekul. Plastisin mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, warnanya yang beragam tentu akan memiliki daya tarik tersendiri bagi peserta didik, biaya untuk mendapatkan juga tidak  mahal. Serta tentu saja mudah untuk di bentuk menjadi beragam bentuk seperti kerucut, balok, bola dan lain-lain. Bentuknya yang lunak juga sangat membantu jika harus dihubungkan dengan plastisin lain dengan menggunkan bantuan kayu ataupun sedotan.

Kurikulum 13 yang mengamanatkan kepada guru untuk mengubah paradigma tentang akivitas pembelajaran dimana guru tidak lagi di posisikan sebagai satu-satunya sumber belajar dan mengubah peran guru menjadi fasilitator tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Perlu waktu yang memadai untuk mengubah paradigma ini. Pada kenyataannya penulis mengamati peserta didik banyak yang tidak terlibat aktif, sebagian besar dari mereka hanya menjadi pendengar dalam kegiatan belajar mengajar.

Gerakan penumbuhan aktivitas peserta didik harus segera dilaksanakan agar peserta didik menemukan kembali semangatnya dalam mengikuti pembelajaran. Satu tatap muka dengan durasi tiga jam pembelajaran akan memberikan dampak psikologis yang cukup berat pada diri peserta didik. Kepandaian seorang guru untuk mensetting bagaimana pembelajaran akan berlangsung mutlak diperlukan agar tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. Perlu adanya katalisator berbentuk media lain yang dapat menumbuh kembangkan potensi peserta didik.

Pemilihan media pembelajaran haruslah tepat sesuai dengan tema pembelajaran yang akan diberikan. Pada kasus yang dihadapai oleh penulis, penulis mendapati pokok bahasan bentuk molekul dalam gambar 2 dimensi ternyata belum cukup baik untuk membentuk vision pada diri peserta didik. Peneliti merasa perlu untuk meningkatkan gambaran 2 dimensi menjadi penggambaran 3 dimensi. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi kesalahan konsep dalam diri peserta didik.

Penulis menggunakan plastisin dan tidak menggunakan media yang telah tersedia seperti molimol karena plastisin mudah dibentuk, tersedia banyak di pasaran, sering dijumpai dalam kehidupan  sehari-hari. Karena keunggulan tersebut akhirnya penulis menjatuhkan pilihan pada plastisin sebagai alat bantu pembentukan molekul.

Guru memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Guru harus mampu merencanakan skenario pembelajaran dengan benar dan tepat. Guru juga harus memastikan metode yang akan dipilih benar-benar akan membawa peserta didik untuk mengembangkan ketiga ranah pembelajaran antara lain ranah kognitif, psikomotor dan sikap. Penulis memahami begitu penting skenario pembelajaran maka penulis sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar maka perlu dilakukan pembuatan RPP. Dalam RPP penulis membagi tiga tahap utama pembelajaran antara lain:

1. Tahap pendahuluan yang terdiri dari apersepsi dan motivasi,

2. Tahap inti pembelajaran. Pada tahap ini penulis memastikan bahwa peserta didik akan mengembangkan sikap-sikap ilmiah, pada tahap ini pula penulis merencanakan model pembelajaran yang paling tepat pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

3. Tahap penutup, pada tahap ini penulis memastikan peserta didik memperoleh informasi yang benar terhadap materi yang telah diberikan.

Untuk mendukung rencana pembelajaran ini maka penulis terlebih dahulu mempersiapkan bahan-bahan penunjang pembelajaran seperti download file video pembelajaran dari you tube, membuat presentasi power point dan membuat lembar kerja peserta didik. Keberadaan lembar kerja dimaksudkan agar peserta didik lebih terarah dalam mencapai tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Menuntun peserta didik untuk dapat melakukan eksperimen secara bertahap sehingga terbentuklah sebuah pemahaman yang komprehensif  tentang bentuk struktur molekul.

Pada saat kegiatan berlangsung penulis menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan pembelajaran pada hari tersebut. Menampilkan presentasi yang telah dibuat dan menayangkan video. Penulis membagi peserta didik dalam beberapa kelompok dengan satu kelompok terdiri dari 5 sampai 6 peserta didik. Setelah kelompok terbentuk maka penulis mendorong peserta didik untuk mengambil alat dan bahan yang tersedia. Berikut ini adalah gambar suasana pembelajaran di dalam kelas.

Gambar 1 Suasana Pembelajaran Kimia

Penggunaan plastisin sebagai media bentuk struktur molekul mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, nilai kerjasama, nilai kerja keras, nilai komunikasi dan tanggung jawab. Nilai-nilai yang diperoleh akan membantu peserta didik untuk mengembangkan kepribadiannya ke arah yang lebih baik. Penguatan nilai karakter sangat penting bagi masa depn peserta didik. Nilai-nilai itu akan senantiasa dibawa peserta didik ketika mereka terjun ke masyarakat terutama di dunia usaha dan dunia kerja. Pembentukan karakter juga penting demi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kerja kelompok mereka juga belajar saling menghargai dan saling menghormati pendapat antar tema. Berusaha memecahkan masalah secara bersama-sama dan belajar dalam suatu tim yang kuat  akan mengajarkan peserta didik akan kekuatan sebuah persatuan. Berikut ini adalah gambar yang menunjukkan nilai-nilai  penanaman karakter pada peserta didik.

Gambar 2. Suasana Kerja Kelompok

Penulis dalam kegiatan pembelajaran menitik beratkan peningkatan pada ranah psikomotor dan sikap untuk menunjang aspek kognitif.  Penulis mengamati bahwa peserta didik yang dikembangkan aspek psikomotor dan sikapnya akan memiliki pengetahuan  yang bertahan lama, sebagai contoh seorang anak yang belajar bersepeda maka setelah beberapa waktu tidak bersepeda ternyata anak tersebut tidak kehilangan kemampuan bersepedanya. Anak tersebut pasti akan mampu bersepeda bahkan ketika bersepeda anak tersebut kemungkinan besar akan lebih lihai dari sebelumnya.

Peristiwa belajar pada pengembangan aspek psikomotor dan sikap tersebutlah yang nantinya akan berdampak lebih lama. Model bentuk struktur  molekul dengan menggunakan plastisin mampu memberikan pengalaman yang lebih dalam dan akan tertanam lebih lama pada diri peserta didik. Minimal peserta didik merasa nyaman, senang dan gembira ketika mempelajari ilmu kimia. Penanaman kesan tersebut akan menjadi modal dasar bagi peserta didik untuk mempelajari ilmu kimia lebih lanjut.

Pemanfaatan plastisin sebagai media bentuk molekul pada mata pelajaran kimia memiliki berdampak antara lain :

1. Angka On task yaitu angka yang menunjukkan tingkat peran serta peserta didik mengalami peningkatan mencapai 92 % menggunakan lembar observasi time sampling.

2. Meningkatnya ketuntasan belajar peserta didik pada pokok bahasan bentuk molekul mencapai 73,3 %

Kendala-Kendala yang dihadapi dalam melaksanakan media yang dipilih

Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan strategi yang dipilih antara lain :

1. Perlu pemilihan video yang tepat dan jelas mengenai gambaran bentuk molekul sehingga peserta didik dapat memiliki vision yang jelas.

2. Pada waktu pembelajaran listrik sering mati sehingga pembelajaran sedikit terganggu, perlu adanya penambahan daya listrik.

3. Gangguan jaringan wifi, sehingga peserta didik tidak leluasa untuk mencari referensi mengenai bentuk-bentuk molekul.

Faktor-faktor pendukung

Faktor – faktor yang mendukung kegiatan pembelajaran dengan menggunakan plastisin sebagai media bentuk molekul  antara lain :

1. Ketersediaan plastisin di pasaran dengan harga yang terjangkau.

2. Adanya you tube membantu peserta didik untuk mencari informasi bentuk molekul.

3. Pembelajaran yang dilaksanakan di pagi hari, membuat suasana pembelajaran jauh lebih menyenangkan.

4. Ketersediaan buku referensi kimia tentang bentuk molekul,

Alternatif pengembangan penggunaan plastisin sebagai media pembelajaran antara lain dapat diterapkan pada mata pelajaran yang lain dimana mata pelajaran yang bersangkutan berkaitan dengan pembentukan atau model bangun. Plastisin dapat digunakan untuk mengajarkan bangun ruang, membuat model tata surya, pembentukan relief bumi dan dapat digunakan untuk membuat model sebuah patung.

Simpulan dan Harapan Penulis

Simpulan

Dari hasil temuan-temuan yang didapat, penulis dapat menarik simpulan sebagai beikut :

1. Angka On task yaitu angka yang menunjukkan tingkat peran serta peserta didik mengalami peningkatan mencapai 92 % menggunakan lembar observasi time sampling.

2. Meningkatnya ketuntasan belajar peserta didik pada pokok bahasan bentuk molekul mencapai 73,3 %

3. Peserta didik menjadi jauh lebih bergembira dalam mengikuti pembelajaran.

Harapan Penulis

Rekomendasi pemanfaatan plastisin sebagai media bentuk molekul akan jauh lebih mudah manakala peserta didik telah memiliki vision yang cukup mengenai bentuk molekul, maka disarankan sekolah perlu memberikan fasilitas internet yang cukup baik bagi peserta didik dalam pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, 1998, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Yogyakarta. Bina Aksara.

Haryanto, 1997, Perencanaan Pengajaran, Jakarta, Rineka Cipta.

Muijs, Daniels and Reynolds.2008. Effecitve teaching, Bandung :  Pustaka Pelajar

Sudjana, Nana, 1982, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar,  Bandung. Serajaya

Surati.2012.Peningkatan Hasil Belajar Kimia Materi Kelistrikan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Siswa Kelas IX B SMP Negeri 1 Karanggede Boyolali Tahun Pelajaran 2011/2012. Jurnal Pendidikan Widyatama Vol. 9 No. 3, 331-347

Zuldafrial, 2012, Penelitian Kualitatif, Surakarta : Yuma Pustaka


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *