Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Berbasis Pengalaman Pribadi Melalui Teknik Resitasi

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN BERBASIS PENGALAMAN PRIBADI MELALUI TEKNIK RESITASI PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 JERUKLEGI SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh : Priyo Mustiko, S.Pd.M.M

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi melalui teknik resitasi pada siswa kelas VII B SMP Negeri 2 Jeruklegi Cilacap semester 2 tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus, melalui tahap perencanaan, tindakan, analisis, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMP Negeri 2 Jeruklegi Cilacap semester 2 tahun pelajaran 2015/2016. Kelas VII B terdiri atas 32 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi melalui teknik resitasi dapat membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan menulis cerpen. Terbukti dengan adanya peningkatan keterampilan menulis siswa pada unsur-unsur pembangun cerpen. Hasil belajar prasiklus sebesar 71 (dibawah KKM) atau 25% meningkat setelah siklus I mencapai nilai rata-rata 77 atau 69%. Siklus II mengalami peningkatan dengan rata-rata kelas  menjadi 83 atau 100%. Peningkatan ini menunjukan bahwa penggunaan teknik resitasi efektif meningkatkan keterampilan menulis cerpen. Perilaku siswa kelas VII B SMP Negeri 2 Jeruklegi Cilacap juga lebih termotivasi dan antusias.

Kata Kunci : keterampilan menulis cerpen, berbasis pengalaman pribadi, teknik resitasi.

PENDAHULUAN

Kemampuan berkomunikasi dapat menjadi prasyarat kesuksesan seseorang. Bahasa sebagai alat vital manusia dalam berkomunikasi, mendorong manusia agar dapat saling belajar, berbagi pengalaman, dan dapat meningkatkan kemampuan intelektualnya. Kemampuan berbahasa memiliki empat aspek keterampilan, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut selalu berkait satu dengan yang lain.

Salah satu aspek pembelajaran keterampilan menulis adalah keterampilan menulis cerpen. Menulis cerpen merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai dalam kurikulum saat ini. Untuk mencapai standar kompetensi di atas, proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia bukan sekadar pengajaran mengenai teori-teori, akan tetapi juga mencakup kemampuan mengungkapkan pikiran, gagasan, dan pendapatnya melalui sebuah karya sastra yang berupa cerpen.

Keterampilan menulis cerpen bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan melalui uraian atau penjelasan semata. Siswa tidak akan memperoleh keterampilan menulis hanya dengan duduk, mendengarkan dan mencatat penjelasan guru. Keterampilan menulis dapat ditingkatkan dengan kegiatan berlatih menulis secara intensif sehingga akan mempengaruhi hasil dan prestasi siswa dalam menulis cerpen. Hasil dan prestasi dapat meningkat apabila ada perubahan pada siswa baik aspek pengetahuan, afektif maupun psikomotor.

Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan di SMP Negeri 2 Jeruklegi Kabupaten Cilacap diketahui bahwa kemampuan siswa dalam menulis cerpen masih cukup rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor siswa, guru, orang tua, dan teknik pembelajaran yang digunakan.

Hasil observasi awal menunjukkan bahwa siswa kurang tertarik terhadap materi menulis. Siswa beranggapan bahwa pembelajaran  menulis cerpen adalah pembelajaran yang membosankan dan kurang bermanfaat sehingga siswa kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu, siswa juga kesulitan dalam menentukan tema atau gagasan kemudian menuangkan ke dalam tulisan berupa cerpen.

Faktor lainnya, guru dalam melaksanakan pembelajaran menulis masih bersifat teoretis dan terkesan monoton sehingga peserta didik merasa bosan. Guru juga kurang memberi motivasi dan dorongan kepada siswa untuk menulis. Kurangnya peranan guru mengakibatkan teknik pembelajaran menjadi kurang maksimal.  Hal ini menyebabkan rendahnya keinginan siswa untuk menulis cerpen.

Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti menerapkan teknik resitasi yang diharapkan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerpen. Penggunaan teknik resitasi ini dapat memberikan suasana baru pada pembelajaran menulis cerpen karena siswa bisa mengerjakan tugas menulis cerpen sesuai dengan imajinasinya yang diperoleh baik di dalam ruangan atau di luar ruangan.

PERUMUSAN MASALAH

Masalah pokok yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Bagaimana proses penerapan teknik resitasi dalam pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Jeruklegi Kabupaten Cilacap?

2) Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas VII SMP Negeri 2 Jeruklegi Kabupaten Cilacap setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi melalui teknik resitasi?

3) Bagaimana hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 2 Jeruklegi Kabupaten Cilacap setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi melalui teknik resitasi?

Tujuan Penelitian

1) Mendeskripsikan proses penerapan teknik resitasi dalam pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Jeruklegi Kabupaten Cilacap.

2) Mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VII SMP Negeri 2 Jeruklegi Kabupaten Cilacap setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi melalui teknik resitasi.

3) Mengetahui hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 2 Jeruklegi Kabupaten Cilacap setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi melalui teknik resitasi.

KAJIAN PUSTAKA

Keterampilan Menulis Cerpen

Menurut sastrawan terkenal Amerika, Edgar Alan Poe (dalam Nurgiyantoro 2005:10) menyatakan bahwa cerita pendek (cerpen) adalah sebuah cerita yang dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Kosasih (2009: 29) berpendapat bahwa cerita pendek (cerpen) adalah cerita yang menurut wujud fisiknya berbentuk pendek. Ukuran panjang pendeknya suatu cerita memang relatif. Cerita pendek pada umumnya bertema sederhana. Jumlah tokohnya terbatas. Jalan ceritanya pendek dan meliputi ruang lingkup yang terbatas.

Sebuah cerpen harus mengandung beberapa hal, yaitu: 1) sebuah insiden utama yang menguasai jalan cerita; 2) seorang pelaku utama; 3) jalan cerita yang padat; 4) mencerminkan yang ketiga di atas hingga tercipta satu “efek” atau satu kesan (impressie). Panjang atau pendek sebuah cerita pendek juga tidak bisa ditetapkan. Pada umumnya panjangnya sebuah cerita pendek itu habis sekali, dua kali, atau tiga kali baca. Cerpen seringkali memuat antara 500-1.000 — 1.500-2.000 hingga 10.000, 20.000 atau 30.000 kata.

Unsur-unsur pembangun cerpen, yaitu tema dan amanat, alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan gaya bahasa.

Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan sebagai titik tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya (Aminuddin, 2011: 91). Tema suatu cerpen menyangkut segala persoalan, baik itu berupa masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, kecemburuan, maupun yang lainnya. Tema dapat disampaikan secara implisit/tersirat dan eksplisit/tersurat. Tersirat artinya pengarang tidak menyampaikan langsung melalui kalimat-kalimatnya, tapi melalui jalan nasib atau kehidupan pelakunya. Sedangkan eksplisit atau tersurat berarti pengarang menyampaikan langsung kepada pembaca melalui kalimat, baik itu berbentuk keterangan pengarang atau berbentuk dialog.

Alur. Istilah lain untuk alur ialah plot, yakni cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab akibat sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat, dan utuh (Suharianto 2005: 18). Aminuddin (2011) berpendapat bahwa alur/plot adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita. Alur meliputi beberapa tahap, yakni (1) pengantar: bagian cerita berupa lukisan, waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita; (2) penampilan masalah: bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita; (3) puncak ketegangan/klimaks: masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak; (4) ketegangan menurun/antiklimaks: masalah telah berangsur-angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang; (5) penyelesaian/resolusi: masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.

Tokoh dan Penokohan, Titik, dkk (2003: 57) berpendapat, tokoh merupakan aktor atau pelaku dalam sebuah cerita. Penokohan atau perwatakan ialah pelukisan mengenai tokoh cerita; baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa: pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat-istiadatnya, dan sebagainya (Suharianto 2005: 20). Suharianto (2005: 21) juga menjelaskan bahwa ada dua macam cara yang sering digunakan pengarang untuk melukiskan tokoh ceritanya; yaitu dengan cara langsung dan cara tak langsung. Cara langsung apabila pengarang langsung menguraikan atau, menggambarkan keadaan tokoh; dan cara tidak langsung.

Latar, ialah waktu, tempat, atau lingkungan terjadinya peristiwa (Jabrohim, dkk. 2003: 115). Sementara itu, Sayuti (dalam Jabrohim, dkk. 2003: 115) mengemukakan bahwa paling tidak ada empat unsur yang membentuk latar fiksi, yaitu: (1) lokasi geografis yang sesungguhnya, termasuk di dalamnya topografi, scenery ‘pemandangan’ tertentu, dan juga detil-detil interior sebuah kamar/ruangan; (2) pekerjaan dan cara-cara hidup tokoh sehari-hari; (3) waktu terjadinya action ‘peristiwa’ (tindakan), termasuk di dalamnya periode histori, musim, tahun, dan sebagainya; dan (4) lingkungan religious, moral, intelektual, sosial dan emosional tokoh-tokohnya. Latar berfungsi untuk memperkuat atau mempertegas keyakinan pembaca terhadap jalannya suatu cerita (Kosasih 2009: 90).

Sudut Pandang, Sudut pandang atau point of view (POV) adalah cara pengarang memandang siapa yang bercerita di dalam cerita itu atau sudut pandang yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita (Jabrohim, dkk. 2003: 116). Posisi pengarang ini terdiri atas dua macam, yaitu berperan langsung sebagai orang pertama, sebagai tokoh yang terlibat dalam cerita yang bersangkutan atau hanya sebagai orang ketiga yang berperan sebagai pengamat (Kosasih : 2009: 91).

Gaya Bahasa, Pemilihan kata (diksi) dan gaya bahasa dalam sebuah cerpen merupakan unsur yang penting. Semua unsur cerita akan dapat dinikmati apabila telah disampaikan atau dinyatakan dengan bahasa yang tepat. Gaya dalam pembicaraan ini meliputi pemilihan kata-kata, penggunaan kalimat, penggunaan dialog, penggunaan detil, cara memandang persoalan, dan sebagainya. Kosasih (2009: 91) berpendapat bahwa dalam cerita, penggunaan bahasa berfungsi untuk menciptakan nada atau suasana persuasif serta merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan hubungan dan interaksi sesama tokoh. Bahasa dapat menimbulkan suasana yang tepat guna bagi adegan yang seram, adegan cinta, ataupun peperangan, keputusan, maupun harapan.

Menulis atau membuat cerpen sama halnya seperti membuat sebuah karangan. Untuk membuat sebuah karangan dibutuhkan kerangka karangan sehingga unsur cerpen yang dibuat menjadi lebih jelas di mata pembaca http://(http://www.plengdut.com/2015/07/cara-menulis-cerpen.html).

Karangan yang dibuat berupa cerita pendek dimana cerpen tersebut dapat menceritakan kehidupan atau pengalaman atau imajinasi siswa secara pribadi. Siswa yang disebut terampil membuat cerpen apabila mampu menulis cerpen berdasarkan unsur-unsur cerpen dengan baik, yaitu: tema, latar, tokoh/penokohan, alur, sudut pandang, dan gaya bahasa.

Pengalaman pribadi menjadi dasar bagi siswa membuat cerpen. Kemudian siswa mengembangkan unsur pembangun cerpen berdasarkan imajinasi.

Keterampilan menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi siswa dapat diperoleh melalui langkah-langkah berikut: 1) Menentukan tema cerita; 2) Siswa diajak mengingat kembali pengalaman pribadi apa-apa yang pernah dialami. Kemudian memilih salah satu pengalaman yang paling mengesankan agar menarik untuk diceritakan; 3) Menetapkan tujuan cerita yang akan dicapai Tujuan cerita  ini sangat berhubungan dengan tema cerita; 4) Menggambarkan tema dalam bentuk rancangan cerita (merancang alur, penokohan, setting); 5) Menyusun data cerita sedemikian rupa, sehingga membangun sebuah cerita. Data cerita dapat berupa jawaban atas pertanyaan kapan, dimana, bagaimana, dengan siapa, mengapa terjadi, dan sebagainya; 6) Mengembangkan cerita, dalam langkah ini guru  mengarahkan daya emosi dan imajinasi siswa berdasarkan data cerita yang terkumpul; 7) Merevisi atau memperbaiki; dan 8) Memberi judul http://(http://hudaita. blogspot.co.id/2013/09/menulis-cerpen-berdasarkan-pengalaman.html).

Teknik Resitasi

Djamarah  (2006: 85) menyatakan bahwa teknik resitasi (penugasan) adalah teknik penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Lebih lanjut, menurut Muthoharoh (2010), teknik  resitasi mengandung maksud bahwa guru menyajikan bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas kepada siswa, untuk dikerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab dan kesadaran.

Pembelajaran akan terasa berbeda karena siswa dapat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru ditempat yang sesuai dengan tugas tersebut. Pemberian tugas ini merupakan salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas.(http://ainamulyana.blogspot.co.id/2015/03/metode-penugasan-resitasi.html)

Langkah-langkah dalam pelaksanaan teknik resitasi dalam pembelajaran menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi adalah sebagai berikut: 1) Guru menjelaskan unsur-unsur pembangun cerpen; 2) Guru memberikan tugas kepada siswa, yaitu mengingat kembali pengalaman pribadi yang menarik, menentukan tema  cerita, menetapkan tujuan, merancang alur, penokohan, dan setting, dan memberi judul; 3) Guru mempersilahkan siswa untuk mengerjakan tugas menyusun cerita pendek berdasarkan pengalaman pribadi yang disukai siswa; 4) Siswa tetap mendapat pengawasan dan bimbingan dari guru selama  mengerjakan tugas menulis cerpen; 5) Setelah selesai mengerjakan tugas menulis cerpen, siswa dibimbing guru merevisi dan memperbaiki tulisan; dan 6) Siswa melaporkan hasil pekerjaan dan guru mengevaluasi.

Hipotesis Tindakan

Hipotesis penelitian ini adalah terjadinya peningkatan keterampilan menulis cerpen, perubahan tingkah laku, dan hasil belajar pada siswa kelas VII B SMP Negeri 2 Jeruklegi Kabupaten Cilacap setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen berbasis pribadi melalui penggunaan teknik resitasi.

METODE PENELITIAN

Tempat penelitian adalah SMP Negeri 2 Jeruklegi pada semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 dimana peneliti mengajar. Subjek penelitian adalah kelas VII B SMP Negeri 2 Jeruklegi Kabupaten Cilacap sejumlah 32 anak yang rata-rata memiliki kemampuan yang rendah dalam menulis cerpen.

Penelitian ini dilaksanakan selama 3  bulan, yaitu mulai bulan Januari  sampai dengan bulan Maret 2016 menggunakan dua siklus. Pada setiap siklus pada penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam empat tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap tindakan dan pengamatan, serta tahap refleksi.

Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi. Keterampilan menulis cerpen dan hasil belajar diperoleh dengan cara memberikan tes kepada siswa, penerapan teknik resitasi dalam pembelajaran diperoleh melalui observasi selama pembelajaran berlangsung, keterkaitan antara rencana dan pelaksanaan tindakan kelas didapat dari rencana pembelajaran dan hasil observasi, jurnal dibuat oleh guru selama atau setelah pelaksanaan tindakan atau perubahan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Siklus I

Penerapan teknik resitasi diadakan untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi. Pada tindakan perbaikan yang telah dilakukan guru, teknik resitasi dapat mendorong siswa mencapai kompetensi menulis cerpen sesuai atau melebihi KKM yang ditentukan, yaitu 75,00.

Teknik resitasi pada siklus I dilaksanakan dengan pemberian tugas kepada siswa, berupa tugas untuk merenungkan dan menuliskan pengalaman-pengalaman pribadinya yang menarik. Kemudian siswa dibimbing menuliskan bagian-bagian cerpen dan bersama kelompoknya saling berbagi informasi. Pada tahap akhir pembelajaran, guru bersama siswa memperbaiki dan merevisi cerpen yang sudah ditulis. Teknik resitasi/penugasan yang dilaksanakan guru ini, ternyata efektif membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran, karena siswa merasa tertantang dan dapat menyalurkan imajinasinya.

Penilaian kompetensi menulis cerpen meliputi enam aspek. Keenam aspek tersebut adalah aspek tema, alur atau plot, tokoh atau penokohan, latar atau setting, sudut pandang atau point of view, dan gaya bahasa atau style yang mendukung proses penulisan cerpen. Rentang nilai rata-rata seluruh aspek yang diperoleh siswa pada siklus pertama seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1 : Hasil Belajar Kompetensi Menulis Cerpen Siklus I

Proses pembelajaran pada siklus pertama ini menunjukkan adanya peningkatan partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Sebagian besar siswa merasa senang ketika guru mengajak siswa merenungkan pengalaman pribadinya sembari berimajinasi dalam pembuatan cerpen. Siswa mulai mengerti cara-cara untuk memilih pengalaman pribadi yang menarik dan dapat mengatasi kebingungan dalam menyusun unsur pembangun cerpen. Secara responsif siswa menanggapi contoh-contoh cerpen yang disajikan guru maupun siswa lain sesuai dengan unsur-unsur pembangun cerpen yang harus ia tuliskan. Ketika guru memberi contoh masing-masing unsur pembangun cerpen, siswa pun secara spontan terbawa suasana menyenangkan yang guru hadirkan di kelas.

Pada siklus pertama ini, peningkatan terlihat penguasaan siswa pada aspek tema, tokoh/penokohan dan gaya bahasa. Aspek latar, alur, dan sudut pandang masih belum terlihat optimal. Sebagian besar siswa masih terlihat bingung atau tidak tahu apa yang dikehendaki dalam cerpen yang ditulisnya.

Dalam penyusunan cerpen siswa dibimbing menggunakan kata-kata sederhana dan komunikatif, ejaan dan pilihan kata yang sesuai. Penggunaan gaya bahasa siswa juga sudah baik terlihat dari kosakata yang digunakan untuk menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi.

Siswa yang mampu mencapai KKM didukung oleh perolehan nilai dari aspek tema. Tulisan-tulisan yang dihasilkan dengan tema dan gaya bahasa serta pemilihan tokoh yang baik belum didukung oleh pemilihan latar, alur, dan sudut pandang yang tepat yang mendukung cerpen tersebut atau yang dituntut oleh unsur pembangun cerpen.

Setelah dilakukan refleksi diperoleh data bahwa penyebab kelemahan siswa dalam memilih latar, alur, dan sudut pandang diantaranya adalah kurang memahami unsur-unsur pembangun cerpen, dan ketidakmampuan menyalurkan imajinasi ke dalam cerpen meski paham unsur-unsur yang dimaksud.

Ditinjau dari prosesnya, pembelajaran pada siklus pertama ini baru 69 % atau 22 siswa yang mampu menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi dengan baik. Artinya tidak semua siswa mampu menuliskan cerpen dengan baik, dan masih sekitar  31 % atau 10 siswa tidak dapat menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi. Beberapa hambatan yang terjadi menyebabkan ketuntasan pada pembelajaran menulis cerpen belum dapat dicapai semua siswa. Meski demikian, ada sebagaian kecil siswa yang mampu mencapai melampaui  KKM, bahkan ada yang mendapat nilai rata-rata 85 dari keenam aspek penilaian menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi.

Deskripsi Siklus II

Setelah dilakukan perbaikan pada teknis stimulasi diperoleh hasil rata-rata pembelajaran seperti tabel di bawah ini.

Tabel 2 : Hasil belajar kompetensi menulis cerpen siklus II

Perbaikan yang dilakukan pada siklus kedua ternyata berpengaruh pada hasil belajar siswa. Tabel di atas menunjukkan 32 siswa telah menguasai/mencapai kompetensi menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi sesuai KKM yang telah ditentukan. Bahkan beberapa siswa memperoleh nilai yang cukup memuaskan untuk ukuran menulis cerpen. Perbaikan teknis yang dilakukan pada siklus kedua ini adalah dengan menambah tugas menulis pengalaman-pengalaman yang menarik dari siswa dan menjadikannya sebagai tema. Siswa-siswa tersebut diajak berimajinasi secara total agar memancing kreativitas menulis cerpen sesuai kondisi yang sesungguhnya. Hal ini membuat semua siswa dapat mengerjakan tugas dengan baik, dan pada gilirannya dapat menulis cerpen dan  menguasai kompetensi tersebut. Sebagian besar siswa bahkan mendapatkan nilai yang sangat memuaskan.

Tindakan pada siklus kedua ini, mampu memberi penugasan/ pada siswa secara komprehensif, meliputi semua aspek keterampilan bermain drama yaitu aspek tema, alur atau plot, tokoh atau penokohan, latar atau setting, sudut pandang atau point of view, dan gaya bahasa atau style. Jika terdapat kesulitan dalam memahami unsur pembangun cerpen, siswa saling berbagi pengetahuan sehingga proses penulisan cerpen berbasis pengalaman pribadi menjadi lebih cepat.

Dengan langkah ini, situasi yang dikehendaki cepat terbangun dan siswa yang belum kompeten akan dengan lebih baik dari sebelumnya. Guru selain memberi umpan atau pancingan, juga membangkitkan motivasi dan kegairahan siswa terlatih pada situasi yang lebih hidup dan menarik. Teknik resitasi ini membawa hasil yang cukup signifikan. Peningkatan hasil belajar dari siklus pertama dengan siklus kedua terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3 : Perbandingan hasil belajar menulis cerpen siklus I dan II

Hasil pada kondisi awal 25%, meningkat pada siklus pertama menjadi 69%, dan siklus kedua menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan menjadi 100%, siswa mencapai ketuntasan pada materi belajar bermain peran atau memerankan drama.

Jika siklus ini dilanjutkan sangat mungkin hasil belajar individual semua siswa kelas VII B pada materi menulis cerpen akan meningkat. Artinya 100% siswa kelas VII B memperoleh nilai 75 atau lebih pada pembelajaran menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi.

PENUTUP

Simpulan

Mencermati hasil dan pembahasan, penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Teknik resitasi dapat diterapkan secara bertahap dalam pembelajaran dengan melibatkan guru dan siswa yang memiliki kompetensi yang baik dalam menulis cerpen.

2. Pelaksanaan teknik resitasi dalam pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa, sehhingga siswa merasa senang dan terampil menulis cerpen berbasis pengalaman pribadi.

3. Teknik resitasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam kompetensi menulis cerpen.

Saran

1. Dalam pelaksanaan tugas pembelajaran, guru hendaknya mewujudkan semua standar kompetensi yang telah ditentukan/dirancang dan tidak menghilangkan/meninggalkan materi yang tidak dikuasainya.

2. Dalam melaksanakan tugas pembelajaran menulis cerpen, guru harus menguasai teknik yang tepat serta kompetensi yang baik.

3. Teknik resitas dalam pembelajaran menulis cerpen dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2011. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru

Djamarah, Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta

Jabrohim. 2003. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Kosasih, Engkos. 2009. Kompetensi Ketatabahasaan dan Kesusasteraan: Cermat Berbahasa Indonesia. Bandung : Yrama Widya

Mulyana, Aina. 2015. Metode Penugasan Resitasi  http://ainamulyana.blogspot.co.id/2015/03/ metode-penugasan-resitasi.html tanggal akses 17 Januari 2016

Muthoharoh, Hafiz. 2010. Metode Sosiodrama dan Bermain Peran (Role Playing Method). Jakarta : Bumi Aksara

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : UGM Press

Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Suharianto, S. 2005. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta : Widya Duta

Titik, dkk. 2003. Teknik Menulis Cerita Anak. Yogyakarta : PUSBUK

________. 2015. 9 Tahap Cara Mudah Menulis Sebuah Cerpen. http://www.plengdut.com/2015/07/ cara-menulis-cerpen.html  tanggal akses 17 Januari 2016




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *