Peningkatan Kemampuan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Tentang Operasi Bilangan Pecahan Melalui Pendekatan Pemecahan Masalah Di Sekolah Dasar Negeri Ciwuni 01 kecamatan kesugihan kabupaten cilacap Tahun pelajaran 2015/2016

 

Nama   : Sunyoto,S.Pd

NIP. 19620710 198304 1 004

Pangkat : pembina IV a

SD Negeri Ciwuni 01 Kecamatan Kesugihan Cilacap

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pemahaman siswa kelas IV terhadap materi soal cerita. Soal cerita merupakan soal yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Pada waktu dihadapkan dengan materi ini siswa cenderung tidak mengerti isi soal sehingga sebagian besar siswa tidak bisa mengerjakannya. Tujuan utama dari penelitian ini adalah Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang operasi bilangan pecahan dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah menurut Polya. Penelitian ini menggunakan model PTK Kemmis dan Mc. Tagart yang terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan; observasi; dan refleksi.. Subjek penelitan adalah siswa kelas IV. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara langsung dengan pihak sekolah dan pengisian lembar observasi oleh observer. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendekatan pemecahan masalah meurut Polya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita pecahan.

Kata Kunci : Pendekatan pemecahan masalah, kemampuan menyelesaikan soal cerita pecahan

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah.

Pembelajaran matematika sejak 2006 difokuskan pada penggunaan matematika dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Hal ini didukung dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Matematika dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2006, hlm. 109) yaitu ‘mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram dan media lain serta memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif’.:

Menyadari akan pentingnya matematika maka pemerintah telah mewajibkan matematika untuk diberikan kepada semua peserta didik sejak Sekolah Dasar karena dengan mempelajari mata pelajaran matematika yang penuh dengan melakukan pemecahan masalah dan penarikan kesimpulan, peserta didik akan mampu berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta mampu bekerjasama dan bertanggung jawab. Suatu proses pembelajaran yang terpusat kepada siswa akan meningkatkan kemampuan bekerjasama dan bertanggung jawab dalam diri siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Pernyataan tersebut

Berdasarkan hasil tes siswa yang dilakukan oleh peneliti maka didapatkan hasil sebagai berikut: rata-rata nilai tes sebelum tindakan dilaksankan adalah 31,92, siswa yang memenuhi nilai KKM adalah sebesar 23,08% atau sebanyak 6 orang siswa dari jumlah seluruh siswa 21 dan 76,92% atau 15 orang siswa yang tidak memenuhi nilai KKM.).

Oleh karena itu masalah yang terjadi di SDN Ciwuni 01 dari hasil wawancara dan data tes awal siswa kelas IV adalah siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita khususnya soal cerita pecahan berpenyebut tidak sama. Soal cerita matematika adalah soal mengenai penerapan dari konsep matematika dengan masalah kehidupan sehari-hari. Sebaiknya isi dan konstruksi soal cerita harus sesuai dengan pengalaman dan kehidupan siswa yang nyata, hal itu agar siswa menyenangi pelajaran

Penelitian tindakan kelas ini mengangkat masalah dengan judul “Peningkatan Kemampuan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Tentang Operasi Bilangan Pecahan Melalui Pendekatan Pemecahan Masalah Di Sekolah Dasar SD Negeri Ciwuni 01 tahun pelajaran 2015/2016”.

B.Identifikasi Masalah.

Dari latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka muncul berbagai masalah yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1.Proses pembelajaran yang terlalu terpusat pada guru atau guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam menyelesaikan soal cerita.

2.Rendahnya minat siswa terhadap pelajaran matematika, khususnya materi soal cerita karena matematika dianggap pelajaran yang sulit.

C.Pembatasan Masalah.

Untuk membatasi meluasnya permasalahan dalam penelitian ini, perlu adanya pembatasan masalah sebagai berikut :

Pendekatan pemecahan masalah” diharapkan dapat meningkatkan  kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang operasi hitung bilangan pecahan bagi siswa kelas IV SD Negeri Ciwuni 01 tahun pelajaran 2015/2016.

D.Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.Bagaimanakah proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang operasi hitung bilangan pemecahan pada siswa kelas IV SD Negeri Ciwuni 01 tahun pelajaran 2015/2016?

2.Seberapa besar peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang operasi hitung bilangan pecahan setelah menggunakan pendekatan masalah pada siswa kelas IV SD Negeri Ciwuni 01 tahun pelajaran 2015/2016?

E.Manfaat Hasil Penelitian.

Dari hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat :

1.Bagi siswa

Meningkatkan minat, motivasi, dan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematika mengenai soal cerita pecahan, serta siswa dapat menyelesaikan soal cerita secara sistematis sesuai langkah-langkah pemecahan masalah dalam soal matematika

2.Bagi guru

Dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendekatan pembelajaran di kelas,. sehingga konsep-konsep matematika yang diajarkan guru dapat dikuasai oleh siswa, dan guru akan terbiasa untuk melakukan pembelajaran matematika dengan merancang pendekatan pembelajaran yang baru, guna meningkatkan prestasi belajar serta kemampuan siswanya.

3.Bagi sekolah

Memberikan kontribusi positif pada sekolah dalam rangka perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran.

KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A.Kajian Teori

1.Hakikat Kemampuan.

Menurut Kamus Bhs Indonesia WJS, Purwodarminto, 2000: 35, 59,71,96 bahwa kompetensi berarti kewenangan/kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Istilah kompetensi memiliki banyak makna sebagai berikut: Descriptive of qualitive of qualitatif natur of teacherbehavior appears to be enti rely meaningful bahwa kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dan prilaku guru yang tampak dan sangat berarti.

2.Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

A.Pengertian Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku atau kecakapan manusia berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya (Surya, 2004, hlm. 7). Pemahaman guru tentang pengertian dan makna belajar akan mempengaruhi tindakannya dalam membimbing siswa untuk belajar. Cara mengajar antara guru yang memahami makna belajar sebagai upaya agar murid hanya bisa menghapal akan berbeda dengan guru yang memahami makna belajar sebagai perubahan tingkah laku. Oleh karena itu guru harus memahami makna belajar dan teori-teori tentang belajar, selain itu guru juga harus memahami tentang makna mengajar..

Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku atau kecakapan manusia berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut Surya (2004, hlm. 7),    James dan James (Suherman, 2003, hlm. 16) menyatakan bahwa, ‘matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri’. Reys (Suherman, 2003, hlm.17) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.

Kemudian Kline (Suherman, 2003, hlm.17) dalam bukunya mengatakan pula bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam. Sedangkan menurut Kurikulum 2006 menjelaskan pengertian matematika adalah:Matematika adalah mata pelajaran yang diberikan kepada semua siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, kreatif, kritis serta kemampuan kerjasama agar dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif”. (Depdiknas, 2006, hlm. 36)

Ruang Lingkup Matematika di Sekolah Dasar

Adapun cakupan ruang lingkup pembelajaran matematika di Sekolah Dasar menurut Depdiknas (2006, hlm.110) “adalah meliputi:

1) bilangan,

2) geometri dan pengukuran,

3) pengolahan data”.

Karakteristik Siswa Sekolah Dasar

Adapun aspek-aspek yang berkaitan dengan perkembangan peserta didik anak usia Sekolah Dasar dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik ini merupakan ciri yang mendominasi pada anak usia sekolah dasar. Mereka cenderung bergerak dan menggunakan badannya untuk melakukan segala aktivitas seperti berjalan, berlari, melompat,memanjat dan melakukan aktivitas jasmani lainnya.

Perkembangan Kognitif

Menurut Piaget (Surya, 2004, hlm. 38), ‘perkembangan kognitif merupakan suatu proses dimana tujuan individu melalui suatu rangkaian yang secara kualitatif berbeda dalam berpikir’. Menurut Jean Piaget (Mulyasa, 2009, hlm. 51) tahap perkembangan kognitif siswa sekolah dasar adalah sebagai berikut: ‘

a) Tahap sensorimotorik (sejak lahir hingga usia dua tahun);

b) Tahap pra operasional (2-7 tahun);

c) Tahap operasi nyata ( 7-11 tahun); dan

d) Tahap operasi formal (usia 11 tahun dan seterusnya)’.

Berdasarkan data di atas, maka siswa sekolah dasar pada umumnya berada pada fase operasi nyata. “Pada tahap ini anak mulai mengatur data kedalam hubungan-hubungan logis dan mendapatkan kemudahan dalam memanipulasi data dalam pemecahan masalah” (Mulyasa, 2009, hlm. 52). Ini berarti, anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diserapkannya pada masalah-masalah konkrit. Selain itu pada tahap ini kemampuan berpikir abstrak anak belum sepenuhnya berkembang. Anak akan dapat memahami operasi logis bila dibantu dengan benda-benda konkrit..

3.Pendekatan Pemecahan Masalah

A.Pengertian Pendekatan Pemecahan Masalah

Masalah dalam pengertian ilmiah kependidikan adalah suatu situasi yang diberikan oleh guru kepada siswa dimana siswa diharapkan menemukan makna dalam upayanya menyelesaikan masalah tersebut. Menurut Dindyal (Kadir, 2008, hlm. 03), ‘suatu situasi disebut masalah jika terdapat beberapa kendala pada kemampuan pemecah masalah. Adanya kendala tersebut menyebabkan seorang pemecah masalah tidak dapat menentukan pemecahan suatu masalah secara langsung’.

Oleh karena itu masalah adalah suatu situasi yang didalamnya terdapat berbagai kendala yang memerlukan penyelesaian yang tidak dapat diperoleh secara langsung dengan menggunakan pengetahuan yang ada, tetapi seseorang yang menghadapi masalah itu sadar bahwa situasi tersebut perlu diselesaikan. Pendekatan pemecahan masalah menurut Rustaman (Yudhi 2009, hlm. 1) ‘adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menitik beratkan pada masalah yang harus dipecahkan siswa melalui praktikum atau pengamatan’. Usep Nuh (Yudhi 2009, hlm.1) mengemukakan pengertian bahwa: Pemecahan masalah atau pembelajaran berbasis masalah adalah  sebuah model pembelajaran yang mengembangkan strategi pemecahan masalah berbasis pengetahuan dan keterampilan dengan menempatkan siswa pada masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

4.Pengertian Soal Cerita Matematika

                         Soal cerita matematika adalah soal mengenai penerapan dari konsep matematika dengan masalah kehidupan sehari-hari. Sebaiknya isi dan konstruksi soal cerita harus sesuai dengan pengalaman dan kehidupan siswa yang nyata, hal itu agar siswa menyenangi pelajaran matematika (Ruseffendi dalam Iqsan, 2008, hlm. 21). Menurut Iqsan (2005, hlm. 21), “soal cerita merupakan soal terapan dari konsep matematika yang dihubungkan dengan masalah manusia sehari-hari, sehingga kemampuan untuk menyelesaikannya menjadi sangat penting bagi bekal siswa dalam hidupnya”.Oleh karena itu Soal cerita merupakan suatu masalah matematika dalam bentuk cerita dengan masalah kehidupan sehari-hari dan soal tersebut membutuhkan pekerjaan atau jawaban yang dimulai dengan apa yang diketahui dan ditanyakan, cara penyelesaian, penyelesaian dan yang terakhir memeriksa atau membaca kembali jawaban yang telah mereka dapatkan. Hudoyo (Firdans, 2009) menyebutkan ada empat jenis masalah yakni masalah translasi, masalah aplikasi, masalah proses, dan masalah teka-teki.

5.Pengertian Pecahan

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tentang pecahan di kelas IV Sekolah Dasar. Standar Kompetensi untuk pembelajaran bilangan pecahan adalah menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah. Pecahan merupakan bagian dari keseluruhan, bagian dari suatu daerah, bagian dari suatu benda atau bagian dari suatu himpunan. Menurut Kennedy (Tim PPG Matematika) makna dari pecahan muncul dari situasi-situasi berikut: “1). Pecahan sebagai bagian yang berukuran sama dari yang utuh atau keseluruhan, 2). Pecahan sebagai bagian dari kelompok-kelompok yang beranggotakan sama, 3). Pecahan sebagai perbandingan”.

C.Hipotesis Tindakan.

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir tersebut diatas diajukan hipotesis tindakan sbb: ”Melalui pendekatan pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan siswa materi“menyelesaikan soal cerita tentang operasi hitung bilangan  pecahan bagi siswa kelas IV SD Negeri ciwuni 01 tahun pelajaran 2015/2016

      METODE PENELITIAN

A.Setting Penelitian.

1.Tempat Penelitian.

Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas IV SDN Ciwuni 01 tahun pelajaran 2915/2016. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016. Alasan lokasi penelitian ini antara lain : 1) Kepala sekolah maupun pejabat yang terkait memberikan izin dilaksanakannya penelitian di SD Negeri Ciwuni 01 Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap; 2) SD Negeri Ciwuni 01 merupakan tempat dimana peneliti mengajar.

2.Waktu Penelitian.

Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016

dengan jadwal sebagai berikut:

 

 

 

 

 

3.Jenis Penelitian.

Jenis  penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Arikunto (2006, hlm. 96) menyatakan bahwa: “penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru kelas atau di Sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktis pembelajaran”. Sedangkan menurut Suhardjono (2008, hlm.58) “Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya”

B.Subyek Penelitian.

Subjek penelitian ini adalah siswa. Siswa yang dijadikan subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Ciwuni 01 Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap. Jumlah siswa yang menjadi subjek penelitian adalah sebanyak 21 orang,

C.Sumber Data.

1.Hasil tes formatif mata pelajaran matematika materi ”mengoperasionalkan  penjumlahan dan pengurangan” pada study awal.

2.Jumlah siswa yang tuntas dan tidak tuntas belajar di study awal, siklus I dan siklus II.

D.Tehnik dan Pengumpulan Data.

1.Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh kebenaran yang objektif dalam pengumpulan data diperlukan adanya instrumen sehingga masalah yang diteliti dapat direfleksi dengan baik. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data tersebut adalah:

2.Observasi

Observasi adalah suatu cara untuk mengungkap sikap/perilaku siswa dalam belajar matematika, sikap guru serta interaksi antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan oleh guru dan hasil observasi ini dijadikan dasar refleksi dan tindakan yang dilakukan.

3.Teknik Tes

Tes digunakan untuk menjaring data tentang hasil belajar dan penguasaan konsep siswa melalui penyajian lembar kerja siswa yang berisi soal-soal yang memiliki karakteristik sebagai masalah. Lembar kerja siswa adalah lembar yang berisi soal-soal yang harus dipelajari oleh siswa. Lembar kerja siswa digunakan untuk melihat hasil belajar siswa dan untuk mengidentifikasi penguasaan pembelajaran siswa terhadap matematika yang sedang dipelajarinya. Data dari LKS ini digunakan untuk melihat perubahan hasil belajar siswa. Untuk mengetahui perkembangan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita penulis mengadakan beberapa jenis tes, yaitu tes kemampuan awal yang bertujuan untuk mengungkap dan mengetahui kemampuan awal siswa dalam menyelesaiakan soal cerita. Pada pelaksanaan tindakan juga diadakan tes yang diberikan kepada individu maupun kelompok.

E.Validasi Data.

     Agar diperoleh data yang obyektif, sahih dan handal, maka peneliti menggunakan teknik triangulasi  dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

1.Menggunakan cara yang bervariasi untuk memperoleh data yang sama, misalnya untuk mengetahui seberapa aktivitas dalam pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi

2.Triangulasi data yakni dengan membandingkan data antara hasil tes tertulis siklus ke satu dan ke dua.

F.Analisis Data.

              Analisis data dilakukan pada setiap siklus tindakan atau pembelajaran dengan teknik sebagai berikut (Iqsan, 2008, hlm. 36) :

1.Triangulasi

Triangulasi diartikan sebagai teknik pengolahan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber yang telah ada. Dengan triangulasi akan lebih meningkatkan kekuatan data, bila dibandingkan dengan satu pendekatan

2.Saturasi (kejenuhan)

Karena keterbatasan waktu penelitian saturasi juga dijadikan salah satu teknik dalam melakukan validasi tindakan dan data. Dengan teknik ini peneliti memastikan bahwa perbaikan telah optimal dilakukan dengan pertimbangan bahwa potensi peneliti, subjek, fasilitas, dan waktu serta faktor-faktor lainnya sudah sampai pada batas optimal.

G.Indikator Kinerja

Untuk mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap proses belajar yang telah dilakuka dan sekaligus untuk mengetahui keberhasilan mengajar guru. Kita dapat menggunakan acuan tingkat keberhasilan sejalan dengan Kurikulum yang berlaku saat ini. Menurut Usman (1993),

Acuan tingkat keberhasilan adalah sebagai berikut:

1) istimewa atau maksimal: apabila seluruh bahan pelajaran yang diajrkan itu dapat dikuasai oleh siswa;

2) baik sekali atau optimal: apabila sebagian besar (85% – 94%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai siswa;

3) baik atau minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya (75% – 84%) dikuasai siswa;

4) kurang: apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 75% dikuasai siswa.

H.Prosedur Penelitian.

1.Orientasi dan Identifikasi Masalah

Tahap orientasi dan identifikasi masalah merupakan tahap awal dalam kegiatan penelitian. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah sebagai berikut:

a.Melakukan telaah terhadap standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, dan materi yang terdapat dalam kurikulum tiap satuan pendidikan mata pelajaran matematika kelas IV semester 2 serta pelaksanaan pembelajarannya.

b.Melakukan orientasi dengan fokus perhatian terhadap perencanaan pembelajaran menyelesaikan soal cerita di kelas IV SDN Ciwuni 01 Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap. Mengidentifikasi kemampuan awal siswa dalam menyelesaikan soal cerita dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah

A.Siklus I

1.Perencanaan Tindakan Pembelajaran

-Kegiatan pada tahap perencanaan tindakan di siklus I adalah membuat rencana pelaksanaan pembelajaran matematika dalam menyelesaikan soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah di kelas IV Sekolah Dasar.

-Berkoordinasi dengan wali kelas II yang akan bertindak sebagai observer dalam penelitian dan membantu mengumpulkan atau mengambil data selama penelitian berlangsung.

-Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) tentang materi soal cerita yang berisi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama.

-Menyiapkan soal evaluasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Soal evaluasi di siklus I terdiri dari satu soal yang berisi soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama.

-Menyiapakan sarana dan sumber belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran.

2.Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran

Melaksanakan proses pembelajaran matematika dalam menyelesaikan soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah di kelas IV SDN Ciwuni 01 sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Ketika guru melaksanakan proses pembelajaran dari mulai kegiatan awal sampai kegiatan akhir, guru mitra melakukan observasi terhadap aspek-aspek yang telah disepakati sebelumnya.

3.Observasi Pelaksanaan Pembelajaran

-Mengisi format observasi yang telah disediakan untuk mengukur dan menilai, mulai dari mengobservasi RPP, pelaksanaan        pembelajaran dan aktivitas siswa.

-Mengkaji data dari hasil pengamatan tentang perencanaan           tindakan, pelaksanaan tindakan dan hasil pelaksanaan tindakan            yang diperankan oleh subjek penelitian yaitu guru dan siswa.

4.Refleksi

-Menentukan perbaikan terhadap rencana pembelajaran, proses mengajar, proses belajar siswa dan hasil belajar siswa berdasarkan      penggunaan pemahaman atau aturan tentang cara menganalisis    data      dengan menggunakan triangulasi dan common sense.

-Menentukan tindakan untuk siklus II dalam pembelajaran matematika menyelesaikan soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama dengan     menggunakan pendekatan pemecahan masalah di kelas IV.

B.Siklus II

1.Perencanaan Tindakan Pembelajaran

a.Kegiatan pada tahap perencanaan tindakan di siklus II adalah    membuat rencana pelaksanaan pembelajaran matematika dalam menyelesaikan soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah di kelas IV Sekolah Dasar dengan perbaikan sesuai hasil refleksi siklus I.

b.Berkoordinasi dengan observer yang bertindak membantu mengumpulkan atau mengambil data selama penelitian berlangsung.

c.Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) tentang materi soal cerita yang berisi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama.

d.Menyiapkan soal evaluasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Soal evaluasi di siklus II berisi soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama.

e.Menyiapakan sarana dan sumber belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran.

2.Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran

Melaksanakan proses pembelajaran matematika dalam meyelesaikan soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama dengan menggunakan langkah-langkah pendekatan pemecahan masalah menurut Polya di kelas IV SDN Ciwuni 01 sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Ketika guru melaksanakan proses pembelajaran dari mulai kegiatan awal sampai kegiatan akhir, guru mitra melakukan observasi terhadap aspek-aspek yang telah disepakati sebelumnya

3.Observasi Pelaksanaan Pembelajaran

Kegiatan observasi terdiri dari:

a.Mengisi format observasi yang telah disediakan untuk mengukur dan menilai, mulai dari mengobservasi RPP, pelaksanaan             pembelajaran dan aktivitas siswa.

b.Mengkaji data dari hasil pengamatan tentang perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan hasil pelaksanaan tindakan            yang diperankan oleh subjek penelitian yaitu guru dan siswa.

4.Refleksi

Membandingkan hasil observasi siklus I, dan siklus II, dari mulai perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta segala aktivitas guru dan siswa selama proses kegiatan pembelajaran hingga ditarik suatu kesimpulan. Apabila hasilnya sudah memenuhi kriteria keberhasilan, maka tindakan dianggap cukup sampai siklus II. Apabila target belum memenuhi kriteria keberhasilan, maka dilanjutkan ke siklus berikutnya apabila waktu yang tersedia masih memungkinkan dengan fokus penelitian untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan pada siklus sebelumnya.

Hal ini dapat digambarkan dalam gambar prosedur penelitian kelas yaitu

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.

1.Deskripsi Kondisi Awal.

Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh siswa dari tes awal adalah 31,92 dan hanya 6 orang siswa atau hanya 23,08% yang telah mencapai nilai KKM. Menurut Depdiknas, untuk mengetahui kategori kualitatif nilai siswa menentukan kategori kualitatif dengan ketentuan sebagai berikut: “a) > 95 = istimewa, b) 80-95 = amat baik, c) 65-79 = baik, d) 50-64 = cukup, e) 35-49 = kurang, f)  < 34 = amat kurang” (Iqsan, 41:2008).

Dari rentangan nilai 1-100 yang dibuat oleh Depdiknas, ternyata data hasil belajar siswa kelas IV menunjukan bahwa rata-rata kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita masih amat kurang. Dari tes awal tersebut diketahui pula bahwa dalam menyelesaikan soal cerita, siswa langsung menuliskan jawaban tanpa proses hitungannya. Hal–hal tersebut dirasa telah cukup menjadi bahan pertimbangan untuk melaksanakan siklus ke satu.    

B.Deskripsi Siklus 1

Pelaksanaan siklus I meliputi perencanaan perbaikan pembelajaran, tindakan perbaikan pembelajaran, hasil observasi dan hasil belajar, refleksi,

3.Perencanaan Tindakan

Kegiatan pada tahap perencanaan tindakan di siklus I adalah membuat rencana pelaksanaan pembelajaran matematika dalam menyelesaikan soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama, dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah di kelas IV SDN Ciwuni 01. Perencanaan pembelajaran pada siklus I adalah:

a.Merumuskan indikator yaitu memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan dan pengurangan pecahan yang berpenyebut tidak sama.

b.Merumuskan tujuan pembelajaran yaitu siswa dapat memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan dan pengurangan pecahan yang berpenyebut tidak sama.

c.Menentukan materi pembelajaran yang akan dilakukan pada siklus I yaitu operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama.

d.Menentukan metode pembelajaran yang terdiri dari metode ceramah bervariasi, pendekatan pemecahan masalah, diskusi, dan pemberian tugas.

e.Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang secara garis besar terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir.

f.Menetapkan alat dan sumber belajar,

g.Menentukan kegiatan penilaian dan membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) pada lampiran. LKS dibuat untuk kegiatan kelompok dan digunakan sebagai alat pembelajaran. Kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran menyelesaikan soal cerita dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah dinilai oleh observer dalam sikus I dapat dilihat pada lampiran.

Berdasarkan data tersebut, kita dapat melihat ketercapaian nilai setiap aspek yang telah disusun oleh guru. Terdapat 24 aspek yang menjadi kriteria penilaian yang secara garis besar meliputi aspek standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar, serta penilaian pembelajaran. Setiap aspek yang memperoleh kategori “ya” mendapat nilai satu, sedangkan yang mendapat kategori “tidak” mendapat nilai nol.

4.Pelaksanaan Tindakan .

Kegiatan pelaksanaan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 16 Maret 2015 dengan waktu 2 x 35 menit, pada jam ke 1 dan 2 yaitu dari jam 07.30–08.40. Waktu yang telah ditentukan sebelumnya ternyata kurang dan dalam pelaksanaannya peneliti terpaksa melakukan penambahan waktu selama 35 menit agar siklus I dapat terselesaikan menjadi dari jam 07.30- 09.15. Peneliti bertindak sebagai pengajar dan guru mitra sebagai observer.

        Langkah-langkah pembelajaran.

1.Kegiatan awal (10 menit).

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus pertama dimulai dengan mengucapkan salam dan berdo’a seperti yang biasa dilakukan setiap awal pembelajaran. Setelah itu guru langsung mengkondisikan siswa pada situasi pembelajaran yang kondusif dengan cara menugaskan siswa untuk duduk dengan rapi sesuai kelompok yang sudah dibentuk dan menugaskan siswa untuk menyiapkan buku mata pelajarannya. Setelah semua siswa duduk rapi, guru memotivasi siswa supaya belajarnya lebih semangat dengan melakukan “tepuk semangat”.

2.Kegiatan Inti

Guru menjelaskan metode pemecahan masalah yang terdiri dari empat tahap diantaranya memahami masalah, merencanakan, melaksanakan dan mengecek kembali dengan mengaplikasikannya dalam menyelesaikan soal cerita. Kegiatan dilanjutkan dengan penjelasan tentang cara pengerjaan LKS dan pengerjaan LKS oleh setiap kelompok. Guru berusaha membimbing dan memberikan arahan agar LKS tersebut dikerjakan secara bersama-sama di dalam kelompok masing-masing. Guru memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertanya jika ada yang kurang dimengerti. Guru memberikan waktu selama 15 menit untuk mengerjakan LKS dengan bimbingan dari guru

3.Kegiatan akhir

Guru memberikan soal evaluasi setelah semua LKS terkumpul. Guru membagikan lembar evaluasi kepada semua siswa dan memberikan waktu kepada siswa untuk menyelesaikan soal evaluasi ini selama 15 menit.

5.Pengamatan Tindakan

Observer mengamati keaktifan siswa dalam pembelajaran, dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Observasi yang dilakukan dalam siklus ini adalah dengan observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti. Observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung dengan panduan observasi yang telah dibuat. Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap semua proses tindakan, hasil tindakan, dan hambatan tindakan.

Tabel di atas memperlihatkan sebuah hasil evaluasi yang sudah lebih baik dari sebelum melakukan tindakan, tetapi harus mengalami perbaikan dalam pembelajaran selanjutnya, supaya menghasilkan peningkatan hasil belajar yang lebih optimal. Hasil ini tentunya bukan sebuah hasil yang optimal karena masih banyak siswa yang mendapat nilai di bawah rata–rata serta ada siswa yang nilainya memenuhi KKM tetapi tidak dapat menyelesaikan soal atau tidak dapat menyelesaikan tahap 3 dengan cara yang tepat dan isinya salah sehingga anak tersebut dalam keterangannya belum tuntas. Persentasi siswa yang memenuhi KKM sebanyak 57,69% dan yang belum memenuhi KKM sebanyak 42,31%. Hasil ini tentunya hasil yang menggembirakan tetapi agar lebih menggembirakan lagi maka peneliti perlu melakukan tindakan yaitu melakukan perbaikan pembelajaran dalam siklus II agar hasilnya lebih optimal. Peneliti perlu melakukan perbaikan pembelajaran dalam siklus II agar hasilnya mencapai 75% dari jumlah seluruh siswa kelas IV memenuhi nilai KKM matematika.

Refleksi

Berdasarkan temuan data pada hasil observasi siklus I mengenai perencanaan, pelaksanaan dan aktivitas siswa dalam pembelajaran juga hasil belajar siswa, maka guru dan observer merefleksi kegiatan yang telah dilaksanakan. Adapun refleksi pada siklus I yaitu:

1.Aspek Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Menurut hasil analisis terhadap kemampuan guru dalam merancang RPP pada siklus I termasuk kategori baik sekali. Dengan data yang diperoleh tentang kinerja guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada siklus I mendapat jumlah skor 22 dari semua aspek yang dinilai. Persentase skor adalah 88% dari persentase maksimal 100%. Tapi meskipun demikian masih terdapat beberapa kekurangan yang harus diperbaiki pada siklus berikutnya diantaranya adalah sebagai berikut.

a.Langkah-langkah pembelajaran yang ada dalam RPP belum sesuai dengan metode yang telah ditetapkan.

b.Sumber belajar yang digunakan kurang variatif karena sumber belajar yang digunakan hanya satu sumber belajar.

2.Aspek Pelaksanaan Pembelajaran

Menurut hasil analisis terhadap kemampuan guru dalam melaksankan pembelajaran pada siklus I termasuk kategori baik. Dengan data yang diperoleh tentang kinerja guru dalam melaksankan pembelajaran pada siklus I mendapat jumlah skor 13 dari semua aspek yang dinilai. Persentase skor adalah 65% dari persentase maksimal 100%. Tapi meskipun demikian masih terdapat beberapa kekurangan yang harus diperbaiki pada siklus berikutnya diantaranya adalah sebagai berikut.

-Pada aspek kegiatan akhir, guru tidak melakukan kegiatan    menyimpulkan pembelajaran karena waktu yang digunakan dalam pembelajaran (pengerjaan LKS dan pengerjaan evaluasi) kurang efektif.

-Guru kurang menguasai materi yang akan diajarkan serta kurang memberikan contoh-contoh penyelesaian soal ceita dengan langkah–langkah polya. Hal ini dikarenakan guru merasa kurang percaya diri dengan kemampuannya.

-Sumber belajar yang digunakan guru kurang variatif karena guru hanya menggunakan satu sumber saja.

-Evaluasi, guru tidak mengefektifkan waktu yang dialokasikan untuk evaluasi dengan baik sehingga guru tidak menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan dan tidak menata kembali kelasnya dengan baik.

C.Deskripsi Siklus II

1.Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan siklus II disusun berdasarkan hasil observasi dan refleksi yang dilakukan pada siklus I. Masalah yang berhasil diidentifikasi dijadikan sebagai bahan acuan untuk menyusun rancangan pembelajaran siklus II. Hasil refleksi dari siklus I dijadikan rencana untuk perbaikan pada pelaksanaan pembelajaran siklus II.

2.PelaksanaanTindakan.

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dilakukan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Kegiatan pembelajaran siklus II dilakukan pada hari Sabtu tanggal 12 Mei 2015. Dalam pelaksanaan siklus II guru melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a.Kegiatan Awal

Hal yang pertama dilakukan oleh guru pada pelaksanaan pembelajaran yaitu mengucapkan salam dan langsung mengkondisikan siswa pada situasi pembelajaran yang kondusif dengan cara menugaskan siswa untuk duduk dengan rapi sesuai kelompok yang sudah dibentuk dan menugaskan siswa untuk menyiapkan buku mata pelajarannya. Setelah semua siswa duduk rapi, guru mengadakan apersepsi dengan melakukan tanya jawab dengan siswa tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan yang berpenyebut tidak sama. Ternyata cukup banyak siswa yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Maka guru pun hanya mengingatkan secara selintas tentang konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan yang berpenyebut tidak sama.

b.Kegiatan Inti

Guru menjelaskan secara selintas tentang metode pemecahan masalah yang terdiri dari empat tahap diantaranya memahami masalah, merencanakan, melaksanakan dan mengecek kembali. Untuk mengefektifkan pembelajaran, guru membagikan LKS kepada setiap kelompok, setelah itu siswa mengikuti langkah–langkah penyelesaian soal cerita dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah. Dalam pengerjaannya siswa dibimbing oleh guru, apabila ada hal-hal yang tidak dimengerti maka guru menjelaskannya. Setelah siswa selesai mengerjakan LKS maka guru menugaskan seorang siswa untuk mengumpulkan LKS tersebut setelah itu guru menjelaskan bagaimana jawaban dari LKS yang telah diselesaikan oleh siswa tersebut.

c.Kegiatan akhir.

Guru memberikan soal evaluasi kepada siswa dan siswa mengerjakannya. Guru memberikan waktu kepada siswa untuk menyelesaikan soal evaluasi ini selama 15 menit dan ternyata siswa menyelesaikan soal evaluasi tersebut tepat waktu. Kemudian guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dimengerti dari pembelajaran yang telah dilakukan. Setelah itu guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran dan guru menutup pembelajaran dengan ucapan salam.

3.Pengamatan / Observasi Tindakan.

Observasi siklus II dilaksanakan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, dengan menggunakan lembar observasi. Adapun hasil observasi sebagai berikut :

A.Hasil Observasi

-Pelaksanaan Proses Pembelajaran

Kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran siklus II dapat terlihat pada lampiran. Berdasarkan data tersebut kita dapat melihat ketercapaian nilai setiap aspek dalam melaksanakan pembelajaran. Data pada lampiran menunjukan adanya peningkatan yang cukup baik. Perolehan persentase nilai pada siklus I adalah 65%, meningkat pada siklus II menjadi 95%. Data tersebut menunjukan masih adanya kelemahan guru dalam melaksanakan pembelajaran, yaitu tidak menyampaikan tujuan pembelajaran. Walaupun masih ada kekurangan namun nilai tersebut sudah mendekati nilai yang sempurna.

-Aktivitas Siswa

Aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran dapat terlihat pada lampiran.. Berdasarkan data tersebut kita dapat melihat ketercapaian nilai setiap aspek aktivitas siswa dalam kelompok maupun individu selama kegiatan pembelajaran..

B.Hasil observasi Hasil Belajar Siswa

Data mengenai kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah setelah dilakukan tindakan siklus II adalah sebagai berikut:

Tabel di atas memperlihatkan hasil evaluasi siswa yang meningkat                      dari siklus sebelumnya. Pada siklus I siswa yang memenuhi KKM hanya 57,69% dari seluruh siswa kelas IV atau sebanyak 9 orang dengan rata-rata nilai siswa adalah 64,04 sedangkan pada Siklus II 88,46% memenuhi KKM dari seluruh siswa kelas IV atau sebanyak 18 orang dengan rata-rata nilai siswa adalah 80,47. Kenaikan rata-rata nilai siswa adalah sebesar 16,43. 

Refleksi

Berdasarkan temuan data pada hasil observasi siklus II mengenai perencanaan, pelaksanaan dan aktivitas siswa dalam pembelajaran juga hasil belajar siswa, maka guru dan observer merefleksi kegiatan yang telah dilaksanakan. Adapun refleksi pada siklus II yaitu:

1.Aspek Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Menurut hasil analisis terhadap kemampuan guru dalam merancang   RPP pada siklus II termasuk kategori baik sekali.

2.Aspek Pelaksanaan Pembelajaran

Menurut hasil analisis terhadap kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran pada siklus II termasuk kategori baik sekali. Tapi meskipun demikian masih terdapat beberapa kekurangan yang harus diperbaiki pada siklus berikutnya yaitu guru tidak melakukan kegiatan menyampaikan tujuan pembelajaran

3.Aspek Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil belajar siswa, kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah sudah sesuai dengan target yang diharapkan.

D.Pembahasan.

       Penelitian yang telah dilakukan terdiri dari dua siklus. Pelaksanaan siklus I berlangsung pada tanggal 11 Mei 2015 dan pelaksanaan Siklus II pada tanggal 12 Mei 2015. Meskipun dari rencana awal akan melakukan tiga siklus tetapi dengan berbagai pertimbangan dan hasilnya sudah mencapai maksimal maka siklus dihentikan sampai dua siklus saja. Penelitian tindakan ini pada intinya menggunakan pendekatan pemecahan masalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang pecahan.

1.Perencanaan Pembelajaran.

Dari data hasil observasi rencana pembelajaran pada siklus I diperoleh beberapa kelemahan diantaranya langkah-langkah dalam RPP kurang sesuai dengan metode yang digunakan.

2.Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah merupakan pembelajaran yang mungkin baru pertama kali diterapkan di SDN Ciwuni 01. Pada pelaksanaannya guru mendapat tantangan dalam menuntun siswa untuk bisa melakukan langkah-langkah yang terdapat dalam pendekatan pemecahan masalah. Anak yang terbiasa menjawab soal cerita secara langsung dituntut untuk mengerjakan soal cerita dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah.

3.Rekapitulasi Hasil Penelitian

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian seperti yang telah dijelaskan, setiap aspek mengalami peningkatan yang signifikan dalam setiap siklusnya, dari mulai aspek perencanaan, pelaksanaan sampai hasil belajar siswa. Berikut ini disajikan tabel 4.9 yang menggambarkan adanya peningkatan yang signifikan pada setiap aspek penelitian dari siklus I hingga siklus II.

PENUTUP

1.Simpulan.

     Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian tindakan kelas ini           peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut:

a.Proses pembelajaran dengan menggunakan  pendekatan pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang operasi hitung bilangan pecahan pada siswa kelas IV  SD Negeri Ciwuni 01 tahun pelajaran 2015/2016.

b.Kemampuan siswa dalam materi menyelesaikan soal  cerita  tentang operasi hitung bilangan pecahan  pada siswa kelas IV  SD Negeri Ciwuni 01 tahun pelajaran 2015/2016 mengalami peningkatan setelah menggunakan pendekatan pemecahan masalah dibuktikan pada persentase hasil belajar kondisi awal rerata 31,92% siklus 1 rerata 57,69 %  dan siklus II  meningkat signifikan menjadi 88,46%

c.Dengan pembelajaran menggunakan pendekatan pemecahan masalah  dan  pada materi ”operasi hitung bilangan pecahan” di kelas IV SD Negeri  Ciwun 01 tahun pelajaran 2015/2016 Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap terjadi perubahan tingkah laku yang signifikan, dibuktikan dengan persesentase  hasil belajar  dan kemampuan menyelesaikan soal cerita operasi hitung pecahan yang meningkat disetiap siklusnya.

2.Saran.

Hasil yang diperoleh dari kesimpulan di atas, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran dapat disampaikan beberapa rekomendasi berikut ini

a.Bagi guru

Mengajarkan matematika khususnya dalam menyelesaikan soal cerita, diharapkan guru dapat membuat rencana pembelajaran dengan baik, yang sesuai dengan Kurikulum yang berlaku, pengaturan waktu sesuai dengan apa yang ingin disampaikan, melakukan proses pembelajaran secara optimal dengan metode yang bervariasi serta media/sumber belajar yang lebih variatif. Melakukan evaluasi yang relevan dengan materi pembelajaran yang diberikan, sehingga siswa menguasai kemampuan dalam menyelesaikan soal cerita.

b.Bagi siswa

Siswa harus terus menggunakan pendekatan pemecahan masalah karena penggunaan pendekatan pemecahan masalah akan mempermudah siswa dalam memahami dan menyelesaikan soal cerita. Penggunaan pendekatan pemecahan masalah dapat diamalkan baik dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. (2004). Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Arikunto, S. (2007). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: PT. Bumi Aksara.

Arikunto, S. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Standar Kompetensi Dasar KTSP 2006. Jakarta: Depdiknas.

Djamarah, S,  dkk. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hidayat, K. (2001). Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Trimitra Mandiri

Hudoyo, H. dan Sutawidjaya, A. (1996). Matematika. Departemen Pendidikan       dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Iqsan, I. (2008). Pendekatan Pemecahan Masalah Dalam Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita. Skripsi pada FIP PGSD UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Kasbolah,K. (1998). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdikbud

(MilmanYasdi, http//milmanyusdi.blogspot.co.id/2011/07).

Mulyasa, E. (2007). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Ruseffendi, E.T. (1994). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Suherman, E. et al. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas pendidikan Indonesia.

Surya, Muhamad. (2004). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *