PTK SD Pembelajaran Tutor Sebaya Mapel PKn

PENINGKATAN KEMAMPUAN KERJASAMA DAN PRESTASI BELAJAR PKn TENTANG NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN  TUTOR SEBAYA  PADA SISWA  KELAS V  SD NEGERI KARANGMANGU 01  SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2015/2016

karsono

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan karena dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan kerjasama dan prestasi belajar PKn tentang NKRI pada siswa kelas V SD Negeri Karangmangu 01 kecamatan Kroya kabupaten Cilacap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kerjasama dan prestasi belajar PKn pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Karangmangu 01 semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016. Untuk mendapatkan data kemampuan kerjasama dan prestasi belajar siswa digunakan teknik pengumpulan data : tes, observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis dengan teknik deskriptif komparatif dan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian 33 siswa yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Penelitian dilaksanaan dalam 2 siklus dengan prosedur umum yang terdiri dari: 1) Planing,  2) acting, 3) observing, dan 4) reflecting, Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tutor sebaya  dapat meningkatkan kemampuan kerjaama siswa dalam belajar PKn di kelas V SD Negeri  Karangmangu semester 1 tahun pelajaran 2015/2016. Hal ini dapat dilihat dari pra siklus 57,6% menjadi 92,9 pada akhir siklus II. Pelaksanaan pembelajaran tutor sebaya  juga dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada siswa kelas V SD Negeri 2 Karangmangu 01 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016. Hal ini dapat dilihat dari pra siklus ketuntasan belajar 48,5% menjadi 90,9% pada akhir siklus II.

Kata Kunci: kerjasama, prestasi belajar, dan pembelajaran tutor sebaya.

PENDAHULUAN

Tujuan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menaggapi isu kewarganegaraan; 2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta anti korupsi; 3) Berkembang secara fositif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karekter-karekter masyarakat Indonesia agar dpa hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain; 4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam peraturan dunia seccara langsung atau idak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Salah satu kompetensi yang ingin dicapai dalam mata pelajaran PKn adalah Memahami Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam kompetensi dasar : menjelaskan pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Berdasarkan kondisi awal sebelum guru melaksanakan pembelajaran menggunakan model tutor sebaya,  hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn siswa kelas V SD Negeri Karangmangu 01 rendah. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai formatif  hasil belajar studi awal dari 33 anak terdapat siswa yang tuntas sejumlah 15 siswa atau 45,4%, berarti 18 anak atau 54,6% dari jumlah seluruh siswa belum tuntas atau gagal memenuhi target Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang distandarkan, yaitu 75, dengan nilai rata-rata kelas hanya 69.

Berdasarkan hasil refleksi diri atas pembelajaran yang telah dilaksanakan, rendahnya hasil belajar PKn kelas V SD Negeri Karangmangu 01 disebabkan karena guru belum menggunakan metode yang tepat untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Adapun persoalan yang terjadi pada diri siswa yaitu: (1) Pemahaman siswa terhadap konsep pembelajaran PKn tentang contoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih sangat rendah (2) Pembelajaran yang dilaksanakan kurang adanya respon siswa bahkan pembelajaran kurang efektif karena belum adanya kesungguhan dalam belajar (3) Masih terdapat kekurangaktifan siswa dalam pembelajaran (4) Tanggung jawab dan kerjasama siswa dalam pembelajaran belum berlangsung secara optimal.

Untuk mengatasi berbagai hal yang terjadi dalam pembelajaran PKn tersebut guru perlu melakukan perbaikan pembelajaran. Metode yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang diterapkan pada proses penelitian tindakan kelas ini adalah metode tutor sebaya. Metode tutor sebaya tersebut merupakan metode beberapa siswa ditunjuk atau ditugaskan membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan guru dengan siswa. Guru dituntut dapat menciptakan suasana belajar dimana sisiwa yang dianggap sudah menguasai kempetensi tertentu dapat membantu siswa lain yang belum menguasai kompetesi dimaksud.

Berdasarkan uraian di atas penulis akan melakukan suatu tindakan perbaikan pembelajaran PKn melalui Penelitian Tindakan Kelas dengan judul Peningkatan kemampuan kerjasama dan prestasi belajar PKn tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui penerapan metode tutor sebaya pada siswa kelas V SD Negeri Karangmangu 01 Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap.

KAJIAN PUSTAKA

Pembelajaran dimana di dalamnya terjadi kerjasama antar siswa sering diidentikan dengan pembelajaran kooperatif (cooperative learning).  Pembelajaran kooperatif dapat diartikan sebagai belajar bersama-sama saling membantu antara satu dengan yang lain dalam belajar dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya (Agus Suprijono (2009).

Pengertian pembelajaran secara umum adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Darsono, dkk. 2000). Berdasarkan pengertian pembelajaran tersebut maka guru berfungsi sebagai fasilitator yaitu orang yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung agar siswa dapat mewujudkan kemampuan pelajarnya sehingga dapat mengubah tingkah lakunya menjadi baik.

Hamalik (1991:73) (dalam Abi Masiku (2003:10)) mengemukakan bahwa tutorial adalah bimbingan pembelajaran dalam bentuk pemberian bimbingan, bantuan, petunjuk, arahan, dan motivasi agar siswa dapat efisien dan efektif dalam belajar. Subyek atau tenaga yang memberikan bimbingan dalam kegiatan tutorial dikenal sebagai tutor. Tutor dapat berasal dari guru atau pengajar, pelatih, pejabat struktural, atau bahkan siswa yang dipilih dan ditugaskan guru untuk membantu teman-temannya dalam belajar di kelas. Pengajaran tutoring merupakan pengajaran melalui kelompok yang terdiri atas satu siswa dan satu pengajar (tutor, mentor) atau boleh jadi seorang siswa mampu memegang tugas sebagai mentor, bahkan sampai taraf tertentu dapat menjadi tutor (Winkel, 1996:401).

Menurut Ali (2004:99) Kelompok teman sebaya memegang peranan penting dalam kehidupan remaja. Remaja sangat ingin diterima dan dipandang sebagai anggota kelompok teman sebaya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Oleh karenanya, mereka cenderung bertingkah laku seperti tingkah laku kelompok sebayanya.

Menurut Suryo dan Amin (1984:51), bantuan yang diberikan teman-teman sebaya pada umumnya dapat memberikan hasil yang cukup baik. Peran teman sebaya dapat menumbuhkan dan membangkitkan persaingan prestasi belajar secara sehat, karena siswa yang dijadikan tutor, eksistensinya diakui oleh teman sebaya. Dalam satu kelas selisih usia antara siswa satu dengan siswa yang lain tentu relative kecil atau hampir sama, sehingga dalam satu kelas terdapat kelompok teman sebaya yang saling berinteraksi antara siswa satu dengan yang lain sehingga akan terbentuk pola tingkah laku yang dipakai dalam pergaulan mereka. Dalam interaksi tersebut tidak menutup kemungkinan antar siswa satu dengan siswa yang lain saling membantu dan membutuhkan dalam pembelajaran untuk memperoleh prestasi belajar yang lebih baik.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Karangmangu 01 Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. Sekolah ini terletak di ujung barat-selatan dari arah kota Maniraja dengan kondisi sosial-budaya yang masih tergolong tradisional. Penelitian ini dilakukan pada mata pelajaran matematika selama 2 siklus.

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Karangmangu 01 semester 1  tahun pelajaran 2015/2016 berjumlah 33 siswa, terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan dengan karakteristik siswa memiliki potensi dan kompetensi yang heterogen. SD Negeri Karangmangu 01 tersebut tempat peneliti melaksanakan tugas mengajar sehingga tidak menggangu kegiatan belajar mengajar.

Sumber data adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan  menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang dibuat oleh peneliti untuk maksud  khusus menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya. Data dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan.Data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan untuk maksudselain menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Data ini dapat ditemukan dengan cepat. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah literatur, artikel, jurnal serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan (Sugiyono, 2009 : 137).

Sumber data pada penelitian tindakan kelas ini yang digunakan adalah : 1) Sumber data siswa meliputi  : data tentang kemampuan kerjasama siswa, data tentang prestasi belajar pada mata pelajaran matematika dan data tentang penerapan metode tutor sebaya, 2) Sumber data guru meliputi data keterampilan guru merencanakan perbaikan pembelajaran dan keterampilan meaksanakan perbaikan pembelajaran, proses pembelajaran seperti interaksi pembelajaran, implementasi metode tutor sebaya, 3) Sumber data kolaborator meliputi pengamatan metode tutor sebaya, hasil refleksi bersama guru peneliti.

Teknik merupakan cara mengumpul data sedangkan alat pengumpulan data merupakan instrument yang digunakan mengambil data.  Banyak cara yang digunakan dalam pengumpulan data meliputi: teknik tes, teknik pengamatan, teknik wawancara, teknik dan dokumen.

Instrumen yang diperlukan dalam PTK haruslah sejalan dengan prosedur dan langkah PTK. Instrumen untuk mengukur keberhasilan tindakan dapat dipahami dari dua sisi yaitu sisi proses dan sisi hal yang diamati. Dari sisi proses (bagan alirnya), instrumen dalam PTK harus dapat menjangkau masalah yang berkaitan dengan input (kondisi awal), proses (saat berlangsung), dan output (hasil). Instrumen dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengamati guru (observing teachers), instrumen untuk mengamati kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengamati perilaku peserta didik (observing students). Pada penelitian ini teknik dan alat pengumpulan data yang digunakan adalah seperti berikut : 1) Teknik Tes, 2) Teknik Pengamatan, 3) Teknik Angket, 4) Teknik Dokumentasi.

Validasi adalah suatu tindakan yang membuktikan bahwa suatu proses/metode dapat memberikan hasil yang konsisten sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dan terdokumentasi dengan baik. Validasi dilakukan bila ada perubahan yang mempengarui produk secara langsung (major modification), produk baru atau produk lama dengan metode baru, exiting dan legacy product. Validasi metode analisis bertujuan untuk memastikan dan mengkonfirmasi bahwa metode analisis tersebut sudah sesuai untuk peruntukannya. Analisis data yang akan digunakan sesuai dengan metode dan jenis data yang dikumpulkan. Pada PTK, data yang dikumpulkan dapat berbentuk kuantitatif maupun kualitatif. Pada PTK tidak harus menggunakan uji statistik, tetapi bisa saja cukup dengan deskriptif. Data kuantitatif menggunakan analisis diskriptif komparatif yaitu membandingkan misalnya nilai tes kondisi awal, nilai tes setelah  siklus 1 dan  nilai tes setelah siklus 2. Data kualitatif hasil pengamatan maupun wawancara menggunakan analisis diskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus.

karsonoo

Gambar 3.1:  Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ( Rusna Ristasa, 2007)

Langkah pertama pada penelitian tindakan kelas adalah melakukan kegitan perencanaan. Tahap ini merupakan acuan dalam melaksanakan tindakan. Tahap kedua adalah tahap tindakan proses pembelajaran yang sesuai dengan perencanaan yang telah disiapkan. Agar tindakan ini dapat dapat diketahui kualitasnya, maka tindakan perencanaan perlu diobservasi.

Refleksi dilakukan dengan cara merenungkan kembali proses pembelajaran baik dari segi kekurangan maupun keberhasilan pembelajaran bagi siswa. Dengan demikian akan segera dapat diketahui kelemahan tindakan pembelajaran yang perlu diperbaiki pada tahap berikutnya atau pada daur ulang tahap berikutnya. Daur penelitian tindakan kelas perlu dibuat model atau cara atau didesain sedemikian rupa agar kelemahan dapat diminimalkan sehingga secara urutan peneliti dapat dengan mudah melakukan perbaikan pembelajaran.

Mengacu diagram di atas, kegiatan perbaikan pembelajaran meliputi 2 siklus dengan tahapan tiap siklus : perencanaan, pelaksaanaan, pengamatan dan refleksi.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada pengamatan pra siklus kemampuan kerjasama siswa tinggi hanya 15,2% atau 5 siswa dari 33 siswa, kemampuan kerjasama siswa sedang 42,4% atau 14 siswa, dan kemampuan kerjasama siswa kurang 42,4%. atau 14 siswa, jadi rerata kemampuan kerjasama siswa pada pra siklus adalah (15+28+14) = 57 atau 57,6%, setelah dilakukan pembelajaran dengan meggunakan metode tutor sebaya  kemampuan kerjasama siswa mengalami peningkatan. Pada siklus I, kemampuan kerjasama siswa tinggi 51,5% atau 17 siswa dari 33 siswa, kemampuan kerjasama siswa sedang 33,3% atau 11 siswa, dan kemampuan kerjasama siswa rendah 15,2%. atau 5 siswa, rerata kemampuan kerjasama siswa pada siklus I adalah (51+22+5) = 78 atau 78,8%. Namun kemampuan kerjasama siswa belum mencapai indikator keberhasilan.

Pada siklus II penerapan metode tutor sebaya dengan penekanan / perubahan kegiatan kelompok yang lebih kecil mampu meningkatkan kemampuan kerjasama siswa secara optimal. Hasil pengamatan pada siklus II menunjukkan bahwa kemampuan kerjasama siswa  tinggi 84,8% atau 28 siswa dari 33 siswa, kemampuan kerjasama siswa  sedang 9,1 % atau 3 siswa, dan kemampuan kerjasama siswa kurang 6,1% atau 2 siswa. Jadi rerata kemampuan kerjasama siswa pada siklus II adalah (84+6+2)= 92 atau 92,9%. Perbandingan hasil penelitian antar siklus diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 4.15.Perbandingan kemampuan kerjasama siswa

Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

No Kemampuan kerjasama Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Tinggi 15,2% 51,5% 84,8%
2 Sedang 42,4% 33,3% 9,1%
3 Kurang 42,4% 15,2% 6,1%
4 Rerata Skor 57 (57,6%) 78 (78,8%) 92 (92,9%)

Berdasarkan data di atas pada siklus I ada kenaikan rerata kemampuan kerjasama siswa  dari 57 menjadi 78. Pada siklus II ada kenaikan rerata kemampuan kerjasama siswa dari 78 menjadi 92. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode tutor sebaya  dapat meningkatkan  rerata kemampuan kerjasama siswa  dari 57 menjadi 92.

Prestasi belajar mata pelajaran PKn yang diukur melalui tes prestasi menunjukan hasil pada pra siklus rerata 69 dan ketuntasan 42,8%. Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan metode tutor sebaya  ada peningkatan. Pada siklus I rerata 73,6 dan ketuntasan 63,6%. Dari hasil refleksi hasil tersebut masih belum mencapai indikator keberhasilan. Dengan memperbaiki kekurangan yang ada pada siklus I yaitu mengoptimalkan metode tutor sebaya, hasil tes prestasi pada siklus II  rerata 78,4 dan ketuntasan 90,9%. Perbandingan  hasil tes prestasi belajar pra siklus, siklus I dan siklus II setelah dilakukan ulangan pada akhir siklus diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 4.16. Perbandingan Prestasi  Belajar PKn Pra Siklus,

Siklus I dan Siklus II

No Prestasi Belajar PKn Pra Siklus Siklus I Siklusn II
1 Nilai tertinggi 75 82 92
2 Nilai terendah 60 62 65
3 Nilai rata-rata 69 73,6 78,4
4 Ketuntasan Belajar 48,5% 63,6% 90,9%

Pada tabel di atas terlihat bahwa pada pra siklus nilai rata-rata 69, pada siklus I nilai rata-rata 73,6 dan pada siklus II nilai rata-rata 78,4. Dengan demikian pembelajaran dengan metode tutor sebaya  dapat meningkatkan prestasi belajar pada siklus I rata-rata 73,6 menjadi 78,4  pada siklus II. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode tutor sebaya  dapat meningkatkan prestasi belajar dari rerata 69pada pra siklus menjadi 78,4. Ketuntasan pra siklus 48,5%  pada siklus I 63,6% dan pada siklus II 90,9%. Ini berarti bahwa pada siklus I ada peningkatan ketuntasan belajar dari 48,5% menjadi 63,6%, sedangkan pada siklus II ada peningkatan dari 63,6% menjadi 90,9%. Dengan demikian pembelajaran dengan menggunakan metode tutor sebaya  dapat meningkatkan ketuntasan belajar dari 48,5% pada pra siklus menjadi 90,9% pada siklus II.

 

PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan kemampuan kerjasama dalam  belajar PKn tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada siswa kelas V SD Negeri Karangmangu 01  semester 1  tahun pelajaran 2015/2016 dari pra siklus 57,6% menjadi 92,9 pada akhir siklus II.
  2. Pelaksanaan Pembelajaran tutor sebaya dapat digunakan dalam     meningkatkan hasil belajar PKn tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada siswa kelas V SD Negeri Karangmangu 01 semester 1 Tahun pelajaran 2015/2016 dari pra siklus ketuntasan belajar 48,5% menjadi 90,9% pada akhir siklus II.

Secara toeritis bahwa penerapan  metode tutor sebaya dengan  dapat dikembangkan  untuk mata pelajaran PKn,  karena mempunyai keunggulan-keunggulan bahwa  dalam metode tutor sebaya bantuan yang diberikan teman-teman sebaya pada umumnya dapat memberikan hasil yang cukup baik. Peran teman sebaya dapat menumbuhkan dan membangkitkan persaingan hasil belajar secara sehat, karena siswa yang dijadikan tutor, eksistensinya diakui oleh teman sebaya.

Mengingat penerapan metode tutor sebaya dapat meningkatkan kemampuan melakukan kerjasama, dan preatsi belajar pada mata pelajaran PKn maka guru perlu menerapkan dalam metode tutor sebaya di sekolahnya. Sekolah perlu memberikan fasilitas guru agar menerapkan metode tutor sebaya dengan  agar kemampuan melakukan kerjasama dan  prestasi belajar pasa mata pelajaran PKn meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Amung Ma’mun dan Agus Mahendro, 1998. Teori Belajar dan Pembelajaran Motorik. Bandung: Andira.

Gagne dan Briggs, 1985. The Condition of Learning and Theory of Instruction. Orlando : Holt, Renehart and Winston, Inc, New York

Kosasih Djhiri, 1999. Srategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Mikarso,  1989. Pendidikan Anak SD. Jakarta : Universitas Terbuka.

Miles dan Humbbremans.1984. Qualitative Data Analisys A Source book of New Methods. Beverly Hills: Sage Publication.

Muhibin Syah, 1995. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Terbaru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nana Sujana, 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru

Purwodarminto, 1994. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Rusna Ristata,dkk. 2006. Panduan Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Purwokerto: UPBJJ Purwokerto.

Soeparno.1992. Media Pengajaran Bahasa Indonesia. Klaten: Intan Pariwara.

Winataputra, dkk, 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Winkel, 1998. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia

Yudi Suparyanto, dkk, 2006. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Kelas V SD/MI. Klaten: Cempaka Putih.

BIODATA :

Nama                     :  Karsono, S.Pd

NIP                         :  19640930 199103 1 005

Pangkat / Gol       :  Pembina / IV A

Unit Kerja             :  SDN Karangmangu 01, UPT DISDIKPORA Kec. Kroya




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *