PTK SD Pendekatan Scientific Siswa Kelas II

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI DAN PRESTASI BELAJAR MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC SISWA KELAS II SD NEGERI 3 KERTAYASA SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2014/2015

siti-ar

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) peningkatan kemampuan  berkomunikasi siswa kelas II SD Negeri 3 Kertayasa Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara; (2) hasil prestasi belajar siswa dengan penerapan pendekatan scientific siswa kelas II SD Negeri 3 Kertayasa Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas (class action research), Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas II SD Negeri 3 Kertayasa Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kemampuan berkomunikasi bahasa Indonesia siswa pada siklus I dari 76,25 menjadi 76,66, dan siklus II dari 76,66 menjadi 81,91. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan mengguakan metode pendekatan scientific dapat meningkatkan prestasi belajar dari rerata 76,25 menjadi 81,91. Ketuntasan pada pra siklus 45,83% pada siklus I 58,33% dan siklus II 83,33%. Ini berarti pada siklus I ada peningkatan ketuntasan belajar dari 45,83% menjadi 58,33%, sedangkan pada siklus II meningkat dari 58,33% menjadi 83,33%. Pembelajaran dengan menerapkan metode pendekatan scientific dapat meningkatkan ketuntasan belajar 45,83% menjadi 83,33%.

Kata Kunci : Komunikasi, Prestasi Belajar, Scientifik

 

PENDAHULUAN

Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan. Di dalam pengajaran bahasa Indonesia, terdapat empat keterampilan berbahasa yang terdiri atas: keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan tersebut bertalian satu sama lain. Selanjutnya pengajaran bahasa Indonesia perlu dilakukan sejak dini, yakni mulai tingkat sekolah dasar (SD). Tahun-tahun pertama di sekolah dasar merupakan waktu yang sangat penting dalam peningkatan keterampilan menggunakan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, guru mempunyai peran penting dalam meningkatkan keterampilan ini. Jelas sekali bahwa siswa diharapkan untuk menguasai bahasa Indonesia dalam bentuk lisan maupun tulis yang diwujudkan dalam keterampilan menyimak/mendengarkan, membaca, berbicara dan menulis.

Berbicara adalah sebuah keterampilan berbahasa secara lisan, dan perbendaharaan bahasa mutlak diperlukan untuk menghasilkan untaian kata-kata yang bermakna, jelas, dan mudah dipahami orang lain. Selanjutnya kemampuan atau keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa lisan.

Berdasarkan hasil observasi mengindikasikan bahwa keterampilan berbicara  siswa memang perlu ditingkatkan. Rendahnya keterampilan berbicara siswa diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu: pembelajaran yang dilakukan secara konvensional dan terbatasnya penggunaan/pemanfaatan media. Sebagai akibatnya, siswa kurang antusias, motivasinya menurun, dan keterampilan berkomunikasinya kurang terasah. Kondisi tersebut akan berdampak pada pencapaian kualitas keterampilan yang dimiliki siswa dan hasil pada keterampilan berbicara pada umumnya. Seperti yang terlihat pada nilai rata-rata keterampilan berbicara di semester ganjil lebih rendah dibandingkan nilai keterampilan yang lain. Nilai rata-rata untuk mendengarkan 7,08; berbicara 6,80; membaca 7,29; dan menulis 7,04. Upaya untuk meningkatkan keterampilan berbicara ini juga memerlukan suatu pendekatan yang dapat menciptakan suasana baru dan menarik bagi siswa. Penggunaan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran diharapkan akan merangsang kreativitas siswa.

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah, rumusan masalah yang peneliti analisis dalam penelitian ini:

  1. Apakah melalui Penerapan Pendekatan Scientific dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi Bahasa Indonesia siswa kelas 2 SD Negeri 3 Kertayasa  Semester  2 Tahun Pelajaran 2014/2015?
  2. Apakah melalui Penerapan Pendekatan Scientific dapat meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas 2 SD Negeri 3 Kertayasa Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015?

 

Landasan Teori

Carl I Hovland dalam Yeti Sumaryati ( 2010 : 1 ) berpendapar bahwa komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap. Menurut Murphy ( 2014 ) mengemukakan bahwa komunikasi adalah seluruh proses yang diperlukan untuk mencapai pikiran-pikiran yang dimaksud. Senada Murphy, Everett M. Roger juga mengemukakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi terhadap satu sama lain, yang pada akhirnya ada saling pengertian.

Sedangkan menurut Onong Uchjana Effendi ( 2006 ) menyatakan bahwa komunikasi adalah sebagai transfer informasi atau pesan dari komunikan kepada komunikator. Tujuannya adalah tercapainya saling pengertian antara kedua belah pihak. Komunikator memberikan makna dalam pesan tersebut kemudian ditangkap oleh komunikan dan diberikan arti sesuai dengan konsep yang dimiikinya.

Menurut Tarsis Tarmudji (1992:5) menyatakan bahwa komunikasi adalah pemberian dan penerimaan informasi berupa pengetahuan dan atau pengertian, dengan maksud untuk menggugah partisipasi agar hal-hal yang diberitahukan itu menjadi milik bersama. Informasi pada umumnya berupa pola-pola, isyarat-isyarat atau tanda-tanda, kata-kata dan sebagainya, yang hanya mempunyai makna atau arti setelah ada kesepakatan diantara manusia.

Sementara itu, Drs.R.I. Suhartin Citobroto mengemukakan bahwa komunikasi adalah penyampaian pengertian dari seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang –lambang dan penyampaian tersebut merupakan suatu proses.Ciri-ciri atau  aspek yang harus dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif , yaitu :

  1. Kejelasan ( Clarity ).
  2. Ketepatan ( Accuracy ).
  3. Konteks ( Contex ).
  4. Alur ( Flow ).
  5. Budaya ( Culture ).
  6. Perbendaharaan kata-kata (Vocabulary).
  7. Kecepatan (Racing).
  8. Intonasi suara.
  9. Humor dan suspense.
  10. Waktu (Timing ) yang tepat.

   Ketika aspek – aspek tersebut di atas dapat terpenuhi dalam proses komunikasi, maka proses komunikasi yang efektif dapat terlaksana dengan baik selain juga dipengaruhi oleh faktor – faktor manusianya. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah hubungan dua arah atau lebih yang saling memberi dan menerima pesan atau informasi sehingga dapat dimengerti dan dimiliki oleh kedua belah pihak.

Pendekatan scientific merupakan suatu pembelajaran dimana dalam proses pembelajarannya  merupakan proses ilmiah. Siswa diajak untuk mengamati, mencoba, menalar, mengkomunikasikan, dan mengkonfirmasikan tentang hal yang dipelajari. Karena itu peneliti mencoba menerapkan pendekatan ilmiah dalam proses pembelajaran. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuwan lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum.

Prestasi belajar / hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan tes atau angka yang diberikan oleh guru. Prestasi individu adalah hal – hal yang telah dicapai oleh seseorang yang disebut prestasi belajar ( Oemar Hamalik, 2001 : 103 ).

Menurut Tirtonegoro ( 2001 : 43 ) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dengan simbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.

Menurut Muhibinsyah ( 2004 : 132 ) menyatakan bahwa prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh:

  1. Faktor yang berasal dari internal ( dari dalam diri siswa ) yang meliputi fisiologis dan psikhologis. Kondisi fisiologis anak meliputi kesehatan dan keadaan anak. Sedangkan keadaan psikhologis anak meliputi tingkat kecerdasan /intelegensi siswa, sikap, minat, bakat, dan motivasi.
  2. Faktor yang berasal dari eksternal ( dari luar diri siswa ) meliputi faktor lingkungan sosial dan faktor non sosial. Faktor linhkugan sosial meliputi guru, staf administrasi, teman-teman dan masyarakat. Sedangkan faktor lingkugan non sosial meliputi gedung sekolah, rumah, alat-alat belajar, cuaca, dan waktu belajar.
  3. Faktor metode yaitu jenis upaya yang meliputi strategi dan metode yang diguakan siswa utuk melakukan kegiatan pembelajaran dalam memahami materi pembelajaran.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud prestasi belajar adalah hasil usaha seseorang setelah melalui kegiatan pembelajaran yang menggambarkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang ditujukan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru dalam kurun waktu tertentu.

Dalam penelitian ini, untuk mengukur kemampuan prestasi belajar siswa, peneliti menggunakan instrumen tes prestasi belajar berupa tes tertulis dengan bentuk pilihan ganda terdiri dari sepuluh ( 20 ) butir soal, jawaban singkat terdiri dari sepuluh ( 10 ) butir soal, dan uraian /esay terdiri dari lima ( 5 ) butir soal. Sedangkan untuk mengukur kemampuan berkomunikasi peneliti menggunakan instrumen proses berupa lembar pengamatan yang terdiri dari sepuluh ( 10 ) butir indikator.

METODE PENELITIAN

Setting dalam penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 3 Kertayasa Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara Tahun Pelajaran 2014 / 2015 pada semester 2 dimulai dari bulan Maret 2015 sampai bulan Juni 2015. Penelitian ini dilakukan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan dilakukan sebanyak dua ( 2 ) siklus. Jadwal pelaksanaan penelitian sebagai berikut:

Siklus I

  1. Hari/Tanggal : Pertemuan 1 : Tanggal 30 Maret s/d 4 April 2015

                         Pertemuan 2 : Tanggal 6 April s/d 11 April 2015

                         Pertemuan 3 : Tanggal 13 April s/d 18 April 2015

  1. Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar sesuai ciri-cirinya dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami orang lain.

Siklus II

  1. Hari/Tanggal : Pertemuan 1 : Tanggal 4 Mei s/d 9 Mei 2015

                      Pertemuan 2 : Tanggal 11 Mei s/d 16 Mei 2015

                      Pertemuan 3 : Tanggal 25 Mei s/d 30 Mei 2015

     2. Kompetensi Dasar : Menceritakan kembali cerita anak yang  didengarkan dengan menggunakan kata-kata sendiri.

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas II pada SD Negeri 3 Kertayasa Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara Tahun Pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 24 siswa terdiri dari 8 siswa perempuan dan 16 siswa laki-laki dengan karakteristik siswa memiliki potensi dan kompetensi yang heterogen. Teknik pengumpulan data dengan tes dan pengamatan.Adapun indikator keberhasilan penelitian ini adalah apabila persentase rata-rata kemampuan berkomunikasi  minimal 75% dan ketuntasan  belajar  dengan rata-rata minimal 80%

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dari deskripsi tiap siklus diketahui bahwa komunikasi siswa pada siklus I mencapai kategori baik dengan persentase rata-rata 76,66%. Sedangkan pada siklus II persentase rata-rata kemampuan berkomunikasi siswa mengalami peningkatan menjadi 81,91% dengan kategori sangat baik. Hal ini berarti indikator keberhasilan terbukti bahwa persentase rata-rata kemampuan berkomunikasi siswa kategori baik minimal 75% telah terlampaui.

Dilihat dari segi ketuntatasan pada siklus I diperoleh rata-rata 58,33%. Walaupun belum mencapai indikator keberhasilan dengan rata-rata prestasi belajar 80%, tetapi kondisi ini telah menunjukkan bahwa ketuntatsan belajar mengalami peningkatan rata-rata dari kondisi awal. Pada siklus II indikator keberhasilan telah dapat dilampaui dengan diperoleh rata-rata ketuntatasan belajar sebesar 83,33%.

Berdasarkan pengamatan dari siklus I dan siklus II dalam penelitian ini, ternyata penerapan  pendekatan pembelajaran scientific dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya antusias siswa dalam pembelajaran. Salah satu faktanya, mereka tidak lagi enggan untuk berkomunikasi di depan kelas. Tanpa menunggu ditunjuk oleh guru, mereka berusaha untuk tampil berbicara dalam  pelajaran  bahasa Indonesia. Peningkatan kemampuan berkominikasi siswa pada pra siklus  dan siklus I dalam penelitian ini juga dapat di amati dari grafik berikut.

siklus

Grafik di atas menunjukkan prestasi belajar pada pra siklus nilai rata-rata 76,25 menjadi 76,66. Selain hal tersebut data nilai terendah ada kenaikan dari pra siklus 60 menjadi 64. Dilihat dari segi prestasi belajar siswa pada penelitian ini diperoleh data bahwa pada siklus I rata-rata prestasi belajar siswa mencapai 58,33%. Hal ini memang menunjukkan bahwa indikator keberhasilan dengan rata-rata prestasi belajar 75 belum tercapai, tetapi kondisi ini telah berhasil menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan rata-rata dari kondisi awal siswa dengan rata-rata prestasi belajar hanya 45,83%.

gb12

Berikut ini grafik yang menggambarkan adanya peningkatan prestasi belajar siswa dari kondisi awal sebelum siklus sampai berakhirnya siklus II.

sikluspra

Grafik di atas menunjukkan kemampuan berkomunikasi pada pra siklus 12 siswa kategori kurang menjadi 6 siswa pada siklus I, dan  dari 6 siswa kategori kurang menjadi 2 siswa pada siklus II. Kemampuan berkomunikasi kategori cukup pada pra siklus 6 siswa menjadi 10 siswa pada siklus I, dan  menunjukkan 10 siswa pada siklus II masih menjadi 10 siswa. Kemampuan berkomunikasi kategori baik pada pra siklus 6 siswa menjadi 8 siswa pada siklus I, menunjukkan 8 siswa dan pada siklus II menjadi 12 siswa.

Selain hal tersebut kemampuan prestasi belajar masih rendah. Nilai rata-rata pada siklus I mencapai 76,66. Perbandingan hasil penelitian pra siklus dan siklus I setelah dilakukan pengamatan pada saat proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 1

Perbandingan Kemampuan Prestasi Belajar

Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

No Kemampuan Berkomunikasi Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Nilai Tertinggi 86 88 96
2 Nilai Terendah 60 64 66
3 Nilai rata-rata 76,25 76,66 81,91
4 Ketuntasan Belajar 45,83% 58,33% 83,33%

Pada tabel di atas terlihat siklus II hasil nilai tertinggi 96, nilai terendah 66, dan nilai rata-rata 81,91. Pada siklus I nilai rata-rata 76,66 sehingga ada kenaikan 5,25 meskipun ketuntasan belajar siswa baru mencapai 83,33%.

gb3

Hasil selengkapnya disajikan dalam grafik berikut:

grafik

 Grafik 3 Perbandingan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Pra Siklus, Siklus I dan Sklus II

Grafik di atas menunjukkan prestasi belajar pada siklus I nilai rata-rata 76,66  menjadi 81,91. Selain hal tersebut data nilai terendah ada kenaikan dari siklus I 64 menjadi 66.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil beberapa kesimpulan dari penelitian tindakan kelas ini yakni: Penerapan Pendekatan Pembelajaran Scientific dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas II SD N 3 Kertayasa yaitu:

  1. Penerapan model pendekatan scientific dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas 2 SD Negeri 3 Kertayasa semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 dari pra siklus ketuntasan belajar 45,83% menjadi 83,33% pada akhir siklus II.
  2. Penerapan model pendekatan scientific dapat meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas 2 SD Negeri 3 Kertayasa semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 dari pra siklus rerata 76,25 menjadi 81,91 pada akhir siklus II.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.  2008. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas II melalui Metode Diskusi Kelompok.Pasuruan

Departemen P dan K Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 1994. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian di Sekolah Dasar. Jakarta : PT B.M.W.

Herwan Parwiyanto.  Aspek Berkomunikasi. Internet : 29 Mei 2015

Ibrahim, dkk. 1995. Pengembangan Inovasi dan Kurikulum. Jakarta : Universitas Terbuka

IGAK Wardani, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka

Kemendikbud. 2013.  Konsep Pendekatan  Scientific. Internet : 29 Mei 2015

Lexy J Moelong. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Rumisih.2008. Peningkatan Keterampilan Berdialog dalam Pembelajaran Bahasa Indinesia melalui Pendekatan Kontekstual Kelas V SD. Mrisen

Suharsimi Arikunto. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Cipta

  Tarsis Tarmudji. 1992. Komunikasi Dunia Usaha. Yogyakarta : Liberty   Yogyakarta

Warjito, 2010. Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Kelas V SD Negeri 2 Mandiraja Wetan melalui Metode Stimulus Respon Learning. Banjarnegara

Yeti Sumaryati. 2010. Komunikasi Bisnis. Bandung : CV Armico

BIODATA

Nama            : Siti Jariyah, S. Pd

NIP.              : 19650718 198608 2 001

Pangkat/Gol  : Pembina / IVa

Unit Kerja      : SDN 3 Kertayasa UPT Dindikpora Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *