PTS SMP Membuat Silabus dan RPP Melalui Pendampingan Kolaboratif

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU SMPN 1 DAN SMPN 2 SUMBEREJO DALAM MEMBUAT SILABUS  DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MELALUI PENDAMPINGAN KOLABORATIF DAN WORKSHOP TAHUN PELAJARAN 2013/2014

mulyanto

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Sekolah ini merupakan hasil penelitian di SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Sumberejo yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan dan membuat sendiri silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah – sekolah binaan melalui pendampingan kolaboratif dan workshop (Brian Stormming). Prosedur penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus. Siklus pertama dan siklus kedua masing – masing terdapat tiga kali pertemuan, setiap pertemuan dilakukan kegiatan refleksi (reflection), perencanaan (planing), pelaksanaan (action) dan observasi (observasing). Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan pendampingan kolaboratif dan workshop (brains storming) mampu meningkatkan kemampuan guru dalam pembuatan sendiri silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang cukup signifikan yaitu pada siklus 1 guru yang memproduksi sendiri silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran hanya 7 % (3 orang), dan pada siklus kedua pertemuan ketiga jumlah guru yang membuat sendiri silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran berjumlah 71%.

Kata Kunci : Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Kolaboratif, Workshop.

PENDAHULUAN

Tugas utama guru sebagai pendidik profesional adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Tugas utama tersebut akan dapat diemban guru jika guru mempunyai kemampuan merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengevalausi pembelajaran, dan melaksanakan tindak lanjut hasil pembelajaran. Di antara beberapa kemampuan guru tersebut hal yang tidak kalah penting adalah kemampuan dalam merencanakan pembelajaran. Kemampuan ini menjadi hal yang penting karena jika perencanaan salah maka dapat dipastikan bahwa pelaksanaan, evalausi, dan tindak lanjutnya menjadi salah. Salah satu kegiatan yang termasuk dalam kegiatan perencanaan pembelajaran adalah pembuatan silabus yang juga disebut dengan kurikulum dokumen 2 dan pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Silabus yang baik adalah silabus yang dapat dijadikan  sebagai acuan pengembangan RPP; Silabus yang  memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, SK, KD, ma­teri pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pen­capaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar; Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lu­lusan (SKL), serta panduan penyusunan Kurikulum Ting­kat Satuan Pendidikan (KTSP); dan silabus yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Sedangkan  rencana pelaksanaan pembelajaran yang baik adalah RPP dijabarkan dari silabus; RPP  yang mampu  mengarahkan ke­giatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. RPP yang lengkap dan sistematis sehingga  pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif: RPP yang memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik; RPP yang disusun untuk setiap KD.

Namun berdasarkan hasil-hasil kepengawasan pada tahun sebelumnya ditemukan beberapa hal terkait dengan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:

  1. Sebagian besar dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran guru hasil copy paste;
  2. Ada beberapa guru yang sudah mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran namun dijumpai banyak kesalahan antara lain:
  3. Indikator pencapaian kompetensi tingkatan taraf berpikirnya tidak me-representasikan- ketuntasan kompetensi dasar;
  4. Indikator pencapaian kompetensinya belum disusun secara hirarkis dari yang mudah ke yang sukar;
  5. Indikator pencapaian kompetensi tingkatan taraf berpikirnya di bawah tingkatan berpikir pada kompetensi dasar;
  6. Langkah pembelajaran yang disusun belum merupakan langkah pembelajaran untuk mengantarkan siswa pada pencapaian Indikator pencapaian kompetensi;
  7. Langkah pembelajarannya disusun belum memperhatikan kegiatan eksplorasi, ellaborasi, dan konfirmasi
  8. Langkah pembelajarn yang disusun belum menampilkan pembelajaran yang berbasis pembelajaran aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan.
  9. Ada beberapa guru yang silabusnya hanya diganti tahun saja.

Masalah-masalah dari hasil identifikasi di atas setelah dianalis ternyata disebabkan beberapa sebab antara lain:

  1. Kemampuan guru dalam mengembangkan silabus dan Rencana pelaksanaan pembelajaran rendah;
  2. Guru belum memahami tentang analisis Standar isi, dan standar proses;
  3. Guru belum mampu menganalisi ranah kompetensi pada standa kompetensi dan kompetensi dasar;
  4. Guru belum mampu memahami tentang panduan pengembangan indikator pencapaian kompetensi;
  5. Guru belum mampu mendesain langkah pembelajaran yang berbasis pembelajaran aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan.
  6. Guru belum mampu mendesain langkah pembelajaran yang memuat kegiatan eksplorasi, elaborasi dan

Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti berupaya meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan dan membuat sendiri silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran melalui pendampingan kolaboratif dan workshop.

LANDASAN TEORI

Kurikulum

       Istilah kurikulum muncul untuk pertama kalinya di dalam kamus Webster tahun 1856. Pada tahun  tersebut penggunaan kurikulum dipakai dalam bidang olah raga, yakni suatu alat yang membawa seseorang dari start sampai finish. Tahun 1955 istilah kurikulum dipakai dalam bidang pendidikan dengan arti sejumlah mata pelajaran pada perguruan tinggi. Dalam kamus Webster tersebut istilah kurikulum diartikan dalam dua macam, yaitu: (1) sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajarai siswa atau mahasiswa dalam perguran tinggi agar mendapat ijasah tertertentu; (2) sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan di suatu departemen. (Suciati dkk, dalam Udin. 2002).

       Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa kurikulum hanya dimaknai sebagai mata pelajaran yang ditawarkan  pada siswa untuk dipelajari, sehingga kegiatan pembelajaran selain mata pelajaran yang dipelajari siswa tidak disebut kurikulum, padahal sebagai mana diketahui bahwa proses pendidikan di sekolah mencakup berbagai kegiatan dalam upaya pembentukan pribadi siswa, baik yang bersifat jasmaniyah maupun ruhaniyah. Dengan demikian pengertian kurikulum dapat disebut pengertian kurikulum secara tradisional.

Selanjutnya Menurut Tyler dalam Udin (2002). ada empat pertanyaan yang harus dijawab dalam proses pengembangan kurikulum dan pembelajaran. Keempat pertanyaan tersebut adalah:

  • Apa tujuan yang ingin dicapai?
  • Pengalaman belajar apa untuk mencapai tujuan?
  • Bagaimana pengalaman belajar itu diorganisasikan secara efektif?
  • Bagaimana menentukan keberhasilan?

       Dari pendapat Tyler di atas dapat dikatakan bahwa pembelajaran tidak hanya terbatas hanya pada psoses belajar terhadap bahan tertentu saja, melainkan juga semua  hal yang dapat membuat tujuan-tujuan tercapai. Oleh karena itu, kurikulum minimal memuat beberapa komponen, yaitu (1) komponen tujuan, (2) komponen isi dan bahan, (3) komponen cara atau metode, (4) komponen evaluasi.

Selanjutnya menurut Badan Nasional Standar Pendidikan (2006) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Dari pernyataan Badan Nasional Standar Pendidikan di atas, dapat dikatakan bahwa Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan pelajaran dan atau pendidikan, isi pelajaran dan atau pendidikan, dan bahan pelajaran dan atau pendidikan serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pelajaran dan atau pendidikan tertentu.

Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

  1. Prinsip Pengembangan Silabus

(1) Silabus harus Ilmiah (2) Silabus harus relevan (3) Silabus harus sistematis (4) Silabus harus konsisten (5) Silabus harus memadai (6) Silabus harus aktual (7) Silabus harus fleksibel (8) Silabus harus menyeluruh.

  1. Langkah-langkah Pengembangan Silabus

Langkah-langkah pengembangan silabus seperti yang gariskan Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) adalah

  1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
  2. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran.
  3. Merancang Kegiatan Pembelajaran.
  4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
  5. Penentuan Jenis Penilaian.
  6. Menentukan Alokasi Waktu .
  7. Menentukan Sumber Belajar

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana pelakasanaan pembelajaran yang biasa disingkat RPP harus disusun guru sebelum guru melaksanan pembelajaran. Rencana pelaksanaan pembelajaran ini berisi seperangkat rencana kegiatan yang diharapakan dilaksanakan peserta didik dan guru. Rencana kegiatan tersebut terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Rencana pelaksanaan pembelajaran ini dijabarkan dari silabus. Rencana pelaksanaan pembelajaran ini dimaksudkan  untuk mengarahkan ke­giatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar. Rencana pelaksanaan pembelajaran hendaknya berisi kegiatan yang memungkinkan kegiatan pembelajarannya berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun untuk setiap kompetensi dasar yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Setiap pertemuan disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.

Rencana pelaksanaan pembelajaran mempunyai komponen-komponen sebagai berikut:

  1. Identitas mata pelajaran
  2. Standar kompetensi
  3. Kompetensi dasar
  4. Indikator pencapaian kompetensi.
  5. Tujuan pembelajaran.
  6. Materi ajar
  7. Alokasi waktu
  8. Metode pembelajaran
  9. Kegiatan pembelajaran
  10. Penilaian hasil belajar
  11. Sumber belajar

       Agar rencana pelaksanaan pembelajaran ini berhasil guna dan berdaya guna, maka rencana pelaksanaan pembelajaran hendaknya disusun dengan memperhatikan rambu-rambu berikut: (a) Memperhatikan perbedaan individu peserta didik (b) Mendorong partisipasi aktif peserta didik (c) Mengembangkan budaya membaca dan menulis (d) Memberikan umpan balik dan tindak lanjut (d) Keterkaitan dan keterpaduan (e) Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi

Pendampingan Kolaboratif

Pendampingan kolaboratif adalah salah satu pendekatan dan atau metode  kepengawasan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non–direktif menjadi pendekatan baru. Pada pendekatan ini baik pengawas maupun guru bersama-sama, dan bersepakat untuk menetapkan struktur, proses serta kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Jadi pengawas memposisikan dirinya sebagai posisi yang setara dengan posisi guru. Perilaku pengawas adalah sebagai berikut: menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, dan negosiasi (Sahertian, 2000).

Dari pendapat Sahertian di atas dapat dikatakan bahwa Pendampingan kolaboratif adalah salah satu pendekatan dan atau metode  kepengawasan yang memadukan cara pendekatan yang bersifat pengarahan  dan mendengarkan. Pada pendekatan ini baik pengawas maupun guru saling memberi dan menerima tentang penyelesaian suatu hal. Mereka duduk bersama, dan bersepakat untuk menetapkan struktur, proses serta kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Jadi pengawas memposisikan dirinya sebagai posisi yang setara dengan posisi guru. Perilaku pengawas adalah sebagai berikut: menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, dan negosiasi.

Workshop

Workshop atau lokakarya merupakan salah satu  metode yang dapat ditempuh pengawas dalam melakukan supervisi manajerial. Metode ini tentunya bersifat kelompok dan dapat melibatkan beberapa kepala Sekolah, wakil kepala Sekolah dan/atau perwakilan komite Sekolah. Penyelenggaraan workshop ini tentu disesuaikan dengan tujuan atau urgensinya, dan dapat diselenggarakan bersama dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah, Kelompok Kerja Pengawas Sekolah atau organisasi sejenis lainnya. Sebagai contoh, pengawas dapat mengam-bil inisiatif untuk mengadakan workshop tentang pengembangan KTSP, sistem administrasi, peran serta masyarakat, sistem penilaian dan sebagainya.

Agar pelaksanaan workshop berjalan efektif, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.

  1. Menentukan materi atau substansi yang akan dibahas dalam workshop.
  2. Menentukan peserta
  3. Menentukan penyaji yang membawakan kertas kerja. Kriteria penyaji workshop antara lain:
  • Seorang praktisi yang benar-benar melakukan hal yang dibahas.
  • Memiliki pemahaman dan landasan teori yang memadai.
  • Memiliki kemampuan menulis kertas kerja, disertai contoh-contoh praktisnya.
  • Memiliki kemampuan presentasi yang baik.
  • Memiliki kemampuan untuk memfasilitasi/membimbing peserta.
  1. Mengalokasikan waktu yang cukup.
  2. Mempersiapkan sarana dan fasilitas yang memadai.

METODE PENELITIAN

Tempat penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Sumnberejo, Kecamatan Sumberejo, Tanggamus. Sasaran yang dijadikan subyek peneltian adalah guru-guru SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Sumberejo, Kecamatan Sumberejo Semester Genap T.p. 2013/2014. Penelitian ini berlangsung selama dua  siklus yang masing-masing siklus terdiri dari tiga pertemuan. Waktu penelitian selama  3 bulan, yaitu  bulan Desember 2013, Januari dan Februari  2014.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan sekolah ini dilakukan dengan cara obervasi atau pengamatan terhadap proses pelaksanaan pembinaan, angket dan penialiaian portopolio. Observasi dilakukan pada saat kegiatan  pembinaan berlangsung. Angket dilakukan pada akhir kegiatan. Portofolio dilakukan setelah kegiatan selesai.

Data-data dalam peneltian ini adalah data-data yang bersifat deskriptif kualitatif, artinya hanya menggambarkan keadaan atau posisi suatu hal. Adapun teknik analisis datanya adalah menjumlahkan dan merata-ratakan perolehan dari setiap indikator-indikator yang ada pada instrumen. Setelah rerata, jumlah, dan presentase di dapatkan lalu dimaknai setiap posisi dari kualitas perolehan setiap indikator. Pemaknaan kualitas perolehan setiap indikator  disesuaikan dengan makna-makna secara kualitatif

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis hasil dari penelitian yang telah dilakukan dalam dua siklus dengan pendampingan kolaboratif dan Workshop mampu meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan dan membuat sendiri silabus dan RPP yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dituangkan dalam tabel – tabel berikut :

Tabel 1

Rekapitulasi Angket Kemampuan Peserta

dalam Membuat Silabus dan RPP Siklus Pertma Pertemuan Ke-1

No Indikator Respon Jumlah
A B C D
1. Proses kepemilikan /Keberadaan silabus dan RPP oleh dewan guru 30 5 4 3 42
2. Jumlah presentase 71 % 12% 10% 7% 100%

Tabel 2

Rekapitulasi Angket Kemampuan Peserta

dalam Membuat Silabus dan RPP Siklus Pertama  Pertemuan  Kedua

No Indikator Respon Jumlah
A B C D
1. Proses kepemilikan /Keberadaan silabus dan RPP oleh dewan guru 10 13 12 7 42
2. Jumlah presentase 24% 31% 29% 17% 100%

Tabel 3

Rekapitulasi Angket Kemampuan Peserta

dalam Membuat Silabus dan RPP Siklus Pertama  Pertemuan ke- 3

No Indikator Respon Jumlah
A B C D
1. Proses kepemilikan /Keberadaan silabus dan RPP oleh dewan guru 3 5 13 21 42
2. Jumlah presentase 7% 12% 31% 50% 100%

Tabel 4

Rekapitulasi Angket Kemampuan Peserta

dalam Membuat Silabus dan RPP Siklus Kedua Pertemuan Ke-1

No Indikator Respon Jumlah
A B C D
1. Proses kepemilikan /Keberadaan silabus dan RPP oleh dewan guru 2 3 7 30 42
2. Jumlah presentase 5% 7% 17% 71% 100%

Tabel 5

Rekapitulasi Angket Kemampuan Peserta

dalam Membuat Silabus dan RPP Siklus Kedua Pertemuan ke-2

No Indikator Respon Jumlah
A B C D
1. Proses kepemilikan /Keberadaan silabus dan RPP oleh dewan guru 1 2 9 30 42
2. Jumlah presentase 2% 5% 21% 71% 100%

.Tabel 6

Rekapitulasi Angket Kemampuan Peserta

dalam Membuat Silabus dan RPP Siklus Kedua Pertemuan ke-3

No Indikator Respon Jumlah
A B C D
1. Proses kepemilikan /Keberadaan silabus dan RPP oleh dewan guru 0 2 10 30 42
2. Jumlah presentase 0% 5% 24% 71% 100%

Ket.

A   : Silabus dan RPP hasil Copy Paste

B   : Silabus dan RPP hasil revisi silabus dan RPP milik guru lain

C   : Silabus dan RPP hasil buatan sendiri dibantu guru lain

D   : Silabus dan RPP hasil buatan sendiri tanpa bantuan guru lain

Dari tabel – tabel (1-6) diatas terjadi penurunan pembuatan silabus dan RPP hasil copy paste dari siklus satu sampai siklus dua tiap pertemuan, yaitu dari 71 % (30 orang) menjadi 0 %, hasil ini menunjukkan dengan metode pendampingan kolaboratif dan workshop mampu membina para guru untuk mengembangkan dan membuat silabus dan RPP tanpa copy paste. Yang perlu digaris bawahi pada penelitian adalah terjadi peningkatan yang signifikan pada guru – guru SMP N 1 dan SMP N 2 Sumberejo dalam merumuskan, mengembangakan dan membuat sendiri silabus dan RPP, dari data penelitian, pada siklus satu pertemuan pertama hanya 7 % (3 orang) yang membuat silabus dan RPP secara mandiri namun pada siklus dua pertemuan ketiga terjadi kenaikan yang signifikan dalam hal guru yang membuat silabus dan RPP sendiri yaitu sebesar 71 % (30 orang) dari total 42 guru yang berpartisipasi.

Data ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah guru yang membuat silabus dan RPP secara mandiri sudah  maksimal. Hal ini disebabkan  karena saat pembinaan terjadi interaksi yang sangat intensif antar guru mata pelajaran sejenis. Proses interaksi terjadi dalam situasi informal disetiap waktu dan disetiap kesempatan. Proses interaksi pun selalu didampingi oleh tutor pendamping.

PENUTUP

Berdasarkan kajian dari hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan pendampingan kolaboratif dan workshop (brains storming) mampu meningkatkan kemampuan guru dalam pembuatan sendiri silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sangat signifikan yaitu pada siklus 1 guru yang membuat sendiri silabus dan RPP berjumlah 7 % (3 orang), dan pada siklus kedua pertemuan ketiga jumlah guru yang membuat sendiri silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran sendiri berjumlah 71%  (30 orang) tanpa ada guru yang copy paste silabus dan RPP.

DAFTAR PUSTAKA

_______.(2005). Supervisi Akademik, BPG UPTD Disdik. Provinsi Jabar

_______.(2008). Metode dan Teknik Supervisi, Dirjen PMPTK, Jakarta

_______.(2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan  Jenjang     Pendidikan Dasar dan Menengah, BNSP, Jakarta

Kementerian Pendidikan Nasional. (2009).  Standar Nasional Pendidikan. Jakarta

Kementerian Pendidikan Nasional. (2007).  Standar Proses. Jakarta

Sahertian . (201). Supervisi Akademik, Pusbangtendik, Jakarta

Sujana, Nana (2011). Buku Kerja Pengawas. BPSDM PMPTK. Jakarta

Udin S. Winataputra,dkk, 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Universitas Terbuka

Wardani. IG.AK (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Universitas. Terbuka

BIODATA PENULIS

Nama                                     : Mulyanto, S.Pd.

NIP                                         : 19600405 198403 1009

Pangkat /Golongan          : Pembina /IV a

Jabatan                                : Pengawas SMP Disdik Kabupaten Tanggamus, Lampung

Unit Kerja                            : Dinas Dikbud Kab. Tanggamus, Lampung




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *