Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Pembelajaran Tematik Melalui Pelatihan Berkelanjutan

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK MELALUI PELATIHAN BERKELANJUTAN DI GUGUS P. DIPONEGORO KEC. BODEH KABUPATEN PEMALANG SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Oleh : Drs. Wahyu

ABSTRAK

Subjek penelitian tindakan sekolah ini adalah guru-guru kelas I sampai dengan kelas III yang ada di SDN Kebandaran, SDN Babakan dan SDN Jraganan Kec. Bodeh dengan jumlah 9 guru, Metode yang digunakan adalah pelatihan berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran tematik. Hasil penelitian pra siklus ke sikluis I sebesar 25,01%, setelah dilakukan siklus II meningkat lagi menjadi 89%. Total peningkatan dari pra siklus ke siklus II sebesar 45,95%.Dan hasil observasi kesesuaian guru mengajar pembelajaran tematik juga mengalami peningkatan dari kategori cukup pada pra siklus 26,11% meningkat menjadi 48,89% kategori sedang dan di siklus II menjadi 91,11% sangat baik. Hasil angket respon guru terhadap peningkatan kemampuan guru dalam pembelajaran tematik melalui pelatihan berkelanjutan hasilnya adalah: perolehan jawaban Ya memperoleh 40 (88,88%), jawaban biasa memperoleh 4(8,8%), dan jawaban tidak memperoleh 1 (2,2%) sehingga dapat disimpulkan bahwa respon guru terhadap kegiatan pelatihan berkelanjutan sangat baik. Untuk itu terbukti bahwa dengan menggunakan metode pelatihan berkelanjutan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran tematik dikelas.

Kata Kunci: Kemampuan Guru, Pembelajaran Tematik,  Pelatihan Berkelanjutan.

PENDAHULUAN

Berdasarkan Permen Diknas nomor 41 Tahun 2007, guru harus mampu melakukan pergeseran paradigma proses pendidikan, yaitu dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien.

Berdasarkan supervisi akademik yang dilakukan oleh pengawas, ditemukan keluhan dari guru, terutama guru kelas rendah mereka mengalami kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran tematik. Dari hasil supervisi awal akademik terhadap penguasaan kemampuan guru dalam pembelajaran  tematik, Jumlah guru kelas I, 2, dan 3 yang ada di Gugus P. Diponegoro adalah sebanyak 24 orang semua guru masih menggunakan mata pelajaran seperti layaknya kelas tinggi.

Permasalahnya guru belum terlatih melaksanakan PBM secara tematik, karena banyak guru yang belum mampu dan paham bagaimana menyusun RPP Tematik dengan baik dan benar. Jika dalam menyusun RPP saja masih kesulitan maka tidak heran bila dalam pelaksanaan proses belajar mengajar juga mengalami kesulitan. Hal itu bisa kita maklumi RPP yang digunakan guru bukan buatan  sendiri melainkan hanya copy paste RPP terdahulu atau membeli yang sudah jadi.

Penulis telah  mengadakan supervisi tentang penyusunan RPP tematik tapi belum ada pelaksanaan secara maksimal, maka dari itu penulis akan mencoba melatih guru secara berkelanjutan dalam membuat RPP tematik sekaligus berlatih melaksanakan proses pembelajaran secara tematik. Harapan penulis, guru dapat melaksanakanpembelajaran tematik dengan baik.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:1).Apakah melalui pelatihan berkelanjutan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran tematik?. 2)Seberapa besarkah peningkatan kemampuan guru dalam pembelajaran tematik melalui  pelatihan berkelanjutan ?. Tujuan penelitian ini adalah :1) Ingin mengetahui peningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran tematik melalui pelatihan berkelanjutan.2) ingin mengetahui seberapa besar peningkatan kemampuan guru dalam pembelajaran tematik melalui  tindakan pelatihan berkelanjutandi Gugus P. Diponegoro. Manfaat  Penelitian, 1) Bagi Pengawas, sebagai acuan bagi pegawas untuk melakukan pelatihan berkelanjutan sebagai alternatif dalam rangka meningkatkan kemampuan guru dalam Pembelajaran Tematik. 2) Bagi Guru, dapat termotivasi untuk selalui meningkatkan kemampuannya dalam Pembelajaran Tematik , sehingga pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan.3) Bagi Sekolah, dapat meningkatkan mutu pendidikan disekolah tersebut. Sehingga penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan kepala sekolah untuk selalu melakukan pelatihan berkelanjutan terhadap guru.

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Kemampuan Guru

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti kuasa (bisa, sanggup melaksanakan sesuatu) Kemudian kata mampu tersebut mendapatkan awalan ke dan akhiran -an, sehingga kemampuan berarti kesanggupan, kecakapan, kekuatan (Depdikbud tt :552). Kata kemampuan berasal dari bahasa inggris yaitu ”competence” yang berarti “kemampuan” (John M. Echols 1984: 132). Jadi kemampuan identik dengan kompetensi, maka dalam hal ini peneliti akan menguraikan masalah kompetensi seorang guru.

Seorang guru akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik apabila ia memiliki kemampuan dasar atau kompetensi keguruan yang dimilikinya. Karena hal ini mempunyai pengaruh yang dominan terhadap keberhasilan pengajarannya. Di dalam UU RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 menyebutkan guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pada pasal 8 tentang kompetensi dijelaskan pada pasal 10 ayat 1 yang berbunyi kompetensi guru sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 8 meliputi: Adapun macam kompetensi guru adalah :1) Kompetensi pedagogik; 2) kompetensi kepribadian; 3) kompetensi profesional; 4) kompetensi sosial. Adapun faktor yang mempengaruhi kemampuan guru antara lain:1) Kepribadian yang menyangkut tingkah laku, wibawa, karakter dan lain-lain yang akan berpengaruh terhadap proses interaksi; 2) penguasaan bahan pelajaran; 3) penguasaan kelas; 4) cara guru berbicara atau berkomunikasi dengan peserta didik; 5) cara menciptakan suasana kelas yang kondusif; 6) memperhatikan prinsip individualitas; 7) standar kelulusan. Dengan adanya faktor yang mempengaruhi kemampuan guru diatas maka kesuksesan seorang guru atau tim pengajar di dalam menciptakan proses belajar mengajar akan terjamin dan berhasil dengan baik dalam proses pembelajaranya.

Pembelajaran Tematik

Pendidikan anak usia kelas awal merupakan suatu proses pembinaan tumbuh kembang yang ditujukan kepada anak sejak enam-tujuh tahun sampai dengan usia sembilan tahun. Pendidikan tersebut dilakukan secara menyeluruh yang mencakup aspek fisik dan nonfisik dan dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangannya. Adapun perkembangannya yaitu jasmani, rohani, motorik, akal fikir, emosional,dan sosial yang tepat dan benar agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Tematik 2009:5).

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik. (Depdiknas:2008:226). Tematik sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar kelas awal, memiliki tujuan sebagai berikut: 1) Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.; 2) peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan     mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama; 3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan; 4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik karena mengaitkan berbagai mata pelajaran dengan pengalaman pribadi  yang diikat dalam tema tertentu; 6) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Pelatihan Berkelanjutan

Menurut Gomes (2003:197), pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki performansi pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya, atau satu pekerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaannya.    Berkelanjutan diartikan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan atau pelayanan dan standart yang telah ditentukan oleh konsil melalui pendidikan. Menurut Pusdiklat Pegawai Depdiknas (2003: 30), hal – hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun desain pelatihan adalah: (1) tujuan pelatihan adalah hasil menyeluruh/kompetensi yang diharapkan dimiliki peserta dengan melaksanakan rencana pelatihan; (2) Media pelatihan bagaimana cara melakukan pelatihan yang menyangkut pertanyaan tentang media yang digunakan; (3) Tujuan pembelajaran, apa yang akan dapat dilakukan peserta sebagai hasil dari kegiatan pmbelajaran dalam topik tertentu; (4) Metode/kegiatan pembelajaran apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran; dan (5) Dokumentasi/bukti belajar, yaitu bukti yang dihasilkan selama mengikuti kegiatan belajar, ini adalah hasil bahwa seseorang dengan melihat, mendengar, merasa, membaca, melakukan dan sebagainya; (6) 25 Evaluasi, penilaian dan pertimbangan atas kualitas bukti untuk menyimpulkan apakah peserta mencapai tujuan pembelajaran atau tidak.

Kerangka Berfikir

Berdasarkan hasil supervisi awal banyak guru kelas rendah mengajar tidak menggunakan pembelajaran tematik, padahal dalam kurikulum SD kelas bawah pembelajaran harus menggunakan model tematik, untuk itu penulis akan mencari solusi melakukan tindakan dengan mengadakan  pelatihan pembelajaran tematik berkelanjutan di gugus P Diponegoro, baik pelatihan membuat RPP maupun praktek dilapangan, melalui pelatihan itu diharapkan dapat mengatasi guru kelas rendag I-III untuk dapat mengajar dengan model tematik tersebut.

Skema Kerangka Berpikir

Hipotesis Tindakan

Hipotesis dalam penelitian ini adalah melalui pelatihan berkelanjutan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran tematik  di Gugus P.Diponegoro Kec. Bodeh Kabupaten Pemalang tahun 2016/2017.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan mulai dari perencanaan sampai dengan pelaporan kurang lebih tiga bulan. Pelaksanaan penelitian  dilaksanakan  di mulai bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2016. Penelitian dilaksanakan di 3 SD, yaitu SDN Kebandaran, SDN Babakan, SDN Jraganan Gugus P. Diponegoro, Kec. Bodeh Kabupaten Pemalang semester gasal. Jumlah guru kelas I, 2, dan 3 yang di Gugus P. Diponegoro sebagai subyek penelitian dalam penelitian ini adalah guru-guru kelas I sampai dengan kelas III dengan jumlah guru 9 orang dengan karakteristik yang heterogen.

Sumber data dalam penelitian ini adalah : 1) Hasil penilaian guru sebelum pelatihan diberikan; 2) hasil pengamatan pelaksanaan pelatihan pada siklus I; 3) hasil penilaian guru setelah pelatihan diberikan; 4) hasil pengamatan pelaksanaan pelatihan pada siklus I dan II.

Tehnik dan alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :1) Observasi peserta pelatihan; 2) penilaian kemampuan guru dalam mengajar tematik menggunakan instrumen lembar supervisi yang berupa cek list skala skor.

Indikator kinerja keberhasilan dalam penelitian ini adalah: Jika guru telah mencapai peningkatan dalam melaksanakan pembelajaran tematik melalui pelatihan berkelanjutan dengan skor antara 61-80 (Kategori baik). Prosedur penelitian tindakan Sekolah dalam siklus I dan siklus II terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, refleksi dan evaluasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Siklus I dan Siklus II

Dari data perolehan tidakan pra siklus, siklus I dan siklus II didiskripsikan kemudian di bandingkan secara komparatif untuk mengetahui peningkatan pada tindakan penelitian yang telah dilakukan. Hasil perolehan antar siklus dapat  dilihat pada tabel berikut ini:

Dari tabel 1 di atas terlihat bahwa hasil supervisi pada pra siklus memperoleh nilai rata-rata 31,00 sedangkan pada siklus I setelah melalui pelatihan berkelanjutan mengalami peningkatan menjadi 49 setelah diperbaiki pada siklus II meningkat lagi menjadi 64. Secara komparatif berdasarkan prosentase dapat didiskripsikan bahwa pada pra siklus rata-rata memperoleh 43,05% dari 24 indikator penilaian, sedangkan pada siklus I meningkat menjadi 68,06% dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 68,06%.

Ini artinya mengalami peningkatan dari pra siklus ke sikluis I sebesar 25,01%, setelah dilakukan siklus II meningkat lagi sebesar 89%. Total peningkatan dari pra siklus ke siklus II sebesar 45,95%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini :

Hasil Perolehan Observasi berdasarkan skor dianalisis secara kualitatif,  Untuk mengetahui kemampuan pelaksanaan tindakan . untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut

Pada Tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa hasil observasi kesesuaian guru mengajar pembelajaran tematik juga mengalami peningkatan dari kategori cukup pada pra siklus 26,11% meningkat menjadi 48,89% kategori sedang dan di siklus II menjadi 91,11% sangat baik. Harapanya minimal mencapai skor baik, Hal ini dapat disimpulkan bahwa penelitian ini dapat menjawab hipoteses tindakan dan indikator kinerja yang telah ditetapkan.

Keterangan: Skor  maksimal  adalah  9 x 5 = 45

85,01-100 %     = Sangat baik

70,00-85,00%  = Baik

00,01-69,99%  = Kurang baik

Dari data pada tabel 3 diatas dapat diketahui respon guru terhadap kegiatan pelatihan berkelanjutan hasilnya adalah perolehan jawaban Ya memperoleh 40 (88,88%), jawaban biasa memperoleh 4(8,8%), dan jawaban tidak memperoleh 1 (2,2%) sehingga dapat disimpulkan bahwa respon guru terhadap kegiatan pelatihan berkelanjutan sangat baik.

SIMPULAN

Berdasaran hasil perolehan tindakan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Melalui pelatihan berkelanjutan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran tematik. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil supervisi pada pra siklus memperoleh nilai rata-rata 31,00 sedangkan pada siklus I setelah melalui pelatihan berkelanjutan mengalami peningkatan menjadi 49 setelah diperbaiki pada siklus II meningkat lagi menjadi 64. Secara komparatif berdasarkan prosentase dapat didiskripsikan bahwa pada pra siklus rata-rata memperoleh 43,05% dari 24 indikator penilaian, sedangkan pada siklus I meningkat menjadi 68,06% dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 68,06%. Ini artinya mengalami peningkatan dari pra siklus ke sikluis I sebesar 25,01%, setelah dilakukan siklus II meningkat lagi menjadi 89%. Total peningkatan dari pra siklus ke siklus II sebesar 45,95%.

2. Hasil observasi kesesuaian guru mengajar pembelajaran tematik juga mengalami peningkatan dari kategori cukup pada pra siklus 26,11% meningkat menjadi 48,89% kategori sedang dan di siklus II menjadi 91,11% sangat baik.

SARAN

Berdasarkan pada kesimpulan hasil penelitian tersebut peneliti memberikan saran sebagai berikut :

1. Kegiatan supervisi akademik sebaiknya dilaksanakan di sekolah secara periodik dengan penjadwalan yang pasti karena supervisi dari pengawas  sangat besar manfaatnya bagi kemajuan sekolah.

2. Pengawas sekolah dalam melaksanakan supervisi akademik sebaiknya menggunakan  teknik yang bervariasi.

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Sudrajat.2008.Lesson study untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar.: (http://Akhmadsudrajat.wordpress.com/, diakses 10 Juli  2008

Depdiknas.2008.Pelatihan Kurikulum tingkat Satuan Pendidikan(KTSP). Jakarta

Depdiknas.2009. Pembelajaran Tematik. Jakarta, BSNP

EM.Zul Fagri,Ratu Aprilia Senja.Kamus Lengkap Bahasa Indonesia : PT Difa Fublisher

Gomes, Faustino Cardoso, 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Penerbit

Andi Offset

Kementerian Pendidikan Nasional.2010.Model Model Pembelajaran. Jakarta

Permen Diknas Nomor 41 Tahun 2007. Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.Jakarta:BSNP

Pusdiklat Pegawai Depdiknas. (2003). Prinsip-prinsip Manajemen Pelatihan. Jakarta : Balai Pustaka

Robet L,Mathis-john,H.Jackson.2006.Melatih Sumber Daya Manusia. Jakarta:Salemba Empat

Udin S Winataputra,dkk.2005.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Universitas Terbuka


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *