PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA JAWA RAGAM KRAMA MELALUI METODE SOSIODRAMA PADA PESERTA DIDIK KELAS V SDN KADIPATEN SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2015/2016

BIODATA

Nama                            : Dumilah, S. Pd.

NIP                               : 19630327 198304 2 006

Pangkat/golongan       : Pembina, IV/a

Jabatan                        : Guru kelas V

Instansi                          : SD Negeri Kadipaten – Wiradesa Kab. Pekalongan

Alamat                         : Ds. Petukangan- Wiradesa            

No. HP                          : 085869011672

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan peningkatan proses dan  hasil belajar, mendiskripsikan proses peningkatan perubahan perilaku, mendiskripsikan proses peningkatan keterampilan berbicara bahasa jawa ragam krama pada peserta didik kelas V SDN Kadipaten Semester I tahun pelajaran 2015/2016 melalui metode sosiodrama.PTK ini dilaksanakan dalam II siklus. Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas V yang terdiri atas 25 peserta didik dengan rincian laki-laki 21 orang dan perempuan 4 orang.  Hasil penelitian akhir menunjukkan keterampilan proses mengalami peningkatan sebesar 25,6% dari perolehan siklus I 57,6% siklus II 83,2%. Pada hasil belajar ada peningkatan ketuntasan secara klasikal sebesar 40% dengan perolehan pada siklus I tuntas 72% dengan rata-rata 68,4 pada siklus II tuntas 88% dengan rata-rata 80,8. Pada hasil perilaku peserta didik ada peningkatan sebesar 32% dengan perolehan pada siklus I  55,6% pada siklus II 87,6%. Pada proses peningkatan keterampilan berbicara ada peningkatan sebesar 34,8% dengan perolehan pada siklus I 59,8% pada siklus II 94,6%. Pada hasil wawancara memperoleh skor 90 atau 72% dalam kategori baik. Dengan demikian penelitian ini dapat disimpulkan melalui metode sosiodrama dapat meningkatakan keterampilan berbicara bahasa jawa ragam krama pada peserta didik kelas V SDN Kadipaten.

Kata kunci: Keterampilan berbicara, ragam krama, sosiodrama

PENDAHULUAN

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Jawa di SDN Kadipaten memiliki beberapa kendala. Bahasa Jawa yang merupakan mata pelajaran muatan lokal, seringkali keberadaannya dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang penting karena tidak ikut menentukan nilai akhir atau nilai raport, padahal bahasa jawa termasuk mata pelajaran yang cukup sulit dipahami. Sehingga hal ini berpengaruh terhadap motivasi dan semangat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, mata pelajaran bahasa jawa juga dianggap sebagai hal yang menakutkan bagi kebanyakan peserta didik.

Berdasarkan hasil ulangan tes awal dari jumlah peserta didik kelas V SDN Kadipaten adalah 25 peserta didik dengan rincian laki-laki 21 orang dan perempuan 4 orang, Hasil tes kemampuan membaca permulaan pada kondisi awal sebelum pelaksanaan tindakan dengan nilai rata-rata perolehan 63,2 dan ketuntasan belajar klasikal 48% atau hanya 12 peserta didik yang tuntas.

Berdasarkan hasil identifikasi masalah tersebut, peneliti mencoba melakukan analisis masalah, berdiskusi dengan teman sejawat serta bertanya dengan peserta didik tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan. Untuk memecahkan masalah tersebut, penulis menetapkan tindakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Jawa ragam krama peserta didik dengan menggunakan metode sosiodrama yang bertujuan untuk mendorong keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, membangkitkan semangat peserta didik, meningkatkan kreativitas guru, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Jawa ragam krama peserta didik kelas V SDN Kadipaten semester I tahun pelajaran 2015/2016.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: bagaimanakah peningkatan proses dan pembelajaran keterampilan berbicara bahasa jawa ragam krama melalui metode sosiodrama, bagaimanakah peningkatan hasil belajar keterampilan berbicara bahasa jawa ragam krama melalui metode sosiodrama, bagaimanakah  perubahan perilaku peserta didik kelas V SDN Kadipaten pada pembelajaran berbicara bahasa jawa ragam krama melalui metode sosiodrama

Adapun tujuan  penelitiannya adalah mendiskripsikan peningkatan proses permbelajaran keterampilan berbicara bahasa jawa melalui metode sosiodrama, mendiskripsikan peningkatan hasil belajar keterampilan berbicara bahasa jawa melalui metode sosiodrama, mendiskripsikan perubahan perilaku peserta didik kelas V SDN Kadipaten melalui metode sosiodrama.

LANDASAN TEORITIS

Keterampilan Berbicara

Haryadi & Zamzani (1996:59) menyatakan berbicara sebagai salah satu unsur kemampuan berbahasa sering dianggap sebagai suatu kegiatan yang berdiri sendiri dan tujuan pengajaran bahasa jawa dewasa ini adalah untuk berbicara mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh.

Oktarina (2002:199) menyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan menyusun kalimat-kalimat karena komunikasi terjadi melalui kalimat-kalimat untuk menampilkan perbedaan tingkah laku yang bervariasi dari masyarakat yang berbeda.

Bahasa Jawa

Menurut Clifford Geertz (1976:168) tingkat variasi Bahasa Jawa dibedakan menjadi dua, yaitu krama dan ngoko. Lalu krama diperinci menjadi krama inggil, krama biasa, dan krama madya. Sedangkan ngoko diperinci menjadi ngoko madya, ngoko biasa, dan ngoko sae (yang pemakaiannya agak khusus).  Bahasa Jawa ragam krama adalah bahasa yang digunakan oleh orang desa yang satu dengan yang lainnya yang dianggap lebih tua atau dihormati. Sedangkan bahasa Jawa ragam krama inggil biasa digunakan oleh priyayi cilik (priyayi yang masih kecil) kepada Priyayi Gedhe (priyayi yang sudah besar) (Aryo Bimo Setianto, 2007:37).

Menurut Sasangka (2005:17) unggah-ungguh bahasa Jawa terdiri atas ragam ngoko dan ragam krama. Kedua ragam tersebut memiliki beberapa variasi, yaitu ngoko lugu dan ngoko alus serta krama lugu dan krama alus. Bentuk madya atau yang lazim disebut krama madya termasuk ke dalam krama lugu.

Metode Pembelajaran

Metode adalah cara yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan pembelajaran adalah suatu proses untuk menuju yang lebih baik (Depdiknas, 2002:767).

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, 9 diantaranya metode ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi, laboratorium, pengalaman lapangan, brainstorming, debat, simposium, dan sebagainya (Setyosari, 2011:34).

Pengertian Metode Sosiodrama

Sosiodrama berasal dari kata sosio dan drama. Sosio berarti sosial atau masyarakat menunjukkan pada kegiatan-kegiatan sosial, dan drama berarti pertunjukan, tontonan. Sosial atau masyarakat terdiri dari manusia yang satu sama lain saling membutuhkan dan berhubungan yang dikatakan hubungan sosial (Marno dan M. Idris, 2015:87).

Jadi Metode Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter, dan lain sebagainya. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkanya.

Langkah-langkah Pelaksanaan Sosiodrama

Langkah-langkah pelaksanaannya adalah : guru mempersiapkan alat peraga yang akan digunakan., guru menyatakan atau memberi saran kepada peserta didik, cerita apa yang akan didramatisasi, guru membagikan peran-peran diantara peserta didik menurut pilihan mereka sendiri, apabila ternyata peserta didik sudah agak lupa akan isi dan jalan cerita itu, maka guru mengulangi lagi dengan meletakkan tekanan pada dialog (percakapan) antara tokoh-tokoh dalam cerita tersebut, peserta didik yang sudah mendapat peran memperhatikan dialog yang sudah menjadi bagiannya, guru membagikan pakaian/alat yang sesuai dengan peran-peran yang akan dimainkan, peserta didik mendramatisasikan sesuai bagiannya masing-masing, Evaluasi.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas V SDN Kadipaten pada tahun pelajaran 2015/2016 semester I.

Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan yaitu pada bulan September sampai November pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Masing-masing siklus dilakukan pembelajaran sebanyak dua kali pertemuan.

Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas V yang terdiri atas 25 peserta didik dengan rincian laki-laki 21 orang dan perempuan 4 orang.

Dalam penelitian ini peneliti melakukan pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi, wawancara, tes, studi dokumentasi, dan catatan lapangan.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: kuantitatif dan kualitatif

Indikator keberhasilan penelitian ini apabila: hasil belajar keterampilan berbicara bahasa Jawa sekurang kurangnya ketuntasan individual ≥ 65 dan ketuntasan klasikal ≥ 75%, proses pembelajaran peserta didik dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Jawa menggunakan metode sosiodrama sekurang-kurangnya 75% (Baik), perilaku peserta didik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Jawa ragam krama menggunakan metode sosiodrama sekurang-kurangnya 75% (baik).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Diskripsi Pra Siklus

Hasil tes kemampuan membaca permulaan pada kondisi awal sebelum pelaksanaan tindakan dengan nilai rata-rata perolehan 63,2 dan ketuntasan belajar klasikal 48% atau hanya 12 peserta didik yang tuntas.

Pembahasan Antar Siklus

Hasil Tes Antar Siklus dan Peningkatannya

Tabel 4.1 Hasil Tes Peserta didik Antar Siklus dan Peningkatannya

 

 

 

 

 

 

 

 

Penjelasan: dari tabel 4.1 terlihat bahwa pada siklus I perolehan peserta didik pada rentang nilai 0-39 tidak ada, pada rentang nilai 40-59 tidak ada, pada rentang nilai 60-79 ada 21 peserta didik dengan bobot skor 1390 (84%), pada rentang nilai 80-100 ada 4 peserta didik dengan bobot skor 320 (16%). Dengan perolehan nilai rata-rata 68,4 (cukup) dengan ketuntasan klasikal adalah yang tuntas ada 18 peserta didik (72%) sedangkan yang belum tuntas ada 7 (28%) ada peningkatan sebesar 24% dari hasil pra siklus.

Setelah dilakukan tindakan di siklus II terlihat bahwa perolehan peserta didik pada rentang nilai 0-39 tidak ada, pada rentang nilai 40-59 tidak ada, pada rentang nilai 60-79 ada 4 peserta didik dengan bobot skor 250 (16%), pada rentang nilai 80-100 ada 21 peserta didik dengan bobot skor 1770 (84%) Dengan perolehan nilai rata-rata 80,8 (baik) dengan ketuntasan klasikal adalah yang tuntas ada 22 peserta didik (88%) sedangkan yang belum tuntas ada 3 (12%) ada peningkatan sebesar 16% dari siklus I. Pada siklus I kegiatan pembelajaran masih ada peserta didik yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan asyik bermain dengan teman sebangku sehingga menggangu teman yang lain.

Hal ini berakibat kurangnya konsentrasi teman yang lain dalam kegiatan pembelajaran. Dalam melakukan penampilan di kelas dengan sosiodrama masih ada beberapa peserta didik kurang berani dan malah bermain-main saja sehingga untuk mengatasi hal ini guru harus selalu memberi pengertian dan motivasi agar dapat membangkitkan keberanian peserta didik dan diberi tepuk tangan yang meriah agar lebih semangat, hasil belajar peserta didik. Setelah diadakan perbaikan di siklus II peserta didik sudah dapat menerima penjelasan guru dengan baik, berkonsentrasi penuh dalam pembelajaran, dan dalam melakukan penampilan di kelas dengan sosiodrama peserta didik sudah percaya diri dan berani. Dengan total peningkatan dari pra siklus hingga siklus II adalah 40%.

Hasil Proses Pembelajaran Antar Siklus dan Peningkatannya

Hasil proses belajar antar siklus merupakan hasil observasi yang dilakukan peneliti bersama observer pada saat pembelajaran di siklus I dan siklus II yang meliputi aspek intensifnya proses internalisasi pemahaman peserta didik tentang pembelajaran berbicara bahasa Jawa ragam krama dengan menerapkan metode sosiodrama, proses diskusi peserta didik dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa ragam krama dengan menerapkan metode sosiodrama terlaksana kondusif, intensifnya peserta didik dalam proses menjawab soal pembelajaran berbicara bahasa Jawa ragam krama dengan menerapkan metode sosiodrama secara mandiri dan kelompok, kondusifnya peserta didik saat proses presentasi jawaban, terbangunnya suasana reflektif pada akhir pembelajaran. Adpun hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penjelasan : Pada tabel 4.2 diperoleh hasil observasi peserta didik pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I yaitu pada aspek intensifnya proses internalisasi pemahaman peserta didik tentang pembelajaran berbicara bahasa Jawa ragam krama dengan menerapkan metode sosiodrama peserta didik yang melakukan kegiatan aktif ada 13 peserta didik atau 52%, pada aspek proses diskusi peserta didik dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa ragam krama dengan menerapkan metode sosiodrama terlaksana kondusif peserta didik yang melakukan kegiatan aktif ada 15 peserta didik atau 60%, pada aspek intensifnya peserta didik dalam proses menjawab soal pembelajaran berbicara bahasa Jawa ragam krama dengan menerapkan metode sosiodrama secara mandiri dan kelompok peserta didik yang melakukan kegiatan aktif ada 13 peserta didik atau 52%, pada aspek kondusifnya peserta didik saat proses presentasi jawaban peserta didik yang melakukan kegiatan aktif ada 15 peserta didik atau 60%, pada aspek terbangunnya suasana reflektif pada akhir pembelajaran peserta didik yang melakukan kegiatan aktif ada 16 peserta didik atau 64%. Perolehan kegiatan aktif peserta didik secara keseluruhan adalah 57,6% atau dalam kategori kurang. Dalam proses ini diperoleh data bahwa: penjelasan materi yang diberikan oleh guru kurang mendapat respon peserta didik sehingga materi belajar kurang dipahami peserta didik, guru kurang memberikan kesempatan pada peserta didik untuk bertanya dan berdiskusi.

Pada siklus II diperoleh hasil observasi peserta didik pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II yaitu pada aspek intensifnya proses internalisasi pemahaman peserta didik tentang pembelajaran berbicara bahasa Jawa ragam krama dengan menerapkan metode sosiodrama peserta didik yang melakukan kegiatan aktif ada 20 peserta didik atau 80%, pada aspek proses diskusi peserta didik dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa ragam krama dengan menerapkan metode sosiodrama terlaksana kondusif peserta didik yang melakukan kegiatan aktif ada 22 peserta didik atau 88%, pada aspek intensifnya peserta didik dalam proses menjawab soal pembelajaran berbicara bahasa Jawa ragam krama dengan menerapkan metode sosiodrama secara mandiri dan kelompok peserta didik yang melakukan kegiatan aktif ada 21 peserta didik atau 84%, pada aspek kondusifnya peserta didik saat proses presentasi jawaban peserta didik yang melakukan kegiatan aktif ada 21 peserta didik atau 84%, pada aspek terbangunnya suasana reflektif pada akhir pembelajaran peserta didik yang melakukan kegiatan aktif ada 20 peserta didik atau 80%. Perolehan kegiatan aktif peserta didik secara keseluruhan adalah 83,2% atau dalam kategori baik. Dalam proses ini diperoleh data bahwa penjelasan materi yang diberikan oleh guru mendapat respon peserta didik sehingga materi belajar dapat dipahami peserta didik, guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk bertanya dan berdiskusi secara bebas, perhatian guru pada peserta didik sudah menyeluruh dan suasana di kelas sudah tertib ada peningkatan sebesar 25,6%.

Perubahan Tingkah Laku Peserta Didik Antar Siklus dan Peningkatannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penjelasan: pada tabel 4.3 terlihat bahwa pada tindakan siklus I pada aspek siap mengikuti pembelajaran memperoleh skor 54 atau 54%, pada aspek aktif memperoleh skor 51 atau 51%, pada aspek memperhatikan memperoleh skor 61 atau 61%, pada aspek bekerjasama memperoleh skor 58 atau 58%, pada aspek disiplin memperoleh skor 54 atau 54%, dengan perolehan total 278 atau 55,6% dalam kategori kurang.

Setelah dilakukan tindakan lanjutan yaitu pada siklus II terlihat bahwa ada peningkatan, pada aspek siap mengikuti pembelajaran memperoleh skor 86 atau 86%, pada aspek aktif memperoleh skor 83 atau 83%, pada aspek memperhatikan memperoleh skor 91 atau 91%, pada aspek bekerjasama memperoleh skor 89 atau 89%, pada aspek disiplin memperoleh skor 89 atau 89%, dengan perolehan total 438 atau 87,6% dalam kategori sangat baik. Ada peningkatan sebesar 32% pada tindakan yang dilaksanakan pada siklus II.

Hasil Keterampilan Berbicara Bahasa Jawa Antar Siklus dan Peningkatannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penjelasan: pada tabel 4.3 tentang perolehan hasil observasi keterampilan berbicara bahasa jawa memperoleh hasil sebagai berikut: pada siklus I terlihat pada aspek intonasi peserta didik memperoleh skor 55 atau 55%, pada aspek kejelasan peserta didik memperoleh skor 62 atau 62%, pada aspek ketepatan peserta didik memperoleh skor 58 atau 58%, pada aspek mengerti makna peserta didik memperoleh skor 63 atau 63%, pada aspek keberanian peserta didik memperoleh skor 61 atau 61%. Dengan jumlah keseluruhan 299 atau 59,8%  atau dalam kategori kurang.

Pembahasan pada setiap aspek adalah sebagai berikut: pada aspek intonasi peserta didik memperoleh skor 55 atau 55% hal ini terlihat dari ketika peserta didik melakukan kegiatan sosiodrama sebagian besar masih kesulitan mengucapkan lafal bahasa jawa, pada aspek kejelasan peserta didik memperoleh skor 62 atau 62% hal ini terlihat dari sebagian besar peserta didik masih belum bisa mengucapkan dengan jelas lafal-lafal yang ada pada teks sosiodrama, pada aspek ketepatan peserta didik memperoleh skor 58 atau 58% hal ini terlihat dari sebagian besar peserta didik masih merasa kesulitan dalam pengucapan, pada aspek mengerti makna peserta didik memperoleh skor 63 atau 63% hal ini terlihat dari sebagian besar peserta didik masih belum mengerti makna yang dibacanya dan alur ceritanya, pada aspek keberanian peserta didik memperoleh skor 61 atau 61% hal ini terlihat dari sebagian besar peserta didik masih belum berani maju ke depan untuk memeragakan sosiodrama dengan teks yang sudah dibuatkan oleh guru. Sebagian peserta didik mengaku masih malu untuk tampil di depan kelas. Dengan jumlah keseluruhan 299 atau 59,8%  atau dalam kategori kurang.

Pada tindakan yang dilaksanakan di siklus II memperoleh hasil observasi keterampilan berbicara bahasa jawa memperoleh hasil sebagai berikut: pada aspek intonasi peserta didik memperoleh skor 93 atau 93%, pada aspek kejelasan peserta didik memperoleh skor 96 atau 96%, pada aspek ketepatan peserta didik memperoleh skor 96 atau 96%, pada aspek mengerti makna peserta didik memperoleh skor 94 atau 94%, pada aspek keberanian peserta didik memperoleh skor 94 atau 94%. Dengan jumlah keseluruhan 473 atau 94,6%  atau dalam kategori sangat baik.

PENUTUP

Simpulan

Simpulan dalam penelitian ini adalah ada peningkatkan kemampuan berbicara bahasa jawa ragam krama melalui metode sosiodrama pada peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten Semester 1 tahun pelajaran 2015/2016. Hasil penelitian akhir menunjukkan keterampilan proses mengalami peningkatan sebesar 25,6% dari perolehan siklus I 57,6% siklus II 83,2%. Pada hasil belajar ada peningkatan ketuntasan secara klasikal sebesar 40% dengan perolehan pada siklus I tuntas 72% dengan rata-rata 68,4 pada siklus II tuntas 88% dengan rata-rata 80,8. Pada hasil perilaku peserta didik ada peningkatan sebesar 32% dengan perolehan pada siklus I  55,6% pada siklus II 87,6%. Pada proses peningkatan keterampilan berbicara ada peningkatan sebesar 34,8% dengan perolehan pada siklus I 59,8% pada siklus II 94,6%.

SARAN

Berdasarkan hasil simpulan dalam pelaksanaan penelitian keterampilan berbicara bahasa Jawa ragam krama melalui metode sosiodrama pada peserta didik kelas V SD Negeri Kadipaten, maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut: Guru teman sejawat dapat menggunakan  metode sosiodrama sebagai salah satu  solusi untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Jawa ragam krama peserta didik, sekolah hendaknya meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran yang inovatif dan menarik peserta didik di kelas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Clifford Geertz. 1976. The Interpretation of Culture. New York: Basic Books. Inc., Publisher

Depdiknas. 2002. Permendiknas Nomor 22/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas

Haryadi & Zamzani. 1996. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Depdikbud

Marno dan Idris, M. 2015. Strategi & Metode Pengajaran: Menciptakan Keterampilan Mengajar yang Efektif dan Edukatif. Yogyakarta: Ar-ruzz Media

Oktarina. 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia. Ghalia Indonesia, Bogor.

Sasangka, Sry Satriya, Tjatur Wisnu. 2005. Kamus Jawa-Indonesia Krama Ngoko. Jakarta: Yayasan Paramalingua

Setyosari, Punaji. 2011. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangnnya. Jakarta: Kencana

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *