Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Jawa Melalui Metode Cerita Berpasangan

Upaya Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Jawa Melalui Metode Cerita Berpasangan pada Siswa Kelas IV SD Negeri 2 Kecepit Kabupaten Banjarnegara Semester I

Tahun Pelajaran 2015/2016

Oleh : Suripto, S.Pd

ABSTRAK

Rendahnya minat terhadap bahasa Jawa berakibat kurang optimalnya prestasi belajar siswa, seperti yang terjadi pada siswa kelas IV SD Negeri 2 Kecepit Kabupaten Banjarnegara. Banyak siswa yang nilainya di bawah KKM. Salah satu penyebabnya adalah keterampilan berbicara yang rendah. Tujuan penelitian ini secara umum adalah meningkatkan keterampilan berbicara melalui penerapan metode cerita berpasangan. Sedangkan tujuan khususnya adalah: 1) untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam mengungkapkan pendapat dan gagasan secara lisan, 2) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran bahasa Jawa. Hipotesis yang diajukan adalah: “Penerapan metode cerita berpasangan dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Jawa pada siswa kelas IV SD Negeri 2 Kecepit Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode cerita berpasangan dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas IV SD Negeri 2 Kecepit. Hasil Siklus II penelitian menunjukkan 28 siswa atau 87,50% mampu mencapai nilai 75 atau lebih. Hal ini melampaui indikator kinerja dalam penelitian ini, yaitu minimal 75% siswa mampu mencapai nilai 75 atau lebih dalam tes kemampuan berbicara. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis penelitian diterima. Saran yang diajukan adalah: 1) siswa agar terus mengasah keberanian dan keterampilan dalam berbicara di muka umum, termasuk di depan kelas, 2) guru hendaknya dapat menerapkan metode cerita berpasangan secara lebih intensif dalam pembelajaran berbicara untuk mendukung peningkatan prestasi belajar siswa.

Kata kunci: Keterampilan Berbicara, Cerita Berpasangan, Bahasa Jawa.

PENDAHULUAN

Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Bentuk penghormatan dari pemerintah akan bahasa Jawa adalah dengan memasukkan bahasa Jawa ke sekolah-sekolah sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal wajib yang harus dimasukkan dalam kurikulum sekolah.

Kondisi dan pola pembelajaran bahasa Jawa saat ini masih menempatkan bahasa Jawa sebagai bahan atau materi untuk dipelajari, bukan digunakan (Mulyana, 2006:7). Akibatnya, bahasa Jawa menjadi bahan pelajaran yang tidak integral dengan kehidupan siswa itu sendiri. Meskipun pendekatan komunikatif sudah dikembangkan sejak 1980-an, kenyataannya bahasa Jawa belum menyatu dengan siswa (Wibawa dalam Mulyana, 2006: 7).

Kondisi pelajaran bahasa Jawa saat ini hanya sekedar menjaga agar tetap dapat eksis dan lestari, bukan untuk penggunaan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, bahasa Jawa seakan menjadi bahasa asing bagi siswa, padahal bahasa Jawa merupakan bahasa asli yang mereka miliki. Pada sisi yang lain, siswa sendiri cenderung menganggap bahasa Jawa kuno dan kurang penting. Akibatnya siswa kurang memiliki minat yang tinggi untuk mempelajari bahasa Jawa.

Rendahnya minat terhadap bahasa Jawa berakibat kurang optimalnya prestasi belajar siswa, seperti yang terjadi pada siswa kelas IV SD Negeri 2 Kecepit Kabupaten Banjarnegara. Banyak siswa yang nilainya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pelajaran bahasa Jawa sebesar 75. Salah satu penyebabnya adalah karena keterampilan berbicara yang rendah. Siswa umumnya kurang mampu menyampaikan pendapat atau gagasannya secara lisan dengan sistematis.

Upaya meningkatkan keterampilan berbicara siswa dapat dilakukan melalui penerapan metode yang tepat. Dikatakan oleh Slameto (2003) bahwa metode mengajar mempengaruhi belajar. Metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru dapat mempengaruhi prestasi yang akan diperoleh oleh siswa karena hakekat guru mengajar adalah segala upaya guru dalam mengelola proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi secara efektif dan efisien.

Salah satu alternatif metode yang dapat digunakan guru untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa yaitu metode cerita berpasangan (paired storytelling). Menurut Susilowati (2010) metode paired storytelling memberi kesempatan kepada siswa untuk tampil berbicara di hadapan teman-temannya secara berpasangan. Dengan metode ini, guru dapat mengefektifkan waktu pembelajaran karena siswa diminta tampil berbicara di depan kelas dengan salah seorang temannya.

Keunggulan lain metode cerita berpasangan dalam proses pembelajaran berbicara adalah siswa tampil berbicara secara berpasangan sehingga diharapkan siswa tidak merasa takut, malu, ataupun lupa dengan apa yang akan disampaikan. Mereka dapat saling memotivasi dan menumbuhkembangkan kerjasama dan kekompakkan pada diri siswa. Jadi, metode cerita berpasangan bermanfaat untuk mengatasi hambatan atau kendala yang sering dijumpai ketika siswa tampil berbicara di depan kelas.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah penerapan metode cerita berpasangan dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa jawa pada siswa kelas IV SD Negeri 2 Kecepit Kabupaten Banjarnegara Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016?

KAJIAN TEORI

Keterampilan Berbicara

Menurut Suharyanti dan Suryanto (1996), secara sederhana bahwa berbicara dapat didefinisikan sebagai suatu peristiwa penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dipahami oleh orang lain. Sementara menurut Mish (1991), berbicara secara harfiah berarti mengekspresikan pikiran atau perasaan dengan bahasa lisan.

Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Menurut Suharyanti (1996), berbicara merupakan pemanfaatan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia untuk memberi tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang dapat dilihat (visible) agar maksud dan tujuan dari gagasan-gagasannya dapat tersampaikan. Ini berarti bahwa berbicara merupakan pengucapan bunyi-bunyi yang dipandang dari faktor fisik untuk mengomunikasikan gagasan-gagasannya.

Berbicara adalah kegiatan menyampaikan ide atau gagasan secara lisan. Dalam kegiatan tersebut, pembicaraan harus memperhatikan bagaimana cara pesan atau gagasannya dapat diterima dengan baik oleh orang lain. Pembicaraan yang menyampaikan gagasannya dengan panjang lebar, namun tidak jelas arah pembicaraannya yang membuat penyimak tidak memahami maksudnya. Sebaiknya, pembicaraan yang menggunakan ragam bahasa yang komunikatif meskipun singkat, penyimak akan mudah memahami maksud ujarannya. Jadi, keefektifan pembicara seorang tidak hanya ditentukan dari banyak sedikitnya bahasa yang dituturkan, tetapi juga berdasarkan derajat komunikatif ragam bahasa yang digunakan (Tarigan, 1992).

Metode Cerita Berpasangan

Metode cerita berpasangan (paired storytelling) dikembangkan sebagai pendekatan interatif antara siswa, guru, dan bahan pengajaran. Dalam kegiatan pembelajaran dengan metode paired storytelling, siswa dirangsang mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Buah-buah pemikiran mereka akan dihargai sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi (Lie, 2005).

Metode paired storytelling dapat digunakan dalam pembelajaran menulis, membaca, mendengar, dan berbicara (Lie, 2005). Berdasarkan hal tersebut, metode ini dapat diterapkan dalam pembelajaran berbicara pada siswa SD kelas IV. Pembelajaran berbicara yang ditugaskan kepada siswa menjadi menarik. Siswa akan dibagi ke dalam kelompok berpasangan untuk menceritakan sebuah cerita pengalaman ataupun cerita yang pernah dibacanya di depan kelas. National Storytelling Association (dalam Dewi, 2006) menjelaskan bahwa berbicara berpasangan merupakan keterampilan bahasa lisan dengan atau tanpa gerakan fisik dan gesture yang bertujuan membangkitkan imajinasi sebuah cerita secara spesifik kepada pendengar.

Alwasilah (2006) menjelaskan bahwa keterampilan berkisah, khususnya untuk siswa, sangat diperlukan untuk menumbuhkan imajinasi siswa. Ditambahkan oleh Priyono (2001) bahwa bercerita atau mendongeng tidak hanya merupakan kegiatan yang bersifat menghibur belaka, tetapi juga bertujuan memperkenalkan lingkungan, budi pekerti, dan mendorong anak untuk bersikap positif. Meskipun tampak sederhana, namun hal ini sangat penting ditanamkan pada diri anak.

Pembelajaran berbicara berpasangan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keterampilan berbicara. Dari sekian jumlah kegiatan berbicara, berbicara berpasangan tentang cerita merupakan salah satu kegiatan yang paling dikenal siswa. Oleh karena itu, guru dapat memulai kegiatn-kegiatan berbicara ini dengan kegiatan menceritakan sesuatu. Di dalam pembelajaran berbicara berpasangan dengan bercerita, teknik yang bisa digunakan oleh guru adalah siswa diminta menceritakan pengalaman yang mengesankan, menceritakan kembali cerita yang pernah dibaca atau didengar, menceritakan pengalaman pribadi, bertanya jawab berdasarkan bacaan, bermain peran, dan berpidato (Santosa, 2005).

Berbicara berpasangan dengan menceritakan sesuatu merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan keterampilan berbicara secara pragmatis. Untuk itu, ada dua hal yang harus dikuasai siswa, yaiu unsur linguistic (bagaimana cara berbicara untuk menceritakan, bagaimana memilih bahasa) dan unsur apa yang diceritakan. Siswa akan dianggap mampu berbicara dapat terindikasi dari ketepatan, kelancaran, dan kejelasan cerita (Nurgiyantoro, 2001). Oleh karena itu, keterampilan berbicara pada siswa perlu ditingkatkan melalui pelatihan berbicara secara teratur, sistematis, dan berkesinambungan.

Hipotesis Tindakan

Penerapan metode cerita berpasangan dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Jawa pada siswa kelas IV SD Negeri 2 Kecepit Kabupaten Banjarnegara Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

METODE PENELITIAN

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 2 Kecepit Kabupaten Banjarnegara yang berjumlah 32 orang. Penelitian dilaksanakan semester I Tahun Pelajaran 2015/2016 di SD Negeri 2 Kecepit Kabupaten Banjarnegara. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan nontes. Instrumen yang digunakan adalah rubrik penilaian dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif. Indikator kinerja dari penelitian ini terdiri dari hasil pengamatan dan hasil atau nilai prestasi belajar siswa. Penelitian dilakukan dalam dua siklus dan tiap siklus dilakukan melalui 4 (empat) tahapan yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Hasil Siklus I

Pelaksanaan Siklus I penelitian dilaksanakan pada minggu ketiga bulan Oktober sampai minggu keempat bulan Oktber 2015. Pertemuan pertama digunakan untuk untuk menjelaskan pokok bahasan bercerita bahasa Jawa tentang kegiatan sehari hari serta membentuk pasangan. Pertemuan kedua digunakan untuk melakukan tes kemampuan berbicara.

Berdasarkan data pada Tabel 4.1 dapat disusun ringkasan nilai kemampuan berbicara sebagai berikut.

Tabel 4.1 Ringkasan Nilai Kemampuan Berbicara pada Siklus I

Berdasarkan data yang tersaji pada Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa nilai kemampuan berbicara siswa kelas IV SD Negeri 2 Kecepit pada Siklus I penelitian relatif belum memuaskan, yang ditandai dengan banyaknya siswa yang belum mencapai skor 75 yang menjadi indikator kinerja dalam penelitian ini. Dari 32 siswa, hanya 20 orang atau 62,50 persen yang mampu mencapai nilai 75 atau lebih. Lainnya sebanyak 12 orang atau 37,50 persen nilainya belum mencapai 75.

Tabel 4.2  Distribusi Frekuensi Nilai Siklus I Penelitian

Berdasarkan data pada Tabel 4.2 dapat disimpulkan bahwa nilai Siklus I penelitian pada kelas IV SD Negeri 2 Kecepit relatif baik karena separuh nilai siswa berada pada kategori tinggi. Meskipun demikian nilai tersebut belum memuaskan karena masih banyak siswa yang nilainya dalam kategori sedang dan rendah.

Hasil pengamatan pada siklus pertama ini belum menunjukkan hasil yang benar-benar positif dalam karena siswa hanya menunjukkan respon yang baik pada dua indikator saja, atau 50% dari seluruh indikator yang digunakan.

Deskripsi Hasil Siklus II

Pelaksanaan penelitian siklus II dilaksanakan pada minggu kedua dan ketiga bulan Nopember 2015.

Tabel 4.3 Ringkasan Nilai Kemampuan Berbicara pada Siklus II

Berdasarkan data yang tersaji pada Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa nilai kemampuan berbicara siswa kelas IV SD Negeri 2 Kecepit pada Siklus II penelitian sudah memuaskan. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya siswa yang mampu mencapai skor 75 atau lebih yang menjadi indikator kinerja dalam penelitian ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa hasil pembelajaran sudah efektif karena sesuai dengan indikator kinerja penelitian ini, yaitu minimal 75 persen siswa mampu mencapai nilai 75 atau lebih.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Nilai Siklus II

Berdasarkan data pada Tabel 4.4 dapat disimpulkan bahwa nilai kemampuan berbicara siswa kelas IV IV SD Negeri 2 Kecepit pada Siklus II penelitian relatif tinggi karena nilai siswa yang terbanyak berada pada kategori tinggi. Nilai tersebut sudah memuaskan karena didominasi oleh kategori tinggi serta sudah mencapai indikator kinerja dalam penelitian ini, yaitu 75% nilai siswa mencapai 75 atau lebih.

Hasil pengamatan pada siklus kedua sudah menunjukkan hasil yang benar-benar positif dan karena siswa sudah menunjukkan respon yang baik pada seluruh indikator atau 100%, yang berarti melampaui indikator kinerja dalam penelitian ini, yang mana hasil pembelajaran dianggap efektif jika minimal 3 indikator atau 75% dalam kategori baik.

Perbandingan Antar Siklus

Berikut ini disajikan data perbandingan hasil penelitian antara Siklus I dan Siklus II. Melalui perbandingan tersebut dapat diketahui perkembangan nilai kemampuan berbicara siswa pada dua siklus.

Tabel 4.5 Perbandingan Kategori Nilai Siswa pada Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan data yang tersaji pada Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa nilai siswa pada kedua siklus mempunyai perbedaan yang cukup menyolok. Pada Siklus I siswa nilainya di bawah 74  sebanyak 12 siswa atau 37,50 persen. Sementara pada Siklus II, mayoritas siswa, yaitu 28 orang atau 87,50%, mampu mencapai nilai 75 atau lebih, yang berarti melampaui indikator kinerja dalam penelitian ini.

PEMBAHASAN

Kemampuan berbicara merupakan salah satu di antara empat materi pokok dalam proses pembelajaran bahasa. Proses pembelajaran bahasa dalam kehidupan manusia, belajar berbicara merupakan tahap ke dua setelah belajar mendengarkan dan akan berlangsung terlebih dahulu sebelum manusia belajar membaca dan menulis. Jadi jelas bahwa berbicara mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran bahasa secara keseluruhan.

Firman (2006) menyatakan bahwa keterampilan berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang sangat penting dimiliki oleh siswa sekolah dasar, khususnya kelas IV ke atas. Hal ini dapat membantu siswa dalam melakukan interaksi dalam pembelajaran, baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa yang lainnya, sehingga aktivitas pembelajaran akan lebih bermakna.

Berdasarkan hasil pelaksanaan penelitian ini dapat diketahui bahwa dalam dua siklus yang dilakukan, ternyata menampakkan hasil sebagaimana yang diharapkan, yaitu peningkatan prestasi belajar yang dicapai oleh para siswa yang terwujud dalam kemampuan berbicara. Pada siklus II penelitian seluruh siswa mengalami peningkatan dalam tes kemampuan berbicara dan mayoritas sudah mencapai nilai 75, yang merupakan nilai minimal yang dipersyaratkan untuk menunjukkan efektivitas penelitian ini.

Berdasarkan hasil penelitian maka jelas bahwa penggunaan metode metode cerita berpasangan ternyata dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap antusiasme siswa dalam pembelajaran dalam upaya meningkatkan kemampuan berbicara. Hal tersebut tercermin dalam peningkatan nilai dalam tes kemampuan berbicara.

Pengaruh positif penerapan metode cerita berpasangan dalam meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas IV SD menurut peneliti tidak lepas dari karakternya yang menekankan aspek kerjasama, mengingat siswa diarahkan dan didesain untuk berpasangan dalam menceritakan atau berbicara di depan kelas. Hal tersebut membuat siswa dapat mengurangi rasa malu, takut, atau perasaan psikologis lain yang sering dialami pada saat harus tampil ke depan kelas untuk berbicara. Dengan berpasangan, maka siswa juga dapat saling membantu satu sama lain. Dalam kelompok tersebut, para siswa juga harus bekerjasama untuk mendapat nilai yang terbaik. Selain itu, siswa yang memiliki kemampuan lebih dalam bercerita akan memotivasi siswa lain yang kurang terampil berbicara di depan kelas.

SIMPULAN

Metode cerita berpasangan dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas IV SD Negeri 2 Kecepit Kabupaten Banjarnegara. Hasil Siklus II penelitian menunjukkan 28 siswa atau 87,50% mampu mencapai nilai 75 atau lebih. Hal ini melampaui indikator kinerja dalam penelitian ini, yaitu minimal 75% siswa mampu mencapai nilai 75 atau lebih dalam tes kemampuan berbicara. Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis penelitian ini yang menyatakan: “Penerapan metode cerita berpasangan dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Jawa pada siswa kelas IV SD Negeri 2 Kecepit Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016”, diterima.

SARAN

1. Bagi Siswa; Siswa agar terus mengasah keberanian dan keterampilan dalam berbicara di muka umum, termasuk di depan kelas.

2. Bagi Guru; Guru hendaknya dapat menerapkan metode cerita berpasangan secara lebih intensif dalam pembelajaran berbicara untuk mendukung peningkatan prestasi belajar siswa dalam pelajaran Bahasa Jawa pada khususnya maupun matapelajaran yang lain pada umumnya. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan mengingat keterampilan berbicara sangat penting untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, Chaedar A. 2006. Pengajaran Berbasis Sastra. (www.pikiran-rakyat. Com/cetak/2006/122006/27/0901.htm). Diakses pada tanggal 23 Nopember 2010.

Dewi, Rishe Purnama. 2006. “Teknik Mendongeng dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar.” Kumpulan Makalah Konferensi Internasional (PBSI XXVIII-IKIP PGRI Semarang). Semarang: LPMP Jawa Tengah.

Firman, 2006. Peningkatan Kemampuan Berbicara dan Menyimak Melalui Model Berbicara dan Menyimak Langsung (Studi Eksperimen Kuasi terhadap Siswa Kelas IV SDN 55 Parepare), http://repository.upi.edu/ operator/ tesisview.php?n. Diakses tanggal 9 Juli 2015.

Lie, Anita. 2005. Cooperative Learning: Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Grasindo.

Mish, Frederick C. 1991. Webster’s Ninth New Collegiete Dictionary. Springfield, Massachusetts, U.S.A.: Merriam-Webster.

Mulyana. (2006). Menjadikan Bahasa Jawa Sebagai Pelajaran Favorit Kenapa Tidak?. Makalah Konggres Bahasa Jawa Ke-4. Yogyakarta: FBS UNY

Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Edisi ketiga. Yogyakarta: BPFE.

Priyono, Kusumo. 2009. Terampil Mendongeng. Jakarta: PT Grasindo.

Santosa, Puji, dkk. 2005. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Suharyanti dan Edy Suryanto. 1996. Retorika BPK. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Tarigan, Henry Guntur. 1992. Berbicara: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *