PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS ALAM MELALUI SUPERVISI KLINIS DI SD NEGERI BINANGUN 01

BIO DATA

Nama               : Asror Juwaini, M.Pd

NIP                 : 19700602 199603 1 003

Pangkat/Gol    : Pembina TK I/ IVB

Unit Kerja       : SD Negeri Binangun 01 Kab.Cilacap

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran berbasis alam dan meningkatkan prestasi belajar siswa di SD Negeri Binangun 01 tahun pelajaran 2016/2017. Penelitian  Tindakan Sekolah ini dilaksanakan di SD Binangun 01 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap dari bulan Juli sampai dengan Oktober 2016. Subjek penelitian adalah guru-guru SD Negeri Binangun 01 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap dengan jumlah 13 guru. Proses penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus meliputi empat tahapan: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pelaksanaan supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran berbasis alam. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan skor nilai pada setiap siklusnya yang dimulai dari siklus I dan siklus II. Nilai rerata kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran berbasis alam pada pra penelitian 72,50%, siklus I adalah 74,90% dan siklus II adalah 84,91%. Ada peningkatan 12,41% dari sebelum dilaksanakan penelitian. Sedangkan Nilai rerata kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis alam pada pra penelitian 72,23%, siklus I adalah 73,69% dan siklus II adalah 82,23% . Ada peningkatan 10,00 % dari sebelum dilaksanakan penelitian. Dari 13 guru yang ada di SD Negeri Binangun 01, 12 atau sekitar 92% guru berhasil memperoleh nilai lebih dari 76.00 dengan predikat Baik. Penelitian ini juga berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa terbukti dari meningkatnya nilai rata-rata Ulangan tengah semester sebesar 0,07.

Kata kunci       : Supervisi klinis, Kemampuan guru, Pembelajaran berbasis alam

PENDAHULUAN

Sesuai dengan amanat yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945 bahwa salah satu tujuan nasional Bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam rangka melaksanakan amanat yang terdapat pembukaan UUD 1945, guru mempunyai tugas dan peran yang penting. Berkaitan dengan hal tersebut, proses pembelajaran yang dikelola guru, sangat memegang peranan penting demi terwujudnya bangsa yang cerdas dan berkarakter.

Pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan siswa dalam belajar di bawah pengajaran guru untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Guru masih merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pembelajaran di sekolah dasar. Seorang guru dituntut untuk mampu mendesain pembelajaran yang baik, memilih model dan media yang tepat untuk pembelajaran, memilih materi pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang diajarkan, melaksanakan evaluasi yang tepat dan nyata, dan mengenali karakteristik siswanya, serta mengetahui hambatan-hambatan yang dialami dalam pelaksanaan pembelajaran.

Dewasa ini proses pembelajaran di sekolah dasar masih banyak hambatan dan kendala yang bisa menyebabkan tujuan bangsa seperti tersebut di atas terhambat. Salah satu permasalahan yang banyak ditemukan saat ini adalah proses pembelajaran yang kurang efektif. Banyak guru yang masih menggunakan model dan  media yang konvensional. Dengan demikian maka proses belajar mengajar masih berpusat pada guru sehingga tingkat keaktifan siswa menjadi berkurang. Hal ini menyebabkan banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, berbicara dengan teman sendiri, tidak mau menanyakan materi yang belum dipahami dan tidak mengerjakan tugas latihan yang diberikan guru. Permasalahan ini timbul dikarenakan minimnya kreatifitas dan kemampuan guru dalam mengembangkan model dan media pembelajaran.

Secara khusus masalah terbatasnya kompetensi guru dalam proses pembelajaran sangat berpengaruh terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan di SD Binangun 01 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap. Hal ini dapat terlihat dari hasil pantauan peneliti terhadap kegiatan dan proses pembelajaran yang masih kurang efektif, sehingga prestasi belajar kurang optimal.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran di SD Negeri Binangun 01 Kecamatan Binangun, Cilacap kurang efektif. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti  dan wawancara dengan guru-guru SD Negeri Binangun 01, faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan guru dalam mengembangkan proses pembelajaran yang efektif adalah kurangnya guru memperoleh pendidikan dan pelatihan, pembinaan dan supervisi dari Kepala Sekolah dan Pengawas yang kurang optimal, serta tidak maksimalnya sekolah dalam pemanfaatan lingkungan sebagai media dan sumber dalam pembelajaran. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kinerja guru karena keterbatasan pengalaman dan pengetahuan.

Kondisi ini tersebut sebenarnya dapat diatasi dengan upaya-upaya tertentu yang perlu dilakukan oleh kepala sekolah. Salah satunya adalah dengan cara efektifitas proses  pembelajaran berbasis alam melalui supervisi klinis. Salah satu strategi pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan PAKEM yang memungkinkan guru untuk bisa mengembangkan kreativitas, motivasi, dan partisipasi siswa dalam pembelajaran adalah dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Hal ini juga sesuai dengan salah satu pilar pendekatan kontekstual yaitu masyarakat belajar (learning community). Memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar menjadi alternatif strategi pembelajaran untuk memberikan kedekatan teoritis dan praktis bagi pengembangan hasil belajar siswa secara optional.

Dari latar belakang tersebut maka dapat diidentifikasi masalah yang menyebabkan rendahnya kemampuan guru dalam proses pembelajaran sebagai berikut.

1.kurangnya guru mengikuti pendidikan dan pelatihan serta tidak maksimalnya guru dalam kegiatan KKG

2.supervisi Kepala Sekolah kurang optimal karena masih bersifat konvensional

3.tidak maksimalnya sekolah dalam pemanfaatan lingkungan sebagai media dan sumber dalam pembelajaran

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka peneliti merumuskan  masalah yaitu :

1.Apakah supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru SD Negeri Binangun 01 dalam pembelajaran berbasis alam pada tahun pelajaran 2016/2017?

2.Apakah dengan pembelajaran berbasis alam dapat meningkatkan prestasi belajar siswa SD Negeri Binangun 01?

Tujuan dilaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah ini adalah :

1.Untuk meningkatkan kemampuan guru SD Negeri Binangun 01 dalam pembelajaran berbasis alam pada tahun pelajaran 2016/2017.

2.Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SD Negeri Binangun 01 pada tahun pelajaran 2016/2017.

KAJIAN PUSTAKA 

Pembelajaran

Untuk memahami pengertian proses pembelajaran, kita terlebih dulu harus memahami tentang pengertian belajar. Hasan Shadily (Ensiklopedia, 2003: 435) mengungkapkan belajar sebagai perubahan yang terjadi pada tingkah laku potensial yang secara relative tetap dianggap sebagai hasil dari pengalaman dan latihan. Oemar Hamalik (2001:27) mengungkapkan belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Pengertian ini dapat dimaknai bahwa belajar merupakan suatu proses bukan suatu tujuan. Belajar bukan hanya mengingat sejumlah pengetahuan, tetapi proses mengalami sehingga terjadi perubahan perilaku. Konsep lain tentang belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku akibat interaksi individu dengan lingkungannya (Suprayekti, 2003:4). Pengertian belajar ini menekankan pada faktor interaksi lingkungan dengan individu sehingga terjadi perubahan tingkah laku.

Dalam konteks operasional di sekolah, pembelajaran mengandung pengertian proses menjadikan siswa belajar maksudnya adanya interaksi dengan komponen guru, kurikulum, dan lingkungan belajar dalam diri siswa terjadi perubahan perilaku sehingga mampu mengoptimalkan kemampuannya untuk menyikapi perubahan di lingkungannya ataupun pengaruh lingkungan terhadap dirinya.

Selain istilah pembelajaran, di dalam system pendidikan terdapat istilah pengajaran. Kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang identik dalam hal terjadinya proses interaksi guru dan murid. Konsep pengajaran lebih mendiskripsikan hubungan satu arah di mana guru memberikan materi pelajaran dan murid menerima pengetahuan. Pengertian pembelajaran memiliki makna yang lebih luas yaitu usaha guru untuk membimbing dan memahami karakteristik murid dalam proses belajarnya sehingga potensi-potensi yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal

Pembelajaran Berbasis  Alam

Pemanfaatan alam sekitar sebagai sumber belajar mengarahkan anak pada peristiwa atau keadaan yang sebenarnya atau keadaan yang alami sehingga lebih nyata, faktual, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Menurut Badru Zaman (2005) ada beberapa manfaat nyata yang dapat diperoleh dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, yaitu:

1.Menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari anak

2.Memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna(meaningful learning)

3.Memungkinkan terjadinya proses pembentukan kepribadian anak

4.Kegiatan belajar akan lebih menarik

5.Menumbuhkan aktivitas belajar anak (learning activities)

Rahman dalam bukunya Imam Musbikin, menyatakan bahwa alam semesta ini ada, untuk dimanfaatkan manusia demi tujuan-tujuanya, sedangkan tujuan terakhir manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah, besyukur kepada-Nya, dan menyembah Dia saja.  Alam dan lingkungan diciptakan untuk manusia salah satunya sebagai media pembelajaran yang sangat baik untuk mengajarkan banyak hal kepada manusia terutama kepada anak-anak. Sebab dengan menggunakan media alam, anak akan mudah melihat dan mencerna apa yang diajarkan kepadanya. Alam dan lingkungan merupakan salah satu komponen terpenting dalam pembangunan tujuan, isi, dan proses pendidikan.

Ekowati (2001) menjelaskan bahwa memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar merupakan bentuk pembelajaran yang berfihak pada pembelajaran melalui penggalian penemuan (experiencing) serta keterkaitan (relating) antara materi pelajaran dengan konteks pengalaman kehidupan nyata melalui kegiatan proyek. Pada pembelajaran dengan strategi ini guru bertindak sebagai metakognitif yaitu membantu pebelajar dalam menemukan materi belajar, mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan dalam pembuatan laporan dan dalam penampilan hasil dalam bentuk presentasi.

Mendapatkan bahan belajar dari alam sangatlah mudah, murah, dan terjamin aman untuk digunakan anak. Bahan pembelajaran sangat banyak macam dan ragamnya. Apapun yang tersedia di alam semesta dapat digunakan untuk bahan pembelajaran. Benda hidup atau mati yang ditemui di alam semesta ini dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran berbasis adalah proses pembelajaran yang memanfaatkan alam sekitar sebagai sarana belajar, sumber belajar, dan sasaran belajar. Pengertian tersebut dapat dimaknai bahwa alam sekitar merupana fokus belajar siswa dan sumber juga alat yang memberikan fasilitas bagi siswa.

Supervisi Klinis

Nawawi (1989), dalam Sulistiyarini menyatakan bahwa Kata supervisi” berasal dari bahasa inggris yang terdiri dari dua kata “superdan vision”. Super yang berarti atas atau lebih, sedangkan vision berarti melihat atau meninjau. Oleh karena itu secara etimologi Supervisi adalah melihat atau meninjau dari atas atau menilik atau menilai dari atas yang di lakukan dari pihak atasan (yang memiliki kelebihan) terhadap peerwujudan kegiatan dan hasil kerja bawahan.

Menurut Jerry H. Makawimbang Supervisi klinis adalah suatu pembimbingan yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas guru secara sengaja yang di mulai dari pertemuan awal, observasi kelas, dan pertemuan akhir yang di analisis secara cermat, teliti dan obyektif untuk mendapatkan perubahan perilaku mengajar yang di harapkan.

Piet A. Sahertian menyatakan bahwa supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.

Menurut Richard Waller memberikan definisi Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pengajaran dengan melalui siklus yang sistematis dari tahapan perencanaan, pengamatan dan analisis intelektual yang intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan untuk mengadakan modifikasi yang rasional.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa supervisi klinis adalah salah satu bentuk supervisi yang difokuskan pada upaya peningkatan sistem pembelajaran yang baik dan sistematik dan memperkecil kesenjangan antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal melalui observasi dan analisis data secara objektif. Adapun tujuan supervisi ialah membantu memberikan kemudaha kepada para guru untuk belajar bagaiman meningkatkan kemampuan mereka guna mewujudkan tujuan belajar peserta didik.

Merujuk buku Prosedur Operasional Standar, bahan ajar implementasi Kurikulum 2013 untuk kepala sekolah bahwa langkah-langkah supervisi klinis terdiri dari tiga tahap esensial yang berbentuk siklus yaitu:

a. Tahapan awal (preconference)

b. Tahap observasi pembelajaran

c. Tahapan simulasi

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Binangun 01 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap. Penelitian diadakan selama empat bulan yaitu bulan Juli s/d Oktober 2016. Subjek dalam penelitian ini adalah guru SD Negeri Binangun 01 yang berjumlah 13 orang.

Prosedur penelitian yang dilakukan adalah menggunakan model penelitian  tindakan sekolah yang dikembangkan oleh Kemmis & Taggart (2000), dimana pada prinsipnya ada empat tahap kegiatan yaitu, perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi dan evaluasi proses tindakan (observation and evaluation) dan melakukan refleksi (reflecting).

Secara rinci prosedur tindakan yang dilakukan adalah:

1.Kepala Sekolah memberi penjelasan tentang pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber, sarana, dan sasaran belajar

2.Diskusi dan pendampingan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber, sarana, dan sasaran belajar

3.Kepala Sekolah memberi masukan terhadap RPP pembelajaran yang telah di susun

4.Guru melaksanakan RPP pembelajaran dalam proses pembelajaran yang sebenarnya

5.Kepala sekolah mengevaluasi kemampuan guru dalam mengimplementasikan RPP pembelajaran berbasis alam

6.Kepala sekolah dan guru diskusi berbagai pengalaman terkait dengan pelaksanaan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar

Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan cara studi dokumen terhadap RPP dan observasi pelaksanaan pembelajaran guru. Observasi dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi. Data hasil observasi dianalisis untuk dibandingkan dengan teknik deskripsi persentase. Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel kriteria deskriptif prosentase yang dikelompokan dalam 4 (empat) katagori,  yaitu sangat baik ( 86-100), baik (76-85), cukup (56-75), kurang (0-55).

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini, apabila guru dapat menyusun RPP dan melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber, sarana, dan sasaran belajar. Guru dikatakan tuntas dalam penelitian ini apabila guru dapat menyusun dan melaksanakan pembelajaran dengan nilai minimal kategori baik (mendapat nilai dengan rentang 76-85). Tindakan dalam penelitian ini berhasil apabila 75% guru tuntas dalam membuat RPP dan melaksanakan proses pembelajaran berbasis alam sekitar sebagai sumber, sarana, dan sasaran belajar.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Siklus I

Berdasarkan pengamatan awal di SD N Binangun 01 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2016/2017, semua guru kelas dan guru bidang studi tidak memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber, sarana, dan sasaran belajar. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman dan kemampuan guru untuk memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber, sarana, dan sasaran belajar. Selama ini guru lebih merasa nyaman menggunakan buku paket, LKS,dan alat peraga yang dimiliki sekolah sebagai sumber belajar untuk melengkapi kegiatan pembelajaran di kelas.

Dari  hasil observasi terhadap guru dalam perencanaan pembelajaran berbasis alam pada siklus I, hasilnya termasuk katagori “cukup” dengan rata-rata nilai 74,90. Hal ini menunjukkan bahwa guru belum menampakkan sikap yang optimal dalam penyusunan RPP untuk  pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber, sarana dan sasaran belajar  sehingga diperlukan  bimbingan yang lebih intensif.

Sementara itu hasil observasi pada proses pembelajaran berbasis alam dengan pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber, sarana, dan sasaran belajar dalam pembelajaran, hasilnya termasuk katagori “cukup” dengan rata-rata nilai 73,69. Banyak faktor penyebab dari masih rendahnya hasil observasi guru dalam mengimplementasikan pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber , sarana, dan sasaran belajar. Masih banyak guru yang kurang maksimal dalam pemilihan materi, pelaksanaan kegiatan, penilaian, pemilihan metode dan media pembelajaran sehingga banyak  siswa yang bermain sendiri.

Siklus II

Sebagaimana kegiatan peneliti pada siklus I, maka kegiatan pada  siklus keduapun dilakukan observasi, evaluasi dan penilaian. Data yang diperoleh dari observasi pada siklus II, setelah dianalisis ada peningkatan kearah perbaikan yaitu berada pada katagori “baik”, dengan rata-rata nilai 84,91 untuk perencanaan pembelajaran berbasis alam. Sedangkan untuk proses pembelajaran berbasis alam, ada peningkatan ke arah yang lebih baik yaitu: dengan nilai rata-rata 82,23. Dengan melihat hasil pada siklus II, maka refleksi terhadap hasil yang diperoleh peneliti pada siklus II ini adalah adanya peningkatan kemampuan guru memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber, sarana, dan sasaran belajar. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata yang diperoleh dalam perencanaan pembelajaran serta dalam implementasinya sudah menunjukkan adanya peningkatan. Dari 13 guru, yang memperoleh nilai katagori baik ada 12 guru, berarti 92% dari semua guru sudah mencapai kriteria yang ditetapkan yaitu’BAIK”.

Pembahasan

Hasil dari tindakan yang dilaksanakan dalam Penelitian Tindakan Sekolah pada siklus I, dari 13 guru yang terlibat, 8 guru sudah mendapat skor dengan katagori “baik” sedangkan 5 guru dengan katagori “cukup”. Oleh karena itu dilanjutkan dengan tindakan pada siklus II. Setelah diadakan tindakan pada siklus II, didapatkan hasil yang baik. Secara umum hasil dari tindakan menunjukkan peningkatan ke arah yang lebih baik yaitu 92,3% guru atau 12 guru sudah mendapatkan katagori baik dengan skor rata-rata 76 – 85. Hal ini sudah sesuai dengan Indikator keberhasilan yang ditetapkan. Nilai rata-rata penyusunan perencanaan  pembelajaran untuk pra penelitian, 72,50, siklus I 74,90  dan silkus II meningkat menjadi 84,91 ada peningkatan 12,41 dari sebelum penelitian. Sedangkan untuk kegiatan proses pembelajaran nilai rata-rata sebelum diadakan penelitian 72,23, siklus I 73,69 di sklus II menjadi 82,23 terjadi peningkatan 10,00 dengan sebelum diadakan penelitian.

Perkembangan kemampuan guru dalam pembelajaran dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber ,sarana, dan sasaran belajar dapat diihat pada tabel dan grafik berikut.

Rekap Hasil Observasi RPP dan Pembelajaran, Pra Penelitian, Siklus I dan I

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari hasil penelitian, didapatkan hasil bahwa supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan alam sekitar sebagai sumber, sarana, dan sasaran belajar. Perkembangan kemampuan guru dalam proses pembelajaran berbasis alam berdampak pada prestasi belajar siswa secara keseluruhan. Hal ini terlihat dari hasil UTS semester 1 tahun pelajaran 2016/2017 . Dibandingkan dengan sebelum dilaksanakan supervisi klinis proses pembelajaran berbasis alam, ternyata setelah UTS 1 terjadi kenaikan rata-rata nilai pada hampir seluruh kelas dan seluruh mata pelajaran. Nilai rata-rata UKK tahun 2015/2016 adalah 76,64 sedangkan nilai rata-rata UTS 1 tahun pelajaran 2016/2017 adalah 76,71. Jadi secara keseluruhan terjadi kanaikan rata-rata sebesar 0,07.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada siklus I dan siklus II, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada peningkatan kemampuan guru dalam pembelajaran berbasis alam melalui supervisi klinis di SD Negeri Binangun 01 Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2016/2017. Hal ini dapat dilihat dari hasil pelaksanaan tindakan terdapat peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber, sarana, dan sasaran belajar pada siklus I dan meningkat lebih signifikan pada siklus II. Peningkatan kemampuan guru dalam pembelajaran berbasis alam yaitu nilai rata-rata penyusunan perencanaan  pembelajaran nilai rata-rata, pra penelitian 72,50,  siklus I 74,90  menjadi 84,91 di siklus II ada peningkatan 12,41, sedangkan kegiatan proses pembelajaran belajar mengajar nilai rata-rata,pra penelitian 72,23, siklus I 73,69 menjadi 82,23di siklus II, ada peningkatan 10,00. Dari 13 guru di SD negeri Binangun 01 sebanyak 12 dari 13 guru atau sekitar 92,3 persen sudah memperoleh nilai baik.

Pelaksanaan supervisi klinis dalam pembelajaran berbasis alam di SD Negeri Binangun 01, juga terbukti meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan nilai rata-rata UKK dan UTS, dimana nilai UKK tahun 2015/2016 rata-rata 76,63 meningkat menjadi 76,71 pada UTS 1 tahun 2016/2017, sehinggga rata-rata nilai prestasi belajar siswa naik sebesar 0,07.

Saran

                        Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada kepala sekolah dan guru agar selalu memanfaatkan lingkungan sekolah dan lingkungan siswa sebagai sumber, sarana, dan sasaran belajar.  Selain itu guru harus berusaha mengintensifkan diskusi melalui kegiatan supervisi dengan kepala sekolah dan pengawas, serta mengoptimalkan kegiatan KKG untuk memecahkan masalah yang dihadapai guru dalam kegiatan pembelajaran

 

DAFTAR PUSTAKA

Badru Zaman, dkk. 2005. Media dan Sumber Belajar TK. Buku Materi PGTK 2304. Modul 1-9. Jakarta: Universitas Terbuka

Ekowati, Endang. 2001. Strategi Pembelajaran Kooperatif. Modul Pelatihan Guru Terintegrasi Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.

Hamalik Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta. Bumi Aksara

Jerry H. Makawimbang. 2013. Supervisi Klinis; Teori dan Pengukurannya. Bandung: Alfabeta

Piet .A. Sahertian. 2010. Konse.p Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta.

Sahertian. 2000 , Dimensi-dimensi administrasi pendidikan di sekolah Surabaya :Usaha Nasional. .

Suprayekti, 2003. Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan.

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *