PENINGKATAN KEMAMPUAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENYUSUNAN PROGRAM SUPERVISI MELALUI PEMBINAAN BERKELANJUTAN DI GUGUS SULTAN HASANUDIN SEMESTER II UNIT PENGELOLA PENDIDIKAN KECAMATAN BODEH KABUPATEN PEMALANG TAHUN PELAJARAN 2016/2017

 

BIODATA PENULIS

Nama                                       :  Bambang Sugiyanto, S.Pd

NIP                                         :  19661028 198806 1 001

Pangkat / Golongan                :  Pembina, IV/A

Jabatan                                    :  Pengawas TK/SD

Unit Kerja                               :  UPPK Bodeh, Kab. Pemalang

ABSTRAK

Rendahnya kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi disebabkan karena ketidaktahuan dan kurangnya informasi tentang tata cara dan penyusunan program supervisi yang baik dan benar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka akan dilaksanakan kegiatan penelitian tindakan sekolah melalui kegiatan pembinaan berkelanjutan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi. Subyek  dalam  penelitian  6 orang kepala sekolah di Gugus Sultan Hasanudin Semester II. Teknik  pengumpulan  data  yang digunakan adalah  observasi, wawancara, serta analisis dokumentasi. Analisis data yang digunakan  adalah  dengan  teknik   triangulasi  sumber  dan  metode.  Berdasarkan  hasil penelitian  dapat  disimpulkan  bahwa dari kondisi awal, siklus I hingga siklus II  disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi terhadap 6 orang kepala sekolah di Gugus Sultan Hasanudin Semester II Unit Pengelola Pendidikan Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang Tahun Pelajaran 2016/2017. Hasil observasi dan penilaian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan para kepala sekolah secara signifikan setelah dilaksanakan kegiatan pembinaan dengan kegiatan pembinaan berkelanjutan. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil yang diperoleh dari kondisi awal sebanyak 6 kepala sekolah dinyatakan belum mampu menyusun  dengan baik atau 0% dengan rata-rata penilaian 48,75, meningkat menjadi 2 kepala sekolah atau 33,33% pada siklus pertama dengan hasil rata-rata nilai sebesar 73,75 serta 100% pada siklus kedua dengan perolehan nilai rata-rata sebesar 89,17, menjadi CUKUP dan BAIK pada siklus terakhir.  Kesimpulannya adalah pembinaan berkelanjutan yang dilakukan terhadap 6 orang kepala sekolah di Gugus Sultan Hasanudin dinyatakan berhasil meningkatkan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi.

 

Kata kunci: kepala sekolah, program supervisi, pembinaan berkelanjutan

 

PENDAHULUAN

Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang standar Kepala Sekolah harus memiliki kualifikasi dan kompetensi yang ditentukan, baik kompetensi dimensi kepribadian, kompetensi dimensi manajerial, kompetensi dimensi kewirausahaan, kompetensi dimensi supervisi dan kompetensi dimensi sosial. Oleh karena itu maka Kepala Sekolah untuk terus dibina dan dikembangkan oleh pengawas sekolah agar dapat memilki standar kompetensi Kepala Sekolah yang ditentukan.

Dari 6 (enam) sekolah di Gugus Sultan Hasanudin, berdasarkan hasil pengamatan pengawas sekolah terhadap kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi di sekolahnya masing-masing masih rendah. Hasil penilaian pada pra siklus menunjukkan bahwa belum ada kepala sekolah yang mendapat kriteria minimal baik, hanya terdapat 2 kepala sekolah atau 33,33% dalam kriteria kurang, dan 4 kepala sekolah atau 66,67% dalam kriteria cukup dengan rata-rata hasil penilaian sebesar 43,33 dengan kriteria kurang.

Padahal Kepala Sekolah memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar dalam penyusunan program supervisi. Realita di lapangan menunjukkan bahwa Kepala Sekolah “enggan” untuk melakukan tugas dan tanggung jawab dalam penyusunan program supervisi karena ketidaktahuan dan kurangnya informasi tentang tata cara dan pengelolaan terhadap administrasi sekolah yang baik dan benar. Oleh karena itu maka diperlukan upaya untuk meningkatkan penyusunan program supervisi melalui penelitian tindakan sekolah (PTS) yang akan dilakukan dengan kegiatan pembimbingan berkelanjutan.

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah yang ditemui dalam proses pembimbingan berkelanjutan sebagai berikut:

1.Pelaksanaan supervisi belum berjalan optimal, hal ini terbukti dari masih rendahnya kemampuan para kepala sekolah khususnya di 6 sekolah di Gugus Sultan Hasanudin  dalam penyusunan program supervisi,

2.Pelaksanaan  supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah masih dianggap tidak lebih dari  hanya sekedar tugas menjalankan  fungsi administrasi, mengecek apa saja ketentuan yang  sudah dilaksanakan dan yang belum,

3.Peranan dan fungsi kepala sekolah yang sangat penting tersebut belum sepenuhnya dapat dijalankan oleh para kepala sekolah khususnya dalam penyusunan program supervisi.

Rumusan masalah dalam penelitian  ini adalah sebagai berikut :

1) Bagaimana proses pelaksanaan pembimbingan berkelanjutan  di  6 sekolah di Gugus Sultan Hasanudin Semester II sebagai upaya peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi?,

2) Bagaimana hasil peningkatan  kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program pembimbingan berkelanjutan  di  6 sekolah di Gugus Sultan Hasanudin Semester II?

Tujuan  penelitian  ini adalah :

1) Untuk mendeskripsikan implementasi pelaksanaan pembimbingan berkelanjutan  di  6 sekolah di Gugus Sultan Hasanudin Semester II sebagai upaya peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi;

2) Untuk mendeskripsikan hasil peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi di  6 sekolah di Gugus Sultan Hasanudin Semester II.

 

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

KepalaSekolah

Definisi kepala sekolah menurut Wahjosumijo (2002:38) yaitu kepala sekolah sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran”.

Seorang Kepala Sekolah hendaknya memiliki kepribadian yang baik sesuai dengan kepemimpinan yang akan dipegangnya. Ia hendaknya memiliki sifat-sifat jujur, adil dan dapat dipercaya, suka menolong dan membantu guru dalam menjalankan tugas dan mengatasi kesulitan-kesulitan, bersifat supel dan ramah mempunyai sifat tegas dan konsekuen. Maka syarat seorang Kepala Sekolah menurut M. Daryanto (2010:68) dalam bukunya Administrasi Sekolah adalah sebagai berikut:

-Memiliki ijazah yang sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

-Mempunyai pengalaman kerja yang cukup, terutama di sekolah yang sejenis dengan sekolah yang dipimpinnya.

-Mempunyai sifat kepribadian yang baik, terutama sikap dan sifat-sifat kepribadian yang diperlukan bagi kepentingan pendidikan.

-Mempunyai keahlian dan pengetahuan yang luas, terutama mengenai bidang-bidang pengetahuan pekerjaan yang diperlukan bagi sekolah yang dipimpinnya.

-Mempunyai ide dan inisiatif yang baik untuk kemajuan.

Menurut Nur Kholis (2003:35) dalam bukunya Manajemen Berbasis Sekolah Teori, Model dan Aplikasi, bahwa peran kepala sekolah memiliki banyak fungsi antara lain:

1) sebagai evaluator,

2) sebagai manajer,

3) sebagai administrator,

4) sebagai supervisor,

5) sebagai leader,

6) sebagai inovator,

7) sebagai motivator.

Program Supervisi

Program supervise menurut Ngalim Purwanto (2007:76) adalah suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.

Kegiatan atau usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam rangka pelaksanaan supervisi adalah sebagai berikut :

1.Membangkitkan dan merangsang semangat kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya.

2.Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan termasuk macam-macam media instruksional yang diperlukan bagi kelancaran jalannya proses belajar mengajar yang baik.

3.Bersama kepala sekolah berusaha mengembangkan, mencari dan menggunakan metode-metode baru dalam penyusunan program supervisi yang lebih baik

4.Membina kerjasama yang baik dan harmonis antara pengawas sekolah, kepala sekolah, guru dan komponen-komponen sekolah lainnya.

5.Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan kepala sekolah, guru-guru dan pegawai sekolah, antara lain dengan mengadakan workshop, seminar, inservice training, atau up grading.

Dalam penelitian ini yang dimaksud program supervisi adalah program kegiatan pembinaan untuk membantu kepala sekolah dalam menyusun program supervisi yang berisi penyusunan program supervisi, pembuatan instrumen supervisi, pelaksanaan supervisi, evaluasi hasil supervisi, tindak lanjut hasil supervisi yang dibuat dalam sebuah buku pedoman pelaksanaan kegiatan supervisi kepala sekolah di masing-masing sekolah yang dipimpinnya.

Pembinaan Berkelanjutan

Dalam Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia (1995:135) menyebutkan bahwa  kata  “Pembinaan” berarti  proses  atau  usaha  dan  kegiatan  yang dilakukan secara berhasil guna memperoleh hasil yang baik. Ali imron (1995:12) menjelaskan bahwa pembinaan  guru berarti  serangkaian usaha bantuan kepada  guru.  Terutama bantuan yang berwujud layanan profesional yang dilakukan oleh kepala sekolah, pemilik sekolah dan pengawas serta pembina lainnya, untukmeningkatkan proses dan hasil belajar siswa.

Sedangkan menurut Zakiyah Daradjat (1976:36) menjelaskan bahwa “Pembinaan adalah upaya pendidikan baik  formal  maupun  nonformal  yang  dilaksanakan  secara  sadar,  berencana, terarah,  teratur  dan  bertanggung  jawab  dalam  rangka  memperkenalkan, menumbuhkan dan mengembangkan suatu dasar kepribadian yang seimbang utuh selaras”

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembinaan adalah proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga dan masyarakat. Pengawas satuan pendidikan dalam melaksanakan pembimbingan berkelanjutan memberi saran (advising) kepada kepala sekolah bagaimana pentingnya supervisi dalam suatu satuan pendidikan, kemudian dimotivasi dan dibimbing untuk membuat program supervisi sesuai dengan ketentuan. Setelah program supervisi disusun oleh kepala sekolah, pengawas satuan pendidikan melaksanakan supervisi manajerial (supervising) khusus melihat program supervisi yang dibuat oleh kepala sekolah. Berkelanjutan memiliki makna bahwa bimbingan merupakan proses yang kontinyu, tidak diberikan sewaktu waktu dan kebetulan, tetapi bimbingan merupakan kegiatan yang terus-menerus, tersistem, terencana, dan terarah pada tujuan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka pembinaan berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai pemberian arahan dan saran yang dilakukan oleh pengawas sekolah kepada kepala sekolah agar kepala sekolah memiliki kemampuan menyusun program supervisi pendidikan secara kontinyu dan terprogram.

Kerangka Berfikir

Gambaran kerangka pikir pelaksanaan penelitian tindakan sekolah dengan menerapkan pelaksanaan pembinaan berkelanjutan sebagai upaya meningkatkan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi sebagaimana dijelaskan bagan di bawah ini :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hipotesis  Tindakan

Hipotesis dalam penelitian tindakan sekolah ini dapat ditentukan sebagai berikut bahwa pelaksanaan pembinaan berkelanjutan  di  6 Sekolah di Gugus Sultan Hasanudin Semester II dapat meningkatkan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi.

METODE  PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan mulai dari perencanaan sampai dengan pelaporan  kurang lebih 4 (empat) bulan  dari bulan Januari 2017 sampai dengan April 2017. Penelitian dilaksanakan di 6 sekolah binaan peneliti di Gugus Sultan Hasanudin Semester II, sebagai subjek penelitian 6 Kepala Sekolah yaitu Kepala SDN 02 Jatiroyom, SDN 01 Pasir, SDN 02 Pasir, SDN  Kwasen, SDN Gunungbatu, dan SDN Parunggalih.

Teknik dan alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: 1) Observasi; 2) wawancara; dan 3) Dokumentasi. Indikator  kinerja keberhasilan adalah: Jika kepala sekolah mencapai minimal skor 76 – 90 (kategori baik) serta 85% kepala sekolah meningkat kemampuannya dalam menyusun program supervisi. Prosedur penelitian tindakan sekolah  dalam siklus I dan siklus II terdiri atas  4 (empat) tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari data perolehan tindakan kondisi awal, siklus I, dan siklus II didiskripsikan  dan dibandingkan secara komparatif untuk mengetahui peningkatan pada tindakan penelitian yang dilakukan. Hasil perolehan antar siklus dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel   1

Rekapitulasi Hasil Observasi  Penyusunan Program Supervisi Pada Kondisi Awal

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel  2

Rekapitulasi Hasil Observasi  Penyusunan Program Supervisi Pada Siklus Pertama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan hasil analisis data dari pelaksanaan kegiatan penilaian kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi pada pelaksanaan siklus kondisi awal, siklus pertama dan siklus kedua dapat dirangkum sebagaimana tabel di bawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam bentuk grafik Rekapitulasi Peningkatan Kemampuan Kepala Sekolah dalam Penyusunan Program Supervisi pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II sebagaimana dijelaskan di bawah ini :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Data tabel di atas dalam bentuk persentase sebagaimana di bawah ini:

Tabel  5

Rekapitulasi Persentase Peningkatan Kemampuan Kepala Sekolah pada

Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari penjelasan di atas terbukti bahwa terjadi peningkatan kemampuan penyusunan program supervisi oleh 6 kepala sekolah di Gugus Sultan Hasanudin Semester II. Hal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan pembinaan berkelanjutan terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan penyusunan program supervisi.

Kesimpulan akhir dari pelaksanaan kegiatan pembinaan berkelanjutan terhadap penyusunan program supervisi membuktikan bahwa administrasi dalam pendidikan yang tertib dan teratur, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan pendidikan bagi Kepala Sekolah. Peningkatan kemampuan tersebut akan berakibat positif, yaitu makin meningkatnya efisiensi, mutu dan perluasan pada kinerja di dunia pendidikan tersebut. Untuk memperlancar kegiatan di atas agar lebih efektif dan efisien perlu informasi yang memadai. Sistem informasi di dunia pendidikan ini menyangkut dua hal pokok yaitu kegiatan pencatatan data (recording system) dan pelaporan (reporting system).

 

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut :

1.Model pembinaan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi dengan pelaksanaan pembinaan berkelanjutan terbukti mampu meningkatkan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi di 6 sekolah binaan di Gugus Sultan Hasanudin Semester II sehingga diperoleh suatu pengalaman baru dalam penyelenggaraan model  pembinaan terhadap peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi  yaitu dengan pelaksanaan pembinaan berkelanjutan.

2.Dari kondisi awal, siklus I hingga siklus II disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam penyusunan program supervisi di 6 sekolah binaan di Gugus Sultan Hasanudin Semester II. Hasil observasi dan penilaian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan para kepala sekolah secara signifikan setelah dilaksanakan kegiatan pembinaan dengan kegiatan pembinaan berkelanjutan.

3.Hal tersebut dapat dilihat pada hasil yang diperoleh, yaitu dari kondisi awal sebanyak 6 kepala sekolah dinyatakan belum mampu menyusun dengan baik atau 0% dengan rata-rata penilaian 48,75, meningkat menjadi 2 kepala sekolah atau 33,33% pada siklus pertama dengan hasil rata-rata nilai sebesar 73,75 serta 100% pada siklus kedua dengan perolehan nilai rata-rata sebesar 89,17. Penjelasan mengenai kriteria nilai dari kondisi awal adalah KURANG, meningkat menjadi CUKUP dan BAIK pada siklus terakhir.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, ( Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004)

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta

Atmodiwirio, Soebagio. 2000. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Ardadizya Jaya.

Bafadal, Ibrahim, 2004, Manajemen Perlengkapan Sekolah: Teori dan Aplikasinya, Jakarta: PT Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan Nasional, Keputusan Menpan No 118/1996 , Tentang Jabatan FungsionalPengawas Sekolah dan Angka kreditnya, Jakarta, Dirjen Dikdasmen

Depdiknas. 2003. Undang-undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.

Depdiknas. 2007.  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Jakarta.

Hoetomo. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Mitra Pelajar.

Kemendiknas. 2010. Modul Supervisi Akademik. Jakarta : Dirjen PMPTK

Rahmat. 2011. Supervisi Pengajaran (Teori dan Prektek). Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti –P2LPTK.

Sahertian, Piet A., 1989. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam
Rangka Pengembangan SDM, Jakarta: Rineka Cipta

Soekarto Indrafachrudi. 1989. Administrasi Pendidikan. Malang : Penerbit IKIP

Tilaar.H.A.R. 1999. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional, Dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *