PTS SD Membuat RPP Inovativ Melalui Kerja Praktek Teknik Umpan Balik

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU SDN 1 MUARA DUA KECAMATAN ULUBELU KABUPATEN  TANGGAMUS  DALAM MEMBUAT RPP INOVATIF MELALUI KERJA PRAKTEK TEKNIK UMPAN BALIK TAHUN PELAJARAN 2013/2014

agus

ABSTRAK

Sampai saat ini para guru masih banyak dominan menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centre oriented), yang menggunakan strategi pembelajaran ekspositori, hanya menggunakan metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Hal itu disebabkan antara lain masih diperbolehkannya penggunaan RPP buatan percetakan dan sekedar sebagai bukti fisik yang ditunjukkan kepada Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan komitmen dan kemampuan guru dalam menyusun RPP Inovatif. Melalui penggunaaan penelitian tindakan sekolah, menunjukkan bahwa kerja praktek teknik umpan balik dapat meningkatkan komitmen dan kemampuan guru SD Negeri 1 Muaradua Kecamatan Ulubelu Kabupaten Tanggamus. Peningkatan rata-rata hasil penelitian 63% guru menunjukkan komitmen dan kemampuan yang baik dalam menyusun RPP Inovatif (nilai rata-rata 4,00-5,00) dalam skala 1-5, tercapai pada akhir siklus III dengan pencapaian 90%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui kerja praktek teknik umpan balik dapat meningkatkan komitmen dan kemampuan guru dalam menyusun RPP inovatif.

Kata kunci: kemampuan, RPP inovatif, kerja praktek teknik umpan balik

PENDAHULUAN

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, merupakan acuan utama bagi guru dalam merencanakan proses pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, penilaian serta tindak lanjutnya. Namun hingga penelitian ini dilaksanakan RPP yang ditunjukkan guru-guru  umumnya masih menggunakan skenario pembelajaran konvensional. Masih dominan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centre oriented). Menggunakan strategi pembelajaran ekspositori dengan didominasi oleh metode ceramah, diskusi dan tanya jawab. Tidak tampak adanya proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi oleh siswa.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah:

  1. Apakah kerja praktek dengan teknik umpan balik dapat meningkatkan komitmen guru SD Negeri 1 Muaradua Kecamatan Ulubelu dalam menyusun RPP inovatif ?
  2. Apakah kerja praktek dengan teknik umpan balik dapat meningkatkan kemampuan guru SD Negeri 1 Muaradua Kecamatan Ulubelu dalam menyusun RPP inovatif?

KAJIAN PUSTAKA

Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 mengamanatkan bahwa pembelajaran harus berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan peluang yang cukup bagi prakarsa, kreaifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik. RPP Inovatif adalah RPP pembaharuan yaitu RPP yang mengacu pada Permendinas No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Letak pembaharuan pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  inovatif yaitu :

  1. Strategi pembelajaran adalah “student centre oriented” dengan pendekatan “diskoveri inkuiri”.
  2. Secara tegas mencantumkan proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.
    • Eksplorasi, adalah tahap pengumpulan informasi yang luas dan mendalam tentang materi (fakta dan konsep) yang dipelajari.
    • Elaborasi, adalah tahap pengolahan/analisis informasi, membuat hipoptesis, menyelesaikan masalah, atau memunculkan gagasan baru, baik secara lisan maupun tulisan.
    • Konfirmasi, adalah tahap mengkomunikasikan hasil eksplorasi dan elaborasi, melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar dan umpan balik serta penguatan oleh guru.
  3. Mengadopsi “model-model pembelajaran Inovatif ” dengan langkah-langkah atau syntax yang sudah baku pada masing-masing model pembelajaran.
  4. Dilengkapi tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tak terstruktur.

Dari beberapa pendapat tersebut maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centre oriented) dengan stsrtegi diskoveri inkuiri adalah wajib sebagai pengganti techer centre oriented dengan strategi ekspositori. Selama ini peserta didik hanya dijejali pengetahuan tanpa diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar. Dengan perubahan paradigma dari pengajaran menjadi pembelajaran melalui proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi diharapkan peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar di kelas. Pemberian tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tak terstruktur akan memberikan pengalaman belajar mandiri bagi siswa.

Kemampuan  Guru

Setiap guru dituntut memiliki empat kompetensi, seperti diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.16 tahun 2007 meliputi : a) Kompetensi pedagogik; b) Kompetensi kepripadian; c) Kompetensi professional; d) Kompetensi sosial. Kompetensi pedagogik terkait dengan kemampuan dan komitmen guru dalam merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi, melaksanakan analisis hasil evaluasi serta melaksanakan program remidial dan pengayaan. Kompetensi meliputi ranah kognitif, psikomotor dan afektif. Dalam hal penyusunan RPP, kognitifnya adalah pengetahuan tentang prosedur penyusunan RPP, psikomotornya adalah ketrampilan menyusun RPP, dan afektifnya adalah komitmen dalam menyusun RPP.

Menurut Sahertian & Ida Aleida (1992:42), guru yang tingkat berpikirnya abstrak dan imajinatif yang tinggi, punya kemampuan untuk berdiri di depan kelas dan dengan mudah menghadapi masalah-masalah belajar mengajar seperti manajemen kelas, disiplin, menghadapi sikap acuh tak acuh dari siswa, dan mampu menentukan alternatif pemecahan masalah. Ia juga dapat merancang berbagai program belajar, dan dapat memimpin siswa dari berpikir nyata ke berpikir konseptual. Menurut Glickman (dalam Sahertian,1994:44): Yang dimaksud dengan komitmen adalah kecendrungan dalam diri seseorang untuk merasa terlibat aktif dengan penuh rasa tanggung jawab. Komitmen lebih luas dari kepedulian, sebab dalam pengertian komitmen tercakup arti “usaha dan dorongan serta waktu yang cukup banyak”.

Konsekwensi dari komitmen ini, guru harus menyediakan waktu dan energi dalam melaksanakan tugasnya. Komitmen ini tidak diperoleh sejak lahir, tetapi harus dipelajari dan dikenal, bagaimana membentuk rasa cinta pada tugas sebagai guru.   Seorang guru yang punya komitmen tinggi akan memiliki kepedulian terhadap tugas, kebutuhan siswa, teman sejawat atau atasan langsung. Ia punya komitmen terhadap tugas yang dibebankannya, termasuk tanggungjawab terhadap bangsa, negara dan sesama manusia.

Kerja Praktek

Pentingnya pengalaman belajar dalam meningkatkan ketrampilan guru menyusun RPP dapat dikaji dari pendapat beberapa ahli berikut ini, yaitu:

Menurut Peter Sheal (dalam Depdiknas 2003 : 7), pengalaman belajar paling optimal akan terjadi jika kegiatan pembelajaran sampai pada tingkat melakukan dan mengatakan (dalam hal ini kerja praktek dan presentasi hasil kerja).

          diagram-agus

  1. Peaget (dalam Ahmad Rohani, 2004:7) mengatakan : Seseorang berpikir sepanjang berbuat. Tanpa berbuat seseorang tidak akan berpikir. Agar ia berpikir sendiri (aktif) maka ia harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri.

Banyak cara untuk belajar, diantaranya belajar melalui bekerja (learning by doing) yang telah sangat populer dalam dunia pendidikan. Dalam Kamus Inggris-Indonesia (1984:442) arti kata “practice” adalah : 1) latihan, 2) praktek, 3) kebiasaan dan (1984:652) arti kata “work” adalah : 1) pekerjaan , 2) karya, 3) kerja. Dengan demikian practice work dapat diterjemahkan menjadi “Kerja Praktek”. Karakteristik dari kegiatan kerja praktek / practice work menurut Bulletin Kent Mathematics Project (1990:15) adalah: a) The learner make satisfaktory plans to carry out the practice activity;b) The practice component should be completed to the best ability of the learner;c) The learner should be abble to discribe the practice activity.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemilihan strategi kerja praktek adalah implementasi konsep andragogi. Dengan membuat bentuk kegiatan sesuai selera orang dewasa, diharapkan tumbuh motivasi yang tinggi pada guru-guru untuk membuat RPP Inovatif. Walau motivasi yang tumbuh pada awal adalah motivasi ekstrinksik (karena dibina oleh pengawas akademis) tapi lama kelamaan diharapkan yang muncul adalah motivasi instrinsik (tumbuh dari dalam sebagai sebuah kebutuhan guru).

Umpan Balik

Umpan balik (feedback) adalah sebuah kegiatan untuk memberikan informasi balik kepada pembelajar tentang kemajuan hasil kerjanya. Menurut Arbono Lasmahadi (2005 : 1): Salah satu komponen penting dalam proses belajar adalah adanya umpan balik (feedback). Berdasarkan Permendiknas No.41 tahun 2007 dalam kegiatan konfirmasi, guru memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bantuk lisan, tulisan, isyarat maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik.

Kerangka Pikir

Kerja Praktek adalah pilihan strategi yang diharapkan mampu mengatasi masalah rendahnya komitmen dan kemampuan guru-guru menyusun RPP. Teknik umpan balik terhadap hasil kerja para guru diharapkan dapat memberikan penguatan dan arah untuk melakukan penyempurnaan RPP. Langkah-langkah dan urutan pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah:

 kereangka 

METODE PENELITIAN

Subyek penelitian ini adalah semua guru SD Negeri 1 Muaradua Kecamatan Ulubelu Kabupaten Tanggamus sejumlah 10 orang. Lokasi Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Muaradua Kecamatan Ulubelu Kabupaten Tanggamus. Penelitian ini dilaksanakan selama 8 minggu dari bulan Februari sampai dengan April 2014. Dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, penilaian dokumen dan wawancara. Data-data yang terkumpul dianalisis dengan analisis deskriptif dibantu dengan statistik sederhana. Data tentang komitmen guru menyusun RPP Inovatif, dianalisis dengan analisis deskriptip dengan metoda tabulasi dan grafik.

Indikator kinerja dalam penelitian ini adalah:

  • Sekurang-kurangnya 85% guru menunjukkan komitmen yang baik dalam menyusun RPP Inovatif (nilai rata-rata 4,00-5,00) dalam skala 1-5.
  • Sekurang-kurangnya 85% guru menunjukkan kemampuan yang baik dalam menyusun RPP Inovatif (nilai rata-rata 4,00-5,00) dalam skala 1-5.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kemampuan guru menyusun RPP sebelum tindakan dapat dinilai dari RPP awal yang dikumpulkan guru-guru. Rata-rata kemampuan seluruh guru adalah 1,52 dalam skala 1-5. Guru yang mampu meraih nilai 4,00-5,00 tidak ada (0%) berdasarkan pedoman penilaian RPP dalam Panduan Penyusunan Perangkat Portofolio Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Hasil komitmen dan kemampuan guru pada siklus 1,dapat dilihat pada tabel 1. Rata-rata komitmen skor 3,36 atau 26%. Sedangkan kemampuan menyusun RPP rata-rata 3,02 atau 11%..

Tabel 1 : Komitmen dan Kemampuan Guru pada Siklus I

No Uraian Komitmen Kemampuan
I-II III-IV V-VI TOT I-II III-IV V-VI TOT
1 Nilai Rata-ratra 3,17 3,77 3,19 3,36 2,46 3,54 2,99 3,02
2 Persentase guru dengan nilai 4,00-5,00 20% 33% 25% 26% 20% 17% 0% 11%

Pada siklus II, komitmen guru rata-rata 3,89 atau 68%, sedangkan kemampuan rata-rata 4,22 atau 76%.

Tabel 2 : Komitmen dan Kemampuan Guru pada Siklus II

No Uraian Komitmen Kemampuan
I-II III-IV V-VI TOT I-II III-IV V-VI TOT
1 Nilai Rata-ratra 4,01 4,13 3,69 3,89 4,20 4,48 4,06 4,22
2 Persentase guru dengan nilai 4,00-5,00 75% 83% 63% 68% 100% 80% 63% 76%

Pada siklua III, komitmen guru rata-rata 4,31 atau 94%. Sedangkan kemampuan guru rata-rata 4,30 atau 88%.

Tabel 3 : Komitmen dan Kemampuan Guru pada Siklus III

No Uraian Komitmen Kemampuan
I-II III-IV V-VI TOT I-II III-IV V-VI TOT
1 Nilai Rata-ratra 4,36 4,70 4,05 4.,31 4,29 4,53 4,16 4,30
2 Persentase guru dengan nilai 4,00-5,00 100% 100% 88% 94% 100% 100% 75% 88%

 

PEMBAHASAN

Peningkatan komitmen guru selama pelaksanaan tindakan menunjukkan peningkatan skor, dari 3,41 menjadi 4,07 pada siklus II dan 4,33 pada siklus III  sehingga totatl peningkatan 0,93. Atau dalam prosestase  30% menjadi 70% dan naik 90%. Peningkatan ini tidak lepas dari tindakan pengawas yang telah menyadarkan guru agar memiliki komitmen yang baik dalam menyusun RPP.

Tabel 4 : Peningkatan Komitmen Guru-guru

No Uraian Siklus I Siklus II Siklus III Total Peningkatan
1 Rata-rata komitmen 3,41 4,07 4,33 0,93
2 Jumlah guru dengan nilai

4,00 – 5,00

3 7 9 6 orang
3 Persentase guru dengan nilai 4,00 – 5,00 30 % 70 % 90 % 63 %

Peningkatan kemampuan guru-guru selama pelaksanaan tindakan dari data awal rata-rata 1,52 menjadi 3.02 pada siklus 1, pada siklus II 4,22, dan pada siklus II mencapai skor 4,36. Dalam prosentase dapat dilihat pada awalnya tidak mempunyai bukti kemampuan, pada siklus I 20%, pada siklus II 80%, dan pada siklus III 90%.

Tabel 5 : Peningkatan Kemampuan Guru-guru

No Uraian Awal Siklus I Siklus II Siklus III Total Peningkatan

 

1 Rata-rata kemampuan 1,52 3,02 4,22 4,36 2,84
2 Jumlah guru dengan nilai 4,00 – 5,00 0 2 8 9 9 orang
3 Persentase guru dengan nilai 4,00–5,00 0 % 20 % 80 % 90    % 63%

Jika dibandingkan antara 3 kelompok guru untuk komitmen dan kemampuan dapat dilihat pada tabel 6. Mengapa komitmen dankemampuan guru kelas V dan VI kurang dari 100%? Hal ini kemungkinan karena banyaknya tugas tanggung jawab guru kelas V dan VI lebih banyak dibandingkan guru yang lain.

Tabel 6 : Perbedaan Menurut Guru Kelas

Guru Kls Nilai (skala 1-5) Persentase Nilai 4,00-5,00
Komitmen Siklus III Kemampuan Siklus III Komitmen Siklus III Kemampuan Siklus III
Kls I-II 4,36 4,29 100 % 100 %
Kls III-IV 4,70 4,53 100 % 100 %
Kls V-VI 4,05 4,16 88 % 75 %

 

PENUTUP

Dari hasil-hasil yang dipaparkan dapat dibuat simpulan bahwa hipotesis tindakan telah terbukti yaitu dengan teknik umpan balik dapat meningkatkan komitmen guru SD Negeri 1 Muaradua Kecamatan Ulubelu dalam menyusun RPP Inovatif. Indikator kinerja : Sekurang-kurangnya 85% guru menunjukkan komitmen yang baik dalam menyusun RPP Inovatif (nilai rata-rata 4,00-5,00) dalam skala 1-5, tercapai pada akhir siklus III dengan pencapaian 94%. Penulis menyarankan kepada pihak-pihak yang terkait dengan upaya peningkatan mutu pendidik yaitu :

  1. Kepada para Kepala Sekolah untuk merevisi cara-cara peningkatan mutu pendidik, dari model ekspos fakto menjadi bentuk kerja praktek nyata secara berkelanjutan. Model-model ekspos fakto yang banyak dilakukan sebelumnya, terbukti tidak mampu memberdayakan guru-guru.
  2. Kepada para Pengawas Pendidikan, bahwa peningkatan mutu pendidik bukan suatu hal yang sederhana. Perlu upaya berkelanjutan untuk melaksanakan supervisi, agar pola pembelajaran guru-guru tidak kembali lagi pada pola konvensional, karena pola tersebut tidak sesusai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.41 tahun 2007.

DAFTAR PUSTAKA

Bulletin Kent Mathematics Project (1990).

Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta : Depdiknas.

Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta : Depdiknas.

Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.41 tahun  2007 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Depdiknas.

Echol, John M & Hassan Shadily. 1984. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta : Gramedia.

Imron, Ali. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia.  Malang : Pustaka Jaya.

Kartono, Kartini. 1992. Psikologi Wanita, Jilid I. Bandung : CV. Mandar Maju.

BIODATA PENULIS

Nama              : Agus Rohmanto

Jabatan          : Pengawas SD Kabupaten Tanggamus


TAG


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *