infopasti.net

PTS SD Mengelola Pembelajaran Melalui Metode Peer Coaching

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENGELOLA PEMBELAJARAN MELALUI METODE PEER COACHING DI SD NEGERI  BAJING 02 SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2015/2016

ABSTRAK: Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Mengelola Pembelajaran Melalui Metode Peer Coaching di SD Negeri  Bajing 02 Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016 . Penulisan Karya Tulis ini bertujuan Melalui metode Peer Coaching dapat meningkatan Kemampuan Guru Dalam Mengelola Pembelajaran di SD Negeri  Bajing 02 semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016. Penelitian dilakukan terhadap Salah satu masalah yang dihadapi guru SD Negeri Bajing 02 adalah kurangnya kemampuan dalam mengelola Pembelajaran. Hal ini ditunjukan dari tingkat ketuntasan belajar siswa yang rendah dalam berbagai macam Pelajaran. Melalui penelitian tindakan sekolah dengan menggunakan metode peer coaching yang dilakukan oleh Kepala Sekolah diharapkan guru dalam mengelola Pembelajaran dapat optimal secara bertahap. Sebagaimana tujuan utama peer coaching adalah memberikan bantuan tekhnis dan bimbingan antar guru agar personil tersebut mampu meningkatkan kualitas kinerjanya dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan proses belajar mengajar. Melalui peningkatan kinerja guru dalam mengelola Pembelajaran melalui metode peer coaching diharapkan mampu menjadi solusi dalam membantu guru memahami tujuan pendidikan, melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya.

Hasil perolehan tertinggi siklus 1 adalah 91, dan terendah 73. Sedangkan perolehan siklus 2 tertinggi adalah 91, dan terendah 83. Hasil perolehan pengamatan dari 6 orang guru tersebut menunjukan bahwa perolehan rata-rata siklus 1 adalah sebesar 82, dan perolehan rata-rata siklus 2 sebesar 86. Dalam hal ini menunjukan adanya peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran melalui metode Peer Coaching.

 

Kata Kunci : Peer Coaching, Kinerja Guru.

 

  Guru profesional adalah guru yang menyajikan pembelajaran dengan perencanaan yang baik dan hasil yang memuaskan. Dapat menciptakan suasana belajar yang membuat kelas nyaman dan membuat siswa selalu rindu dengan buku dan gurunya. Guru bukanlah hakim dalam pembelajaran yang hanya mendefinisikan siswa sebagai siswa yang mampu dan tidak mampu tetapi guru adalah pendidik yang mampu membuat sebuah perubahan dari yang tidak mampu menjadi mampu sesuai dengan situasi yang terjadi. Berbagai masalah yang dialami guru tidak lepas dari kemajuan jaman yang mendorong mereka untuk semakin cepat beradaptasi dengan materi dan metode yang tepat demi mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Masalah yang dialami oleh guru dalam mencapai Kretiria Ketuntasan Minimum siswa adalah belum semua tenaga pendidik memahami akan pentingnya perencanaan yang matang dalam pemilihan metode dan alat bantu mengajar pada masing-masing mata pelajaran yang akan dilaksanakan. Semakin tinggi kemampuan siswa menguasai kompetensi yang diharapkan akan semakin tinggi daya serap yang diperoleh. Dalam kenyataannya (berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru yang bertugas di SDN  Bajing 02) tidak sedikit siswa yang memiliki kompetensi di bawah standar yang telah ditetapkan Kretiria Ketuntasan Minmum.

      Kretiria Ketuntasan Minmum telah ditetapkan oleh guru sejak awal tahun pelajaran. Dalam menetapkan Kretiria Ketuntasan Minmum guru  berdasarkan pada kiteria yang telah ditentukan , di antaranya input siswa, kompleksitas materi pelajaran, dan daya dukung. Daya dukung di sini meliputi sarana/prasarana yang ada maupun kemampuan guru didalam menggunakan atau menciptakan alat peraga yang digunakan pada masing-masing mata pelajaran. Dengan ditetapkannya Kretiria Ketuntasan Minimum tersebut akan digunakan oleh guru dalam menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan kemampuan siswa. Guru akan berusaha semaksimal mungkin agar semua siswa memiliki kompetensi minimal sama dengan Kretiria Ketuntasan Minmum. yang telah ditentukan. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam pembelajaran di SD Negeri Bajing 02, pencapaian Kretiria Ketuntasan Minmum tidak semudah yang diharapkan. Dalam setiap akhir pembelajaran kompetensi dasar tertentu, tidak semua siswa dapat mencapai nilai di atas  Kretiria Ketuntasan Minmum.  Menurut perhitungan rata-rata di masing-masing kelas dari kelas satu sampai kelas enam  sekitar 44 % siswa yang dapat mencapai KKM yang telah ditentukan.

        Kenyataan di atas akan menjadi semakin serius apabila tidak segera diatasi. Salah satu kegiatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melaksanakan perbaikan pembelajaran berdasarkan hasil belajar pada masing-masing kompetensi di masing-masing mata pelajaran pada setiap kelas. Guru perlu memprogramkan dan melaksanakan pembelajaran perbaikan untuk mengatasi siswa yang belum mencapai standar minimal KKM.

        Belum efektifnya pelaksanaan pembelajaran di sekolah sebagian guru menjawab kendalanya adalah :1. Masih banyak mengalami kesulitan dalam mengelola kelas. 2. Masih rendahnya kemampuan guru dalam memilih metode dan strategi yang tepat untuk melaknasakan program pembelajaran . 3. Sebagian besar guru dalam melaksanakan program pembelajaran orientasinya semata-mata hanya untuk melaksanakan kewajiban sebagai guru yaiti mengajar. 4. Kebiasan guru dalam mengoreksi setiap hasil ulangan hanya memfokuskan pada pencapaian nilai untuk memasukan kedalam daftar nilai sehingga guru hanya mengetahui jumlah benar dan salah pada masing-masing peserta didik  bukan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa .

      Atas dasar pertimbangan di atas untuk dapat melaksanakan pembelajaran perbaikan dengan maksimal kompetensi guru tentang pembelajaran perlu ditingkatkan. Salah satu jenis kegiatan yang  dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran adalah melalui Penelitian Tindakan Sekolah. Oleh sebab itu sesuai dengan tugas pokok dan fungsi peneliti sebagai kepala sekolah, peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul ” Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Mengelola Pembelajaran Melalui metode Peer coaching di SDN  Bajing 02.

Rumusan Masalah

        Rumusan masalah dalam penelitian tindakan sekolah adalah: 1. Bagaimana melalui metode Peer Coaching dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran SD Negeri  Bajing 02?  2. Seberapa jauh melalui metode Peer Coaching memiliki dampak terhadap meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran SD Negeri  Bajing 02?

Tujuan Penelitian

        Tujuan yang ingin dicapai dalam Penelitian Tindakan Sekolah ini adalah:  1. Melalui metode Peer Coaching dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran SD Negeri  Bajing 02. 2. Melalui metode Peer Coaching memiliki dampak terhadap meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran SD Negeri  Bajing 02.

KAJIAN PUSTAKA

 

Kompetensi Guru

         Guru merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan, guru merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kompetensi guru sangat berpengaruh dalam menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Ada beberapa hal yang dapat membentuk kompetensi guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antara individu baik dengan siswa maupun antar semua guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan seperti administrator serta masyarakat.

       Undang – undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen menyebutkan bahwa “ kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.”

       Kompetensi profesional guru menurut Sudjana (2002 : 17-19) dapat dikelompokkan menjadi tiga bidang yaitu pedagogik, personal dan sosial. Kompetensi pedagogik menyangkut kemampuan intelektual seperti penguasaan mata pelajaran, pengetahuan menganai cara mengajar, pengetahuan mengenai belajar dan tingkah laku individu, pegetahuan tentang bimbingan penyuluhan, pengetahuan tentang administrasi kelas, pengetahuan tentang cara menilai hasil belajar, pengetahuan tentang kemasyarakatan serta pengetahuan umum lainnya.

        Fkry (Mulyasa, 2006:18) mengatakan bahwa kompetensi guru yang terdiri dari paedagogik, kepribadian, sosial dan profesional.

Kompetensi paedagogik

        Memahami potensi anak didik dan cara membantu mengembangkannya. Memahami teori belajar. Menguasai berbagai model dan strategi pembelajaran sehingga murid betul-betul belajar dengan efektif dan kreatif.

Kompetensi teori belajar

         Memiliki komitmen dan kemampuan tinggi dalam melakukan tugasnya. Memiliki rasa kasih sayang kepada peserta didik tanpa membeda-bedakan. Memiliki rasa tanggung jawab dalam melaksanakan fungsinya sebagai guru dan berakhlak mulia.

Kompetensi professional

         Menguasai substansi atau materi mata pelajaran yang menjadi bidang keahlian. Menguasai sumber dan perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. Menguasai bagaimana menyusun rencana pembelajaran yang mengemas isi, media teknologi dan nilai dalam setiap proses pembelajaran.

Kompetensi sosial

         Memahami pentingnya hubungan antara sekolah dengan orang tua dan tokoh masyarakat yang berpengaruh terhadap proses pendidikan anak di sekolah secara langsung atau tidak langsung. Mengerti nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dan dijunjung tinggi oleh masyarakat yang merupakan pegangan hidup, yang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan watak dan kepribadian peserta didik.

        Menurut Meyer( 2001: 1-3) bahwa peranan guru sangat dibutuhkan untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya pada siswa sehingga mencapai keberhasilan. Begitu pula guru harus memperhatikan kebutuhan akademik dan sosial untuk siswanya serta hendaknya dapat bekerjasama dengan kelompoknya di dalam memecahkan masalah yang timbul.Dalam menyusun standar kemampuan guru diperlukan kriteria tertentu seperti yang dikemukakan oleh Pearson, beliau berpendapat bahwa sebelum menyusun standar-standar minimum kemampuan atau menilai staf pengajar, para pengurus harus mendefinisikan secara hati-hati tentang kemampuan.Menurut Pearson (Thomas, 1984: 4-5), tiga penilaian harus dilakukan untuk mengetahui seseorang sebgai guru yang cakap, yaitu standar-standar apa yang harus dipenuhi oleh seorang guru untuk mengajar secara memuaskan, keahlian-keahlian apa yang pada umumnya diperlukan bagi seseorang untuk berperan di tingkat ini? Serta apakah orang tersebut mempunyai keahlian-keahlian yang diwajibkan ini?

        Dari analisis survey yangdikemukakan oleh Pearson (Roengge, 1996:7-8) menunjukkan bahwa karakteristik-karakteristik penting yang harus dimiliki oleh guru-guru yaitu keahlian bekerjasama (keahlian memecahkan masalah, kepemimpinan, terutama berkenaan dengan perubahan serta rasa hormat dan nilai), untuk keahlian teknologi (kemampuan dalam banyak aplikasi komputer, kemampuan untuk mengajar, serta pengalaman dalam bidang perencanaan, pengembangan dan penggunaan media), pengalaman dunia nyata berbeda-beda (belajar keahlian dalam bidang bisnis dan industri, pengalaman pekerjaan dalam bidang pendidikan kejuruan), keahlian integrasi (program pendidikan yang meliputi kurikulum akademik dan kejuruan, kemampuan dalam bidang-bidang yang berkaitan), keahlian Aplikasi (kemampuan untuk merencanakan kurikulum terapan), keahlian artikulasi (kemampuan untuk bekerja sama dengan staf pengajar untuk mengembangkan program, kemampuan untuk berkomunikasi), serta keahlian pengajara (pengetahuan berbagai metode pengajaran berdasarkan teori pembelajaran, kemampuan di dalam menggunakan berbagai metode pengajaran).

                Dari literature yang dikemukakan oleh National Academy Of Science (1996:7) mengenai standar pengembangan profesi guru dinyatakan bahwa untuk memenuhi standar, semua guru harus memiliki pengetahuan yang luas agar siswa dapat: 1) Memahami sifat riset ilmu pengetahuan. 2) Memahami bukti-bukti fundamental dan konsep-konsep dalam disiplin ilmu pengetahuan. 3) Mampu membuat hubungan konseptual didalam dan disekitar disiplin ilmu. 4) Menggunakan pemahaman ilmiah dan kemampuan ketika berhadapan dengan isu personal dan sosial.

Program pengembangan professional guru harus bersifat terpadu. Adapun kemampuan yang harus dimiliki seorang guru adalah ;

Kemampuan merencanakan

program belajar mengajar

       Yakni sebelumnya membuat perencanaan belajar mengajar, guru terlebih dahulu harus mengetahui arti dan tujuan perencanaan tersebut, dan menguasai secara teoritis dan praktis. Unsur-unsur yang terdapat dalam perencanaan belajar mengajar. Makna atau arti dari pada perencanaan program belajar mengajar tidak lain adalah suatu proyeksi perkiraan guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pengajaran itu berlangsung. Dalam kegiatan tersebut secara terinci harus jelas kemana siswa akan dibawa (tujuan), apa yang harus dipelajari (isi bahan pelajaran), bagaimana cara siswa mempelajarinya (metode dan teknik) dan bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapainya (penilaian). Tujuan, isi, metode dan teknik serta penilaian merupakan unsur utama yang secara minimal harus ada dalam setiap program belajar mengajar. Tujuan program atau perencanaan belajar mengajar tidak lain sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan praktek atau tindakan mengajar. Dengan demikian apa yang harus dilakukan guru pada waktu mengajar bersumber kepada program yang telah dibuat sebelumnya.

Melaksanakan dan mengelola

 proses belajar mengajar

        Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar kemampuan yang dituntut adalah keaktifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun dalam perencanaan. Guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat apakah kegiatan belajar mengajar dihentikan ataukah diubah metodenya, apakah mengulang dulu pelajaran yang lalu, manakala para siswa belum dapat mencapai tujuan pengajaran. Pada tahap ini di samping pengetahuan teori tentang belajar mengajar, tentang pelajaran, diperlukan pula keterampilan teknik mengajar misalnya prinsip-prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran, penggunaan metode mengajar, keterampilan menilai hasil belajar siswa, keterampilan memilih dan menggunakan strategi atau pendekatan mengajar.

Menilai kemajuan proses belajar mengajar

        Setiap guru harus dapat melakukan penilaian tentang kemajuan yang dicapai para siswa, baik secara iluminatif-observatif maupun secara structural-objektif. Penilaian secara iluminatif-observatif dilakukan dengan pengamatan yang terus menerus tentang perubahan dan kemajuan yang dicapai siswa.Sedangkan penilaian secara structural-objektif berhubungan dengan pemberian skor, angka atau nilai yang biasa dilakukan dalam rangka penilaian angka hasil belajar siswa.

Menguasai bahan pelajaran

        Guru yang bertaraf professional penuh mutlak harus menguasai bahan yang akan diajarkannya. Memang guru bukan maha tahu, tetapi guru dituntut memiliki pengetahuan umum yang luas dan mendalami keahliannya atau mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.Menjadi persoalan ialah konsep manakah yang harus dikuasai guru sehubungan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar? Secara jelas dan tegas bahwa konsep-konsep tersebut telahada dalam kurikulum khususnya Garis-Garis Program Pengajaran (GBPP) yang disajikan dalam bentuk pokok bahasan dan sub pokok bahasan. Itulah sebabnya guru harus membaca, mempelajari dan menguasi kurikulum, khususnya GBPP bidang yang dipegangnya.Uraian lebih mendalam setiap konsep dan pokok bahasan ada dalam buku pelajaran (teks book), sehingga usaha guru untuk mempelajari buku tersebut sebelum mengajar sangat diperlukan.

Efektivitas Proses Pembelajaran

        Keseluruhan dari proses pendidikan bertujuan untuk menghasilkan mutu lulusan yang berkualitas . Coombs mengemukakan (Emi, 1992:26) bahwa konsep mutu pendidikan diukur dari prestasi belajar seperti yang dikaitkan dengan kurikulum dan standarnya dan diukur dari segi relevansinya antara yang diajarkan dengan apa yang dipelajari dan sejauh mana apa yang diajarkan dan dipelajari itu sesuai dengan kebutuhan saat ini dan untuk masa yang akan datang. Hal ini dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikan harus berdaya guna.

        Lebih khusus mengenai hasil belajar, Nana (2005:22) mengemukakan bahwa penguasaan bahan pelajaran ternyata memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa.Jadi terdapat hubungan yang positif antara penguasaan bahan oleh guru dengan hasil belajar yang dicapai siswa.Artinya, makin tinggi penguasaan bahan pelajaran oleh guru makin tinggi pula hasil belajar yang dicapai siswa.

Metode Peer Coaching

      Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No 74 tahun 2008 tentang guru  dimana tugas dan fungsi seorang guru yang memiliki kompetensi pedagogik, professional, social dan kepribadian   memiliki tugas yang  utama yaitu; merencanakan, mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. .sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan di negara Indonesia tercinta ini.

         Kemampuan profesianal guru di uji dengan berbagai hal, salah satunya yaitu dengan uji kompetensi bagi calon guru professional yang dilaksanakan oleh kemendikbud beberapa waktu yang telah lalu.menunjukan hasil yang tidak memuaskan. Sehingga terjadi berbagai kehawatiran dari pemerintah, ditambah dengan adanya penurunan kualitas pendidikan secara kumulatif ditingkat nasional dan internasional tentu menjadi bahan pemikiran bagi pemerintah, dengan   berupaya mencari alternative model pembinaan terhadap Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) khususnya guru  untuk melengkapi model-model pembinaan yang telah ada yang dipandang mampu meningkatkan kualitas keprofesian guru.

         Salah satu model pembinaan profesi PTK khususnya guru adalah dengan peer coaching,  lalu timbul pertanyaan apa, kenapa, dan bagaimana peer coaching? Peer coaching adalah suatu Metode pengembangan profesional untuk meningkatkan kemitraan  dan menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapi guru. Dalam peer coaching, para guru berbagi pengalaman mereka, saling memberikan masukan, dorongan, bersama-sama memperbaiki keterampilan mengajar, ataupun memecahkan masalah dalam kelas. Kinlaw (dalam Rush, Shelden, & Hanft, 2003),

         Tujuan yang di harapkan dari  Peer Coaching adalah : 1) Terjadinya kolaborasi antar guru, 2) Berbagi idea, 3) Timbulnya rasa kebersamaan, 4) Terjadinya dialog professional dan 5) Meningkatkan kompetensi guru.

                  Peer coaching merupakan sarana memaksimalkan kekuatan yang dimiliki, mendorong dan meningkatkan komunikasi, serta membantu mereka (guru) mencapai sasarannya dalam waktu lebih cepat. Lebih lanjut Meyer dan Grey (1996) menyatakan bahwa peer coaching sebagai sebuah inovasi untuk memperbaiki cara pengajaran guru yang bisa diimplementasikan di berbagai jenjang pendidikan. Dari pernyataan itu mengandung makna bahwa permasalahan peningkatan mutu guru dapat dijawab dengan metode ini.

       Menurut Susanto, (2007) peer coaching menjadi alat yang penting dalam perkembangan profesional dan pribadi seseorang. Peer coaching dapat berpengaruh positif bagi pengembangan karir, membantu menumbuhkan dan meningkatkan rasa tanggungjawab dari setiap perilaku dan tindakan yang dilakukan, serta mendorong pengerahan kemampuan terbaik melewati keterbatasan-keterbatasan yang selama ini sebenarnya diasumsikan sendiri. Dengan peer coaching seseorang dapat meningkatkan kepercayaan dirinya, memperoleh kepuasan lebih dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi, memberikan kontribusi yang lebih efektif bagi tim atau organisasi melalui tindakan dan perilaku yang lebih baik dan lebih cerdas, memungkinkan diperolehnya feedback (umpan balik) bagi rencana-rencana dan ide-ide yang dimiliki, serta bekerja lebih mudah dan lebih produktif dengan orang lain (atasan, rekan kerja, ataupun bawahan) (Rachman dan Savitri, 2007).

       Menurut Ridwan (2007) memanfaatkan strategi peer coaching adalah sebuah strategi yang mendorong para guru untuk bekerja sama secara profesional sehingga menghapuskan keterisolasian. Selain itu peer coaching juga menjadi sarana untuk: 1)Mendorong melakukan refleksi dan analisa pelaksanaan pembelajaran. 2) Mengembangkan umpan balik yang spesifik dari waktu ke waktu. 3) Membantu pengembangan kerja sama antar guru di seluruh sekolah yang termasuk dalam jejaring kerjasamanya

       Sebagai hasilnya, para guru mengalami perubahan yang positif dalam praktek pengajaran mereka.Dalam banyak kasus kegiatan terorganisir ini dirancang untuk meningkatkan penggunaan dan pemahaman suatu inovasi kurikulum atau strategi pembelajaran. Sehingga proses berbagi (sharing) dalam peer coaching merupakan suatu proses siklis yang dirancang sebagai suatu perluasan dari kebutuhan guru. Sejalan dengan hal di atas Ladyshewsky (2006) menyebutkan bahwa terdapat framework (bingkai kerja) yang menyangkut tiga komponen yang melandasi keberhasilan peer coaching ini.

Kerangka Berfikir

      Konsekuensi dari sebuah kegiatan untuk melakukan upaya peningkatan terhadap suatu hasil yang memiliki urgensi yang sarat dengan berbagai aspek ataupun faktor yang berkaitan dengan pencapaian tujuan seperti yang diharapkan, maka proses pelaksanaan kegiatan tersebut selayaknya melalui alur yang sistematis sehingga kontribusi mengenai asumsi – asumsi yang muncul dalam setiap tahap penelitian akan mampu di pecahkan secara lebih terinci dan sistematis tentunya.

Hipotesis Tindakan

       Berdasarkan pada uraian latar belakang dan rumusan masalah dalam penyusunan penelitian ini, hipotesa tindakan yang diajukan adalah : “Diduga dengan pelaksanaan metode Peer coaching akan meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran di SDN  Bajing 02”.

METODE  PENELITIAN

JenisPenelitian

      Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (actionresearch). Karena dalam penelitian   ini peneliti melakukan  sesuatu tindakan,  mengamati  dan melakukan perubahan terkontrol dan  dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di sekolah. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif,sebab menggambarkan bagaimana  suatu  teknik  Peer coaching diterapkan  dan  bagaimana  hasil   yang diinginkan dapat dicapai. Dan penelitian ini juga disebut eksperimen karena peneliti mencoba melakukan pemberian pengertian untuk dilakukan oleh guru tentang bagaimana tugas dan fungsi seorang guru.

       Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan langsung oleh kepala sekolah sebagai penanggung jawab dibantu oleh teman sejawat sebagai observer. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran di kelas,dimana kepala sekolah secara penuh terlibatdalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Dalam penelitian  tindakan sekolah ini,peneliti menggunakan model dari kemmis&Tagart.Peneliti menggunakan model tersebut karena dirasa sesuai dengan tujuan dari penelitian ini.

Setting Penelitian

       Tempat penelitian adalah tempat yang  digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini  bertempat di  SD Negeri  Bajing 02. Subjek Penelitian adalah guru kelas 1 sampai kelas 6 SD Negeri  Bajing 02.

Variable Penelitian

Variabel pada penelitian tindakan kelas

ini antara lain; 1) Penerapan metode Peer coaching  pada guru  SD Negeri  Bajing 02. 2) Hasil penelitian menggunakan metode Peer coaching pada guru SD Negeri  Bajing 02 .

SiklusPenelitian

      Untuk mencapai tujuan dari diadakannya PTS ini, maka diperlukan tindakan- tindakan nyata dengan refleksi terhadap tercapainya tujuan penelitian.Tindakan yang peneliti gunakan adalah model Kemmis dan Mc.Taggart dari Deakin University, Australia. Untuk memperjelas gambaran tindakan pada masing-masing siklus peneliti menguraikan uraian 2 siklus yang akan dilaksanakan dengan rencana kegiatan sebagai berikut:

Siklus I

Rancangan Perencanaan

       Menyiapkan  alat  observasi sebagai panduan dalam mengamati pelaksanaan selama proses Kegiatan Belajar Mengajar ; Menyiapkan alat  evaluasi yang berupa pertanyaan dan penugasan serta menyiapkan lembar penilaian. Menyiapkan instrumen pengamatan berupa Instrumen Penilaian Kinerja Guru (IPKG), dokumen perangkat dan hasil pembelajaran perbaikan yang telah dilaksanakan oleh masing-masing guru.

Rancangan Tindakan

Kegiatan Awal

      Menyusun kesep,  Menentukan jadwal pengamatan besama untuk masing-masing guru kelas sesuai kesepakatan yang telah ditentukan ; Peneliti memberi penjelasan singkat tentang konsep program pembelajaran yang akan dilaksanakan, teknik penyusunan rencana plaksanaan pembelajaran perbaikan, srategi pelaksanaan pembelajaran perbaikan, dan instrumen analisis dan penilaian hasil belajarPeserta melaksanakan diskusi terhadap (dibimbing oleh teman sejawat) materi yang telah dijelaskan di atas sekaligus menerima masukan dari guru agar proses pembelajaran perbaikan berlangsung lebih efektif. Melaksanakan pembimbingan teman sejawat secara kelompok maupun individual dalam penyusunan rencana plaksanaan pembelajaran perbaikan, instrumen penilaian, pelaksanaan pembelajaran perbaikan, evaluasi hasil perbaikan, dan analisis hasil evaluasi. Masing-masing guru kelas  mengimplementasikan di masing masing kelasnya dari kelas I samapai kelas VI ; Guru  melakukan evaluasi sesuai Kopetensi yang telah selesai dilaksanakan di masing-masing kelas sesuai kurikulum untuk memberikan umpan balik terhadap hasil kegiatan belajar mengajar  di masing-masing kelas.

Kegiatan inti

       Peneliti memberikan penjelasan tentang bagaimana proses pembelajaran yang baik ; Peneliti memberikan contoh bagaimana tugas seorang guru sebagai pendidik. Peneliti  membimbing guru cara memberikan bimbingan terhadap tingkat kesulitan peserta didik; Peneliti mengamati aktivitas guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sampai pelaksanaan ulangan harian; Peneliti membimbing guru menemukan kesulitan masing-masing peserta didik sampai pelaksanaan pembimbingan. Peneliti mengevaluasi kemampuan guru.

Kegiatan akhir

       Peneliti memberikan kesempatan pada masing-masing guru untuk melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa ;  Peneliti  memandu guru dalam memberikan layanan pembimbingan  untuk menarik kesimpulan layanan apa yang harus diberikan kepada masing-masing guru sesuai kelasnya. Peneliti  memberi penguatan kepada guru dalam meningatkan proses pembelajaran yang baik dan membuat siswa termotivasi dalam pembelajaran sehingga hasil belajar terus meningkat.

Rancangan Observasi

      Dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan di atas yang dilakukan oleh peneliti selaku kepala sekoalah dan pengawas sebagai supervaiser dalam pelaksanaan tindakan pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pelaku tindakan sekolah. Adapun hal-hal yang diobservasi meliputi: 1) Urutan langkah-langkah pelaksanaan KBM. 2) Aktifitas guru dalam mengelola KBM. 3.Kegiatan guru dalam melakukan penilain pada setiap akhir pembelajaran. 4)  Kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing guru dalam melakukan pembimbingan dan tindak lanjut setelah proses pemelajran berakhir.

Refleksi

      Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap siklus 1 guru terlihat kurang suka pada kegiatan tersebut, tetapi apa yang dikehendaki oleh Kepala Sekloh dilakukan dengan baik, walaupun tidak semaksimal yang diharapkan. Maka kekurangan yang terjadi diharapkan dapat terpenuhi pada siklus berikutnya. Diadakan siklus berikutnya dengan maksud, apa yang diharapkan belum memenuhi target.

Siklus II

Rancangan Perencanaan (planning)

      Menyiapkan rencana perbaikan sebagai penyempurnaan siklus I. Memadukan hasil refleksi I agar pelaksanaan siklus II lebih efektif. Menyiapkan instrumen penilaian untuk kegiaan pengamatan (observation) berikutnya.

Rancangan Tindakan (action)

Kegiatan awal

       Melaksanakan diskusi dengan guru dalam rangka mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilaksanaan pada siklus I. Melaksanakan pembimbingan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dalam kelas. Peneliti bersama supervisor mengikuti pembelajaran sampai pelaksanaan layanan pembimbingan dan tindak lanjut.

Kegiatan inti

      Guru kelas melakukan KBM sesuai kompetensi dan dan model pembelajaran yang telah direncanakan pada RPP ; Guru melakukan penlaian secara berkala baik pada saat pelaksanaan maupun akhir pembelajaran sebagai bahan untuk melakuakan layanan pembeimbingan yang sesuai tingkat kebutuhan masing-masing peserta didik ; Guru melakukan kegiatan sesuai petujuk yang telah diberikan oleh Peneliti  sesuai hasil  pengamatan ; Selesai waktu yang sudah ditentukan Peneliti  mengajak guru berkumpul  kembali untuk diskusi hasil kegiatan dan pengamatannya Peneliti memandu diskusi dan guru diberi kesempatan memberi tanggapan. Peneliti mengevaluasi kemampuan guru.

Kegiatan akhir

       Peneliti memberi kesempatan kepada guru kelas untuk mengungkapkan hambatan/kesulitan yang dialami selama kegiatan berlangsung ; Guru mengimplementasikan sesui hasil yang telah dilaksanakan.

Observasi

       Mengamati kegiatan guru pada waktu diskusi dan menyusun perencanaan perbaikan. Mengamati guru dan siswa pada kegiatan pembelajaran. Melaksanakan penilaian kinerja guru yang dilakukan oleh Kepala Sekolah.

Refleksi

       Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap siklus 2, guru terlihat ada peningkatan kemampuan dalam mengelola pembeljaran, yang tadinya tidak ada menjadi ada. Termasuk penguasaan uborampai dalam pengelolaan, baik sarana atau pelaksanaan dalam melaksanakan KBM. Kekurangan pada siklus   1   telah terpenuhi pada  kegiatan siklus 2. Peningkatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran melalui kompetensi manajerial sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan.

Teknik Pengumpulan Data.

       Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa model pengumpulan data adalah cara–cara yang dapat digunakan oleh peneliti dalam mengumpul kan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat,lengkap dan sistematis,sehingga lebih mudah diolah.

       Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan diantaranya: Observasi atau yang  disebut   pula   dengan   pengamatan   meliputi  kegiatan pemuatan perhatian terhadap  sesuatu  objek  dengan  menggunakan seluruh alat   indra. Ridwan (2007) dalam bukunya teknik penelitian menjelaskan bahwa observasi yaitu  pengamatan   secara  langsung  ke  objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Karena  sifatnyamengamati, maka alat  yang  paling pokok adalah pancaindera, terutama indera penglihatan. Observasi peneliti gunakan untuk memperoleh data tentang proses belajar mengajar di kelas dan efektivitas proses belajar mengajar. Dokumentasi, asal katanya dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan model dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda  tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya. Dokumentasi peneliti  gunakan untuk memperoleh data tentang foto-foto  kegiatan belajar dan lain sebagainya.

Teknik Analisis Data

       Untuk menganalisis data  pada penelitian ini,  peneliti menggunakan teknik statistik deskritif Kualitatif karena penelitian ini  bertujuan untuk mendeskripsikan apakah kompetensi manajerial dapat meningkatkan proses belajar mengajar SD Negeri  Bajing 02

IndikatorKinerja

         Sebagai tolak ukur keberhasilan PTS ini,  peneliti menetapkan indikator. Adapun kriteria indikator penelitian adalah guru dapat melaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Jadwal Penelitian ini direncanakan dalam rentang waktu 3 bulan dari mulai perencanaan sampai pelaporan,yaitu antara bulan Agustus sampai Oktober 2015.

Hasil Penelitian

Deskripsi Kondisi Awal

        Guru pada  SD Negeri  Bajing 02 diantaranya adalah guru kelas. Mereka mengajarkan berbagai mata pelajaran, dimana mereka dituntut sebagai guru professional yang harus mampu menciptakan pembelajaran dengan baik dan terstruktur dari awal hingga akhir pembelajaran. Kenyataan membuktikan bahwa selama ini pembelajaran belum dapat dilaksanakan secara maksimal.Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dilakukan belum sesuai seperti yang diharapkan. Oleh sebab itu, hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut belum dapat maksimal.Selain itu, masing-masing guru masih mengerjakan tugas secara individual. Belum ada kepedulian antara guru yang satu dengan yang lain. Guru senior, yang mempunyai pengalaman lebih, belum peduli terhadap teman lain yang mengalami hambatan atau kendala dalam melaksanakan pembelajaran. Demikian juga sebaliknya, guru yang merasa belum memiliki kompetensi yang cukup tentang pembelajaran, merasa enggan bertanya ataupun untuk minta bantuan kepada guru lain yang lebih mampu.

Deskripsi Per Siklus

       Penelitian ini dimulai dengan tahapan perencanaan.Pada tahap ini peneliti melakukan identifikasi masalah, identifikasi penyebab masalah, dan merumuskan masalah yang dihadapi oleh guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Dalam kegiatan ini, peneliti membuat alternatif pemecahan masalah yang berupa kegiatan Peer coaching. Peneliti memilih peer coaching untuk mengatasi masalah yang dihadapi guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Selanjutnya peneliti menginformasikan kepada para responden tentang konsep dasar peer coaching (pembelajaran teman sejawat). Pemahaman tentang peer coaching ini amat bermanfaat bagi responden agar mereka memahami manfaat peer coaching dan peran masing-masing responden. Peneliti menekankan bahwa dalam peer coaching tersebut pada hakikatnya semua responden berkedudukan sama. Mereka akan saling berbagi pengalaman. Responden yang merasa memahami dan memiliki sesuatu diharapkan akan membagikan pengalamannya kepada responden yang lain. Demikian juga sebaliknya, responden yang merasa membutuhkan sesuatu atau pengetahuan tertentu diwajibkan untuk minta informasi dari yang lain.

 Siklus 1

 Perencanaan

         Sebelum melakukan penelitian tindakan sekolah ini, dilakukan pendekatan sosialisasi dalam rapat, bahwa akan dilaksanakan suatu penelitian tindakan sekolah melalui supervisi pembelajaran yaitu dengan cara melakukan pertemuan (metting) dengan tujuan kemampuan mengajar guru dalam kegiatan belajar mengajar.

Pelaksanaan

       Menyiapkan perlengkapan administrasi penelitian (Form Observasi, dll).  Menyiapkan tempat dan perlengkapan pertemuan (metting). Pada awal pertemuan siklus 1 (pertama) ini peneliti menyampaikan tujuan dilaksanakannya penelitian tindakan sekolah ini. Menyampaikan kepada guru-guru administrasi yang mesti disiapkan yang sebelumnya sudah diinformasikan. Peneliti melakukan diskusi dan menyampaikan kepada guru-guru apa yang harus disiapkan sebelum melaksanakan tugas di dalam kelas dalam rangkaian persipaan pembelajaran yang berhubungan dengan kinerja guru atau peningkatan keterampilan mengajar kerja guru. Peneliti menyiapkan instruman yang digunakan dalam supervisi dan bukti fisik dikumpulkan untuk dinilai. Guru melaksanakan tugas dari Kepala Sekolah yang hasilnya yaitu:   1) Sangat Baik sebanyak 0 guru (0 %), 2)  Baik sebanyak 2 guru (33 %), 3) Cukup sebanyak 4 guru (67 %), 4) Kurang sebanyak 0 guru (0 %), 5)  Sangat kurang sebanyak 0 guru (0 %).  Berdasar hasil tersebut 4 guru katagori cukup  (67 %) , maka  kegiatan dilanjutkan yang hasilnya adalah : 1) Sangat Baik sebanyak 1 guru (17 %), 2) Baik sebanyak 3 guru (50 %), 3) Cukup sebanyak 2 guru (33 %), 4) Kurang sebanyak 0 guru (0 %), 5) Sangat kurang sebanyak 0 guru (0 %). Dari hasil tersebut dilanjutkan pengelompokan dan untuk mencari nilai rata-rata.

Tabel  1 Peningkatan  Kinerja Guru  

Melaksanakan Pembelajaran yang Efektif

Katagori Skor (x) f % fx
Baik sekali 90-100 1 17 90
Baik 75-89 3 50 247
Cukup 60-74 2 33 148
Kurang 50-59 0 0 0
Sangat kurang 0-49 0 0 0
Jumlah 6 100 485

   Nilai rata-rata  = 458    =  80,33

        Hasil pekerjaan guru selanjutnya diberi skor, jawaban baik sekali diberi skor 90-100, baik diberi skor 75-89, cukup diberi skor 60-74,dan kurang diberi skor 50- 59 ke bawah, dan kurang sekali diberi skor 0-49. Hasilnya dapat dilihat  pada tabel di bawah ini. Skor edial untuk kelengkapan administrasi guru  adalah 100. Hasil yang  diperoleh pada tabel tersebut nilai rata-rata sebesar 80,83 jadi hasil yang diperoleh  termasuk katagori baik.

Pengamatan

       Mengamati Guru Menyusun Rencana Pembelajaran, pengamatan telah dilakukan, dilanjutkan dengan penskoran. Sebelumnya menentukan ketentuan obyek yang termasuk katagori sangat baik, baik, cukup , kurang , dan sangat kurang. Berdasar hasil diperoleh   sangat baik 1 dari 6 guru atau  17 %,  baik 3  dari 6  atau 50 %;  cukup  2 dari 6 guru atau  33 %; kurang  0 dari 6 guru, dan sangat kurang  0 dari 6 guru  atau 0 %. Mengamati hasil evaluasi kemampuan Guru siklus 1 diperoleh nilai rata-rata sebesar 82.

Refleksi

         Pengamatan dilakukan terhadap kinerja guru, hasilnya baik, semua guru mendukung kegiatan ini dan kelihatan untuk berusaha kinerjanya. Dan ada usaha untuk mengatasi kekurangan, sehingga pada kegiatan berikutnya menghasilkan  yang lebih baik.

Siklus 2

Perencanaan

      Menyiapkan perlengakapan administrasi penelitian(Form Observasi dll). Menetapkan waktu pelaksanaan pertemuan (metting). Menyiapkan tempat dan perlengkapan pertemuan (metting).

Pelaksanaan

       Menjelaskan materi yang diperlukan dalam kegiatan ini. Mengumpulkan alat pembelajaran yang telah disempurnakan (RPP). Guru melaksanakan tugas dari Kepala Sekolah.  Kepala Sekolah mengoreksi hasil kerja Guru. Kegiatan dilanjutkan dengan pengelolaan pembelajaran dengan metode  Peer coaching yang hasilnya :  1) Sangat Baik sebanyak 1 guru (17 %). 2) Baik sebanyak 5 guru (83 %). 3) Cukup sebanyak 0 guru (0 %). 4) Kurang sebanyak 0 guru (0 %). Berdasar hasil tersebut  mayoritas baik atau 83 %, namun  kegiatan tetap dilanjutkan untuk mencapai target yang diharapkan yang hasilnya adalah: 1)  Sangat Baik sebanyak 2 guru (33 %). 2) Baik sebanyak 4 guru (63 %). 3) Cukup sebanyak 0 guru (0  %). 4) Kurang sebanyak 0 guru (0 %). Dari hasil tersebut dilanjutkan pengelompokan dan mencari nilai rata-rata.

Tabel 2 Peningkatan  Kinerja Guru

Melaksanakan Pembelajaran yang Efektif

Katagori Skor (x) f % fx
Baik sekali 90-100 2 33 180
Baik 75-89 4 67 334
Cukup 60-74 0 0 0
Kurang 50-59 0 0 0
Sangat kurang 0-49 0 0 0
Jumlah 6 100 514

   Nilai rata-rata   =  514  =  85,67

                                   6

           Hasil pekerjaan guru selanjutnya diberi skor, jawaban baik sekali diberi skor 90-100, baik diberi skor 75-89, cukup diberi skor 60-74,dan kurang diberi skor 50- 59 , dan kurang sekali diberi skor 0-49. Skor edial untuk kelengkapan administrasi guru adalah 100. Hasil yang diperoleh pada tabel tersebut rata-rata adalah 85,67.

Pengamatan

         Mengamati  Kinerja Guru dalam  Melaksanakan Pembelajaran yang efektif. Pengamatan telah dilakukan, dilanjutkan dengan penskoran yang hasilnya adalah:  1)  Sangat baik 2 dari 6 guru atau  33 %, baik 4 dari 6 guru atau 67 %;  cukup 0 dari 6 guru atau 0 %;  kurang  0 dari 6 guru atau 0 %, dan sangat kurang 0 dari 6  guru  atau 0 %. Dari data tersebut diperoleh nilai rata-rata siklus  2  sebesar  86  atau  mengalami Kenaikan sebesar 4 atau 4,88 % dari nilai rata-rata siklus I.

Refleksi

        Berdasarkan analisis data hasil pengamatan pada  siklus  II  ini,   telah   diadakan perbaikan-perbaikan baik cara maupun  kelengkapan  instrumen  yang  masih  kurang sehingga target yang diharapkan peneliti telah terpenuhi.

Pembahasan

        Perencanaan dan pelaksanaan peer coaching merupakan bagian perbaikan pembelajaran pada guru bukan untuk saling menyalahkan antar guru tetapi untuk saling mengetahui kekurangan masing-masing dan memperbaiki secara bersama dengan bimbingan dari kepala sekolah. Para guru seharusnya perlu menguasai sepenuhnya prosedur perencanaan san pelaksanaannya. Pada awal penelitian ini, berdasarkan hasil angket dari responden, secara umum responden belum menguasai sepenuhnya kegiatan tersebut. Oleh sebab itu, pelaksanaan kegiatan peer coaching belum seperti yang diharapkan, akan tetapi bergantung pemahaman masing-masing guru.

       Selain itu, keberadaan guru pemandu yang relatif telah memiliki pengalaman lebih, belum dimanfaatkan secara maksimal untuk saling membantu di antara para guru.Mereka lebih sering bekerja sendiri-sendiri sesuai dengajn tanggung jawabnya masing-masing.Di antara mereka ada keengganan untuk saling berbagi pengalaman di antara mereka.Akibatnya, permasalahan yang di hadapi seorang guru hanya dipecahkan oleh dirinya sendiri sesuai dengan kemampuan dan pemahamannya sendiri. Berkaitan dengan itu, telah peneliti perkenalkan kepada responden tentang Peer Coaching.Peer coaching ini telah dilaksanakan di SD Ngeri Bajing 02, khsusunya bagi Guru kelas IV, V, dan VI, Pembahasan tentang pelaksanaan Peer coaching dalam penelitian ini pada hakikatnya dijelaskan sesuai dengan jumlah siklus yang dilaksanakan.

Siklus 1

        Kegiatan pada siklus 1 difokuskan pada peningkatan kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran. Sebelum pelaksanaan kegiatan tersebut kepada responden penelti informasikan tentang Peer Coaching. Hal ini perlu disampaikan kepada responden karena peer coaching ini merupakan barang baru bagi responden. Dengan informasi ini resonden telah memahami secara teoretis tentang konsep Peer Coaching. Peserta penuh antusias dalam mendengarkan informasi tersebut dan saat merekasaling berdiskusi tentang pelaksanaan peer coaching tersebut.Kegiatan diskusi dilaksanakan di ruang guru yang berada di kompleks SD Negeri  Bajing 02.

       Pada siklus 1 pertemuan pertama diketahui bahwa guru pada umumnya belum merencanakan pembelajaran secara sistematis. Jenis kegiatannya pun juga kurang direncanakan secara matang. Pada umumnya guru akan memberikan ulangan lagi khusus bagi siswa yang belum dapat mencapai nilai KKM. Jika ulangan yang kedua, siswa yang bersangkutan sudah mendapat nilai mnimalsama dengan KKM, siswa tersebut dinyatakan sudah tuntas. Oleh sebab itu, pada siklus 1 tersebut responden saling berbagi informasi, tanya jawab dengan sesama teman tentang perencanaan pembelajaran. Pada kegiatan tersebut salah seorang guru kelas yang kebetulan sebagai guru pemandu cukup aktif dalam baik dalam menyampaikan permasalahan maupun dalam memberikan solusi sebagai pemecahan persoalan.

Siklus 2

         Pada pertemuan kedua (siklus 2) kegiatan difokuskan pada pemeilihan metode dalam pembelajaran.Penekanan kegiatan ini adalah pada perencanaan berbagai strategi pembelajaran berdasarkan kualitas dan persentase atau jumlah siswa yang belum tuntas.Melalui berbagai penjelasan dan contoh, akhirnya pada akhir pertemuan yang kedua sebagian besar responden telah memahami perencanaan pembelajarandengan menggunakan metode yang tepat.

Tabel   Perbandingan Hasil Rekap Pengamatan Kinerja Guru

 

No

 

Guru Kelas

Siklus
1 II
1 I 74 83
2 II 85 85
3 III 91 91
4 IV 85 85
5 V 73 83
6 VI 86 91
Rata-rata 82  86
Hasil Baik Baik

    Sumber : Data primer diolah

            Berdasar yang terdapat pada tabel tersebut dapat dijelaskan : 1) Perolehan tertinggi siklus 1 adalah 91, dan terendah 73. Sedangkan perolehan siklus 2 tertinggi adalah 91, dan terendah 83. 2) Hasil perolehan pengamatan dari 6 orang guru tersebut menunjukan bahwa perolehan rata-rata siklus 1 adalah sebesar 82, dan perolehan rata-rata siklus 2 sebesar 86. Dalam hal ini menunjukan adanya peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran melalui metode Peer Coaching.

Kesimpulan

       Dalam pengimplementasian peningkatan Kemampuan Guru Dalam Mengelola Pembelajaran melalui Peer coaching mampu : 1. Memberikan pengalaman baru bagi tenaga pendidik di dalam Mengimplementasikan peningkatan Kemampuan Mengelola Pembelajaran melalui Peer coaching. 2. Mengoptimalkan kemampuan guru didalam pembelajaran yang dapat membantu untuk dikembangkan menjadi model pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.

Saran

         Penerapan peningkatan Kemampuan Guru Dalam Mengelola Pembelajaran melalui Peer coaching diharapkan dapat memberikan pedoman operasional yang dapat digunakan sebagai pedomanbagi : 1. Pendidik :menjadi solusi alternative karakter dalam melakukan pembelajaran yang inovatif ; 2. Pengawas dan Kepala Sekolah :sebagai solusi partisipatif untuk mengembangkan potensi dalam meningkatkan pengembangan profesi pendidik. 3. Pengambil kebijakan :menambah khasanah dalam melakukan kebijakan .

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Ridwan. Peer Coaching: Pemahaman Istilahdan Penerapannya. (Jakarta: Makalah dalam workshop Microsoft, 2007).

Anonim, Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.Permendiknas

Anonim, UU Republik Indonesia Nomer 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen

Arikunto. Suharsimi (1999).Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta. BumiAksara.

Arikunto, Suharsimi. 2013. ProsedurPenelitianSuatuPendekatanPraktik. Jakarta: BumiAksara

Depdikbud. 2007. Standar Kompetensi Kepala Sekolah. Jakarta: Buku Kita.

Fakry, M. 2006. Guru Sebagai Profesi. Makalahuntuk seminar sertifikasi. SPS UPI

Kemmisdan Teggart. 1988. The Action Research Planner. DeakinUnivercity

Ladyshewsky, R. 2006. Peer Coaching a constructivist methodology for enhancing critical thinking in post graduated business education higher education research and development. Milpera

Meyer, J.P. &Herscovitch, L. (2001). Commitment in the Workplace : Toward General Model. Human Resource Management Review, 11, 299-326.

Meyer, J dan Grey, T (1996).Peer Coaching: An Innovation In Teaching. New Mexico State University

Mulyasa. 2006. MenjadiKepalaSekolahProfesional. Bandung: RemajaRosdakarya.

Rachman, E danSavitr, S. (2007). Coaching Menciptakan”The Right person for right job”

Ridwan .( 2007). TekhnikPenelitian. Bandung :Alfabeta

Roengge, Chris. 1996. Using Tech Prep Principles To Improve Teacher Education. Dalam Journal of Vocational and Technical Education.Vol 13, 17 halaman.Tersedia http pascholar.Lib. vtedu.lejournaisl JVTElvl3nllroegge. html.[html 11 September 2007].

Rush dkk, 2003 Peer Coaching: A Process for Improving Instructional Practices for Children with Autism Spectrum Disorders.

Sudjana, Nana DR. 2005.Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Susanto. 2007. Pengembangan KTSP dalamPerspektifManagemenVisi (Jakarta: Matapena)

Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan. 2005. PengelolaanPendidikan. Bandung: Jurusan Administrasi Pendidikan.

Tim Penyusun. 2003. Pembelajaran Efektif. Bandung: Pemkot Bandung Kantor Pendidikan dan Pelatihan Kerjasama dengan Tim Dosen Pascasarja UPI

Tomas, J Alan. 1984. The Productive School. Canada: John Wiley and Sons Inc.

Yulianty, Emi. 2001. Analisis Terhadap Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Sekolah. Tesispada UPI Bandung: tidak diterbitkan.


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *